Friday, June 22, 2018

Salam Bekti

 
Momen lebaran saat ini membawaku melayang jauh ke beberapa waktu yang lalu. Khusus untuk keluarga maka saat itu setiap sepulang shalat Idul Fitri kami sekeluarga akan sungkeman. Meminta maaf dengan cara sungkem kepada yang sepuh dengan cara posisi jongkok dimana yang kita beri sungkem biasanya berada di kursi. Ya seperti tradisi sungkeman saat manten tradisi Jawa itu. Biasanya kami anak-anak akan sungkem pada Ibu dan Bapak saat habis shalat Idul Fitri. ….Seringkali acara berubah menjadi tangisan karena terkenang akan kejadian sudah-sudah saat ada masalah atau ada sesuatu yang menyentuh hati. Saat habis sungkeman itu biasanya acaranya bergeser menjadi pesan-pesan dan nasihat nostalgia serta cerita berharga dari orang tua.
“Ngaturaken sembah sungkem, sedoyo lepat nyuwun pangapunten” begitu yang diucapkan saat bertamu ke orang tua dan melakukan sungkem (posisi kedua tangan menangkup di hidung dan pandangan menunduk) serta biasanya dilakukan sambil posisi jongkok dengan kepala sejajar pada lutut orang yang kita sungkemi. Terjemahan bebasnya “menghaturkan salam hormat dan meminta semua kesalahan untuk dimaafkan”…
Tentu saja acara “salam bekti “ atau bisa diartikan sebagai pemberian salam permohonan maaf sebaagai tanda bakti kita kepada tetangga, dilakukan saat acara salam bekti untuk keluarga inti sudah selesai. Salam bekti di desa sekeliilingku biasanya langsung saat selesai shalat hari raya. Tapi khususnya di desaku, Sampang acara salam bekti lazim dilakukan malam hari. Mungkin karena desa yang letaknya strategis dilewati jalur selatan rute arah Jogja Jakarta, sehingga siang hari walaupun lebaran sekalipun, aktivitas perekonomian tetap berjalan. Akibatnya acara salam bekti paling afdhal saat habis shalat maghrib
Aku kecil and the gank berjalan dari rumah ke rumah bersama-sama dengan suka cita. Kadang-kadang sambil bercerita dan menyanyi bersama-sama. Sering juga sambil membawa sedikit kue-kue dari tuan rumah di saku baju. Kacang bawang, kue satu, rengginang, wajik klethik, karag, emping blinjo dan kadang ada biscuit dari merek terkenal, Khong Guan. Hampir semua rumah akan diketuk, tidak ada yang terlewat. Dekat sawah sebelah belakang rumah, dekat papringan alias sebelah pohon bamboo, dekat lapangan bola, dekat kali cabang Serayu di daerahku, dekat pasar dll. 
Beberapa kali kami datang ke rumah orang kaya di pertokoan yang mengadakan open house (bahasa keren sekarang). Saat itu kita datang, bersalaman, duduk sejenak atau kadang langsung lanjut jalan lagi. Kita akan salami semua orang yang kita temui. Rasanya tidak afdhal saat ada rumah atau orang yang terlewat. Biasanya pada lebaran hari kedua akan kita kunjungi ulang yang tidak ketemu saat kunjungan pertama. Seingatku tidak ada orang yang bagi-bagi uang di tempatku untuk para pengunjung open house lebaran. Jadi aku kecil and the gank saat berkeliling memang hanya karena “pengin aja”. Rasanya puas kalau kita bisa kearah selatan, barat, timur dan utara untuk diceritakan pada teman-teman lain saat sesudahnya. Senang bisa bersalaman atau menginjak rumah dari tokoh-tokoh masyarakat tertentu. 
Oh ya saat itu untuk kerabat jauh maka kartu lebaran atau melalui telpon sudah sangat memadai. maka setiap mau lebaran, sudah ada daftar-daftar orang yang mau dikirmi kartu lebaran. Maka memilih kartu lebaran juga menjadi keasyikan sendiri. Pernah bikin sendiri, beli kartu dari hasil foto-fto cantik yang dijual di toko buku atau kantor pos, pernah nyetak juga, ngeprint juga. 
Waktu berputar, tahun berganti………….kebiasaan itu masih tetap ada namun skup nya menjadi lebih… mengecil . Kalo dulu sebelumnya hampir semua orang dikunjungi , maka lama-lama hanya orang tertentu saja. Alasannya macam2. Acara sungkeman tetap ada khususnya sama orang tua. Kalo sama tetangga dan kerabat juga sudah banyak modifikasi. Yang sungkem juga seringkali sama-sama duduk di kursi Cuma posisi badan tetap membungkuk. 
untuk ucapan bisa dengan bahasa Jawa seperti tadi. tak jarang juga sekarang bisa dengan kata-kata : “kosong-kosong ya” artinya semuanya kembali ke ttik nol… (biasanya sama teman sebaya); atau maaf lahir batin…ini yang tersering.dulu juga sering dengan kata minal aidzinwal faidzin …. dan sekarang bergeser Taqobbalallhi minna waminkum taqobal yaa kariim…..
Sampai lah pada hari ini…. Sekarang yang kartu lebaran cetakan/print biasanya hanya untuk instatnsi resmi saja. Dulu yang berbentuk fisik kartu pernah aku buat semua : buat, beli, nyetak dan ngeprint. artinya yang ada fisiknya begini juga untuk pribadi juga. Sekarang untuk yang bersifat pribadi lebih tidak formil sifatnya kearah surel (surat elektronik), atau email atau WA group, facebook, instagram dll. Tidak butuh kertas, amplop, perangko lagi. Hanya tinggal menuliskan atau hanya memodifikasi kiriman teman lain yang masuk HP kita dan dipilih menurut kita yang paling cocok akan di forward lagi ke yang lain. Tentu saja setelah diganti nama kita. 
Semua hal ada 2 sisinya. positifnya adalah sudah tidak butuh kertas lagi ( dari berapa ribu atau ratusan ribu pohon), tidak pakai tinta lagi juga ada penghematan sumber daya alam. Bahwa teknologi akan terkirim akan silaturrahim secara real time. bahkan saat video call, siaran langsung, live dll. Namun jeleknya bahwa hal ini sringkali menyebabkan silaturrahim secara fisik menjadi sangat turun kejadiannya. Ya teknologi menggantikan semua hal itu. Mungkin itu akan sangat bermanfaat saat posisi memang sangat berjauhan yang tidakmemungkinkan datang dengan berbagai alasan.
Namun mungkin tetap lebih baik saat silaturrahim bertemu secara langsung supaya ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh teknologi… apa ya ?. rasanya facebook pun bisa mengingat memori dengan baik, apa yang terjadi 1 tahun lalu, 4 tahun lalu , 6 tahun lalu. Mungkin keberkahan saat bertemu dan menjabat tangan itulah yang tidak ada di dunia maya. Silaturrahim memnag memakan biaya, tenaga, waktu dan effort dibandingkan hanya dengan bantuan teknologi yang hanya butuh pulsa dan kuota serta sedikit waktu. 
Tapi aku yakin bahwa banyak hal yang lebih bisa diselesaikan dengan bertemu muka….alias kopi darat. Bukan berarti anti teknologi. Justru teknologi aku tetap rekomendasikan….saat memang tidak memungkinkan untuk kopi darat karena banyak hal. Selamat bersilaturrahmi, baik via online maupun offline …..semoga berkah semuanya, apapun sarana dan bahasanya …..
oh ya maaf lahir batin semua ya, walaupun sebenarnya ucapan ini bisa dilakukan kapan saja tanpa menunggu moment Idul Fitri . Terimakasih…(late post, Tri Astuti Sugiyatmi)

Wednesday, June 6, 2018

Eco Campus & Eco House


Eco Campus & Eco House
Memasuki  gerbang sebuah kampus teknologi negeri  di Surabaya ini, mata dimanjakan dengan suasana hijau. Pohon-pohon   dan rumput membuat mata menjadi  rileks. adeem rasanya. ditambah   lingkungan yang sangat bersih…makin membuat  nyaman yang luar biasa.
Masjidnya   yang sangat bagus  di desain terbuka. Di bagian bawah sekat-sekat dindingnya terdiri dari ukiran kayu yang  desainnya ada lubang-lubang di dalamnya. Aku melihat jendela besar di lantai 2 dengan  kaca  bening yang terbuka .  Atapnya cukup tinggi dengan angin2 yang juga terbuka.  saat siang hari Pencahayaan  tidak perlu bantuan listrik. Sinar mataharai   sudah sangat memadai.  Tanpa AC hanya kipas angin beberapa buah.  untuk di atas  hanya sekitar 5 kipas besar kalau tidak salah. Aku lihat di bagian bawah lebih banyak kipasnya.  Demikian juga di bagian WC dan tempat wudhu,  pencahayaan sudah sangat bagus tanpa lampu pada siang hari. Lagi-lagi pemakaian listrik bisa jadi sangat irit.
Menurutku  - sebagai  orang luar yang  hanya sesekali lewat dan mampir di masjidnya maka itu hanya sebagian kecil perwujudan eco campus dari kampus ITS.  Ya ITS sendiri mengusung tagline  Eco Campus. sesuatu yang menurutku  sangat luar biasa.  Terukur dan tangible.
Sebagai orang awam dalam hal lingkungan dan hal-hal terkait di dalamnya  aku  sangat yakin bahwa  visi besar bisa jadi akan membentuk karakter siapa yang ada di dalamnya   bahkan orang lewat sekalipun –seperti aku -untuk menjadi  lebih ngeh dengan isu lingkungan yang ada.
Selama ini isu lingkungan  bagi orang awam seakan-akan menjadi sesuatu yang jauh di awang-awang. Tidak membumi atau katakan kurang bisa dipahami. sehingga isu lingkungan belum menyentuh banyak kalangan luas. Isu itu seolah-olah hanya milik sebagian orang saja.
Dulu aku tahunya isu lingkungan hanya sampah , reboisasi ( sudah kenal sejak SD…he..he) dan penanaman pohon saja.  Sebelum pertama datang ke Tarakan  pernah sempat merekam  (tepatnya memfoto) sampah  yang  yang ada di lingkungan rumah. Ya saat itu aku kasih judul: sampah di bawah rumah, sampah di bawah sekolah. karena sebagain rumah di pesisir adalah rumah panggung maka bawahnya menjadi tempat tersangkutnya sampah yang di bawa oleh air laut. Yang akhirnya menggunung dan menimbulkan pemandangan yang menyedihkan. Saat itu aku mengikutkan foto-foto itu dalam sebuah  pameran di Gedung Gadis seingatku.  aku sendiri tidak datang saat itu…lucu ya…
Keprihatinan masalah sampah juga ‘menyerang’ saat aku ke Tanjung Pasir dan Batu. Melalui jalan panjang akhirnya dilakukan gerakan bersih2 lingkungan dan pantai bersama2 dengan mahasiswa akademi keperawatan sama orang kelurahan setempat dengan dibantu warga sekitar.  Saat itu mungkin sekitar 2005-2008.
Ternyata  saat ada pertemuan memang  terungkap bahwa sebagian penghuni pantai lebih memilih membuang sampah ke laut karena lebih mudah. Toh akan tersapu ombak juga. jadi  sampah dalam sekejap akan hilang dari pandangan mata…he..he. memang iya juga sih. Tapi ini  berlaku bagi yang rumahnya  agak ke tenagah. sementara bagi yang  tepat di atas pantai maka sampah-sampah itu suatu ketika akan dikirimkan oleh ombak ke situ dan akhirnya nyangkut di sela-sela kayu log kalimanatan yang besar=besar. Nyangkut di sela-sela tiang rumah/jembatan kayu. Dan pada ujungnya terlihat sangat kumuh.
Hal seperti inilah yang sampai sekarang ternyata masih juga ‘lestari’ di pemukiman yang di pantai. Hari ini bila kita masuk ke lingkungan pemukiman pantai  maka akan sangat mengherankan bagi “orang-orang darat”. Sampah sudah menjadi teman akrab bagi mereka. Maka lingkaran setan masalah kesehatan juga bisa dari sini. angka-angka infeksi sangat tinggi .   
Saat  menjadi anggota sebuah team dalam perubahan iklim  di kotaku sdh dalam perspektif yang lebih luas.   Dari situ aku berkenalan dengan isu lingkungan secara langsung. Isu perubahan iklim memenag menjadi barang baru bagi kami orang kesehatan. Padahal menurut penelitian bahwa perubahan iklim akan sangat berpengaruh pada banyak aspek dan ujung-ujungnya pasti akan ke kesehatan sebagai hili dari semua aspek kehidupan.  kekeringan yang terlalu panjang menyebabakan bahan pangan menurun dan ujung-ujungna masalah gizi dan penyakit akan muncul. Begitu juga jika banjir besar muncul maka penyakit musiman diare, penyakit kulit dan lain juga akan muncul.  Khusus bagi kami yang hidup di pulau kecil dimana sebagian besar warganya menampung air hujan untuk kegiatan sehari-harinya maka DBD menjadi ancaman nyata. tentu saja hubungannya bahwa si nyamuk sebagai vector tular DBD akan beranak pinak di situ.
keterlibatanku awalnya karena  adanya TAD (topi Anti DBD ) yang aku gagas bersama teman2 di P2P  (program pencegahan dan  pengendalian Penyakit )  untuk merespon tingginya DBD di tempatku.  Ternyata hal sederhana (yang awalnya coba-coba dan trial error) menjadi  barang menarik bagi sebuah lembaga donor untuk mengembangkannya lebih lanjut. dan ini dianggap sebagai sebuah kegatan adaptasi bagi perubahan iklim.  Bahkan terakhir kabar dari seorang di bagian kesehatan lingkungan kemenkes RI – yang disampaikan dalam sebuah forum resmi  di prov Kaltara-menyatakan bahwa TAD sebagai keg iatan adapatasi  sudah ‘diakui’ dan didaftarkan ke lembaga yang katanya di bawah PBB yang ngurusin tentang perubahan iklim. Entah lah….tidak terlalu jelas juga kabarnya. Harapannya memang benar adanya bukan hanya akan menyenangkan  aku sebagai   salah satu yang terlibat di dalamnya.
Dalam tataran pemikiran dan operasional  isu-isu lingkungan  sekarang  sudah lebih membumi . Juga lebih terstruktur. Alhamdulillah aku melihat munculnya gerakn peduli sampah dan sebangsanya   yang didinisiasi oleh teman-teman di bagian lingkungan saat ini  akan menyasar ke sana juga.  Angan-angan  TAD ditandemkan dengan pengelolaan sampah karena akan memberi efek  yang lebih baik mudahan-mudahan  bisa menjadi  sebuah kenyataan, suatu saat nanti.
Menerapkan ramah lingkungan di tingkat rumah tangga menjadi gampang-gampang sulit. Upaya memilah sampah dalam Rumah tangga juga menjadi sesuatu yang bisa dikerjakan. Saat di Tarakan aku beberapa  mengontak bapak pemulung yang akan membawa kertas, botol,  gelas bekas air mineral yang sudah aku sisishkan.  Namun jujur  seringkali juga terlewat artinya aku campur saja antara sampah basah dan kering.  Malas biasa sebagai pengganggunya.  jangan ditiru ya !…sementara kalau di Surabaya aku melihat petugas kebersihan juga sudah otomatis memilah sampah. memang ternyata benar bahwa sampah masih memiliki nilai ekonomi yang cukup besar jika dikelola dengan baik.  
Dulu pernah mencoba keranjang takakura di puskesmas. Tapi  di rumah tangga  masih belum juga. saat ini bila ada sisa makanan yang sudah cenderung di buang maka aku langsung pendam di bawah pohon di depan rumah…he..he
Yang masih sulit adalah mengurangi pemakaian plastic. sekarang hamper semua toko menyediakan plastic untuk membawa belanjaan pembeli.  selama ini plastic menjadi barang wajib yang harus ada. bahkan di pasar membeli 4 item barang di tempat yang berbeda  maka plastiknya juga 4. Kalau aku meniadakan plastik sama sekali belum bisa.  Tapi minimal plastic itu jangan sekali pakai langsung buang. dimanfaatkan untuk yang lain dulu. Demikian juga kertas kalo mau buang kadang harus dipakai di 2 sisi…Maka saat lihat ada petugas tata usaha yang langsung meremas kertas dan membuangnya saat ada kesalahan ketik sedikit maka aku juga merasa sayang……. yah kalo itu memang belum memikirkan before printing, think wisely.  Minimal kertas  atau Koran yang sudah tidak dipakai bisa dikasihkanatau dijual ke pedagang pasar untuk mbungkus cabai…he..
Oh ya satu lagi jika anda sayang lingkungan maka jangan cemari udara dengan asap rokok. he..he. Udara sudah sangat kotor,. jangan menambahnya dengan  asap rokok!!
jika Eco campus sudah ada, bisa diciptakan eco house kali ya….. Maka selamat hari lingkungan seduania ya…
                                                                                                                                (Tri Astuti Sugiyatmi  6 Juni 2018)

Saturday, May 12, 2018

Menadah Air Hujan : memanen tanpa menanam


Menadah Air Hujan : memanen tanpa menanam

Seonggok sampah  gleas plastic yang berisi air mineral bertumpuk di sudut  penampungan sampah sementara itu.  Gelas dan botol mineral  sisa sampah orang yang  hajatan/pertemuan biasanya akan berhambur di dekat TPS yang dekat rumah.  Juga pagi ini saat aku buang sampah di tengah pagi buta ini.

Menariknya rata-rata  masih ada separuh atau bahkan masih ¾ gelas air mineral itu masih terisi Seringkali saat kita minum air kemasan maka sisanya kita buang begitu saja. Padahal masih ada  setengah bahkan tiga perempat botol. Jadi untuk mengambil ukuran   air minum sebenarnya kita harus “menakar” dulu kemampuan kita untuk menghabiskan. Bila kira-kira dengan satu gelas sudah cukup maka tidak perlu mengambil air mineral ukuran 500 ml, 600 ml atau bahkan 1 liter.

Bila yang tersedia memang cukup besar dan kita tidak mampu menghabiskan maka bila masih ada sisa/ lebih maka sebaiknya sebisa mungkin  tetap termanfaatkan. Karenanya saya seringkali membawa botol –botol air mineral  sisa  dari hajatan, pertemuan. Kadang saya cuek saja dengan gaya pegang botol sekeluar dari pertemuan. Bukan masalah apa-apa tapi karena  merasa sayang sisa airnya terbuang  percuma. Padahal sebetulnya masih bisa diminum lagi atau kalo sdh tdk layak ya untuk cuci tangan atau siram-siram  tanaman.. Pertemuan di hotel seringali setiap sesi  akan berganti air mineral yang di atas meja kita. Bila setiap  sesi kita buka air mineral baru maka bisa dibayangkan betapa banyak air yang terbuang setelahnya.

Saya salut sama teman-teman yang membawa air minum dalam botol tersendiri. Biasanya orang2 itu  lebih menghargai baik isinya yaitu air minumnya maupun penggunaan kemasan habis pakai itu. Cara berhemat  sumber daya yang terbatas dengan sangat cerdas.

Ya berbicara pemanfaatan sumber daya khususnya air maka banyak hal yang selama ini  kita kerjakan sebaiknya  kita telaah lagi.   Sepulang dari TPS  jalan yang kulalui pagi itu  sebagian ada yang basah dan sebagian kering total. Sepeda yang kukayuh pagi itu keluar dari rumah saat  gerimis kecil  kemudian sampai tempat pembuangan sampah   gerimis sementara agak membesar. Saat berbalik arah pulang ternyata jalan yang saat pergi masih kering ternyata sdh basah, tapi gerimis di wilayah itu sudah berhenti.  Saya sudah berharap  mudah-mudahan di komplek perumahan sudah hujan juga.

Giliran masuk ke komplek perumahanku  ternyata kering sama sekali. Padahal sudah berhari-hari berbagai ukuran container air mulai dari ember dan  bak sudah berjejer rapi di bawah talang. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih kami yang paling murah meriah  sebenarnya adalah  air hujan itu. Tapi ternyata pagi itu harapan untuk mendapat air hujan kembali pupus.

Ya saat sebagian wilayah di ibukota terendam banjir di hari-hari ini maka  kami justru  sedang menunggu –nunggu hujan  turun. Kita – warga kota pulau- memang sedikit banyak tergantung dengan air hujan untuk sumber air bersih. Jadi menanti  air hujan turun  adalah menjadi bagian penting dari salah satu  rutinitas dalam  hidup kami..   Walaupun ada aliran air dari PDAM tapi di tempat yang sumber airnya hanya mengandalkan air permukaan, maka tidak ada hujan juga berarti kering juga air dari  PDAM nya.  walaupun di sebagian tempat ada sumber air, tapi  tentu saja untuk membawanya sampai ke saluran air di rumah kita juga butuh upaya. Yang paling gampang adalah dengan membeli air profil/tangki. Tapi membeli air bersih pun harus antri. Kadang-kadang antara hari pemesanan dan pemenuhan pesanan seringkali ada jeda yang cukup lama. Karena di “musim kering’ seperti ini semuanya antri mau beli air bersih.

Jadi wajar bila hari-hari ini kita selalu berhitung  dengan mendung dan angin—sesuatu  yang ditunggu-tunggu kehadirannya.  Ada nya drum, profil, ember-ember yang terbuka  di bawah talang air sebagai wadah yang sengaja kita siapkan untuk menampung air hujan yang turun manjadikan istilah memanen air hujan menjadi jamak di telinga.

Inilah kayaknya salah satu kasus memanen yang tidak perlu  menanam dulu.  …..Padahal  jamaknya untuk menuai sesuatu maka harus ada yang ditanam sebelumnya.   Panen padi setelah menyemai  padi. Di kasus yang lain walaupun kiasan tapi mirip juga :siapa menabur angin maka akan menuai badai.. Jadi menyemai dan menanam dulu, baru akan memanen hasilnya.

Sehingga menurut hemat saya istilah memanen air hujan agaknya  berlebihan.  Kita tidak punya peran dalam menurunkan hujan-walaupun di beberapa kasus ada hujan buatan. Tapi sesungguhnya  sangt kecil  atau  bahkan  hampir tidak pernah ikut andil  di dalamnya dalam penentuan siklus-siklusnya tadi. Dalam  perkembangan ilmu   ada banyak   upaya  menjaga ketersediaan  siklus air  seperti pembuatan biopori, upaya menjaga lingkungan /tanaman/hutan, tapi ternyata dalam “pemilihan”  lokasi hujan kita sama sekali berperan.

Jadi  menurutku yang agak  tepat kayaknya adalah ‘menadah” air hujan. Cuma istilah menadah/menampung terkesan hanya menunggu saja dan  cenderung  tidak “seksi”. Dalam memanen air hujan  di sini ada peran aktif untuk menahan air hujan yang datang supaya tidak lari begitu saja ke pembuangan  akhirnya yaitu laut.

Jadi walaupun berlebihan istilah  memanen air hujan  dianggap bisa mewakili sebuah upaya  untuk memanfaatkan sumber daya yang ada (air hujan) untuk sebesar-besar manfaat.

Ya istilah memanen air hujan dimana kita memanen tanpa menanam  menjadikan kita perlu “malu” untuk membuang- buang  sumber daya air yang ada. Karena ternyata kita semata-mata hanya menadahkan ‘tangan” saja. Menadah berarti kita hanya menunggu dan bergantung dengan kemurahan yang akan memberi. Kepada Sang Pembuat dan Pembagi  air  hujan saja  kita bergantung . Jadi marilah kita berhemat  air.!!

Saat Menumbuhkan Biji


Anak muda itu tersenyum santun sambil menolak uluran tanganku yang memberikan sekedar pengganti transportnya malam itu setelah memasangkan selang pengganti tabung elpiji yang bocor. Dia menyatakan bahwa itu adalah tugasnya karena sebagai konsekuensi setelah sehari sebelumnya selang itu baru dipasang dan ternyata terbukti bermasalah pada keesokan harinya alias pagi tadi. Setelah aku menghubungi toko yang menyediakan gas maka siangnya dikirimlah anak muda ini ke rumah. Ternyata menurut dia harus diganti regulator sekaligus selangnya dengan yang baru. Untuk mencari selang aku butuh waktu. “Kalo saya ibu, jujur saya takut karena suaranya kencang, itu kemungkinann selangnya bocor juga” begitu katanya….” saya baru kali ini menemui yang bocornya besar begini sampai suaranya mendesisnya terdengar dari agak jauh”. “Ya sih….Oke saya akan cari selangnya, apakah kira-kira nanti sore bisa dikerjakan setelah ada selangnya” Saat aku tanya jam berapa tutup tokonya ? “jam 5 ibu” dengan logat dari daerah Timur Indonesia. Ooh… waduh saya ada keperluan apakah kalo ditunda sampai besok pagi apakah nggak membahayakan ya ?. “ kita tidak tahu ibu…. namanya nasib “ dia berusaha menanggapi. 
“Oh ya kalau begitu nanti sore apakah bisa saya hubungi lagi ?”. Dia bilang bisa saja asal lewat bos. “Oh kalo begitu baiklah, tapi saya hanya punya nomor tokonya. “ Dia buru2 mengeluarkan hpnya dan menyebutkan no bosnya. “Aku bilang ada urusan yang harus aku selesaikan nanti sore insyaallah akan saya telpon lagi bosnya”.
Sore itu lalu lintas sangat padat, jadi pulang ke rumah butuh waktu yang sangat panjang. Hampir 1,5 jam. macet total, tidak bergerak di jalan Ahmad Yani. aku kepikirian kompor gas di rumah. Hanya bisa berdoa sejak siang mengarah ke sore aku tinggal, semoga baik2 saja….
Sampai rumah kemudian buru-buru shalat. gas bocor kembali kepikiran… tiba2 ada ketukan di pagar rumah dan ternyata : “ibu saya disuruh tungguin sama bos”. Buru2 dia minta selang barunya. “Waduh mas saya belum sempat ijin sama Bosnya je…” “Nggak apa bu, beliau yang menyuruh”. Dia langsung ambil peralatan obeng yang sejak tadi siang sdh disimpan di kotak di laci. Dengan cepat dia mengganti selang dan regulatornya bahkan saat akan memasangnya di kompor dia mengelap juga kompornya. 
Iseng-iseng aku tanya asalnya : ternyata dia dari kepulauan Kei Maluku. Wah saya punya teman dari kepulauan Aru mas. Ya sama –sama dari Maluku tenggara lah begitu katanya. Aku menangkap ada keuletan dalam dirinya. Saat aku tanya sekolah…ya saya kuliah di fakkultas Teknik Mesin di sebuah Universitas X di dekat sini…oh hebat sekali. anak muda kuliah sambil bekerja….” Sebenarnya saya tidak boleh kerja sama paman yang membiayai kuliah saya”…wow..saya makin kagum saat sebagian anak muda maunya hanya di zona nyaman dia masih mau bekerja bahkan dengan sangat bertanggung jawab. “Wah Mas sangat beruntung mempunyai kesempatan mengasah diri yang sangat luar biasa. Bos nya baik sekali ya Mas…” aku mengapresiasi dia dan bosnya. “ya bu beliau bos terbaik yang aku tahu. Kalo aku salah tidak pernah menegur dengan kasar.” 
“Oh tidak pernah marah ya ?” 
“Bukan tidak marah dia . Da marah tapi tahu kapan saat perlu marah…jadinya kitanya tahu harus bagaimana besoknya”. Masya allah !!. sebuah sikap dewasa dan matang dari kedua orang ini.
Termasuk dalam memaknai sebuah tanggung jawab…dengan tidak mau menerima bayaran yang aku sudah siapkan. “Ini bagian dari tanggung jawab saya bu”. Tunggu sebentar, saya berpikir cepat, dan memaksa membawakan sesuatu apa yang ada. Dia tetap menolak, saya memaksa. Ini rejeki jangan ditolak. Dia berlalu dengan ucapan terima kasih….
Sampai dia meninggalkan rumah, terbayang aku dengan ceramah parenting dari beberapa ahli yang sempat aku ikuti. Seorang pakar dari Bandung menyatakan bahwa ternyata dari sekian mahasiswa di sebuah perguan tinggi terkenal di Bandung dinyatakan bahwa ada sekian persen anak yang diterima ternyata dengan sangat terpaksa harus di evaluasi. Ternyata menurut beliau bahwa di antara mhasiswa itu antara Aqil dan baligh tidak bersamaan datangnya. Kita sering mendengar istilah aqi baligh menjadi satu. Bahkan kadang kita kira memang satu frase yang tidak terpisahkan. …
Ternyata baligh adalah adalah kesiapan tubuh secara fisik/ dewasa untuk siap membuahi dn dibuahi. Sedangkan aqil dari kata akal adalah kesiapan secara mental dan rasional untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup yang sebenarnya. Dan rata-rata baligh bisa duluan dan Aqilnya belum. Mungkin aqil lebih ke semacam Emotional Question (EQ).
Wah ilmu yang begini memang bagiku juga sangat baru tapi ternyata memang sangat masuk akal. Dari pembicara lain juga dinyatakan bahwa balighnya anak sekarang bisa lebih cepat karena gizi anak sekarang sangat baik bahkan bisa jadi berlebihan ( untuk kasus-kasus obesitas). belum lagi mereka dirangsang dengan banyak stimulus dari gadget atau gawai , TV, internet dan sebangsanya…Sehingga akibatnya ya itu tadi percepatan pada sisi biologis dengan ketertinggalan pada sisi psikologis….
Beberapa langkah untuk menyeimbangkan adalah anak maka anak diperkenalkan dan memperkuatnya pada sisi religiusitas yang sudah ada seperti shalat (untuk menghindari dari perilaku keji dan mungkar), puasa (supaya ada control diri) dan tentu saja anak juga harus disibukkan dengan kegiatan positif yang menyita energinya (olahraga, seni dan berorganisasi)….
Merujuk pidato pak Anies Baswedan dalam mempersiapkan generasi abad 21 -yang sangat luar biasa dan sudah beredar viral di WAG- maka saat masa remaja ibaratnya memang menjadi waktu untuk menumbuhkan biji. Orang tua, sekolah dan lingkungan sebisa mungkin focus dan akan memberikan dukungan yang pas supaya biji itu tumbuh. Dalam ilmu biologi bahwa biji akan tumbuh jika ada media tanam yang cocok, ada air, ada nutrisi makanan atau dalam bentuk pupuk, ada sinar matahari dll. Sesuatu yang praktiknya sangat-sangat tidak mudah … Ilmu parenting dari para pakar itu memang sangat menginspirasi. Namun jujur menjadi gampang-gapang susah juga bagiku. Sangat Bisa untuk disampaikan dan membutuhkan latihannya untuk menjadi sebuah kebiasaan. Baik dari orang tua dan si anak sendiri.
Melayang ingatan beberapa saat lalu, pagi itu terasa begitu padat. Sejak sebelum subuh sudah menyiapkan keperluan kemah “life skill” anak-anak SMA kelas 1 yang akan memakan sampai 3 hari. tepatnya 3 hari, 2 malam. Segala keperluan sudah disiapkan. Baju, sepatu, sandal, jaket, kaos, bahan makanan (tahu, tempe, roti, minyak, beras yang sudah aku beli sejak kemarin, dll.) Kepenginnya aku biarkan dia –yang menurutku sudah besar- untuk mandiri dan menyiapkan semuanya. Ya kelas 1 SMA sudah semestinya untuk bisa menyiapkan segala sesuatunya secara mandiri. Tapi mendengar suara batuk dan agak hangat menjadikanku nggak tega. Akhirnya beberapa hal aku ikut bantu menyiapkan. Mulai cari tempat laminating dan cari gantungan sejak sore. Belum lagi nyari pilox malam2 dengan warna tertentu…aduuh… semestinya kalo cari yang beginian saat siang. Huh…
Kadang2 anak2 suka dadakan. Padahal paginya dia bilang nanti aku cari pilox ternyata ujungnya ibunya lagi…he…he… Tapi oke aja lah. Dia sudah berusaha banyak (membuat tanda pengenal diri), mengecat/pilox tongkat pramuka, nyari seragam kaos dan topi untuk teman2 nya satu regu hari minggu kemarin sama temannya satu kelompok di PGS…..
Life Skill ..ketrampilan hidup.. sebuah kemampuan (essential life skills) yang penting untuk kita asah supaya kita mampu dan berani untuk menghadapi dan mengatasi masalah dan kesulitan dalam hidup kita sehari-hari. Tentu saja tujuannya untuk bisa mengelola ATHG (ancaman/ risiko, tantangan, hambatan dan gangguan) dalam menuju sebuah garis finish kehidupan, yaitu mati. Life skill menurut beberapa ahli antara lain adalah Fokus dan Kontrol-Diri, Berkomunikasi, Membangun Koneksi, Berpikir Kritis, Menghadapi Tantangan dan Pembelajaran dengan Keterlibatan dengan Swa-Orientasi ……………
Sesuatu yang memang tidak mudah. Kenyataan bahwa hal-hal yang terkait dengan life skill tdk bisa hanya dipelajari secara cepat dalam sebuah perkemahan dua –tiga hari saja. Membutuhkan waktu yang sangat panjang malah bisa jadi sepanjang hayat. karena kehidupan itu setiap saat akan selalu berubah dinamikanya maka dalam hal ini dibutuhkan kemampuan adaptasi yang terus menerus untuk bertahan dan harapannya untuk semakin bertumbuh. 
Malam ini aku sangat terkesan dengan anak muda yang sangat luar biasa. Aku melihat betapa orang tuanya akan sangat bangga dengan perkembangan positifnya. aku juga mendoakan semoga dia akan sukses kelak, walaupun kemungkinann ada perbedan cara doa kami. Menurutku Dia ia bisa melewati “sebuah proses menjadi” dengan sangat baik. 
Belajar dari 212 Power of love bahwa Konflik orang tua dan anak adalah sesuatu yang kerapkali terjadi. Perbedaan usia, cara pandang, persepsi tentang sesuatu akan bertemu pada satu titik. Namun kekuatan cintalah yang bisa mengalahkan semua itu. Cinta pada anak karena allah swt semoga akan menjadi jalan bagi doa-doa orang tua untuk kebaikan anak-anaknya. 
Anakku, kamu sudah belajar membuat bunga dari kertas kokorumu dengan sangat indah. Ibu sangat bangga sehingga ibu diam-diam memfotonya. Ibu juga menanyakan apakah itu karyamu? yang kamu jawab dengan yakin…ya pastilah. Dan ibu melihat memang di kamarmu juga masih bertebaran sisa dari pekerjaanmu yang belum sempat dibersihkan. Anakku, Kamu sudah belajar bahwa untuk membuat itu menjadi indah ternyata butuh kerja keras di baliknya. Kamu sudah berhasil membayangkan dan merancang apa yang akan kamu buat dengan kertas kokoru itu (artinya kamu sudah punya mimpi dan bayangan tentang apa yang kamu buat), Kamu sudah berhasil memadukan warna-warna indah yang tentunya itu ibarat trial error tentang sesuatu sehingga kamu menemukn komposisi yang paling pas, Kamu sudah berhasil menggunting dengan rapi, pasti itu juga proses yang dilakukan berulang kali sampai kamu menemukan hasil yang paling baik. Kamu juga sudah berhasil menggulung dengan rapi, maka itu juga hasil latihanmu yang ibu percaya itu dilakukan berulang terbukti ada beberapa gulungan yang tidak terpakai. kamu sudah berhasil mengelem dan merekatkan dengan baik. Ya itu artinya untuk memadukan dan merekatkan sesuatu butuh alat dan bahan lain dan banyak lagi yang lain yang hanya kamu yang bisa merasakannya. 
Anakku bahwa sesuatu yang indah akan tercipta dari berbagai hal yang menyususnnya. ada kerja keras, keringat, bahkan airmata atau bahkan darah sekalipun. Semuanya membutuhkan latihan, latihan dan latihan. Tentu saja doa. Karena banyak faktor X di luar kendali manusia.
Anakku berbahagialah dan bersyukurlah dengan tantangan yang ada…. karena itulah yang akan membantu “ sebuah proses menjadi” atau dalam bahasa Prof Anies Baswedan Proses menumbuhkan biji. Harapan semua orang tua adalah saatnya kelak biji itu akan bertumbuh menjadi sebuah pohon yang rindang dan akan berbuah yang akan memberikan manfaat yang banyak untuk sekitarnya. Dan puncaknya adalah husnul khotimah. aamiin YRA.. 
( Tri Astuti Sugiyatmi, CPAY, 11 Mei 2018)

Sunday, April 22, 2018

Konde dan Tembang Mijil dari Ibuku


Konde bagiku menjadi sangat familiar. Sebagai keluarga dari Jawa aku sejak kecil sangat akrab bergaul dengan nya. Ibuku –sebagai seorang guru di Desa- saat itu selalu memakainya saat akan berangkat mengajar. ibu akan berangkat ke sekolahnya di SDN Kaliwedi dan belakangan pindah ke SDN Cindaga I dengan memakai konde setelah kadang-kadang aku atau kakakku ikut membetulkan letaknya dari belakang. Saat itu pakaian ibu juga masih dengan jarit/jarik/ kain panjang dan kebayanya. Saat itu ibu kadang-kadang naik sepeda onthel, naik dokar atau kadang kendaraan Colt yang membawanya ke sekolahnya yang dekat dengan ‘gunung”. Sebenarnya mungkin lebih tepatnya adalah di lokasi berbukit yang agak jauh dari keramaian.
Saat itu tetanggaku juga berperan sebagai perias manten gaya Jawa yang membuatku seringsekali ikut melihat –dengan putri dari tetanggaku itu tentunya – bagaimana susunan konde, tusuknya, jepitnya, dan semua perangkat bagi pengantin Jawa di rumahnya. Bukan hanya konde, tetapi juga bajunya, kuluk (topinya) serta selopnya. Juga melati-melati sebagai penghias keris di belakang baju pengantin pria atau di ujung dari konde Jawa bagi pengantin perempuannya.
Dalam perkembangannya maka konde ibuku kadang-kadang sudah tidak berpadu dengan jarik dan kebaya tetapi dengan seragam KORPRInya, dengan Pakaian harian seorang ibu guru (atasan batik dengan bawahan polos; seragam semacam kain jas untuk atasan bahu panjang dan bawahan rok atau dengan seragam atau dengan seragam cantiknya Bhayangkari yang pink itu.
Jadi aku cukup akrab dengan konde, tusuk konde atau hanral ataupun jaring hitam (lupa namanya)yang untuk menyelimuti rambut ibuku yang awalnya hitam yangdalam beberapa waktu kemudian menjadi memutih. Beberapa kali saat menjadi Kartini kecil pun aku berkonde. Karnaval dan menari Bondhan di acara Agustusan di panggung kampungku.
ibuku yang seorang pendidik memang juga sering menyanyikan kidung-kidung Jawa yang sangat indah menurut beliau. Mocopat. Kami di rumah sering tebak-tebakan nama-nama lagu Jawa dan artinya secara sekilas. Sayang diantara sekian macapat aku hanya hafal lagu Mijil kalo nggak salah ….
Dedalane…guna lawan sekti …..
kudhu andhap ashor…
wani ngalah …luhur wekasane…
tumungkulo ..yen di pun dukani…..
Bapang dhen simpangi ….
Ono catur mungkur….
Menurut ibuku filosofi lagu ini sangat tinggi. Saat itu ibu menceritakan dengan bahasa Jawa krama halus, walaupun kami tinggal di daerah yang bahasanya Nyong –kowe alias Ngapak-ngapak. Aku tidak terlalu paham dengan semua apa yang ibu sampaikan. Tapi dengan terjemahan bebas dan era kekinian maka sekarang dapat aku sarikan bahwa Mijil adalah sebuah kelahiran/ keluaran. Baris pertama menunjukkan sebuah jalan (dedalane) untuk menuju kemanfaatan (guna) dan ‘kesaktian’ ( soft skill sebagai bekalmenjadi ketangguhan ). Baris ke dua alias harus rendah hati dan empan papan atau tahu diri lah dengan situasi dan kondisi sekitar. Baris ketiga adalah berani mengalah adalah sebuah sikap yang luhur…. Baris keempat : menunduklah atau tidak membantah maksudnya saat dimarahi. Saat dimarahi atau dikritik artinya kita disuruh untuk merenung atau introspeksi diri. Baris ke lima berarti menjauhi hura-hura dan hore-hore, karena kata Bapang kata seorang ahli adalah tari-tarian yang mengarah kesenangan atau hedon kali untuk jaman sekarang. Yang terakhir adalah untuk menjauhi segala yang menyebabkan ketidakbaikan. Secara leksikal adalah menghindari pergunjingan. tentu dalam era kekinian tentu saja bisa lebih luas dari hanya sekedar itu. Bisa jadi menghindari hoax yang sebenarnya.
Masih banyak sekali lagu Jawa Mocopatan yang sering dinyanyikan ibu. Aku hanya menjadi penikmat saat ibu menyenandungkannya saat riyep-riyep mau tidur atau saat santai sambil milihin kerikil di antara beras di atas tampah. Sebuah kenangan indah seorang anak dengan ibunya yang tidak akan pernah terhapus oleh apapun.
Jaman berubah dan waktu terus berputar. Pada akhir hidupnya Alhamdulillah ibu sudah seringkali mengenakan kerudung panjang (seperti pashmina saat ini) yang di taruh di atas kepala dan ujungnya di lilitkan sedikit ke depan dada tanpa sebuah pengait-pun (seperti peniti atau bros).
Jika saat ini muncul berita kontroversial yang membandingkan konde dengan cadar (baca : hijab) dan suara kidung vs adzan membuat banyak orang kaget. Seperti diriku juga. Membandingkan sesuatu yang tidak sebanding pastilah menghasilkan sesuatu yang tidak pas. Ya sesuatu yang sebenarnya juga semuanya sudah tahu bahwa satu adalah produk budaya hasil kreatifitas manusia dan satunya adalah produk dari sang Pencipta Manusia (bagi yang mengimani tentunya). Membandingkan dengan serampangan akan kontraproduktif dengan kerja besar sebuah bangsa yang sedang berusaha bangkit dari keterpurukannya.
Dengan tidak bermaksud membandingkannya dengan produk dari firman Allah swt dalam ayat- ayat suci nya , maka kidung Jawa khususnya Mijil walaupun hasil kreatifitas manusia dan budaya bagiku menjadi sangat fit dengan ajaran Islam yang ada. Bagiku, semua yang tertera dalam Mijil sangatlah Islami….....Aku bukan ahlinya di sini tetapi melihat yang tersurat dan tersirat di Tembang Mijil itu membatku jadi ingat ceramah UAS. Bahwa lagu-lagu kalau itu menjadi mengingatkan pada sang Maha Pencipta maka adalah sangat boleh. Tentu saja akan sangat berbeda dengan lagu, puisi atau apapun yang justru membawa penyanyi dan pendengarnya menjauh dari pengertian akan hakikat sebagai manusia tentu akan sangat disayangkan.
Jika sekarang aku jarang menyanyikannya kidung mijil itu bukan karena aku benci tapi memang seringkali tidak ada ‘tarikan atau romantisme ‘ yang menyebabkanku menyenandungkannya. Pernah beberapa kali aku menyenandungkannya di depan anakku maka komentarnya adalah bahwa itu lagu yang serupa dengan pembuka dari flm “Sepatu Dahlan”. Salah satu film nasional yang menampilkan budaya Jawa yang sempat ditonton anakku. Sekilas aku pernah menceritakan tentang arti lagu itu dan kebiasaan ibuku alias nenek dari anakku dulu saat kecil.
Saat kontroversi hari ini, maka saat itulah aku menjadi sedih. Tarikan Mijil ibuku begitu kuat sehingga aku ikut larut menuliskannya saat ini. Menurutku, Tidak ada yang salah dengan kidung Mijil dan kondhe dari ibuku. Karena dari Beliaulah aku tumbuh dan membesar dengan hijab sederhanaku kini dan nanti insyaallah... dan dari beliaulah aku mengantarkan anak-anakku untuk ikut memahami ayat-ayat dan kidung-kidung Cinta dari Illahi Robbi.
Ibu Indonesia…
Tidak ada yang salah dengan konde dari sebagian anak-anakmu
Tidak ada yang keliru dengan hijab dari sebagian anak-anakmu
Karena itulah arti sebuah keragaman sejati
di Indonesiaku, Indonesiamu dan Indonesia kita….
(Tri Astuti Sugiyatmi, Surabaya, 3 April 2018)

Siap-siap krisis yo...


Tubuh kurusnya sedikit membungkuk sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya saat menyapaku sore itu. “Ibu yang sering lewat di sana kan … Saya hafal bu…” Dengan bahasanya yang ramah dan santun beliau menyapaku begitu. Oh rupanya beliau mengenaliku diantara lalu lalang kendaraan di sebuah pertigaan yang sedang lampu merah di daerah Ngagel. Lho bukannya Bapak yang di perempatan kampus kalau pagi? Iya bu”. Aku ulurkan uang untuk beli koran pagi yang beliau tawarkan sore itu di perempatan jalan Ngagel. Beliau tersenyum dengan lembut. Mataku berkabut.
Bapak itu setap hari berada di perempatan jalan di beberapa lokasi yang berbeda. Menjajakan Koran pagi , bahkan di sore hari sekalipun. Entah kalau malam, aku belum pernah menemuinya. Aku juga belum pernah tanya apakah karena dagangan paginya tidak habis ataukah mengambil jatah baru dari agen. Yang jelas, melihatnya di usianya yang sudah sepuh, dengan baju batiknya yang sudah mulai pudar dan dengan sabar menjajakan dagangannya, aku jadi tersadarkan bahwa ada banyak hal di baliknya.
Oh ya, aku juga pernah menemui pedagang korang yang masih muda, yang sangat berbeda dengan Bapak tua tadi. Jika si Bapak, beliau hanya mengacungkan Koran tanpa berusaha memaksa. Berkali-kali saat aku tidak ada minat membeli atau memang tidak punya uang yang siap untuk membeli (mengingat lampu merah juga cukup cepat) maka beliau kalau tidak dikasih tanda maka beliau pun tidak mendekat ke mobil. Mungkin beliau tahu bahwa ini orang tidak berminat untuk membeli. Si mbak yang masih muda “memaksa” untuk membeli dagangannya. Bahkan pernah saat diberi uang, maka dia bilang tidak usah kembali ya. Lho …lho. Biasanya karena lampu beranjak hijau maka kita pun dengan terpaksa merelakannya. Bukan apa-apa sih, wong cuma berapa ribu perak saja, tapi caranya yang cenderung kasar membuat orang tidak simpatik padanya. Berbeda dengan si Bapak tua di perempatan jalan tadi.
Pendekatan orang pada setiap hal memang bisa jadi berbeda, sekalipun sama masalah yang dihadapinya. Ternyata memang latar belakang atau background sangat berpengaruh dalam hal ini. Pengetahuannya, pengalaman hidup dan latar belakang personal sangat berpengaruh.
Saat mengahdapi masalah semuanya akan berpadu dan membentuk pemikiran yang akan dilahirkan dalam ucapan, kata2 , tulisan dan perilaku orang itu. Dalam banyak hal itulah yang akan tampil dalam banyak kesempatan. Memang tidak sesederhana itu menyelami manusia. Banyak ilmu yang dipakai untuk mengaanalisisnya. Aku sangat terbatas dalam hal itu….
Kembali ke Bapak tadi, ternyata diluar sana masih banyak sekali yang bekerja dengan sangat keras dan dengan hasil yang tidak menentu. Ya manusia hanya diprintahkan untuk berusaha saja, perkara hasil kadang bisa baik atau biasa2, bahkan buruk katakan bukanlah urusan kita. Ada Allah swt yang sangat pengasih dan pemurah yang akan memberi rejeki pada siapapun yang bergerak. Jadi aku percaya semua akan baik2 saja… aamiin yra
Bahwa sekarang hidup makin sulit memang iya. Harga –harga melambung tinggi. Bahan makanan pokok, BBM, listrik, transportasi dan lain-lain menjadi sangat tidak terjangkau untuk masyarakat kebanyakan. Di sekitarku banyak sekali berita kehilangan entah itu sepeda onthel /roda nya saja yang hilang, laptop beberapa teman yang raib, atau bahkan barang remeh temeh seperti sepatu, kursi plastic dll. Mungkin itu artinya sudah semakin sulit hidup ini.
IBu pejabat sudah bilang bahwa tahun ini katanya akan krisis ekonomi… Rupiah makin terpuruk.. Ini tentu menjadi stressor baru. Maka sebelum krisis maka sudah harus mengantisipasi segala kemungkinan….Ayo ini tips and trik menghadapi krisis ala aku :
1. Gunakan listrik seperlunya (basi ya…. maksudnya matikan saat tidak dipakai termasuk yang sering kita abaikan pada colokan2 yang masih nyala saat kita tinggal, ternyata katanya itu mengkonsumsi energy juga)
2. Pakai paket data dengan bijak… Tapi maksudku tidak usah share yang makan pulsa
sementara infonya belum jelas manfaatnya. Tapi kalau menonton UAS, ustadz2 di Youtube sih gak masalah juga. Kan banyak ilmu yang bisa diambil. Bila perlu posting besar ada free- wifi…he..he
3. Pakai kendaraan ke tempat yang cukup jauh, kalo dekat bisa sepeda atau jalan kaki ( he..he katanya orang Indonesia paling malas jalan kaki…memang capai sih…tapi sekalian hemat BBM)
4. Tidak usah beli barang yang makan uang, gak ada manfaatnya: rokok, alcohol (bagi yang muslim) sih
5. Untuk makanan tetap pilih yang ada buah dan sayurnya. memang untuk buah jatuhnya lebih mahal, tapi tetap lebih baik…dalam jangka panjang pasti akan lebih murah. Masak atau beli makanann jangan berlebihan. Hitung ukuran perut… seringbeli kebanyakan akhirnya mbuang… berapa duit tuh ….hiks..hiks. yang jelas mubadzir temannya setan lho..
6. Memakai barang secara fungsional… ini sih pilihan. pada kalangan tertentu barang harus yang luks dll, tapi sebenarnya sih disesuaikan dengan kebutuhan. kalo dengan yang sederhana bisa, tidak harus yang rumit/kompleks atau canggih…he..he…ini masih banyak teorinya… Kalo mampu tidak ada yang salah. Bila tidak mampu, tidak usah memaksa diri memakai barang branded atau kualitas yang terbaik
7. etc….
Cukup, tulisan ngalor ngidul iki…….nek ono sing apiik jupuken, neng elek buangen… suwun. (Yk, preinan, 17.3.2018

IDI


Foto


Tuesday, March 13, 2018

wisuda mas aski (nitip save)




acara TATAS



Yang Tersisa dari KLB Asmat : Revisi UU Wabah Semestinya Masuk Prioritas Prolegnas 2018

                                                      
            Aksi pemberian “kartu kuning” oleh Zaadit Taqwa, sang Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), kepada presiden Jokowi pada acara dies natalis ke -68 Universitas Indonesia (UI) masih ramai dibicarakan. Salah satu isu yang menjadi tuntutan utama yaitu penyelesaian Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Papua yang sudah memakan banyak sekali korban sakit dan meninggal. Tanggapan yang muncul terhadap latar belakang atau alasan aksi dibalik tuntutannya menuai pro kontra yang luar biasa dimasyarakat.
            Di tengah pro kontra cara penyampaian tuntutan yang dianggap tidak lazim itu, Bupati Asmat Elisa Kambu dalam rapat kordinasi di Posko Satgas KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat per tanggal 5 Februari 2018 menyatakan bahwa status KLB dinyatakan dicabut dengan berbagai pertimbangan.
            Pada banyak kasus, saat sudah berlalu dari maraknya pemberitaan media maka kebiasaan kita sebagai bangsa cenderung akan melupakan dan tidak mengambil sebuah pelajaran pada suatu hal. Untuk itu penulis mencoba menganalisis yang menjadi dasar bagi tindakan kita selanjutnya.
Hubungan Campak dan Gizi Buruk
            Banyak analisis yang berkembang terkait dengan KLB campak yang kedua ini setelah sebelumnya 11 tahun bebas campak. Biangnya dianggap angka cakupan imunisasi yang masih rendah. Memang campak termasuk dalam kelompok penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. KLB kali ini dianggap terjadi usai pesta budaya pada Oktober tahun lalu. Berkumpulnya masyarakat dalam jumlah besar termasuk yang dari pedalaman yang masyarakatnya tidak terimunisasi menyebabkan rentannya terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara itu (air borne disease).         Apalagi bila sejak awal asupan gizi dari bayi atau anak sudah bermasalah maka akan mempermudah jenis penyakit apapun untuk menyerang, termasuk campak.
           Dari sisi medis, kasus gizi buruk bisa jadi merupakan komplikasi dari penyakit campak itu sendiri. Gejala utama campak yaitu panas tinggi dengan bercak kemerahan di kulit yang disertai satu dari batuk, pilek atau mata merah ini menyebabkan bayi/balita malas untuk menyusu atau makan. Jelas terlihat bahwa kasus gizi buruk bisa muncul di awal saat asupan makanan tidak terpenuhi yang mempermudah masuknya virus campak ke dalam tubuh ataupun gejala ikutan di akhir sebagai komplikasi akibat campak. Pada kasus lain gizi buruk bisa berdiri sendiri karena kurangnya asuspan makanan dalam waktu panjang ataupun berkaitan dengan penyakit infeksi lain selain campak.
          Di sisi lain campak masuk dalam kategori penyakit menular ynag dapat menimbulkan KLB bahkan wabah. Sementara gizi buruk bukan termasuk dalam kategori penyakit yang dapat menular namun kemunculan dan kejadiannya juga bisa menyebabkan suatu daerah masuk dalam status KLB.    Walaupun berbeda secara klasifikasi tetapi yang jelas bahwa keduanya menjadi sangat erat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus gizi buruk akan 13 X lebih mudah jatuh pada kematian dibandingkan pada anak dengan gizi normal. Maka sangat masuk akal bila sekitar pada kasus di Asmat 60-an bayi meninggal

Analisis KLB
         Dari kasus KLB campak di Papua dan banyak KLB difteri di 20 Provinsi lain yang masih berlangsung sampai sekarang - yang juga sudah memakan banyak korban jiwa ini -maka seharusnya membuat kita makin sadar bahwa ancaman penyakit menular ini masih tinggi ditengah naiknya kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, ginjal.
          Disadari bahwa satu hal yang juga cukup krusial dalam pengendalian KLB adalah pola pembiayaan wabah. Jika disatu sisi penyakit yang masuk dalam kategori kronis dan tidak menular karena sifatnya yang katastrofik (penyakit berbiaya tinggi) maka akan dijamin oleh asuransi bagi pesertanya maka penyakit yang masuk dalam kategori wabah justru tidak. Karena di dalam regulasi yang mengatur wabah yang ada dinyatakan bahwa urusan pembiayaan dibebankan pada pemerintah dan pemerintah daerah namun dalam pelaksanaan di lapangan banyak sekali kendala yang terjadi.
Sementara sudah diketahui secara luas bahwa penanggulangan KLB/wabah adalah juga sangat memakan biaya terutama untuk pelaksanaan ORI (Outbreak Response Immunization) maupun penanganan penyakitnya bagi korban terdampak.
        Terkait dengan pembiayaan KLB maka ada sebuah temuan menarik yang terungkap pada pertemuan progam surveilans epidemiologi Kemenkes yang penulis ikuti pada awal tahun 2017 adalah adanya keengganan daerah untuk merilis pernyataan KLB secara resmi.
Dengan pernyataan resmi maka citra daerah akan ternoda disamping alasan utama bahwa daerah harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk membiayai kasus yang rawat inap di RS termasuk para pemilik dan pemegang kartu asuransi kesehatan sekalipun. Hal ini akan berimbas tergerusnya keuangan daerah yang mengalaminya. Apalagi dalam kondisi keuangan di beberapa daerah yang mengalami defisit anggaran.
       Akibatnya dapat ditebak, menyimpan atau lebih tepatnya menyembunyikan informasi KLB menjadi pilihan yang paling realistis walaupun sebenarnya merugikan karena menjadikan tidak adanya kesadaran bersama khususnya masyarakat terhadap bahaya KLB/wabah.
Pada saat pertemuan yang dihadiri juga oleh lintas sektor juga mengungkapkan beberapa hal terkait solusi penanggulangan KLB. Pada saat itu perwakilan dari BPJS menyatakan secara lisan bahwa bagi para pemilik kartu KIS/BPJS yang terkena penyakit yang dinyatakan KLB maka itu bisa ditagihkan kepada BPJS sebagai pembayar. Pengobatan dan tindakan di RS merupakan upaya kuratif yang merupakan domain BPJS pada saat ini. Yang menjadi tanggungan Pemerintah Daerah (Pemda) hanyalah biaya bagi masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan.
         Namun dalam kenyataannya di lapangan /daerah bisa berbeda. Ada pandangan bahwa KLB merupakan force majeur yang tidak dapat ditanggung oleh asuransi. Akibatnya, kebijakan pembiayaan bagi peserta BPJS yang terkena penyakit yang dinyatakan KLB ditanggapi secara berbeda – beda di level cabang. Yang tersering adalah pada akhirnya dikembalikan ke Pemda masing-masing.
          Kendala lain dalam pencegahan dan penanggulangan KLB adalah seperti koordinasi antar jejaring dan kemitraan dalam pengendalian KLB juga masih belum terpetakan dengan baik. Sementara Langkah –langkah penanggulangan KLB yang sudah jelas tahapannya tentu membutuhkan koordinasi yang baik antar sektor dan profesi. Dalam UU no 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menyatakan bahwa epidemic sebuah penyakit menjadi salah satu bencana non alam juga masih belum terlalu jelas dalam level teknis.
Harapan
         Banyaknya permasalahan yang belum terselesaikan di berbagai level baik dari sisi regulasi, kebijakan serta teknis dalam kaitannya dengan KLB karena merujuk bahwa hulu dari permasalahan ini belum clear. Terakhir kita masih menggunakan UU no 4 tahun 1984 tentang wabah, dimana dalam banyak hal sudah sangat tidak relevan dengan kondisi terkini terutama koordinasi dalam hal pembiayaan.    Disamping juga munculnya isu-isu terkait penyakit menular baru (new emerging) dan penyakit yang muncul kembali (re-emerging) yang belum sepenuhnya terwadahi.
          Akhirnya tidak tuntasnya KLB di suatu daerah akan menimbulkan ancaman yang sama di lain waktu di tempat yang sama maupun berbeda. Untuk bukti tidak perlu
menunggu lama, dalam hitungan hari maka KLB campak sudah menyebar dari Kabupaten Asmat ke beberapa kabupaten lain seperti ke Pegunungan Bintang yang juga di Provinsi Papua. Kasus difteri yang awalnya muncul dari Jatim dengan beberapa Kabupaten pada tahun 2009, akhirnya menyebar secara luas.
         Bila Zaadit Taqwa sudah mewakili masyarakat dalam mengkritisi pemerintah sebagai eksekutif terkait tugas-tugasnya dalam hal kesehatan, maka dalam kesempatan ini menurut hemat penulis perlu juga diimbangi dari kerja-kerja legislative dalam memilih dan memilah prioritas RUU yang harus dibahas dalam Prolegnas tahun ini.
           Akhirnya hanya berharap bahwa KLB campak di Asmat dan KLB difteri di 95 kota/kab di 20 Provinsi ini – yang notabene sudah sangat mengkhawatirkan- bisa menjadi momentum untuk mendorong pembahasan RUU (Rancangan Undang-Undang) tentang perubahan UU Wabah no 4 tahun 1984 menjadi prioritas dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun ini. Yang terjadi bahwa dari 50 RUU prioritas yang sudah ditetapkan sejak Desember tahun lalu, tidak ditemukan RUU yang terkait KLB/wabah di dalamnya. Maka harapan berikutnya bahwa dalam evaluasi prioritas Prolegnas berikutnya ini menjadi prioritas. Bandingkan dengan RUU pertembakauan yang kontraproduktif dengan kesehatan (baca: pro rokok) sebagai inisiatif DPR menjadi urutan ke-12 atau masuk kategori sangat prioritas. Maka saat urusan rokok lebih penting dari KLB dan wabah maka patut dipertanyakan masihkan para wakil rakyat memikirkan dan memperjuangkan kesehatan sebagai salah satu kebutuhan dasar para konstituennya ?
Wahai para wakil rakyat, ditunggu komitmen dan action –nya untuk mengubah atau bahkan membalik situasi ini ! (Tri Astuti Sugiyatmi).