Wednesday, April 16, 2014

Bill Gatesdan Isu Kesehatan di Indonesia

Yang tertinggal dari Kunjungan Gates ke Indonesia

Bill Gatesdan Isu Kesehatan di Indonesia
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi*
Di tengah suasana hingar bingar jelang pesta demokrasi di Indonesia, maka  kedatangan Bill Gates , -- salah satu orang terkaya di dunia- luput dari perhatian  masyarakat kebanyakan. Walaupun disambut dan didampingi oleh 2  pejabat menteri tetapi  beritanya hanya kecil saja.
Dalam kesempatan ini Bill Gates bersama para pengusaha nasional  membentuk Indonesia Health Fund (IHF) sebagai   wadah  bagi penggalangan dana bagi pemberantasan penyakit di Indonesia. Memang sudah  diketahui sejak tahun 2009, pemilik Microsoft ini banyak bergerak dalam nilai-nilai  yang berkaitan dengan pelibatan masyarakat dalam banyak bidang termasuk kesehatan melalui yayasan dibentuknya, Bill &Melinda Gates Foundation.
Misi Gates untuk menggerakan  para pengusaha menjadi filantropis –sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sebuah paradoks dalam bisnis- sudah menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Gates mengajarkan  banyak hal kepada kita, termasuk yang berkaitan dengan isu kesehatan di negara kita.
Dari PPM sampai pengendalian penyakit
Terkumpulnya dana puluhan juta dollar (US$ 80juta) atau  ratusan milyar dalam rupiah  menjadi bukti bahwa Public Private Partnership (PPP) atau Public Private Mix (PPM) bila digarap dengan baik akan menjadi sumber pembiayaan alternatif bagi  dunia kesehatan kita.
Entah kebetulan atau tidak maka kehadirannya  juga  mendekati event hari kesehatan sedunia 7 April yang  mengangkat tema mewaspadai penyakit yang ditularkan oleh vektor – si makhluk kecil dengan ancaman besar(small creature, big threat). Perhatian Gates yang sangat besar pada penyakit demam berdarah yang masih menjadi masalah kesehatan di negara kita dan 100 negara lain di dunia  menjadi magnitude tersendiri  bagi pengendalian penyakit ini di Indonesia. Apalagi penyakit yang ditularkan oleh vektor khususnya nyamuk menjadi salah satu prioritas lembaga  bantukannya itu.
Pada saat teknologi  informasi  - dunia yang digelutinya selama ini- bergerak sangat cepat dan menuntut perhatian penuhnya, justru  pada saat yang sama dia  menaruh perhatian yang spesial terhadap masalah-masalah kesehatan yang sering diabaikan oleh banyak pihak. Bahkan pada saat kunjungannya ke Yogyakarta menyempatkan untuk mengunjungi dan melihat langsung penelitian EDP (Elimination Dengue Project) dimana  dikembangkan pendekatan baru untuk melawan virus dengue melalui bakteri Wolbachia yang dikembangkan pada nyamuk Aedes.
Tentu saja hal itu dilatarbelakangi  bahwa upaya yang ada dari pencegahan dan pengendaliannya DBD sampai sekarang dianggap masih belum memuaskan dunia. Sedangkan vaksin dan obatnya sampai sekarang juga belum ada. Upaya  dengan pengendalian vektor atau nyamuk dengan cara-cara kimia (insektisida semprot)  dan larvasida selain mahal juga bisa jadi menimbulkan dampak lain, khususnya bagi lingkungan. Sementara upaya lain seperti 3 M (menutup, menguras penampungan air dan mengelola barang bekas) membutuhkan komitmen, konsistensi dan kontinyuitas itu  menjadi  sulit karena menyangkut perilaku masyarakat yang untuk mengubahnya tidak semudah membalik telapak tangan.
Tentu saja kehadirannya  menjadi sebuah suntikan semangat bagi para peneliti dunia dalam mencari terobosan  baru dari upaya pengendalian penyakit yang mempunyai angka kematian yang cukup tinggi itu.
Pelajaran Baik Bagi Semua
Di sisi lain, bagi sebagian kalangan  hal  ini  cukup membuat kita malu sebagai sebuah bangsa. Bagaimana tidak? Selama ini, biasanya urusan kesehatan selalu dianggap tidak penting. Kesehatan adalah permasalahan di hilir yang kehadirannya “tidak  dapat dirasakan”  saat situasi berlangsung normal. Kesehatan menjadi penting saat ada kasus -kasus yang menjadi opini publik, adanya wabah  atau kejadian luar biasa (KLB)  maupun bila menyangkut janji-janji  politis  para politisi. Pada saat berbicara anggaran kesehatan maka dianggap bahwa kesehatan  dianggap hanya “menghabiskan” anggaran. Outcome rakyat sehat, menurunnya angka kesakitan dan angka kematian, serta naiknya angka harapan hidup memang  indikator yang kurang populer bagi sebagian pihak terutama kalangan bisnis/ekonomi.  Justru  Bill Gates yang datang dari “jauh” secara nature justru   mempunyai pola pikir yang sangat istimewa.  Anggarankesehatan baginya adalah sebuah investasi.
Pola pikir Gates ini juga menjadi semacam sindiran halus bahwa dalam  hal  anggaran kesehatan di negara kita masih sangat rendah.  Belanja kesehatan di Indonesia dalam 40 tahun terakhir hanya 2,5-3% dari PDB. Bahkan dalam 2 periode pak SBY ini anggaran hanya sekitar 1% dari PDB. Kisaran angka itu memang masih sangat jauh dari nilai ideal yaitu 5% dari besaran APBN kitasesuai amanat Undang-Undang. Bahkan bila dibandingkan dengan negara yang katakan ekonominya lebih jelek dibanding Indonesia  seperti Vietnam dan Filipina tetapi belanja kesehatan sudah sampai 4-5% dari PDB. Apalagi masalah kesehatan kesehatan yang menjadi prioritas dari Gates adalah sebagian besar termasuk dalam  wilayah  kesehatan masyarakat (public goods)seperti upaya pemberantasan penyakit  yangsebenarnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara. Berbeda dengan  upaya kesehatan perorangan (private goods) yang mana tanggung jawab pribadi masuk di dalamnya, termasuk dalam hal pembiayaannya seperti  terlihat pada konsep asuransi sosial  dimana masyarakat harus berbayar dalam kepesertaannya kecuali bagi masyarakat miskin yang dibayar oleh negara.
Untuk itulah maka Bill Gates dengan segala pesonanya (kekayaan 772 T yang dimilikinya, sikap humble, kedermawanannya, pola pikirnya yang istimewa)   yang   justru tertarik dengan hal yang sering dianggap “remeh temeh” bisa menjadi cermin sekaligus insight baru. Momentum dan tujuan kedatangan beliau ini semestinya juga dibaca sebagai pendidikan  bagi para wakil rakyat, partai  pemenang Pemilu dan presiden baru  nantinya untuk kembali memikirkan  besaran anggaran kesehatan menjadi lebih layak.



·         triastutisgtm004@gmail.com

Saturday, March 29, 2014

CERITA MENJELANG TIDUR : SI TOKEK

CERITA MENJELANG TIDUR
SI TOKEK
Tokek… tokek…. tokek …tokek….tokek
Suara tokek  terdengar lagi. Untuk yang kesekian kalinya.  Dani  dan Tatas yang sedang belajar  merasa terganggu.
“  Suara Tokek itu menganggu sekali ya… “ kata Dani  yang sedang berusaha memecahkan soal Matematika. “  “Saya jadi lupa bagaimana caranya mengerjakan soal     ini “    Dani menggerutu . 
“Iya nih ….  saya  juga  nggak  begitu suka “ kata  Tatas yang sedang  berusaha  menyelesaikan tugas membacanya  yang tadi diperolehnya di  sekolah .  
Tokek…tokek…tokek
Suara itu kembali terdengar, dan berhenti pada hitungan ketiga  “ Awas ya… kalau masih bunyi terus, nanti saya cari kamu sampai ketemu” kata Dani dengan kesal.
“Ada apa mas Dani dan Adik  Tatas kok pakai bilang awas-awas nih” kata ibu yang baru muncul dari kamar mandi
“Itu nah Bu tokeknya  mengganggu kita belajar”  kata Tatas. “ Saya sama mas Dani mau ngerjakan PR tapi jadi lupa yang diajarin Bu guru tadi pagi di sekolah. Sekarang  saya udah ngantuk nih, jadi daripada diganggu sama Tokek saya mau tidur aja ya Bu?”
Lho…lho…lho jadi PR nya gimana dong! Kapan kalian mangerjakan? Besok pagi biasanya kalian bangunnya kesiangan.  Ketinggalan Shalat Subuh lagi. Sekarang aja diselesaikan. Mumpung masih ada ibu dan si Tokek… he..he..he  “ kata Ibu sambil tertawa
“Ah ibu ini bercanda aja, masa tokeknya menemani kita?”   Kata Tatas sambil menyelesaikan tugas sekolahnya.
“ Ya bener   Mas  kalau  tokeknya menemani kita.  Setiap hari dia bunyi terus. Anggap  saja itu musik yang menemani kita belajar . Biar kamu nggak kesal terus “ kata Ibu
“Assalamualaikum…’.  Tiba-tiba suara Ayah yang baru datang dari kerja terdengar mengucapkan Salam.
Tokek…tokek
Belum sempat menjawab salam suara tokek duluan terdengar. Seakan-akan menjawab salamnya ayah.
“Walaikumsalam Yah…” jawab Dani dan Tatas serempak sambil berlari memeluk ayahnya. 
“Ada apa nih kok tadi Ayah dengar Kalian kelihatan tegang  dan serius sekali?”
“Oo itu yah, mas Dani dari tadi marah-marah terus sama si Tokek yang baru muncul di rumah kita itu” kata Tatas sambil kembali mengerjakan  PR Bahasa Indonesianya itu.
“Gimana nggak marah Yah, si tokek itu dari pagi sebelum berangkat sekolah, siang pas kita tidur siang sama  malam saat kita belajar dan mau istirahat juga bunyi terus.  Dasar tokek binatang jelek!! Kapan-kapan akan saya cari dan bunuh dia”, ungkap Dani sambil menahan marah.
“Wah…Wah kok jadi runyam begini” gumam ibu lirih.  “Gini aja mas Dani sementara sabar dulu . tokek toh tidak membahayakan. Hanya suaranya saja yang bikin berisik. Jadi kembali seperti saran ibu tadi anggap saja suara tokek itu seperti musik aja… he..he… “ kata Ibu sambil tertawa. “ Iya kan Yah? “ kata Ibu sambil minta persetujuan ayah.
Ayah yang baru tahu duduk masalahnya  berusaha cepat menanggapi  ‘” oooo itu masalahanya…. “ Sambil  membuka tas kerjanya ayah berkata lagi “ Eh…eh kalian mau tahu informasi tentang tokek nggak? barusan ayah baca di koran harian ini tentang tokek lho….”
“ Mau….. Yah. Mana korannya?” Sahut Tatas dengan antusias.
“Ah malas ah, mending mengerjakan PR yang kurang sedikit nih…..” kata Dani.
 Tokek…tokek..
“Tuh kan makin menjadi aja, besok saya akan tangkap itu binatang” solot Dani
“Ya sudah Tatas saja yang membaca ya  ini Ayah mau mandi dulu…” kata Ayah sambil bersiap-siap mandi.
Sambil membereskan bukunya maka Tatas dengan senang hati  menerima koran yang baru-baru ini diakrabinya  setelah menemukan cerita anak yang sangat menarik di koran edisi Minggu.
Tidak berapa lama kemudian, ‘Ibu, ibu”  Tatas berteriak memanggil ibunya sambil mengacung-acungkan korannya itu.  “Ada apa sayang kok teriak-teriak”  sahut Ibu.
“Nih ada berita tentang si Tokek” Tatas berkata bangga, karena merasa dialah yang pertama membacanya.
“Wah…wah semangat sekali Adik nih.  Mana coba korannya ibu lihat” kata Ibu
“Ini  Bu” kata Tatas sambil mengangsurkan koran kepada ibunya.
Setelah sejenak membaca maka ibu berkata “ oh ya Dhe, Tokek disini diceritakan bisa sebagai obat. Obat gatal, asma . malah ada kabar tokek juga bisa sebagai obat  HIV/AIDS … wah ternyata hebat juga si tokek ini.  Itulah Allah menciptakan semua makhluknya ada gunanya walaupun  terkadang kita  tahunya terlambat  “ kata Ibu sama Tatas.
Tiba-tiba tokek, tokek, tokek, suaranya kembali bergema di dalam rumah.
“Tokeknya tahu sedang kita  dibicarakan Bu”  kata Tatas keras-keras.
“Tokek lagi, tokek lagi, bosan ah!! “ kata Dani sambil membereskan bukunya.
“Eh belum tahu ya Mas, kalau tokek  harganya sangat mahal, tadi teman Ayah cerita di kantor katanya tokek harganya jutaan, bahkan  sampai ratusan juta  dan miliaran rupiah”
“Hah!!! Masa sih Yah, emangnya apa gunanya binatang jelek itu?” kata Dani tak yakin.
“Isunya memang begitu. Di internet juga banyak informasi tentang  harga tokek yang gila-gilaan itu. Tapi entahlah kebenarannya itu” kata ayah lagi.
“Kok bisa ya Yah….  Binatang yang  mengerikan   itu menjadi seperti  sangat mahal “Kata Dani dengan keheranan.
“Ya bisa aja Mas Dani, semua akan menjadi serba mungkin. Memang sih belum terbukti juga tokek bisa untuk kesembuhan penyakit HIV/AIDS. Tetapi karena penyakit itu  belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan nya, maka kesempatan tokek untuk berperan besar pada dunia ilmu pengetahuan terbuka lebar…” belum selesai Ayah bicara,  tiba- tiba terdengar lagi
Tokek… tokek…..tokek…..
“Ha…ha…ha… rupanya si Tokek bilang amin, amin dan amin” kata Ayah sambil tergelak, “Ah Ayah bisa aja” kata Dani sambil tersipu. Semua akhirnya tertawa bersama …
….“Oh ya, besok pagi dengar ya si Tokek   akan membangunkan kita, dan malam ini  akan mengiringi tidur kita” kata Ibu sambil mengerling matanya kearah Dani.
“Udah Mas Dani dan Adik Tatas, sekarang siap-siap gosok gigi dan cuci kaki, terus tidur. Biar besok nggak kesiangan…. “ lanjut Ibu. “Ya bu”  jawab mereka serempak. “Assalamualaikum…” salam kedua kakak beradik kelas 5 dan 3 SD itu  kepada ayah dan ibunya.
“Walaikumsalam dan  selamat tidur anak-anakku. Mimpi indah bersama tokek ya, sahabat kita semua” kata Ayah.
Ha…ha.. mereka tergelak bersama…
Tokek…tokek…tokek

------------------------------------------Oleh Ibu TAZKI DAN TATAS--------------------------------------------------------------------------

Saturday, March 15, 2014

penghargaan itu...

Penghargaan itu...
Tepuk tangan membahana kala setiap pemenang dari masing-masing kategori penilaian MDGs award dibacakan oleh pembawa acara. Begitu pula saat dibacakan hasil kategori pengendalian penyakit menular untuk pemerintah kabupaten /kota. Selamat kepada semua yang pernah dan sedang berkontribusi baik yang masih ada di program HIV/AIDS maupun semua jejaring yang ada. Kemenangan ini adalahmilik semua.....Semua ini adalah mata rantai yang sangat panjang sejak program ini hadir dan pada saat ini adalah seolah menjadi "puncaknya". Tetapi disadari bahwa justru inilah menjadi tantangan yang cukup berat. Saat pesta usai, tepuk tangan dan pujian mereda justru menjadi sebuah tantangan untuk melakukan yang terbaik, bukan semata karena sebuah pemberian apresiasi.......Apresiasi, disadari memang cukup penting untuk menjadi pemberi semangat baru dalam bertindak. Tetapi kembali meluruskan niat untuk sebuah kebaikan menurut saya juga jauh lebih penting supaya kita tidak sombong saat pujian dan tepuk tangan datang dan sebaliknya......Thanks God...Alhamdulillah

Saturday, March 8, 2014

ODHA Capai 62 Kasus, Muncul Tren Penderita 4 M (Radar Tarakan)

Kamis, 5 Desember 2013
ODHA Capai 62 Kasus, Muncul Tren Penderita 4 MPerkembangan HIV/AIDS di Kota Tarakan

Sepanjang tahun 2013—dari bulan Januari hingga akhir November, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan menemukan 62 kasus penderitaHuman Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Tarakan. Jika sebelumnya, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) lebih didominasi dari kalangan yang tingkat mobilitasnya tinggi seperti sopir dan lainnya, saat ini penderita lebih didominasi oleh kalangan 4 M.

“Sekarang penularan lebih banyak dari kalangan 4 M, Men-with Money-Mobile-and Macho behavior. Jadi, orang atau laki-laki yang banyak duit dan pergi kesana-kemari serta punya sifat macho atau ingin terlihat macho,” jelas Kepala Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr Hj Tri Astuti Sugiyatni.

Gaya hidup masa kini memang berbeda dengan sebelumnya. Orang dengan HIV/AIDS yang dulunya didominasi oleh pemakai narkoba dan penyedia layanan seks bebas, saat ini justru ODHA banyak datang dari pelaku seks bebas. Kepada Radar Tarakan, Tri mengungkapkan Tarakan merupakan daerah rawan ditemukannya kasus HIV/AIDS, mengingat wilayah ini merupakan wilayah transit dari dan ke berbagai daerah.

Disebutkan dari hasil pengumpulan data Voluntary Counseling and Testing (VCT) sejak tahun 2006 hingga sekarang, orang dengan HIV/AIDS yang ditemukan mencapai 311 jiwa. Data ini terhimpun melalui laporan hasil tes VCT mulai dari Rumah Sakit (RS), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Palang Merah Indonesia (PMI) dan beberapa titik dipusatkannya VCT. Sementara 62 kasus yang ditemukan sepanjang tahun 2013, penderita terbanyak didominasi dari penderita dengan risiko tinggi yang tergabung dari Wanita Penjaja Seks (WPS), Wanita-Pria (Waria), gay dan Lelaki Seks Lelaki (LSL) sebanyak 46 orang. Sementara sisanya sebanyak 16 orang dari kalangan yang memiliki risiko rendah.

Diungkapkan, penderita dari usia kurang dari 4 tahun atau balita, telah ditemukan sebanyak 3 kasus. Menurut Tri, balita ini kemungkinan besar tertular dari orangtuanya. “Kalau dilihat dari segi usia, kebanyakannya masih dalam usia produktif antara 25 hingga 45 tahun. Pintu HIV/AIDS itu ‘kan dari seks bebas, jadi kadang-kadang sudah mulai seks bebas tetapi masih negatif. Kemudian enam bulan lagi baru terlihat, karena HIV/AIDS itu ada window period-nya,” papar Tri di Tarakan, kemarin (3/12).

Pelaku seks bebas pemula memang tidak serta merta dapat tertular penyakit HIV/AIDS. Namun dari periode tertentu, biasanya pelaku yang bergonta-ganti pasangan akan terimbas penyakit IMS atau Infeksi Menular Seksual yang lama-kelamaan akan membuka pintu HIV/AIDS masuk. “Biasanya, pertama dia akan mendapat IMS atau Infeksi Menular Seksual seperti syphilis, keputihan dan lain-lain. Nah, IMS itu menjadi salah satu pintu masuknya HIV,” urai Tri.

Melihat tingginya seks bebas yang terjadi di kalangan pelajar saat ini, Tri merasa prihatin. Dikatakan, pelajar dengan perilaku seks bebas tidak menutup kemungkinan terinfeksi penyakit mematikan tersebut. Sementara terkait dengan persoalan remaja dan pelajar saat ini, dinas kesehatan sudah mulai menerapkan program yang disebut PKPR atau Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja yang diharapkan mampu membantu mengatasi persoalan seks bebas di kalangan pelajar. “Ya kami berharap pelajar kita seharusnya menghindari yang namanya narkoba dan seks bebas,” pungkas Tri.

SULUH BURUH PELABUHAN
Selain dinas kesehatan, upaya penanggulangan HIV/AIDS di Tarakan juga dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Tarakan. Salah satu kegiatan riil KPA dalam hal ini adalah melakukan penyuluhan, seperti yang dilakukan kemarin (3/12). Sasaran utama penyuluhan adalah kalangan pekerja di Pelabuhan Laut Tarakan atau Pelabuhan Malundung di Kelurahan Lingkas Ujung.

Dalam penyuluhan ini, KPA Kota Tarakan bekerjasama dengan dinas kesehatan. Ini juga merupakan rangkaian kegiatan peringatan HIV/AIDS se-Dunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember lalu. Intinya, kegiatan mengharapkan pekerja untuk berhati-hati dalam berhubungan intim di luar pernikahan yang sah, utamanya dengan para Wanita Penjaja Seks (WPS).

Dalam penyuluhan ini, KPA dan dinas kesehatan memberikan banyak materi soal seks yang aman. Seperti penggunaan pengaman (kondom) yang tepat, cara penularan HIV/AIDS dan lainnya.

Sebagaiman diketahui, penularan HIV/AIDS bisa melalui perilaku seks bebas, melalui Air Susu Ibu (ASI), penggunaan jarum suntik secara bergantian dan lainnya. Sementara, menggunakan handuk secara bersamaan, makan sepiring berdua, minum dengan gelas yang sama yang digunakan orang dengan HIV/AIDS, gigitan nyamuk dan lainnya, takkan terjadi penularan penyakit. “Jadi, virus HIV/AIDS bisa tertular oleh sesuatu yang bergesekan dan menimbulkan luka dan melalui cairan tubuh manusia,” ungkap Roniansyah, Koordinator Pelaksana Kegiatan.

Roni juga berharap, kegiatan mampu menjadi bahan pelajaran bagi para pekerja di Pelabuhan Malundung tentang pentingnya menghindarkan diri dari penyakit HIV/AIDS serta menghambat penyebaran HIV/AIDS di Tarakan.(rif/*/gun/ndy)

DBD Masih menjadi momok warga

Kamis, 6 Maret 2014 (Radar Tarakan)
DBD Masih Menjadi Momok WargaPasca Penegakan Diagnosis, Dinkes Lakukan PE

TARAKAN – Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan dr Hj Tri Astuti Sugiyatmi akui, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi momok bagi warga kota ini.
Karena itu, koordinasi antara rumah sakit dan Dinas Kesehatan terus ditingkatkan terkait informasi adanya pasien yang didiagnosa mengidap penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti itu.
Menurut Tri, sejauh ini pihak rumah sakit khususnya RSUD Tarakan sudah cukup update memberikan informasi apabila ada pasien DBD, sehingga Dinas Kesehatan bisa secepatnya berkoordinasi dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) di lingkungan tempat tinggal pasien tersebut.
“Nanti dari situ, baru ditentukan apakah perlu dilakukan fogging atau tidak,” jelasnya.
Dijelaskan, ada kriteria tertentu dari hasil PE yang dilakukan untuk menentukan perlunya tindakan fogging atau tidak, sebab tidak semua kasus DBD yang terjadi harus dilakukan pengusiran nyamuk dengan asap tesebut.
Salah satu alasan yang menjadi pertimbangan adalah, resistensi nyamuk terhadap asap atau fogging, sehingga langkah tersebut akan menjadi sia-sia.
“Kalau hasil PE-nya misalnya di lingkungan tersebut memang ada penyebaran penyakit, dan di sana juga banyak nyamuk, atau lingkungan yang kurang besih dan banyak genangan air, saya rasa itu memang perlu untuk di-fogging,” ujarnya.

Pamusian dan Karang Anyar Paling Rawan DBD (Radar Tarakan)

Senin, 17 Februari 2014
Pamusian dan Karang Anyar Paling Rawan DBD- 2013, Pamusian Terdata 49 Kasus, Karang Anyar 44 Kasus
TARAKAN – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius masyarakat Kota Tarakan. Dukungan semua pihak sangat penting untuk memerangi penyebaran penyakit yang disebabkan virus yang dibawa oleh vektor gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini. Termasuk menyadarkan masyarakat untuk menerapkan sistem 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur/Memantau).

Dari informasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan, pada bulan Januari lalu, terlaporkan 25 kasus DBD—laporan pihak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Rinciannya, 2 kasus di Kelurahan Juata Permai, 4 kasus di Kelurahan Juata Kerikil, 3 kasus di Kelurahan Karang Anyar, 1 kasus di Kelurahan Sebengkok, 3 kasus di Kelurahan Lingkas Ujung, 4 kasus di Kelurahan Pamusian, 1 kasus di Kelurahan Kampung 1/Skip dan 1 kasus di Kelurahan Kampung VI.

Tahun lalu, temuan kasus DBD terbesar adalah Kelurahan Pamusian 49 kasus dan Karang Anyar 44 kasus dari total temuan 368 kasus. Tahun 2010, data kumulatif kasus DBD sebanyak 275 kasus, 2011 terdapat 260 kasus, dan tahun 2012 terdapat 364 kasus.

Upaya paling efektif mencegah penyebaran virus DBD adalah memahami siklus nyamuk demam berdarah. Demikian diungkapkan Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Tri Astuti Sugiyatmi, baru-baru ini.

“Nyamuk demam berdarah umumnya bertelur di air lalu menjadi larva, selanjutnya menjadi pupa sebelum menjadi nyamuk dewasa. Jika pola penanganannya hanya dilakukan dengan fogging (penyemprotan pestisida anti nyamuk, Red.), yang terbunuh hanya nyamuk dewasa. Namun larva yang ada di air tetap hidup, dan hanya bersiklus sekitar satu hingga dua minggu untuk menjadi nyamuk dewasa,” ujarnya.

Untuk itu, upaya fogging harus dibarengi dengan 3M. Ini berkaitan dengan sifat nyamuk demam berdarah. “Sifat umum Aedes Aegypti dewasa umumnya menyukai tempat yang relatif bersih. Nah, dengan kondisi masyarakat Tarakan yang hampir sebagian besar mempunyai penampungan air hujan, tentunya mudah bagi nyamuk untuk mencari sarana bertelur sehingga siklus nyamuk tersebut terus berkembang,” paparnya seraya menyebutkan bahwa, rata-rata vektor nyamuk Aedes Aegypti mampu berkembang biak dalam rumah, baik gentong penampungan air bersih, profil tank dan lainnya.

“Meski sejauh ini puskesmas memiliki program larvadisasi terjadwal setahun dua kali dan insindentil saat ada laporan, masyarakat harus tetap mengaktifkan 3M,” tambahnya.

Aedes Aegypti sangat mendominasi penyebaran penyakit DBD, dibandingkan dengan nyamuk lain yang dapat menyebabkan penyakit Malaria dan Filariastis. Dikatakan Tri, temuan penyakit malaria di Tarakan merupakan impor dari wilayah lain.(dsh/ndy

Wednesday, February 19, 2014

JKN dan BPJS Menuai Masalah, What Next ?

Dimuat di Jawa Pos  Nasional dengan  Judul Berbeda  tanggal 19 Februari 2014
 JKN  dan BPJS Menuai Masalah,  What Next ?
Tri Astuti Sugiyatmi*
Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)  sudah berjalan mulai 1 Januari lalu. PT Askes sudah bertransformasi menjadi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) bidang kesehatan, masyarakat sudah menerima haknya, provider pelayanan kesehatan (puskesmas, rumah sakit dll) beserta  petugas kesehatan di dalamnya sudah melaksanakan kewajibannya. Lalu apa lagi?
Dalam hitungan hari  tentu saja masih terlalu dini untuk bisa dinilai keberhasilan atau kegagalan JKN dan efeknya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.  Namun pada awal pelaksanaan  yang mengemuka  justru  banyaknya    keluhan dan komentar negatif masyarakat di berbagai media.
Kurangnya sosialisasi program  menyebabkan carut marutnya  dalam pelaksanaan pelayanan , bahkan seringkali fasilitas kesehatan sendiri kebingungan dalam menjawab  berbagai pertanyaan masyarakat seperti kepesertaan, hal yang ditanggung atau tidak ,  sistem rujukan dan   ketersediaan obat.
Di sisi lain,  fasyankes dan  petugas kesehatan  ada yang  mengeluhkan bahwa tarif paket / metode pembayaran prospektif yang dianut  Ina-CBG’S (Indonesian  Case Based Groups) misalnya untuk operasi sectio caesaria (SC) yang  dirasa kurang berimbang dengan sumberdaya yang dipakai.  Dokter  kandungan pelaksana SC hanya mendapatkan bayaran hanya dalam kisaran enam puluhan ribu saja. Tidak sebanding dengan keahlian dan risiko (termasuk tuntutan hukum)  yang ada. Bila dibandingkan dengan tindakan sirkumsisi (sunat) yang tarifnya tidak jauh berbeda maka terkesan bahwa perhitungan yang ada memang masih mentah dan belum final.  
Di tengah keluhan jasa para profesional, justru mencuat sebuah berita  bahwa direksi BPJS menerima gaji yang sangat fantastis dalam kisaran 365 juta rupiah!! Dalam forum  ahli ekonomi kesehatan terungkap bahwa gaji direksi BPJS yang  diusulkan dengan Peraturan Presiden  itu   tidak transparan besarannya.  Sebagai badan hukum publik  hal itu semestinya memang layak untuk diketahui masyarakat luas.
Monev Program : keniscayaan                                      
Tentu saja banyaknya keluhan yang mengemuka ini  tidak bisa diabaikan begitu saja. Walaupun sejatinya harus diakui  bahwa untuk berani memulai era ini saja  adalah sebuah kemajuan bahkan lompatan  besar bagi sebuah bangsa yang sedang terpuruk pada banyak bidang ini. Namun itu saja belumlah cukup. Keluhan dan kritik yang muncul, bila tidak ditanggapi dan  tidak segera ditindaklanjuti  bisa jadi justru akan membahayakan keberlangsungan program ini dalam jangka panjang.   
Menyitir  Prof Hasbullah Thabrany –guru besar di UI- bahwa program yang dianalogikan seperti berlian tetapi  diperlakukan sebagaimana barang karatan terancam gagal bila semua pihak yang berkepentingan tidak serius dalam menjalankannya.
Sehingga sangatlah wajar bila kehadiran  kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) untuk melihat proses sudah berjalan on  track atau tidak adalah sebuah keniscayaan. Pada prinsipnya program yang melibatkan seluruh penduduk ini memang menjadi sangat wajar apabila semua pihak  diberi kesempatan untuk memberi masukan. 
Tanpa monev secara masif dan massal maka semua proses dianggap  dan  dilaporkan   sudah baik, padahal dalam kenyataannya masih  banyak kekurangan di sana-sini.  
Dalam hal ini peranan dewan pengawas BPJS semestinya harus dimaksimalkan walaupun disadari dalam hal ini agak sulit karena dalam UU nya untuk masalah penggajian kedua pihak (direksi BPJS dan dewan pengawas sudah saling mengunci)!. Sehingga monev dari pihak eksternal memang diharapkan akan lebih aktif seperti Otoritas Jasa Keuangan dan BPJS watch ( bila ada).  Masukan dari akademisi di Perguruan Tinggi sebagai pihak independen juga sangat diharapkan. Masukan konstruktif dari  praktisi kesehatan, organisasi profesi, asosiasi RS juga harus dihargai sebagai kontribusi positif dalam membangun program bersama ini.
Menuju Titik Keseimbangan Baru
JKN  sebagai  bentuk reformasi  sistem  pembiayaan kesehatan dimana semua penduduk  terwadahi dalam sistem asuransi kesehatan sosial disadari membawa konsekuensi yang tidak kecil. Terjadi perubahan sistem pembiayaan  dan pelayanan kesehatan yang cukup fundamental. Akibatnya dapat ditebak yakni terjadi “kekacauan” pada awal-awal pelaksanaannya. Memang  dapat dipahami sesuatu yang baru tidak serta merta berubah dengan mulus untuk menuju sebuah titik keseimbangan yang baru. Untuk itu maka empat aktor utama dalam sistem  ( BPJS, pemerintah, provider dan masyarakat) ini harus segera menyadari dan berbenah.
Provider dan para tenaga medis  harus makin “sadar biaya“ dan meningkatkan efisiensi dalam hal pemanfaatan sumber daya yang disediakan. Dalam hal pemanfaatan teknologi  canggih dalam mendiagnosa maupun terapi maka faskes  bahkan dokternya harus  bijak. Dengan tools  HTA (Health Technology Assesment)  maka pemberian layanan teknologi canggih dapat ditinjau dari sisi ekonomi kesehatan. Sebuah pendekatan baru dengan - tentu saja-  tanpa mengabaikan kualitas dan keselamatan pasien. 
Masyarakat juga  harus memahami tentang  pelayanan kesehatan di berbagai level baik primer, sekunder maupun tertier. Bila  membutuhkan layanan khusus dan spesialistis, kecuali dalam hal emergensi maka   sistem rujukan berjenjang menjadi keharusan.
Pemerintah sebagai regulator dan DJSN  sebagai pemberi asupan rumusan kebijakan bagi presiden   diharapkan membuat  peraturan  yang  adil bagi semua pihak terkait.  Terkait kesejahteraan provider kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan semestinya juga diperjuangkan.  Dana kapitasi di puskesmas yang selama ini selalu menjadi temuan BPK bila langsung dimanfaatkan  semestinya diperjuangkan sinkronisasinya di tingkat Kemenkeu, Kemenkes dan Kemendagri. 
Sementara bagi direksi dan dewan pengawas BPJS harus  makin paham dengan suasana psikologi masyarakat dan provider yang menginginkan transparansi dalam banyak hal, termasuk dalam penggajian. Bagi sebagian masyarakat dan provider maka  gaji direksi yang disamakan saat  masih menjadi PT Askes  akan memicu kecemburuan sosial. Jangan sampai  karena posisinya di UU yang memungkinkan maka  bersikap “ seenaknya” dalam hal tersebut.
Sikap optimis pemerintah dan BPJS tentang JKN yang akan menghadirkan layanan kesehatan yang bermutu dan berkeadilan akan semakin menjauh manakala para pengambil kebijakan dan semua perangkatnya  tidak terbuka terhadap berbagai kritik, masukan, kajian yang  bertujuan kebaikan program ini di masa-masa yang akan datang.
Jangan sampai sikap optimis hanya sekedar lip service saja yang pada gilirannya justru bisa menjadi  bumerang yang akan kontraproduktif bagi keberlangsungan program yang  sejatinya menjadi kebanggaan kita semua.
•