Thursday, December 7, 2017

Resiliensi Kota Tarakan Menghadapi Ancaman Wabah DBD Meningkat ?




 Resiliensi Kota Tarakan Menghadapi Ancaman Wabah DBD  Meningkat ?

 Tri Astuti  Sugiyatmi
                                                                        

                Beberapa hari lalu Koran ini menurunkan laporan tentang menurunnya kasus Demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tarakan. Sejak tahun 2010 s.d 2016 angka itu memang cenderung terus meningkat.  Berturut-turut 275, 260, 364, 368, 443, 474, 545  kasus dalam setiap tahunnya. Hanya di 2011 saja yang menurun tipis dibanding tahun sebelumnya. Khusus di 2017 sampai akhir November ini angkanya ada pada 122, yang berarti ada penurunanan jumlah kasus jika dibandingkan waktu yang sama pada tahun 2016. Jumlah kasus tercatat tahun ini sampai Nov hanya kurang dari 30%  dari kasus tahun sebelumnya atau artinya ada 70% penurunan kasus.
                Jika membaca data tersebut maka penyakit  yang disebabkan virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes sp sampai sekarang masih  menjadi momok di Kota kita. Seperti pada banyak kota di seluruh Indonesia dan dunia. Khusus di Kota Tarakan baru pada tahun ini terjadi penurunan yang cukup signifikan walaupun masih ada 1 bulan lagi ke depan, namun diperkirakan bahwa angkanya tetap akan jauh di bawah angka kasus pada tahun 2016 lalu.
Prediksi KRAPI
Kota Tarakan sejak beberapa tahun yang lalu sudah mempunyai dokumen  KRAPI (Kajian Risiko dan Adaptasi Perubahan Iklim) yang menyatakan bahwa ada beberapa hal yang terkait dengan perubahan iklim dimana salah satunya adalah akan meningkatnya secara drastis kasus DBD pada tahun 2030 yang akan mencapai angka ribuan. Hal ini tentu saja berdasarkan pada prediksi dari penelitian yang dilaksanakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, Bappeda beserta dinas terkait.
Prediksi yang memberikan warning bagi kita mengingat bahwa Tarakan sebagai kota pulau yang  mempunyai karakteristik dimana dalam setahun panas dan hujan hampir selalu bergantian bisa  dalam setiap minggunya. Tidak seperti kota lain di daratan pulau Jawa misalnya yang mempunyai batas jelas antara musim penghujan dan musim kemarau dalam setiap tahunnya. Pada kondisi demikian maka kemunculan ancaman wabah DBD hanya muncul pada waktu tertentu atau bulan tertentu saja karena penyakit ini sering dikaitkan dengan musim penghujan. Mengingat nyamuk itu bertelur di air genangan yang cukup bersih maka kondisi hujan sepanjang tahun ini menjadikan peluang nyamuk untuk berkembang biak menjadi lebih besar daripada daerah yang waktu hujannya hanya sekitar 6 bulanan saja.
Untuk daerah seperti kota Tarakan maka tidak mengherankan jika kasus muncul sepanjang tahun, dari Januari s.d Desember.  Apalagi berdasarkan KRAPI tadi juga  bahwa suhu dan kelembaban di kota tercinta ini sangat cocok dan sesuai dengan vector penyebar DBD yaitu nyamuk aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.
Hal ini juga diperkuat dengan data masyarakat yang  sering menampung air hujan  sangat tinggi karena air perpipaan yang masih belum memadai. Bila kita melihat rumah-rumah di Kota Tarakan, maka hampir pasti ada cadangan air  yang ditaruh dalam drum, profil tank, ember dan penampungan dari semen yang permanen. Rata-rata cadangan air ini diletakkan di bawah talang-talang air yang akan mengalirkan air hujan ke dalamnya. Namun sayangnya  perilaku dan kebiasaan  masyarakat dalam menampung air adalah  enggan untuk menutup dan mengurasnya, dengan berbagai alasan. Salah satu yang paling sering adalah bahwa kalau ditutup maka saat hujan, maka tidak akan mendapatkan  air gratis yang secara langsung turun dari langit tersebut. Air hujan juga akan terbuang sia-sia tidak  termanfaatkan. Sedangkan keengganan masyarakat  untuk menguras penampungan air biasanya terjadi  karena mereka takut kehabisan air saat dibutuhkan. Akibatnya adalah sebuah konsekuensi logis jika  Tarakan menjadi sangat rawan DBD, angkanya cenderung naik terus dari tahun ke tahun dan menjadi endemis di semua kelurahannya.
Strategi Adaptasi

                    Sebenarnya saat –saat sebelum tahun  2017 ini berbagai upaya juga sudah dilakukan. Menu-menu wajib dari Kemenkes seperti penanganan kasus, pemeriksaan angka bebas jentik, pemberian larvasida secara selektif masal serta pelaksanaan fogging fokus (bila perlu) menjadi sesuatu yang rutin dilaksanakan dan pemberian komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).  Dari sisi pengamatan kasus dan tindak lanjutnya secara medis dan public health sudah dilakukan. Pengendalian vektor  juga sudah dilakukan. Satu hal mendasar seperti peran serta masyarakat dan lintas sektor memang awalnya sangat kurang optimal. Namun memang diakui bahwa bila sesuatu dikerjakan seperti biasanya   business as usual atau tanpa inovasi dan menyandarkan semua kegiatan hanya di ’pundak’ orang kesehatan dan dinas kesehatan menjadikan angkanya masih bertahan tinggi dan  naik secara tajam mendekati prediksi KRAPI.             
                    Maka dengan kondisi Tarakan yang secara ‘natural’  menjadi langganan penyakit ini setiap tahunnya memang dibutuhkan sebuah upaya yang lebih kuat dalam menghadapinya. Dengan diperkenalkannya dokumen KRAPI dan prediksinya maka menjadikan adanya dasar ilmiah bertindak dengan lebih baik.   
                    Banyak kegiatan tambahan yang diperkenalkan dengan dorongan dari hasil KRAPI tadi.  Istilah
strategi adaptasi sebagai upaya penyesuaian kegiatan dan teknologi dengan kondisi iklim yang disebabkan oleh fenomena perubahan iklim juga diperkenalkan.
Dengan dorongan dari lembaga donor yang concern dalam hal perubahan iklim maka strategi adaptasi untuk menghadapi ancaman DBD  juga mengalami perkembangan yang luar biasa. Upaya dan kegiatan inovasi  terobosan untuk mencoba menaikkan angka bebas jentik  (ABJ) sebagai indikator antara dikerjakan dengan tujuan  pada akhirnya diharapkan dapat  menurunkan kasus dan angka kematian yang ada.
                    Kelahiran TAD (Topi Anti DBD) pada tahun 2013- sebagai istilah penutup air berpori yang digunakan ibarat topi pada  bagian atas profil tank, drum, ember-  menjadi strategi adaptasi yang  disambut baik. Selain diharapkan akan  menjadi  teknologi tepat guna yang akan meningatkan ABJ maka TAD pada  akhirnya diakui dapat menjadi sumber pemasukan bagi para pembuatnya.
                    Ada program 1 rumah 1 Jumantik (1R1J)  dari Kementrian Kesehatan pada tahun 2016/ 2017 yang di Tarakan diadopsi menjadi program JK 1-1 (1 Jumantik untuk 1 Keluarga). Dengan banyaknya rumah sewa maka JK1-1 menjadi lebih dapat diterapkan, karena walaupun dalam 1 rumah dengan banyak keluarga maka penampungan airnya juga  biasanya akan terpisah.  Dalam perkembangannya maka K disini dapat diartikan sebagai kantor, kelas bahkan kandang.
                    Upaya ini dikawinkan dengan keterlibatan CSR (corporate social responsibility) dari beberapa perusahaan dan badan milik pemerintah  secara   nyata juga sudah berperan aktif dalam  pemberian bantuan TAD.
                    Upaya masif untuk menjadi wadah bagi kolaborasi semua stakeholder  yang digagas Dinkes dalam Gema Anti DBD (gerakan masyarakat Antisipasi DBD) juga menjadi pengikat semua kegiatan.   Termasuk dalam  kegiatan Gema Anti DBD  adalah pemeriksaan penampungan air oleh mahasiswa kesehatan dari Universitas negeri  dan  sebuah akademi keperawatan swasta serta pembagian larvasida untuk penampungan air yang membutuhkan. Tentu saja peranan para kader kesehatan dan masyarakat pada umumnya juga sangat besar  dalam keberhasilan ini.

Kolaborasi Antar Sektor adalah Kunci
                     Penyakit  yang disebarkan oleh  vector sifatnya sangat dinamis. Angka Bebas Jentik bisa berubah dengan sangat cepat. Dari tinggi  menjadi rendah maupun sebaliknya. Upaya 3M di dalam dan di luar rumah dalam sekejap akan menaikkan ABJ. Sebaliknya jika dalam  1 minggu tidak ada gerakan apapun untuk mempertahankan  rumah atau kantor tanpa jentik maka dengan cepat  juga akan menurun angkanya. ABJ sendiri  sebagai indikator antara dihitung dengan membandingkan rumah yang diperiksa  yang tidak didapatkan jentik  dengan semua rumah yang diperiksa.  ABJ dinyatakan dalam prosentase. Semakin tinggi angkanya maka akan semakin bagus situasinya dan sebaliknya.       
                    Maka belajar dari SIDIK (Sistem Informasi Data Indeks kerentanan  Peubahan Iklim ) yang disusun oleh KLHK maka akan dapat dipelajari bahwa untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih sustain untuk situasi di atas maka perlunya membangan City resilient strategy (strategi ketahanan kota) yang tentu saja harus diturunkan dalam sebuah rencana aksi nyata.
                     Sedangkan resiliensi sendiri menurut ensiklopedia merupakan  kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Resiliensi dibangun dari berbagai macam hal positif. Maka ketahanan adalah lawan dari kerentanan.  Kerentanan (vulnerability) merupakan  fungsi dari keterpaparan (exposure), sensitivitas (S) dan kapasitas adaptif. Kota Tarakan  dengan tingkat keterpaparan dan sensitivitas tinggi terhadap DBD maka pilihannya adalah pada tingkat kapasitas adaptasi mana yang akan diambil oleh  pemerintah beserta seluruh masyarakatnya.  Maka  sudah sangat jelas bilaTarakan hanya ada 3 pilihan  yaitu pada   kapasitas adaptifnya saja yaitu rendah, sedang-sedang saja atau tinggi.
                    Bila tingkat kapasitas adaptasi rendah, Tarakan menjadi sangat rentan terhadap DBD. Bila sedang-sedang saja maka Tarakan menjadi agak rentan dan bila kapasitas adaptasinya tinggi maka akan menjadi kurang rentan. Semua pilihan akan terpulang kepada kita.  Bila ada penurunan kasus kemungkinann besar karena ketahanan kota mengalami peningkatan.   
Untuk kedepannya menurut hemat penulis maka penyusunan Perwali ataupun bahkan Perda terkait pencegahan dan  pengendalian DBD  bisa menjadi salah satu alternatif dalam upaya membangun ketahanan kota.     
 Bila tema Intersectoral collaborations for the prevention and control vector-borne diseases sekarang  baru  dalam tahap  pengembangan dan pengkajian oleh University of the Philippine Manila untuk menjadi rekomendasi   bagi pencegahan dan pengendalian penyakit  berbasis vector untuk seluruh dunia nantinya, maka pada saat ini Tarakan sementara sudah berhasil  berkontribusi  dan membuktikan bahwa penanganan penyakit  ini  memang membutuhkan  kolaborasi antar profesi,  antar bidang dan antar sektor.
Untuk itu, jangan lengah !





Monday, November 27, 2017

Ori atau KW



Untuk kesekian kalinya komunikasi terganggu. Ya alat pengisi daya (charger)nya tidak ada.  Akhirnya hp tanpa daya. alias mati. huh…kesel sekali !
Beberapa waktu yang lalu Hp ku mati gara-gara kabel chargernya lama-lama rusak. retas alias terbuka kulit kabelnya. sudah diisolasi, tapi rupanya tidak terlalu banyak menolong akhirnya harus ganti. Belilah di toko asesoris HP.  waktu itu sudah sore menjelang malam jadi mau ke service center sesuai merek HP, sudah tidak bisa. Karena ada kebutuhan mendesak maka pergilah ke Mall yang ada banyak tokok asesoris Hp. Saat bertanya mereka bilang ada. Satu dua ada yang bilang ini     ori kok. Original maksudnya. Tapi di satu  toko mereka  terus terang bilang tidak ada yang ori kecuali di service center nya. Tapi di toko lain meeka bilang ini KW mulai KW I , II dst.   Setelah bertanya di beberapa tempat akhirnya menjatuhkan pilihan disebuah toko.   Ada banyak merek sesuai  dengan kualifikasi yang aku inginkan. fast charging dan bisa masuk atau cocok.  Ada yang berbungkus kardus cantik sekali dengan bagian depannya  terbuat dari plastic tebal yang transparan jadi produknya dari luar  sudah kelihatan mirip sekali aslinya.  Ada yang hanya berbungkus plastic tebal yang di hampir seluruh permukaannya kecuali di belakang yang  memuat mereknya.  Aku menimbang-nimbang mana yang kira-kira lebih berkualitas. Dua-duanya bisa dicoba setelah positif membeli. tidak bisa dicoba kalau belum pasti. Akhirnya aku pilih yang bungkusnya meyakinkan, yang berbalut kardus yang kelihatan secara kasat mata lebih  ‘bagus,  berkelas dan yang intinya lebih baik –lah.
Akhirnya jadilah kubeli charger itu (kepala sekaligus kabelnya).  Sebenarnya dalam beberapa waktu masih bisa memberi hasil yang baik ( cepat dalam waktu mengecharge nya) namun lama2 kalau dipakai akan terasa panas. Baru dipakai mengechrge sebentar sudah terasa sangat panas dan akhirnya rusak juga. Akhirnya dibelikan misua charger yang katanya asli. saat aku tanya beli dimana? di toko biasa…..aku langsung berpikiran  tidak ada yang asli….(aku percaya info satu toko yang bilang  bahwa yang asli hanya di service center).
Belum lama dipakai malah  Hp nya yang rusak portnya. Bukan rusaksih tapi kalau ngecharge lama banget. Katanya karena terlalu sering discharge. pasang copot;pasang copot. Akhirnya dapat lungsuran Hp dari misua. Chargernya masih bagus. masih bawaan dari Hp nya. Bisa juga untuk Hp lama. Lha kok ndilalah, dalam sebuah acara, chargernya ketlisut.  Dicari dan dilacak nggak ketemu juga. waduuh panic lah.  Apalagi di rumah sudah tidak ada charger yang bisa dipakai bersama. akhirnya beberapa kali pinjam teman yang Hp nya sama. Sampai bebberapa hari kemudian dimana harus ada urusan yang menyebabkan tidak bisa bertemu dengan teman2 yang punya Hp yang sama. akibatnya Hp jadi mati daya dan aku-pun mati gaya.  Seharian tidak bisa aku pakai. Aku berjanji hari itu harus beli charger sebagai salah satu yang ‘tugas’ yang mesti terlaksanakan.
Aku browsing service center. Nemu yang mudah dijangkau. Saat aku ke sana tanya2 dulu harga. Oke. akhirnya dicobakan oleh petugas. aku tinggal dulu sambil mencari kebutuhan yang lain di tempat lain. percuma aku buka sekarang Hp nya pasti akan langsung drop mengingat sudah seharian aku tidak buka Hp. Akan sangat banyak pesan, foto dan video yang masuk  dan tentu saja akan langsung menyita batere dari batere tersebut. Sambil menunggu aku mencari service laptop yang di sekeliling service center…
Selesai urusan laptop dan aku perkirakan sudah mulai banyak prosentasenya maka aku balik ke service center. Aku ambil Hp nya. ini chargernya mau dimasukkin tempatnya kah Bu ? petugasnya bertanya ? aku mengiyakan. Dia memasukkan ke plastic tipis bening yang ada tempelan kertas labelnya.  Aku tanya lho mas, apa sih bedanya ori sama KW karena Kita susah membedakan…
Dengan yakin dibilang bungkusnya. Hah bungkusnya ? yang bener nih?  aku langsung ingat saat aku beli charger sebelumnya yang bungkusnya sangat meyakinkan. sementara ini ? hanya plastic HDPE, tipis dan transparan. Seperti bungkus gula pasir di pasar….he..he. mungkin beda jenis juga sih kalo untuk food grade. Tapi yang jelas mirip –lah sama bungkus gula kalo kita beli kiloan di warung2.
“Justru bu kalau barang ORI ya memang bungkusnya hanya begini bu. Ini kan dari pabrik, jadi mereka mengirimnya ke kita dalam kardus dalam jumlah banyak dan ya hanya terbungkus begini saja.”  Kok bisa ya Mas? saya bertanya keheranan sekaligus  kepo. Dia bilang “ya begitulah bu, kalo tidak Ori kan mereka berlomba-lomba memikat pembeli dengan bungkus yang bagus bahkan mewah. Kalo yang Ori tidak perlu Bu, apa adanya dari pabrik…………”
Mungkin karena petugasnya menerangkan dengan meyakinkan, maka bagiku saat itu juga masuk akal banget. Dan terngiang-ngiang sampai pulang. ….
Betapa memang Ori atau KW adalah  sebuah pilihan. Kadang kita memilih sesuatu seringkali hanya sekedar gebyar yang sangat  superficial dari luar. Tapi seringkali hal itu ternyata itu  justru tidak menampilkan yang sesungguhnya. Dari luar cantik dan memikat ternyata yang sesungguhnya kadang rapuh, fragil, mudah rusak, tidak tahan lama dan hal-hal yang akan kelihatan jelek sebagai  aslinya seiring dengan berlalunya waktu.   Sebaliknya apa-apa yang menyentuh hakikat kadang justru kelihatan sederhana, biasa-biasa saja dan kadang  tidak terlalu meyakinkan bagi orang yang hanya melihat sisi permukaaannya saja. Namun sejatinya dibaliknya ada  sesuatu  yang  luar biasa.
Tidak ada masalah dengan barang kualitas nomor sekian sebenarnya bila itu fungsional sifatnya. Tentu saja KW nya tidak merugikan yang oRi alias bukan bajakan.   Eh adakah yang KW tapi bukan bajakan ? Mestinya ada barang dengan kualitas bukan nomor satu, yang berani memakai brand sendiri, biasanya juga fungsional seperti mereknya yang nomor wahid. Pada intinya untuk khusus barang tidak harus mendapatkan yang terbaik. sesuaikan saja dengan kantong. Jadi tidak ngoyo harus merek A atau B.  Karena bila tuntutannya adalah barang bermerk yang ORI pasti sangatlah muahal. Jadi ingat tas-tas mewah merk tertentu si Artis atau si pengacara  yang harganya sangat wow. Sementara kata orang  bijak juga bahwa jam tangan yang harga murah dengan yang supermahal juga menunjukkan waktu yang sama.  Pesawat yang first class ataupun ekonomi juga kalau  jatuh juga sama2 ke bawah dst…dst, maka pilihan yang terbaik bagi orang orang hebat itu belum tentu yang terbaik bagiku tas dengan merk ‘mahal’ yang ORI memang  aku yakini siapapun akan senang memilikinya.  Namun untuk membeli dengan  harga jutaan, ratusan juta atau milyaran rupiah memang tidak semua mampu dan atau mau. Maka  dalam hal per-tas-an  ku merasa dengan tas ransel pemberian panitia saat acara pertemuan atau pelatihan sudah sangat memadai untuk membawa bawaan sehari-hari : laptop dan chargernya, hp dan chargernya, dompet serta beberapa keperluan pribadi. Aku sangat senang dengan tas  ransel yang terbuat dari kain  coklat sampai saat harus pensiun karena sudah beberapa kali robek di bagian reslettingnya.  Sampai-sampai beberapa teman kasak kusuk di belakang, kenapa sukanya tas murahan tersebut… Aku tidak terlalu mengambil hati bisik-bisik yang akhirnya terdengar juga ke telingaku. Itu bisa jadi juga terpulang  pada sifatku  yang agak ceroboh yang kurang bisa memelihara barang-barang  bagus itu. Sehingga dari pandanganku itu akhirnya muncul juga bahwa aku merasa tidak membutuhkannya. Walaupun kalau ada yang kasih nggak nolak juga ( memang ada yang mau kasih…he..he)
Artinya untuk barang  tertentu maka prinsip yang fungsional bagiku lebih penting daripada sekedar Isu-isu mahal- murah ataupun ori - kw. Ya bila dengan harga yang lebih murah bisa mendapatkan yang sudah baik fungsinya, maka menurutku tidak harus beli yang paling mahal.  Bagiku, Ini berlaku bagi barang yang untuk memakainya tidak perlu tenaga batere ataupun listrik. Tas, sepatu, kerudung, baju, dan lain-lain. Bila ada yang bagus –biasanya harganya pasti mahal- Alhamdulillah. Bila tidak ada ya tetap alhamdulillah… Dengan pertimbangan barang yang fungsional memang jadinya harganya lebih miring dan menurutku masih banyak keperluan dan kebutuhan lain dengan “sisa”  uang tadi. Memang  agak beda dengan  elektronik yang sebisa mungkin yang ORI bawaan produk karena ORI atau KW kadang sangat mempengaruhi fungsinya. Artinya yang ORI alias bawaan produk harus disayang-sayang dan diawet2 yang ada. sebisa mungkin jangan rusak atau hilang. Karena ORI nya cukup mahal - walaupun di sisi lain ternyata tampilan luarnya  biasa saja.   
Jika hidup katanya pilihan. Pilih pilihan yang terbaik dari semua sisi. Untuk barang  bisa memilih dari sisi fungsinya, harganya, merek, gengsi dll.  Namun semua terpulang kembali kepada kita masing-masing, Wallahu alam (tri astuti sugiyatmi, akhir Nov 2017)

Friday, November 10, 2017

Rokok Elektrik, Ancaman Baru Terhadap Kawasan Tanpa Rokok (KTR)


Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi*

Video sejumlah anak laki-laki berseragam merah putih lengkap dengan dasinya yang sedang menghisap vape menjadi viral di media. Video berdurasi 1,5 menit itu bahkan bisa menangkap badge yang menunjukkan asal sekolahnya yaitu sebuah SD di sebuah Kabupaten di Jawa Timur. Dengan berbagai tingkah bak perokok “asli” mereka bergaya dengan memain-mainkan sejenis kabut putih yang dikeluarkan baik lewat hidung maupun mulutnya di depan kamera perekam. Ada sebuah kebanggaan di wajah mereka saat mereka berhasil menyedot alat berisi cairan tertentu dan mengeluarkannya menjadi serupa asap rokok ke sekitarnya.
Vape atau vapor sebutan lain bagi rokok elektrik (e-cigarette) memang sedang naik daun. Banyak kalangan merasa bahwa memakai vape sebagai pengganti rokok biasa adalah lebih aman, lebih ‘sehat’ serta memiliki gengsi tersendiri. Memang Vape dianggap sebagai inovasi dari rokok konvensional. Rokok elektrik ini tidak membakar tembakau seperti rokok konvensional tetapi rokok ini membakar cairan yang ada di dalamnya dengan menggunakan tenaga dari baterai. Sehingga alat ini dapat untuk mengantarkan nicotine- sebagaimana pada rokok konvensional- secara elektronik sehingga sering disebut sebagai ENDS (Elecronic Nicotine Delivery Systems). Uapnya dapat masuk ke paru-paru pemakai dan akhirnya akan dikeluarkan lewat hidung ataupun mulut.
Sejak kemunculannya pertama pada tahun 2003 di Cina, sampai sekarang rokok elektrik sudah mengalami beberapa perkembangan. Proses penge-charge –an baterainya, pengisian ulang cartridge nya dengan berbagai rasa serta penambahan cairan ke dalam alatnya menjadikan rokok elektrik menjadi salah satu produk yang paling cepat perubahannya. Kemunculan toko yang khusus menjual alat ini seperti vape shop atau vape lounge di berbagai kota menjadikan produk ini menjadi terkesan ekslusif. Beberapa toko on line juga mengkhususkan diri menjadi penyedia barang yang sebenarnya masih sangat kontroversi ini.
Lebih Sehat ?
Bagi sebagian orang kemunculan rokok elektrik sampai dianggap sebagai hal yang biasa saja. Hanya sebatas trend gaya hidup saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Apalagi ada label “HEALTH” di dalam kemasannya. Namun bagi sebagian yang lain kemunculan rokok ini tetap saja mengkhawatirkan karena berbagai alasan.
Bagi mereka yang pro, label “health” itu muncul dan menjadi daya tarik tersendiri untuk mencobanya. Apalagi ada iming-iming juga bisa sebagai lat untuk berhenti merokok. Namun bagi yang kontra rokok elektrik menganggap bahwa label “health” itu justru akan mengecoh karena ternyata tidaklah aman dan sehat seperti gembar-gembornya dalam berbagai promosinya.
Memang uap air rokok elektrik memiliki partikel yang jauh lebih kecil daripada asap dan dianggap tidak mengandung CO (karbon monoksida). Namun rokok elektrik tetap mengandung bahan karsinogen dan radikal oksidatif seperti pada rokok konvensional lainnya. Uap yang dhasilkan juga tetap menjadi hazards (bahaya) bagi berbagai keluhan saluran napas mulai dari iritasi yaitu tenggorokan yang terasa perih hingga adanya potensi kanker paru dalam jangka panjang.
Badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) pada September 2008 telah menyatakan untuk tidak mendukung rokok elektronik dikonsumsi sebagai alat untuk berhenti merokok. Dapat dimaklumi karena cara berhenti merokok pun sangat memungkinkan walaupun tanpa bantuan alat ini. Seperti kita ketahui bahwa keberhasilan untuk berhenti merokok adalah adanya tekad dan semangat yang kuat untuk melepaskan diri dari racun tembakau.
Pada tahun 2009 penelitian FDA (Food Drug Administration) atau badan pengawas obat dan makanan Amerika justru menemukan bahwa rokok elektrik mengandung tobacco specific nitrosamines (TSA) yang bersifat toksik dan diethylene glycol (DEG) yang dikenal sebagai karsinogen (penyebab kanker). Sehingga dengan dasar ini wajar sekali jika rokok elektrik tidak bisa dikatakan aman. Bahkan di banyak negara seperti Australia, Kanada dan Finlandia menyikapi rokok elektrik ini sebagai barang yang illegal. Sementara di beberapa negara lain peredarannya juga harus dibatasi dan tetap dalam pengawasan yang cukup ketat.
Untuk kandungan nikotinnya dalam rokok elektrik memang lebih rendah daripada rokok konvensional lainnya. Namun demikian diyakini bahwa tidak ada istilah aman bagi sebuah zat yang sudah terbukti dapat menyebabkan ketergantungan itu, sebagaimana bahan karsinogenik diatas.
Pada Mei 2010, WHO juga kembali membahas mengenai peraturan terkait keselamatan ENDS dan menyatakan bahwa produk itu masih belum melalui pengujian yang cukup untuk menentukan apakah aman dikonsumsi ataukah sebaliknya.
Khusus di negara kita maka pada tahun 2010 itu berdasarkan pertimbangan WHO itulah maka BPOM juga tidak merekomendasikan ijin edar dari alternative rokok tersebut disamping juga menghimbau masyarakat untuk tidak mengkonsumsinya.
Sementara itu perkembangan terbaru terkait vapor ini pada akhir-akhir ini bahwa kementrian perdagangan sudah berkoordinasi dengan Kementrian kesehatan akan menerbitkan aturan terkait dengan pembatasan peredaran produk ini.
Gateway Drugs
Satu hal yang cukup menarik bahwa FDA pada tahun 2014 menyatakan bahwa rokok elektrik bisa jadi menjadi produk perantara bagi para remaja untuk mencoba produk temabakau lainnya termasuk rokok konvensional yang diketahui menyebabkan penyakit dan risiko kematian dini akibat berbagai penyakit kronik yang ditimbulkannya.
Peralihan dari rokok elektrik ke rokok konvensional bisa jadi akan menjadi keniscayaan. Ujungnya ini semua akan menjadi pintu masuk bagi obat-obatan (gateway drugs). Apalagi generasi terbaru dari rokok elektrik memang memungkinkan cairannya diisi dengan zat lain. Artinya pemakai rokok elektrik pada awalnya kemudian akanberpotensi beralih ke rokok konvensional dan akhirnya berpotensi juga menjadi pengguna obat terlarang. Walaupun bisa jadi ada variasi lain dari rokok elektrik langsung ke obat terlarang.
Di beberapa Negara di Eropa ditengarai bahwa cairan vape dapat diisi dengan narkoba juga. Bukan hanya kokain tetapi juga jens obat berbahaya lainnya. Hal ini juga dikuatkan dengan artikel yang dimuat dalam sebuah jurnal di Inggris yaitu New England Journal of Medicine pada tahun 2014.
Ancaman Baru KTR
Mengingat berbagai kerugian yang ada di dalamnnya maka sudah sepantasnya kita juga memperlakukan rokok elektrik seperti perlakukan pada rokok konvensional. Maka saat ada pembatasan ruang untuk merokok (baca: konvensional) dalam sebuah kawasan KTR (Kawasan Tanpa Rokok) maka sudah sepatutnya juga bahwa rokok elektrik juga terkena pembatasan itu.
Walaupun tanpa tembakau tapi rokok elektrik juga mempunyai efek buruk yang serupa dengan rokok tembakau. Memang ini pasti akan menjadi sebuah perdebatan. Tapi membiarkan orang dewasa dengan bebasnya menyedot rokok elektrik dan melepaskan uap-uapnya di kawasan pendidikan, kesehatan, tempat bermain anak-anak, kawasan ibadah sebagai kawasan tanpa rokok adalah sangatlah tidak elok. Apalagi bila hal itu dilakukan oleh tokoh-tokoh atau orang yang ditokohkan maka akibatnya bisa ditebak. Anak-anak akan dengan mudah meniru role model yang ada. Dan video viral seperti diatas akan lebih sering beredar dan tunggu saja efek bom waktu di belakang hari. Maka, Pilih mana ? (Radar Tarakan, 8/11/2017)

Friday, September 29, 2017

Imunisasi vs Kejadian Luar Biasa/Wabah


Tri Astuti Sugiyatmi*

Berita tentang program masal pemberian vaksin MR (Measles dan Rubella) sebagai vaksin baru di umur 9 bulan s.d 15 tahun 2017 di  pulau Jawa masih menghiasi media  baik online maupun media cetak. Namun sayangnya, yang menonjol hanyalah tentang kejadian yang terjadi pasca imunisasinya bahkan yang kebetulan munculnya bersamaan (koinsiden) sekalipun. Kemunculan iklan layanan masyarakat di TV yang menampilkan tokoh masyarakat serta korban congenital rubella syndrome/CRS (penyakit jantung, ketulian, kebutaan pada bayi) belumlah cukup untuk meng-counter isu-isu negative tentang program imunisasi ini.  Sehingga yang terjadi adalah ketakutan masyarakat yang tidak perlu yang sudah mulai merebak bahkan sampai di luar Pulau Jawa yang baru akan mendapat program ini di fase II yaitu  pada tahun 2018.  Masalah semakin parah karena banyak komentar-komentar negative dari para netizen khususnya di medsos yang tidak berdasar ataupun mendasarkan pada informasi yang hoax.
Jika informasi yang demikian akan menjadi pegangan dari para orangtua maka pada gilirannya mereka akan menolak program yang sebenarnya  punya tujuan yang sangat mulia itu. Pencapaian program akan rendah dan  tidak merata. Pada gilirannya gampang sekali penyakit itu akan masuk melalui orang-orang yang tidak diimunisasi. Sehingga tujuan program imunisasi yaitu melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit  akan menjadi taruhannya.  Pada gilirannya kejadian luar biasa  (KLB)/wabah pun akan menjadi ancaman berikutnya. Wabah itu sendiri merupakan kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata yang melebihi keadaan lazim pada waktu dan daerah tertentu. Sementara untuk KLB merupakan peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologi yang dapat menjurus ke arah wabah. Jadi adanya peningkatan kasus yang menjurus ke KLB menjadi sebuah early warning akan hadirnya bencana yang lebih besar yaitu wabah, tentu saja  jika tidak ada response yang memadai.
Ada 17 penyakit menurut Peraturan Menkes No 1501/tahun 2010 yang dapat menyebabkan wabah. Sebagian ada yang dapat dicegah dengan imunisasi program yaitu imunisasi yang jenis vaksinnya, jadwal atau waktu pemberian yang ditentukan oleh pemerintah  dan layanannya tidak berbayar. Yang masuk dalam kategori itu misalnya seperti vaksin untuk mencegah campak, difteri, polio, meningitis, hepatitis. Kabar buruknya adalah bahwa ada yang bisa dicegah namun belum masuk dalam  imunisasi program seperti DBD jadi harus berbayar dan biasanya hanya dapat diakses di layanan private. Sebagian lagi memang tidak/belum ada vaksinnya.  Diluar itu  maka ada Merscov, ebola, zika, flu-flu-an sebagai  penyakit infeksi emerging atau new emerging sebagai ancaman wabah atau pandemi antar negara atau benua. Apalagi belum ditemukan vaksinnya sebagai pencegahan yang spesifik.



Imunisasi : Upaya Pencegahan
Sejarah dunia mencatat bahwa  penyakit cacar (smallpox) variola musnah dari muka bumi sejak 25 April 1974 berkat imunisasi.  Anak kelahiran setelah tahun tersebut maka tidak ada bekas “cacar” di lengan kirinya. Penyakit variola yang sangat mengerikan itu  sampai sekarang sudah tidak pernah  ada lagi. Penyakit cacar itu sudah tereradikasi.  Maka tidaklah berlebihan kiranya bila imunisasi ditasbihkan sebagai  menjadi program pencegahan yang paling cost effective (baca: murah)
Namun berbicara program imunisasi saat ini maka banyak sekali  tantangannya. Dengan era teknologi informasi seperti sekarang ini dimana semua orang bisa beropini bahkan menjadi “wartawan“ dengan citizen journalism maka validitas data, bukti, kajian dari para ahli seringkali  tertutupi ataupun kalah dengan dahsyatnya isu  negative yang sedang viral di media on line. Memang pada dasarnya kembali ke karakter  berita bahwa  bad news is good news adalah sebuah keniscayaan. Sementara sesuatu yang memang baik-baik saja seperti tetap sehat setelah program imunisasi, tidak ada kejadian luar biasa ataupun wabah adalah sesuatu yang dianggap biasa saja/normal dan dirasa tidak perlu disampaikan ke masyarakat.
Program imunisasi dikabarkan oleh yang anti vaksin sebagai konspirasi dari dunia barat untuk memperlemah generasi, padahal dari kalangan pro vaksin justru menganggap sebaliknya. Bahwa antivaks digembar-gemborkan adalah supaya umat menjadi lemah dan sakit-sakitan. Jadi  ada dua sisi angle yang berbeda dalam memandang  satu kasus yang sama. Buktinya Negara yang dituduh berkonspirasi juga melakukan program imunisasi seperti di US, Negara Eropa dan wilayah Israel. Sementara negara Islam lainnya juga melaksanakan program ini seperti Arab Saudi, Mesir. Palestina dan Malaysia. Sementara kabarnya malah vaksin ke Negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI justru dipasok oleh BUMN Negara kita, PT Biofarma. 
Masyarakat disuguhi ‘perang opini’ yang sangat luar biasa antara pihak yang  pro vaksin vs antivaks yang makin  meruncing.  Beberapa argumen dari kelompok masyarakat yang anti vaksin  menyatakan bahwa tidak adanya jaminan 100% bahwa imunisasi dapat mencegah penyakit menjadi salah satu alasan kuat penolakannya. Untuk masyarakat yang berpandangan seperti itu perlu disadarkan bahwa yang dikelola oleh sebuah program adalah penurunan  faktor risiko. Untuk hasil akhir katakan takdir –bagi umat muslim- mereka terkena atau tidak dari sebuah penyakit sudah bukan domain dari program lagi.
Ada juga yang  beranggapan sudah cukup dengan ASI, jaga kebersihan, makanan yang bergizi, lingkungan yang baik, namun tidak perlu imunisasi. Untuk kasus penyakit yang belum ada vaksinnya, memang hanya itu yang bisa dilakukan disamping memang perlu berobat setelah terkena. Kasus seorang putra dari selebriti  antivaks bisa menjadi contoh.  Baiknya gizi dalam makanan serta lingkungan ternyata  tidak juga bisa mencegah dari serangan penyakit campak yang cukup parah. 
Memang masalah konten juga seringkali menimbulkan pro kontra. Bahan  tambahan vaksin sendiri yang dituduh menyebabkan autis. Bantahan para ahli terhadap bahan tambahan yang diduga penyebab autis sudah banyak dirilis. Muncul masalah lain lagi bahwa vaksin sebagai produk biologi yang berisi mikroorgaanisme yang sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan  maka biasanya digeneralisir bahwa  pengolahan  semua vaksin   bersinggungan dengan enzim tripsin babi (porcine). Padahal untuk vaksin rutin hanya polio-lah yang seperti itu, Namun untuk halal haram sebetulnya juga sudah ada  fatwa dari lembaga berwenang  (fatwa Majelis Ulama Indonesia no 4/2016). Untuk masalah yang mendekati wilayah agama maka penulis kembalikan pada ahlinya.
Tantangan lain yang sering mengganggu program ini adalah adanya di blow up nya efek simpang dari imunisasi atau adverse event following immunization (AEFI) atau sering disebut sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).  Kasus kelumpuhan ataupun kematian yang belakangan dikait-kaitkan dengan vaksin/imunisasi menjadi momentum bagi kelompok antivaks untuk menyerang program ini.
Sebagai bahan yang dimasukkan di dalam tubuh manusia pastilah ada efek simpangnya. Jangankan vaksin, obat  yang biasa dipakai sekalipun juga bisa menimbulkan alergi.  Maka reaksi simpang yang terkontrol dan dipersiapkan segala kemungkinannya adalah sebuah risiko logis dari hadirnya sebuah program. Logikanya saat program belum ada, kasus cukup tinggi. Untuk mengatasi kasus tersebut lahirlah vaksin melalui program imunisasi. Saat cakupan imunisasi meningkat maka penyakit akan menurun  (eliminasi) bahkan bisa sampai hilang sama sekali (eradikasi), namun konsekuensinya KIPI akan muncul. Yang menjadi masalah bila penolakan masyarakat sangat besar pada program maka ancaman KLB sudah ada di depan mata.
Namun dengan kemajuan ilmu dan teknologi maka hal-hal yang seperti itu akan semakin dieliminir  khusus dari vaksinnya. Memang yang tidak bisa diubah adalah reaksi individual yang memang sifatnya sangat custom.
Belajar dari KLB campak di Tarakan-Kalimantan Utara pada 2012 dan 2016 yang menyebabkan masuknya pasien ke RS atau KLB difteri di beberapa daerah Jatim  pada tahun 2011 dan 2012 yang menimbulkan banyak kematian serta KLB polio 2005 di Sukabumi yang menelan korban sampai 350-an balita menjadi lumpuh layuh yang permanen. Pada wilayah tersebut, biasanya cakupan imunisasinya rendah. Hal inilah yang menyebabkan  imunitas komunitas (herd immunity) tidak terbentuk.  Hal ini dapat digambarkan ketahanan sebuah masyarakat terhadap sebuah penyakit akan hadir pada saat sebagian besar penduduknya tahu, paham dan mau mencegah penyakit tersebut dengan imunisasi. BIla masyarakat yang rentan lebih banyak jumlahnya maka ketahanan masyarakatnya akan rendah.   Faktor risiko serta probabilitas  terjangkitnya KLB bahkan wabah akan mudah terjadi .
Sebaliknya pada cakupan imunisasi yang tinggi maka  saat ada kuman atau virus yang masuk maka probabilitas kuman akan bertemu dengan anak yang kebal maka yang tidak imunisasi-pun bila jumlahnya kecil (kurang dari <5 akan="" ikut="" maka="" nbsp="" o:p="" terlindungi.="">
Pada saat KLB/Wabah terjadi maka  akan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, kepanikan pada banyak orang tua, tingginya pengeluaran biaya baik untuk berobat maupun untuk penanggulangan di lapangan. Yang jelas kegiatan imunisasi untuk merespon sebuah wabah atau Outbreak Response Immunization=ORI   akan sangat menyita sumber daya yang ada, baik tenaga dan biaya.

Maka sekarang tinggal menimbang. Imunisasi adalah hak anak namun keputusan ada di tangan orang tua sekalian.   Silahkan !

Thursday, September 21, 2017

Bicara Mutu dari Sebuah Masjid

Dalam sebuah acara di masjid al Akbar Surabaya  aku melihat foto ini. Betapa dalam pengelolaan sebuah masjid pun  membutuhkan  system manajemen mutu (SMM) dalam hal ini ISO 2015. Wow sungguh luar biasa, karena setahuku biasanya hanya lembaga tertentu saja yang menerapkannya seperti dinas-dinas yan mengurusi  dan membawahi kantor urusan public atau pabrikan-pabrikan yang punya kepentingan mau ekspor produk ke beberapa Negara industry maju.
Masjid  sebagai tempat ibadah memakai  SMM  adalah sesuatu yang sungguh baru buatku. Dulu di tempat yang sama sebenarnya aku sudah pernah memfotonya, tapi foto itu entah kemana. Dan sekarang aku melihatnya kembali, tentu saja ini menjadi  sesuatu yang sangat kunanti.
Aku sebenarnya juga tidak terlalu paham apa yang dilaksanakan dalam SMM  di masjid ini dan yang diatih. Tapi melihat  tempat kerjaku  di puskesmas dan dinas kesehatan selama bertahun –tahun juga menerapkan system ini maka akau hanya menebak-nebak  apa, bagaimana  SMM dilakukan di lembaga keagamaan ini
Sebenarnya yang aku  sering jumpai masjid atau mushola banyak yang dari tanah wakaf. Sehingga pengelolaan masjid memang biasanya dari  keluarga yang mewakafkan. Sesuatu yang sangat lumrah.   Rasanya memeng kalau hal demikian maka pengelola masjid  hapir tidak mungkin menerapkan system manajemen mutu yang  biasanya   cukup rumit, detail dan  memakan energy yang cukup besar.
SMM akan mengatur secara detail bagaiamana manajemen mulai dari inputnya serta prosesnya serta hal-hal yang terkait dengan semuanya itu bahkan terkait dengan outputnya.
Aku membayangkan bahwa mungkin  (karena aku  hanya menebak-nebak) masjid2  ini  dituntut untuk memberikan pelayanan keagamaan yang  sesuai fungsinya  dengan sangat baik. Kalau masalah visi, misi dan tujuan masjid aku rasa semuanya mirip. Memang sih ada masjid yang sudah lebih banyak variasi pelayanannya. Untuk yang kecil bisa jadi bagaimana mempersiapkan  tempat ibadah yang nyaman dan  bersih.   Bagaimana manajemen  air supaya  tetap bisa mengalir lancer, bagaimana supaya baju untuk ibadah  tetap bersih dan wangi. Bagaimana tata suara (sound system) di dalam masjid agar terdengar ke seluruh sudutnya dengan jelas dll.  Pendek kata  bagaimana ibadah bisa berjalan dengan sebaik mungkin.  Karena di beberapa yang pengelolaannya katakan  yang  masih tradisional maka tempat wudhu dan WC dibiarkan berlumut dan kotor, mukena sampai berbau asem, dll ,
Nah dalam banyak kesempatan aku melihat trend itu sudah banyak berubah. Sudah ada lembaga yang mau turun tangan untuk membersihkan masjid dan lingkungannya. Ini aku lihat di acara TV di Jogja. Anak-anak mudalah yang jadi penggeraknya. Luar biasa. Aku juga melihat di masjid Al-Falah, pencucian mukena dilaksanakan di tempat dan kelihatannya hampir setiap hari ada yang mencuci. Jadi semua mukena setiap hari terasa harum dan bersih. walaupun  aku tahu pengunjung masjid ini tidak pernah surut. Artinya pemakaian mukena ini terjadi secara terus menerus. Di beberapa masjid lain ada pemisahan untuk mukena yang bersih dan sudah dirasa kotor oleh pengunjung.  Ini juga sangat baik jadi pengurus akan langsung tahu mana mukena yang  harus dicuci duluan.  Di beberapa masjid aku melihat ada lembaga yang membantu membuat mukena menjadi bersih dan wangi lagi.   Ini juga aktivitas yang luar biasa.
Satu hal yang sering terjadi adalah  bak air di kamar mandi / WC di masjid rata-rata cukup besar. Ini memang yang masih sering kelewat. Karena serigkali bila lupa tidak mengurasnya maka akan enjadi sumber perindukan nyamuk. Nah mungkin seperi rumah-rumah modern yang sudah menggeser bak mandi besar permanenn dengan bak air kecil saja / eber yang meudahkan untuk dikuras/ dibershkan.
Belum lagi pada kegiatan yang rutin tahunan menyelenggarakan dan mengorganisasikan  zakat, infak dan sedekah dan hari-hari raya keagamaan serta peringatan hari besar islam lainnya.
Nah untuk masjid –masjid yang besar  maka   bisa jadi menyewakan ruangan untuk pertemuan, gedung untuk resepsi, atau ruangan untuk kelas belajar mengajar PAUD, mengaji, TPA  dan yang lain-lain menjadi ruang lingkupnya juga.
Jadi  menurutku untuk masjid-masjid besar  dan  yang lebih kompleks  ruang lingkupnya, maka SMM memang menjadi sebuah keniscayaan.  Juga kebutuhan. Satu hal bahwa ke depan akan diperketat hal-hal yang terkait misalnya  IMB untuk rumah ibadah, maka memang inilah saatnya berbenah juga.  Kejadian di banyak tempat menjadi pelajaran. Sudah saatnya  masjid yang  besar akan berjejaring dengan binaannya, sehingga pengetahuan praktis  dan banyak hal  penting lainnya akan ditularkan sehingga  akan menjadi baik semuanya.  CMIIW
Jika William A. Foster mengatakan bahwa dalam membangun mutu tidak ada yang kebetulan, dan di niati dengan tekad kuat, usaha yang tulus serta melibatkan pengarahan yang cerdas dan sebuah eksekusi yang trampil. Maka saatnya membangun kesadaran sebuah mutu dari sebuah masjid. Semoga dengan begini yang namanya paham-paham komunis  dan atheis yang jelas-jelas menganggap agama sebagai candu akan semakin jauh dari  kehidupan kita.  Wallahu’alam .