Friday, April 15, 2016

artikel /opini



Rokok : Tinjauan Beberapa Aspek

     Rokok : Tinjauan Beberapa Aspek
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi   
Dalam kunjungannya ke kota  kita beberapa waktu yang lalu 23/3/2016),  – saat  peresmian bandara Tarakan pada momen membagi  “kartu sakti”- Bapak Presiden kita memberi pesan  bahwa dana – dana bantuan yang diterima oleh warga yang membutuhkan hendaknya tidak  dipakai dan dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Presiden menyatakan   bahwa bantuan tersebut jangan untuk dibelikan rokok atau pulsa dan Beliau menyarankan untuk membelikan hal   yang berguna bagi  gizi anak bayi dan biaya sekolah.
Bagi penulis untuk pulsa memang cukup debatable.  Pulsa  untuk komunikasi seluler bisa jadi  memang hanya untuk fun atau  hura-hura tetapi bisa jadi sebaliknya,  justru  bisa menjadi kebutuhan untuk meningkatkan produktifitas akibat berjalannya komunikasi yang baik dengan keluarga maupun dengan jejaring kerjanya. Sehingga disini penulis hanya menyoroti  khusus pada permasalahan zat yang  sering menyebabkan ketergantungan (adiksi) bagi para pemakaianya yaitu rokok. 
Risiko Penyakit Kronis dan Penyakit Tidak Menular
Sudah menjadi rahasia umum bahwa  merokok menjadi salah satu faktor risiko  dari berbagai penyakit non infeksi kronis atau sering dikenal sebagai penyakit tidak menular (PTM).  Berbagai penyakit kanker, kencing manis, darah tinggi, penyakit jantung, penyakit gagal ginjal serta stroke menjadi  kondisi yang sering dialami oleh para perokok.
Tetapi dalam kenyataannya  banyak yang berpikir orang miskin kan pasti penerima bantuan iuran  (PBI) dalam skema jaminan kesehatan nasional sehingga  dianggap tidak menjadi soal saat miskin  untuk tetap merokok toh bila sakit sudah tertolong dengan skema jaminan kesehatan yang dimilikinya.
Itu adalah sebuah pemikiran sempit dan menyesatkan.  Bila sampai sekarang bila ada perokok yang menderita penyakit yang digolongkan sebagai  penyakit kronis tetapi masih ditanggung oleh BPJS kesehatan atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) nya maka jangan merasa tenang-tenang saja.  Hal yang menyangkut kebijakan (policy)  yang bisa jadi bisa berubah di masa mendatang.  
Dengan ada kesulitan masalah keuangan di tubuh BPJS kesehatan,  maka menurut hemat penulis  regulasi  bagi perokok yang sakit kronis bisa jadi menjadi sebuah pilihan yang paling rasional untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu itu.   Mantan Menkes Nafsiah Mboi  pernah memberikan alternatif  bahwa orang yang pola hidupnya lebih berisiko sebaiknya membayar iuran jaminan kesehatan lebih tinggi daripada yang pola hidupnya sehat.   
Walaupun kebijakan seperti ini belum diterapkan tetapi sebaiknya Para perokok juga sudah harus berpikir bahwa dengan sakit maka kerugiannya bukan hanya sekedar pengeluaran biaya saat di RS saja, -yang selama ini bisa ditanggung BPJS.  Kerugian saat sakit juga menyangkuti  hilangnya pendapatan yang seharusnya didapat  pada saat dia sehat dan bekerja, juga biaya yang hilang pada saat keluarga juga kehilangan waktu untuk  bekerja  karena harus menungguinya di RS atau bahkan biaya yang dikeluarkan  untuk  transportasi dan berbagai keperluan lain oleh  pendampingnya. Berbagai biaya yang dikeluarkan  serta  kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan  (opportunity cost)  sudah semestinya menjadi pemikiran para perokok juga  supaya tidak menjadi penyesalan di kemudian hari saat penyakit kronis menghampirinya.
Penyakit kronis tersebut seringkali  mengharuskan pasien  untuk  mendapatkan tindakan cuci darah, kemoterapi, radioterapi,  operasi, pemasangan ring jantung dan berbagai tindakan medis berbiaya mahal yang bila  tidak ada penjamin biaya maka menjadikan pengidapnya dan keluarganya bisa  menjadi miskin mendadak. Istilah katastrofik sering digunakan untuk menyebut penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan gaya hidup yang baik (pola makan  gizi seimbang,  dapat mengelola emosi untuk tidak stress berlebihan, beraktifitas fisik atau olahraga yang rutin dan cukup serta tidak mengkonsumsi rokok dan atau alkohol).
Tinjauan sisi sosbud dan ekonomi
Dalam kehidupan  sehari-hari,  merokok menjadi kegiatan   yang  bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Merokok menjadi kegiatan yang sudah dimulai saat pagi buta –saat perokok bangun tidur, saat siang hari maupun malam hari saat lembur. Merokok sering juga dikerjakan bukan hanya saat di luar rumah seperti di kantor, transportasi umum seperti bis dan angkot, tetapi juga di ruang terhormat para anggota dewan,  ruang kantor  ber AC sekalipun ataupun sambil membaca Koran dan menikmati kopi di samping anak dan istri di rumah.  Merokok juga  dilakukan  sambil kongkow membicarakan  hasil skor sepakbola semalam, sambil main kartu, sambil nyetir mobil dan sambil ke toilet  untuk membuang bau.
Banyak sekali alasan dan motivasi orang untuk merokok. Apalagi bagi perokok yang sudah  dalam kategori kecanduan. Maka jika isu kesehatan menjadi tidak penting dan menarik bagi mereka maka hitung-hitungan ekonomi menjadi suatu alternative untuk menghentikan kebiasaannya.  Berapa rokok yang dihabiskan dalam sehari dan berapa uang yang dihabiskan untuk itu bisa dikalkulasi. Jika katakana 10.000 saja pengeluaran merokok per hari. Maka dalam seminggu, sebulan bahkan satu tahun dan lima tahun bisa dikalkulasi berapa uang yang ‘hilang” yang andaikan ada maka mungkin sudah bisa dipakai untuk banyak hal: cicilan rumah, kendaraan bermotor atau bahkan uang muka naik haji.  Dan bila saat ini kita masih berkutat pada benda 9 cm yang cenderung dituhankan (menurut Taufik Ismail) maka kerugian akan menjadi berlipat-lipat. Membayar pajak (baca : cukai rokok)  untuk sebuah investasi sakit pada saatnya kelak!

Karena berbagai alasan di atas maka  penulis sangat setuju dengan pernyataan bapak kepala Negara kita itu. Dan di level kita  jangan kita memakai  istilah “uang rokok”  sebagai uang tips atau upah bagi pekerja atau orang yang  membantu pekerjaan kita.  Karena dengan istilah itu maka uang tips yang sebenarnya bisa menjadi tambahan penghasilan bagi para pekerja non formal akan dengan mudah dibelanjakan menjadi rokok yang akan meracuni dirinya, serta perokok pasif di sekitarnya termasuk anak dan istrinya.  Jadi, ayo  jangan beli  rokok ! seperti ajakan Bapak Presiden kepada kita semua.(dimuat di Radar Tarakan, 14 April 2016)

Friday, April 8, 2016

Sebuah Niat


Ramai berita tentang mantan rektor almamaterku yang dijerat korupsi oleh institusi anti korupsi tertinggi di negeri ini membuat kami kaget. Apalagi berita yang lain juga tak kalah mengharu biru menyusul keluarganya juga masuk ICU terkena serangan jantung. Doa kami semoga diberikan ketabahan dan kekuatan untuk semuanya. 
Sebenarnya saya mahasiswa UNAIR angkatan tua (masuk 92 s.d 98) yang tidak terlalu kenal dengan beliau. Namun hidup di asrama Ekanita Unair selama 6 tahun yang satu kompleks dengan tempat tinggal beliau di perumahan dosen Unair di kampus B menjadikan saya cukup familier dengan nama beliaunya. Setiap Minggu saya dan teman-teman hampir pasti melewati sebelah rumah beliau saat ke wartel di koperasi mahasiswa. Apalagi saat itu diasrama juga ada beberapa anak farmasi angkatan 90, 91 dan angkatan bawahnya dimana beberapa kawan baik -yang saya tahu persis – sangat mengagumi beliau karena kesederhanaannya dan kepakarannya. 
Sebagai mantan anak asrama Unair yang gedungnya di sebelah belakang rektorat agak ke kanan bila menghadap jalan, merasa sebagian sejarah hidupnya ada di sana. Pergantian beberapa pejabat di sana sedikit banyak mempengaruhi kehidupan kami di asrama. Memang waktu (awal masuk) itu beliau kalau tdk salah masih di fakultas. Saya tidak ingat apa jabatan beliau, mungkin dekan. Bisa jadi saat kami keluar tahun 98 bisa jadi sudah beralih ke rektorat. 
Memang secara umum beliau tdk terlalu terkait dengan asrama kami. Tapi yang jelas dinamika di asrama menyebabkan kami beberapa kali berhubungan dengan beberapa keluarga besar rektorat. Ya asrama putri dengan 60 mahasiswi saat itu memang beberapa kali mengalami masa sulit dan itulah yang menyebabkan kami “merasa dekat” dengan orang-orang lama apalagi beliau tinggal sekompleks dengan kami. 
Yang jelas, beberapa kali saya ke rumah beliau – karena ada teman yang pernah tinggal disana. Beberapa kali berinteraksi dan berjumpa dengan anggota keluarganya. Sangat sederhana. Ya sebatas itu saya mengenalnya. Tapi bagaimanapun saya sampai sata ini pun masih mengagumi beliau karena ya saya masih yakin dan percaya dengan sikap tulus beliau dan keluarganya, kesederhanaannya serta sikap baiknya.
Saya menyadari bahwa system kita di Negara kita memang sangatlah tidak kondusif. Keburukan system yang ada menyebabkan banyak orang baik yang akhirnya mundur teratur untuk menjadi pengambil kebijakan tertinggi di beberapa level. Saya mengenal beberapa pribadi seperti itu. Padahal disadari untuk memperbaiki sebuah system juga dibutuhkan ‘tangan dingin’ orang –orang baik itu. Tapi situasi yang tidak kondusif akan menyebabkan orang baik akan berpikir ulang untuk ke sana. Sistem yang cenderung korup juga akan menyebabkan orang baik ‘takut’ masuk ke sana (dunia structural). Namun diyakini Orang baik juga pasti akan berhitung dengan kekuatannya bagaimana menghadapi situasi seperti itu termasuk kontaminasi dari sekitar. Dan pada saat orang baik memutuskan iya, tentu saya sangat yakin bahwa keputusan yang diambil secara sadar tersebut sudah dikalkulasi dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Tentu saja hanya dua kemungkinannya, mau mewarnai atau diwarnai. Dan orang baik, saya yakin bahwa keputusannya mau masuk birokrasi adalah adanya keyakinan untuk bisa mendedikasikan sebagian ilmunya melalui jalur yang ini. Tentu saja sudah dengan perhitungan yang sangat matang dengan diiringi niat baik dan lurus. Memang sulit menerka niat seseorang karena yang tahu hanyalah si pemilik niat dan Sang pembolak balik hati si pemilik niat alias Allah swt, Tuhan Sang Penggenggam Hati. Saya yakin semua orang baik pasti akan mengawalinya semua kegiatannya / amanah yang ditunaikannya dengan niat baik. Satu hal bahwa orang yang lurus itu selalu berusaha menjaga niatnya. Dan dalam keyakinan saya, prof F adalah dalam barisan tersebut. 
Saya juga meyakini bahwa ketiadaan orang baik di birokrasi menyebabkan system akan tetap seperti itu. Tidak ada perubahan kearah yang lebih baik. Karena untuk memperbaiki sebuah system bisa jadi tidak bisa hanya dari luar. Orang baik perlu masuk dan turun gelanggang secara langsung. Namun kembali bahwa dalam nature sebuah system nya banyak hal bisa terjadi disana. Saling sikut, saling sikat, saling injak kadang dimanfaatkan sebagian oknum untuk mencapainya. Namun seringkali situasi seperti ini menjadikan keengganan orang baik masuk birokrasi dan pada akhirnya birokrasi menjadi sangat buruk rupanya. Sebuah lingkaran yang akhirnya menjadi sulit ditarik ujung pangkalnya. 
Munculnya beberapa kepala daerah yang sudah terbukti dan amazing di Bantaeng, Surabaya, Bandung pada saat ini menjadikan kepercayaan saya bahwa ditengah hal- hal yang sedemikian rupa masih ada dan bisa orang baik hadir muncul dari level manapun. Ya mutiara tetap akan bersinar sekalipun dari lumpur yang paling kotor munculnya. 
Namun bagaimanapun baiknya seseorang, apabila dicari-cari kesalahan /kekeliruan pasti ada saja. Apalagi orang baik akan selalu positif thinking dengan sekitarnya. Sehingga pada dunia yang makin hedonis ini seringkali kebaikan seseorang dan sikap husnudhan akan disalahartikan oleh oknum lain untuk memperoleh keuntungan baik dalam hal materi ataupun non materi. Dalam hal kasus diatas, saya tidak tahu persis bagaimana konteksnya. 
Yang cukup memprihatinkan adalah bahwa bila sekarang niat menjadi ‘pembeda ‘ perlakuan dari KPK terhadap beberapa targetnya memang bisa menjadi bias hasilnya. Karena tergantung masing-masing penafsirnya terhadap niat si target. Saya percaya bahwa niat baik hanyalah muncul dari orang –orang yang baik saja. Orang-orang baik hanya bisa dinilai dari rekam jejak sebelumnya dari orang orang yang mengenalnya. Dalam kasus diatas saya yakin bahwa niat baik insyaallah pasti ada. Karena track record nya memang menunjukkan demikian. 
Sebuah pertanyaan besar bila si penafsir dari “atas sana” menganggap ada niat jahat maka bagaimana bisa membuktikan sebuah niat menjadi jahat sementara disaat yang sama ada kasus lain di tempat lain dengan dengan dukungan data lebih lengkap (bahkan dari institusi lain /baca: BPK juga menunjukkan penyimpangan) justru dianggap punya niat sebaliknya. Ya terbukti ada perlakuan yang sangat berbeda karena perbedaan menafsirkan sebuah kata yang memang sangat abstrak bentuknya. Dan sekali lagi hanya diketahui kebenarannya oleh si empunya sendiri dan Pemilik hati yang sesungguhnya. 
Ya logika hukum yang tidak masuk akal bagi orang –orang awam seperti kami. Ketidakjelasan hukum seperti ini juga yang secara nyata dan jelas menjadikan orang baik menjadi takut masuk system. Karena beberapa orang yang track recordnya sangat baik dan insyaallah tetap baik justru menjadi pesakitan dengan tuduhan yang kadangkala terasa sangat sumir dan mengada-ada. Harapannya semoga hal-hal ini seperti ini tetap tidak menyurutkan niat dan langkah orang –orang baik dalam arti yang sesungguhnya –bukan sekedar jargon dan pencitraan di depan media- untuk dapat memperbaiki kehidupan kita dimasa yang akan datang. 
Saya yakin dan percaya bahwa hasil judgment di level manusia adalah belum final 100%. Masih ada pengadilan tertinggi allah SWT kelak di hari kemudian. Dan itulah yang pasti. Namun kenyataan bahwa pada hari ini manusia hanya melihat pengadilan di dunia. Bully, caci maki, sinis serta hal sebangsanya langsung diterima kontan saat orang disorot sebagai pesakitan. Bahkan dalam jaman sekarang semua orang bisa langsung berkomentar apapun layaknya juruwarta di wall masing-masing medsosnya tentang banyak kasus yang ada termasuk yang td di atas. Sangat prihatin dengan itu semua. Karena dalam banyak kasus apa yang kita baca dan lihat di media mainstream bisa jadi sangat berbeda dengan kenyataannya. Maka pada saat kita berkomentar hendaknya bijak bukan hanya bersumber pada media mainstream saja. Dan selayaknya doa kita untuk semua yang sedang terkena musibah untuk dapat dikuatkan dan untuk yang sedang berkuasa untuk diingatkan. Semoga juga untuk penegak hukum dari komisi antirasuah juga diberikan kekuatan untuk tidak tebang pilih sesuai tugasnya. Tiada daya dan upaya selain dari Allah swt semata. Wallahualam.

Wednesday, February 24, 2016

TI atau TC ?

TI atau TC ?
Diajak berdiskusi dan berpikir oleh sebuah lembaga kajian. Walaupun berpendapat bahwa TOR maupun spanduk yang dibuat tidak sesuai dengan kecenderungan hati, tetapi oke lah. Mari kita berpikir secara jernih terhadap sesuatu masalah yang sebenarnya sudah sangat terang benderang. Masalah tembakau....sesuatu yang terlalu menarik untuk ditolak.
Saya meyakini dengan segenap hati dan pikiran bahwa kita manusia dikaruniakan kemampuan untuk memilih dan memilah informasi apa yang masuk ke diri pribadi dan kemudian akan menganalisisnya dan terakhir akan menghasilkan sebuah pola pikir dan keluar dalam bentuk perilaku dan segala rentetan konsekuensi dari sikap yang diambil. Terkait dengan hal itu maka saya mengambil sikap bahwa bahaya dan mudharat tembakau (baca : rokok) sangat jauh lebih besar daripada manfaatnya.
Ya memang tidak bisa melihat masalah hanya dari satu sisi saja. Tetapi dalam hal tembakau/rokok, banyak studi yang lain juga memperlihatkan hal yang serupa. Rokok merugikan bukan hanya dari sisi kesehatan tetapi juga keuangan/ekonomi keluarga. Pemenuhan gizi anak/bayi terhambat karena ayahnya lebih suka untuk membelanjakan uangnya untuk dibelikan rokok untuk dirinya sendiri daripada susu atau telur untuk anaknya.
Belum lagi rasa saya sayang sama rokok yang sedang diisapnya juga menyebabkan racun masuk ke anak yang sedang digendongnya. Kalo melihat bapak yang begini, saya pikir dia lebih sayang pada rokoknya daripada pada anaknya. Sehingga tak heran banyak anak-anak kecil yang masuk rumah sakit karena pneumonia karena selalunya disuguhinya asap dan bau serta remah remah abu rokok.
Candu rokok juga seringkali menjadi pintu masuk candu yang lain. Narkoba.Data ini sering dinafikkan oleh para pegiat tembakau. Menurut mereka itu kasusistis . Memang betul tetapi hampir selalu pecandu narkoba rata-rata awalnya adalah perokok. Candu nikotin adalah salah satu zat berbahaya yang memang masih legal sampai sekarang. Itulah membuat mereka beralasan bahwa tidak pantas rokok ditempatkan sedemikian rupa. Mereka menganggap bahwa "rezim kesehatan ' lah yang membuat rokok menjadi dimusuhi.
Padahal dari sisi ekonomi rokok juga cukup membebani ekonomi keluarga. Belanja rokok menempati nomor dua dan hanya kalah dari belanja bahan pangan pokok (nasi/padi-padian).
Bisa dihitung bila belanja rokok 12 rb-15 rb per hari untuk sebungkus rokok maka berapakah pengeluaran mingguan, bulanan atau setahun, 5 tahun dan 10 tahun. Ya kalo dihitung beneran mungkin uang rokok itu sdh bisa dibelikan motor atau uang muka rumah atau bahkan untuk naik haji bagi yang muslim.
Belum lagi dari sisi ekonomi kesehatan berapa uang yang dikeluarkan bagi pengidap gagal ginjal, jantung atau stroke sebagai akibat kontribusi dari rokok bersama dengan faktor risiko yang lain.sangat bisa orang yang sakit kronis akan menjadi miskin karena penyakitnya. Belum lagi kecacatan yang ditimbulkannya misalnya karena sisa dari stroke yang ditimbulkannya.
Belum lagi fatwa para ulama (walaupun sebagian ada yang tdk setuju) bahwa merokok itu minimal mubah bahkan ada yang sampai mengharamkan, menguatkan argumen bahwa hasil-hasian itu maknanya bagi saya pribadi.
Bahwa masih menghidupi petani tembakau itu memang betul, tapi toh alih tanam atau pemanfaatan tembakau selain untuk rokok juga sudah banyak dilakukan. Bahkan seorang mantan petani mengatakan bahwa tidaklah mungkin para petani tembakau akan menjadi kaya, karena memang tata niaga tembakau yang cenderung dikendalikan oleh pabrik rokok tidak akan banyak memberi peluang untuk untung bagi para petani. Produksi rokok yang faktanya makin banyak justru memunculkan keheranann karena yang banyak terjadi adalah produksi tembakau dan cengkeh justru stagnan..
Itulah dasar saya memilih berdiri dalam kalangan yang mencoba meyakinkan publik bahwa rokok tidak ada keuntungan yang berarti.
Bila ada pihak-pihak yang memaksakan pemikiran bahwa rokok menjadi warisan budaya yang harus dijaga, menurut saya terlalu berlebihan.
Karena pada arti leksikal dari budaya sendiri, maka rokok menurut saya tidaklah pantas masuk dalam katagori mulia tersebut.
well, saya hanyalah diundang untuk berbicara sesuai pengetahuan dan keyakinan saya. jadi tidak masalah untuk datang dengan niat memberi warna lain....pada diskusi yang sejak awal saya agak kurang sreg dengan tor, tema dan back drop yang masih debatable.
apapun itu, hal tersebut sudah membuat wawasan menjadi kaya. Waaupun jujur, inilah perang pemikiran yang juga menyita emosi saya. Bayangkan jika nanti RUU pertembakauan yang sudah masuk prolegnas dan disyahkan maka di tahun 2020 akan diproduksi rokok sebesar 550-600 Milyar batang maka saat itulah semua kita dipaksa menjadi perokok. Mungkin bayi -bayi baru lahir pun akan menjadi pasar untuk menghabiskan produksi rokok itu. Ironis....!!! Saatnya menentukan sikap : pro TI (tobacco industry atau Tobacco-control.
(tri astuti sugiyatmi, mikir-mikir pasca diskusi)

KETERKAITAN DBD, ZIKA DAN PERUBAHAN IKLIM

KETERKAITAN DBD, ZIKA DAN PERUBAHAN IKLIM
Dalam beberapa waktu belakangan ini kasus penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) sedang merebak di banyak daerah. Bahkan ada yang sudah menyatakan sebagai wabah. Beberapa daerah kabupaten /kota yang masuk propinsi di Jabar, Jatim, Sumbar dan Sulsel sudah banyak yang menyatakan Status KLB akibat DBD. Korban sakit dan korban meninggal sudah banyak berjatuhan, sementara bangsal di rumah sakit banyak yang penuh.
Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dianggap sebagai penyakit yang datangnya musiman. Biasanya hanya pada saat bulan-bulan ini yaitu saat peralihan dari kemarau ke musim hujan. Hujan yang mulai turun akan menyebabkan air banyak tergenang yang secara otomatis menjadi perindukan nyamuk, bila perilaku masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih sehat masih belum bagus. Ditambah lagi kondisi lingkungan yang buruk seperti sampah yang berserakan yang juga dapat menampung air hujan juga punya kontribusi tersendiri dalam terjadinya outbreak penyakit.
Sementara di belahan bumi lain, di benua Amerika, wabah virus zika (ZIKV) – dengan gejala yang mrip DBD dan angka kematian lebih kecil daripada DBD.,- juga sedang ramai diperbincangkan. Sembilan negara sudah berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB), 21 lainnya berstatus transmisi aktif. Diperkirakan ZIKV bisa menyebar ke Afrika, Asia dan Eropa. Terakhir sudah masuk ke Cina di benua Asia.
Memang dengue berbeda dengan ZIKV akan tetapi ada persamaan antara keduanya. Kedua virus ini masuk dalam kelompok arbovirus . Keduanya juga dapat ditularkan oleh nyamuk yang sama yang terdiri dari Aedes aegypti maupun Aedes albopictus. Melihat kesamaan kelompok virus dan metode penyebarannya maka potensi penyebaran dan risiko ZIKV di Indonesia bisa jadi cukup tinggi, walaupun sampai sekarang dilaporkan masih negatif.
Yang cukup menarik ZIKV juga ditengarai disebarkan lewat cairan tubuh seperti penularan dari ibu hamil ke janin. Adanya dugaan keras ZIKV berhubungan dengan mikrocephalus kongenital (ukuran kepala dan otak bayi yang lebih kecil ) maupun berkomplikasi sindroma Guillain Barre membuat badan kesehatan dunia (WHO) memasukkannya sebagai salah satu kegawatdaruratan kesehatan masyarakat internasional (Public Health Emergency International Concern). Di dalam negeri travel advisory untuk WNI yang akan bepergian ke negara terjangkit juga sudah dikeluarkan.
DBD dan Perubahan Iklim
Fenomena mengganasnya virus dengue saat ini selain akibat faktor perilaku juga dianggap ada kontribusi dari lingkungan. Penelitian beberapa ahli menyatakan penyakit yang cukup mematikan ini dianggap terkait dengan perubahan iklim (PI). Istilah PI atau climate change sendiri sebagai akibat dari kejadian pemanasan global (global warming).
Dalam beberapa studi disebutkan bahwa wilayah yang temperaturnya semakin menghangat dan lembab sangat cocok untuk berkembangnya nyamuk penyebar penyakit. Hal inilah yang mengakibatkan siklus perkawinan dan metamorfosa nyamuk menjadi lebih singkat yang akan menyebabkan jumlah populasi nyamuk akan lebih berkembang. Di samping ada factor curah hujan yang lebih tinggi. Bergabung dengan factor kenaikan jumlah penduduk yang diasumsikan sebagai kenaikan jumlah kebutuhan air bersih dan jumlah penampungan air yang ada maka dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan antara DBD dengan PI.
Walaupun ZIKV sebenarnya sudah lama muncul, tapi hubunganya dengan PI belum tereksplorasi dengan baik. Namun melihat bahwa Sang Penyebar ZIKV juga sama dengan vector DBD maka secara empirik dapat dinyatakan ada kemungkinan ZIKV juga akan menjadi penyakit sebagai dampak perubahan iklim yang berikutnya. Walaupun tentu saja perlu pendalaman dalam hal ini.
Perlu Aksi Adaptasi
Dalam hal wabah DBD yang sedang terjadi di banyak tempat maka yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana memutus rantai penularan secara cepat. Kegiatan penanggulangan pada fokus dan atau wabah di daerah tertular menjadi tanggung jawab semua pihak. Urusan DBD diyakini tidak akan pernah selesai bila hal ini hanya menjadi tanggung jawab dan beban pihak kesehatan baik dinas kesehatan/puskesmas di wilayah terjangkit. Upaya–upaya dalam pengendalian wabah DBD seperti pemakaian insektisida pada pengasapan (fogging) dan penaburan larvasida tidak akan efektif saat tidak ada peran serta masyarakat dalam PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yang rutin dan berkelanjutan.
Upaya inovasi dapat juga dalam memperkaya jargon 3M yang sudah lebih dulu ada (menutup, menguras dan mengubur barang bekas) juga bisa terus dikembangkan. Upaya menutup kontainer air dengan bahan yang tetap dapat dilewati air dari talang menjadi sebuah alternatif bagi daerah tadah hujan ataupun memakai ikan pemakan jentik sebagai upaya untuk meningkatkan angka bebas jentik juga patut dikembangkan dengan lebih baik lagi.
Upaya teknis pengamatan kasus, pengendalian vektor terpadu dan penggalangan kemitraan adalah menjadi kunci dalam pengendalian penyakit yang bersumber binatang ini. Sedangkan upaya-upaya kuratif mengobati pasien yang sudah ‘kadung‘ sakit di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan adalah menjadi upaya “terakhir” yang dapat dikerjakan. Adanya kemiripan virus dan vektornya antara dengue dan ZIKV menyebabkan upaya pencegahan yang dilakukan juga sama. Dengan menangani DBD secara baik, maka sekaligus sebagai antisipasi terhadap ZIKV juga.
Pada wilayah dan daerah yang belum terkena KLB penyakit, maka secepat mungkin untuk mulai melakukan mapping terkait tingkat kerentanan (vulnerability) yang dimaknai sebagai tingkat kemudahan terkena terhadap kemungkinan wabah penyakit. Pemanfaatan tool SIDIK (Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan) yang diinisiasi oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bisa menjadi satu alternatif karena SIDIK sudah berhasil memadukan banyak variabel dan indikator untuk menilai tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap suatu kondisi. Kerentanan akan semakin tinggi manakala tingkat sensitivitas dan tingkat keterpaparan tinggi dengan tingkat kemampuan adaptasi yang rendah.
Dengan mengetahui titik kritis yang menyebabkan kerentanan maka akan tergambar upaya apa yang harus ditingkatkan atau justru harus diturunkan dengan tujuan akhirnya tingkat kerentanan akan berkurang. SIDIK juga akan merekomendasikan prioritisasi dalam upaya adaptasi perubahan iklim.
Tingkat kemampuan adaptasi masyarakat terhadap dampak PI memang harus dibangkitkan. Dalam hal ini upaya membangun kapasitas anggota masyarakat terkait pengetahuan, pemahaman serta ketrampilan tentang suatu hal sangat dibutuhkan. Dalam hal ini wabah dengue dan zika maka komunikasi untuk perubahan perilaku dalam COMBI (Communication For Behavioral Impact) diperlukan untuk disosialisasikan secara terstruktur. Inti dari COMBI ini adalah mengubah masyarakat dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari masyarakat yang sudah tahu menjadi mau, dari masyarakat yang sudah mau menjadi mampu. Tentu saja ini terkait dengan kerentanan apa yang dihadapi. Dalam hal ini terkait pencegahan dan penanggulangan DBD maupun potensi dari ZIKV.
Diharapkan hal-hal itulah yang akan berkontribusi untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yang memiliki ketahanan yang tinggi terhadap semua dampak PI (climate resilience) sebagaimana tujuan bersama yang termaktub dalam Sustainable Development Goals (SDG’s) sebagai kelanjutan tujuan program pembangunan millennium (MDG’s) yang berakhir pada 2015 yang lalu.
( tri astuti sugiyatmi dari rasa prihatin banyaknya kasus)

Friday, January 22, 2016

The real terrorist is…

The real terrorist is…
Peristiwa Kamis kemarin di Sarinah-Thamrin Jakarta mengagetkan kita semua. Ledakan bom kembali terjadi. Saya yang sedang berada di Bogor- yang relative dekat dengan ibu kota, tidak seperti biasanya yang lebih dekat ke perbatasan- ikut larut dalam isu itu. Apalagi berita, foto, ulasan sampai opini bertebaran di social media yang sangat mudah diakses dari wifi hotel. Tayangan televisi, Koran dan perbincangan di berbagai kesempatan pun masih terkait isu itu.
Ya setelah beberapa lama keadaan aman (setelah berbagai peristiwa bom sebelumnya), maka ledakan kali ini seolah menjadi rangkaian peristiwa serupa di luar sana. Ada bom London, Paris dll. Yang jelas siapapun korbannya dan dimanapun kejadiannya maka peristiwa terorisme menjadi sebuah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Saya rasa semua sepakat tentang hal itu. Namun yang seringkali menjadi perdebatan apakah agama tertentu mengajarkan terorisme ? 
Dalam banyak media mainstream itu, tuduhan itu seringkali disematkan pada Islam dan muslim sebagai penganutnya sebagai teroris. Seringkali mereka menisbahkan teroris dengan symbol-simbol yang hanya dianggap dekat dengan muslim. Berjilbab, bercadar, celana cingkrang, berjenggot dst…dst. Sesuatu yang sangat debatable. Pelabelan serampangan yang membuat situasi menjadi gampang saling curiga, menuduh, menghakimi dan pada akhirnya membuat situasi tidak equal. 
Banyak muslim yang berpenampilan demikian menjadi tertuduh, walaupun di banyak kasus juga terbantahkan. Mengenai agama yang dianut sebenarnya bisa jadi berbeda. Tapi penyematan cap dan stempel teroris seolah – olah hanya khusus bagi para muslim. Untuk yang lain hanya cukup istilah fundamentalis atau mungkin loyalis atau apalah yang secara rasa bahasa sangat jauh berbeda. Begitulah situasi yang ada secara opini public dalam berbagai mayoritas media yang ada.
Kebetulan dalam bulan- bulan ini ada pemutaran film “Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTLA)” yang menuturkan tentang dituduhnya salah seorang korban serangan September 2001 di Amerika yang kebetulan muslim sebagai teroris. Ini karena dia dianggap cukup misterius saat-saat menjelang peristiwa itu (dapat paket dari Afghanistan yang dianggap sebagai paket suci dari Allah). Pada hari naas itu dia juga menelpon keluarganya dengan kata-kata yang dianggap masih misteri maka penyematan julukan teroris tidak dapat dihindarkan. Bahkan keluarganya (baca istrinya) juga setengah mempercayainya. Apalagi namanya tidak tercantum sebagai salah satu korban dari tragedi terbesar umat manusia atas nama kekerasan itu. Ya akhirnya waktu jualah yang berbicara dan mengabarkan kebenaran, saat ada keterlibatan Hanum, seorang Jurnalis dan Rangga suami Hanum sekaligus mahasiswa doctoral di Austria, sebagai tokoh sentral dalam film itu. Dari investigasinya mereka akhirnya berhasil mengungkat bahwaa Abe atau Husein itu justru seorang pahlawan, khususnya bagi seorang Philippus Brown. Brown sendiri sebagai tokoh yang sangat terkenal karena kedermawanannya saat itu dan yang banyak bergerak di bidang kemanusiaan. Dalam sebuah kesempatan Brown akhirnya mengungkapkan apa dan bagaimana si Abe yang muslim itu justru menolongnya dalam peristiwa runtuhnya menara WTC itu. Diceritakan bahwa sekarang power of giving Philippus Brown yang awalnya membuat sejumlah tanda tanya besar di publik apa yang menyebabkan dia mengalami titik balik dari sikap sebelumnya yang sangat berlawanan. 
Itulah data yang ditemukan Hanum yang memang ditugasi pimpinannya di Surat kabarnya di Wina, untuk mengatakan bahwa : Would the World be Better Without Islam ?
Dan pada akhirnya JHanum pun mendapatkan kenyataan bahwa Brown pun yang miliarder dunia justru sangat kagum dengan Islam dan justru menyatakan hal yang sebaliknya. Ya philipus Brown yang non muslim pun mengakui bahwa dengan Islam dunia akan damai. Tidak benar bahwa akan lebih baik dunia tanpa Islam.
Senada dengan hal tersebut maka dalam novel ayat-ayat cinta 2 karya Habiburrahman el Shiraezi juga menyatakan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Fahri – seorang akademisi yang kaya raya di sebuah universitas di Inggris sekaligus pengusaha - diceritakan justru banyak menolong tetangga-tetangganya yang nota bene adalah tidak seagama dengannya. Dalam menolong pun tidak tanggung-tanggung. Hampir seluruh tetangganya yang mendapatkan sentuhan tangan dan hatinya berubah menjadi lebih baik. Bukan hanya dari sisi harta yang disedekahkan dalam jumlah yang sangat wow dan luar biasa tetapi juga ternyata dari sudut pemikiran yang juga amazing. 
Fahri sebagai seorang yang dianggap representasi muslim (lulusan dari Al Azhar Kairo dan Eropa) ditantang berdebat dengan 2 orang professor lain. Satu professor mengatakan dunia dianggap akan damai sejahtera tanpa agama. Ya paham inilah yang sekarang mulai menggejala. Bahwa agama dianggap sumber perpecahan, kekacauan, peperangan dll. Fahri menjawab bahwa sejatinya tanpa agama pun manusia masih juga bunuh membunuh. Berapa banyak korban manusia yang berjatuhan sebagai ambisi dari pihak/golongan/partai yang menganggap agama adalah candu. Komunis, katakan sudah jelas banyak menelan korban di berbagai tempat. Bahkan di negeri tercinta pada peristiwa Madiun 1948 serta tahun 1965. Artinya terbantahkan bahwa dunia akan damai dengan ajaran-ajaran yang mengabaikan agama. Jadi sangatlah tidak masuk akal kalau agama menjadi sesuatu yang harus dijauhi. 
Sementara satu professor yang lain beranggapan bahwa semua agama itu sama. Menurut Fahri hal ini juga tdidak masuk akal. Karena kenyataannya adalah berbeda. Bahwa ada perbedaan diantara agama itu adalah sesuatu yang wajar. Yang penting bahwa urusan akidah dan ibadah tidak bercampur-campur. Selebihnya muamalah antara sesama pemeluk agama adalah sangat dianjurkan. Bahkan dalam bukunya disampaikan bahwa Fahri _seorang yang hafal Alquran itu- justru menolong nenek yang akan pergi ke sinagog, sesuai agama yang dianutnya. Dan pada orang yang ditolong sekalipun seperti pada Keira, Jason Fahri sangat menghargai apa agama yang dianutnya.
Memang itu semua adalah berasal dari sebuah novel sebagai sumbernya. Namun, saya sebagai pembaca meyakini bahwa hal itu sangat menginspirasi dan hal itu memang bukan hal yang mustahil.
Seperti Sabtu pagi hari terakhir libur panjang tahun baru 2016 ini. Saya sedang menunggu di bandara Soetta dengan anak saya. Setelah check in maka naik ke lantai 2. Karena belum bisa masuk ruang tunggu sesuai dengan gate pesawat yang akan ditumpangi maka mencari tempat duduk yang lebih nyaman untuk menunggu dalam beberapa waktu. Pilihan jatuh dekat charger yang sedang ada seorang asing yang sedang asyik bekerja. Setelah permisi, aku duduk dekat nya. Saat sedang ngobrol dengan anak ternyata ada buku jatuh dari tas yang sedang ditata dari Bule itu. Oh ternyata Alquran. Spontan saya mau mengambilkan. Iseng-iseng bertanya : Are You Moslem ? ternyata jawabannya sungguh membuat aku jadi malu. “Belum, tapi saya akan mencoba. Ini sungguh berat…..”. 
Akhirnya saya menanyakan untuk memuaskan rasa penasaran : kenapa kamu tertarik sama Islam ? peristiwa apa dan bagaimana yang membuat kamu tertarik dengan Islam. Apakah karena isu-isu teroris di luar sana ? atau karena peristiwa WTC September 2001? Atau karena yang lain? 
Dia bilang bahwa memang keluarganya tidak happy dia belajar agama baru. Tapi dia merasa baik-baik saja untuk terus belajar. Dengan isu teroris yang saya singgung, dia bilang tidak khawatir dengan hal itu. Karena itu adalah stereotip yang diberikan oleh pihak-pihak lain yang sebenarnya hanya cocok pada segelintir muslim yang sempit pemikirannya. Atau bahkan non muslim yang melakukan perbuatan kekerasan.
“Saya justru khawatir dengan calon kandidat presiden Negara besar yang melarang muslim masuk ke negaranya. Calon presiden yang apakah kamu tahu ? siapakah dia?” Ya…ya saya bisa menangkap maksudnya. “Saya khawatir dengan dia….. he is the real terrorist …………. “ Dia menebarkan kebencian… “
Aku ternganga mendengar penuturannya…. Apakah kamu sungguh-sungguh? Dia mengangguk cepat. Ya aku berkali-kali mendengar nama calon presiden Negara adi daya itu berkali-kali disebut-sebut… Insyaallah nggak salah aku menangkap maksudnya…tentu saja ini debatable bagi yang sepaham dengan tokoh yang melarang muslim masuk negaranya itu. Tapi dari sini setidaknya aku makin tahu bahwa di luar sana – walaupun non muslim – juga tidak setuju dengan pendapat mainstream tadi. 
Akhirnya karena jam sudah menunjukkan waktu boarding nya dia maka cepat-cepat dia berbenah. Aku masih termangu. Dia menunjukkan nama dan paspornya berwarna merah itu. Canada.
Maka saat hari ini, aku melewati tempat yang sama saat aku ngobrol tentang Islam dan teroris dengan si Canada sekitar 2 minggu lalu. Ya hari ini 2 hari pasca pengeboman Sarinah Thamrin itu saat isu-isu yang hampir selalu memojokkan Islam sebagai agama masih menjadi raja di media, maka harus aku katakan pada diriku dan dunia bahwa sesungguhnya Islam adalah damai dan cinta. Aku setuju sengan Fahri yang menyatakan Islam yang sangat agung itu masih seringkali tertutupi oleh perilaku pemeluknya. Maka akhirnya aku berkesimpulan bahwa teroris yang sebenarnya adalah sang penebar kebencian dan cenderung memakai kekerasan untuk mencapai tujuannya. Wallahualam….(by. Tri Astuti Sugiyatmi, soeta dan Bpn)

Monday, December 28, 2015

HIV-AIDS dan Perilaku Kita

HIV-AIDS dan Perilaku Kita
Oleh:  Tri Astuti Sugiyatmi

1 Desember ini kita peringati sebagai hari AIDS sedunia.  Memperingati pada sebuah fenomena penyakit yang  sejak kemunculannya sampai sekarang masih mengharu biru umat manusia di dunia.  AIDS sebagai sebuah kumpulan gejala akibat HIV (virus yang memperlemah daya tahan tubuh manusia seringkali dihubungkan hanya  dengan perilaku  tidak sehat dan cenderung menyimpang dari umat manusia. Akibatnya memang tidak bisa dielakan berbagai  cap atau stempel buruk yang hampir selalu  menempel pada ODHA (orang dengan HIV AIDS). BIasanya pemberian  stigma  tadi hampir pasti akan diikuti dengan pembedaan perlakuan (diskriminasi) yang cenderung tidak menguntungkan dan bahkan merugikan bagi ODHA  maupun keluarganya.
Di beberapa daerah tertentu diagnosa HIV - AIDS dianggap sebagai aib bagi si pelaku dan keluarganya. Sehingga perlakuan buruk terhadap penderita dan keluarganya seringkali terjadi. ODHA Dipandang sebelah mata, dihina, dikucilkan, dibuang dan diusir dari  masyarakat terdekatnya. Pada beberapa kasus, keluarganya sendiri justru yang memperlakukan hal yang demikian. AIDS pada stadium akhir  dengan tampilan  fisik  yang parah  dengan kemunculan infeksi oportunistiknya yang bermacam-macam seperti  batuk berkepanjangan, diare tidak berkesudahan serta kehilangan berat badan yang sangat  besar   menjadikan fisiknya ibaratnya tinggal tulang dan kulit – dianggap sebagai   kondisi  yang sangat  mengerikan.   Bagi sebagian kalangan penyakit ini sering disebut sebagai penyakit “kutukan”- sebuah istilah yang seolah  merujuk pada  “hukuman” yang diberikan  dari Yang Maha Kuasa kepada manusia atas perilaku  buruknya. Dengan  perkembangan data epidemiologi HIV AIDS yang ada sekarang  justru menunjukkan adanya pergeseran  pola penderitanya, dimana istilah tersebut pada akhirnya  memudar untuk menyebut sudah terbantahkan.
Bila awalnya, data penderita  HIV AIDS hanya menyerang kaum penyuka sesama jenis  (homoseks).    Data terakhir  menyatakan bahwa jumlah  ibu rumah tangga biasa  yang  punya bersuami laki-laki (heteroseksual)    justru menempati prosentase tertinggi dari  berbagai macam profesi lain, bahkan wanita pekerja seksual (WPS) sekalipun.  Kasus HIV AIDS pada anak-anak yang tidak berdosa sebagai konsekuensi HIV-AIDS pada ibunya yang tidak terkelola dengan baik, serta pada pasien penerima transfusi  darah misalnya, menunjukkan bahwa sekarang HIV- AIDS menjadi penyakit yang bisa menyerang siapa saja.  Termasuk dalam hal ini adalah para petugas kesehatan yang setiap hari “bermain-main” dengan darah pasien.
Jadi menurut hemat penulis, ada dua klasifikasi  besar “jalur” untuk seseorang menjadi ODHA. Yang pertama adalah  ODHA hasil dari perilaku tidak sehatnya, seperti perilaku seks bebas dan mengkonsumsi narkoba suntik. Yang kedua  adalah yang karena “kecelakaan”  untuk menyebut  sebagai  takdir,  sesuatu yang sifatnya given  yang tidak bisa dipilih. Andaikan ada kesempatan memilih maka saya yakin ibu rumah tangga dan anak  yang tidak berdosa,   tidak akan mau menerima penyakit yang tanggungan psikologisnya bisa jadi lebih berat dari penyakitnya itu sendiri. Begitu juga pada penerima transfusi darah yang pendonornya masih dalam masa window periode - dimana pada saat itu walaupun virus sudah masuk dalam tubuh - tapi belum dapat terdeteksi  dengan pemeriksaan laboratorium yang ada.

Perilaku Sehat  Bagi ODHA
Sebelum masuk dalam pembahasan perilaku sehat maka perlu diketahui bahwa HIV ditularkan melalui media  cairan kelamin pria (sperma) dan wanita (cairan vagina), darah serta air susu ibu.  Dari sini terlihat bahwa HIV AIDS tidak menular lewat pernafasan seperti flu pada umumnya atau gigitan nyamuk seperti pada penyakit demam berdarah dengue (DBD) atau malaria.  Sehingga sangat tidak berdasar bila ODHA dikarantina dan kita tidak mau berhubungan sosial dengan para ODHA yang ada.  Bersalaman, berpelukan, makan bersama, berenang, memakai toilet secara bersama  bahkan hidup serumah dengan HIV AIDS terbukti aman saja.
Memang akan menjadi masalah yang cukup besar pada pasangan suami istri dimana salah satunya adalah positif (diskordan).  Tentu saja keinginannya adalah yang negatif dipertahankan untuk tetap negatif, artinya baik suami/istri yang positif diharapkan tidak menulari yang masih sehat.  Pada saat pasangan yang terkena sudah membuka statusnya pada istri / suaminya maka urusan akan menjadi lebih mudah.   Tetap ada upaya dan jalan bagi pasangan diskordan yang ingin tetap “aman” saat berhubungan seksual. Bahkan upaya yang sama  juga disarankan untuk dipakai juga pada pasangan yang dua-duanya sudah dianggap positif sebagai upaya untuk menghindari pertukaran jenis virus antara keduanya.
Pasangan sah dimana salah satu ODHA atau bahkan dua-duanya ODHA juga terkadang  menginginkan mempunyai keturunan. Ya siapa yang bisa mengingkari bahwa ada hak dari pasangan suami istri sah untuk mendapatkan keturunan sebagai penerusnya kelak, sekalipun salah satu pasangan positif HIV atau bahkan dua-duanya. Khusus pada pasangan diskordan bila yang terkena adalah suami maka untuk mendapatkan keturunan maka diupayakan pada saat pembuahan terjadi diharapkan kondisi dari Si suami  dalam kondisi terbaik (ada parameter pengukurannya yaitu  dengan menghitung jumlah sel darah putih yang berfungsi sebagai tentara tubuh) dan jumlah virus dalam tubuhnya (viral load) dalam kondisi yang sangat kecil. Tentu saja ini adalah sebagai upaya supaya pasangannya tetap diusahakan tidak tertular. Namun andaikan Si ibu sudah juga menjadi ODHA maka ada beberapa program yang harus diikuti supaya bayi yang dikandungnya mempunyai kemungkinan untuk tertularnya virus ini  menjadi lebih kecil.
Program Pencegahan Ibu ke Anak (PPIA) atau dulu dikenal sebagai Prevention Mother To Child Transmission (PMTCT) sudah bisa membuktikan  bahwa walaupun si janin menerima makanan lewat plasenta dari ibunya dalam proses kehamilannya,   tetapi si bayi yang berkembang menjadi anak ada kemungkinan  tetap dinyatakan negatif pada saatnya diperiksa nanti, saat ibunya patuh mengikuti saran dari program. Pada saat sekarang ini ibu hamil dengan HIV positif di tubuhnya sudah harus meminum ARV (obat anti retro viral) yang walaupun tidak membunuh si virus  tetapi  bisa menekan perkembangan laju virus. Selain itu   persalinan juga tetap harus dilakukan dengan persiapan matang dan biasanya karena ada juga penularan lewat ASI maka anak biasanya mendapat pengganti dari ASI. Keberhasilan PPIA biasanya tergantung dari semua rangkaian saat kehamilan (antenatal), saat persalinan dan saat laktasi.  
Itulah berbagai perilaku yang diharapkan bagi orang yang sudah “kadung” terkena HIV AIDS baik karena perilaku buruknya  di masa lalu maupun karena karena “kecelakaan” tadi. Tapi yang jelas para ODHA memang juga harus paham bagaimana supaya orang yang dalam lingkaran terdekatnya ( keluarga yang dicintainya) tidak terkena penyakit ini.
Dalam beberapa kasus maka ODHA yang sudah sadar akan cara penularan biasanya akan berterus terang kepada yang merawat kesehatan kepadanya.  Bisa dipahami bahwa untuk melakukan hal ini biasanya akan sangat berat, karena diperlukan kebesaran jiwa ODHA untuk melakukan hal ini. Pada akhirnya tentu saja hal ini dikembalikan pada masing-masing ODHA khususnya dalam hal kesiapan mentalnya.  
Dengan dukungan  dan dorongan dari keluarga tercinta dan lingkungan besarnya maka perilaku buruk sebagai salah satu jalur menuju ODHA hendaknya menjadi masa lalu dan sekarang saatnya untuk  switch (mengubahnya) menjadi lebih baik. Walaupun pahit memang itulah satu-satunya pilihan yang harus ditempuh. Berdamai dengan masa lalu untuk menatap masa depan yang lebih baik. 
Jauhi Perilaku yang Berisiko
Kementrian kesehatan menyatakan bahwa dua hal yang menjadi penyumbang angka HIV AIDS terbanyak adalah melalui transmisi seksual maupun pemakaian narkoba suntik.  Dari keseluruhan ODHA  di tahun 2012 maka hampir separohnya ( 47%) adalah dari kalangan pemakai narkoba suntik ( penasun).
Khususnya dalam hal transmisi seksual walaupun dinyatakan hubungan seksual cukup kecil kemungkinannnya untuk menularkan HIV  tetapi karena  frekuensi dilakukannya tinggi  dan dilakukan oleh secara lebih luas maka kontribusinya dalam penularan ini juga cukup signifikan.
Dalam sebuah pemetaan yang dilakukan KPA Nasional juga ditemukan fakta bahwa pada tahun 2012 dinyatakan bahwa ada sekitar 6,9 juta pria pembeli seks. Ya sekali lagi pria. Bahwa si pria inilah  yang dengan berbagai macam latar belakang pekerjaan akan membeli seks di luaran dengan wanita pekeja seksual (WPS) maupun “ayam kampus” atau “ayam sekolah” dan membawanya pulang ke rumah sehingga pada akhirnya akan menularkan pada istri dan ada risiko bagi anak yang dikandung oleh istrinya. Pria seperti inilah yang kita kenal sebagai LBT (lelaki Berisiko tinggi). Biasanya LBT mempunyai sebuah kesamaan seperti mempunyai uang,  mobile dalam pekerjaannya maupun mempunyai sikap ingin diakui macho di lingkungannya (4M= man with money, mobile, macho behavior).
Prostitusi online  seperti yang banyak diliput  oleh media massa pada waktu ini  tentu saja sangat berisiko  tertular HIV AIDS. Bagaimanapun cantiknya dan sempurnanya tampilan luar si penjaja seks  maka risiko untuk terkena Infeksi menular seksual (IMS)  dan otomatis sebagai pintu masuknya virus HIV ke dalam tubuh  menjadi lebih terbuka. Begitu pula prostitusi “off line” atau prostitusi konvensional, free sex (hubungan seks secara bebas dan berganti pasangan) juga  membuka peluang ke arah HIV AIDS.  Tentu saja kembali bahwa yang menjadi perantara adalah “ si pria tadi”.
Bagi para pria seperti ini,  memang diharapkan sejak awal bahwa kuncinya adalah Be faithful (setia dengan pasangannya). Abstinence atau tidak berhubungan seks sama sekali juga sangat disarankan bagi para pria yang jauh dari keluarga. Ya ternyata pernyataan anggota KPAN beberapa waktu yang lalu pada sebuah acara di gedung serbaguna walikota Tarakan  bahwa perintah menjauhi zina dan “berpuasa” dari seks sangat pas diterapkan dalam pencegahan HIV AIDS. Memang bisa jadi agak  rumit pendekatan bagi para kalangan tertentu  yang sudah tidak mempan lagi diberi pemahaman tentang  sebuah tata nilai.
Data tentang seks bebas  di kalangan pelajar khususnya di Kaltim saat itu juga tidak kalah mengerikannya. Betapa data dari PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia ) tahun 2010 yang mendapatkan data bahwa pelajar SMP dan SMA kita (termasuk kota Tarakan tentunya) mencapai 20% dan naik menjadi 80% di tahun 2012.   Jangan hanya berpikir mereka bahwa mereka hanya dengan berhubungan sesama temannya bahkan sekarang ditengarai bahwa banyak juga mereka yang akan main dengan “si Om-Om LBT”  dengan berbagai motif seperti ekonomi maupun  pola pikir hedonism dan pragmatism yang sudah sangat keblinger.
Maka tak heran bila usia penderita HIV AIDS  juga ditemukan makin muda umurnya-  tentu saja diluar dari anak yang tertular dari ibunya. Bila menilik bahwa waktu yang dibutuhkan mulai masuknya HIV ke dalam tubuh sampai menjadi AIDS cukup lama 3-10 tahun, maka bila sudah ada yang ditemukan AIDS pada usia muda / produktif maka dapat kita bayangkan berapa saat HIV baru pertama kali masuk ke dalam tubuhnya.
Di sisi lain para pemakai narkoba suntik yang cenderung bergantian memakai jarum suntik akan mempunyai risiko yang berlipat-lipat pula untuk terkena yang diperingati setiap 1 Desember  dalam setiap tahunnya ini.  Bukan berarti bahwa pemakai narkoba non suntik lebih aman, karena seringkali  kalangan ini kehilangan orientasi normalnya saat dalam pengaruh obat/ sabu misalnya dan dalam kondisi demikian maka  biasanya ada kecenderungan besar untuk bermain seks bebas juga.        
Karena penularan HIV AIDS bisa juga alat medis seperti alat kedokteran gigi, peralatan bedah, maupun alat tusuk dan iris lainnya maka  diharapkan bagi para petugas kesehatan tetap melaksanakan kewaspadaan umum dalam melaksanakan praktik medis, kebidanan dan keperawatan. Dalam hal ini semua pasien diperlakukan sama dengan “praduga bersalah” bahwa semua adalah dianggap  ODHA. Artinya bahwa dalam menghadapi pasien penerapan standar universal precaution menjadi sesuatu yang wajib dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.  Tentu saja  maka diharapkan bahwa petugas kesehatan tetap melayani dengan baik sesuai dengan standar-standar yang ada untuk semua kalangan.
Begitu tingginya paparan darah dan berbagai specimen lainnya pada orang  yang berkecipung dalam bidang pelayanan medis maka para pengelola limbah medis (termasuk didalamnya adalah para petugas cleaning service) sekalipun untuk tetap dapat memakai alat pelindung diri (APD) sesuai yang dipersyaratkan.
Penutup
Maka menurut hemat penulis  bagi semua pihak yang dalam tesnya sampai sekarang dinyatakan negatif  maka diharapkan tetap  menjauhi dari perilaku berisiko. Bagi yang sudah terlanjur menjadi ODHA maka masih banyak cara dan jalan untuk tetap menjadi bahagia. Mengubah gaya hidup menjadi lebih positif, cegah jangan sampai keluarga terdekat ikut menjadi positif HIV AIDS maupun mengikuti alur program termasuk dalam hal pengobatan.
Bagi para remaja dan pemuda tetaplah dalam sebuah value yang murni. Sesuai dengan napas dari ABAT (Aku Bangga Aku Tahu) : Jiwa yang tegar menolak menggunakan narkoba dan Hati yang murni menolak perilaku seks bebas. Senada juga dengan motto dari  Gen Re (generasi Berencana) –program dari BKKBN- yaitu untuk menjauhi free sex, narkoba dan HIV AIDS.   

Tuesday, November 17, 2015

Isu Asap Rokok di Tengah Bencana Kabut Asap


Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Saat kabut asap beserta semua penyebab dan dampak ikutannya masih menghiasi media masa ternyata di lain sisi, masalah rokok dan tentu saja asapnya akhir-akhir ini juga sempat menyeruak. Mulai dari masuknya kretek (sebagai penghasil asap rokok bila dibakar) dalam Rancangan Undang-Undang Kebudayaan (RUUK). Walaupun kabarnya sudah dibatalkan tetapi sudah sempat menimbulkan pro kontra di masyarakat. Tidak berapa lama tersiar kabar kembali bahwa di dalam Permenperin no 63 tahun 2015 tertanggal 10 Agustus 2015 ternyata juga memuat hal yang “serupa tapi tak sama”. Rokok kretek dianggap sebagai warisan budaya bangsa bahkan lebih jauh dianggap sebagai identitas dan nasionalisme bangsa.
Asap rokok memang berbeda dengan kabut asap, tetapi mendiskusikan keduanya sangat menarik. Secara umum bahwa keduanya bisa dikatakan sebagai bencana yang dibuat oleh manusia (man made disaster). Satu hal yang mengejutkan adalah salah satu kebakaran hutan ditengarai karena akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan!
Tragedi kabut asap yang sangat masif sedikitnya sudah menelan puluhan bahkan ratusan ribu ribu angka kesakitan khususnya terkait dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan penyakit iritasi mata dan kulit serta menyebabkan beberapa korban meninggal.
Saat bangsa ini masih berkutat pada penanganan kabut asap yang tak kunjung usai maka disisi lain pemerintah juga akan menciptakan sumber asap baru (baca: asap rokok) beserta seluruh konsekuensinya dalam hal kesehatan.
Perbedaan dan Persamaan
Kejadian kabut asap yang serentak pada sedikitnya 7 propinsi itu dan sudah melebar ke negeri jiran memang menimbulkan kehebohan yang amat sangat. Sinar matahari tiba-tiba tidak terlihat hampir sepanjang hari. Suasana redup dan cenderung muram di hampir seluruh wilayah terdampak. Kondisi ekonomi ikut lesu.
Sementara di sisi lain , asap rokok dianggap menimbulkan kegembiraan dan surga bagi sebagian orang (walaupun sebaliknya menjadi neraka bagi yang lain). Produk tembakau sebagaimana dalam Permenperin tadi dianggap sebagai pencipta kemandirian ekonomi dan kesejahteraan bangsa, walaupun dalam kenyataan bisa jadi sebaliknya.
Jika kabut asap datang secara musiman saat kemarau akibat kebakaran maupun pembakaran hutan dan atau lahan maka paparan asap rokok akan cenderung konstan sepanjang tahun alias tidak musiman. Pada saat diisukan daya beli masyarakat menurun akibat rupiah yang terpuruk alias “musim paceklik" maka ada release yang menyatakan bahwa rokok menjadi salah satu produk yang tidak terpengaruh daya belinya. Tentu saja ini terkait bahwa merokok dianggap sudah jadi kebutuhan pokok bagi para pecandunya.
Efek kabut asap juga sudah bisa memaksa para petinggi untuk bertindak tegas. Tak kurang orang nomor satu di republik ini pun ikut turun meninjau langsung lokasi kebakaran hutan baik di Kalimantan mauun di Sumatera. Beberapa pihak, pengusaha bahkan korporasi asing juga dipidanakan karena dianggap sebagai penyebab. Publik pun sepakat dan mengapresiasi hal tersebut.
Dalam kasus asap rokok justru sebaliknya, maka perhatian Sang Presiden sangat jauh berbeda. Kerangka Kerja FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) yang menjadi dasar untuk pengendalian tembakau beserta racun dan asapnya – sampai sekarang masih mangkrak. Bila dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan (kemnekes) 2015-2019 yang menjadi acuan perencanaan dan pelaksanaan visi misi dan Nawacita Presiden disebutkan bahwa FCTC menjadi amanat yang sangat direkomendasikan. Maka dalam kenyataannya FCTC justru ditentang di sana sini sementara dengan munculnya aturan di kementrian lain yang sangat bertentangan menjadikan keberpihakan pemerintah pada perlindungan masyarakat akibat asap rokok sangat diragukan.
Begitupun reaksi legislative serta sebagian masyarakat terbelah terpolarisasi menjadi dua kutub besar. Industri tembakau dianggap akan mendatangkan keuntungan bagi Negara tanpa penah memperdulikan berapa kerugian akibat jatuhnya para perokok muda menjadi pecandu dan “menabungnya” menjadi sebuah penyakit yang akan dituainya pada saatnya nanti. Alih-alih melakukan perlindungan yang lebih baik maka RUU Pertembakauan yang lebih pro pada industri rokok dipaksakan masuk dalam prolegnas tahun ini.
Dampak Kesehatan
Kandungan kabut asap yang dalam banyak studi dikatakan banyak mengandung partikel serta beberapa jenis gas seperti Co2 dan CO maka kandungan dalam dalam rokok dan asapnya lebih bervariasi dan lebih banyak. Ada sekitar 4000 jenis racun dalam rokok dimana terdapat beberapa kandungan logam berat seperti timbal dan Cadmium. Yang paling terkenal adalah nikotin sebagai zat yang menimbulkan kecanduan bagi para perokok. Maka bisa jadi sebatang rokok yang disulut dan asapnya menyebar ke orang lain akan menjadikannya sebagai the second hand smoker atau sering disebut sebagai perokok pasif. Sementara residunya menempel pada pakaian misalnya akan menjadikan orang lain lagi akan menjadi the third hand smoker yang sama berisiko menderita berbagai penyakit akibat rokok.
Bila kabut asap banyak terkait dengan penyakit yang menyerang secara akut maka dalam banyak studi rokok justru menjadi faktor risiko untuk terjadinya berbagai jenis penyakit kronis seperti kanker, stroke, kencing manis, darah tinggi, penyakit jantung. Seperti kita ketahui semua jenis penyakit kronis ini bersifat katastrofik alias berbiaya besar dan punya potensi memiskinkan seseorang yang berobat tanpa bantuan jaminan kesehatan.
Kesimpulan
Dengan mengemukakan berbagai fakta persamaan dan perbedaan ini maka bukan berarti mengecilkan peristiwa dan dampak kabut asap. Penulis hanya ingin menyampaikan peristiwa yang berjalan sekitar 3 bulanan yang sudah sangat mengharubiru hendaknya menjadikan semua pihak dapat mengambil pelajaran.
Pemberian ijin pembukaan hutan dan lahan yang –tentu saja- niatnya untuk kesejahteran tetap harus diimbangi dengan regulasi yang kuat dalam hal pengendaliannya. Bila tidak maka kejadian seperti ini akan berulang terus menerus setiap tahun. Begitu pula dalam kasus produk tembakau dan turunannya maka bila tidak ada niat dan upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada rakyatnya, maka tunggulah bencana itu akan datang pada waktunya. Maka, aksesi FCTC menjadi sebuah keniscayaan !

Tuesday, October 27, 2015

Tafsir Kompleks di Balik Aroma Rokok

(late post) Tafsir Kompleks di Balik  Aroma Rokok

Tri Astuti Sugiyatmi**
Seorang artis yang sekaligus anggota dewan yang kepergok kamera sedang merokok di ruang Komisi X  mendapat tanggapan dari beberapa pihak. Tanggapan dari partai pengusungnya dan fraksinya yang dalam waktu cukup cepat  melegakan banyak pihak. Bahkan mereka mengaku akan memberi teguran dengan alasan  dianggap melanggar kode etik. Walaupun terlalu dini tapi ini menjadi  upaya yang cukup memberi harapan pada  masyarakat luas.
Bandingkan dengan apa yang terjadi di  eksekutif anggota Kabinet Kerja justru sebaliknya. Aroma’ rokok  sudah  tercium dari (anggota) Kabinet Kerja sejak hari pertama pengumuman  dan pelantikan  menteri pada Kabinet Kerja bentukan Presiden Jokowi .  Salah satu   menteri yang  terpergok merokok di depan juruwarta juga  mengundang  banyak komentar. Sikap yang santai  terkait kebiasaan merokoknya  tak urung menjadi  tanda tanya besar.
Terkait dengan isu rokok di anggota Kabinet juga masih segar di ingatan kita saat Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa membagikan bantuan makanannya yang disisipi sejumlah bungkus rokok kepada warga pedalaman (orang rimba) di Provinsi Jambi. Bila  pemberian rokok  yang ditengarai didanai oleh   sponsor rokok adalah sebuah “kecelakaan” semata  maka seharusnya Mensos akan minta maaf kepada masyarakat luas. Ironisnya sampai sekarang  tidak ada kata permintaan maaf dari kemensos tentang hal itu. Maka dapat disimpulkan bahwa ini adalah sebuah kesengajaan.
Dua isu rokok yang berada di wilayah legislative dan eksekutif yang  cukup mencolok itu menunjukkan perbedaan tanggapan  khusunya pada kasus di atas,  menimbulkan tafsir  yang lebih kompleks.
Di sisi lain Kementrian kesehatan sebagai baian dari Kabinet Kerja  sudah mempunyai program yang terkait dengan pengendalian  pertembakauan. Mulai dari promosi kesehatan tentang bahaya merokok, program klinik berhenti merokok serta upaya untuk mempersempit ruang gerak para perokok dengan Kawasan tanpa Rokok maupun kawasan terbatas merokok. Di samping ada upaya untuk pengaturan iklan merokok di berbagai media.
Sebaliknya di sisi legislative  periode sebelumnya  justru sangat pro rokok.  Yang paling menyolok adalah hebohnya kronologis  hilangnya Pasal 113 ayat 2 dan ayat 3  (ayat yang menggolongkan tembakau sebagai sebagai zat adiktif dan pengaturan segala hal terkait tembakau) pada UU 36 tahun 2009  tentang Kesehatan. Ditengarai hilangnya ayat tembakau ada hubungannya dengan ulah  oknum  anggota DPR yang menunjukkan banyak pihak punya kepentingan dalam hal ini. 
Bahkan dalam program legislasi nasional tahun 2013,  RUU Pertembakauan juga muncul sebagai usulan sebuah perusahaan rokok yang juga sangat berpotensi melemahkan aspek perlindungan masyarakat akibat konsumsi rokok.
  
 Jadi ada sebuah tafsir yang cukup kompleks yang diperlihatkan pada sebuah kebijakan terutama rokok antara dewan yang lama (oknum PDIP) dengan dewan yang baru (oknum partai lawan-PAN). Sedangkan pada eksekutif  keengganann  untuk meratifikasi piagam FCTC (Framework Convention on Tobacco Control)  pada pemerintah  SBY dan Jokowi ini masih tetap  walaupun khsusunya pada pemerntah sekarang makin parah khusunya kebijakan pro rokok yang cukup terlihat secara telanjang seperti pada kasus di atas. Sehingga janganlah heran bila negara kita  menjadi satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani dan mengaksesi kerangka kerja internasional dari badan kesehatan dunia (WHO) untuk mencegah meluasnya epidemi merokok itu.
Dampak
Akibatnya bisa ditebak bahwa  isu kesehatan yang digelindingkan untuk menangkal produk yang mengandung 4000 zat berbahaya ini tidak akan cukup kuat untuk menahan   gempuran iklan rokok yang sangat dikesankan positif itu. Papan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi aturan semata yang begitu mudah untuk dilanggar.   Gambar seram pada kemasan rokok  bahkan hanya dianggap sepi oleh para pecandu berat.
Studi tentang  dampak rokok yang menunjukkan   Angka kesakitan dan kematian akibat merokok  di Indonesia  yang sangat luar biasa tidak pernah dipakai sebagai bahan untuk mengambil kebijakan publik.  Begitu juga dampak sosial dari merokok juga tidak diragukan lagi tidak sekalipun dilirik untuk menjadi asupan kebijakan. Bagaimana  Usia mulai merokok yang semakin muda menimbulkan keprihatinan tersendiri.  Ditengarai juga bahwa rokok juga menjadi pintu masuk bagi candu jenis lain seperti  napza (narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya). Walaupun   sebagian kalangan menganggap hal tersebut   berlebihan.  Dampak dari sisi ekonomi  yang disampaian oleh Badan kebijakan fiskal pada tahun 2012 menggambarkan penerimaan cukai yang hanya sekitar 50T  sangat tidak imbang  untuk  menutupi total kerugian ekonomi secara makro akibat konsumsi merokok yang mencapai angka 245,41T.
Pro si Miskin atau Pro Pemiskinan
Dengan berbagai “drama” terkait tarik menarik regulasi antara yang pro dan kontra tembakau di level “atas”akan menjadikan masyarakat juga semakin  tahu dan paham bagaimana  kemungkinan arah kebijakan ke depan terkait dengan tembakau 
Penulis sangat  sepakat dengan aktivis YLKI  Tulus Abadi yang  menganggap bahwa tindakan Mensos tersebut   akan  menjadikan   masyarakat semakin miskin.  Mensos bukan sedang menjalankan pro poor policy (kebijakan yang pro pada si miskin)  tetapi justru  lebih  jauh lagi  bahwa  pembagian rokok pada masyarakat miskin karena adanya sponsor industri rokok adalah sebuah tindakan  yang terstruktur untuk  memiskinkanan masyarakat (pro pemiskinan masyarakat). Sebuah situasi yang sangat berbeda!
Dalam kasus ini menurut hemat penulis  sikap  top leader -dalam hal ini Bapak Presiden yang terhormat- akan menentukan arah ke depan apakah hasil-hasil pembangunan manusia yang sudah dan akan dilakukan akan semakin mendekatkan dengan berbagai macam indikator dan parameter  sebuah kesuksesan atau justru sebaliknya.  Maka, bola tentang rokok  ada di tangan Anda, Bapak Presiden……
Satu hal yang mengejutkan bahwa biaya konsumsi rokok (serta sirih)  pada masyarakat miskin menempati porsi pengeluaran yang terbesar kedua setelah kebutuhan akan padi-padian sebagai makanan pokok. Sangat ironis bahwa biaya untuk rokok juga berlipat- lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk investasi  pendidikan dan kesehatan  yang sebenarnya  sebagai  syarat utama untuk rumah tangga miskin bisa bangkit dari keadaan yang membelitnya.


Dampak Kesehatan Akibat Asap


Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Dalam beberapa waktu terakhir , kabut asap masih menyelimuti beberapa wilayah di pulau Kalimanatan dan Sumatera, Selama beberapa waktu kabut asap juga menyelimuti kota Tarakan.
Kabut asap secara umum bersifat  kabut asap bersifat musiman (biasanya musim kemarau) karena adanya aktivitas pembakaran lahan sebagai cara murah untuk pembukaan lahan pertanian. Walaupun di kota pulau ini tidak ada hutan yang terbakar/ dibakar, tetapi asap tetap datang.  Besar kemungkinan adalah asap kiriman yang tertiup angina dari wilayah yang terbakar. Seperti  juga diketahui  bahkan kabut asap ini juga sampai menyebrang ke negeri jiran seperti  Singapura,  Malaysia dan Thailand.
Bencana Kabut asap membuat kegaduhan karena membuat bencana  masal, yang  juga karenanya membuat  udara segar menjadi sesuatu yang mahal.  Saat itu  sebagian kota di pulau Sumatera dan Kalimantan maka matahari  kadang  tidak kelihatan seharian. Langit juga tidak terlihat  secara jelas.
Kandungan kabut asap :
Menyitir  publikasi dari Departemen pulmonology dan Ilmu kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran dan RS Persahabatan  maka disampaikan  bahwa kandungan kabut asap  dapat berupa  partikel dan komponen gas.   Zat-zat tersebut  bisa berupa  perpaduan atau campuran karbon dioksida (Co2), air (H2O), zat yang terdifusi  di udara, zat partikulat, hidrokarbon, zat kimia organik, nitrogen oksida dan mineral. Ribuan komponen lainnya dapat ditemukan tersendiri dalam asap. Sedangkan komposisi asap tergantung dari banyak faktor,yaitu jenis bahan pembakar, kelembaban, temperatur api, kondisi angina yang terjadi di daerah itu.
Tentu saja kandungan berbagai zat tersebut akan tidak menguntungkan bagi  para kelompok rentan terutama seperti  para lansia (lanjut usia),  kelompok umur di bawah lima tahun (balita) serta kelompok yang memang memiliki penyakit pada saluran napas  pada kondisi sebelumnya.
Akibatnya tentu seperti yang sudah banyak beredar di media massa. Bahwa penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengalami kenaikan yang cukup signifikan.  Iritasi  maupun Infeksi  pada kulit dan mata  juga dilaporkan.  Pada beberapa media bahkan sudah menayangkan bahwa korban jiwa sudah berjatuhan  sebanyak 9 orang jiwa. Sepanjang  musim kabut asap belum berlalu maka jumlah korban akan semakin bertambah  terus. 
Dampak “Asap Lain”
Sebenarnya  dampak dari asap lain  selain kabut asap juga mengalami kemiripan. Ambang polusi udara akibat  bahan bakar fosil  karena kendaraan bermotor  maupun asap pabrik juga tidak kalah mengerikannya.  Memang dalam hal ini  biasanya hanya terjadi di daerah kota besar yang ramai serta daerah industri.   Efek kabut karena kebakaran hutan memang lebih massif karena  mengenai  daerah terdampak  baik di  daerah urban dan rural. Kedua efek ini  sebenarnya dapat dideteksi dengan Indeks Standar Pencemaran Udara ( ISPU).   Kedua  jenis asap ini walaupun berbeda tetapi mempunyai efek kesehatan yang mirip. Sehingga  pengendaliannya dengan cara  mengintervensi penyebabnya.  Bagaiman kebakaran lahar harus dipadamkan dengan segera serta bagaimana penghematan/ pembatasan  pemakaian  bahan bakar fosil .
Satu hal  yang penting dari jenis asap adalah AROL  sebagai singkatan dari Asap Rokok Orang Lain.  Ini adalah jenis asap yang membuat orang yang terdampak sebagai  perokok pasif (second hand smoker), walaupun dia sendiri tidak merokok).  Sementara residu dari asap rokok yang menempel di baju akan menjadikan orang lain yang tidak merokok juga bisa menjadi  thirdhand smoker.  Efek  rokok beserta asapnya pada  orang kedua (yang menerima asapnya) dan orang ketiga(yang menerima residua sap)  juga punya peluang yang sama bahkan pada beberapa literature bisa jadi akan lebih parah dari perokok aktif sendiri.
Berbagai jenis penyakit ISPA, saluran pernapasan juga menjadi  lebih mudah menyerang pada kelompok rentan. Sedangkan  factor risiko awalnya (dari kegiatan merokok) juga berpadu dengan kegiatan lain seperti  diet yang tidak seimbang, kurang aktifitas fisik, konsumsi minuman keras juga kan menjadikan penyakit seperti kanker,  kencing manis, darah tinggi dan komplikasinya seperti stroke, penyakit jantung akan berlipat-lipat banyaknya. Dampak akibat asap rokok bisa jadi terlihat lebih ‘seram’ daripada kabut asap karena zat yang ada di dalamnya ada sekitar 10.000  zat aktifnya. Termasuk di dalamnya terdapat zat-zat yang tidak ada di dalam kabut asap akibat pembakaran hutan seperti ada asam asetik (zat yang terdapatdalm pembersih lantai), hydrogen sianida ( zat dalam racun tikus), geranoil zat yang terdapat dalam pestisida, formalin (zat pengawet jenazah) dan beberapa bahan berbahaya lain.
Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa  dampak asap (kabut asap, polusi udara karena BBM fosil dan industry, serta asap rokok)  mempunyai dampak yang cukup besar pada masalah kesehatan.  Untuk itulah perlu juga upaya-upaya pencegahan dengan berbagai macam cara sehingga dampak asap pada kesehatan dapat ditekan serendah mungkin. Semoga.