Friday, January 22, 2016

The real terrorist is…

The real terrorist is…
Peristiwa Kamis kemarin di Sarinah-Thamrin Jakarta mengagetkan kita semua. Ledakan bom kembali terjadi. Saya yang sedang berada di Bogor- yang relative dekat dengan ibu kota, tidak seperti biasanya yang lebih dekat ke perbatasan- ikut larut dalam isu itu. Apalagi berita, foto, ulasan sampai opini bertebaran di social media yang sangat mudah diakses dari wifi hotel. Tayangan televisi, Koran dan perbincangan di berbagai kesempatan pun masih terkait isu itu.
Ya setelah beberapa lama keadaan aman (setelah berbagai peristiwa bom sebelumnya), maka ledakan kali ini seolah menjadi rangkaian peristiwa serupa di luar sana. Ada bom London, Paris dll. Yang jelas siapapun korbannya dan dimanapun kejadiannya maka peristiwa terorisme menjadi sebuah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Saya rasa semua sepakat tentang hal itu. Namun yang seringkali menjadi perdebatan apakah agama tertentu mengajarkan terorisme ? 
Dalam banyak media mainstream itu, tuduhan itu seringkali disematkan pada Islam dan muslim sebagai penganutnya sebagai teroris. Seringkali mereka menisbahkan teroris dengan symbol-simbol yang hanya dianggap dekat dengan muslim. Berjilbab, bercadar, celana cingkrang, berjenggot dst…dst. Sesuatu yang sangat debatable. Pelabelan serampangan yang membuat situasi menjadi gampang saling curiga, menuduh, menghakimi dan pada akhirnya membuat situasi tidak equal. 
Banyak muslim yang berpenampilan demikian menjadi tertuduh, walaupun di banyak kasus juga terbantahkan. Mengenai agama yang dianut sebenarnya bisa jadi berbeda. Tapi penyematan cap dan stempel teroris seolah – olah hanya khusus bagi para muslim. Untuk yang lain hanya cukup istilah fundamentalis atau mungkin loyalis atau apalah yang secara rasa bahasa sangat jauh berbeda. Begitulah situasi yang ada secara opini public dalam berbagai mayoritas media yang ada.
Kebetulan dalam bulan- bulan ini ada pemutaran film “Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTLA)” yang menuturkan tentang dituduhnya salah seorang korban serangan September 2001 di Amerika yang kebetulan muslim sebagai teroris. Ini karena dia dianggap cukup misterius saat-saat menjelang peristiwa itu (dapat paket dari Afghanistan yang dianggap sebagai paket suci dari Allah). Pada hari naas itu dia juga menelpon keluarganya dengan kata-kata yang dianggap masih misteri maka penyematan julukan teroris tidak dapat dihindarkan. Bahkan keluarganya (baca istrinya) juga setengah mempercayainya. Apalagi namanya tidak tercantum sebagai salah satu korban dari tragedi terbesar umat manusia atas nama kekerasan itu. Ya akhirnya waktu jualah yang berbicara dan mengabarkan kebenaran, saat ada keterlibatan Hanum, seorang Jurnalis dan Rangga suami Hanum sekaligus mahasiswa doctoral di Austria, sebagai tokoh sentral dalam film itu. Dari investigasinya mereka akhirnya berhasil mengungkat bahwaa Abe atau Husein itu justru seorang pahlawan, khususnya bagi seorang Philippus Brown. Brown sendiri sebagai tokoh yang sangat terkenal karena kedermawanannya saat itu dan yang banyak bergerak di bidang kemanusiaan. Dalam sebuah kesempatan Brown akhirnya mengungkapkan apa dan bagaimana si Abe yang muslim itu justru menolongnya dalam peristiwa runtuhnya menara WTC itu. Diceritakan bahwa sekarang power of giving Philippus Brown yang awalnya membuat sejumlah tanda tanya besar di publik apa yang menyebabkan dia mengalami titik balik dari sikap sebelumnya yang sangat berlawanan. 
Itulah data yang ditemukan Hanum yang memang ditugasi pimpinannya di Surat kabarnya di Wina, untuk mengatakan bahwa : Would the World be Better Without Islam ?
Dan pada akhirnya JHanum pun mendapatkan kenyataan bahwa Brown pun yang miliarder dunia justru sangat kagum dengan Islam dan justru menyatakan hal yang sebaliknya. Ya philipus Brown yang non muslim pun mengakui bahwa dengan Islam dunia akan damai. Tidak benar bahwa akan lebih baik dunia tanpa Islam.
Senada dengan hal tersebut maka dalam novel ayat-ayat cinta 2 karya Habiburrahman el Shiraezi juga menyatakan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Fahri – seorang akademisi yang kaya raya di sebuah universitas di Inggris sekaligus pengusaha - diceritakan justru banyak menolong tetangga-tetangganya yang nota bene adalah tidak seagama dengannya. Dalam menolong pun tidak tanggung-tanggung. Hampir seluruh tetangganya yang mendapatkan sentuhan tangan dan hatinya berubah menjadi lebih baik. Bukan hanya dari sisi harta yang disedekahkan dalam jumlah yang sangat wow dan luar biasa tetapi juga ternyata dari sudut pemikiran yang juga amazing. 
Fahri sebagai seorang yang dianggap representasi muslim (lulusan dari Al Azhar Kairo dan Eropa) ditantang berdebat dengan 2 orang professor lain. Satu professor mengatakan dunia dianggap akan damai sejahtera tanpa agama. Ya paham inilah yang sekarang mulai menggejala. Bahwa agama dianggap sumber perpecahan, kekacauan, peperangan dll. Fahri menjawab bahwa sejatinya tanpa agama pun manusia masih juga bunuh membunuh. Berapa banyak korban manusia yang berjatuhan sebagai ambisi dari pihak/golongan/partai yang menganggap agama adalah candu. Komunis, katakan sudah jelas banyak menelan korban di berbagai tempat. Bahkan di negeri tercinta pada peristiwa Madiun 1948 serta tahun 1965. Artinya terbantahkan bahwa dunia akan damai dengan ajaran-ajaran yang mengabaikan agama. Jadi sangatlah tidak masuk akal kalau agama menjadi sesuatu yang harus dijauhi. 
Sementara satu professor yang lain beranggapan bahwa semua agama itu sama. Menurut Fahri hal ini juga tdidak masuk akal. Karena kenyataannya adalah berbeda. Bahwa ada perbedaan diantara agama itu adalah sesuatu yang wajar. Yang penting bahwa urusan akidah dan ibadah tidak bercampur-campur. Selebihnya muamalah antara sesama pemeluk agama adalah sangat dianjurkan. Bahkan dalam bukunya disampaikan bahwa Fahri _seorang yang hafal Alquran itu- justru menolong nenek yang akan pergi ke sinagog, sesuai agama yang dianutnya. Dan pada orang yang ditolong sekalipun seperti pada Keira, Jason Fahri sangat menghargai apa agama yang dianutnya.
Memang itu semua adalah berasal dari sebuah novel sebagai sumbernya. Namun, saya sebagai pembaca meyakini bahwa hal itu sangat menginspirasi dan hal itu memang bukan hal yang mustahil.
Seperti Sabtu pagi hari terakhir libur panjang tahun baru 2016 ini. Saya sedang menunggu di bandara Soetta dengan anak saya. Setelah check in maka naik ke lantai 2. Karena belum bisa masuk ruang tunggu sesuai dengan gate pesawat yang akan ditumpangi maka mencari tempat duduk yang lebih nyaman untuk menunggu dalam beberapa waktu. Pilihan jatuh dekat charger yang sedang ada seorang asing yang sedang asyik bekerja. Setelah permisi, aku duduk dekat nya. Saat sedang ngobrol dengan anak ternyata ada buku jatuh dari tas yang sedang ditata dari Bule itu. Oh ternyata Alquran. Spontan saya mau mengambilkan. Iseng-iseng bertanya : Are You Moslem ? ternyata jawabannya sungguh membuat aku jadi malu. “Belum, tapi saya akan mencoba. Ini sungguh berat…..”. 
Akhirnya saya menanyakan untuk memuaskan rasa penasaran : kenapa kamu tertarik sama Islam ? peristiwa apa dan bagaimana yang membuat kamu tertarik dengan Islam. Apakah karena isu-isu teroris di luar sana ? atau karena peristiwa WTC September 2001? Atau karena yang lain? 
Dia bilang bahwa memang keluarganya tidak happy dia belajar agama baru. Tapi dia merasa baik-baik saja untuk terus belajar. Dengan isu teroris yang saya singgung, dia bilang tidak khawatir dengan hal itu. Karena itu adalah stereotip yang diberikan oleh pihak-pihak lain yang sebenarnya hanya cocok pada segelintir muslim yang sempit pemikirannya. Atau bahkan non muslim yang melakukan perbuatan kekerasan.
“Saya justru khawatir dengan calon kandidat presiden Negara besar yang melarang muslim masuk ke negaranya. Calon presiden yang apakah kamu tahu ? siapakah dia?” Ya…ya saya bisa menangkap maksudnya. “Saya khawatir dengan dia….. he is the real terrorist …………. “ Dia menebarkan kebencian… “
Aku ternganga mendengar penuturannya…. Apakah kamu sungguh-sungguh? Dia mengangguk cepat. Ya aku berkali-kali mendengar nama calon presiden Negara adi daya itu berkali-kali disebut-sebut… Insyaallah nggak salah aku menangkap maksudnya…tentu saja ini debatable bagi yang sepaham dengan tokoh yang melarang muslim masuk negaranya itu. Tapi dari sini setidaknya aku makin tahu bahwa di luar sana – walaupun non muslim – juga tidak setuju dengan pendapat mainstream tadi. 
Akhirnya karena jam sudah menunjukkan waktu boarding nya dia maka cepat-cepat dia berbenah. Aku masih termangu. Dia menunjukkan nama dan paspornya berwarna merah itu. Canada.
Maka saat hari ini, aku melewati tempat yang sama saat aku ngobrol tentang Islam dan teroris dengan si Canada sekitar 2 minggu lalu. Ya hari ini 2 hari pasca pengeboman Sarinah Thamrin itu saat isu-isu yang hampir selalu memojokkan Islam sebagai agama masih menjadi raja di media, maka harus aku katakan pada diriku dan dunia bahwa sesungguhnya Islam adalah damai dan cinta. Aku setuju sengan Fahri yang menyatakan Islam yang sangat agung itu masih seringkali tertutupi oleh perilaku pemeluknya. Maka akhirnya aku berkesimpulan bahwa teroris yang sebenarnya adalah sang penebar kebencian dan cenderung memakai kekerasan untuk mencapai tujuannya. Wallahualam….(by. Tri Astuti Sugiyatmi, soeta dan Bpn)

Monday, December 28, 2015

HIV-AIDS dan Perilaku Kita

HIV-AIDS dan Perilaku Kita
Oleh:  Tri Astuti Sugiyatmi

1 Desember ini kita peringati sebagai hari AIDS sedunia.  Memperingati pada sebuah fenomena penyakit yang  sejak kemunculannya sampai sekarang masih mengharu biru umat manusia di dunia.  AIDS sebagai sebuah kumpulan gejala akibat HIV (virus yang memperlemah daya tahan tubuh manusia seringkali dihubungkan hanya  dengan perilaku  tidak sehat dan cenderung menyimpang dari umat manusia. Akibatnya memang tidak bisa dielakan berbagai  cap atau stempel buruk yang hampir selalu  menempel pada ODHA (orang dengan HIV AIDS). BIasanya pemberian  stigma  tadi hampir pasti akan diikuti dengan pembedaan perlakuan (diskriminasi) yang cenderung tidak menguntungkan dan bahkan merugikan bagi ODHA  maupun keluarganya.
Di beberapa daerah tertentu diagnosa HIV - AIDS dianggap sebagai aib bagi si pelaku dan keluarganya. Sehingga perlakuan buruk terhadap penderita dan keluarganya seringkali terjadi. ODHA Dipandang sebelah mata, dihina, dikucilkan, dibuang dan diusir dari  masyarakat terdekatnya. Pada beberapa kasus, keluarganya sendiri justru yang memperlakukan hal yang demikian. AIDS pada stadium akhir  dengan tampilan  fisik  yang parah  dengan kemunculan infeksi oportunistiknya yang bermacam-macam seperti  batuk berkepanjangan, diare tidak berkesudahan serta kehilangan berat badan yang sangat  besar   menjadikan fisiknya ibaratnya tinggal tulang dan kulit – dianggap sebagai   kondisi  yang sangat  mengerikan.   Bagi sebagian kalangan penyakit ini sering disebut sebagai penyakit “kutukan”- sebuah istilah yang seolah  merujuk pada  “hukuman” yang diberikan  dari Yang Maha Kuasa kepada manusia atas perilaku  buruknya. Dengan  perkembangan data epidemiologi HIV AIDS yang ada sekarang  justru menunjukkan adanya pergeseran  pola penderitanya, dimana istilah tersebut pada akhirnya  memudar untuk menyebut sudah terbantahkan.
Bila awalnya, data penderita  HIV AIDS hanya menyerang kaum penyuka sesama jenis  (homoseks).    Data terakhir  menyatakan bahwa jumlah  ibu rumah tangga biasa  yang  punya bersuami laki-laki (heteroseksual)    justru menempati prosentase tertinggi dari  berbagai macam profesi lain, bahkan wanita pekerja seksual (WPS) sekalipun.  Kasus HIV AIDS pada anak-anak yang tidak berdosa sebagai konsekuensi HIV-AIDS pada ibunya yang tidak terkelola dengan baik, serta pada pasien penerima transfusi  darah misalnya, menunjukkan bahwa sekarang HIV- AIDS menjadi penyakit yang bisa menyerang siapa saja.  Termasuk dalam hal ini adalah para petugas kesehatan yang setiap hari “bermain-main” dengan darah pasien.
Jadi menurut hemat penulis, ada dua klasifikasi  besar “jalur” untuk seseorang menjadi ODHA. Yang pertama adalah  ODHA hasil dari perilaku tidak sehatnya, seperti perilaku seks bebas dan mengkonsumsi narkoba suntik. Yang kedua  adalah yang karena “kecelakaan”  untuk menyebut  sebagai  takdir,  sesuatu yang sifatnya given  yang tidak bisa dipilih. Andaikan ada kesempatan memilih maka saya yakin ibu rumah tangga dan anak  yang tidak berdosa,   tidak akan mau menerima penyakit yang tanggungan psikologisnya bisa jadi lebih berat dari penyakitnya itu sendiri. Begitu juga pada penerima transfusi darah yang pendonornya masih dalam masa window periode - dimana pada saat itu walaupun virus sudah masuk dalam tubuh - tapi belum dapat terdeteksi  dengan pemeriksaan laboratorium yang ada.

Perilaku Sehat  Bagi ODHA
Sebelum masuk dalam pembahasan perilaku sehat maka perlu diketahui bahwa HIV ditularkan melalui media  cairan kelamin pria (sperma) dan wanita (cairan vagina), darah serta air susu ibu.  Dari sini terlihat bahwa HIV AIDS tidak menular lewat pernafasan seperti flu pada umumnya atau gigitan nyamuk seperti pada penyakit demam berdarah dengue (DBD) atau malaria.  Sehingga sangat tidak berdasar bila ODHA dikarantina dan kita tidak mau berhubungan sosial dengan para ODHA yang ada.  Bersalaman, berpelukan, makan bersama, berenang, memakai toilet secara bersama  bahkan hidup serumah dengan HIV AIDS terbukti aman saja.
Memang akan menjadi masalah yang cukup besar pada pasangan suami istri dimana salah satunya adalah positif (diskordan).  Tentu saja keinginannya adalah yang negatif dipertahankan untuk tetap negatif, artinya baik suami/istri yang positif diharapkan tidak menulari yang masih sehat.  Pada saat pasangan yang terkena sudah membuka statusnya pada istri / suaminya maka urusan akan menjadi lebih mudah.   Tetap ada upaya dan jalan bagi pasangan diskordan yang ingin tetap “aman” saat berhubungan seksual. Bahkan upaya yang sama  juga disarankan untuk dipakai juga pada pasangan yang dua-duanya sudah dianggap positif sebagai upaya untuk menghindari pertukaran jenis virus antara keduanya.
Pasangan sah dimana salah satu ODHA atau bahkan dua-duanya ODHA juga terkadang  menginginkan mempunyai keturunan. Ya siapa yang bisa mengingkari bahwa ada hak dari pasangan suami istri sah untuk mendapatkan keturunan sebagai penerusnya kelak, sekalipun salah satu pasangan positif HIV atau bahkan dua-duanya. Khusus pada pasangan diskordan bila yang terkena adalah suami maka untuk mendapatkan keturunan maka diupayakan pada saat pembuahan terjadi diharapkan kondisi dari Si suami  dalam kondisi terbaik (ada parameter pengukurannya yaitu  dengan menghitung jumlah sel darah putih yang berfungsi sebagai tentara tubuh) dan jumlah virus dalam tubuhnya (viral load) dalam kondisi yang sangat kecil. Tentu saja ini adalah sebagai upaya supaya pasangannya tetap diusahakan tidak tertular. Namun andaikan Si ibu sudah juga menjadi ODHA maka ada beberapa program yang harus diikuti supaya bayi yang dikandungnya mempunyai kemungkinan untuk tertularnya virus ini  menjadi lebih kecil.
Program Pencegahan Ibu ke Anak (PPIA) atau dulu dikenal sebagai Prevention Mother To Child Transmission (PMTCT) sudah bisa membuktikan  bahwa walaupun si janin menerima makanan lewat plasenta dari ibunya dalam proses kehamilannya,   tetapi si bayi yang berkembang menjadi anak ada kemungkinan  tetap dinyatakan negatif pada saatnya diperiksa nanti, saat ibunya patuh mengikuti saran dari program. Pada saat sekarang ini ibu hamil dengan HIV positif di tubuhnya sudah harus meminum ARV (obat anti retro viral) yang walaupun tidak membunuh si virus  tetapi  bisa menekan perkembangan laju virus. Selain itu   persalinan juga tetap harus dilakukan dengan persiapan matang dan biasanya karena ada juga penularan lewat ASI maka anak biasanya mendapat pengganti dari ASI. Keberhasilan PPIA biasanya tergantung dari semua rangkaian saat kehamilan (antenatal), saat persalinan dan saat laktasi.  
Itulah berbagai perilaku yang diharapkan bagi orang yang sudah “kadung” terkena HIV AIDS baik karena perilaku buruknya  di masa lalu maupun karena karena “kecelakaan” tadi. Tapi yang jelas para ODHA memang juga harus paham bagaimana supaya orang yang dalam lingkaran terdekatnya ( keluarga yang dicintainya) tidak terkena penyakit ini.
Dalam beberapa kasus maka ODHA yang sudah sadar akan cara penularan biasanya akan berterus terang kepada yang merawat kesehatan kepadanya.  Bisa dipahami bahwa untuk melakukan hal ini biasanya akan sangat berat, karena diperlukan kebesaran jiwa ODHA untuk melakukan hal ini. Pada akhirnya tentu saja hal ini dikembalikan pada masing-masing ODHA khususnya dalam hal kesiapan mentalnya.  
Dengan dukungan  dan dorongan dari keluarga tercinta dan lingkungan besarnya maka perilaku buruk sebagai salah satu jalur menuju ODHA hendaknya menjadi masa lalu dan sekarang saatnya untuk  switch (mengubahnya) menjadi lebih baik. Walaupun pahit memang itulah satu-satunya pilihan yang harus ditempuh. Berdamai dengan masa lalu untuk menatap masa depan yang lebih baik. 
Jauhi Perilaku yang Berisiko
Kementrian kesehatan menyatakan bahwa dua hal yang menjadi penyumbang angka HIV AIDS terbanyak adalah melalui transmisi seksual maupun pemakaian narkoba suntik.  Dari keseluruhan ODHA  di tahun 2012 maka hampir separohnya ( 47%) adalah dari kalangan pemakai narkoba suntik ( penasun).
Khususnya dalam hal transmisi seksual walaupun dinyatakan hubungan seksual cukup kecil kemungkinannnya untuk menularkan HIV  tetapi karena  frekuensi dilakukannya tinggi  dan dilakukan oleh secara lebih luas maka kontribusinya dalam penularan ini juga cukup signifikan.
Dalam sebuah pemetaan yang dilakukan KPA Nasional juga ditemukan fakta bahwa pada tahun 2012 dinyatakan bahwa ada sekitar 6,9 juta pria pembeli seks. Ya sekali lagi pria. Bahwa si pria inilah  yang dengan berbagai macam latar belakang pekerjaan akan membeli seks di luaran dengan wanita pekeja seksual (WPS) maupun “ayam kampus” atau “ayam sekolah” dan membawanya pulang ke rumah sehingga pada akhirnya akan menularkan pada istri dan ada risiko bagi anak yang dikandung oleh istrinya. Pria seperti inilah yang kita kenal sebagai LBT (lelaki Berisiko tinggi). Biasanya LBT mempunyai sebuah kesamaan seperti mempunyai uang,  mobile dalam pekerjaannya maupun mempunyai sikap ingin diakui macho di lingkungannya (4M= man with money, mobile, macho behavior).
Prostitusi online  seperti yang banyak diliput  oleh media massa pada waktu ini  tentu saja sangat berisiko  tertular HIV AIDS. Bagaimanapun cantiknya dan sempurnanya tampilan luar si penjaja seks  maka risiko untuk terkena Infeksi menular seksual (IMS)  dan otomatis sebagai pintu masuknya virus HIV ke dalam tubuh  menjadi lebih terbuka. Begitu pula prostitusi “off line” atau prostitusi konvensional, free sex (hubungan seks secara bebas dan berganti pasangan) juga  membuka peluang ke arah HIV AIDS.  Tentu saja kembali bahwa yang menjadi perantara adalah “ si pria tadi”.
Bagi para pria seperti ini,  memang diharapkan sejak awal bahwa kuncinya adalah Be faithful (setia dengan pasangannya). Abstinence atau tidak berhubungan seks sama sekali juga sangat disarankan bagi para pria yang jauh dari keluarga. Ya ternyata pernyataan anggota KPAN beberapa waktu yang lalu pada sebuah acara di gedung serbaguna walikota Tarakan  bahwa perintah menjauhi zina dan “berpuasa” dari seks sangat pas diterapkan dalam pencegahan HIV AIDS. Memang bisa jadi agak  rumit pendekatan bagi para kalangan tertentu  yang sudah tidak mempan lagi diberi pemahaman tentang  sebuah tata nilai.
Data tentang seks bebas  di kalangan pelajar khususnya di Kaltim saat itu juga tidak kalah mengerikannya. Betapa data dari PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia ) tahun 2010 yang mendapatkan data bahwa pelajar SMP dan SMA kita (termasuk kota Tarakan tentunya) mencapai 20% dan naik menjadi 80% di tahun 2012.   Jangan hanya berpikir mereka bahwa mereka hanya dengan berhubungan sesama temannya bahkan sekarang ditengarai bahwa banyak juga mereka yang akan main dengan “si Om-Om LBT”  dengan berbagai motif seperti ekonomi maupun  pola pikir hedonism dan pragmatism yang sudah sangat keblinger.
Maka tak heran bila usia penderita HIV AIDS  juga ditemukan makin muda umurnya-  tentu saja diluar dari anak yang tertular dari ibunya. Bila menilik bahwa waktu yang dibutuhkan mulai masuknya HIV ke dalam tubuh sampai menjadi AIDS cukup lama 3-10 tahun, maka bila sudah ada yang ditemukan AIDS pada usia muda / produktif maka dapat kita bayangkan berapa saat HIV baru pertama kali masuk ke dalam tubuhnya.
Di sisi lain para pemakai narkoba suntik yang cenderung bergantian memakai jarum suntik akan mempunyai risiko yang berlipat-lipat pula untuk terkena yang diperingati setiap 1 Desember  dalam setiap tahunnya ini.  Bukan berarti bahwa pemakai narkoba non suntik lebih aman, karena seringkali  kalangan ini kehilangan orientasi normalnya saat dalam pengaruh obat/ sabu misalnya dan dalam kondisi demikian maka  biasanya ada kecenderungan besar untuk bermain seks bebas juga.        
Karena penularan HIV AIDS bisa juga alat medis seperti alat kedokteran gigi, peralatan bedah, maupun alat tusuk dan iris lainnya maka  diharapkan bagi para petugas kesehatan tetap melaksanakan kewaspadaan umum dalam melaksanakan praktik medis, kebidanan dan keperawatan. Dalam hal ini semua pasien diperlakukan sama dengan “praduga bersalah” bahwa semua adalah dianggap  ODHA. Artinya bahwa dalam menghadapi pasien penerapan standar universal precaution menjadi sesuatu yang wajib dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.  Tentu saja  maka diharapkan bahwa petugas kesehatan tetap melayani dengan baik sesuai dengan standar-standar yang ada untuk semua kalangan.
Begitu tingginya paparan darah dan berbagai specimen lainnya pada orang  yang berkecipung dalam bidang pelayanan medis maka para pengelola limbah medis (termasuk didalamnya adalah para petugas cleaning service) sekalipun untuk tetap dapat memakai alat pelindung diri (APD) sesuai yang dipersyaratkan.
Penutup
Maka menurut hemat penulis  bagi semua pihak yang dalam tesnya sampai sekarang dinyatakan negatif  maka diharapkan tetap  menjauhi dari perilaku berisiko. Bagi yang sudah terlanjur menjadi ODHA maka masih banyak cara dan jalan untuk tetap menjadi bahagia. Mengubah gaya hidup menjadi lebih positif, cegah jangan sampai keluarga terdekat ikut menjadi positif HIV AIDS maupun mengikuti alur program termasuk dalam hal pengobatan.
Bagi para remaja dan pemuda tetaplah dalam sebuah value yang murni. Sesuai dengan napas dari ABAT (Aku Bangga Aku Tahu) : Jiwa yang tegar menolak menggunakan narkoba dan Hati yang murni menolak perilaku seks bebas. Senada juga dengan motto dari  Gen Re (generasi Berencana) –program dari BKKBN- yaitu untuk menjauhi free sex, narkoba dan HIV AIDS.   

Tuesday, November 17, 2015

Isu Asap Rokok di Tengah Bencana Kabut Asap


Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Saat kabut asap beserta semua penyebab dan dampak ikutannya masih menghiasi media masa ternyata di lain sisi, masalah rokok dan tentu saja asapnya akhir-akhir ini juga sempat menyeruak. Mulai dari masuknya kretek (sebagai penghasil asap rokok bila dibakar) dalam Rancangan Undang-Undang Kebudayaan (RUUK). Walaupun kabarnya sudah dibatalkan tetapi sudah sempat menimbulkan pro kontra di masyarakat. Tidak berapa lama tersiar kabar kembali bahwa di dalam Permenperin no 63 tahun 2015 tertanggal 10 Agustus 2015 ternyata juga memuat hal yang “serupa tapi tak sama”. Rokok kretek dianggap sebagai warisan budaya bangsa bahkan lebih jauh dianggap sebagai identitas dan nasionalisme bangsa.
Asap rokok memang berbeda dengan kabut asap, tetapi mendiskusikan keduanya sangat menarik. Secara umum bahwa keduanya bisa dikatakan sebagai bencana yang dibuat oleh manusia (man made disaster). Satu hal yang mengejutkan adalah salah satu kebakaran hutan ditengarai karena akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan!
Tragedi kabut asap yang sangat masif sedikitnya sudah menelan puluhan bahkan ratusan ribu ribu angka kesakitan khususnya terkait dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan penyakit iritasi mata dan kulit serta menyebabkan beberapa korban meninggal.
Saat bangsa ini masih berkutat pada penanganan kabut asap yang tak kunjung usai maka disisi lain pemerintah juga akan menciptakan sumber asap baru (baca: asap rokok) beserta seluruh konsekuensinya dalam hal kesehatan.
Perbedaan dan Persamaan
Kejadian kabut asap yang serentak pada sedikitnya 7 propinsi itu dan sudah melebar ke negeri jiran memang menimbulkan kehebohan yang amat sangat. Sinar matahari tiba-tiba tidak terlihat hampir sepanjang hari. Suasana redup dan cenderung muram di hampir seluruh wilayah terdampak. Kondisi ekonomi ikut lesu.
Sementara di sisi lain , asap rokok dianggap menimbulkan kegembiraan dan surga bagi sebagian orang (walaupun sebaliknya menjadi neraka bagi yang lain). Produk tembakau sebagaimana dalam Permenperin tadi dianggap sebagai pencipta kemandirian ekonomi dan kesejahteraan bangsa, walaupun dalam kenyataan bisa jadi sebaliknya.
Jika kabut asap datang secara musiman saat kemarau akibat kebakaran maupun pembakaran hutan dan atau lahan maka paparan asap rokok akan cenderung konstan sepanjang tahun alias tidak musiman. Pada saat diisukan daya beli masyarakat menurun akibat rupiah yang terpuruk alias “musim paceklik" maka ada release yang menyatakan bahwa rokok menjadi salah satu produk yang tidak terpengaruh daya belinya. Tentu saja ini terkait bahwa merokok dianggap sudah jadi kebutuhan pokok bagi para pecandunya.
Efek kabut asap juga sudah bisa memaksa para petinggi untuk bertindak tegas. Tak kurang orang nomor satu di republik ini pun ikut turun meninjau langsung lokasi kebakaran hutan baik di Kalimantan mauun di Sumatera. Beberapa pihak, pengusaha bahkan korporasi asing juga dipidanakan karena dianggap sebagai penyebab. Publik pun sepakat dan mengapresiasi hal tersebut.
Dalam kasus asap rokok justru sebaliknya, maka perhatian Sang Presiden sangat jauh berbeda. Kerangka Kerja FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) yang menjadi dasar untuk pengendalian tembakau beserta racun dan asapnya – sampai sekarang masih mangkrak. Bila dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan (kemnekes) 2015-2019 yang menjadi acuan perencanaan dan pelaksanaan visi misi dan Nawacita Presiden disebutkan bahwa FCTC menjadi amanat yang sangat direkomendasikan. Maka dalam kenyataannya FCTC justru ditentang di sana sini sementara dengan munculnya aturan di kementrian lain yang sangat bertentangan menjadikan keberpihakan pemerintah pada perlindungan masyarakat akibat asap rokok sangat diragukan.
Begitupun reaksi legislative serta sebagian masyarakat terbelah terpolarisasi menjadi dua kutub besar. Industri tembakau dianggap akan mendatangkan keuntungan bagi Negara tanpa penah memperdulikan berapa kerugian akibat jatuhnya para perokok muda menjadi pecandu dan “menabungnya” menjadi sebuah penyakit yang akan dituainya pada saatnya nanti. Alih-alih melakukan perlindungan yang lebih baik maka RUU Pertembakauan yang lebih pro pada industri rokok dipaksakan masuk dalam prolegnas tahun ini.
Dampak Kesehatan
Kandungan kabut asap yang dalam banyak studi dikatakan banyak mengandung partikel serta beberapa jenis gas seperti Co2 dan CO maka kandungan dalam dalam rokok dan asapnya lebih bervariasi dan lebih banyak. Ada sekitar 4000 jenis racun dalam rokok dimana terdapat beberapa kandungan logam berat seperti timbal dan Cadmium. Yang paling terkenal adalah nikotin sebagai zat yang menimbulkan kecanduan bagi para perokok. Maka bisa jadi sebatang rokok yang disulut dan asapnya menyebar ke orang lain akan menjadikannya sebagai the second hand smoker atau sering disebut sebagai perokok pasif. Sementara residunya menempel pada pakaian misalnya akan menjadikan orang lain lagi akan menjadi the third hand smoker yang sama berisiko menderita berbagai penyakit akibat rokok.
Bila kabut asap banyak terkait dengan penyakit yang menyerang secara akut maka dalam banyak studi rokok justru menjadi faktor risiko untuk terjadinya berbagai jenis penyakit kronis seperti kanker, stroke, kencing manis, darah tinggi, penyakit jantung. Seperti kita ketahui semua jenis penyakit kronis ini bersifat katastrofik alias berbiaya besar dan punya potensi memiskinkan seseorang yang berobat tanpa bantuan jaminan kesehatan.
Kesimpulan
Dengan mengemukakan berbagai fakta persamaan dan perbedaan ini maka bukan berarti mengecilkan peristiwa dan dampak kabut asap. Penulis hanya ingin menyampaikan peristiwa yang berjalan sekitar 3 bulanan yang sudah sangat mengharubiru hendaknya menjadikan semua pihak dapat mengambil pelajaran.
Pemberian ijin pembukaan hutan dan lahan yang –tentu saja- niatnya untuk kesejahteran tetap harus diimbangi dengan regulasi yang kuat dalam hal pengendaliannya. Bila tidak maka kejadian seperti ini akan berulang terus menerus setiap tahun. Begitu pula dalam kasus produk tembakau dan turunannya maka bila tidak ada niat dan upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada rakyatnya, maka tunggulah bencana itu akan datang pada waktunya. Maka, aksesi FCTC menjadi sebuah keniscayaan !

Tuesday, October 27, 2015

Tafsir Kompleks di Balik Aroma Rokok

(late post) Tafsir Kompleks di Balik  Aroma Rokok

Tri Astuti Sugiyatmi**
Seorang artis yang sekaligus anggota dewan yang kepergok kamera sedang merokok di ruang Komisi X  mendapat tanggapan dari beberapa pihak. Tanggapan dari partai pengusungnya dan fraksinya yang dalam waktu cukup cepat  melegakan banyak pihak. Bahkan mereka mengaku akan memberi teguran dengan alasan  dianggap melanggar kode etik. Walaupun terlalu dini tapi ini menjadi  upaya yang cukup memberi harapan pada  masyarakat luas.
Bandingkan dengan apa yang terjadi di  eksekutif anggota Kabinet Kerja justru sebaliknya. Aroma’ rokok  sudah  tercium dari (anggota) Kabinet Kerja sejak hari pertama pengumuman  dan pelantikan  menteri pada Kabinet Kerja bentukan Presiden Jokowi .  Salah satu   menteri yang  terpergok merokok di depan juruwarta juga  mengundang  banyak komentar. Sikap yang santai  terkait kebiasaan merokoknya  tak urung menjadi  tanda tanya besar.
Terkait dengan isu rokok di anggota Kabinet juga masih segar di ingatan kita saat Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa membagikan bantuan makanannya yang disisipi sejumlah bungkus rokok kepada warga pedalaman (orang rimba) di Provinsi Jambi. Bila  pemberian rokok  yang ditengarai didanai oleh   sponsor rokok adalah sebuah “kecelakaan” semata  maka seharusnya Mensos akan minta maaf kepada masyarakat luas. Ironisnya sampai sekarang  tidak ada kata permintaan maaf dari kemensos tentang hal itu. Maka dapat disimpulkan bahwa ini adalah sebuah kesengajaan.
Dua isu rokok yang berada di wilayah legislative dan eksekutif yang  cukup mencolok itu menunjukkan perbedaan tanggapan  khusunya pada kasus di atas,  menimbulkan tafsir  yang lebih kompleks.
Di sisi lain Kementrian kesehatan sebagai baian dari Kabinet Kerja  sudah mempunyai program yang terkait dengan pengendalian  pertembakauan. Mulai dari promosi kesehatan tentang bahaya merokok, program klinik berhenti merokok serta upaya untuk mempersempit ruang gerak para perokok dengan Kawasan tanpa Rokok maupun kawasan terbatas merokok. Di samping ada upaya untuk pengaturan iklan merokok di berbagai media.
Sebaliknya di sisi legislative  periode sebelumnya  justru sangat pro rokok.  Yang paling menyolok adalah hebohnya kronologis  hilangnya Pasal 113 ayat 2 dan ayat 3  (ayat yang menggolongkan tembakau sebagai sebagai zat adiktif dan pengaturan segala hal terkait tembakau) pada UU 36 tahun 2009  tentang Kesehatan. Ditengarai hilangnya ayat tembakau ada hubungannya dengan ulah  oknum  anggota DPR yang menunjukkan banyak pihak punya kepentingan dalam hal ini. 
Bahkan dalam program legislasi nasional tahun 2013,  RUU Pertembakauan juga muncul sebagai usulan sebuah perusahaan rokok yang juga sangat berpotensi melemahkan aspek perlindungan masyarakat akibat konsumsi rokok.
  
 Jadi ada sebuah tafsir yang cukup kompleks yang diperlihatkan pada sebuah kebijakan terutama rokok antara dewan yang lama (oknum PDIP) dengan dewan yang baru (oknum partai lawan-PAN). Sedangkan pada eksekutif  keengganann  untuk meratifikasi piagam FCTC (Framework Convention on Tobacco Control)  pada pemerintah  SBY dan Jokowi ini masih tetap  walaupun khsusunya pada pemerntah sekarang makin parah khusunya kebijakan pro rokok yang cukup terlihat secara telanjang seperti pada kasus di atas. Sehingga janganlah heran bila negara kita  menjadi satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani dan mengaksesi kerangka kerja internasional dari badan kesehatan dunia (WHO) untuk mencegah meluasnya epidemi merokok itu.
Dampak
Akibatnya bisa ditebak bahwa  isu kesehatan yang digelindingkan untuk menangkal produk yang mengandung 4000 zat berbahaya ini tidak akan cukup kuat untuk menahan   gempuran iklan rokok yang sangat dikesankan positif itu. Papan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi aturan semata yang begitu mudah untuk dilanggar.   Gambar seram pada kemasan rokok  bahkan hanya dianggap sepi oleh para pecandu berat.
Studi tentang  dampak rokok yang menunjukkan   Angka kesakitan dan kematian akibat merokok  di Indonesia  yang sangat luar biasa tidak pernah dipakai sebagai bahan untuk mengambil kebijakan publik.  Begitu juga dampak sosial dari merokok juga tidak diragukan lagi tidak sekalipun dilirik untuk menjadi asupan kebijakan. Bagaimana  Usia mulai merokok yang semakin muda menimbulkan keprihatinan tersendiri.  Ditengarai juga bahwa rokok juga menjadi pintu masuk bagi candu jenis lain seperti  napza (narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya). Walaupun   sebagian kalangan menganggap hal tersebut   berlebihan.  Dampak dari sisi ekonomi  yang disampaian oleh Badan kebijakan fiskal pada tahun 2012 menggambarkan penerimaan cukai yang hanya sekitar 50T  sangat tidak imbang  untuk  menutupi total kerugian ekonomi secara makro akibat konsumsi merokok yang mencapai angka 245,41T.
Pro si Miskin atau Pro Pemiskinan
Dengan berbagai “drama” terkait tarik menarik regulasi antara yang pro dan kontra tembakau di level “atas”akan menjadikan masyarakat juga semakin  tahu dan paham bagaimana  kemungkinan arah kebijakan ke depan terkait dengan tembakau 
Penulis sangat  sepakat dengan aktivis YLKI  Tulus Abadi yang  menganggap bahwa tindakan Mensos tersebut   akan  menjadikan   masyarakat semakin miskin.  Mensos bukan sedang menjalankan pro poor policy (kebijakan yang pro pada si miskin)  tetapi justru  lebih  jauh lagi  bahwa  pembagian rokok pada masyarakat miskin karena adanya sponsor industri rokok adalah sebuah tindakan  yang terstruktur untuk  memiskinkanan masyarakat (pro pemiskinan masyarakat). Sebuah situasi yang sangat berbeda!
Dalam kasus ini menurut hemat penulis  sikap  top leader -dalam hal ini Bapak Presiden yang terhormat- akan menentukan arah ke depan apakah hasil-hasil pembangunan manusia yang sudah dan akan dilakukan akan semakin mendekatkan dengan berbagai macam indikator dan parameter  sebuah kesuksesan atau justru sebaliknya.  Maka, bola tentang rokok  ada di tangan Anda, Bapak Presiden……
Satu hal yang mengejutkan bahwa biaya konsumsi rokok (serta sirih)  pada masyarakat miskin menempati porsi pengeluaran yang terbesar kedua setelah kebutuhan akan padi-padian sebagai makanan pokok. Sangat ironis bahwa biaya untuk rokok juga berlipat- lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk investasi  pendidikan dan kesehatan  yang sebenarnya  sebagai  syarat utama untuk rumah tangga miskin bisa bangkit dari keadaan yang membelitnya.


Dampak Kesehatan Akibat Asap


Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Dalam beberapa waktu terakhir , kabut asap masih menyelimuti beberapa wilayah di pulau Kalimanatan dan Sumatera, Selama beberapa waktu kabut asap juga menyelimuti kota Tarakan.
Kabut asap secara umum bersifat  kabut asap bersifat musiman (biasanya musim kemarau) karena adanya aktivitas pembakaran lahan sebagai cara murah untuk pembukaan lahan pertanian. Walaupun di kota pulau ini tidak ada hutan yang terbakar/ dibakar, tetapi asap tetap datang.  Besar kemungkinan adalah asap kiriman yang tertiup angina dari wilayah yang terbakar. Seperti  juga diketahui  bahkan kabut asap ini juga sampai menyebrang ke negeri jiran seperti  Singapura,  Malaysia dan Thailand.
Bencana Kabut asap membuat kegaduhan karena membuat bencana  masal, yang  juga karenanya membuat  udara segar menjadi sesuatu yang mahal.  Saat itu  sebagian kota di pulau Sumatera dan Kalimantan maka matahari  kadang  tidak kelihatan seharian. Langit juga tidak terlihat  secara jelas.
Kandungan kabut asap :
Menyitir  publikasi dari Departemen pulmonology dan Ilmu kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran dan RS Persahabatan  maka disampaikan  bahwa kandungan kabut asap  dapat berupa  partikel dan komponen gas.   Zat-zat tersebut  bisa berupa  perpaduan atau campuran karbon dioksida (Co2), air (H2O), zat yang terdifusi  di udara, zat partikulat, hidrokarbon, zat kimia organik, nitrogen oksida dan mineral. Ribuan komponen lainnya dapat ditemukan tersendiri dalam asap. Sedangkan komposisi asap tergantung dari banyak faktor,yaitu jenis bahan pembakar, kelembaban, temperatur api, kondisi angina yang terjadi di daerah itu.
Tentu saja kandungan berbagai zat tersebut akan tidak menguntungkan bagi  para kelompok rentan terutama seperti  para lansia (lanjut usia),  kelompok umur di bawah lima tahun (balita) serta kelompok yang memang memiliki penyakit pada saluran napas  pada kondisi sebelumnya.
Akibatnya tentu seperti yang sudah banyak beredar di media massa. Bahwa penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengalami kenaikan yang cukup signifikan.  Iritasi  maupun Infeksi  pada kulit dan mata  juga dilaporkan.  Pada beberapa media bahkan sudah menayangkan bahwa korban jiwa sudah berjatuhan  sebanyak 9 orang jiwa. Sepanjang  musim kabut asap belum berlalu maka jumlah korban akan semakin bertambah  terus. 
Dampak “Asap Lain”
Sebenarnya  dampak dari asap lain  selain kabut asap juga mengalami kemiripan. Ambang polusi udara akibat  bahan bakar fosil  karena kendaraan bermotor  maupun asap pabrik juga tidak kalah mengerikannya.  Memang dalam hal ini  biasanya hanya terjadi di daerah kota besar yang ramai serta daerah industri.   Efek kabut karena kebakaran hutan memang lebih massif karena  mengenai  daerah terdampak  baik di  daerah urban dan rural. Kedua efek ini  sebenarnya dapat dideteksi dengan Indeks Standar Pencemaran Udara ( ISPU).   Kedua  jenis asap ini walaupun berbeda tetapi mempunyai efek kesehatan yang mirip. Sehingga  pengendaliannya dengan cara  mengintervensi penyebabnya.  Bagaiman kebakaran lahar harus dipadamkan dengan segera serta bagaimana penghematan/ pembatasan  pemakaian  bahan bakar fosil .
Satu hal  yang penting dari jenis asap adalah AROL  sebagai singkatan dari Asap Rokok Orang Lain.  Ini adalah jenis asap yang membuat orang yang terdampak sebagai  perokok pasif (second hand smoker), walaupun dia sendiri tidak merokok).  Sementara residu dari asap rokok yang menempel di baju akan menjadikan orang lain yang tidak merokok juga bisa menjadi  thirdhand smoker.  Efek  rokok beserta asapnya pada  orang kedua (yang menerima asapnya) dan orang ketiga(yang menerima residua sap)  juga punya peluang yang sama bahkan pada beberapa literature bisa jadi akan lebih parah dari perokok aktif sendiri.
Berbagai jenis penyakit ISPA, saluran pernapasan juga menjadi  lebih mudah menyerang pada kelompok rentan. Sedangkan  factor risiko awalnya (dari kegiatan merokok) juga berpadu dengan kegiatan lain seperti  diet yang tidak seimbang, kurang aktifitas fisik, konsumsi minuman keras juga kan menjadikan penyakit seperti kanker,  kencing manis, darah tinggi dan komplikasinya seperti stroke, penyakit jantung akan berlipat-lipat banyaknya. Dampak akibat asap rokok bisa jadi terlihat lebih ‘seram’ daripada kabut asap karena zat yang ada di dalamnya ada sekitar 10.000  zat aktifnya. Termasuk di dalamnya terdapat zat-zat yang tidak ada di dalam kabut asap akibat pembakaran hutan seperti ada asam asetik (zat yang terdapatdalm pembersih lantai), hydrogen sianida ( zat dalam racun tikus), geranoil zat yang terdapat dalam pestisida, formalin (zat pengawet jenazah) dan beberapa bahan berbahaya lain.
Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa  dampak asap (kabut asap, polusi udara karena BBM fosil dan industry, serta asap rokok)  mempunyai dampak yang cukup besar pada masalah kesehatan.  Untuk itulah perlu juga upaya-upaya pencegahan dengan berbagai macam cara sehingga dampak asap pada kesehatan dapat ditekan serendah mungkin. Semoga.


                               




  

Saturday, October 17, 2015

PERLUNYA SISTEM MONITORING EFEKTIFITAS KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) 100% DI FASILITAS KESEHATAN


Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi*
Merokok bagi sebagian dari kita menjadi kegiatan yang sudah dianggap sangat biasa. Bahkan kita juga biasa melihat orang merokok dilakukan sambil menggendong balita/bayi, merokok sambil menyetir kendaraan, saat bersiap ke rumah ibadah, menarik becak maupun saat rapat super penting di kantor-kantor pemerintah. Pendeknya merokok selain menjadi kegiatan sambilan juga kadangkala bisa menjadi kegiatan utama bagi semua kalangan di hampir semua tempat. Hampir tidak ada area public seperti di taman, di angkutan umum maupun di berbagai kantor pemerintahan yang bebas rokok. Sangat wajar untuk sebuah Negara yang belum meratifikasi mengaksesi kerangka kerja internasional dari badan kesehatan dunia (WHO) untuk mencegah meluasnya epidemi merokok itu. Mengutip tulisan Prof. dr. Hasbullah Thabrany dkk, seorang ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia maka Negara kita menjadi surga bagi para perokok dan industrinya seperti dalam bukunya yang berjudul : Indonesia, the heaven for cigarette companies and the hell for the people.
Walaupun dalam berbagai aturan sudah jelas tercantum seperti UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan berbagai aturan di bawahnya tetapi eksistensi rokok sebagai bahan adiktif yang merajai pada semua kalangan (golongan) dan semua kawasan tidak terbantahkan. Produksi, distribusi, periklanan sampai pada perilaku masyarakat dalam merokok menjadi PR yang masih menggantung. Bahkan Indonesia tercatat menjadi satu-satunya di Negara Asia Pasifik yang belum meratifikasi FCTC (Framework Convention of Tobacco Control).
Menurut seorang ahli internasional Burke Fishburn maka menciptakan lingkungan bebas asap rokok adalah satu satunya strategi yang memberikan perlindungan dari bahaya asap rokok lain.Di sisi lain, merokok seperti diketahui menjadi salah satu factor risiko untuk berkembang mejadi penyakit tidak menular (PTM) seperti kanker, kencing manis dan darah tinggi. Sehingga sangatlah wajar bila sekarang angka kesakitan PTM juga mengalami kenaikan yang sangat berarti bahkan menduduki beberapa urutan dalam 10 besar penyakit.
Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Dari hal-hal itulah maka munculah kepentingan untuk menciptakan Kawasan Terbatas Merokok dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Dalam pembahasan ini maka penulis akan lebih fokus pada KTR sebagai sebuah istilah yang mengacu bahwa di dalam area/kawasan tersebut tidak boleh ada ‘sesuatu’ yang berhubungan dengan rokok. Seperti iklan rokok dalam bentuk banner, leaflet, toko/warung penjual rokok, ruang khusus merokok maupun asbak untuk membuang puntung rokok.
Istilah Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTR) muncul karena dianggap tidak ada batas aman asap rokok terhadap orang lain. Penerapan KTR 100% berarti tidak menyediakan ruang untuk merokok dalam bentuk apapun baik yang berventilasi maupun yang menggunakan penyaring udara, karena dianggap tidak dapat secara penuh melindungi paparan dari asap rokok.
Sementara indikator kepatuhan KTR terdiri atas 8 komponen yaitu 1) tidak ada orang merokok;2) tidak terdapat ruangan khusus merokok; 3) terdapat tanda larangan merokok; 4) tidak tercium asap rokok; 5) tidak terdapat asbak/ korek/pemantik ; 6) tidak ditemukan puntung rokok; 7) tidak ditemukan adanya indikasi merek atau sponsor, promosi dna iklan rokok di area KTR serta 8) tidak ditemukan penjualan rokok pada sarana kesehatan, sarana belajar/sekolah, sarana terkait dengan anak, sarana ibadah, tempat kerja serta tempat umum dan sarana olahraga kecuali di pasar modern/mall, hotel, restaurant, tempat hiburan dan pasar tradisional.
Sampai saat ini penerapan KTR di beberapa tempat seperti di fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan /sekolah sudah dicanangkan. Tetapi diakui bahwa kegiatan penerapan KTR masih belum ideal sesuai dengan tujuannya. KTR total di berbagai tempat yang seharusnya steril dari hal-hal yang berbau rokok kadang masih sulit diterapkan. Kegiatan yang terkait merokok masih ditemukan di sana-sini. Pada tempat tersebut masih sering dijumpai petugas maupun pengunjung yang merokok.
Pengunjung yang melanggar peringatan KTR beralasan karena ketidaktahuan karena tanda –tanda peringatan KTR hanya dipasang di wilayah tertentu. Sementara bagi para ‘penghuni’ dan ‘orang dalam’ institusi tersebut yang melanggar peringatan KTR itu biasanya karena adanya kesengajaan. Khusus untuk para perokok berat aturan KTR menjadi sebuah siksaan tersendiri dan biasanya karena sudah tidak bisa menahan untuk tidak mengisap rokok sebagai sebuah alasan dan pembenaran saat melanggar peringatan KTR.
Tentu saja para pengunjung dan penghuni yang sudah tahu aturan KTR akan sembunyi-sembunyi dalam mengisap rokoknya. Tempat favorit yang tersembunyi biasanya seperti dekat pojok belakang dan tempat-tempat yang nyaman untuk kumpul bersama seperti kantin/ garasi /parkir/ tempat olahraga di institusi tersebut.
Puntung rokok juga kerapkali ditaruh dalam sela-sela bunga dalam pot atau dibuang sembarangan. Dalam hal ‘kesengajaan’ biasanya puntung rokok cenderung akan “disembunyikan”. Walaupun tidak ada asbak yang ‘resmi’ dipajang tetapi ternyata apapun bisa menjadi asbak seperti kaleng bekas minuman, botol air kemasan kosong dan bahkan gelas/cangkir tempat air minum sehari-hari.
Luru Utis Sebagai Sistem Monitoring Efektifitas KTR
Banyaknya pihak yang merasa terancam dengan penerapan KTR memunculkan banyaknya pelanggaran penerapan KTR. Bila tanpa sistem monitoring yang baik maka efektifitas KTR seringkali dipertanyakan. KTR dianggap masih sebatas papan nama yang dipasang di wilayah tertentu tanpa tahu apakah cukup efektifitas atau tidak. Sehingga disinilah diperlukan sebuah monitoring untuk melihat efektifitas KTR dari waktu ke waktu.
Menurut hemat penulis kegiatan luru utis - sebuah istilah dari bahasa Jawa yang berarti mencari puntung rokok- dimana pada beberapa waktu lalu punting rokok mempunyai nilai ekonomi tersendiri- dapat menjadi sebuah aktifitas yang dapat dipakai untuk memantau efektisfitas penerapan KTR di lingkungan tertentu. Dalam praktiknya, luru utis tidak hanya mencari dan menghitung puntung rokok saja. Tetapi juga bisa diperluas pada perangkat pendukung kegiatan merokok seperti asbak, korek api/pemantik api, serta bungkus rokok. Dalam beberapa kasus kegiatan luru utis juga dapat menemukan perokok yang sedang menghisap rokok di kawasan KTR. Maka tidak berlebihan bila luru utis selain alat untuk monitoring KTR juga punya manfaat untuk melihat salah satu indikator kepatuhan petugas dan pengunjung serta untuk lebih meningkatkan promosi untuk keberadaan KTR itu sendiri.
Pelaksaan luru utis secara teknis dapat dilakukan setiap hari Jumat saat laskar KTR (relawan luru utis) sekitar 1 jam akan mengumpulkan semua puntung rokok yang ditemukan di dalam areal pagar institusi KTR. Bukan hanya puntung rokok yang dicari tetapi juga sekaligus mencari bungkus rokok, korek api maupun asbak Pengumpulan bisa dimulai sekitar jam 07.30-08.30. Program ini bisa berjalan tanpa biaya. Program ini juga bisa dilakukan sambil kegiatan Jumat bersih ataupun kegiatan olahraga di hari Jumat.
Dalam setiap minggunya hasil pencarian dan pengumpulan puntung rokok akan dihitung jumlahnya. Data yang masuk dianalisa untuk melihat perkembangannya. Disadari juga masih banyak puntung rokok yang ‘lolos’ yang tidak ikut terhitung karena sudah masuk ke tempat sampah dan dibuang oleh petugas kebersihan.
Dari evaluasi tim luru utis maka seringkali didapatkan hasil yang cenderung menurun pada awal kegiatan, tetapi di beberapa waktu berikutnya masih terdapat kenaikan jumlah puntung rokok yang ditemukan (fluktuatif). Begitu pula jumlah petugas dan relawan luru utis yang terlibat bisa jadi masih belum terlalu banyak dan fluktuatif. Seringkali bahkan berkurang karena tergantung kesibukan masing-masing personel.
Supaya hasil monitoring terdokumentasi maka disarankan untuk menayangkan dalam sebuah pengumuman secara berkala. Bila hasil belum menunjukkan trend penurunan maka relawan luru utis tidak perlu berkecil hati karena dapat diartikan sebagai ‘cambuk’ untuk lebih mensosialisasikan KTR sebagai sebuah kebijakan yang harus diperjuangkan. Implikasi dari praktik luru utis adalah makin menguatnya isu KTR di institusi tersebut. Dalam jangka panjang yang diharapkan adalah munculnya kesadaran komunal bahwa merokok adalah sebuah kegiatan yang akan menghamburkan sumber daya yang sudah sangat terbatas : uang, waktu dan kesehatan.
Maka, selamat melakukan luru utis……

PAK BECAK DAN ROKOKNYA


Suaranya hilang timbul diantara suara bising knalpot kendaraan lain yang lalu lalang di kanan kiri kami. Sesekali terdengar napasnya yang agak tersengal, saat mencoba berkata dan atau bercerita menjawab pertanyaan-pertanyaanku sebagai seorang customer yang sedang dilayaninya. Mungkin dengan semangat memberi pelayan yang terbaik untuk penumpangnya maka pak becak ini seperti tidak punya rasa lelah, membawa aku keliling dari satu tempat ke tempat lain.
Awalnya saya lebih enjoy dengan jaan kaki menikmati Jogja, kota yang pernah aku tinggal di dalamnya. Aku merasa mampu untuk berjalan sendiri karena sedikit banyak sudah tahu tempat-tempat yang dulu pernah disinggahi berkali-kali. Tapi melihat caranya menawarkan yang yang cukup gigih menjadikan aku akhirnya menyerah juga. Akhirnya aku keliling sesuai dengan agendanya- ke tempat A, B dan seterusnya. Tentu saja dengan syarat dia mau meletakkan punting rokok yang sedang diisapnya. 
Akhirnya sepanjang perjalanan kami banyak berbincang tentang perkembangan jogja, pekerjaannya serta keadaan keluarganya. Ya menurut pak becak ini dalam 1 bulan ini Jogja terlihat sepi. Banyak hotel yang menurutnya agak kosong. Mungkin ada hubungannya dengan dollar bu katanya…. Ya pak saya mengapresiasi hasil analisisnya.
Jadi memang sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol tentang kegiatan harian yang menurutnya belum ada perubahannya sejak muda sampai punya anak tiga saat ni yang berumur 5 tahun , 2 tahun dan 2 bulan. Sebuah perjalanan hidup panjang yang menurut beliau sendiri belum ada perubahan yang berarti. Saat itu saya mendengarnya dengan prihatin. Aha…kenapa Bapak menyiakan uang yang susah payah Bapak peroleh. Mohon maaf pak aku harus ngomong begini. Aku miris di tempat yang aku naiki ada sebungkus rokok merek terkenal yang sudah terbuka dan sudah Bapak ambil dan hisap beberapa batang. 
Akhirnya perbincangan ke arah rokok. Ya aku ingat dalam survey pada keluarga miskin maka sepertiga kah uang penghasilannya untuk beli rokok. Yang diatasnya hanyalah untuk beli makanan pokok saja. Lantas saat saya tanya berapa pengeluaran rokoknya per hari. “ sekedhik mawon kok bu…sedoso ewu”, dia bilang hanya sedikit saja hanya 10 ribu rupiah. “Waduuh pak, ya besar to…coba Bapak kalikan sebulan berapa pak jadinya. Juga setahun…. Sayangnya pak….”
Akhirnya saya banyak ‘ceramah’ tentang rokok dan potensi kehilangan pendapatan karena merokok. …ya kayaknya untuk tipe Bapak-Bapak seperti ini memang pendekatan yang paling masuk kalo dengan pendekatan itu. Tapi …”saya sudah kadung kecanduan kok bu…. Nah itulah. Susah juga ya. ‘ Kalau saya nggak merokok saya ngantuk bu, males kerja ..” .
Banyak yang merasa dengan merokok akan menjadi semangat…. “ Tapi maaf banget pak…Bapak sudah susah cari rejeki tapi setelah dapat buat beli rokok pak…gimana menurut Bapak?” sangking nggak tahan, maka kata-kata itu akhirnya keluar juga….Maaf nggih pak, bukan bermaksud apa-apa. Saya sedih saja wong mbecak di sini tarifnya ya hanya pas beli rokok 1 bungkus. “ Apalagi kalo sepi begini pak uangnya Bapak jadi habis lagi untuk beli rokok”.” Ya tapi kan lahir, pati kalih rejeki sampun diatur kalih ingkang kuoso bu….” . Saya juga setuju pak, tapi kan kewajiban kita tetap berikhtiar to pak…”aku merespon sikapnya dengan prihatin. Untung Bapak tadi nggak marah-mungkin juga karena merasa harus menghormati tamunya walaupun aku banyak berlaku yang bisa jadi agak ikut campur urusan orang…he..he
Rasanya pengin aku kasih data,bukti dan eviden lain supaya Bapak Bapak ini paham bahwa racun rokok bukan hanya menggerogoti ekonomi kita tapi juga kesehatan kita. Tapi kayaknya sudah dekat dengan hotel.
“pak, nanti anak semakin besar butuh biaya banyak, mungkin ada baiknya Bapak mengurangi merokoknya supaya putra putri Bapak bisa lebih baik dari sekarang”. Sambil kusodorkan upah serta rejekinya saat itu.
“Nggih bu” Bapak itu menjawab dengan takzim…..
‘makasih pak” ….
…..rokok---miskin---mindset rokok sebagai hiburan—candu-- berputar-putar di kepalaku.

Tuesday, September 22, 2015

LURU UTIS

LURU UTIS 
Dulu saat aku kecil, aku sering melihat orang dengan membawa keranjang atau kantung karung atau istilah kami adalah kandi (karung yang terbuat dari semacam benang plastic) yang digendong di punggung kirinya . sementara tangan kanannya memegang kayu panjang yang diujungnya kadang terdapat paku yang ditancapkan. Biasanya pakaian yang dikenakan agak lusuh dan seringkali bertopi. 
Seringkali orang itu akan memungut sesuatu dengan tongkat panjangnya dan mengambil hasil nya dipindah ke keranjang atau kantong tadi. 
Kami saat itu sering ketakutan melihat laki-laki yang berpenampilan demikian. Tidak terlalu banyak ingatanku pada orang-orang yang saat itu menurut saya sama sekali tidak special.
Setelah sekian tahun berlalu ternyata hal itu justru memberi sebuah inspirasi untuk membuat gerakan yang menurut seorang senior –dulu- disebut sebagai LURU UTIS. Luru utis merupakan istilah Jawa- daerah tempat saya berasal. Tapi kembali karena tidak terlalu special maka saya juga tidak ingat nama / istilah untuk si pemungut ‘sesuatu’ itu. 
Luru itu berarti mencari dan utis adalah punting rokok. Ya dulu kabarnya punting rokok dicari karena mau didaur ulang. Entah benar atau tidak. Tapi yang jelas pemungut punting rokok memang dulu benar adanya. 
Luru utis yang sangat sederhana, menurutku justru bisa menjadi sebuah system monitoring efektifitas Kawasan tanpa rokok. Ya KTR (tanpa lho ya) bukan terbatas , semestinya sdh harus diterapkan di berbagaikawasan. Kawasan kesehatan, sekolah/pendidikan dan kawasan ibadah. Tapi kenyataannya walaupun sebuah tempat/institusi mengaku sebagai Kawasan tanpa rokok, tapi kenyataannya? . Tidak selalu seperti yang dicanangkannya. 
KTR ibarat surga para wanita, anak dan laki2 yang tidak suka merokok. Sementara di lain pihak menjadi neraka bagi para penikmat tembakau itu. Akhirnya yang terjadi maka para ‘ahli hisab’ akan berusaha mencuri-curi kesempatan walaupun di tempat yang memasang stiker Kawasan dilarang merokok atau gambar rokok yang diberi silang. Mereka akan mencari –cari tempat kongkow yang agak mojok dii belakang. Dekat dengan tempat parkir atau dekat dengan kantin juga bisa. Karena dianggap cocok merokok sambil ngopi misalnya. Atua merokok sambil olahraga bahkan. Atau yang sering betul merokok sambil ngobrol ngalor ngidul nggak terlalu jelas. 
Perokok biasanya akan membuang puntungnya di asbak. Tapi saat kawasan KTR tidak tersedia asbak maka apapun jadi. Botol bekas air minum mineral, kaleng bekas softdrink atau bahkan cangkir yang biasa dipakai untuk minum pun kadang menjadi asbak.
Ya luru utis hanyalah sebuah metode sederhana untuk memastikan bahwa rokok dan semua perangkatnya sudah tidak ada lagi di kawasan yang memproklamirkan diri sebagai KTR. Memang pembuktian bahwa sebuah tempat KTR menjadi cukup sulit karena system monitoring nya kan tidak terlalu jelas.
Jadi menurutku dengan kegiatan luru utis rutin bisa menjadi sebuah upaya murah meriah dan bisa dilakukan siapa saja-tanpa mikir berat untuk menilai betul tidaknya KTR di sebuah sekolah/puskesmas/kantor pemerintah.
Bila masih dijumpai punting rokok yang bertebaran, bungkusnya sudah pasti bahwa KTR nya masih sebatas di papan pengumuman ya sekitar 25% lah kalo mau dinilai keseriusannya. Yang kedua adalah bila masih banyak dijumpai puntung rokok dan perangkatnya di beberapa pojok/ tersembunyi di pot-pot bunga maka itu adalah daerah dengan KTR dengan 50% keseriusannya. Karena sdh ada efek malu bagi para perokok aktif untuk terang-terangan. 75% ya kalau di tempat tersembunyi sudah ada progress baik dalam hal penemuan hasil luru utisnya. Dan yang jelas 100% kalau semua sdh dengan kesadaran sendiri baik para karyawan ataupun pengunjung untuk sama menghormati sebuah KTR.
Ya luru utis bukan sesuatu yang baru tapi menurutku bisa menjadi sebuah tools untuk menilai sebuah efektifitas KTR. Dari pengalaman ternyata hasil luru utis pun bukan hanya sekedar benda mati ( punting rokok dan berbagai perangkat penunjang untuk keg merokok) tapi kegiatan ini bisa juga menemukan para perokok aktif yang ketahuan sedang mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk sekedar menghisap rokoknya barang sebentar. Tentu saja harus ada evaluasi dari kegiatan ini. Untuk lihat kecenderungan yang ada. Hasil penjumlahan punting rokok yang sudah terlihat menurun pun tetap harus diwaspadai bahwa itu hanyalah sebuah efek samping luru utis. Jadi para perokok aktif sdh makin pintar menyembunyikan bekas-bekasnya. Yang tersering dibuang ke tempat sampah. Karena tidak mungkin lagi kita akan mengorek-ngorek tempat sampah. 
Menurut hemat saya efek luru utis yang terbesar adalah makin tertanamnya bahwa merokok adalah kegiatan yang menyia-nyiakan sumber daya yang ada. Uang, waktu untuk bekerja, serta kesehatan para active smoker nya, secondhand smoker maupun thirdhand smoker. Sumber daya yang ada hendaklah dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk sesuatu yang positif. Karena kita tahu semua resources itu terbatas.
Semoga bermanfaat.

DBD Semakin Menjadi Ancaman Akibat Perubahan Iklim, Kota Tarakan Beradaptasi dengan Menggunakan Topi Anti DBD (TAD)

oleh Nyoman prayoga
04 September 2015 09:01:34 Dibaca : 45

DBD Semakin Menjadi Ancaman Akibat Perubahan Iklim, Kota Tarakan Beradaptasi dengan Menggunakan Topi Anti DBD (TAD)
Topi Anti DBD (TAD) yang dipasang di tempat penampungan air warga di Kota Tarakan
DBD Semakin Menjadi Ancaman Akibat Perubahan Iklim, Kota Tarakan Beradaptasi dengan Menggunakan Topi Anti DBD (TAD)
Apakah perubahan iklim betul-betul berdampak pada sektor kesehatan? Para peneliti telah menyatakan bahwa beberapa area yang temperatur-nya semakin menghangat berpengaruh pada perkembangan beberapa wabah penyakit dan hewan-hewan pembawa penyakit (carrier). Beberapa kejadian yang terkait dengan meningkatnya suhu juga dikaitkan dengan perubahan iklim.
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa iklim yang menghangat mengakibatkan siklus perkawinan dan pertumbuhan nyamuk dari telur menjadi larva dan nyamuk dewasa akan dipersingkat, sehingga jumlah populasi lebih cepat berkembang. Udara panas dan lembab sangat cocok untuk nyamuk malaria (Anopheles), dan nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti). Dulu, nyamuk-nyamuk ini lebih sering muncul di musim pancaroba, antara musim hujan dan kemarau. Kini udara panas dan lembab bisa berlangsung sepanjang tahun. Maka, kini virus malaria yang dibawa Anopheles dan virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes aegypti tersebut dapat menyerang sewaktu-waktu.
Dari Studi KRAPI (Kajian Risiko dan Adaptasi Perubahan Iklim) Kota Tarakan yang disusun oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama dengan Pemerintah Kota Tarakan, didapatkan kesimpulan bahwa dampak perubahan iklim di Kota Tarakan terjadi pada sektor pesisir, sumber daya air, dan kesehatan. Sesuai dengan salah satu sektor rentan yang teridentifikasi, berdasarkan kajian Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Kelurahan Selumit Pantai merupakan zona merah sarang nyamuk Aedes aegypti dimana 92,45% total kawasan tidak bebas jentik. Kerentanan terhadap sumber penyakit tropis ini juga terkait dengan dampak perubahan iklim. Menurut Kajian Angka Bebas Jentik (ABJ) yang dikumpulkan dalam kegiatan larvasidasi massal (penaburan bubuk larvasida-pembunuh jentik) tahun 2013, Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi ancaman bagi masyarakat kota Tarakan.
Kelurahan Selumit Pantai di Kota Tarakan merupakan kelurahan pesisir yang masih belum terjangkau jaringan pipa air bersih (dokumen program ACCCRN)
Kurangnya akses masyarakat terhadap sumber air bersih juga berpengaruh terhadap penyebaran penyakit DBD. Karakternya sebagai kota pulau kecil membuat Kota Tarakan mendapat frekuensi hujan yang cukup sering dan tidak menentu sepanjang tahun. Ini membuat tidak sedikit warga yang berinisiatif menaruh drum atau tangki air sederhana di halaman rumahnya untuk mensubstitusi ketidaktersediaan layanan pipa air bersih yang memadai.
Kondisi seperti ini salah satunya dialami masyarakat yang tinggal di Kelurahan Selumit Pantai di daerah pesisir Kota Tarakan. Kelurahan Selumit Pantai merupakan salah satu kelurahan yang bermasalah dimana sebanyak 67.66% atau 2.087 KK (12.525 jiwa) tidak mendapatkan akses air bersih PDAM (Data Dinas Kesehatan Kota Tarakan, 2014). Sebagai gantinya, masyarakat memanfaatkan air hujan sebagai alternatif sumber air bersih. Hampir semua warga menggunakan tandon-tandon air terbuka yang ditempatkan baik di halaman maupun di dalam rumah yang biasanya langsung berhubungan dengan talang air. Namun, air hujan yang tertampung dalam tandon yang terbuka ini dengan mudah menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti sebagai penular penyakit DBD. Hal ini juga dikarenakan keengganan masyarakat untuk menguras air sebagai langkah pencegahan penyakit DBD karena takut tidak mendapatkan air hujan yang cukup.
Topi Anti DBD sebagai Penutup Tempat Penampungan Air
Topi Anti DBD atau yang biasa lebih dikenal sebagai TAD oleh warga setempat bukanlah suatu alat penutup kepala, melainkan merupakan penutup kontainer penampung air yang akan menghalangi nyamuk untuk hinggap dan bertelur di atas air yang mereka tamping tersebut. Nama TAD sendiri diusung oleh Dinas Kesehatan Kota Tarakan agar lebih mudah diingat oleh masyarakat. TAD dibuat dari bahan kasa berlubang dengan diameter kecil untuk mengatasi ketakutan masyarakat bahwa mereka tidak mendapatkan air dengan menutup tempat penampungan airnya. Oleh karena itu, TAD dirancang dengan pori-pori yang tetap dapat menampung air saat hujan yang menyesuaikan kebutuhan warga di sana.
Konsep TAD ini sendiri diinisiasi oleh Ibu Tri Astuti dari Dinas Kesehatan Kota Tarakan. Kegelisahan beliau melihat tingginya kasus DBD di kotanya membuatnya mencari ide alternatif untuk mendukung program-program penanggulangan DBD yang sudah ada sebelumnya. “Perubahan iklim menjadi pemicu berkembangnya nyamuk DBD, ditambah dengan meningkatnya jumlah penduduk serta masih banyak masyarakat yang mau tidak mau masih menggunakan bak penampungan air hujan karena daerahnya belum terpasang instalasi jaringan pipa air PDAM.” ungkapnya.
TAD menjadi suatu alat sederhana bagi warga untuk mencegah nyamuk berkembang biak di penampungan air
TAD juga ternyata sekaligus mencegah kotoran masuk ke tempat penampungan air
Kelompok Kerja Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Kota Tarakan bekerjasama dengan Mercy Corps Indonesia melalui program ACCCRN (Asian Cities Climate Change Resilience Network) untuk mengimplementasikan upaya pencegahan perkembangan vektor penular DBD dengan BKM Sejahtera sebagai mitra pelaksana di lapangan. Warga di 29 RT Kelurahan Selumit Pantai diberi pelatihan dan didampingi untuk bisa membuat TAD menggunakan mesin jahit sederhana. Sampai pada pertengahan 2015 ini, telah dihasilkan 3.580 unit TAD yang terpasang di tengah masyarakat di sana.
“Warga sangat antusias dan senang karena sekarang tempat penampungan airnya jadi terlindung dari jentik nyamuk dan sekaligus kotoran-kotoran. Saya juga senang karena ada peningkatan kapasitas pada saya yang tadinya tidak bisa menjahit dan sekarang bisa memproduksi TAD sendiri. Ada keterbatasan jumlah mesin jahit, jadi saya senang-senang saja kalau ada yang mau minta diajari atau dibuatkan TAD untuk digunakan di rumahnya.” ujar Bp. Arif, salah satu warga di Kelurahan Selumit Pantai.
Bp. Arif, salah satu warga di Kelurahan Selumit Pantai merasa senang memiliki keterampilan baru untuk menjahit TAD yang bisa dimanfaatkan di lingkungannya juga.
Selama ini TAD terbukti bisa menghalangi kotoran yang sifatnya kasar untuk masuk ke air karena talang maupun atap rumah sering juga menjadi sarang binatang lain seperti tikus. Setelah pemasangan sekitar 2-3 bulan, terbukti ada peningkatan Angka Bebas Jentik (ABJ) dari 56,3% menjadi 95% . Diharapkan TAD bisa berkontribusi untuk pencegahan DBD khususnya di daerah sulit air/ belum terjangkau jaringan pipa air bersih. Dengan adanya Topi Anti DBD ini, masyarakat di Kelurahan Selumit Pantai, Kota Tarakan tetap dapat memanfaatkan air hujan dan sekaligus mendorong upaya pencegahan penyakit DBD. “Kami berharap seluruh proses dan pembelajaran selama implementasi proyek Topi Anti DBD (TAD) dapat diketahui dan bermanfaat bagi mereka yang ingin mereplikasi kegiatan serupa,” ujar Ir. Jamaludin (Asisten Ekonomi & Pembangunan) mewakili Walikota Tarakan mengapresiasi semangat warganya.

Sunday, August 9, 2015

Candu

Candu
Tangan kanannya memegang sebatang rokok. Sesekali diisapnya pelan lantas dibuangnya asapnya ..juga dengan perlahan. Matanya beberapa kali melihat ke arah pembicara atau layar di belakang pembicara…tetapi sekilas kuperhatikan beberapa kali menatap jauh.
Sebagian sudah masuk kamar masing2…tapi dari panggung yang agak tinggi di depan kamar mereka pembicara bisa melihat mereka tetap mengikuti acara ini walaupun hanya dari suara yang masuk ke pengeras suara lewat jendela terbuka yang terbuat dari jeruji besi . Sebagian yang sudah masuk kamar juga bersantai dengan rokok-rokok di tangannya.. ..kadang-kadang mereka tertawa lepas saat ada joke dari para pembicara atau ada situasi yang kelihatannya ‘dekat’ dengan kondisi mereka saat ini.
Sebagian yang lain tampak sibuk dengan makanannya. Mungkin sudah masuk waktu makan…. Karena mereka sudah stand by sejak pagi jadi ya bisa jadi wajar juga kalo saat jam menunjukkan hampir jam 1 siang maka mereka rame-rame makan sambil sesekali melihat layar. Sampai kadang –saat jeda sejenak- terdengar tawa ceria yang seolah tanpa beban.
Saat dipaparkan materi tentang narkoba , banyak sekali yang ikut komentar saat pembicara pertama menyampaiakan sesuatu. Bisa jadi karena mereka sangat akrab dengan barang-barang ini…. Yah kata petugas yang menjaga 90% mereka terkena narkoba . Informasi dan cerita dari petugas bahwa saat mereka ditanya kasus apa maka dengan ringan menjawab ‘kasus narkoba dengan BB (barang bukti) sekian dan sekian’. Ringan tanpa beban..
Memberikan pengetahuan buat orang yang sudah ada di dalam sini memang cukup baru bagiku. Sehingga reaksi yang ‘tidak biasa’ juga muncul saat pembicara menyampaikan materinya. Kengerian tentang hiv aids, sebagai materi kedua penyuluhan siang ini juga muncul dari sebagian besar peserta…..dilihat dari komentarnya saat mengikuti lembar demi lembar slide yang dipaparkan.
Mengamati dari jauh maka aku hanya bisa menduga-duga apa-apa yang kiranya ada di benak mereka. Karena selesai kegiatan ini pun tidak ada yang bertanya kepada pembicara. Mungkin sudah paham, paham sekali atau sebaliknya tidak tahu. Kembali menebak-nebak apa yang kira-kira akan tertinggal dalam benak mereka sepeninggal kami nanti. Kalo melihat proses sharing info tadi sebenarnya masih ada sebagian kecil dari mereka cukup antuasias. Tandanya meraka dekat dengan pembicara, tidak melakukan kegiatan sambilan yang akan memecah konsentrasi, serta mengikuti dengan seksama materi yang diberikan.
Aku jadi ingat saat pembicara dari sebuah badan menghabiskan 2 jam di depan meraka dan lanjut 1,5 jam lagi pembicara berikutnya di depan meraka. Mungkinkah hanya sekedar tambah pengetahuan yang tidak bepengaruh apa-apa dalam tindakan selanjutnya atau justru bisa menjadi ‘insight’ kecil yang akan membukakan jalan yang lebih luas bagi perubahan pemikiran mereka kelak di kemudian hari.
Tampaknya untuk menjadi yang terakhir, akan masih panjang ceritanya. Dibutuhkan kemauan kuat untuk bisa melepaskan dari hal-hal yang sudah menghegemoninya. Tertindas oleh sesuatu tetapi justru sangat menikmati . mereka tidak merasa ditindas. Bahkan sebagian dari mereka merasa happy-happy saja .
Aku melihat tawa ceria tanpa beban dan sikap easy going dengan rokok-rokok di tangannya di depan para tetamunya menjadikan makin benar tesis yang menyatakan rokok menjadi pintu awal narkoba. Apalagi saat ada yang nyeletuk saat pembicara menyampaikan hal demikian : “ wah nggak bisa kita lepas dari rokok bu kita ini…………..”wow ! sebuah fakta yang spertinya baru yang sangat menantang…. Sebenarnya bisa jadi fakta lama. Tapi tidak pernah terekspose. Atau sengaja ditutup-tutupi kali….
Yang juga sangat menyedihkan bahkan bagi penghuni yang hampir keluar sekalipun. Wanita-wanita yang hanya tinggal tunggu waktu bebas juga masih mengepit sebatang rokok di tangannya . Aku melihat fenomena ini cukup menyedihkan. Walaupun keluar tapi aku menduga akan masih sangat rentan dengan zat adiktif lain selain rokok….
Memang beda rokok dan narkoba juga sudah jelas. Bahwa rokok- sampai sekarang, - masih- dilegalkan oleh Negara, bahkan kerap kali diharapkan pemasukan cukainya; walaupun kita juga sama –sama tahu pengeluaran Negara akibat rokok jauh melampaui cukainya itu. Bahkan sampai berkali-kali lipatnya. Sedangkan narkoba sebaliknya illegal. Tapi ingat bahwa banyak hubungan antara keduanya: keduanya zat adiktif (candu) yang biasanya diawali dengan ketergantungan yang ringan dulu (yaitu rokok). Walaupun dianggap debatable bagi yang kontra tobacco control tapi sudah sangat jelas bahwa hampir semua pemakai narkoba diawali dengan menjadi perokok terlebih dahulu.
Terlepas dari itu semua, maka semua dari mereka adalah sama seperti aku, perempuan. Mungkin sebagian dari mereka adalah ibu, calon ibu atau bahkan seorang istri. Sungguh berat sekali derita yang ditanggung. Ya candu telah merampas semuanya. ..Semoga ini akhir dari kepahitan yang akan berbuah manis pada akhirnya. Semoga mereka menjadi terakhir. Tidak untuk generasi anak dan cucu di bawah nya. Saat itu diucapkan dan ditanyakan pada mereka “sebuah komitmen untuk menjadi terakhir” maka ada hening sejenak yang membuat aku merasa merinding.
Perjalanan masih sangat panjang………….
Astaghfirullah.…jauhkan kami semua dari perbuatan yang tidak Engkau sukai ya Allah….