Wednesday, August 17, 2016

Hindari Rokok sebagai Gateway Drugs (baca:Narkoba) !


                                                      Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Eksekusi mati  terpidana penyalahgunaan narkoba   tahap III baru saja selesai. Ada 4 orang yang  ditembak mati kali ini dan menggenapinya menjadi berjumlah 18 orang sejak ekseskusi tahap I dilakukan  Januari 2015 lalu dan tahap II pada April 2015. Cerita tentang gembong narkoba dengan berbagai  perilakunya saat sebelum tertangkap maupun setelah dipenjara  masih menghiasi berbagai media.
Ada pernyataan  yang sangat menarik  dari Freddy Budiman sebagai  salah satu yang ditembak mati  yang berasal dari Surabaya itu. Saat diwawancarai secara ekslusif oleh salah satu seorang wartawan Televisi di Nusa Kambangan  -dalam sebuah kesempatan “menunggu hukuman mati”-  menyatakan bahwa dia tidak ingin anaknya tahu dan terkena narkoba seperti dirinya. Penulis mengambil kesimpulan  bahwa dia juga menyadari efek jelek dari narkoba yang pada akhirnya membuat Sang Gembong dianggap sampah masyarakat sebagaimana diakuinya pada wartawan yang mewawancarainya saat itu. Satu hal yang dapat ditarik pelajaran maka bahwa seburuk apapun kelakuan seorang Ayah maka dia menginginkan anak- anaknya tetap jauh dari  zat berbahaya ini.
Cerita tentang efek jelek narkoba memang sudah sering kita dengar.  Para penikmat  narkoba –karena efek adiktif/kecanduannya- maka akan berusaha dengan segala cara untuk  selalu mendapatkan suplai barang tersebut untuk masuk ke dalam tubuhnya. Tidak peduli  berapapun harganya di pasaran, maka hal itu jugalah   yang akan menyebabkan  pemakai  untuk  berusaha mendapatkan barang haram ini. Seringkali pecandu menjadi  dekat dengan perilaku kriminalitas seperti memeras,  mencuri bahkan merampok manakala tubuhnya  ‘menagih’  barang ini sementara tidak ada  uang yang tersedia untuk membelinya.
Pengedar dan Bandar narkoba mengambil  keuntungan  dari kondisi ini. Merujuk pada cerita Freddy Budiman yang konon disampaikan ke Haris Azhar  yang diberi judul “ Cerita Busuk Seorang Bandit” menjelaskan bahwa bisnis ini memang keuntungannya sangat luar biasa dan melibatkan banyak pihak yang justru seharusnya menjadi penegak hukum. Untuk kebenaran cerita tersebut masih didalami oleh pihak berwenang. Tetapi  di dalam cerita itu secara implisit bahwa  tentu saja pengedar dan Bandar akan
berusaha menggaet target-target baru para pecandu dari kalangan anak-anak dan pemuda kita.  Jika aslinya barangnya seharga 5 ribu rupiah saja tetapi bisa dijual dan laku sampai 200.000 rupiah. Mereka menjual barang itu dengan harga yang sangat fantastic mencapai 4000% dari harga sebelumnya.
Bisa jadi awalnya barangnya diberi harga yang murah dan lama kelamaan akan dinaikkan seiring dengan ketidakmampuan tubuhnya untuk melawan hasrat mengonsumsinya kembali.  Jadi jangan heran kalau para pelaku narkoba ini juga dekat-dekat dengan hal criminal. Dalam kasus Freddy Budiman maka dikabarkan bahwa    dia sempat mencopet bahkan menjadi “raja copet “ di Surabaya. Asumsi penulis adalah bahwa  mengambil barang milik orang lain adalah untuk memenuhi kebutuhan  uangnya untuk membeli  zat adiktif pada waktu  awal “kiprahnya” dalam dunia  hitam tersebut. Kebutuhan /dosis yang makin meningkat  pada akhirnya akan menyebabkan pelaku makin kreatif. Satu-satunya cara adalah menjadi pengedar ataupun operator. Dengan hal itu maka akan mendapat sekaligus dua keuntungan. Satu terpenuhinya kebutuhan akan zat adiktif yang makin bertambah serta yang kedua akan memberi keuntungan finansial yang sangat luar biasa itu. 
Setiap yang sudah merasakan narkoba maka akan sulit untuk lepas dari jeratnya. Jadi siap-siap saja akan menjadi  pesakitan di penjara, menjadi sakit baik  jasmani maupun rohani,  hancurnya sendi-sendi keluarga  serta akan menjadi  “kaya yang  miskin” saat  coba-coba mendekati  zat dan barang adiktif ini !.  Penulis menyebut kaya yang miskin karena secara kasat mata,  keuntungan hasil menjual narkoba memang sangatlah besar mulai jutaan bahkan Milyaran  dan ratusan M untuk sekelas Freddy. Tapi kenyataannya pada akhirnya akan  tetap miskin karena uangnya biasanya habis untuk setoran ke sana sini saat terkena kasus hukum maupun “menguap “ begitu saja saat dipakai untuk mabuk-mabukan, berjudi atau main  dengan wanita bayaran.
Fakta Hubungan Antara  Rokok Dan Narkoba
Ada fakta menarik hubungan antara rokok dan narkoba.  Seorang peneliti Dr. Neneng Sugih Arti dari BERSAMA Indonesia yang mempresentasikan makalah dalam acara  “18th IFNGO ASEAN Workshop on Prevention of Drugs and Substance Abuse” pada  tahun 2008 di Malaysia menyatakan bahwa tak akan ada pecandu marijuana yang tidak merokok. Hampir dapat dipastikan  bahwa pengguna marijuana biasanya adalah perokok. 
Sebuah jurnal yang diterbitkan dari Los angeles : Drug Abuse Resistance Education –  yang didedikasikan untuk  pendidikan ketahanan  dari penyalahgunaan obat-obatan menyatakan  bahwa pemakaian tembakau (baca : rokok) dihubungkan dengan pemakaian  alcohol dan obat terlarang.  Dan rata-rata  pemakaian tembakau menjadi pemakaian obat-obatan lebih lanjut, yang meliputi  alcohol, marijuana dan obat-obat  terlarang lain yang lebih keras.
Berbagai bukti yang ada menjadikan para ahli menjadikan rokok sebagai sebuah gateway drugs yang berarti bahwa zat aditif nikotin yang ada dalam tembakau yang bila dikonsumsi oleh seseorang maka akan membawa orang tersebut untuk mengkonsumsi zat adiktif lain yang lebih keras. Sebuah kamus Merriam Webster merumuskan gateway drug sebagai : is drug that open the door to use other harder drugs. Diawali dengan kebiasaan merokok, akhirnya para remaja/orang yang belum /tidak  matang pola pikirnya itu juga seringkali jatuh dalam  kebiasaan minum alkohol serta penyalahgunaan narkoba.
Untuk itulah penulis sebagai orang tua  juga merasa bahwa salah satu cara untuk mencegah anak tidak terkena narkoba salah satunya adalah dengan menjauhkannya dari perilaku merokok. Memang dalam kasus Freddy Budiman tidak  terlalu jelas hubungan antara keduanya. Namun banyak kisah yang menceritakan bahwa Freddy  juga seorang pemabuk, maka  tesis adanya hubungan  antara satu ;
maka karena  rokok menjadi salah satu yang mengandung zat adiktif yang dianggap paling ringan efeknya, yang seringkali menjadi  tantangan pertama sebelum kecanduan bahan adiktitif lain termasuk alkohol dan narkoba.

Cegah di Hulunya
Saat seorang Freddy Budiman sebagai gembong narkoba besar  merasa harus melindungi anaknya dari berbagai bahaya narkoba -seperti banyak disiarkan sebagai wasiat terakhir saat hidayah sudah menghampiri-   maka ini akan makin menyadarkan  kita sebagai orangtua  biasa-biasa yang semestinya untuk lebih care dengan hal tersebut. Tentu saja dengan cara menjauhkan  hal- hal yang mendekati ke  arah narkoba, mulai dari pintu masuknya yaitu perilaku merokok.  Ya mencegah anak merokok artinya mencoba  meminimalisir dan mengusir factor risiko kecanduan mulai dari hulunya. Karena menurut hemat penulis  dalam kasus ini hulunya adalah merokok dan hilirnya adalah zat adiktif lain seperti narkoba.  Walaupun pada beberapa kasus  hanya berhenti pada merokok saja. Tapi dengan lingkungan yang sangat tidak kondusif., pengedar dan Bandar berkeliaran di sekitar anak kita maka siapa yang akan bisa menjamin bahwa selesai hanya sampai urusan  menghisap produk tembakau saja.
Orangtua juga seringkali merasa bahwa upaya menjauhkan anak dari rokok adalah hal yang  sederhana, bahkan kadang cenderung disepelekan.  Pada kasus  bayi dan balita seringkali sesudah dimandikan pagi atau sore oleh ibunya, maka akan diajak berjalan-jalan oleh ayahnya dengan tetap tidak melepas rokok dari genggamannya. Akibatnya anak akan selalu dikasih asap sebagai perokok pasif dari bapaknya. Belum lagi efek  pada terbentuknya mindset anak bahwa itulah kondisi normal yang harus diterima.
Orang tua  juga kurang serius dalam memberi pengertian bahaya merokok dan runutannya kepada narkoba kepada anak yang lebih besar.   Hal yang sering terjadi bahwa orangtua melarang anak untuk merokok sambil  dengan tetap asyik memegang rokok di balik punggungnya. Belum lagi orangtua acapkali menyuruh anak - anak  untuk beli rokok di warung/ supermarket terdekat.  Ayah sebagai panutan di dalam rumah bila masih merokok maka bagaimanapun  bagusnya nasihat Sang Ayah maka  Si anak akan cenderung meniru perilaku yang terlihat saja daripada yang terdengar. Pendeknya keteladanan menjadi  hal terpenting dari seorang role model ayah atau ibunya untu anak-anaknya.
Tentu saja masih banyak cara lain untuk mencegah anak-anak kita  bahaya zat-zat yang terlarang ini. Sebagai orang tua memfasilitasi untuk mendapat pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang  bahaya hal-hal terkait rokok, minuman keras dan narkotika serta zat berbahaya lainnya.  Ini tentu saja untuk mengimbangi  iklan dan media promosi produk tembakau yang sangat menarik di luar sana.
Untuk anak-anak yang sudah kadung ‘berkenalan’ dengan rokok maka ajak dengan baik untuk mau mengakses  klinik konseling  upaya berhenti merokok  dan mendorongnya untuk berhenti merokok.   Intinya makin cepat berhenti akan semakin baik.  Karena dengan berhenti maka factor risiko untuk munculnya berbagai penyakit mengerikan yang cenderung katastrofik -berbiaya mahal dan memiskinkan - akan makin  menurun. Penulis merasakan  cukup sulit untuk  menanamkan dan mempraktikkan untuk menghindari  hal-hal yang berbau ‘kenikmatan candu” namun  fakta yang tergambar menyebabkan penulis dan kita semua  harus mengambil keputusan bahwa rokok bisa menjadi salahsatu pintu masuk kearah narkoba.  Tulisan ini menjadi pengingat untuk diri sendiri  bahwa ancaman ini akan terus menerus hadir. Lebih baik mencegah di hulunya daripada  membiarkan  terlanjur ke hilirnya yang akan makin sulit penanganannya.

Akhirnya,  berhentilah merokok sebelum rokok dan zat adiktif lainnya akan menghentikanmu dengan berbagai penyakit, kemiskinan serta berbagai keadaan buruk lainnya. 

Inspirasi dari Surabaya


Walaupun lama meninggalkan Surabaya sejak lulus kuliah di Unair tapi aku merasa sampai sekarang masih mengikuti perkembangannya. Saat awal aku hidup di Surabaya tahun 92 an maka saat itu Surabaya walaupun kotanya cukup panas, tapi kondisinya bersih dan hijau. Ya aku sangat menikmati sudut-sudut kota Surabaya yang cukup bersih. Tapi beberapa waktu kemudian (lupa kapan tepatnya) maka Surabaya agak kotor dalam pandanganku. Ya saat itu menurut analisis beberapa orang - yang kuingat- pemimpinnya berganti.
Setelah itu lama aku kurang mengikuti secara intens berita tentang Surabaya. Tahun 2010 kalo nggak salah sempat nginap di Majapahit hotel sebagai salah satu heritage penting di sana bersama organisasi yang bergerak knowledge sector TAF. Tahun 2011 kalo nggak salah bersama dengan teman Unair, UI, Unhas dan UGM kumpul di bawah koordinasi tokoh Unair. Selebihnya Ya sesekali kalo pas pulang ke Jawa Timur ke rumah mertua kadang mampir juga sih. Setelah Tahun 2013 ada acara di kampus C Unair, baru lihat lagi dari dekat Surabaya. Saat itu saya melihat memang perkembangan Surabaya sudah sangat luar biasa. Hijau dan bersih sebagaimana saya pertama kali ke Surabaya . Bedanya sekarang jauh lebih ramai dan lebih meluas keramaiannya. Banyak daerah baru / hunian baru yang dulu belum berkembang saat aku tinggalkan terakhir kalinya di awal tahun 99.
Satu hal yang menarik adalah munculnya nama Bu Risma sebagai walikotanya. Jauh sebelum itu aku sudah mendengar nama beliau sejak beliau masih jadi kepala dinas yang berhubungan dengan kebersihan atau pertamanan dimana prestasi beliau sudah sangat menonjol dalam tata kota. Maka tidak heran bila dalam PrepCom 3 Surabaya UN Habitat III yang baru berlalu maka Surabaya mendapat apresiasi yang sangat bagus dari Joan Clos sekjen PBB untuk Habitat III dan menganggap Surabaya dapat menginspirasi perkembangan perkotaan lain di dunia.
Tampaknya kinerja walikotanya beserta seluruh jajarannya mencapai nilai yang sangat memuaskan. Aku juga melihat bahwa situasi kota yang kondusif akan juga ‘menular’ pada institusi yang ada di dalamnya. Aku lihat Surabaya dengan kondisi kampus-kampusnya yang juga sangat bersih. Tempat- tempat umumnya bahkan masjid-masjidnya. Baru sekali aku melihat masjid masjid yang menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO. Masjid al Akbar sekaligus Islamic center di Surabaya yang pertama aku lihat memasang spanduk penerapan ISO. Luar Biasa. Masjid sebagai tempat ibadah menerapkan sistem manajemen mutu. Dulu aku foto spanduknya tapi lupa naruhnya dimana. Jadi untuk sekedar kebersihan maka itu sudah menjadi kebutuhan. Untuk ‘tesisku bahwa kebersihan secara fisik di sebuah kota juga akan menular pada instansi lain (bahkan yang vertical sekalipun) selain di Surabaya maka aku lihat juga di Bandung tahun 2014 atau 2015 semasa pak Ridwan Kamil ini. Taman, Rumah sakit, pedestrian sangat lah bagus sekali penataannya dan sangat bersih pula.
Yang paling aku kagumi dari sosok bu Risma tekadnya untuk ‘membersihkan’ tempat prostitusi yang kabarnya terbesar di asia tenggara itu. Tentu saja dibekali dengan berbagai ketrampilan sebelumnya. Harapannya maka ibu-ibu, mba –mba penghuni Dolly dan Jarak akan kembali ke perilaku baik-baik sebagaimana asalnya
Bila sekarang kita melihat pemimpin Surabaya menjadi rebutan banyak pihak, - lepas dari isu politik yang sedang berkembang- ya bisa jadi sangat wajar. Warga Jakarta sebagian menginginkan dipimpin beliaunya, sementara di Surabaya banyak yang mempertahankannya. Kita semua belum tahu ending dari semuanya ini apakah Bu Risma tetap di Surabaya ataupun pindah ke Jakarta, tetapi yang jelas bahwa keberhasilan beliau di Surabaya membuat masyarakat Jakarta merindukan untuk dipimpin seseorang yang kapabel namun sangat humble itu.
Sebagai orang diluar kedua kota itu, aku hanya berharap moga-moga happy ending semua. Bisakah ? . Harapanku kalopun pada akhirnya bu Risma tetap di Surabaya maka pemimpin Jakrta berikutnya akan mampu mengambil dan menerapkan nilai-nilai baik bu Risma dengan Surabayanya. Kalopun nanti Bu Risma ke Jakarta maka selain Jakarta akan menjadi ‘ketularan’ Surabaya, maka mestinya di Surabaya juga harus memunculkan pemimpin sekelas bu Risma yang akan melanjutkan apa-apa yang sudah pernah diraih oleh beliaunya.
Namun kalo melihat situasi dan kondisi kota selalu identik dengan pimpinannya seperti perjalanann Surabaya dalam kacamataku di atas, maka satu hal yang selalu membuat galau aku “apakah tidak mungkin atau katakan terlalu sulit untuk mewujudkan cita-cita besar tidak hanya bergantung pada orang per orang (person) tetapi adalah sebuah system yang bekerja”, walaupun tidak dapat dibantah juga bahwa tetap dibutuhkan leadership dari seorang pemimpin.
Memang masih belum tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk sebuuah pembelajaran bahwa sistem yang baik akan menjadi budaya atau sebaliknya juga budaya baik menjadi sistem yang lebih terstruktur. Memang dalam banyak bacaan katanya untuk membangun sebuah karakter dan pembiasaan baik dibutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak bisa sebentar. Karena secara natural pengaruh hal-hal yang buruk, ketidakteraturan lebih mudah untuk ‘menular’ dibanding dengan hal-hal baik. Hal-hal baik untuk menjadi sebuah pembiasaan dan kebiasaan memang butuh waktu lama , katanya kadang –kadang butuh peralihan generasi.
Kembali bahwa pembiasaan baik itu memang butuh percepatan dari penerapan sebuah sistem. Dengan sistem yang baik minimal hal-hal yang baik-baik itu bukan hanya bergantung pada 1 atau 2 orang tetapi pada lebih banyak orang dengan rambu-rambu yang lebih jelas. Lebih banyak yang akan saling mengingatkan bila ada melenceng-melencengnya.
Akhirnya kesimpulan sederhanaku sampai pada pemimpin yang hebat akan mampu membuat sistem yang hebat. Sistem yang bila ditinggal sekalipun ataupun disambil masih bisa berjalan dengan berperannya back up-back up di belakangnya yang kemampuannya tidak terlalu jauh beda bila mendapat kesempatan yang sama. Bukan one man show tapi lebih pada kerja tim. Bila satu orang saja yang menjadi tumpuannya maka yakinlah selain akan memunculkan rasa ‘paling’ pintar sendiri, paling hebat sendiri, paling baik sendiri pada diri pemimpin tetapi juga akan memunculkan gap kemampuan yang cukup besar pada orang-orang di belakangnya. Akibatnya bila sipemimpin berpindah maka akan memakan waktu yang cukup lama untuk recovery nya. Kadang justru memunculkan keadaan vakum yang paling berbahaya. Turun jauuuh ke bawah dan sulit untuk bangkit lagi. Entah kapan lagi sampai pemimpin lain akan muncul untuk membangunkannya . Tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar.
Menurutku, Sistem memang abstrak. Berpikir tentang sistem lebih abstrak lagi. Tapi kata orang –orang pintar system thinking dibutuhkan untuk menganalisa segala sesuatu menjadi lebih komprehensif. Mulai dari ujung pintu masuk sampai pintu keluar. Mulai dari A sampai Z. Mulai dari urusan sumber daya, pemanfaatannya serta hasil kerjanya. Semua dianalisis. Semua dilihat gap-gapnya. Semua problem dianalissi dan dicari solusinya. Hmm…memang sangat tidak mudah. Tapi seorang leader akan mampu secara pelan tapi pasti untuk menyelesaikannya. Tantangan lain sudah menunggu, tentu saja dengan catatan – catatan tertentu. Kita semua sebagai orang luar hanya mampu mendoakan yang terbaik untuk semuanya. Jakarta dan Surabaya. Wallahualam.

Saturday, July 30, 2016

Pasca Ramadhan, Pertahankan untuk Tidak merokok !


Ramadhan sudah usai dan hari Raya Idul Fitri menjadi puncak pencapaian seorang muslim setelah menjalankan puasa. Pada hari kemenangan itu seorang muslim akan membatalkan puasa yang sudah dijalankannya selama 1 bulan penuh. Sejak itu sampai Ramadhan tahun depan maka kehidupan akan berjalan "normal" kembali.
Bagi sebagian orang yang selama ini menganggap bahwa puasa Ramadhan "mengekang" dari makan minum pada siang hari maka setelah lebaran, larangan tersebut otomatis sudah tidak ada lagi. Begitu juga untuk para perokok maka momentum Idul Ftri justru menjadi tantangan terberatnya dalam penentuan 11 bulan se benda sudahnya. Apakah akan tetap memepertahankan konsumsi rokoknya yang sudah berkurang pada saat Ramadhan dan lambat laun akan menghentikannya atau justru sebaliknya akan kembali ke pola semula seperti sebelum Ramadhan tahun ini.
Beberapa dari mereka berpandangan bahwa untuk berhenti merokok bisa saja sewaktu-waktu dan membutuhkan momentum seperti Ramadhan. Bila pada suatu saat nanti muncul keinginann berhenti merokok maka akan dengan mudah mengehentikan untuk menghisap barang yang rata-rata ukurannya 9 cm itu. Yang berpandangan seperti ini merasa sah-sah saja bila pasca Ramadhan akan kembali pada pola merokok seperti saat sebelum Ramadhan. Bahkan bisa jadi berpikiran bahwa inilah saatnya balas dendam akibat berkurangnya merokok pada siang hari bulan Ramadhan.
Ramadhan sebagai Latihan Berhenti Merokok
Dalam sebuah survey kecil yang penulis lakukan pada 8 responden perokok aktif di lingkungan terbatas sebuah instansi -yang dilakukan saat Ramadhan lalu-ditemukan fakta bahwa ada antara menjalankan bulan Ramadhan dengan turunnya konsumsi rokok.
Hal ini sangat masuk akal karenakesempatan merokok yang ada menjadi sangat terbatas yaitu hanya pada saat malam hari saja. Praktis hanya tersisa waktu yang sangat sempit untuk bisa menikmati asap rokoknya yaitu pada saat buka puasa sampai waktu sahur saja. Tentu saja minus waktu waktu beribadah shalat tarawih serta tidur. Pada beberapa orang membatasi hanya setelah buka dan saat sahur saja. Sehingga tidak heran bila konsumsi rokok menjadi menurun drastis. Bisa menjadi setengah, 1/3 atau bahkan 1/4 saja dari hari biasanya. Tentu saja ini juga bermakna penghematan yang sungguh luar biasa.
Ramadhan sudah berhasil menanamkan minimal 1 cara untuk berhenti merokok, yaitu mengurangi jumlah rokok yang dihisapnya setiap harinya seperti pada seluruh responden survey tersebut. Bagi orang yang mempunyai niat leih kuat untuk berhenti merokok maka Ramadhan memperkayanya dengan cara kedua untuk berhenti merokok yaitu menunda waktu merokok perama kali dalam setiap harinya. Minimal mengundur jam atau bahkan menit merokok pertama kalinya.
Bagi yang belum terlalu jauh kecanduan utamanya pada anak muda dan remaja, Ramadhan sebenarnya menjadi saranan latihan nyata sebagai usaha untuk berhenti merokok. Ramadhan mengajarkan bertahap dengan pembiasaan yang baik. Bulan Ramadhan telah berhasil membentuk kebiasaan baik yang musti dipertahankan. kalau saja keinginann menurunkan konsiumsi rokoknya dikerjakan secara konsisten maka dapat diyakini dalam waktu yang tidak terlalu lama akan bisa menghentikan kebiasaan buruknyaitu. Tentu saja dengan catatan bahwa niat baiknya juga selalu terjaga seperti saat Ramadhan. Memang tantangan terberatnya dalam mempertahankan kebiasaan baiknya adalah godaan dari lingkungan sekitarnya
Lingkungan Harus Kondusif
Dari para perokok yang disurvey menyatakan bahwa hampir semua menyatakan tantangan terberat adalah lingkungan yang tidak steril dari perokok yang akan menariknya kembali menjadi perokok kambuhan ataupun perokok berat kembali. 87,5% menyatakan bahwa bergaul dengan perokok lain menjadi godaan berat yang seringkali sulit untuk ditolak. Saat sedang rehat dari pekerjaan juga menjadi salah satu godaan lain karena rehat lebih identik kongkow dengan perokok lain.
Iklan rokok yang dengan mudah ditemui di hampir semua tempat juga menjadi salah satu kondisi lingkungan yang tidak kondusif untuk berhenti merokok. Pemberian rokok murah atau rokok gratis pada saat event promosi seperti live music atau acara olahraga/ seni yang digagas oleh industri rokok ataupun disponsori oleh industri rokok - sebagai cara industri rokok untuk mempertahankan konsumennya- juga menjadi faktor pengganggu lain.
Banyaknya iklan outdoor di hampir sepanjang jalan di sebuah wilayah menunjukkan betapa sangat besarnya dan masifnya upaya untuk menjangkau para perokok dan calon perokok ini. Belum lagi memang tampilan iklan yang menarik yang mengesankan para perokok sebagai laki-laki tangguh,pemberani suka pada tantangan, baik hati dan disukai para wanita di sekitarnya menjadi magnet terbesar bagi para anak muda dan remaja untuk mencobanya maupun untuk tetap setia dengan rokok di tangan dan bibirnya.
Satu Metode lain
Bila 2 metode di atas yang dilatih dengan momentum Ramadhan tidak menunjukkan hasilnya, maka para perokok berat bisa mencoba metode yang ke-3. Metode berhenti merokok yang serta merta, tanpa persiapan ataupun tanpa ancang-ancang. Metode cold turkey memang sangatlah bagus tetapi juga cukup berat. Menurut hemat penulis sangatlah jarang orang yang tiba -tiba punya niat untuk berhenti merokok tanpa sebuah alasan yang jelas. Karena zat nikotin dalam sebatang rokok menjadikan perokok selalu ketagihan untuk terus menerus mengkonsumsinya. Pada saat rokok mulai dibakar dan diisap maka nikotin akan dilepaskan dan akan mencapai otak dalam hitungan detik. Dalam ilmu kedokteran dikenal Sebuah nicotinic cholinergic receptors (nAChRs) akan aktif dan melepaskan dopamin yang dikenal sebagai penstimulasi rasa rasa senang dan nikmat. Maka menjadi sangatlah wajar bila berhenti dengan tiba-tiba dengan niat yang biasa- biasa seringkali akan menjadikannya kembali menjadi perokok saat bergaul dengan perokok lain, saat merasa sendiri, saat merasa ada waktu senggang tanpa pekerjaan dan berbagai alasan lain.
Pada orang muda dan sehat metode ini kemungkinann akan menjadi pilihan terakhir setelah memlalui " pertarungan" pemikiran dan nurani dengan dirinya sendiri. Kegiatan menimbang-nimbang secara logika dan ilmiah untung ruginya merokok ini yang menjadi asupan bagi kecenderungan hati yang akan dipilihnya. Sampai pada sebuah kesimpulan bila sudah ada yang memenangkan pertarungan dengan dirinya sendiri itu. Langkah selanjutnya memilih tanggal atau momentum untuk berhentinya. Apakah memilih tanggal 17 Agustus 2016 supaya mudah diingat sebagai peringatan kemerdekaan negara kita juga sebagai penanda sebagai peringatan kemerdekaan dirinya terhadap asap rokok. Atau misalnya berhenti pada saat hari ulang tahun dengan pertimbangan supaya tetap akan teringat sepanjang waktu juga cukup baik. Walaupun pada prinsipnya makin cepat memutuskan berhenti adalah lebih baik.
Bagi orang yang sudah mengidap penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok seperti penyakit pernapasan, penyakit jantung, kencing manis, kanker, gagal, darah tinggi biasanya mau tidak mau dan suka maupun tidak suka maka akan menjadikan metode ini menjadikan satu-satunya pilihan untuk melanjutkan hidup dengan berkualitas. Bila penyakit sudah menghampiri maka sebenarnya berhenti merokok menjadi sangat terlambat. Sudah banyak biaya dan waktu yang terlanjur keluar dan terbuang. Tapi untuk sisa hidupnya maka pilihan berhenti merokok itu menjadi sebuah keharusan yang harus diambil. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, walaupun di sisi lain ini juga menjadi pilihan sulit bagi seorang perokok berat.
Berhenti merokok secepatnya juga menjadi pilihan rasional untuk orang terdekat yaitu pasangan dan anak-anaknya dari bahaya menjadi passive smoker. Pertimbangan ekonomi juga bisa memperkuat alasan untuk berhenti merokok yang secara jelas akan menghabiskan pendapatan yang kita terima. Uang untuk beli rokok lebih baik dialihkan untuk beli obat-obatan (bila tidak ikut skema jaminann kesehatan/asuransi kesehatan) atau makanan yang bergizi ataupun hal -hal lain yang bermanfaat.
Bagi remaja yang mau coba-coba maka setidaknya harus ingat bahwa rokok menjadi salah pintu masuk untk berlanjut pada ketergantungan zat adiktif lain yang lebih berat sampai pada kenakalan remaja lainnya sebagai konsekuensi sebuah kecanduan. Rokok dikenal sebagai zat adiktif yang teringan sebelum masuk ke alkohol dna narkoba. Tapi perkara menghentikannya bukanlah mudah. Yang terjadi adalah diawali dengan kebiasaan merokok maka alih-alih berhenti malah justru meningkat kepada kebiasaan yang lebih parah. Pada remaja / orang dewasa yang belum atau tidak matang pola pikirnya maka inilah para calon-calon pecandu dalam arti sebenarnya.
Jadi walaupun Ramadhan sudah usai namun bila merasa masih belum cukup untuk membiasakan untuk tidak merokok maka masih ada beberapa momentum puasa lain seperiti puasa Syawal, puasa sunnah lainnya untuk melatih muslim mengurangi konsumsi rokoknya. Pertahankan semangat Ramadhan dalam mengurangi rokok sampai benar-benar berhenti dan tidak menginginkannya lagi.
(Tri Astuti Sugiyatmi)
LikeShow more reactions
Comment
Comments
Tri Astuti Sugiyatmi

Friday, July 29, 2016

Ayo Anak Muda, Tolak Jadi Target Industri Rokok!

Catatan di hari anak …

Saat itu saya sedang antri di sebuah toko swalayan untuk membayar beberapa belanjaan saya. Antrian di belakang saya ada beberapa orang. Belakang saya persis kelihatan agak marah mempertanyakan kenapa antriannya panjang. Pasti kurang kasir dll. Sekilas saya dengar begitu gerutuannya. Saya tidak terlalu memperhatikan lagi karena ternyata dari arah depan yang berlawanan arah ke kasir -jelas datang lebih lambat - ternyata dilayani duluan. Bila arah kami -4-5 orang- mengarah ke pintu keluar –pintu normal ; maka ibu dan seorang anak kecil menghadap ke dalam, artinya memang bukan di jalur antrian yang benar. Seorang ibu dengan permintaan dua bungkus rokoknya. Langsung dilayani oleh pelayan dengan tangan yang langsung mengambil 2 bungkus rokok di atas kepalanya. Selesai si ibu ternyata si anak kecil juga beli rokok dengan mengulurkan uang 50 ribuan. Kurang satu lagi, katanya. Lalu si kasir juga mendahulukan pelayanan itu sementara yang 5 orang lain menunggu transaksi itu. Sekilas itulah gambaran pemasaran rokok yang menempati prime place. Di depan atau di atas kasir persis, sehingga dengan gerakan sedikit maka si Kasir langsung bisa melayani.
Begitu juga suatu ketika penulis terheran-heran karena di seberang jalan depan sebuah toko kelontong ada sebuah kesibukan yang penulis tidak pernah melihat sebelumnya. Beberapa orang dengan sigap membuka mobil box di sisi samping mobil yang diparkir sejajar jalan itu. JIka selama ini saya tahunya mobil box itu bukaan belakang, itulah kenapa saya jadi tertarik memperhatikan apakah kiranya yang terjadi. Ternyata beberapa orang yang lain kemudian memasang umbul-umbul dan spanduk di sisi samping mobil. Tidak butuh waktu lama maka spanduk tentang iklan rokok sudah terpasang!. Ternyata setelah diperhatikan baik-baik maka sisi mobil samping yang terbuka rupanya menjadi semacam panggung. Rupanya mobil tadi adalah panggung berjalan yang sudah didesain sedemikian rupa menjadi sebuah panggung hiburan yang selalu siap dalam waktu cepat.
Dengan space yang tersedia pas dengan lebar panggung alias lebar mobil maka bagian depan panggung hanya sedikit sekali sisanya karena satu meter di depannya adalah jalan raya yang cukup padat dengan kendaraan. Saat lewat jalan ini kembali pada malam harinya rasa penasaran ini sedikit terjawab. Sempitnya tempat dan lalu lalang motor dan mobil tidak menghalangi acara sore dan malam yang tetap meriah dengan diiringi dengan musik live yang cukup menarik. Penonton memadati seberang jalan karena jalan itu adalah jalan yang tetap dibuka pada saat acara hiburan dimulai. Penonton juga tetap enjoy saja apalagi saat itu para SPG (Sales Promotion Girl) berkeliling membawa contoh produk rokok yang ditawarkan secara murah atau bahkan gratis (?).
Begitulah upaya-upaya pabrik rokok menggaet targetnya. Banyaknya iklan outdoor di hampir sepanjang jalan di sebuah tempat/wilayah menunjukkan betapa sangat besar dan masif upaya menjangkau para perokok dan calon perokok ini. Belum lagi memang tampilan iklan yang sangat menarik, yang mengesankan para perokok adalah laki-laki tangguh, pemberani, suka tantangan serta disukai para wanita di sekitarnya menjadikan “tantangan” bagi siapapun yang melihatnya.
Apa yang salah ?
Untuk sebuah peluang usaha dan bisnis memang tidak ada yang salah dengan hal ini. Bagaimana produsen memasarkan produknya untuk menggaet konsumen loyalnya. Hal yang sangat biasa tetapi khusus untuk pemasaran rokok ini menjadi bermasalah, karena memang rokok dengan menjadi satu-satunya barang tidak normal yang legal. Rokok menjadi barang tidak normal karena mengandung zat adiktif (nikotin) disamping ribuan zat lain yang bersifat racun di dalamnya. Namun pada kenyataannya rokok memang barang yang tidak dilarang sehingga peredarannya bisa bebas.
Permasalahannya memang cukup rumit karena seringkali hal ini dikaitkan dengan kepentingan negara dalam hubungannya dengan pemasukkan negara dari sector ini. Sebenarnya dalam hal ini memang ada inkonsistensi pemerintah sendiri dalam pengendalian tembakau. Mulai dari lahirnya peta jalan produksi rokok oleh kementrian perindustrian sampai dengan tahun 2019 yang akan memproduksi rokok berkali-kali lipat dari jumlah pertambahan penduduk negara kita sampai dengan belum ditandatanganinya serta diratiifkasi FCTC ( framework convention of tobacco control).
Siapa Sasaran Industri Rokok ?
Bila melihat bahwa efek dari rokok baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif sudah jelas-jelas menyebabkan kesakitan dan kematian, maka sebenarnya industri rokok akan menargetkan munculnya konsumen baru akibat ‘habisnya’ konsumen lama. Konsumen baru jelas adalah para perokok pemula yang biasanya adalah anak-anak, remaja maupun pemuda untuk mengganti para perokok yang sudah menjadi sakit-sakitan yang akhirnya berhenti merokok karenanya maupun yang sudah meninggal karena penyakit akibat rokok.
Jika jumlah remaja Indonesia mencapai sekitar 65 juta atau 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia, bahkan data sensus penduduk tahun 2010 jumlah bayi s.d 19 tahun berjumlah 89 juta maka menjadi pasar paling potensial bagi para industri rokok untuk menjeratnya.
Apalagi remaja memang masih berproses mencari jati diri dan selalu penasaran untuk hal-hal baru. Maka munculnya iklan dan promosi rokok yang sangat menggoda menyebabkan remaja berkeinginan untuk mencoba. Tidak heran bila negara kita juga kondang di dunia internasional dengan perokok balitanya serta jumlah perokok pemulanya yang paling tinggi di dunia. Rokok menjadi “pintu masuk” untuk berlanjut kepada kenakalan remaja lain yang lebih berat. Karena memang rokok menjadi salah satu yang mengandung zat adiktif yang dianggap paling ringan efeknya, yang seringkali menjadi tantangan pertama sebelum kecanduan bahan adiktitif lain yang efeknya langsung kelihatan dalam waktu yang lebih cepat seperti alcohol dan narkoba. Diawali dengan kebiasaan merokok, akhirnya para remaja yang belum matang pola pikirnya itu juga seringkali jatuh dalam kebiasaan minum alkohol serta penyalahgunaan narkoba.
Bisa jadi mereka bukan perokok aktif tetapi perokok pasif ( the secondhand smoker maupun The 3rd smoker ) yang hanya mendapat asapnya saja maupun residu di baju dari para perokok aktif di sekitar mereka. Korban –korban asap rokok terus berjatuhan, makin muda dan makin banyak.
Penasaran dengan si anak yang mungkin masih umur 7 tahunan beli rokok 2 bungkus diatas maka saya sempat Tanya “….buat siapa dik? “ tapi dijawab adik kecil polos itu dengan senyum saja. Aku yakinsi anak tadi mesti suruhan orang dewasa di sekitarnya. Mungkin orang dewasa di sekitarnya tidak pernah berpikir bahwa itu adalah pembiasaan anak dengan rokok. Duuh si kecil sudah diajari secara langsung dan tidak langsung; diberikan pemikiran bahwa merokok adalah sesuatu yang fine-fine saja, Normal. Belum lagi nanti di rumah akan diasapin sama bapaknya/om nya/kakaknya/ kakeknya. Kasihan…kasihan..
Bila Bung Karno sebagai salah satu pendiri bangsa ini mengatakan “ berikan padaku 10 pemuda maka akan aku ubah dunia” maka itu berarti anak muda yang kreatif, penuh semangat untuk melakukan berbagai perubahan. Betapa perjalanan bangsa ini dipenuhi dengan heroism anak muda yang berani mengadakan perubahan di lingkungannya itu sudah menjadi catatan sejarah yang tidak terbantahkan. Di masa sekarang tentu saja peluang untuk menjadi “hero”sangat terbuka. Tentu saja syaratnya bahwa pemuda itu haruslah sehat dan tidak sakit-sakitan untuk tetap bisa bersaing secara kualitas dengan SDM muda bangsa lain. Bila negara kita sangat lemah dalam pengendalian tembakau seperti sekarang ini , maka ancaman terbesarnya adalah anak muda kita akan loyo, tidak bersemangat, cenderung sakit-sakitan bahkan mati muda. Maka satu-satunya jalan supaya kita tetap bisa bersaing di berbagai level maka ayo bagi anak muda semua, untuk berani berkata “tidak” untuk menjadi target industri rokok dan pada gilirannya alkohol dan narkoba.
(Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi 

Saturday, May 21, 2016

Kasus Yuyun, Sinergi Miras & Rokok


Kematian  bocah Yuyun (14 tahun) yang mengenaskan  setelah mendapat perlakuan tidak senonoh dari  14  pria  yang dalam pengaruh alcohol / minuman keras,   menyebabkan keprihatinan yang cukup mendalam dari banyak pihak. Pelaku –pelaku  pemerkosaan yang sebagian masih remaja (17 tahun 5 orang dan sisanya dibawah 20 tahun) menyebabkan keprihatinan tersendiri. Dalam kasus ini yang mengemuka adalah dari sisi minuman kerasnya (miras)- yaitu zat yang mengandung alcohol  dengan berbagai variasi prosentase yang mempunyai sifat memabukkan dan menghilangkan akal sehat para pelakunya.  Dalam kasus  ini,  tuak sejenis minuman tradisional beralkohol di daerah Rejang Lebong Bengkulu yang dituduh menjadi penyebab gelap matanya segerombolan pemuda  untuk bersama – sama menodai Yuyun sampai menemui ajalnya.
Kebijakan Tentang Miras
Berbicara tentang peredaran miras  memang sebelum peristiwa ini mengemuka, sudah pernah mengalami pro kontra.  Awalnya Kebijakan Mentri Perdagangan yang pertama di Kabinet Jokowi ini  yaitu  Rahmat Gobel sebenarnya  sempat melarang peredaran miras diperjualbelikan di minimarket. Hal ini  mendapat dukungan dari banyak kalangan dengan banyak argumentasi antara lain masalah kesehatan, nilai –nilai  moral, budaya serta agama mayoritas masyarakat. Toh bila masih ada yang membutuhkan dengan beberapa alasan, masih bisa diakses di layanan supermarket, dimana jumlahnya lebih sedikit serta  posisi dan lokas tertentu yang lebih sulit dijangkau oleh masyarakat dibandingkan dengan bila dijual di minimarket. Jadi  regulasi  yang ada sudah cukup mewadahi berbagai kepentingan itu.
Namun kemudian pada September 2015 dimana setelah pergantian Menteri Perdagangan maka ada pergantian kebijakan. Pada saat itu diluncurkan paket ekonomi yang diantaranya adalah terkait dengan diperbolehkannya miras diperdagangkan di minimarket.   Saat itulah pro kontra  mengemuka. Dan bila flash back ke diskusi –diskusi sebelumnya  maka beredarnya  miras secara lebih bebas ditengarai akan menyebabkan  kerusakan  mental dan moral para pemuda kita pada saatnya nanti.
Sementara alcohol yang menjadi  racun bagi tubuh maka seringkali  bisa menyebabkan gangguan  yang terkait dengan hati. Salah satu tugas hati adalah membuang produk limbah yang tidak bisa dibuang oleh ginjal  maka  gangguan fungsi hati  sering terjadi pada pengkonsumsi alcohol dalam jangka lama. Pada beberapa kasus   hal ini berujung pada kasus  kanker hati  dimana hatinya akan mengeras dan tidak bisa berfungsi dengan baik dan harus diganti hatinya (transplantasi liver).
Persamaan dan Perbedaan  Alkohol (Miras) dengan Rokok
Dalam kasus Yuyun maka berkembang bahwa  kita dalam kondisi darurat miras. Menurut hemat penulis maka kondisi kita tidak hanya dalam kondisi darurat miras tetapi juga darurat rokok.  Hal ini karena ada banyak  persamaan antara miras dengan rokok  dan adanya hubungan yang cukup erat keduanya. Alkohol serta nikotin di dalam rokok masuk dalam klasifikasi zat adiktif adalah zat-zat yang bisa membuat ketagihan jika dikonsumsi secara rutin.  
Persamaan lain antara miras dan tembakau (baca”: rokok)  yaitu bahwa keduanya dituduh menjadi factor risiko (FR) kemunculan penyakit  tidak menular (PTM). Dalam jangka panjang  miras akan bergabung dengan FR yang lain seperti pola makan yang tidak seimbang, kurangnya pola gerak/ aktifitas fisik atau olehraga,  merokok serta  jeleknya pengelolaan stress maka akan menimbulkan penyakit seperti penyakit  jantung, kencing manis, kanker, darah tinggi, stroke, gagal ginjal, dll. Istilah PTM sendiri merujuk pada klaster penyakit yang penyebabnya adalah banyak factor yang akan “bersinergi” menghasilkan manifestasi diagnose penyakit yang ‘mengerikan’ dan cenderung memakan biaya besar dan membuat miskin bagi pengidapnya (katastrofik).
Satu hal yang menarik ternyata ada  hubungan antara rokok  dan alkoho sebagaimana disebutkan dalam sebuah penelitian Noah R. Gubner dari Center forTobacco  Control Research and Education, University of California menyatakan  ada hubungan antara  alkohol dan rokok ( Detik com, 5/5/2016).  Dalam penelitian itu dinyatakan bahwa konsumsi alkohol akan mempengaruhi  proses penyerapan nikotin di dalam tubuh.  Semakin sering alcohol sering diminum maka proses penyerapan nikotin akan makin meningkat dan hal inilah yang menyebabkan dosis nikotin harus ditambah yang artinya jumlah nikotin (baca: batang rokok) yang dihisap juga semakin banyak.  Akibatnya  maka perokok lebih kecanduan dan lebih sulit berhenti. Dapat disimpulkan bahwa rokok dan alkohol terbukti bersinergi.  
Memang dalam kasus Yuyun belum  ada informasi tentang kebiasaan merokok pada pelakunya tetapi  biasanya sebelum sampai ke kecanduan alcohol maka para remaja kita mulai dulu dengan mencoba-coba rokok dulu.  Karena rokok  dari dulu sampai sekarang tidak ada larangan yang secara tegas mengatur peredarannya.  Rokok adalah barang tidak normal yang  legal. Jadi ini menjadi sebuah lingkaran setan yang sulit untuk diputus mata rantainya. Khusus dalam hal ini  penulis  merasa yakin bila digali lebih lanjut, maka besar kemungkinan para pemabuk itu juga menjadi pecandu rokok. 
Karena sama –sama sebagai zat adiktif, maka regulasi dalam undang-undang khususnya UU kesehatan no 36 tahun 2009 sudah cukup jelas. Namun dalam secara teknis  akan diatur kembali dalam peraturan pemerintah dan peraturan perundangan di bawahnya. PP tentang pengendalian/ pengamanan  tembakau juga sudah jelas  tercantum pada PP no 109/2012.  Sementara untuk miras sudah ada Keppres Nomor 3 Tahun 1997 yang juga berbicara tentang peredaran  dan definisi miras.
Namun dalam perjalanannya banyak dinamika yang muncul seperti pada masalah Permendag pada kasus  penjualan miras seperti diatas.  Dalam hal tembakau / rokok maka sekarang sudah muncul RUU pertembakauan yang diinisiasi oleh industri tembakau  yang sudah masuk prolegnas (Program legislasi nasional) pada tahun ini. Dua dinamika terakhir ini justru ditengarai akan memperlemah pengendalian zat adiktif. Belum lagi adanya peta  jalan tembakau yang dikeluarkan oleh Kementrian perdagangan yang menargetkan produksi rokok besar-besaran pada tahun ini sampai tahun 2019 maka tentu saja akan menarget para perokok pemula  dari kaum muda untuk mengkonsumsinya.
Dalam tinjauan sisi agama (baca : Islam) yang penulis pahami,  miras (minuman yang memabukkan)  diberi label hukum haram. Artinya penganutnya tidak boleh mengkonsumsinya. Sementara hukum rokok masih berbeda para ulama menyikapinya. Sebagian mengharamkan. sebagian memberi hukum makruh  bahkan ada yang hanya dalam kategori mubah. Yang jelas setahu penulis  tidak ada ulama yang menghukumi rokok dalam kategori sunnah ( melakukan berpahala, tidak melakukan tidak apa-apa) maupun wajib ( mengharuskan, bila tidak melakukan akan berdosa). Sehingga dari hal tersebut di atas dapat disimpulkan  bahwa  manfaat bahwa rokok memang dianggap sangatlah kecil sementara mudharatnya sudah jelas akan  merugikan kesehatan bagi para pemakainya dan orang di sekitarnya.
Munculnya dinamika pro kontra  terhadap manfaat  miras khususnya  memang pernah mengemuka karena beragamnya latar belakang masyarakat dalam hal budaya, agama dan adat istiadat dimana perlu juga dipikirkan akan kebutuhan “ruang” tersendiri untuk menampung kebutuhan –kebutuhan mereka seperti turis asing, kepentingan adat  di daerah tertentu. Walaupun disadari oleh banyak pihak  bahwa sebenarnya semua efek buruk pada kesehatan akibat miras dan rokok tidak ada  hubungan khusus dengan latar belakang apapun pada pemakainya.
Tetapi dengan munculnya kasus Yuyun ini maka menurut penulis pemerintah sudah selayaknya mempertimbangkan kembali matang-matang akibat lemahnya kebijakan miras dan rokok dimana data dan fakta terkait kesehatan  sudah  tidak terbantahkan lagi. Dalam hubungannya dengan keragaman masyarakat dalam hal agama dan adat istiadat,  pemerintahlah yang harus meramunya secara adil  supaya tidak  mengabaikan kesehatan masyarakat secara umum. 
Kasus Yuyun membuat pemerintah dan para pengambil kebikan harus kembali segera bercermin, untuk melihat apa kekurangannya  dan apa yang salah dari kebijakan publik  (public policy) yang sudah diambil. Menurut hemat penulis maka solusinya adalah sebuah regulasi yang pro terhadap kesehatan masyarakat baik terhadap miras dan rokok secara  adil. Bila tidak maka kasus ini  hanya akan berulang di lain waktu sebagai bom waktu dan kita hanya bisa meratapinya  tanpa tahu kapan semua akan berakhir (radar tarakan, april 2016))


Friday, April 15, 2016

artikel /opini



Rokok : Tinjauan Beberapa Aspek

     Rokok : Tinjauan Beberapa Aspek
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi   
Dalam kunjungannya ke kota  kita beberapa waktu yang lalu 23/3/2016),  – saat  peresmian bandara Tarakan pada momen membagi  “kartu sakti”- Bapak Presiden kita memberi pesan  bahwa dana – dana bantuan yang diterima oleh warga yang membutuhkan hendaknya tidak  dipakai dan dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Presiden menyatakan   bahwa bantuan tersebut jangan untuk dibelikan rokok atau pulsa dan Beliau menyarankan untuk membelikan hal   yang berguna bagi  gizi anak bayi dan biaya sekolah.
Bagi penulis untuk pulsa memang cukup debatable.  Pulsa  untuk komunikasi seluler bisa jadi  memang hanya untuk fun atau  hura-hura tetapi bisa jadi sebaliknya,  justru  bisa menjadi kebutuhan untuk meningkatkan produktifitas akibat berjalannya komunikasi yang baik dengan keluarga maupun dengan jejaring kerjanya. Sehingga disini penulis hanya menyoroti  khusus pada permasalahan zat yang  sering menyebabkan ketergantungan (adiksi) bagi para pemakaianya yaitu rokok. 
Risiko Penyakit Kronis dan Penyakit Tidak Menular
Sudah menjadi rahasia umum bahwa  merokok menjadi salah satu faktor risiko  dari berbagai penyakit non infeksi kronis atau sering dikenal sebagai penyakit tidak menular (PTM).  Berbagai penyakit kanker, kencing manis, darah tinggi, penyakit jantung, penyakit gagal ginjal serta stroke menjadi  kondisi yang sering dialami oleh para perokok.
Tetapi dalam kenyataannya  banyak yang berpikir orang miskin kan pasti penerima bantuan iuran  (PBI) dalam skema jaminan kesehatan nasional sehingga  dianggap tidak menjadi soal saat miskin  untuk tetap merokok toh bila sakit sudah tertolong dengan skema jaminan kesehatan yang dimilikinya.
Itu adalah sebuah pemikiran sempit dan menyesatkan.  Bila sampai sekarang bila ada perokok yang menderita penyakit yang digolongkan sebagai  penyakit kronis tetapi masih ditanggung oleh BPJS kesehatan atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) nya maka jangan merasa tenang-tenang saja.  Hal yang menyangkut kebijakan (policy)  yang bisa jadi bisa berubah di masa mendatang.  
Dengan ada kesulitan masalah keuangan di tubuh BPJS kesehatan,  maka menurut hemat penulis  regulasi  bagi perokok yang sakit kronis bisa jadi menjadi sebuah pilihan yang paling rasional untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu itu.   Mantan Menkes Nafsiah Mboi  pernah memberikan alternatif  bahwa orang yang pola hidupnya lebih berisiko sebaiknya membayar iuran jaminan kesehatan lebih tinggi daripada yang pola hidupnya sehat.   
Walaupun kebijakan seperti ini belum diterapkan tetapi sebaiknya Para perokok juga sudah harus berpikir bahwa dengan sakit maka kerugiannya bukan hanya sekedar pengeluaran biaya saat di RS saja, -yang selama ini bisa ditanggung BPJS.  Kerugian saat sakit juga menyangkuti  hilangnya pendapatan yang seharusnya didapat  pada saat dia sehat dan bekerja, juga biaya yang hilang pada saat keluarga juga kehilangan waktu untuk  bekerja  karena harus menungguinya di RS atau bahkan biaya yang dikeluarkan  untuk  transportasi dan berbagai keperluan lain oleh  pendampingnya. Berbagai biaya yang dikeluarkan  serta  kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan  (opportunity cost)  sudah semestinya menjadi pemikiran para perokok juga  supaya tidak menjadi penyesalan di kemudian hari saat penyakit kronis menghampirinya.
Penyakit kronis tersebut seringkali  mengharuskan pasien  untuk  mendapatkan tindakan cuci darah, kemoterapi, radioterapi,  operasi, pemasangan ring jantung dan berbagai tindakan medis berbiaya mahal yang bila  tidak ada penjamin biaya maka menjadikan pengidapnya dan keluarganya bisa  menjadi miskin mendadak. Istilah katastrofik sering digunakan untuk menyebut penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan gaya hidup yang baik (pola makan  gizi seimbang,  dapat mengelola emosi untuk tidak stress berlebihan, beraktifitas fisik atau olahraga yang rutin dan cukup serta tidak mengkonsumsi rokok dan atau alkohol).
Tinjauan sisi sosbud dan ekonomi
Dalam kehidupan  sehari-hari,  merokok menjadi kegiatan   yang  bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Merokok menjadi kegiatan yang sudah dimulai saat pagi buta –saat perokok bangun tidur, saat siang hari maupun malam hari saat lembur. Merokok sering juga dikerjakan bukan hanya saat di luar rumah seperti di kantor, transportasi umum seperti bis dan angkot, tetapi juga di ruang terhormat para anggota dewan,  ruang kantor  ber AC sekalipun ataupun sambil membaca Koran dan menikmati kopi di samping anak dan istri di rumah.  Merokok juga  dilakukan  sambil kongkow membicarakan  hasil skor sepakbola semalam, sambil main kartu, sambil nyetir mobil dan sambil ke toilet  untuk membuang bau.
Banyak sekali alasan dan motivasi orang untuk merokok. Apalagi bagi perokok yang sudah  dalam kategori kecanduan. Maka jika isu kesehatan menjadi tidak penting dan menarik bagi mereka maka hitung-hitungan ekonomi menjadi suatu alternative untuk menghentikan kebiasaannya.  Berapa rokok yang dihabiskan dalam sehari dan berapa uang yang dihabiskan untuk itu bisa dikalkulasi. Jika katakana 10.000 saja pengeluaran merokok per hari. Maka dalam seminggu, sebulan bahkan satu tahun dan lima tahun bisa dikalkulasi berapa uang yang ‘hilang” yang andaikan ada maka mungkin sudah bisa dipakai untuk banyak hal: cicilan rumah, kendaraan bermotor atau bahkan uang muka naik haji.  Dan bila saat ini kita masih berkutat pada benda 9 cm yang cenderung dituhankan (menurut Taufik Ismail) maka kerugian akan menjadi berlipat-lipat. Membayar pajak (baca : cukai rokok)  untuk sebuah investasi sakit pada saatnya kelak!

Karena berbagai alasan di atas maka  penulis sangat setuju dengan pernyataan bapak kepala Negara kita itu. Dan di level kita  jangan kita memakai  istilah “uang rokok”  sebagai uang tips atau upah bagi pekerja atau orang yang  membantu pekerjaan kita.  Karena dengan istilah itu maka uang tips yang sebenarnya bisa menjadi tambahan penghasilan bagi para pekerja non formal akan dengan mudah dibelanjakan menjadi rokok yang akan meracuni dirinya, serta perokok pasif di sekitarnya termasuk anak dan istrinya.  Jadi, ayo  jangan beli  rokok ! seperti ajakan Bapak Presiden kepada kita semua.(dimuat di Radar Tarakan, 14 April 2016)

Friday, April 8, 2016

Sebuah Niat


Ramai berita tentang mantan rektor almamaterku yang dijerat korupsi oleh institusi anti korupsi tertinggi di negeri ini membuat kami kaget. Apalagi berita yang lain juga tak kalah mengharu biru menyusul keluarganya juga masuk ICU terkena serangan jantung. Doa kami semoga diberikan ketabahan dan kekuatan untuk semuanya. 
Sebenarnya saya mahasiswa UNAIR angkatan tua (masuk 92 s.d 98) yang tidak terlalu kenal dengan beliau. Namun hidup di asrama Ekanita Unair selama 6 tahun yang satu kompleks dengan tempat tinggal beliau di perumahan dosen Unair di kampus B menjadikan saya cukup familier dengan nama beliaunya. Setiap Minggu saya dan teman-teman hampir pasti melewati sebelah rumah beliau saat ke wartel di koperasi mahasiswa. Apalagi saat itu diasrama juga ada beberapa anak farmasi angkatan 90, 91 dan angkatan bawahnya dimana beberapa kawan baik -yang saya tahu persis – sangat mengagumi beliau karena kesederhanaannya dan kepakarannya. 
Sebagai mantan anak asrama Unair yang gedungnya di sebelah belakang rektorat agak ke kanan bila menghadap jalan, merasa sebagian sejarah hidupnya ada di sana. Pergantian beberapa pejabat di sana sedikit banyak mempengaruhi kehidupan kami di asrama. Memang waktu (awal masuk) itu beliau kalau tdk salah masih di fakultas. Saya tidak ingat apa jabatan beliau, mungkin dekan. Bisa jadi saat kami keluar tahun 98 bisa jadi sudah beralih ke rektorat. 
Memang secara umum beliau tdk terlalu terkait dengan asrama kami. Tapi yang jelas dinamika di asrama menyebabkan kami beberapa kali berhubungan dengan beberapa keluarga besar rektorat. Ya asrama putri dengan 60 mahasiswi saat itu memang beberapa kali mengalami masa sulit dan itulah yang menyebabkan kami “merasa dekat” dengan orang-orang lama apalagi beliau tinggal sekompleks dengan kami. 
Yang jelas, beberapa kali saya ke rumah beliau – karena ada teman yang pernah tinggal disana. Beberapa kali berinteraksi dan berjumpa dengan anggota keluarganya. Sangat sederhana. Ya sebatas itu saya mengenalnya. Tapi bagaimanapun saya sampai sata ini pun masih mengagumi beliau karena ya saya masih yakin dan percaya dengan sikap tulus beliau dan keluarganya, kesederhanaannya serta sikap baiknya.
Saya menyadari bahwa system kita di Negara kita memang sangatlah tidak kondusif. Keburukan system yang ada menyebabkan banyak orang baik yang akhirnya mundur teratur untuk menjadi pengambil kebijakan tertinggi di beberapa level. Saya mengenal beberapa pribadi seperti itu. Padahal disadari untuk memperbaiki sebuah system juga dibutuhkan ‘tangan dingin’ orang –orang baik itu. Tapi situasi yang tidak kondusif akan menyebabkan orang baik akan berpikir ulang untuk ke sana. Sistem yang cenderung korup juga akan menyebabkan orang baik ‘takut’ masuk ke sana (dunia structural). Namun diyakini Orang baik juga pasti akan berhitung dengan kekuatannya bagaimana menghadapi situasi seperti itu termasuk kontaminasi dari sekitar. Dan pada saat orang baik memutuskan iya, tentu saya sangat yakin bahwa keputusan yang diambil secara sadar tersebut sudah dikalkulasi dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Tentu saja hanya dua kemungkinannya, mau mewarnai atau diwarnai. Dan orang baik, saya yakin bahwa keputusannya mau masuk birokrasi adalah adanya keyakinan untuk bisa mendedikasikan sebagian ilmunya melalui jalur yang ini. Tentu saja sudah dengan perhitungan yang sangat matang dengan diiringi niat baik dan lurus. Memang sulit menerka niat seseorang karena yang tahu hanyalah si pemilik niat dan Sang pembolak balik hati si pemilik niat alias Allah swt, Tuhan Sang Penggenggam Hati. Saya yakin semua orang baik pasti akan mengawalinya semua kegiatannya / amanah yang ditunaikannya dengan niat baik. Satu hal bahwa orang yang lurus itu selalu berusaha menjaga niatnya. Dan dalam keyakinan saya, prof F adalah dalam barisan tersebut. 
Saya juga meyakini bahwa ketiadaan orang baik di birokrasi menyebabkan system akan tetap seperti itu. Tidak ada perubahan kearah yang lebih baik. Karena untuk memperbaiki sebuah system bisa jadi tidak bisa hanya dari luar. Orang baik perlu masuk dan turun gelanggang secara langsung. Namun kembali bahwa dalam nature sebuah system nya banyak hal bisa terjadi disana. Saling sikut, saling sikat, saling injak kadang dimanfaatkan sebagian oknum untuk mencapainya. Namun seringkali situasi seperti ini menjadikan keengganan orang baik masuk birokrasi dan pada akhirnya birokrasi menjadi sangat buruk rupanya. Sebuah lingkaran yang akhirnya menjadi sulit ditarik ujung pangkalnya. 
Munculnya beberapa kepala daerah yang sudah terbukti dan amazing di Bantaeng, Surabaya, Bandung pada saat ini menjadikan kepercayaan saya bahwa ditengah hal- hal yang sedemikian rupa masih ada dan bisa orang baik hadir muncul dari level manapun. Ya mutiara tetap akan bersinar sekalipun dari lumpur yang paling kotor munculnya. 
Namun bagaimanapun baiknya seseorang, apabila dicari-cari kesalahan /kekeliruan pasti ada saja. Apalagi orang baik akan selalu positif thinking dengan sekitarnya. Sehingga pada dunia yang makin hedonis ini seringkali kebaikan seseorang dan sikap husnudhan akan disalahartikan oleh oknum lain untuk memperoleh keuntungan baik dalam hal materi ataupun non materi. Dalam hal kasus diatas, saya tidak tahu persis bagaimana konteksnya. 
Yang cukup memprihatinkan adalah bahwa bila sekarang niat menjadi ‘pembeda ‘ perlakuan dari KPK terhadap beberapa targetnya memang bisa menjadi bias hasilnya. Karena tergantung masing-masing penafsirnya terhadap niat si target. Saya percaya bahwa niat baik hanyalah muncul dari orang –orang yang baik saja. Orang-orang baik hanya bisa dinilai dari rekam jejak sebelumnya dari orang orang yang mengenalnya. Dalam kasus diatas saya yakin bahwa niat baik insyaallah pasti ada. Karena track record nya memang menunjukkan demikian. 
Sebuah pertanyaan besar bila si penafsir dari “atas sana” menganggap ada niat jahat maka bagaimana bisa membuktikan sebuah niat menjadi jahat sementara disaat yang sama ada kasus lain di tempat lain dengan dengan dukungan data lebih lengkap (bahkan dari institusi lain /baca: BPK juga menunjukkan penyimpangan) justru dianggap punya niat sebaliknya. Ya terbukti ada perlakuan yang sangat berbeda karena perbedaan menafsirkan sebuah kata yang memang sangat abstrak bentuknya. Dan sekali lagi hanya diketahui kebenarannya oleh si empunya sendiri dan Pemilik hati yang sesungguhnya. 
Ya logika hukum yang tidak masuk akal bagi orang –orang awam seperti kami. Ketidakjelasan hukum seperti ini juga yang secara nyata dan jelas menjadikan orang baik menjadi takut masuk system. Karena beberapa orang yang track recordnya sangat baik dan insyaallah tetap baik justru menjadi pesakitan dengan tuduhan yang kadangkala terasa sangat sumir dan mengada-ada. Harapannya semoga hal-hal ini seperti ini tetap tidak menyurutkan niat dan langkah orang –orang baik dalam arti yang sesungguhnya –bukan sekedar jargon dan pencitraan di depan media- untuk dapat memperbaiki kehidupan kita dimasa yang akan datang. 
Saya yakin dan percaya bahwa hasil judgment di level manusia adalah belum final 100%. Masih ada pengadilan tertinggi allah SWT kelak di hari kemudian. Dan itulah yang pasti. Namun kenyataan bahwa pada hari ini manusia hanya melihat pengadilan di dunia. Bully, caci maki, sinis serta hal sebangsanya langsung diterima kontan saat orang disorot sebagai pesakitan. Bahkan dalam jaman sekarang semua orang bisa langsung berkomentar apapun layaknya juruwarta di wall masing-masing medsosnya tentang banyak kasus yang ada termasuk yang td di atas. Sangat prihatin dengan itu semua. Karena dalam banyak kasus apa yang kita baca dan lihat di media mainstream bisa jadi sangat berbeda dengan kenyataannya. Maka pada saat kita berkomentar hendaknya bijak bukan hanya bersumber pada media mainstream saja. Dan selayaknya doa kita untuk semua yang sedang terkena musibah untuk dapat dikuatkan dan untuk yang sedang berkuasa untuk diingatkan. Semoga juga untuk penegak hukum dari komisi antirasuah juga diberikan kekuatan untuk tidak tebang pilih sesuai tugasnya. Tiada daya dan upaya selain dari Allah swt semata. Wallahualam.

Wednesday, February 24, 2016

TI atau TC ?

TI atau TC ?
Diajak berdiskusi dan berpikir oleh sebuah lembaga kajian. Walaupun berpendapat bahwa TOR maupun spanduk yang dibuat tidak sesuai dengan kecenderungan hati, tetapi oke lah. Mari kita berpikir secara jernih terhadap sesuatu masalah yang sebenarnya sudah sangat terang benderang. Masalah tembakau....sesuatu yang terlalu menarik untuk ditolak.
Saya meyakini dengan segenap hati dan pikiran bahwa kita manusia dikaruniakan kemampuan untuk memilih dan memilah informasi apa yang masuk ke diri pribadi dan kemudian akan menganalisisnya dan terakhir akan menghasilkan sebuah pola pikir dan keluar dalam bentuk perilaku dan segala rentetan konsekuensi dari sikap yang diambil. Terkait dengan hal itu maka saya mengambil sikap bahwa bahaya dan mudharat tembakau (baca : rokok) sangat jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Ya memang tidak bisa melihat masalah hanya dari satu sisi saja. Tetapi dalam hal tembakau/rokok, banyak studi yang lain juga memperlihatkan hal yang serupa. Rokok merugikan bukan hanya dari sisi kesehatan tetapi juga keuangan/ekonomi keluarga. Pemenuhan gizi anak/bayi terhambat karena ayahnya lebih suka untuk membelanjakan uangnya untuk dibelikan rokok untuk dirinya sendiri daripada susu atau telur untuk anaknya.
Belum lagi rasa saya sayang sama rokok yang sedang diisapnya juga menyebabkan racun masuk ke anak yang sedang digendongnya. Kalo melihat bapak yang begini, saya pikir dia lebih sayang pada rokoknya daripada pada anaknya. Sehingga tak heran banyak anak-anak kecil yang masuk rumah sakit karena pneumonia karena selalunya disuguhinya asap dan bau serta remah remah abu rokok.
Candu rokok juga seringkali menjadi pintu masuk candu yang lain. Narkoba.Data ini sering dinafikkan oleh para pegiat tembakau. Menurut mereka itu kasusistis . Memang betul tetapi hampir selalu pecandu narkoba rata-rata awalnya adalah perokok. Candu nikotin adalah salah satu zat berbahaya yang memang masih legal sampai sekarang. Itulah membuat mereka beralasan bahwa tidak pantas rokok ditempatkan sedemikian rupa. Mereka menganggap bahwa "rezim kesehatan ' lah yang membuat rokok menjadi dimusuhi.
Padahal dari sisi ekonomi rokok juga cukup membebani ekonomi keluarga. Belanja rokok menempati nomor dua dan hanya kalah dari belanja bahan pangan pokok (nasi/padi-padian).
Bisa dihitung bila belanja rokok 12 rb-15 rb per hari untuk sebungkus rokok maka berapakah pengeluaran mingguan, bulanan atau setahun, 5 tahun dan 10 tahun. Ya kalo dihitung beneran mungkin uang rokok itu sdh bisa dibelikan motor atau uang muka rumah atau bahkan untuk naik haji bagi yang muslim.
Belum lagi dari sisi ekonomi kesehatan berapa uang yang dikeluarkan bagi pengidap gagal ginjal, jantung atau stroke sebagai akibat kontribusi dari rokok bersama dengan faktor risiko yang lain.sangat bisa orang yang sakit kronis akan menjadi miskin karena penyakitnya. Belum lagi kecacatan yang ditimbulkannya misalnya karena sisa dari stroke yang ditimbulkannya.
Belum lagi fatwa para ulama (walaupun sebagian ada yang tdk setuju) bahwa merokok itu minimal mubah bahkan ada yang sampai mengharamkan, menguatkan argumen bahwa hasil-hasian itu maknanya bagi saya pribadi.
Bahwa masih menghidupi petani tembakau itu memang betul, tapi toh alih tanam atau pemanfaatan tembakau selain untuk rokok juga sudah banyak dilakukan. Bahkan seorang mantan petani mengatakan bahwa tidaklah mungkin para petani tembakau akan menjadi kaya, karena memang tata niaga tembakau yang cenderung dikendalikan oleh pabrik rokok tidak akan banyak memberi peluang untuk untung bagi para petani. Produksi rokok yang faktanya makin banyak justru memunculkan keheranann karena yang banyak terjadi adalah produksi tembakau dan cengkeh justru stagnan..
Itulah dasar saya memilih berdiri dalam kalangan yang mencoba meyakinkan publik bahwa rokok tidak ada keuntungan yang berarti.
Bila ada pihak-pihak yang memaksakan pemikiran bahwa rokok menjadi warisan budaya yang harus dijaga, menurut saya terlalu berlebihan.
Karena pada arti leksikal dari budaya sendiri, maka rokok menurut saya tidaklah pantas masuk dalam katagori mulia tersebut.
well, saya hanyalah diundang untuk berbicara sesuai pengetahuan dan keyakinan saya. jadi tidak masalah untuk datang dengan niat memberi warna lain....pada diskusi yang sejak awal saya agak kurang sreg dengan tor, tema dan back drop yang masih debatable.
apapun itu, hal tersebut sudah membuat wawasan menjadi kaya. Waaupun jujur, inilah perang pemikiran yang juga menyita emosi saya. Bayangkan jika nanti RUU pertembakauan yang sudah masuk prolegnas dan disyahkan maka di tahun 2020 akan diproduksi rokok sebesar 550-600 Milyar batang maka saat itulah semua kita dipaksa menjadi perokok. Mungkin bayi -bayi baru lahir pun akan menjadi pasar untuk menghabiskan produksi rokok itu. Ironis....!!! Saatnya menentukan sikap : pro TI (tobacco industry atau Tobacco-control.
(tri astuti sugiyatmi, mikir-mikir pasca diskusi)

KETERKAITAN DBD, ZIKA DAN PERUBAHAN IKLIM

KETERKAITAN DBD, ZIKA DAN PERUBAHAN IKLIM
Dalam beberapa waktu belakangan ini kasus penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) sedang merebak di banyak daerah. Bahkan ada yang sudah menyatakan sebagai wabah. Beberapa daerah kabupaten /kota yang masuk propinsi di Jabar, Jatim, Sumbar dan Sulsel sudah banyak yang menyatakan Status KLB akibat DBD. Korban sakit dan korban meninggal sudah banyak berjatuhan, sementara bangsal di rumah sakit banyak yang penuh.
Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dianggap sebagai penyakit yang datangnya musiman. Biasanya hanya pada saat bulan-bulan ini yaitu saat peralihan dari kemarau ke musim hujan. Hujan yang mulai turun akan menyebabkan air banyak tergenang yang secara otomatis menjadi perindukan nyamuk, bila perilaku masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih sehat masih belum bagus. Ditambah lagi kondisi lingkungan yang buruk seperti sampah yang berserakan yang juga dapat menampung air hujan juga punya kontribusi tersendiri dalam terjadinya outbreak penyakit.
Sementara di belahan bumi lain, di benua Amerika, wabah virus zika (ZIKV) – dengan gejala yang mrip DBD dan angka kematian lebih kecil daripada DBD.,- juga sedang ramai diperbincangkan. Sembilan negara sudah berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB), 21 lainnya berstatus transmisi aktif. Diperkirakan ZIKV bisa menyebar ke Afrika, Asia dan Eropa. Terakhir sudah masuk ke Cina di benua Asia.
Memang dengue berbeda dengan ZIKV akan tetapi ada persamaan antara keduanya. Kedua virus ini masuk dalam kelompok arbovirus . Keduanya juga dapat ditularkan oleh nyamuk yang sama yang terdiri dari Aedes aegypti maupun Aedes albopictus. Melihat kesamaan kelompok virus dan metode penyebarannya maka potensi penyebaran dan risiko ZIKV di Indonesia bisa jadi cukup tinggi, walaupun sampai sekarang dilaporkan masih negatif.
Yang cukup menarik ZIKV juga ditengarai disebarkan lewat cairan tubuh seperti penularan dari ibu hamil ke janin. Adanya dugaan keras ZIKV berhubungan dengan mikrocephalus kongenital (ukuran kepala dan otak bayi yang lebih kecil ) maupun berkomplikasi sindroma Guillain Barre membuat badan kesehatan dunia (WHO) memasukkannya sebagai salah satu kegawatdaruratan kesehatan masyarakat internasional (Public Health Emergency International Concern). Di dalam negeri travel advisory untuk WNI yang akan bepergian ke negara terjangkit juga sudah dikeluarkan.
DBD dan Perubahan Iklim
Fenomena mengganasnya virus dengue saat ini selain akibat faktor perilaku juga dianggap ada kontribusi dari lingkungan. Penelitian beberapa ahli menyatakan penyakit yang cukup mematikan ini dianggap terkait dengan perubahan iklim (PI). Istilah PI atau climate change sendiri sebagai akibat dari kejadian pemanasan global (global warming).
Dalam beberapa studi disebutkan bahwa wilayah yang temperaturnya semakin menghangat dan lembab sangat cocok untuk berkembangnya nyamuk penyebar penyakit. Hal inilah yang mengakibatkan siklus perkawinan dan metamorfosa nyamuk menjadi lebih singkat yang akan menyebabkan jumlah populasi nyamuk akan lebih berkembang. Di samping ada factor curah hujan yang lebih tinggi. Bergabung dengan factor kenaikan jumlah penduduk yang diasumsikan sebagai kenaikan jumlah kebutuhan air bersih dan jumlah penampungan air yang ada maka dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan antara DBD dengan PI.
Walaupun ZIKV sebenarnya sudah lama muncul, tapi hubunganya dengan PI belum tereksplorasi dengan baik. Namun melihat bahwa Sang Penyebar ZIKV juga sama dengan vector DBD maka secara empirik dapat dinyatakan ada kemungkinan ZIKV juga akan menjadi penyakit sebagai dampak perubahan iklim yang berikutnya. Walaupun tentu saja perlu pendalaman dalam hal ini.
Perlu Aksi Adaptasi
Dalam hal wabah DBD yang sedang terjadi di banyak tempat maka yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana memutus rantai penularan secara cepat. Kegiatan penanggulangan pada fokus dan atau wabah di daerah tertular menjadi tanggung jawab semua pihak. Urusan DBD diyakini tidak akan pernah selesai bila hal ini hanya menjadi tanggung jawab dan beban pihak kesehatan baik dinas kesehatan/puskesmas di wilayah terjangkit. Upaya–upaya dalam pengendalian wabah DBD seperti pemakaian insektisida pada pengasapan (fogging) dan penaburan larvasida tidak akan efektif saat tidak ada peran serta masyarakat dalam PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yang rutin dan berkelanjutan.
Upaya inovasi dapat juga dalam memperkaya jargon 3M yang sudah lebih dulu ada (menutup, menguras dan mengubur barang bekas) juga bisa terus dikembangkan. Upaya menutup kontainer air dengan bahan yang tetap dapat dilewati air dari talang menjadi sebuah alternatif bagi daerah tadah hujan ataupun memakai ikan pemakan jentik sebagai upaya untuk meningkatkan angka bebas jentik juga patut dikembangkan dengan lebih baik lagi.
Upaya teknis pengamatan kasus, pengendalian vektor terpadu dan penggalangan kemitraan adalah menjadi kunci dalam pengendalian penyakit yang bersumber binatang ini. Sedangkan upaya-upaya kuratif mengobati pasien yang sudah ‘kadung‘ sakit di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan adalah menjadi upaya “terakhir” yang dapat dikerjakan. Adanya kemiripan virus dan vektornya antara dengue dan ZIKV menyebabkan upaya pencegahan yang dilakukan juga sama. Dengan menangani DBD secara baik, maka sekaligus sebagai antisipasi terhadap ZIKV juga.
Pada wilayah dan daerah yang belum terkena KLB penyakit, maka secepat mungkin untuk mulai melakukan mapping terkait tingkat kerentanan (vulnerability) yang dimaknai sebagai tingkat kemudahan terkena terhadap kemungkinan wabah penyakit. Pemanfaatan tool SIDIK (Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan) yang diinisiasi oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bisa menjadi satu alternatif karena SIDIK sudah berhasil memadukan banyak variabel dan indikator untuk menilai tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap suatu kondisi. Kerentanan akan semakin tinggi manakala tingkat sensitivitas dan tingkat keterpaparan tinggi dengan tingkat kemampuan adaptasi yang rendah.
Dengan mengetahui titik kritis yang menyebabkan kerentanan maka akan tergambar upaya apa yang harus ditingkatkan atau justru harus diturunkan dengan tujuan akhirnya tingkat kerentanan akan berkurang. SIDIK juga akan merekomendasikan prioritisasi dalam upaya adaptasi perubahan iklim.
Tingkat kemampuan adaptasi masyarakat terhadap dampak PI memang harus dibangkitkan. Dalam hal ini upaya membangun kapasitas anggota masyarakat terkait pengetahuan, pemahaman serta ketrampilan tentang suatu hal sangat dibutuhkan. Dalam hal ini wabah dengue dan zika maka komunikasi untuk perubahan perilaku dalam COMBI (Communication For Behavioral Impact) diperlukan untuk disosialisasikan secara terstruktur. Inti dari COMBI ini adalah mengubah masyarakat dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari masyarakat yang sudah tahu menjadi mau, dari masyarakat yang sudah mau menjadi mampu. Tentu saja ini terkait dengan kerentanan apa yang dihadapi. Dalam hal ini terkait pencegahan dan penanggulangan DBD maupun potensi dari ZIKV.
Diharapkan hal-hal itulah yang akan berkontribusi untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yang memiliki ketahanan yang tinggi terhadap semua dampak PI (climate resilience) sebagaimana tujuan bersama yang termaktub dalam Sustainable Development Goals (SDG’s) sebagai kelanjutan tujuan program pembangunan millennium (MDG’s) yang berakhir pada 2015 yang lalu.
( tri astuti sugiyatmi dari rasa prihatin banyaknya kasus)