Wednesday, March 25, 2015

Sebuah Diksi


Sebuah Diksi

Saat kami kecil, ibu saya setiap saat mengajari kami untuk  menggunakan boso Jowo  kromo (Kromo inggil).  Setahuku kromo inggil  adalah Sebuah pakem bahasa Jawa yang sangat menghormati orang yang lebih tuaa, orang dengan kedudukan yang terhormat dll.  Saya seringkali terbalik-balik memakai nya. Seringkali untuk diri sendiri memakai bahasa yang sangat halus, sebaliknya untuk orang lain justru yang sangat kasar. Dalem badhe siram, njenengan sampun adus? (he..he. secara leksikal siram dan adus sama mengacu pada istilah mandi yaitu membersihkanbadan dengan air). Tetapi memang secara “rasa” bahasa sangat berbeda. Siram adalah lebih halus daripada adus . kata s’siram’  sebaiknya dipakai untuk yang lebih tua, orang yang kita hormati dll. Menurut pengetahuanku bahwa bila kita membahasakan dengan lebih halus untuk diri sendiri dan otomatis yang lebih kasar untuk orang lain maka berarti itu dianggap kita menyalahi pakem boso kromo tadi.

Walaupun kadang terkesan sekedar lip service bin basa basi tapi kromo inggil yang diucapkan dengan ikhlas menurutku mengandung penghormatan yang luar biasa.  Mungkin itu di Jawa. Kata yang lain seperti  : kula badhe matur (saya mau bicara…)  menjadi berbeda nuansanya bila Ibu badhe ngendhika …. (ibu mau bicara…). Sama2 berarti bicara tapi ada nunsa yang berbeda di dalamnya. Itu  memang rasa bahasa orang Jawa.

Tentu saja bila berasal dari suku lain mungkin akan sulit memahami. Karena kita memang  beragam . Secara ekstrim kadang apa yang menurut kita tidak pantas tapi justru bagi suku yang lain justru itu yang baik. Atau bahkan sebaliknya.

Bahasa Indonesia menjadi sebuah solusi.  Supaya tidak ada salah paham  tentang diksi antar suku.  Jadi dengan bahasa yang sama yang digunakan maka setidaknya perbedaan persepsi tentang arti sebuah kata akan makin kecil.

Saat kata/ istilah  b****gan atau istilah  ‘seram’  lain  akhir-akhir menempati bahasan yang cukup panas bahkan sampai memasuki pro kontra tokoh yang mengeluarkannya.  Sampai akhirnya  juga  adanya permohonan maaf dari Sang tokoh  karena adanya bahasa toilet yang sempat beliau lontarkan menjadikan  konten bahasa Jawa yang dulu sering saya kritik tidak egaliter menemukan “rohnya”.

Maka saat dulu di dalam bahasa Jawa ada bahasa kromo inggil yang membeda-bedakan pemanfaatan kata sesuai dengan kedudukan maka sebenarnya dalam bahasa persatuan kita sudah tidak ada lagi. Maka keegaliteran bahasa Indonesia kita semestinya tetap harus mengandung kehatian-hatian sebagaimana substansi kromo inggil dimana menempatkan diksi menjadi utama. Bagaimana bahasa menunjukkan bangsa katanya. Walaupun dalam konteks kromo inggil terkesan tidak adil, tapi sebenarnya justru terkandung ajaran yang sangat luar biasa. Menempatkan lawan bicara sebagai orang yang harus dihormati. Ternyata pilihan kata pada era sekarang saat media begitu mudahnya untuk menyiarkan ucapan aslinya ke seluruh penjuru dunia, maupun saat gadget ada di tangan dan dengan mudahnya menshare status tulisan apapun yang ada, maka diksi menjadi sebuah perkara besar.


Bukan bermaksud menghakimi maka diksi menjadi sebuah kemampuan dasar dalam berkomunikasi.Bagaimana diksi yang salah tempat, salah orang dan waktu justru akan menjadi pedang bermata dua.  Alih-alih jadi lucu tetapi seringkali status pendek itu pun bisa menimbulkan banyak tafsir yang ujung-ujungnya rusaknya silaturahim dua orang/pihak. Bahkan ada yang sampai tuntutan hukum.

Ya diksi sebagai produk dari pikiran yang bisa ditorehkan oleh jari lewat ketikan di keypad gadget maupun  lewat lidah melalui  suara memang sudah saatnya untuk kembali dipelajari.  Walaupun sebagian menganggap sepi pro kontra diksi. Katanya ; ‘ yang penting substansi atau konten”. Tapi bagaimanapun menurut saya sih konten/substansi belum tentu “masuk” saat kemasan yang dipilih sudah menghabiskan  banyak energi duluan untuk berbantah-bantahan.

Dengan  ‘kegaduhan’ itu maka konten yang sangat positif pun menjadi akan kurang berarti.  Padahal dengan diksi yang berbeda sedikit maka bisa jadi akan membuat isu itu menjadi besar dan penting.

Nah mungkin  inilah PR  bagi para pakar bahasa Indonesia –kalau boleh saya usul- untuk mengumpulkan diksi yang sudah secara umum  dalam bahasa Indonesia mempunyai arti umpatan,  kata kasar  dan lain-lain beserta artinya. Bukan untuk dipakai tapi justru supaya makin dipahami dengan itu akan berpotensi membuat semua orang, semua  jenis golongan manusia  Indonesia akan merasa tidak nyaman untuk mendengarnya.  Sehingga kita akan semakin hati-hati dalam memakaianya apalagi di ruang public seperti  berbagai ruang media sosial dan media lainnya. So,…..

Kata-kata  punya makna………….

Diksi (pemilihan kata) menjadi sebuah keniscayaan………….

Saturday, March 14, 2015

Menadah air hujan: memanen tanpa menanam



Seonggok sampah  gleas plastic yang berisi air mineral bertumpuk di sudut  penampungan sampah sementara itu.  Gelas dan botol mineral  sisa sampah orang yang  hajatan/pertemuan biasanya akan berhambur di dekat TPS yang dekat rumah.  Juga pagi ini saat aku buang sampah di tengah pagi buta ini.

Menariknya rata-rata  masih ada separuh atau bahkan masih ¾ gelas air mineral itu masih terisi Seringkali saat kita minum air kemasan maka sisanya kita buang begitu saja. Padahal masih ada  setengah bahkan tiga perempat botol. Jadi untuk mengambil ukuran   air minum sebenarnya kita harus “menakar” dulu kemampuan kita untuk menghabiskan. Bila kira-kira dengan satu gelas sudah cukup maka tidak perlu mengambil air mineral ukuran 500 ml, 600 ml atau bahkan 1 liter.

Bila yang tersedia memang cukup besar dan kita tidak mampu menghabiskan maka bila masih ada sisa/ lebih maka sebaiknya sebisa mungkin  tetap termanfaatkan. Karenanya saya seringkali membawa botol –botol air mineral  sisa  dari hajatan, pertemuan. Kadang saya cuek saja dengan gaya pegang botol sekeluar dari pertemuan. Bukan masalah apa-apa tapi karena  merasa sayang sisa airnya terbuang  percuma. Padahal sebetulnya masih bisa diminum lagi atau kalo sdh tdk layak ya untuk cuci tangan atau siram-siram  tanaman.. Pertemuan di hotel seringali setiap sesi  akan berganti air mineral yang di atas meja kita. Bila setiap  sesi kita buka air mineral baru maka bisa dibayangkan betapa banyak air yang terbuang setelahnya.

Saya salut sama teman-teman yang membawa air minum dalam botol tersendiri. Biasanya orang2 itu  lebih menghargai baik isinya yaitu air minumnya maupun penggunaan kemasan habis pakai itu. Cara berhemat  sumber daya yang terbatas dengan sangat cerdas.

Ya berbicara pemanfaatan sumber daya khususnya air maka banyak hal yang selama ini  kita kerjakan sebaiknya  kita telaah lagi.   Sepulang dari TPS  jalan yang kulalui pagi itu  sebagian ada yang basah dan sebagian kering total. Sepeda yang kukayuh pagi itu keluar dari rumah saat  gerimis kecil  kemudian sampai tempat pembuangan sampah   gerimis sementara agak membesar. Saat berbalik arah pulang ternyata jalan yang saat pergi masih kering ternyata sdh basah, tapi gerimis di wilayah itu sudah berhenti.  Saya sudah berharap  mudah-mudahan di komplek perumahan sudah hujan juga.

Giliran masuk ke komplek perumahanku  ternyata kering sama sekali. Padahal sudah berhari-hari berbagai ukuran container air mulai dari ember dan  bak sudah berjejer rapi di bawah talang. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih kami yang paling murah meriah  sebenarnya adalah  air hujan itu. Tapi ternyata pagi itu harapan untuk mendapat air hujan kembali pupus.

Ya saat sebagian wilayah di ibukota terendam banjir di hari-hari ini maka  kami justru  sedang menunggu –nunggu hujan  turun. Kita – warga kota pulau- memang sedikit banyak tergantung dengan air hujan untuk sumber air bersih. Jadi menanti  air hujan turun  adalah menjadi bagian penting dari salah satu  rutinitas dalam  hidup kami..   Walaupun ada aliran air dari PDAM tapi di tempat yang sumber airnya hanya mengandalkan air permukaan, maka tidak ada hujan juga berarti kering juga air dari  PDAM nya.  walaupun di sebagian tempat ada sumber air, tapi  tentu saja untuk membawanya sampai ke saluran air di rumah kita juga butuh upaya. Yang paling gampang adalah dengan membeli air profil/tangki. Tapi membeli air bersih pun harus antri. Kadang-kadang antara hari pemesanan dan pemenuhan pesanan seringkali ada jeda yang cukup lama. Karena di “musim kering’ seperti ini semuanya antri mau beli air bersih.

Jadi wajar bila hari-hari ini kita selalu berhitung  dengan mendung dan angin—sesuatu  yang ditunggu-tunggu kehadirannya.  Ada nya drum, profil, ember-ember yang terbuka  di bawah talang air sebagai wadah yang sengaja kita siapkan untuk menampung air hujan yang turun manjadikan istilah memanen air hujan menjadi jamak di telinga.

Inilah kayaknya salah satu kasus memanen yang tidak perlu  menanam dulu.  …..Padahal  jamaknya untuk menuai sesuatu maka harus ada yang ditanam sebelumnya.   Panen padi setelah menyemai  padi. Di kasus yang lain walaupun kiasan tapi mirip juga :siapa menabur angin maka akan menuai badai.. Jadi menyemai dan menanam dulu, baru akan memanen hasilnya.

Sehingga menurut hemat saya istilah memanen air hujan agaknya  berlebihan.  Kita tidak punya peran dalam menurunkan hujan-walaupun di beberapa kasus ada hujan buatan. Tapi sesungguhnya  sangt kecil  atau  bahkan  hampir tidak pernah ikut andil  di dalamnya dalam penentuan siklus-siklusnya tadi. Dalam  perkembangan ilmu   ada banyak   upaya  menjaga ketersediaan  siklus air  seperti pembuatan biopori, upaya menjaga lingkungan /tanaman/hutan, tapi ternyata dalam “pemilihan”  lokasi hujan kita sama sekali berperan.

Jadi  menurutku yang agak  tepat kayaknya adalah ‘menadah” air hujan. Cuma istilah menadah/menampung terkesan hanya menunggu saja dan  cenderung  tidak “seksi”. Dalam memanen air hujan  di sini ada peran aktif untuk menahan air hujan yang datang supaya tidak lari begitu saja ke pembuangan  akhirnya yaitu laut.

Jadi walaupun berlebihan istilah  memanen air hujan  dianggap bisa mewakili sebuah upaya  untuk memanfaatkan sumber daya yang ada (air hujan) untuk sebesar-besar manfaat.

Ya istilah memanen air hujan dimana kita memanen tanpa menanam  menjadikan kita perlu “malu” untuk membuang- buang  sumber daya air yang ada. Karena ternyata kita semata-mata hanya menadahkan ‘tangan” saja. Menadah berarti kita hanya menunggu dan bergantung dengan kemurahan yang akan memberi. Kepada Sang Pembuat dan Pembagi  air  hujan saja  kita bergantung . Jadi marilah kita berhemat  air.!!

Friday, February 27, 2015

Sebuah Keberpihakan


 Dulu saat aku kecil koran yang sering aku baca adalah "SK" -sebuah koran merepresentasikan pemerintah saat itu- dan media televisi yang ada hanyalah TVRI> Tentu saja berita saat itu tidak terlalu variatif dari sudut angle berita. Apa pun yang ada di koran dan TV tsb itulah informasi yang dianggap benar dan valid. Saat itu sebenarnya sudah banyak media cetak alternatif, tetapi kelihatannya beritanya ya kayaknya tdk terlalu berbeda. dulu berbeda menjadi sebuah bencana. Saat sekarang media TV, koran, media online sangat banyak. Dengan berbagaii ragam background yang punya, visi misi, kepentingan serta segmentasinya maka satu sumebr berita yang sama mempunyai beragam angle. bahkan kadang saling bertolak belakang. Kadang tergantung sang juru warta atau yang di belakng juru warta (pimrednya, afiliasi medianya, bahkan iklannya).
Kadang kala Sulit sekali menyaring serta mendapatkan berita valid yang komprehensif. Media berita yang dulu sering kita andalkan, sekarang seringkali agak mengecewakan. Untuk mendapatkan berita utuh harus melihat "keliling" dari semua sudut pandang, supaya tdk hanya memakai salah satu saja yang cenderung menyesatkan dan tdk berimbang.
Akhir-akhir ini headline news berganti sangat cepat. sesuai sifatnya maka kebaruan sebuah berita biasanya akan menduduki posisi rating teratas. dan apa yang terjadi pada beberapa waktu sebelumnya yang sangat asyik kita bicarakan tiba terlupakan oleh isyu baru yang sedang mendapat sorotan. hampir setiap hari ada isyu dan kegaduhan baru. ibarat lalu lintas sangt padat, malah terjadi kemacetan. isyu yang lama belum tuntas akan muncul isyu baru yang lebih menggoda untuk dikomentari.
sebagai "penikmat" berita apa yang kita dapat?
Ya kita jadi tahu informasi.... what next? apa lagi? korelasinya dengan kita? kita jadi paham silang sengkarutnya negara dan perpolitikan yang ada....terus? sebagai bahan untuk cerita dengan teman-teman,... apa lagi ? entahlah....
Tapi jujur kita kadang merasa lelah dengan itu semua. Di saat kondisi makin sulit (harga pangan naik, di tengah bencana) suguhan "perang antar keluarga" dalam perpolitikan bangsa menjadi sungguh sangat memuakkan....!!!
Banyak hal "buka -bukaan" menjadikan kita semakin paham pada keadaan sekarang, sebelum ini dan apa saja yang ada di baliknya.... menjadikan kita menjadi makin ngeh kalo "pencapaian tertinggi" dari penikmat berita adalah menganalisis dan selanjutnya menentukan keberpihakan. Ya..............
K E B E R P I H A K A N....
pada apa dan siapa ? Menurut ku sih keberpihakan yang paling indah aadalah bukan pada si A atau si B yang sama-sama manusia, yang bisa dulu salah sekarang benar atau sebaliknya dulu baik sekarang jelek, atau dulu jeleksekarang jelek terus tetapi terlihat baik karena ada penopengan, atau dulu baik sekarang baik tapi tidak kelihatan karena ada pembusukan....
Jadi 4 kemungkinan itulah yang menyebabkan keberpihakan pada si A dan B seringkali membuat kita kecewa setengah mati saat tau borok -boroknya yang terbuka pada saat tertentu.
Keberpihakan pada sebuah value (kebenaran) seharusnya mendapatkan tempat yang proporsional. Dengan begitu maka kita akan menjadi orang merdeka yang bisa mengekspresikan keberpihakan kita dengan universal.
Lalu lalang berita di kotak ajaib di ruang keluarga kita, postingan, status serta apaupn yang ada menjadi input saja dimana kita akan menjatuhkan keberpihakan kita.
Keberpihakan kepada value yang baik mungkin jauh dari hingar bingar yang ada, tetapi semoga akan mendamaikan hati... dan hanya doa dan asa yang kupanjatkan. .lindungilah kami semua dari fitnah, bencana serta api neraka Mu...,..Ya Allah selamatkan negeri ini dari perpecahan antar saudara sebangsa. amien.

Tuesday, December 16, 2014

Sebuah Ironi : Bencana yang Dikehendaki




Matahari belum tinggi, tapi situasi di  beberapa sudut ibukota sudah ramai lalu lalang orang yang  mencari transportasi bis, metromini, taxi, ojek dll. Suara mesin  kendaraan dan klakson  yang bersahut-sahutan sudah memecah pagi  yang hening. Begitu juga asap dan gas buang kendaraan mengikutinya dari belakang. Masing-masing tenggelam dalam  rutinitas kegiatannya. Pak ojek menunggu penumpang dengan helm yang siap di motornya. Pekerja berjalan bergegas berlari mengejar kendaraan ini untuk bisa sampai di tempat kerjanya tepat waktu.  Pedagang bubur ayam, roti, makanan ringan, tissue, sibuk melayani pembelinya dalam diam. Pasukan kuning (pak sampah) sibuk memunguti sampah yang tidak pernah habis di sekitar jalan protocol yang paling bregengsi di ibukota.  Ada sebuah kesamaan yang menarik dari  rata-rata para pria berbeda profesi  (dilihat dari seragam dan baju yang dikenakannya) di sekitar tempat itu. 
 Saya melihat candu rokok ini sudah menguasai semua lapisan. Ada seorang menteri yang mempertontonkan kebiasaan merokoknya di layar kaca tanpa rasa bersalah- walaupun belakangan sudah menyatakan akan stop.  Tapi opini sudah  kadung terbangun.  Ada bapak bapak pejabat dengan mobilnya yang berplat merah mengisap rokok sambil menyetir, waduuh….! bahkan   yang menyedihkan bahwa semua pekerja  seperti pak satpam, bapak pemulung, pedagang kecil, sopir yang –maaf- ada kemungkinan  uang untuk beli rokoknya masih lebih besar daripada untuk membelikan makanan bergizi untuk anaknya.  Menyedihkan sekali saat mereka lebih mengedepankan “kesenangannya” dibanding untuk yang lain bahkan kesehatannya. !  Ironisnya , bahkan  banyak  juga para aparatur di lingkungan kesehatan yang sedemikian menikmati nya sampai melupakan bahwa kawasannya adalah salah satu yang seharusnya KTR. Yah,  candu rokok memang sudah  tdk mengenal usia, profesi, kedudukan, jabatan, status social dll.
Hmm…ingatan saya melayang saat  bertahun-tahun lalu pernah ke negeri sebelah yang pegawainya-   seperti PPNS di tempat kita- memburu perokok  yang tidak patuh dengan denda… bahkan  diajaknya kita mencari puntung-puntung yang sudah tergeletak di tanah, yang  ternyata  sangat sulit untuk menemukannya!.  Membandingkan dengan saat  saya jalan di sebuah sekolah tinggi kesehatan yang berdampingan dengan  sebuah kantor kementrian kesehatan di ibukota sepulang jalan-jalan pagi bahkan baru beberapa meter saya menemukan ada sekitar  7 bungkus rokok, apalagi puntungnya !!
Membicarakan “tuhan 9 senti” ini memang akan membuat miris …..saat pengusaha menjadi paling kaya di dunia karena menjadi produsen dalam  industry ini,  akan sangat  kontras  di sisi lain saat semua pegawai  kecil justru akan menjadi semakin miskin saat sudah larut dalam belitan untuk menjadi konsumennya.
Banyak sekali data  dan informasi yang menyatakan bahwa  produk tembakau ini lebih banyak mudharatnya  daripada manfaatnya.  Tapi semua   itu lebih banyak diabaikan. Hanya beberapa saja yang patuh pada peringatannya.   Pertambahan prokok pemula di usia yang sangat dini  belum membuat kita menjadi “ngeh”.  Sebuah ancaman nyata yang dapat menjadi pintu masuk untuk ‘yang lain-lain’ mengikutinya.  Tidak terlalu berlebihan bila kiranya narkoba akan menjadi ancaman berikutnya bagi jiwa-jiwa yang masih labil.
Saat kabut asap  beberapa waktu menyeruak menyelimuti beberapa wilayah di  Kalimantan, maka semua teriak butuh masker untuk menangkal  efek asap  dari bahaya asap  kebakaran hutan itu. Ada sebuah anomali di saat yang sama  saat  bencana asap yang dikehendaki  dari  sebuah rokok menyerang maka alih-alih menghindar, bahkan  rata-rata   mendekat dengan berbagai alasan.Yang jelas aroma tembakau sudah menyeruak ke mana-mana di berbagai ruang dan kalangan. Ironi sebuah bencana asap  yang dikehendaki ….!

Wednesday, November 26, 2014

Di Antara Kota –Kota Kita


Dengan penasaran saya naik lagi ke jembatan layang itu. Di depan sebuah kompleks pertokoan terkenal di sebuah Kota . Memastikan apakah setumpuk sampah masih bertengger di sana. Ternyata masih dan justru makin jelas (dibandingkan saat malam aku lihat pertama kali) bahwa sampah itu kemungkinan sudah berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu/ berbulan-bulan. Di bawah ada 2 orang petugas kebersihan dan aku sampaikan bahwa sampah menggunung di ujung jembatan penyebrangan. Sangat tidak nyaman. Saya hanya bertugas penyapu jalan bu, saya tidak bertugas di sana. Ya tolong sampaikan saja ke pimpinannya saja ya....dia memandang saya dengan pandangan heran. Dia buru-buru bertanya. Jalan-jalan bu? Ya mba.... lantas aku kembali berjalan pagi. Saat ada petugas satu lagi aku sampaikan hal yang sama. Lagi-lagi Bapak itu bilang itu bukan tugasnya. Ya, saya maklum aja sih. Memang kan sudah dibagi-bagi tugasnya. Lagian memang Bapak yang kedua lokasinya sudah agak jauh dari jembatan itu.
Di beberapa jalan yang saya lewati juga got-got mampet, dangkal karena penuh sampah. Bahkan ada sebuah warung makanan kecil yang berdiri tepat di atas got terbuka yang terlihat dari luar sungguh sangat menjijikkan. Hitam-kuning bercampur sampah......
Ingatanku jadi melayang saat awal tahun 1992 di Surabaya, Saat jalan pagi subuh, saya ingat saat itu Surabaya kalo nggak salah sudah ada jargon green and clean. Maka petugas kebersihan sudah berjalan dan menyisir saat matahari masih belum muncul. Memang beberapa waktu kemudian Surabaya mengalami penurunan dalam hal kebersihan seiring pergantian komando , tapi kembali saya ke Surabaya dalam waktu terakhir ini jaman bu Risma, subhanallah, sangat bersih sekali. Surabaya yang kota besar ke -2 sangatlah bersih bukan hanya di level nasional saja, tapi juga sdh bisa bersaing di level internasional. Kok bisa ya?
Tapi memang melihat wawancara bu walikotanya di beberapa TV yang selalu membawa peralatan kebersihan bahkan di mobilnya sekalipun memang menjadi tidak heran...Komitmen akan membawa sebuah perubahan luar biasa. ... dan Saya bangga pernah menjadi bagian Surabaya bertahun-tahun lalu.
Saya memang bukan siapa-siapa. Tapi entahlah kok sukanya mengamati kebersihan kota-kota yang saya kunjungi. Bukan apa-apa sih. Saya mikir sebenarnya kebersihan sebuah tempat adalah servis yang paling “mudah ” disajikan pada semua pengunjung kota. Sampah disingkirkan! Selesai. Walaupun tentu saja bukan perkara gampang mengatur semuanya untuk mengerahkan sumberdaya ke arah sana dan pascanya. Buktinya banyak kota besar yang belum bisa ke arah sana. Yogyakarta pada beberapa tahun terakhir. Entahlah sekarang....Mudahan sudah berubah. Bayangkan kalo kota tujuan wisata kotor beserta seluruh daerah pendukungnya (Sleman dst ) maka kenyamanan pengunjung pasti akan terganggu...eh kok jadi serius euy!...Kota lain, Bandung pas 2010 kami ke sana masih seperti lautan sampah...tapi terakhir 2014 sudah banyak berbenah. Sangat bersih....Kota Pangkal Pinang dan Balikpapan juga sangat bersih.
Saat berbincang dengan tukang becak, pengemudi angkot, taxi dan beberapa warga yang sempat saya temui rata-rata mereka sangat bangga dengan kotanya yang sangat bersih. Tidak jarang mereka juga langsung menawarkan tempat lain di kota itu untuk dikunjungi. Wah promosi gratis sebenarnya dan yang jelas sifatnya tulus dari masyarakat terbawah...
Aku bermimpi suatu ketika kota di Provinsi yang yang termasuk terkaya di negeri ini akan berbenah juga. Bukan hanya di titik –titik pantau suatu penilaian lomba kebersihan tetapi di semua wilayah Kota. Semoga
LikeLike ·  · 

Saturday, October 11, 2014

Penopengan

Dalam sebuah kesempatan, mataku tertumbuk pada pemandangan orang yang sedang menyapu halaman -pekerjaan yang sering aku kerjakan juga.- aku tertarik karena gaya menyapunya berbeda dari biasanya. Ujung pegangan sapu lidinya terlihat diputar-putar dan ditekan-tekan ke bawah dan menurutku terlihat seperti orang sedang memasang baut. setelah aku perhatikan ternyata yang di dorong dan ditekan ke bawah adalah sampah yang dihasikannya dari menyapu ke dalam sebuah lubang sempit, yakni celah di antara kayu-kayu yang membentuk jembatan di atas sebuah got besar.
Aku tertegun.
Ada banyak hal yang memang layak untuk ditutup, tidak perlu diperlihatkan kepada orang lain. Sampah atau Keburukan atau aib. Di luar isu politik lho ya… maka ini aku sebut “penopengan” (he..he nanti dimarahi ahli bahasa) atau apa pun namanya memang sebuah upaya memoles sesuatu menjadi tampak indah, baik, hebat dan semua yang top markotop di depan lawan tapi kenyataan aslinya bisa jadi kebalikannya. Kelihatannya sangat mendukung dan menghormati padahal di belakangnya justru mencaci maki dan membully. Tampak dermawan dengan memberi padahal tangan yang satu mengambil dengan jahil atau bahkan mencuri yang bukan haknya…..Yang jelas masih sering berbeda tampak muka dan belakang sesuai kepentingannya. “Penopengan “ ini seakan menjadi trend dan jurus ampuh untuk meraih hati orang dan pihak yang hanya sempat melihat sekilas saja.
Dalam hal ini bila kita hanya memindahkan sampah ke dalam sungai di bawah jembatan atau ke bawah kolong rumah maka sebenarnya upaya menyapu kotoran yang kita lakukan hanya sebuah pengalihan sampah dari dalam /depan rumah kita ke tempat yang orang nggak bisa melihat saja. Tetapi sejatinya kita pun tahu bahwa sampah itu belum selesai kita kelola. Suatu ketika maka bisa jadi akan membuat buntu got depan rumah kita dan akan membuat banjir di sekitar rumah kita.
Kita juga seringkali masih berkutat dalam me make up wajah kita habis-habisan sementara perilaku tangan kita masih sulit kita kendalikan untuk membuat wajah kita bebas dari infeksi. Infeksi yang ditimbulkan dari tangan kotor kita yang suka memencet-mencet jerawat di wajah akan sulit tertutupi oleh make up yang super mahal dan tebal sekalipun. Suatu ketika maka make up yang kita kenakan justru akan memperparah infeksi wajah kita…
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya menutup keburukan/aib. Karena insyaallah Dzat yang Maha Mengetahui juga akan menutup aib kita di masa lalu. Cuma memang semestinya bukan berhenti dalam make up saja. Tapi dengan juga “ mendidik “ tangan kita laiknya dalam kasus jerawat tadi dan perilaku yang lain kita untuk memperbaiki kesalahan yang sudah pernah terjadi di masa lalu. Keburukan yang sudah lalu pun kita tutup dengan membuka halaman baru....
(Sebuah upaya mengikat makna untuk mengingatkan diri sendiri)

Sunday, September 14, 2014

Ranting Kering Itu…

Ranting Kering Itu….
Duri kecil dari pohon mawar yang sudah mati itu menancap di tanganku….dengan perasaan kesal aku coba ambil. Sulit juga walaupun akhirnya bisa…
Aku ambil pisau lantas aku potong-potong dahan mawar yang sdh mati itu. Rencananya mau aku buang….Justru karena durinya aku berhenti lagi. Kali ini aku sudah pasrah. Oke lah, biar saja kan hanya mengganggu pemandangan saja. Ranting kering tanpa daun. Coklat dan tidak terlalu menarik. Bukan daun hijau dan bunga merah muda yang sangat cantik seperti sebelumnya.
Begitulah sebuah siklus kehidupan. Kecil terus tumbuh menjadi pokok muda yang produktif. Saat usia produktif usai, giliran usia menaik maka semua yang indah-indah akan berganti rupa menjadi sesuatu yang tidak lagi diminati.
Tapi alam mengajarkan sesuatu yang sungguh luar biasa….Beberapa waktu kemudian… ternyata di bawah pohon mawar itu tumbuhlah pohon pare (paria) yang membutuhkan sandaran untuk tumbuhnya. Maka jadilah batang mawar tua kering dan berduri itulah yang menjadi tempat sandaran alami bagi merambatnya puscuk-pucuk paria untuk mencari Sang Surya…sampai akhirnya si pare itu berbuah dengan lebatnya. Subhanallah…
Kembali bahwa ternyata sesuatu yang menurut kita sdh tidak berguna, bahkan dianggap hanya merusak (pemandangan ) dan merugikan justru bisa member manfaat yang sangat besar bagi munculnya tanaman baru, hijau yang menghasilkan buah yang sangat lebat…
Kadangkala kita terlalu cepat mengambil kesimpulan dari sebuah peristiwa dari sebuah sisi negative saja. Padahal bila kita mau bersabar dan mau menggeser angle atau sudut pandang dari sebuah perkara, bisa jadi hasilnya akan jadi sangat berbeda. Semua tergantung pemaknaannya saja… Dalam salah satu pandangan ia bisa jadi tidak akan pernah menjadi apa-apa, bahkan cenderung mengesalkan saja. Ranting kering itu bisa menjadi “ sesuatu” saat kita memaknainya menjadi sesuatu pula. Allah adalah apa yang engkau pikirkan dan persepsikan tentangNya…wallahu alam bishawab…