Tuesday, January 15, 2019

DAYA RUSAK & AKAR MASALAH PROSTITUSI (ON LINE)



·       Tri Astuti Sugiyatmi
Diungkapnya kasus prostitusi on line artis berinisial  VA  dan AS di Surabaya- Jawa Timur mengundang keprihatinann sendiri. Sebenarnya  modus jualan tubuh yang diiklankan melalui media dalam jaringan    ini   bukan yang  pertama terungkap ke publik. Pada tahun 2015, prostitusi  on line artis juga sudah terungkap dan sudah ada yang ditangkap.   Ternyata bukan hanya artis pelakunya, yang menyedihkan prostitusi  jenis ini  juga ‘menjual’  pelajar dan mahasiswa seperti kejadian  di Jogja pada tahun 2017.
Sebenarnya kata on line yang mengikuti kata prostitusi  itu   berasal dari kata on dan line, on artinya hidup, line artinya saluran.Pengertian online adalah keadaan komputer yang terkoneksi/ terhubung ke jaringan Internet untuk  dapat mengakses internet/ melalui kegiatan browsing yang  bearti mencari informasi  di internet.  Saat ini promosi artis / pelajar/mahasiswa yang  “nyambi”  menawarkan kemolekan    tubuhnya   juga  bisa diakses di situs tertentu di internet atau  di  sosial media  yang tentu juga berbasis internet baik facebook, Twitter, telegram, WA.
Jika awalnya  kegiatan prostitusi  dibagi  berdasarkan status terdaftar  yaitu yang di lokalisasi  atau tidak  terdaftar  yaitu pada bangunan yang sebenarnya  bukan peruntukan pada kegiatan transaksi  seksual namun menyediakan wanita penghibur (yang sering disebut sebagai ladies)  yang dapat ‘ditawar’ juga laiknya pelacur di lokalisasi. Yang sering menyediakan kegiatan prostitusi terselubung  yang tidak terlokalisir seperti itu  biasanya  di  tempat hiburan malam  seperti  di hotel,  penginapan,   panti pijat,  karaoke, billyard  dan berbagai tempat lainnya.  Terdaftar dan tidak terdatar juga bisa dianggap legal dan illegal menurut kacamata Negara. Legal dalam arti bahwa keberadaannya diketahui oleh pemerintah setempat dan sebaliknya. Walaupun secara hukum agama manapun maka kedua jenis ini  tidak berbeda alias sama buruknya.
Dengan kemunculan prostitusi  jenis ini , maka  menurut penulis dapat ditambahkan  klasifikasi  baru yang berdasarkan  cara promosi atau pemasarannya yaitu on line dan off line.  Istilah off line sebagai kebalikan dari on line  adapat diartikan  bahwa pemasarannya    terputus atau tidak terhubung dengan jaringan internet.  Prostitusi ini jenis ini biasanya bersifat menetap tempatnya  pada Lokalisasi atau rumah bordil.  Namun bisa jadi dengan perkembangan gadget canggih yang sudah menjadi keseharian para PSK (pekerja seks komersial) maka kombinasi dari 2 hal tersebut  juga sangat mungkin terjadi.
Jika di akhir tahun 2018 beberapa Pemda- sesuai target Kemensos RI- sedang berjuang keras untuk mengembalikan para pelacur ke tengah keluarganya  dengan membubarkan lokalisasi maka terungkapnya prostitusi  jenis ini menjadikan program mulia ini  menjadi  seolah –olah menjadi  tidak ada artinya. Hal ini terjadi karena  daya rusak isu ini saat ini yang bila ditakar sangatlah   hebat.
Daya Rusak                                
Selama ini  menurut sepengetahuan penulis  memang belum ada penelitian  mendalam yang arahnya ke prostitusi on line.  Namun  melihat betapa  luasnya  jangkauan  internet di negara kita  dan besarnya pemakai media sosialnya maka  hampir dapat dipastikan bahwa  pemasaran prostitusi  melalui media  ini juga bisa jadi  akan mengikuti  polanya.  Jika penetrasi internet bisa dikatakan   menembus batas ruang, jarak dan waktu  (terus menerus) maka pemasaran prostitusi on line  juga demikian adanya. Bahwa ‘jualan’ ini bisa dilihat dari pojok bumi manapun sepanjang ada jaringan. 
Tentu saja “keunggulan’ dari yang on line dibanding off line adalah promosi bisa  berjalan secara total dan habis-habisan. Bagian-bagian yang diidentifikasi paling diminati oleh  konsumen dapat dengan detail tergambar  atau tershoot (gambar bergerak) secara jelas, bukan hanya sekedar wajah saja.
Berbeda dengan lokalisasi yang untuk  sekedar melihat wajah dan sosoknya  harus mendekat secara fisik ke lokasi dan ini  dianggap “berbahaya”  untuk kalangan tertentu seperti public figure misalnya, karena akan mudah teridentifikasi sosoknya  oleh orang lain. Itupun kalau mau melihat hanya lewat jendela kaca seperti layaknya melihat barang pajangan di sebuah toko. Hal itu yang dulu  tergambar di beberapa di  rumah bordil di kawasan gang  Dolly- lokalisasi yang cukup legendaris di Surabaya-yang sekarang sudah ditutup.  Tambahan informasi  hanya bisa  didapat melalui  mucikari atau penghubungnya. Itupun
Pada yang pemasaran on line  maka  produk yang ditawarkan  atau si artis  bisa  terpampang dengan detail dalam waktu 24 jam non stop. Sementara pada yang konvensional maka jika matahari sudah terbit alias sudah beranjak pagi maka  keriuhan “pasar” malam hari  itu juga seketika akan menurun.
Jika  pada yang off line para konsumen  atau katakan lelaki hidung belangnya  biasanya adalah para pekerja biasa-biasa  yang domisilinya   relative tidak  jauh dari lokasi. Walaupun dalam kasus tertentu adalah para lelaki kesepian yang sedang ‘transit’ di sebuah kota yang  jauh  dari  keluarganya.  Pada yang on line  kebanyakan  penikmatnya adalah kalangan berduit –mengingat mahalnya tariff -  antara  lokasi wanita  PSK   sebagai ‘pemberi jasa’ dan lelaki hidung belang sebagai konsumen  bisa jadi  sangat dekat atau bahkan sangat jauh maupun diantara keduanya.  Namun  khusus  pada  penikmat promosi PSK on line  bisa jadi sangat lebar rentang umur dan latar belakangnya.
Maka akan sangat beralasan bila  dibandingkan  dengan  prostitusi  off line yang   mempengaruhi  banyak hal  “hanya”  dalam skala lokal, maka prostitusi on line  - menurut hemat penulis- bisa jadi  lebih luas  dalam skala  nasional, regional bahkan global (bila  berupa sindikat perdagangan antar manusia antar Negara).
Hal-hal seperti di atas  kemungkinan   juga sudah terjadi juga sejak tahun –tahun pertama diungkapnya prostitusi dalam jaringan. Namun pada tahun ini menjadi cukup heboh karena ada beberapa isu yag mengiringinya. Isu artis VA  oleh   beberapa orang pada akhirnya dipakai sebagai  bahan olok-olok pada lembaga pernikahan  dan keluarga.  Sesuatu yang  oleh masyarakat timur sangat diagungkan.  Awalnya seorang netizen remaja yang mem-posting bahwa  value atau nilai diri seorang VA  yang dikaitkan dengan  nama merek produk  yang  terkenal mahal   dianggap  lebih  berkelas   daripada kedudukan istri – dari  sebuah rumah tangga/ keluarga normal.   Bayaran  seorang  VA yang fantastis yaitu 80 juta “sekali main” vs “bayaran” seorang istri yang hanya 10 juta per bulan  untuk memainkan berbagai peran seperti  koki, babby sitter ataupun pembantu untuk merujuk tugas istri sekaligus ibu rumahtangga tentu saja   memantik reaksi keras  sebagian besar netizen yang menganggap perandingan yang  tidak apple to apple. Apalagi  dalam  beberapa  tanggapan/komen yang muncul berikutnya  disebutkan bahwa seperangkat alat shalat  -  sebagai mahar dalam pernikahan dalam Islam- serta sejumlah rupiah  saja sudah mengikat seseorang istri/ibu  melakukan tugas  sekitar dapur, sumur serta kasur dalam seumur hidupnya.    Sesuatu yang  penulis anggap sebagai daya rusak yang tertinggi karena sudah menyentuh wilayah paling sensitive bagi wanita yang menjadikan  ketulusan pengabdian dalam menjalankan peran sebagai istri bagi suami serta  ibu bagi anak-anaknya    diusik secara serampangan.  
Walaupun pada akhirnya diklarifikasi bahwa postingan tersebut  adalah upaya  supaya tidak hanya menyorot perempuan  saja saat ada kasus prostitusi,  namun  pemilihan diksi yang kurang tepat mengakibatkan  diolok-oloknya ajaran agama yang semestinya menjadi dihormati adalah sebuah blunder bagi si pengunggah.
Akar Masalah
Menurut hemat penulis,  ini  menjadi blessing in disguise. Ada semacam berkah di dalam musibah. Bahwa  ternyata  kasus ini  dapat mengungkap dan  memetakan   pola pikir kebanyakan dari   remaja  kita.  Adalah apa yang bisa jadi menjadi akar masalah dari semuanya adalah  adanya pola pikir  hedonism yang hanya  berkutat pada kesenangan  dan kenikmatan materi  sebagai tujuan utama dalam hidupnya.    Bersenang-senang,   berpesta pora dan hura-hura dengan menghamburkan materi menjadi  gaya nya sehari-hari.   
Bahkan pada saat dalam kondisi kekurangan  materi  pada keluarganya -pun  seringkali para penganutnya  akan mencari  biaya sendiri sebagai penopang gaya hidupnya  dengan cara  main seks bebas  dengan  imbalan sedikit uang   dari para  om-om  (pada  beberapa kasus pelajar dan  ‘ayam  kampus’). Hal ini  juga sebagai cerminan  dari pola pikir pragmatism dimana  sisi praktis  atas hasil akhir dengan mengabaikan nilai moral yang ada sudah sangat menggejala di kalangan masyarakat.
Memang  hedonism serta pragmatism bukan hanya monopoli  si cewek  namun juga pada lelaki hidung belang sekaligus mucikarinya.  Namun mendiskusikan semacam sudut pandang   yang  hanya mengagungkan  kekayaan serta kebendaan  dan cenderung mengabaikan nilai rohani  (materialism ) sebagai akar dari  prostitusi menjadikan  beberapa pihak  menuding   bahwa   hal  itu  adalah nyinyiran dari  orang yang disebutnya   merasa lebih suci daripada para pelacur tadi.   Suatu pendapat yang seolah membela secara membabi buta pada VA.
Menurut hemat penulis memang banyak sekali cerita dibalik  sebuah prostitusi.  Namun intinya adalah ada yang terpaksa (dalam tekanan) dan secara suka rela. Namun bukan berarti bahwa empati kita menjadikan  kita menafikan suara hati nurani kita.  Diskursus  tentang hal –hal yang menjadi akar masalah prostitusi on line juga cukup penting.  Tentu saja tidak bisa wacana-wacana didiskusikan dengan  saling  mengolok, mencibir atau menegasikan satu sama lain seperti  “kebiasaan baru” para netizen.  Namun diharapkan  bahwa ini akan memperkaya  pemikiran, ide-ide serta gambaran yang kemudian bisa jadi akan  membangun sebuah  konsep  budaya baru bagaimana sikap terbaik  dalam  menghadapi  goncangan akibat  apapun.   Kesimpulannya bahwa  hal  ini  dibutuhkan untuk menjadi bekal   membesarkan para generasi milenial  untuk menyongsong masa depannya dengan cemerlang.  Bukan sebaliknya menyongsong masa depan dengan meriang akibat perilakunya sendiri di masa kini.


Monday, January 14, 2019

Pemasaran Sebuah Rokok



Siang itu aku dan anak karena mengisi waktu---jalan-jalan di sebuah lingkungan  kampus. Sebuah tempat belajar  mahasiswa yang sangat berwawasan lingkungan. Kampusnya sangat hijau, bersih dan sangat teratur.  Sekilas mengamati dari luar , banyak bangunannya yang memang desainnya juga sangat bagus. Ada genteng2 kaca di bangunanan KM nya membuat pemanfaatan listrik juga minimal. Desain ruangannya terbuka dan kaya ventilasi. Melihat VISI nya yang mencanangkan sebagai Eco campus maka sudah terasa mendinginkan hati ini. Bagiku itu bisa jadi efek warna hijau kali ya…
Sayang saat masuk sebuah minimarket yang di depannya  terpampang  tulisan koperasi pegawai perguruan tinggi tersebut maka di belakang kasisr aku melihat display rokoknya sangat lengkap.  Sampai spontan bertanya …  kok jualan rokok ya mba…. Mba nya sebagai  kasisr mungkin merasa kaget atau aneh saja. Kok ada pembeli yang iseng banget nanyain segala hal itu…he..he… Anakku senyum-senyum aja sambil melirik aku.  Mba- nya nggak menjawab…
Pas saat di kendaraan anakku menanyakan  sekaligus protes  “kenapa  ibu suka gitu deh”. Dia mungkin malu ibunya ajaib begini… “Yah spontan aja sih mas…”. Lantas aku melanjutkan  bicara… “lho kalau eco campus kan semestinya tidak boleh ada sesuatu yang disengaja  yang akan merusak lingkungan. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah kecil banget efeknya. Cuma aku merasa sayang banget kalau itu memantik habit pengunjungnya untuk ramai –ramai merokok……di sebuah lingkungan yang sudah sangat luar biasa ini.”
Komentar anakku pendek tapi membuat aku tersenyum kecut…. “namanya bisnis bu”…. He..he ya bener banget. Sebenarnya aku juga sangat sadar bahwa  itu hak mereka juga sih. Namanya  usaha bisnis… apapun dan dimanapun  ya begitu karakternya. Pengin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Apalagi rokok dianggap bukan benda terlarang.  Tapi aku lanjut  ngobrol dengan anakku. “Tapi  ada beberapa toko yang ngak mau menyediakan rokok  lho mas…keren kan? “ . “ Dimana ?”  “ada tuh di  Sak**na* Mart  sebuah  minimarket langganan kami.” Oh ya …juga ya… Ya mereka memang menahan diri   tidak menjual barang yang termasuk paling sering dicari pelanggan” sebuah sikap  yang memang berat karena hilangnya kemungkinan pendapatan.  Tapi itu keren sekali…. “.   Anakku diam. Mudahan mengiyakan- harapku….
Aku jadi teringat saat berkunjung dan berkeliling  ke sekolah dalam program  Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sekolah   dengan unggulannya Luru Utis ( program untuk  mengevaluasi dengan cara memungut puntung rokok dan menghitungnya) oleh para siswa yang disebut sebagai relawan kawasan tanpa rokok : RELAKATARO.  Saat  itu kalau arah kelilingnya ke  lingkungan  dalam sekolah maka semua  hampir pasti  sudah sangat bagus.  Artinya program luru utisnya sudah berjalan. Relawannya juga bekerja dengan sangat luar biasa.  Namun yang  selalu menjadi masalah adalah saat berjalan di sekeliling  gedung  Sekolah itu entah SD, SMP atau SMA. Aku mengamati bahwa ada fenomena dimana  semua  warung yang mengitari sekolah itu rata-rata  ditutup dengan spanduk yang isinya hampir 100% iklan rokok. Iklan rokok dengan gambar menarik, tagline yang menggugah seringkali secara tidak sadar sudah masuk dalam alam bawah sadar kita.  Anak-anak sekolah yang saat istirahat akan jajan langsung melihat iklan itu dan pada akhirnya akan mengganggap bahwa hal itu menjadi sangat biasa dan wajar. Bukan sebuah keanehan apalagi pelanggaran.   Demikian juga anak saat  datang dan pulang sudah otomatis disambut oleh iklan-iklan itu.
Yang menyedihkan banyak dari warung-warung itu menyediakan rokok eceran…. Aduuh  uang jajan anak SMP dan SMA sudah bisa untuk membelinya. Ini yang hampir tidak ada pengawasan sama sekali.
Kelihatannya marketing dari pabrik rokok memang sudah siap dengan semua amunissi untuk mencari perokok pengganti (alias menyasar anak sekolah yang notabene yang lebih muda) karena sebetulnya perokok yang lebih tua sdh banyak yang sakit dan meninggal.
Di hampir semua jalan protokol di banyak kota,  terlihat iklan  yang mendominasi adalah iklan rokok. Juga banyak yang berbentuk neon box atau TV raksasa (videotron). Di berbagai bandara dan terminal   di berbgai kota juga demikian. TV raksasa tepat di pintu keluar sebuah bandara  kota besar menayangkan iklan rokok yang bergerak tanpa jeda.
Iklan rokok bahkan sudah sangat jamak jika menjadi sumber penghasilan, media masa, juga televise   bagi pemerintah daerah.   Hanya beberapa Pemerintah Daerah yang melarang total iklan2 rokok di wilayahnya. Kulonprogo adalah salah satunya. Sungguh luar biasa bagi Pemda yang berani  menolak reklame rokok karena secara lgika akan kehilangan sebagian pendapatan nya. Tapi bagi daerah dengan pimpinan yang komitmennya  sangat baik maka hal ini tetap bisa terjadi. Toh masyarakatnya malah justru semakin  meningkat kesejahteraannya. Ini diakui sendiri oleh Bapak Bupati yang pernah mengisi  sebuah acara yang aku hadiri.

Ada beberapa daerah lain  yang menerapkan hal itu dan  rata-rata memang  karena faktor pemimpinnya. Harapannya  pemimpin ke depan negara ini juga berani  untuk mengatakan” tidak “ pada marketing rokok yang sangat ugal-ugalan.  Rokok harus menjadi lebih mahal  melalui cukainya. Sebagai sebuah bentuk pengendalian supaya  tidak mudah anak-anak untuk membelinya.  Bonus demografi yang akan datang akan menjadi tidak banyak manfaatnya saat rokok, vape  serta banyak obat terlarang yang masuk melalui  pintu rokok akan menggerus  anak muda kita. Demikian juga ancaman penyakit-penyakit kronis serta ‘menyedot’  banyak  pembiayaan  juga sudah mengintai anak muda kita… Wah akan sangat panjang  bila diteruskan… Tapi  harapannya  sama dengan  ucapan seorang direktur perusahaan rokok besar seperti  video yang beredar  beberapa waktu lalu…. “Saya tahu bahwa rokok itu berbahaya dan Merokok itu pilihan orang dewasa, dan saya memilih untuk tidak merokok," …. Seperti juga yang terkonfirmasi dengan sikapnya saat menghadiri sebuah acara di Universitas Airlangga pada tahun lalu.
Satu saja  bagiku,  bahwa ini sangat Woww….



Saturday, December 29, 2018

Lokalisasi Prostitusi : Setelah Ditutup, What’s Next ?


Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Target Kemensos bahwa tahun depan bebas lokalisasi terus berjalan. Terdapat target sebesar 168. Sebagian besar sudah ditutup dan masih menyisakan sekitar 40 ada pertengahan tahun ini. Kaltim sendiri sudah menutup lokalisasinya sejak 1 Juni 2016, sementara di Kaltara baru Nunukan yang melaksanakan. Kota Tarakan masih belum ada tanda-tanda.
Prostitusi -yang berarti pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan atau pelacuran (KBBI on line) – merupakan sebuah fenomena sosial. Demikian juga lokalisasi yang berarti pembatasan kegiatan prostitusi tersebut pada suatu tempat atau lingkungan tertentu saja. Keduanya sangat menarik untuk dicermati. Prostitusi dan lokalisasi secara substansi sering dikaitkan dengan masalah yang menyangkut harkat, martabat dan nilai kaum wanita. Beberapa sumber mensejajarkan dengan perbudakan. Yang pasti bahwa semua agama (khususnya di Indonesia) melarangnya dengan berbagai dalilnya.
Pada perkembangan prostitusi terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu yang terdaftar di lokasi yang jelas maupun yang tidak terdaftar. Yang akan dibicarakan disini adalah lokalisasi prostitusi yang terdaftar. Hal yang memang diakui sangatlah kompleks mulai dari awal mulanya / sebab-sebab kemunculannya, proses maupun dampak yang ditimbulkannya. Banyak alasan wanita terjun kedalam dunia prostitusi menambah panjang daftar kompleksitas permasalahan ini. Adanya paham - paham materialism yang seringkali akan dapat dijadikan model oleh orang lain saat seorang PSK berhasil mengumpulkan kekayaan, adanya dukungan orang dekat, lingkungan yang permisif, dan faktor ekonomi / kemiskinan sering disebut sebagai alasan.
Kebijakan melokalisasi kegiatan prostitusi di sebuah tempat yang dianggap “pas” seringkali diambil oleh pemerintah daerah di suatu penggalan waktu terdahulu dengan berbagai pertimbangan. Hal ini memang biasanya akan melahirkan pro kontra. Pada kelompok yang pro mengganggap bahwa dengan mengumpulnya mereka di satu tempat akan memudahkan pembinaan serta pengawasan pada yang disebut sebagai wanita tuna susila (WTS). Pembinaan dan pengawasan disini bisa berarti dari banyak bidang baik sosial, ekonomi dan kesehatan yang ujungnya mengharapkan para penghuni bisa sadar kembali dan kembali ke masyarakat. Dengan terlokalisirnya mereka akan sangat mempermudah petugas dalam memantau perkembangan mereka.
Sebaliknya pada yang kontra seringkali menganggap bahwa lokalisasi menjadikan berkumpulnya berbagai “penyakit masyarakat” di dalamnya. Perjudian dan peredaran minuman keras menjadi tempat ”persemaian” yang sangat kondusif. Pada beberapa kasus kadang-kadang diduga ada perdagangan wanita (dalam beberapa kasus terdapat wanita di bawah umur). Di dalam lokalisasi tersebut norma-norma agama dan masyarakat menjadi tidak jelas. Akibatnya kriminalisasi juga akan sangat meningkat. Sering juga ditemukan obat-obat terlarang di dalamnya. Istilah pembinaan bagi pihak yang kontra cenderung ditanggapi sebagai upaya “melestarikan” semua hal-hal yang negative untuk diambil manfaatnya secara ekonomi bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
Permasalahan kesehatan juga menjadi PR yang sangat luar biasa di lokalisasi. Penyakit menular seksual seperti misalnya gonorrhea (kencing nanah), syphilis maupun HIV /AIDSsudah jamak terjadi. Permasalahan tidak otomatis selesai saat sudah diberikan pengobatan, karena bisa jadi sudah menjadi mata rantai penularan kepada para istri dan ibu rumah tangga baik-baik yang dibawa oleh bapak-bapaknya yang berhubungan seksual dengan para PSK itu. Jenis penyakit lain juga bisa jadi cukup tinggi, seperti kanker leher rahim yang dipicu oleh Virus HPV yang merupakan salah satu jenis virus yang ditularkan melalui hubungan seksual juga. Belum lagi potensi terjadinya penyakit tidak menular lain seperti kanker, darah tinggi dll yang dipicu oleh gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan minuman keras yang selama ini menjadi konsumsi harian para PSK.
Tindakan untuk menutup lokalisasi tidak kalah serunya. Diakui, memang akan sulit mempertemukan kepentingan dari 2 sisi kutub yang berbeda. Namun bukan berarti menjadi hal yang tidak mungkin. Sejarah penutupan lokalisasi di kota besar seperti Jakarta (Kramat Tunggak) dan Surabaya (Gang Dolly dan Jarak) sudah tertorehkan. Sangat terbuka bagi semua pihak untuk mempelajarinya.
Membaca sejarah penutupan Lokalisasi Kramat Tunggak – Jakarta yang kabarnya eksis pada zamannya dan menjadi lokalisasi terbesar di Asia Tenggara dan berubah menjadi Jakarta Islamic Center (1999) setidaknya dapat memberikan inspirasi. Lokalisasi ini ditutup atas desakan masyarakat karena tingginya masalah kriminal dan sosial di sana.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 18 Juni 2014 juga menutup semua lokalisasi di Kota Pahlawan, termasuk Gang Dolly. Lokalisasi dianggap menyalahi Perda Kota Surabaya Nomor 7 tahun 1999, dengan berfokus pada larangan bangunan dijadikan tempat asusila. Menjadi menarik adalah cerita dibalik penutupan itu. Bu Risma menyatakan alasan utama menutup lokalisasi yang legendaris itu adalah karena tersentuh saat seorang WPS yang sudah berumur masih melayani pelanggannya yang ironisnya adalah masih anak-anak dengan bayaran yang hanya berapa ribu perak. Besarnya dampak yang ditimbulkan secara sosial khususnya pada psikologi anak menjadikan tekad bu Risma semakin besar untuk menutup dengan melakukan persiapan matang. Berbagai pelatihan berbasis wirausaha digelar. Hasilnya sekarang dapat dilihat dalam wisata kawasan eks lokalisasi Dolly dimana ada beberapa yang beralih menjadi tempat kerajinan sepatu dan UKM (Usaha Kecil Menengah) lainnya sepertinya produksi pangan kecil.
Melihat perkembangan sejarah penutupan lokalisasi di 2 kota tersebut menurut hemat penulis maka diambil hikmah dan pelajaran sebagai berikut : Yang pertama adalah pengalihfungsian bangunan. Satu hal yang bisa dikerjakan bahwa bangunan yang ada menjadi kampung tematik yang mempunyai unggulan tertentu.
Pelajaran kedua dalam penutupan lokalisasi memang harus dengan persiapan matang sebagai upaya pencegahan untuk bisa muncul kembali di masa yang akan datang. Diketahui juga bahwa upaya represif maupun rehabilitatif juga perlu disiapkan juga. Dalam setiap tahapan tersebut kajian dan sudut pandang secara sosiologis maupun yuridis bisa jadi sangat diperlukan. Pada saat persiapan penutupan sebuah lokalisasi upaya terstruktur dari lintas sektoral (ekonomi, tenaga kerja, pendidikan, kesehatan dan agama) perlu untuk digalang. Bagaimanapun yang digusur adalah manusia yang membutuhkan pendekatan secara holistik setelahnya. Pembekalan itu terkait dengan permasalahan sosial ekonomi dengan memberikan berbagi pelatihan sesuai dengan minatnya (menjahit, sablon, kerajinan kreatif, memasak, dll ) dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup pasca penutupan tersebut. Bila ada dan dirasa perlu maka bisa dengan menurunkan success story seorang mantan PSK / mucikari.
Berdasarkan pengalaman penulis maka sebenarnya ada beberapa hal yang masih jarang diungkap ke publik terkait hal ini. Bahwa di dalam lokalisasi tidak hanya cerita sedih sebagaimana di atas karena “paksaan” pihak luar untuk tetap berkecimpung di dalamnya. Namun sebagian dari mereka memang menikmati perannya itu sehingga pada akhirnya enggan untuk bangkit meraih masa depannya yang lebih baik. PSK sebagai “lumbung uang” dengan cara kerja yang santai dan hura-hura. Demikian juga bagi para orang-orang yang bekerja mendukung terselenggaranya praktik tersebut. Merasa “malas” untuk melakukan usaha yang lain. Karena sudah merasakan enaknya aliran uang besar dari kegiatan tersebut.
Dalam sebuah studi yang pernah penulis lakukan di salah satu lokalisasi terungkap bahwa pendapatan sebagian dari mereka sebenarnya sangatlah besar bahkan ada yang mencapai jutaan bahkan puluhan juta per bulannya. Hal tersebut terkonfirmasi dengan pengakuan mengasuransikan diri pada asuransi kesehatan swasta yang cukup besar premi per bulannya. Walaupun memang ada berpenghasilan kecil tapi rata-rata adalah PSK yang baru datang.
Namun saat disinggung bahwa sudah ada “modal” yang sudah cukup untuk hidup di luar lokalisasi rata-rata dari mereka mengaku enggan karena alasan sudah kadung “PW” dan nyaman dengan kondisinya. Mereka begitu menikmati peran dan “profesinya” sehingga enggan untuk keluar dari sana. Sebagian dari mereka membelanjakan penghasilan mereka yang cukup besar pada kebutuhan konsumtif harian dan berbagai tuntutan gaya hidup di dalam. Sehingga bisa jadi perlu pelatihan pengelolaan keuangan keluarga juga bagi mereka.
Dalam upaya mengembalikan kepada kehidupan normal sebagaimana sebelumnya dibutuhkan upaya keras dan bisa jadi simultan dari berbagai pihak termasuk si pelaku sendiri. Setelah urusan ekonomi dan penghasilan ada titik terang maka urusan mindset, mental model maupun pada rohani menjadi yang pertama dan utama yang harus dibereskan di awal program. Hal ini dirasakan cukup penting ibarat sebagai “pondasi bagi bangunan baru” yang akan dibangun. Bila pondasi cukup kuat maka diharapkan program akan berjalan lebih sukses dan sebaliknya.
Pelajaran ketiga bahwa dukungan dari masyarakat sekitar beserta para ulama dan pemuka agama bukan hanya saat pra penutupan tetapi juga pascanya. Dukungan secara konsisten dan terus menerus dapat dikejawantahkan misalnya termasuk membeli produknya hasil usaha supaya mereka tetap bisa hidup secara ekonomi. Dukungan itu juga berupa nomor yang bisa diakses yang menjadi wakil para professional di bidang kesehatan dan psikologi baik perorangan /organisasi yang concern menjadi tempat curhat dan siap membantu berbagai kesulitan mereka. Adanya tokoh agama serta motivator yang siap membimbing dan memberi dukungan dalam proses yang sangat berat diawal ini. Akan sangat elok bila organisasi kemasyarakatan khususnya organisasi wanita dan keagamaan untuk dapat mengambil peran ini.
Terakhir sebaiknya Kemensos juga melakukan evaluasi secara komprehensif dari semua sisi untuk menjadi bahan perbaikan di masa-masa mendatang dalam penanggulangan lokalisasi prostitusi baik yang terdaftar, syukur-syukur juga yang belum terdaftar
(Teruntuk Kota Tarakan, TAS- Surabaya 20 Des 2018)

Tuesday, December 11, 2018

ICOPH


Sebuah Tiket Buta


Dalam hari-hari ini secara berturut-turut datang berita wafatnya saudara, teman, kerabat dekatku. Keluargaku di Cilacap yang memang sudah agak lama sakit, teman SMA ku yang tiba-tiba sakit juga putra temanku yang sakit juga. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun….. Semua dating dari Allah dan akan kembali ke Allah. Semua yang berjiwa pasti akan mati…. Untuk semuanya kebetulan dipanggil dalam 3 Jumat yang berurutan ini, Jumat 2 pekan lalu, Jumat 1 pekan lalu dan Jumat hari ini. Insyaallah semuanya diberikan husnul khotimah. Semoga diberikan tempat terbaik di sisi Allah swt ….Aamiin YRA
Berita tentang kematian memang setiap hari ada saja. Baru-baru ada seorang ibu yang tertimpa pohon tumbang di Bogor akibat angina putting beliung. Beberapa waktu lalu ada kabar korban meninggal pesawat Lion Air penerbangan JT 610 Jakarta – Pangkal Pinang yang berjumlah 189 orang walaupun sebagian tidak ditemukan. Ada juga 31 orang pekerja yang sedang mengerjakan ruas jalan di Kabupaten Nduga oleh kelompok teroris OPM (organisasi Papua Merdeka). Belum lagi waktu-waktu Agustus dan September ada korban akibat gempa Lombok dan Palu sebelumnya. 
Ya semua itu seringkali berita kematian berlalu begitu saja. Karena biasanya “jauh “ dari kita secara pribadi. Intinya orang lain atau orang jauh……Jadi kita biasanya hanya ingat ‘mati’ atau ‘ajal’ dalam waktu sebentar habis itu larut lagi dalam riuh rendahnya berita tentang peristiwa hilangnya pesawat, dahsyatnya puting beliung, hiruk pikuknya peristiwa apapun yang melingkupinya. 
Ada yang cukup menarik. Beberapa artikel tentang ‘tiket kematian manusia’ beredar bahwa kita sebagai manusia ibarat melakukan perjalanan panjang mulai alam dunia sampai akhirat, dimana transitnya adalah alam kubur. Terminal kedatangannya padang Mahsyar dan tujuan akhirnya adalah surga dan neraka. 
Dalam peristiwa jatuhnya Lion Air ada beberapa artikel yang beredar. Bagaimana para penumpang pesawat itu saat antri check in seolah adalah memang antri untuk menjemput kematiannya. Tidak ada yang tertukar ajalnya. Memang itulah yang terjadi dan beberaa orang yang memang belum saatnya ajalnya maka ndilalah ….kebetulan atau qodarallah terlambat check in atau digantikan oleh orang lain tiketnya. 
Ya aku berpikir bahwa sebenarnya kita semua sudah pegang tiket kematian itu. Cuma memang waktunya, tempatnya dan caranya semuanya masih tidak diketahui. Sebuah tiket buta. Ya ibaratnya harus selalu siap kapan saja. Tapi sejujurnya, bekal ini belum cukup sampai sekarang. Masih banyak sekali PR yang belum terkerjakan…. Tapi hidup toh harus tetap harus berjalan…
Yang penting kelihatannya bagaimana memadukan kesiapan menjemput kematian disaat masih hidup…….artinya harus hidup mulia supaya sewaktu-waktu diambil mudah-mudahan husnul khotimah. Aamiin YRA. 
Hidup mulia itu seperti apa ?. Ya ini PR yang tidak ada ujungnya……….Harus mencari2 ilmunya dan mendefinisikan secara operasional supaya bisa membumi dan bisa dilaksanakan secara riil. Ayo…ah

Saturday, November 24, 2018

SURVEY KEPUASAN JAMAAH : JEJAK MUTU DI SEBUAH MASJID


HP berdering beberapa kali. Nomor di layar tidak kukenali. Karena aku merasa nomor HP ku beberapa waktu ini terpampang di beberapa flyer / poster terkait seminar internasional maka aku merasa harus mengangkat HP ini. Sebagian besar memang calon peserta yang membaca pengumuman itu dan menanyakan banyak hal terkait seminar itu.
Beberapa kali HP berdering terdengar suara di seberang sana tanpa jeda memasarkan produknya. Ada asuransi, ada hotel, apartemen mewah, ada keanggotaan atau member club-club tertentu, dan macam2 lagi. Seringkali aku tolak dengan berbagai alasan. Kadangkala merasa terganggu dengan semua itu….. Padahal secara jujur harus diakui mereka juga sedang mencari nafkah. Tapi hak kita juga untuk menerima atau menolak karena kondisi dan situasi. 
Satu hal lagi yang sering terjadi adalah juga berbagai survei-survei. Kadangkala terasa menjengkelkan… he…he. Padahal yakin bahwa itu semua data dibutuhkan oleh si pemberi survey untuk mengetahui informasi yang diinginkan. Pernah beberapa kali masuk survey on line tentang sesuatu akhirnya ujung-ujungnya pengin tahu beberapa preferensi konsumen dalam memilih produk tertentu. Kelihatannya memang itu tujuannya hanya supaya keluar data berapa persen konsumen memakai produk gadget merek tertentu ? TV, mobil dll bahkan sampai juga merek sabun, shampoo, odol dll. Semua itu nggak salah, begitulah perusahaan mencari tahu dengan memakai survey pada konsumen. 
Begitu juga pada tempat-tempat pelayanan public. Sering ada survey serupa untuk mendapatkan feedback dari para penggunanya. Di sebuah bank diberikan kertas yang dipersilahkan dimasukkan ke kotak yang sudah tersekat dengan tulisan sangat puas, puas, kurang puas dan tidak puas. Respon konsumen akan sangat bermakna bagi mereka. Mereka akan pakai data itu untuk memperbaiki pelayananan berikutnya. Demikian juga di beberapa bandara sekarang khususnya di WC bandara akan ada alat yang cukup canggih. Emoticon senyum, datar atau cemberut mewakili perasaan konsumen. Di banyak puskesmas/RS/ klinik bahkan selain metode itu juga sekaligus ada yang pertanyaan terbuka untuk memberikan saran/ kritik. Beberapa orang terkesan asal-asalan dalam mengisi karena seringkali ada ketidaksinkronan yang diberikan. Saat ada pilihan dan pertanyaan terbuka sekaligus.
Beberapa penelitian juga menggunakan metode ini. Kadang bila responden merasa tidak memerlukan maka beberapa jugaa terasa asal-asalan. Tapi sekalilagi memamng itu haknya responden mau jawab apa saja…….. he..he
Sore ini saat aku ke majid al Akbar- sebagai tempat yang disepakati antara anakku dengan temannya untuk bertemu, seorang akhwat tersenyum kepadaku. Kemudian bergerak kearahku dan menyodorkan sebuah survey. Tentang WC / wudhu dan parkir………… Masyaallah . Sebuah metode ilmiah yang dipakai oleh lembaga masjid adalah surprise bagiku. Ya sudah lama aku tahu masjid ini menerapkan sistem manajemen mutu. ISO. Beberapa kali aku posting fotonya serta beberapa hal yang aku lihat jejak-jejak mutu di masjid terbesar di Surabaya ini. 
Yang sampai ke aku hanya survey tentang WC dan parkir mulai kebersihan, kelengkapan alat-alatnya, kejelasan informasinya, kerapian dll. Mungkin bisa jadi ada juga survey yang lain missal kebersihan masjid, mukena, karpet masjid dll. Kemarin aku nggak sempat ngobrol lama dengan akhwat dan ikhwan yang mengambil hasil survey nya dariku. 
Jujur saat itu aku sekilas memang melihat parkir, karena aku sudah sering ke lahan parkirnya mak aku agak hafal dan mengisi survey ini dengan hanya mengingatnya. Giliran mengisi bagian WC aku agak ragu untuk mengisinya. Karena lama akau nggak masuk WC nya. Takut kalo aku tidak benar kasih informasinya, maka aku menyempatkan ke tempat WC dan tempat wudhunya. Baru aku merasa plong karena merasa memberi jawaban yang menurutku sudah pas. Tidak asal coret. … setelah dari WC baru aku mengisi /meneliti kembali apa yang sudah aku tuliskan… Baru kali ini aku merasa harus melihat lagi apa yang sudah aku contreng sesuai dengan ingatanku saat msuk WC/wudhu yang sudah sangat lama. Biasanya kalo mau ke sini sejak dari rumah aku sudah wudhu duluan. Ya survey di masjid ini menjadi sesuatu yang sangat baik dan bisa dicontoh oleh masjid lain. Gambaran perpaduan spiritual dan intelektual yang sangat baik…. Masyaallah. 
Aku yakin survey ini hasilnya akan diolah untuk meningkatkan pelayanan ke depannya. Sebuah sikap terbuka dari takmir masjid yang mau mendengar suara, saran bahkan kritik yang bisa jadi tidak menyenangkan. 
Seringkali kita memang tidak suka dikritik, di beri saran (karena merasa kita yang paling hebat), atau pendek kata dikasih nilai jelek. Bila memang dalam memberi masukan, saran dan kritikan itu cukup baik dengan tidak mempermalukan maka sebenarnya itulah justru akan memberikan ‘cermin” bagi yang dikritik. Kritik memang bisa jadi pahit tapi manis pada akhirnya. Memang akan menjadi lain bila semua masukan hanya karena niatnya ‘nyinyir ‘saja. 
Sikap sebaliknya saat kita enggan memberi kritikan karena merasa harus memberi puja-puji saja. ABS lah…..dengan berbagai alasan. Sekilas puja-puji saja itu menyenangkan tapi dalam jangka lama itu seringkali justru menjerumuskan….Jadi berilah pendapat secara benar dan proporsional, termasuk survey tadi. 
Untuk team survey jamaah di Masjid Al Akbar, Barakallah…. Insyaallah sangat positif dan menginspirasi…

Sunday, November 4, 2018

Ayo, Habiskan Sisa Air Mineral di Botol KIta !!


#SaveAirMinum
#Airsumberkehidupan
Saat itu aku mengikuti acara seminar internasional terkait public health yang dihadiri oleh sekitar 350 an peserta dan panitia, aku melihatnya banyak sekali botol air mineral yang masih terisi air mineral bahkan ada yang masih ¾ nya.
Dengan situasi symposium internasional itu maka di setiap kursi sudah disiapkan air mineral dengan merek tertentu yang ukuran botolnya 600 ml. air mineral itu ditaruh di meja.
Aku sempat mencoba menghitung kursi yang ada terbagi menjadi 4 kolom dimana masing2 kolom terdiri dari 5 kursi. Sehingga yang masing-masing barisnya terdiri dari 20 kursi dari ujung kiri sampai ujung kanan. . Dari depan ke belakang ada 17 lajur kursi yang ada ada mejanya. Ada 2 baris lagi yang tanpa meja. Jadi total kursi yang ada mejanya sekitar 4 X 5 X 17 = 340 kursi. Ada sekitar 40 kursi lagi tanpa meja. Jadi saya perhitungkan yang ada air mineralnya sekitar 340 kursi saja.
Saat usai acara aku iseng-iseng menghitung sisa air mineral yang ada di meja salah satu lajur. Alias ada 20 kursi. Yang ada di 20 kursi itu ada 17 botol tersisa. Asumsiku yang 3 bisa jadi dibawa oleh si empunya kursi. Menurutku ini berarti orang ini menghargai air minum sisa di botol. Jadi berusaha membawa sisanya yang masih ada.
Dari 17 botol yang sisa maka :
1 botol masih utuh
5 botol habis sama sekali. -----
2 botol sisa sekitar 50 ml
2 botol sisa sekitar 200 ml
1 botol sisa sekitar 250 ml
5 botol sisa sekitar 300 ml
1 botol tersisa sekitar 400 ml
Oh ya ternyata sebagian ada yang sdh dituangkan ke gelas dan sisa di gelas sekitar 200 ml + 100 ml + 200l ml + 200 ml + 50 ml
Jadi kesimpulannya :
-jumlah orang yang menghargai air minum = 3 yang membawa pulang dan 5 yang habis (?)==8 orang (tapi bisa jadi lebih kecil, karena meja dengan air di gelas tidak dilihat apakah yang airnya di botol habis atau tidak )
Yang menyisakan air minum di botol = 11 orang; yang menyisakan air di gelas 5 orang (apakah orang yang sama / berbeda dengan yang habis air di botolnya ) ---tidak teramati
- 1 botol masih utuh
- Rata2 sisa dari 19 orang itu = 100 +400 + 250 + 1500 ml + 400 dan 750 ml sisa dari gelas = 3400 ml alias 3,4 l dari 19 orang (Yang sisa utuh 1 tidak dihitung ya).
- Bila 1 botol yang masih utuh ikut dihitung ( saat asumsi petugas pembersihan tidak teliti dan langsung di masukkan kantong sampah ) maka sisanya menjadi 4000 ml alias 4 liter PAS
- Bila ada 17 lajur dengan maka bisa jadi air sisa yang terbuang ada sekitar 4 liter X 17 = 68 liter… wow sangat banyak ya / dalam sehari
- Bila event ini 2 hari maka yang tersisa dengan sia-sia menjadi 2 kali lipatya = 68 liter X 2 hari = 136 liter
- Memang ini hanya hitungan kasar, karena menghitngnya hanya berdasarkan perkiraan. Juga samplingnya agak kurang mewakili. Namun penulis berasumsi bahwa sisa air yang terbuang jauh lebih banyak lagi. Karena ada beberapa meja lain yang tidak dihitung. Meja di luar ruang utama, di ruang panitia dll.
Mungkin air minum kemasan terkesan murah saja. Tapi bila ada yang serius menghitung wah aku yakin akan sangat besar uang yang terbuang karenanya.
Yang bijak memang yang membawa tanpa botol plastic seperti salah satu Cawapres kita yang selalu membawa minumannya di dalam botol yang ditenteng kesana kemari. Kadang kita suka merasa ribet saat membawa botol sisa minuman yang sudah tinggal sedikit. Tapi sebenarnya itu adalah upaya untuk menjaga supaya jangan ada air yang terbuang. Minimal bisa untuk menyiram tanaman bila sudah enggan untuk meminumnya.
Untuk hotel bisa jadi memilih ukuran yang lebih kecil botolnya tapi konsekuensinya jumlah botol yang disediakan pasti akan lebih banyak. HItungan ekonominya memang akan menentukan manakah yang lebih murah menyediakan dengan ukuran besar (600 ml) atau yang lebih kecil.
Sebenarnya memang menguntungkan menyediakan dengan kemasan yang lebih besar mengingat sampah plastiknya juga akan menjadi masalah lain. Mngkin memang kitanya sebagai tamu yang ‘sebaiknya’ jangan merasa malu dan ribet untuk membawa pulang sisanya. Sayang aja….#maklumemakemak ( Tri Astuti Sugiyatmi, Surabaya, 31 Oktober 2018).
Oya abaikan merknya ya....!!!