Friday, September 29, 2017

Imunisasi vs Kejadian Luar Biasa/Wabah


Tri Astuti Sugiyatmi*

Berita tentang program masal pemberian vaksin MR (Measles dan Rubella) sebagai vaksin baru di umur 9 bulan s.d 15 tahun 2017 di  pulau Jawa masih menghiasi media  baik online maupun media cetak. Namun sayangnya, yang menonjol hanyalah tentang kejadian yang terjadi pasca imunisasinya bahkan yang kebetulan munculnya bersamaan (koinsiden) sekalipun. Kemunculan iklan layanan masyarakat di TV yang menampilkan tokoh masyarakat serta korban congenital rubella syndrome/CRS (penyakit jantung, ketulian, kebutaan pada bayi) belumlah cukup untuk meng-counter isu-isu negative tentang program imunisasi ini.  Sehingga yang terjadi adalah ketakutan masyarakat yang tidak perlu yang sudah mulai merebak bahkan sampai di luar Pulau Jawa yang baru akan mendapat program ini di fase II yaitu  pada tahun 2018.  Masalah semakin parah karena banyak komentar-komentar negative dari para netizen khususnya di medsos yang tidak berdasar ataupun mendasarkan pada informasi yang hoax.
Jika informasi yang demikian akan menjadi pegangan dari para orangtua maka pada gilirannya mereka akan menolak program yang sebenarnya  punya tujuan yang sangat mulia itu. Pencapaian program akan rendah dan  tidak merata. Pada gilirannya gampang sekali penyakit itu akan masuk melalui orang-orang yang tidak diimunisasi. Sehingga tujuan program imunisasi yaitu melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit  akan menjadi taruhannya.  Pada gilirannya kejadian luar biasa  (KLB)/wabah pun akan menjadi ancaman berikutnya. Wabah itu sendiri merupakan kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata yang melebihi keadaan lazim pada waktu dan daerah tertentu. Sementara untuk KLB merupakan peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologi yang dapat menjurus ke arah wabah. Jadi adanya peningkatan kasus yang menjurus ke KLB menjadi sebuah early warning akan hadirnya bencana yang lebih besar yaitu wabah, tentu saja  jika tidak ada response yang memadai.
Ada 17 penyakit menurut Peraturan Menkes No 1501/tahun 2010 yang dapat menyebabkan wabah. Sebagian ada yang dapat dicegah dengan imunisasi program yaitu imunisasi yang jenis vaksinnya, jadwal atau waktu pemberian yang ditentukan oleh pemerintah  dan layanannya tidak berbayar. Yang masuk dalam kategori itu misalnya seperti vaksin untuk mencegah campak, difteri, polio, meningitis, hepatitis. Kabar buruknya adalah bahwa ada yang bisa dicegah namun belum masuk dalam  imunisasi program seperti DBD jadi harus berbayar dan biasanya hanya dapat diakses di layanan private. Sebagian lagi memang tidak/belum ada vaksinnya.  Diluar itu  maka ada Merscov, ebola, zika, flu-flu-an sebagai  penyakit infeksi emerging atau new emerging sebagai ancaman wabah atau pandemi antar negara atau benua. Apalagi belum ditemukan vaksinnya sebagai pencegahan yang spesifik.



Imunisasi : Upaya Pencegahan
Sejarah dunia mencatat bahwa  penyakit cacar (smallpox) variola musnah dari muka bumi sejak 25 April 1974 berkat imunisasi.  Anak kelahiran setelah tahun tersebut maka tidak ada bekas “cacar” di lengan kirinya. Penyakit variola yang sangat mengerikan itu  sampai sekarang sudah tidak pernah  ada lagi. Penyakit cacar itu sudah tereradikasi.  Maka tidaklah berlebihan kiranya bila imunisasi ditasbihkan sebagai  menjadi program pencegahan yang paling cost effective (baca: murah)
Namun berbicara program imunisasi saat ini maka banyak sekali  tantangannya. Dengan era teknologi informasi seperti sekarang ini dimana semua orang bisa beropini bahkan menjadi “wartawan“ dengan citizen journalism maka validitas data, bukti, kajian dari para ahli seringkali  tertutupi ataupun kalah dengan dahsyatnya isu  negative yang sedang viral di media on line. Memang pada dasarnya kembali ke karakter  berita bahwa  bad news is good news adalah sebuah keniscayaan. Sementara sesuatu yang memang baik-baik saja seperti tetap sehat setelah program imunisasi, tidak ada kejadian luar biasa ataupun wabah adalah sesuatu yang dianggap biasa saja/normal dan dirasa tidak perlu disampaikan ke masyarakat.
Program imunisasi dikabarkan oleh yang anti vaksin sebagai konspirasi dari dunia barat untuk memperlemah generasi, padahal dari kalangan pro vaksin justru menganggap sebaliknya. Bahwa antivaks digembar-gemborkan adalah supaya umat menjadi lemah dan sakit-sakitan. Jadi  ada dua sisi angle yang berbeda dalam memandang  satu kasus yang sama. Buktinya Negara yang dituduh berkonspirasi juga melakukan program imunisasi seperti di US, Negara Eropa dan wilayah Israel. Sementara negara Islam lainnya juga melaksanakan program ini seperti Arab Saudi, Mesir. Palestina dan Malaysia. Sementara kabarnya malah vaksin ke Negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI justru dipasok oleh BUMN Negara kita, PT Biofarma. 
Masyarakat disuguhi ‘perang opini’ yang sangat luar biasa antara pihak yang  pro vaksin vs antivaks yang makin  meruncing.  Beberapa argumen dari kelompok masyarakat yang anti vaksin  menyatakan bahwa tidak adanya jaminan 100% bahwa imunisasi dapat mencegah penyakit menjadi salah satu alasan kuat penolakannya. Untuk masyarakat yang berpandangan seperti itu perlu disadarkan bahwa yang dikelola oleh sebuah program adalah penurunan  faktor risiko. Untuk hasil akhir katakan takdir –bagi umat muslim- mereka terkena atau tidak dari sebuah penyakit sudah bukan domain dari program lagi.
Ada juga yang  beranggapan sudah cukup dengan ASI, jaga kebersihan, makanan yang bergizi, lingkungan yang baik, namun tidak perlu imunisasi. Untuk kasus penyakit yang belum ada vaksinnya, memang hanya itu yang bisa dilakukan disamping memang perlu berobat setelah terkena. Kasus seorang putra dari selebriti  antivaks bisa menjadi contoh.  Baiknya gizi dalam makanan serta lingkungan ternyata  tidak juga bisa mencegah dari serangan penyakit campak yang cukup parah. 
Memang masalah konten juga seringkali menimbulkan pro kontra. Bahan  tambahan vaksin sendiri yang dituduh menyebabkan autis. Bantahan para ahli terhadap bahan tambahan yang diduga penyebab autis sudah banyak dirilis. Muncul masalah lain lagi bahwa vaksin sebagai produk biologi yang berisi mikroorgaanisme yang sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan  maka biasanya digeneralisir bahwa  pengolahan  semua vaksin   bersinggungan dengan enzim tripsin babi (porcine). Padahal untuk vaksin rutin hanya polio-lah yang seperti itu, Namun untuk halal haram sebetulnya juga sudah ada  fatwa dari lembaga berwenang  (fatwa Majelis Ulama Indonesia no 4/2016). Untuk masalah yang mendekati wilayah agama maka penulis kembalikan pada ahlinya.
Tantangan lain yang sering mengganggu program ini adalah adanya di blow up nya efek simpang dari imunisasi atau adverse event following immunization (AEFI) atau sering disebut sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).  Kasus kelumpuhan ataupun kematian yang belakangan dikait-kaitkan dengan vaksin/imunisasi menjadi momentum bagi kelompok antivaks untuk menyerang program ini.
Sebagai bahan yang dimasukkan di dalam tubuh manusia pastilah ada efek simpangnya. Jangankan vaksin, obat  yang biasa dipakai sekalipun juga bisa menimbulkan alergi.  Maka reaksi simpang yang terkontrol dan dipersiapkan segala kemungkinannya adalah sebuah risiko logis dari hadirnya sebuah program. Logikanya saat program belum ada, kasus cukup tinggi. Untuk mengatasi kasus tersebut lahirlah vaksin melalui program imunisasi. Saat cakupan imunisasi meningkat maka penyakit akan menurun  (eliminasi) bahkan bisa sampai hilang sama sekali (eradikasi), namun konsekuensinya KIPI akan muncul. Yang menjadi masalah bila penolakan masyarakat sangat besar pada program maka ancaman KLB sudah ada di depan mata.
Namun dengan kemajuan ilmu dan teknologi maka hal-hal yang seperti itu akan semakin dieliminir  khusus dari vaksinnya. Memang yang tidak bisa diubah adalah reaksi individual yang memang sifatnya sangat custom.
Belajar dari KLB campak di Tarakan-Kalimantan Utara pada 2012 dan 2016 yang menyebabkan masuknya pasien ke RS atau KLB difteri di beberapa daerah Jatim  pada tahun 2011 dan 2012 yang menimbulkan banyak kematian serta KLB polio 2005 di Sukabumi yang menelan korban sampai 350-an balita menjadi lumpuh layuh yang permanen. Pada wilayah tersebut, biasanya cakupan imunisasinya rendah. Hal inilah yang menyebabkan  imunitas komunitas (herd immunity) tidak terbentuk.  Hal ini dapat digambarkan ketahanan sebuah masyarakat terhadap sebuah penyakit akan hadir pada saat sebagian besar penduduknya tahu, paham dan mau mencegah penyakit tersebut dengan imunisasi. BIla masyarakat yang rentan lebih banyak jumlahnya maka ketahanan masyarakatnya akan rendah.   Faktor risiko serta probabilitas  terjangkitnya KLB bahkan wabah akan mudah terjadi .
Sebaliknya pada cakupan imunisasi yang tinggi maka  saat ada kuman atau virus yang masuk maka probabilitas kuman akan bertemu dengan anak yang kebal maka yang tidak imunisasi-pun bila jumlahnya kecil (kurang dari <5 akan="" ikut="" maka="" nbsp="" o:p="" terlindungi.="">
Pada saat KLB/Wabah terjadi maka  akan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, kepanikan pada banyak orang tua, tingginya pengeluaran biaya baik untuk berobat maupun untuk penanggulangan di lapangan. Yang jelas kegiatan imunisasi untuk merespon sebuah wabah atau Outbreak Response Immunization=ORI   akan sangat menyita sumber daya yang ada, baik tenaga dan biaya.

Maka sekarang tinggal menimbang. Imunisasi adalah hak anak namun keputusan ada di tangan orang tua sekalian.   Silahkan !

Thursday, September 21, 2017

Bicara Mutu dari Sebuah Masjid

Dalam sebuah acara di masjid al Akbar Surabaya  aku melihat foto ini. Betapa dalam pengelolaan sebuah masjid pun  membutuhkan  system manajemen mutu (SMM) dalam hal ini ISO 2015. Wow sungguh luar biasa, karena setahuku biasanya hanya lembaga tertentu saja yang menerapkannya seperti dinas-dinas yan mengurusi  dan membawahi kantor urusan public atau pabrikan-pabrikan yang punya kepentingan mau ekspor produk ke beberapa Negara industry maju.
Masjid  sebagai tempat ibadah memakai  SMM  adalah sesuatu yang sungguh baru buatku. Dulu di tempat yang sama sebenarnya aku sudah pernah memfotonya, tapi foto itu entah kemana. Dan sekarang aku melihatnya kembali, tentu saja ini menjadi  sesuatu yang sangat kunanti.
Aku sebenarnya juga tidak terlalu paham apa yang dilaksanakan dalam SMM  di masjid ini dan yang diatih. Tapi melihat  tempat kerjaku  di puskesmas dan dinas kesehatan selama bertahun –tahun juga menerapkan system ini maka akau hanya menebak-nebak  apa, bagaimana  SMM dilakukan di lembaga keagamaan ini
Sebenarnya yang aku  sering jumpai masjid atau mushola banyak yang dari tanah wakaf. Sehingga pengelolaan masjid memang biasanya dari  keluarga yang mewakafkan. Sesuatu yang sangat lumrah.   Rasanya memeng kalau hal demikian maka pengelola masjid  hapir tidak mungkin menerapkan system manajemen mutu yang  biasanya   cukup rumit, detail dan  memakan energy yang cukup besar.
SMM akan mengatur secara detail bagaiamana manajemen mulai dari inputnya serta prosesnya serta hal-hal yang terkait dengan semuanya itu bahkan terkait dengan outputnya.
Aku membayangkan bahwa mungkin  (karena aku  hanya menebak-nebak) masjid2  ini  dituntut untuk memberikan pelayanan keagamaan yang  sesuai fungsinya  dengan sangat baik. Kalau masalah visi, misi dan tujuan masjid aku rasa semuanya mirip. Memang sih ada masjid yang sudah lebih banyak variasi pelayanannya. Untuk yang kecil bisa jadi bagaimana mempersiapkan  tempat ibadah yang nyaman dan  bersih.   Bagaimana manajemen  air supaya  tetap bisa mengalir lancer, bagaimana supaya baju untuk ibadah  tetap bersih dan wangi. Bagaimana tata suara (sound system) di dalam masjid agar terdengar ke seluruh sudutnya dengan jelas dll.  Pendek kata  bagaimana ibadah bisa berjalan dengan sebaik mungkin.  Karena di beberapa yang pengelolaannya katakan  yang  masih tradisional maka tempat wudhu dan WC dibiarkan berlumut dan kotor, mukena sampai berbau asem, dll ,
Nah dalam banyak kesempatan aku melihat trend itu sudah banyak berubah. Sudah ada lembaga yang mau turun tangan untuk membersihkan masjid dan lingkungannya. Ini aku lihat di acara TV di Jogja. Anak-anak mudalah yang jadi penggeraknya. Luar biasa. Aku juga melihat di masjid Al-Falah, pencucian mukena dilaksanakan di tempat dan kelihatannya hampir setiap hari ada yang mencuci. Jadi semua mukena setiap hari terasa harum dan bersih. walaupun  aku tahu pengunjung masjid ini tidak pernah surut. Artinya pemakaian mukena ini terjadi secara terus menerus. Di beberapa masjid lain ada pemisahan untuk mukena yang bersih dan sudah dirasa kotor oleh pengunjung.  Ini juga sangat baik jadi pengurus akan langsung tahu mana mukena yang  harus dicuci duluan.  Di beberapa masjid aku melihat ada lembaga yang membantu membuat mukena menjadi bersih dan wangi lagi.   Ini juga aktivitas yang luar biasa.
Satu hal yang sering terjadi adalah  bak air di kamar mandi / WC di masjid rata-rata cukup besar. Ini memang yang masih sering kelewat. Karena serigkali bila lupa tidak mengurasnya maka akan enjadi sumber perindukan nyamuk. Nah mungkin seperi rumah-rumah modern yang sudah menggeser bak mandi besar permanenn dengan bak air kecil saja / eber yang meudahkan untuk dikuras/ dibershkan.
Belum lagi pada kegiatan yang rutin tahunan menyelenggarakan dan mengorganisasikan  zakat, infak dan sedekah dan hari-hari raya keagamaan serta peringatan hari besar islam lainnya.
Nah untuk masjid –masjid yang besar  maka   bisa jadi menyewakan ruangan untuk pertemuan, gedung untuk resepsi, atau ruangan untuk kelas belajar mengajar PAUD, mengaji, TPA  dan yang lain-lain menjadi ruang lingkupnya juga.
Jadi  menurutku untuk masjid-masjid besar  dan  yang lebih kompleks  ruang lingkupnya, maka SMM memang menjadi sebuah keniscayaan.  Juga kebutuhan. Satu hal bahwa ke depan akan diperketat hal-hal yang terkait misalnya  IMB untuk rumah ibadah, maka memang inilah saatnya berbenah juga.  Kejadian di banyak tempat menjadi pelajaran. Sudah saatnya  masjid yang  besar akan berjejaring dengan binaannya, sehingga pengetahuan praktis  dan banyak hal  penting lainnya akan ditularkan sehingga  akan menjadi baik semuanya.  CMIIW
Jika William A. Foster mengatakan bahwa dalam membangun mutu tidak ada yang kebetulan, dan di niati dengan tekad kuat, usaha yang tulus serta melibatkan pengarahan yang cerdas dan sebuah eksekusi yang trampil. Maka saatnya membangun kesadaran sebuah mutu dari sebuah masjid. Semoga dengan begini yang namanya paham-paham komunis  dan atheis yang jelas-jelas menganggap agama sebagai candu akan semakin jauh dari  kehidupan kita.  Wallahu’alam .

Menuju Fasyankes Yang Bermutu: Perlunya Sistem Monitoring Efektifitas Kawasan Tanpa Rokok (KTR) 100% di Fasilitas Kesehatan

Merokok bagi sebagian dari kita menjadi kegiatan yang sudah dianggap sangat biasa. Bahkan kita juga biasa melihat orang merokok dilakukan sambil menggendong balita/bayi, merokok sambil menyetir kendaraan, saat bersiap ke rumah ibadah, menarik becak maupun saat rapat super penting di kantor-kantor pemerintah. Pendeknya merokok selain menjadi kegiatan sambilan juga kadangkala bisa menjadi kegiatan utama bagi semua kalangan di hampir semua tempat. Hampir tidak ada area publik seperti di taman, di angkutan umum maupun di berbagai kantor pemerintahan yang bebas rokok. Sangat wajar untuk sebuah negara yang belum meratifikasi mengaksesi kerangka kerja internasional dari badan kesehatan dunia (WHO) untuk mencegah meluasnya epidemi merokok itu. Mengutip tulisan Prof. dr. Hasbullah Thabrany dkk, seorang ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia maka negara kita menjadi surga bagi para perokok dan industrinya seperti dalam bukunya yang berjudul : Indonesia, the heaven for cigarette companies and the hell for the people.
Walaupun dalam berbagai aturan sudah jelas tercantum seperti UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan berbagai aturan di bawahnya tetapi eksistensi rokok sebagai bahan adiktif yang merajai  semua kalangan (golongan) dan semua kawasan tidak terbantahkan. Produksi, distribusi, periklanan sampai pada perilaku masyarakat dalam merokok menjadi pekerjaan rumah (PR) yang masih menggantung. Bahkan Indonesia tercatat menjadi satu-satunya di negara Asia Pasifik yang belum meratifikasi Framework Convention of Tobacco Control (FCTC).
Burke Fishburn menegaskan menciptakan lingkungan bebas asap rokok adalah satu satunya strategi yang memberikan perlindungan dari bahaya asap rokok lain. Di sisi lain, merokok seperti diketahui menjadi salah satu faktor risiko untuk berkembang mejadi penyakit tidak menular (PTM) seperti kanker, kencing manis dan darah tinggi. Sehingga sangatlah wajar bila sekarang angka kesakitan PTM juga mengalami kenaikan yang sangat berarti bahkan menduduki beberapa urutan dalam 10 besar penyakit.
Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Dari hal-hal tersebut, muncullah kepentingan untuk menciptakan Kawasan Terbatas Merokok dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Dalam pembahasan ini maka penulis akan lebih fokus pada KTR sebagai sebuah istilah yang mengacu bahwa di dalam area/kawasan tersebut tidak boleh ada 'sesuatu' yang berhubungan dengan rokok. Seperti iklan rokok dalam bentuk banner, leaflet, toko/warung penjual rokok, ruang khusus merokok maupun asbak untuk membuang puntung rokok.
Istilah Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTR) muncul karena dianggap tidak ada batas aman asap rokok terhadap orang lain. Penerapan KTR 100% berarti tidak menyediakan ruang untuk merokok dalam bentuk apapun baik yang berventilasi maupun yang menggunakan penyaring udara, karena dianggap tidak dapat secara penuh melindungi paparan dari asap rokok.
Sementara indikator kepatuhan KTR terdiri atas 8 komponen yaitu 1) tidak ada orang merokok;2) tidak terdapat ruangan khusus merokok; 3) terdapat tanda larangan merokok; 4) tidak tercium asap rokok; 5) tidak terdapat asbak/ korek/pemantik ; 6) tidak ditemukan puntung rokok; 7) tidak ditemukan adanya indikasi merek atau sponsor, promosi dna iklan rokok di area KTR serta 8) tidak ditemukan penjualan rokok pada sarana kesehatan, sarana belajar/sekolah, sarana terkait dengan anak, sarana ibadah, tempat kerja serta tempat umum dan sarana olahraga kecuali di pasar modern/mall, hotel, restaurant, tempat hiburan dan pasar tradisional.
Sampai saat ini, penerapan KTR di beberapa tempat seperti di fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan /sekolah sudah dicanangkan. Tetapi diakui bahwa kegiatan penerapan KTR masih belum ideal sesuai dengan tujuannya. KTR total di berbagai tempat yang seharusnya steril dari hal-hal yang berbau rokok kadang masih sulit diterapkan. Kegiatan yang terkait merokok masih ditemukan di sana-sini. Di tempat-tempat tersebut masih sering dijumpai petugas maupun pengunjung yang merokok.
Pengunjung yang melanggar peringatan KTR beralasan karena ketidaktahuan karena tanda-tanda peringatan KTR hanya dipasang di wilayah tertentu. Sementara bagi para 'penghuni' dan 'orang dalam' institusi tersebut yang melanggar peringatan KTR itu biasanya karena adanya kesengajaan. Khusus untuk para perokok berat aturan KTR menjadi sebuah siksaan tersendiri dan biasanya karena sudah tidak bisa menahan untuk tidak mengisap rokok sebagai sebuah alasan dan pembenaran saat melanggar peringatan KTR.
Tentu saja para pengunjung dan penghuni yang sudah tahu aturan KTR akan sembunyi-sembunyi dalam mengisap rokoknya. Tempat favorit yang tersembunyi biasanya seperti dekat pojok belakang dan tempat-tempat yang nyaman untuk kumpul bersama seperti kantin/ garasi /parkir/ tempat olahraga di institusi tersebut.
Puntung rokok juga kerapkali ditaruh dalam sela-sela bunga dalam pot atau dibuang sembarangan. Dalam hal 'kesengajaan' biasanya puntung rokok cenderung akan "disembunyikan". Walaupun tidak ada asbak yang 'resmi' dipajang tetapi ternyata apapun bisa menjadi asbak seperti kaleng bekas minuman, botol air kemasan kosong dan bahkan gelas/cangkir tempat air minum sehari-hari.
Luru Utis Sebagai Sistem Monitoring Efektivitas KTR
Banyaknya pihak yang merasa terancam dengan penerapan KTR memunculkan banyaknya pelanggaran penerapan KTR. Bila tanpa sistem monitoring yang baik maka efektivitas KTR seringkali dipertanyakan. KTR dianggap masih sebatas papan nama yang dipasang di wilayah tertentu tanpa tahu apakah cukup efektivitas atau tidak. Sehingga disinilah diperlukan sebuah monitoring untuk melihat efektivitas KTR dari waktu ke waktu.
Menurut hemat penulis kegiatan luru utis - sebuah istilah dari bahasa Jawa yang berarti mencari puntung rokok- dimana pada beberapa waktu lalu punting rokok mempunyai nilai ekonomi tersendiri- dapat menjadi sebuah aktivitas yang dapat dipakai untuk memantau efektivitas penerapan KTR di lingkungan tertentu. Dalam praktiknya, luru utis tidak hanya mencari dan menghitung puntung rokok saja. Tetapi juga bisa diperluas pada perangkat pendukung kegiatan merokok seperti asbak, korek api/pemantik api, serta bungkus rokok. Dalam beberapa kasus kegiatan luru utis juga dapat menemukan perokok yang sedang menghisap rokok di kawasan KTR. Maka tidak berlebihan bila luru utis selain alat untuk monitoring KTR juga punya manfaat untuk melihat salah satu indikator kepatuhan petugas dan pengunjung serta untuk lebih meningkatkan promosi untuk keberadaan KTR itu sendiri.
Pelaksanaan luru utis secara teknis dapat dilakukan setiap hari Jumat saat laskar KTR (relawan luru utis) sekitar 1 jam akan mengumpulkan semua puntung rokok yang ditemukan di dalam areal pagar institusi KTR. Bukan hanya puntung rokok yang dicari tetapi juga sekaligus mencari bungkus rokok, korek api maupun asbak Pengumpulan bisa dimulai sekitar jam 07.30-08.30 Wib. Program ini bisa berjalan tanpa biaya. Program ini juga bisa dilakukan sambil kegiatan Jumat bersih ataupun kegiatan olahraga di hari Jumat.
Dalam setiap minggunya hasil pencarian dan pengumpulan puntung rokok akan dihitung jumlahnya. Data yang masuk dianalisa untuk melihat perkembangannya. Disadari juga masih banyak puntung rokok yang 'lolos' yang tidak ikut terhitung karena sudah masuk ke tempat sampah dan dibuang oleh petugas kebersihan.
Dari evaluasi tim luru utis maka seringkali didapatkan hasil yang cenderung menurun pada awal kegiatan, tetapi di beberapa waktu berikutnya masih terdapat kenaikan jumlah puntung rokok yang ditemukan (fluktuatif). Begitu pula jumlah petugas dan relawan luru utis yang terlibat bisa jadi masih belum terlalu banyak dan fluktuatif. Seringkali bahkan berkurang karena tergantung kesibukan masing-masing personel.
Supaya hasil monitoring terdokumentasi maka disarankan untuk menayangkan dalam sebuah pengumuman secara berkala. Bila hasil belum menunjukkan trend penurunan maka relawan luru utis tidak perlu berkecil hati karena dapat diartikan sebagai 'cambuk' untuk lebih mensosialisasikan KTR sebagai sebuah kebijakan yang harus diperjuangkan. Implikasi dari praktik luru utis adalah makin menguatnya isu KTR di institusi tersebut. Dalam jangka panjang yang diharapkan adalah munculnya kesadaran komunal bahwa merokok adalah sebuah kegiatan yang akan menghamburkan sumber daya yang sudah sangat terbatas : uang, waktu dan kesehatan.
Maka, selamat melakukan luru utis...
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi*

Saturday, September 9, 2017

Self Driving



Klakson panjang  berkali-kali terdengar bersahut-sahutan. Teeeeeeeeeeeet………….teeettttttttttt.Di  tengah padatnya arus  lalu lintas sore itu aku jadi salting dan merasa bersalah luar biasa.  Ah…aku terlambat menyadari kesalahan jalur yang aku ambil. Seharusnya- menurut mereka sih- aku mengambil jalur paling kanan karena  mau belok kanan. Saat aku ambil keputusan, ternyata mikirnya agak beda sedikit.  Selain itu rute yang baru aku pelajari dan belum pernah melewatinya, ternyata juga karena jalan itu ada 4   jalur di sisi kiri dengan ditengah pembatas serta 4 jalur di sisi kanan. Demikian juga jalur di depanku  alias di depan lampu merah. 4jalur kanan dan kiri masing2.  Jalan itu seperti perempatan. Dari  sisi 4 mata angin ada jalannya. Tapi masing2 arah  berbeda-beda jumlah jalurnya.  Dan katakan dari arah barat  dan timur misalnya  masing2 ada  4 jalur di kiri dan 4 jalur di kanan. Memang lampu lalu lintasnya  juga bersusun-susun. 
Aku yang ada di sisi katakan barat mau ke selatan…. Saat itu aku ambil yang nomor 3 dari isi kiri. Kalo yang paling kiri,  aku pikir untuk yang mau ambil ke kiri  alias ke utara. Nah yang ke dua dari kiri aku pikir untuk yang mau lurus. Nah untuk jalur ke- 3 dari kiri aku pikir untuk yang mau ke kanan.  Serta yang ke-4 juga untuk yang ke kanan.  Mbingungi yo… aku juga bingung ki…
Karena ketidakhafalan tentang jalan ini maka aku seperti tadi jadinya membuat kekisruhan di jalan…he..he. Walaupun belakangan saya juga melihat mobil  angkutan bahan bangunan yang  lokalan dari situ aja juga ambil jalur yang aku ambil.
Sebenarnya yang mau aku omongin di sini adalah bahwa menjadi  sopir –dalam arti yang sebenarnya – memang butuh latihan (itu pasti…jangan coba-coba nyetir di jalan raya kalo masih belum bisa /lancar bawa kendaraan baik motor ataupun mobil).  Pengalamanku sendiri saat belum lancer naik motor- saat inipun tidak bisa-  masuk  sawah – dipinggir jalan raya- gara-gara mau ngerem ternyata malah ngegas.  Selain itu ternyata butuh pengalaman juga ( walaupun  tidak harus banyak banget), karena ini ternyata  untuk mengasah kecepatan dalam menentukan pilihan jalan. Eh kelihatannya ringan tapi aku merasakan dalam beberapa menit membuat banyak orang jengkel…ternyata berat juga dirasa.
Saat dalam macet itu…….aku langsung weeeng! Teringat dengan materi yang aku sampaikan pada beberapa waktu sebelumnya.  Driver vs passanger. ini sih ngambil dari  bukunya Rhenald Kasali (Self Driving).  Ya  walaupun beda bahasan   yang disini nyetirin  kendaraan beneran dan yang satu itu  tentang ‘mental model’ seseorang apakah sebagai sopir  atau penumpang. Tapi ini menurutku memang cukup nyambung…kalo disambung-sambungin.   
Seorang dengan mental sopir berbeda dengan yang bermental penumpang.  Penumpang akan masuk ke mobil hanya tinggal sebut tempat tujuan sama sopir pun  maka tanpa berpikir ruwet dan macetnya jalan maka penumpang akan sampai setelah beberapa saat. Aku sendiri , kalo naik taksi, ojek atau Go-J*k, maka setelah buka pintu dan  sebut tempat tujuan, setelah itu biasanya asyik sendiri dengan HP atau bahkan tidur pun maka tahu2 sudah sampai tujuan. Tentu saja ada harga yang harus dibayar juga sih. Tapi setidaknya seorang penumpang tidak perlu repot belajar nyetir, urus SIM,  ngapalin jalan dan menanggung risiko bila ada sesuatu yang terjadi di jalan.
Bahwa untukmenjadi seorang Driver dibutuhkan “modal” yang lebih banyak. Kemauan,  Keberanian dan kemampuan. Tentu saja untuk mencapai kemampuan atau kompetensi yang diinginkan tentu juga butuh modal keuangan.  Bandingkan dengan seorang “penumpang” yang tidak perlu repot-repot  kursus katakan, nyari lisensi, mengasah kemampuan, wawasan  dan pengalaman.
Pendek kata untuk menjadi seorang bermental  penumpang  memang enak. Tidak menanggung risiko apa-apa. Namun jeleknya ya tidak akan berkembang  kemampuan dirinya.  Sebaliknya orang dengan mental driver memang repot dan kadang melelahkan namun di balik itu ada sesuatu pencapaian yang luar biasa yang  tidak pernah dimiliki oleh seorang penumpang. 
Aku jadi teringat saat aku sharing informasi masalah ini  dan materi terkait seperti leadership di dalam kelas maka yang aku tidak akan pernah lupa salah satunya ada sekitar 8-an  mahasiswa  dalam 2 kelas yang berbeda  banyak yang menangis dan tidak kuasa melanjutkan cerita saat  disuruh mencari tokoh pahlawan atau idolanya. Rata-rata yang menangis saat mereka menceritakan bahwa idolanya dia adalah ayah atau ibunya atau walinya.  Surprise bagiku. Yang tadinya hanya bicara kepemimpinan, memimpin diri sendiri, driver vs passanger  dan sekitarannya, malah jadi membawa ke pengalaman yang luar biasa. Sesuatu yang aku tdk pernah sangka.
Membicarakan tentang self driving memang sesuatu yang sungguh berat. Bagaimana  ‘menyetir’ dan  mengarahkan diri sendiri memang menjadi pekerjaan yang paling berat. Karena  memang perang terberat katanya adalah perang dengan hawa nafsu sendiri. Kalo perang yang kelihatan mata maka jelas musuhnya, siapa common enemy nya,  sehingga strategi yang dipasang pun  menjadi bisa dipelajari dengan baik.   Tapi dengan diri sendiri rasanya susah.  Rasanya kita akan sulit sekali mengenali kelemahan sendiri bila tanpa bantuan orang lain. Ya  ego kita masih menutupi apa2 yang sudah tampak kurang pas/kurang elok bahkan yang salah dengan pembenaran-pembenaran tersendiri.   
Sebenarnya memang sudah jelas tampak mana yang lurus dan yang bengkok. Mana yang ke kanan dan yang kiri, mana hitam dan putih.  Namun dengan berbagai alasan/ dalih dan kadang-kadang  sedikit diilmiah-ilmiahkan  maka untuk membedakan yang begitu seringkali sangatlah sulit.
Men ‘drive’ diri sendiri memanglah sangat sulit.   Pertarungan nurani dan hawa nafsu selalu saja terjadi.  Dan kelihatannya  inilah sesungguhnya tantangan kita sampai kapanpun, bahkan  keyakinanku adalah sampai akhir hayat.  Men drive diri sendiri ternyata urusannya sangalah panjang.  Banyak fungsi-fungsi manajemen yang  harus menjadi kemampuan dasarnya.  Prinsip-prinsip P_D-C_A adalah menjadi sebuah keniscayaan.  Tapi sekali lagi bahwa karena perangkat evalusinya  -jika dipegang sendiri saja_ akan terasa sangat sulit karena seringkali  tidak lagi obyektif. Itulah kenapa tetap butuh  cermin dari luar. masukan, kritik dan saran dari luar.  Namun  memang  cermin yang kita pakai pun harus yang mendekati kenyataan. Mungkin semacam cermin datar- lah kalo dalam fisika.  Memang sih cermin cekung dan cembung juga banyak gunanya, tapi tentu saja dalam kondisi tertentu. Artinya  tetap harus cek ricek.  Jangan sampai ternyata yang sudah betul-betul kita percaya memberi masukan yang lebay  atau tidak akurat. Memang dari sini ada tuntutan supaya kita berilmu yang banyak supaya kita bisa menyaring info, atau apapun dari pihak lain walaupun dari  produk  teknologi canggih  sekalipun.
Sudah aku buktikan. Karena belum hafal jalan maka aku perlu panduan GPS dari android  dalam menyetir. Tetapi kadangkala  GPS itupun tidak valid 100%. Saat  sudah dekat rumah yang aku tuju, dimana aku sudah hafal mati jalan itu ternyata GPS nya bilang: lokasi anda terletak disisi kanan jalan. Padahal jelas-jelas di sebelah kiri…. he…he.  Tentu saja kalo aku ikuti ke kanan ya kena rumah orang atau malah jalan buntu.
Jadi bagiku self driving adalah juga bagaimana menyikapi sebuah berita.  Genderang perang informasi –ideologi sudah ditabuh.  sebuah  berita dan data tentang sesuatu ditanggapi dari banyak sisi dan pandangan.  Saat sebuah kebaikan berbagi  ditanggapi dengan iri; saat sebuah kejahatan kemanusiaan hebat   ditanggapi sebagai kejadian biasa saja; Saat sebuah semut dianggap sebesar gajah dan sebaliknya, maka saat itulah kita  harus kembali ke sudut sepi yang jarang kita kunjungi….




Sunday, July 16, 2017

Para Perokok Itu


Hari ini -bisa jadi -menjadi hari terakhir puasa ramadhan, sebelum besok hari kemenangan tiba. Di sela-sela persiapan mudik ke Jawa bertemu anak dan kerabat maka aku pergi ke pasar siang ini. Niatku hanya pengin cari ikan asin tipis – oleh-oleh khas Tarakan. Tapi ternyata ikan asin tipis sedang kosong. Mungkin sudah sold out sebelum aku datang. Maklumlah dalam kondisi seperti ini pasti banyak yang nyari sebagai buah tangan bagi para perantau atau pengunjung kota.
Karena yang dicari tidak ada maka aku berniat nyari kebutuhan lain aja. Rugi aja sudah kadung keluar tapi nggak dapat apa-apa. Oh bawang putih habis di rumah. Jadilah aku cari-cari bawang putih di sekitar situ.
Pedagang yang pertama, bawang putihnya yang dijual di depannya cukup bagus.besar, dan kelihatan putih bersih. Tapi ah, aku hanya melirik saja. Habis Bapaknya di tangan kirinya terselip rokok yang sedang menyala...aduuh males aja jadinya.
Di pedagang sebelahnya juga ada bawang putih yang cukup bagus dengan pedagang perempuan tapi ternyata pengunjungnya yang sedang berbincang serius dengannya sama dengan Bapak pedagang pertama, terselip rokok di jarinya. Aku mengurungkan niat mampir di situ.
Aku jalan lagi, ada pedagang perempuan yang sedang ngobrol dengan temannya. Ada bawang putih yang tidak terlalu bagus, tidak terlalu putih. Aku memilih-milih bawang dan akhirnya beli di situ. Terakhir, saat aku bayar diaa mengisap rokok dengan santainya. Aduuh...!!
Biasanya aku hampir selalu ‘nyinyir ‘ dengan para perokok itu. Ajak ngobrol sampai diskusi tentang bhaya rokok lah. Atau selalu berpesan ‘jangan untuk beli rokok ya’ kalau kebetulan kasih sedikit kelebihan pembayaran atau apa lah. Niatnya ya kampanye anti rokok sih.
Untuk 2 laki-laki yang pertama aku mafhum, husnudhan saja, mungkin memang non muslim, jadi wajar aja kalo tidak berpuasa seperti ini, namun tetap aja rokok di tempat umum itu lho yang bikin gemes. Memang pasar hanyalah termasuk kawasan terbatas rokok saja sih. Nah yang terakhir, aku sempat terhenyak karena nggak nyangka aja dia akan sedemonstratif itu dalam mengisap benda 12 cm itu. Aku merasa ada sesuatu yang nyesak di dada. Saat itu aku sempat melihat doa-doa yang ditempelkan di pada kotak uangnya yang bisa jadi dia seorang muslim. Sebenarnya aku juga maklum kalo perempuan tidak berpuasa, bisa jadi sedang kedatangan tamu bulanan atau sedang sakit atau safar. Cuma aku sedih aja bahwa betapa perempuan yang kelihatannya masih cukup muda itu sudah tidak punya rasa malu lagi untuk menunjukkan kecanduannya pada rokok pada bulan puasa ini.
Betapa memang data yang menunjukkan adanya kenaikan yang cukup signifikan pada permpuan yang merokok dibanding pada laki-laki menunjukkan wujudnya di depanku. Yah, wanita sebagai perokok aktif tentu saja membuat berbagai ancaman keadaan dan penyakit akan semakin mengintainya. Bila saat wanita jadi the second-hand smoker atau third - hand smoker menjadi keprihatinan tersendiri di saat suami merokok di dalam rumah/ruangan ; eh ini ada seorang wanita muda dengan kesadarannya sendiri dan secara sukarela menjadi perokok aktif yang biasanya dilakukan oleh para pria pencinta tembakau.
Melihat ini aku hanya terdiam. Ada keinginann untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan ibu ini, tapi entahlah di satu sisi kok hatiku melarang. Padahal beberapa waktu sebelumnya baru saja aku kopi tulisanku tentang ajakan Ramadhan tanpa rokok dan membagikannya pada beberapa kenalan dan beberapa pedagang langgaanan dan orang di pasar itu. Yang kemarin aku kasih rata-rata bilang “tidak merokok bu” atau menyambut baik ajakan itu. Tapi hari ini rasanya aku tidak mampu berpikir panjang untuk mengajak mereka berhenti sejenak dari kebiasaan lamanya itu. Entah lain waktu, aku akan coba bawakan kopian tentang hal-hal terkait bahaya rokok. Sesuatu yang menurutku hampir pasti akan tidak mudah, karena kelihatan pada kasus yang terakhir bahwa ada kebanggaan yang membuncah akan sebuah perilaku anomali pada seorang wanita perokok di penghujung bulan suci ini.
Kelihatannya memang mereka perlu diajak hitung-hitungan ekonomi saja. Berapa biaya rokoknya yang dikeluarkan dalam sehari, seminggu, sebulan setahun dan seterusnya.
Namun yang seringkali terjadi bagi seorang perokok adalah : biasanya justru tidak pernah hitung-hitungan saat akan beli rokok namun akan sangat berhitung dengan ketat saat memakai uangnya untuk beramal katakan begitu atau untuk beli telur atau susu anaknya. Apalagi untuk biaya pendidikan atau bayar premi asuransi kesehatan. Untuk yang terakhir mungkin nggak terpikir. Ngapain bayar asuransi kesehatan jika perokok sakit juga tetap ditanggung dengan total oleh instnsi penjamin. Wacana bahwa perokok tidak bisa dapat PBI (penerima bantuan iuran) bisa jadi sangat efektif untuk mengurangi kebiasaan yang nggak ada untungnya ini.
Bagi perokok dari golongan pedagang bagusnya langsung diajak hitung-hitungan nyata dari kerugian ekonomi akibat rokok itu. Dan bagus pula bila langsung dikonversikan menjadi barang, motor, mobil atau bahkan rumah. Atau biaya rokok yang dikeluarkan versus keuntungan yang didapat dari bisnisnya itu. Mungkin dengan cara yang ‘mirip’ menghitung untung rugi –seperti pada kebiasaan profesinya akan lebih mudah untuk diterima.
Kebetulan juga siang tadi sebelum ke pasar aku mendengarkan ceramah dai kondang dari Bandung- Aa gym yang berkaitan dengan rokok itu. Aa Gym mencontohkan dan memberi ilutrasi seorang perokok yang ikut Jumatan dan mengantongi 2 nilai uang di saku kanan dan kirinya. Sepuluh ribu rupiah disaku kirinya dan seribu rupiah di saku lainnya. Aa Gym dengan gaya khasnya bilang bahwa perokok itu salah memasukkan uang ke kotak amal bisa menjadi inspirasi tersendiri. Bahwa para perokok menganggarkan rokoknya sekitar Rp 10.000 (sepuluhribu) sementara untuk kotak amalnya hanya Rp 1.000 (seribu). Setelah dihitung-hitung maka pengeluaran untuk rokok jauh lebih besar atau sekitar sepuluh kali lipat dari amal –yang sejatinya akan jadi ‘teman abadi’ pada saatnya kelak. Bila setiap Jumat hanya 1.000 saja maka dalam setahun (48 kali jumat) akan memasukkan ke kotak amal hanya sekitar 48.000/tahun sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan pengeluaran untuk rokok yang bisa mencapai 3.600.000 per tahunnya.
Bila membandingkan dengan pahala amal, biaya umroh atau haji menurutku hanya kepada perokok ‘telanjur” yang memang masih bisa memaknai sesuatu khususnya pahala sebagai sesuatu yang menjadi berharga suatu saat nanti. Pahala bahkan surga dan neraka adalah tidak kelihatan barangnya (intagible) maka hanya berlaku bagi orang-orang yang meyakini adanya. Bagi yang merasa bahwa akhirat adalah sebuah ilusi maka jangan sekali-kali pakai metode ini. Belum sampai kontennya mereka sudah akan alergi duluan.
Bagi perokok miskin (mohon maaf untuk menyebut yang kekurangan) maka ancaman seorang ulama di Malaysia bisa menjadi terapinya. Bahwa si miskin yang masih nyandu rokok sebaiknya tidak usah dimasukkan dalam golongan penerima zakat. Aku sih sangat setuju. Banyak kasus untuk kebutuhan primer sangat kedodoran tapi untuk rokok yang bukan sebagai kebutuhan-tapi hanya keinginan- mereka bela-belain dengan mengalahkan yang primer-primer. Memang ini masih di negara jiran, bisa jadi suatu ketika dapat dikaji lebih lanjut dan dapat diterapkan di sini juga.
Rokok adalah permasalahan di satu sisi, Perokok dan perilakunya sebagai permasalahan di kutub yang berbeda tetapi antara keduanya sangat erat berkaitan.
Kita sedang berlari dan berkejaran dengan industri rokok (tobbaco industry=TI) yang memang punya segalannya (dana tanpa batas untuk biaya iklan (advertising), promosi serta sponsorship. Kita ( pihak yang pro tobacco control = TC ) hanya punya semangat, karena regulasi pun belum berpihak pada kita. Tujuan masih sangat jauh, tapi pilihannya tetap harus melangkah,walaupun sangat disadari entah kapan sampainya...
Buatku sih, Bismillah saja dan meniatkannya untuk sesuatu yang intagible tadi.........(by. Tri Astuti Sugiyatmi di penghujung Ramadhan 1438H)
Tunjukkan lebih banyak 

Sukses Para Ibu Sepuh

 
Seorang ibu sepuh membukakan pintu menyambutku di depan pintu. Mempersilahkanku masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu yang sangat nyaman. Menemuiku dengan menanyakan siapa dan darimana aku. Aku berkata apa adanya dan menyampaikan apa maksudku datang kali yang kesekian. Tak kusangka beliau masih ingat walaupun samar-samar denganku. Masya allah. Setelah beliau masuk memanggil putrinya, dan aku menunggu maka tak berapa lama beliau keluar kembali untuk ‘menemaniku’. 
Setelah putrinya datang menemuiku maka beliau pun masuk kembali ke dalam dan tak berapa lama beliau membawakan minuman hangat serta kue-kue. Aku jadi malu, aku yang bukan siapa-siapa dihargai sedemikian rupa oleh ibu seorang yang sangat aku hormati dan kagumi. Terakhir karena sangat berkesan aku dengan malu-malu meminta gambar dengan beliau. Dan akhirnya kami selfi bertiga. (he..he jadi ingat suka selfi dari dulu...narsis banget ya). Niatku memang mengabadikan kenangan karena kebetulan saya dan beliau (teman sekaligus guru ku tadi) juga memang beberapakali bersama2 sekaligus bekerjasama. Beliaunya juga sangat suka fotografi jadi cucok lah....
Pada beberapa tahun sebelumnya, saat kami perjalanan dari luar kota berdua maka aku diajak mampirdan nginap ke rumah ibu mertua beliau di bilangan Jakarta. Lagi-lagi aku mendapatkan “penyambutan yang sangat istimewa”. Bahkan pulangnya pun aku diberikan kenang-kenangan tas hand made – dengan bantuan mesin jahit sih alias bukan pabrikan-beliau yang selama ini sudah masyhur di kalangan teman-teman beliau sebagai oleh-oleh yang hanya diberikan kepada teman-teman baik beliau saja. Wow, tentu saja sangat bangga terpilih sebagai salah satu yang mendapatkannya. Mertua beliau demikian juga sudah sangat sepuh namun dengan semangat yang sangat luar biasa menemani teman-teman bahkan murid putra putrinya dan menghormati layaknya tamu yag lain yang setara dengan kehebatan putra-putrinya. Masya allah ! Dan tas itupun berkali-kali menemaniku sampai kemana-mana. Bisa jadi tidak akan menggantikan tas bermerk sekalipun. Apalagi tas channel, Gucci atau LV yang memang tidak aku miliki satupun...........wk...wk. . Penampakan tas tersebut sederhana tapi bagi saya sangat mewah. Maksud saya barang pemberian yang diberikan tulus, dengan kehormatan bahkan dengan susah payah dijahit oleh seorang sepuh yang tidak pernah menjual tasnya produksinya adalah merupakan rejeki tersendiri.
Banyak lagi kesempatan saya bertemu dengan para orangtua terutama ibu dari orang-orang yang saya pandang sukses ilmunya, ternyata memang memberikan saya pembelajaran yang luar biasa. Ibu seorang associate professor di sebuah universitas di Malaysia yang lulusan dari Jogja juga ibu yang sangat hebat. Aku bersinggungan beberapa kali dengan beliau dan ternyata memang sangat luar biasa bahkan bisa dikatakan sangat “profesional” sebagai seorang ibu. Sesuatu yang aku masih sangat kedodoran dan masih kucari-cari sampai sekarang. Aku bisa berkata demikian karena memang beliau sempat beberapa kali menceritakan flashback saat beliau masih di kota minyak di Kaltim sebagai sebagai seorang petinggi sebuah BUMN minyak itu, saat putra-putrinya masih kecil sampai sekarang. Berapa kali aku pun diajak ataupun berkunjung ke rumah beliau dan seolah ikut merasakan aroma seorang ibu yang ‘ sangat profesional’ bagiku.
Dalam sebuah kesempatan yang lain saat aku bertamu ke rumah guruku yang lain maka saat itu juga seorang ibu sepuh yang masih memakai mukena saat jam 9 pagian itu ikut menemuiku. Saat aku memperkenalkan diri maka ibu sepuh itu sangat aktif dan antusias mendengarkan. Di usianya yang –menurut bahasa beliau sendiri- lebih dari 12 tahun lebih dari usia rasul alias 75 tahun, maka beliau juga sangat istimewa dan mandiri. Beliau menceritakan bagaimana putranya yang seorang pejabat tinggi di kementrian itu sangat menyayanginya. Lagi-lagi aku dihadapkan dengan seorang ibu yang yang sangat profesional dimataku.
Saat putranya –alias guruku muncul Beliau baru pamit ke belakang. Yang membuatku agak terperanjat bahwa di usia sepuhnya beliau, maka masih aktif bermedia sosialan. Face book tepatnya, “tapi isinya hanya doa-doa untuk anak dan cucu” begitu saat beliau menyampaikan bahwa akunnya adalah X. masya allah ! 
Eyang sepuh tadi bahkan sempat bercerita pernah karena tidak mau merepotkan sopir dan ajudan sang putra, maka pernah keliling Jakarta dengan naik busway dengan harga yang sangat murah. Mungkin sekitar 2500-3.000 perak saja (atau sekarang sudah naik ya?). Busway alias transjakarta bo! Aku jadi malu hati. Kadang-kadang kita yang muda-muda aja males banget lihat antriannya yang sangat panjang pada jam kerja. ...penginnya naik mobil sendiri atau paling taksi lah yang menurut kita lebih nyaman aja. Sementara yang sepuh masih sangat lincah, sangat ceria dan mandiri tapi yang muda-muda terkesan lelet, manja dan tidak mau repot. Kembali ke cerita, tentu saja semuanya kebingungan saat Eyang sepuh tidak ada dan tentu saja Pak Satpam juga “dimarahi” kenapa Nenek dibiarkan berjalan-jalan sendiri di belantara ibukota.... Aku menanggapinya sih sangat luar biasa cerita itu. Wujud sayang dari seorang ibu ke putranya dan kemandirian (tidak mau merepotkan putranya) dan wujud hormat dan sayang putra kepada ibunya. Masya allah!
Kesimpulanku diantara banyak ibu-ibu hebat itu aku merasakan dan membayangkan ada aroma dan aura lain dibanding para ibu kebanyakan di saat mudanya. Jika ibu-ibu muda rata-rata hanya fokus pada hal-hal yang sifatnya kasat mata saja, maka saya meyakininya bahwa para ibu sepuh ini sangatlah seimbang antara yang kasat mata dan yang sebaliknya. Jika mahmud sekarang hanya banyak fokus pada jasmani, maka aku yakin dulu beliau-beliau seimbang mendudukan kebutuhan perut dan tubuh dengan akal dan hati keluarganya. 
Dari sekian banyak interaksiku dengan ibu2 sepuh ini memang ada banyak “rumus” dan “formula” yang perlu dianalisa dan didalami lagi untuk mencari apa sebenarnya rahasia mereka semua. Bisa jadi mau repot, mau ribet dan mau lelah - sesuatu yang sering dihindari ibu jaman sekarang termasuk aku- adalah salah satu kunci rumus keberhasilan mereka mendidik anak. 
Banyak hal yang aku pikir istimewa ini membuatku tanpa malu-malu selalu meminta doa juga dari orang-orang baik ini. Tentu saja masih banyak sekali orang baik di sekitar kita yang sudah berhasil melahirkan para generasi lanjutan yang sangat luar biasa. Namun kisah-kisah diatas karena aku menemukannya di” rantau” maka menjadikan sangat berkesan. 
Oh ya dari tadi aku sebut-sebut profesionalitas seorang ibu di atas. Menurutku Profesional bagi seorang ibu bisa jadi adalah “rasa ikhlas” yang sangaaat. Bagaimana seorang ibu rela dan ikhlas mengandung’ melahirkan serta mendidiknya bahkan melayani putra-putrinya bahkan sampai saat anak itupun menjadi dewasa dan sukses. Di dalam rasa ikhlas tadi karena mendasarkan hanya kepada ridha allah swt maka tentu saja sudah muncul banyak dimensi kebaikan-kebaikan lainnya di dalamnya. Kegigihan, kesabaran, ketekunan, kesederhanaannya, keuletannya, kemandiriannya semua hanya karena Tuhan pencipta si Anak tadi. Bahkan lelahnya,’ bawelnya, galaknya, nyinyirnya, ngomelnya pun hanya karena Allah. 
Tiada standar yang lain selain hanya karena untuk kebaikan dan kebenaran semata. Waduuh inilah yang kayaknya sangat berat. Baru tahap memantaskan diri dan butuh proses yang tiada henti sampai kapan pun.

STQ Menjadi Sebuah Oase


Pagi  tadi setelah subuh aku bersepeda mengelilingi tempat sekitar yang biasa aku jelajahi sendiri. Jalan-jalan di sekitar  Islamic centre menjadi pilihanku. Ada 2  gedung di sana yang kabarnya direncanakan sebagai museum Perang Dunia ke -2. Juga museum minyak atau pertambangan.  Ada juga gedung perpustakaan dan gedung pemuda di sampingnya.  Di seberang jalan ada gedung  yang cukup bagus juga. Gedung Pengadilan Agama.
Jika semalam saat pembukaan STQ (Seleksi Tilawatil Quran)  XXIV  di Islamic Center di Kota Tarakan,    maka jalan-jalan ini dipenuhi mobil dan pengunjung  yang sangat banyak. Ribuan massa ikut menghadiri dan memeriahkan acara  itu. Aku pun hanya bisa masuk di pelataran masjid yang masih cukup jauh dari  panggung.  Maka pagi ni aku bebas keluar masuk arena yang memang masih kosong....he...he.  Hanya ketemu dan berbincang dengan Bapak pemulung yang aku kenal  serta dengan beberapa petugas keamanan.
Sambil mengingat syair lagu...yang dulu aku cukup hafal, Tapi sekarang aku ingat-ingat lupa, aku mengelilingi arena ini
Gema musabaqah tilawatil Quran....
Pancaran ilahi.....
Cinta pada Allah, nabi dan negara..........
Wajib bagi kita....
Limpah ruah  bumi Indonesia...........
Adil makmur sentosa .......
Baldatun Tayyibatun warrabun ghafur...........
Pasti terlaksana...

Musabaqah tilawatil Quran agung ......
Wahyu Kalam Tuhan ......
Pancasila sakti dasar Indonesia.......
Pujaan bangsaku.......
Gemah Ripah tanah air kita......
Aman damai sentosa.........
Baldatun tayyibatun  warrabun ghafur......
Cita-cita kita....

Betapa lagu ini sangat menentramkan, walaupun tadi malam aku tidak mendengarnya di setel di arena.  Mungkin karena aku datang lambat dan pulang cepat  maka wajar saja  tidak mendengar. Atau jangan-jangan sudah ganti lagunya. Karena  ini pelaksanaan yang ke sekian kalinya pastinya pastinya juga sudah banyak perkembangan.

Kembali ke lagu bahwa ternyata ada”sesuatu’ di sana.  Nilai –nilai dan cita cita bangsa ini.  aku tidak terlalu paham bahasa arab. Tapi dariyang aku baca maka arti dari Baldatun  Tayyibatun wa rrabun Ghafur adalah sebuah negeri yang  subur, makmur,  adil dan aman. Disebutkan juga bahwa semua kan proporsional.  Yang punya hak akan mendapatkannya dan yang berkewajiban akan melaksanakannya. Yang berbuat baik akan mendpat anugrah sebesar kebaikannya. Tidak ada kezaliman....

Itu semua adalah sebuah cita-cita luhur.
Namun sampai sekarang samai dimanakah perjalanan  bangsa ini ? Apakah makin mendekat dengan cita-cita itu atau kah justru makin menjauh ?

Jika sekarang  rakyat hidupnya makin sulit, ekonomi menurun, Tarif Dasar Listrik naik mencekik,  harga-harga  kebutuhan makin meninggi maka kita diharapkan untuk semakin hemat dan kreatif. Hemat dalam memakai air, listrik dan semua suber daya yang ada....
Kreatif menciptakan peluang-peluang sendiri yang dapat  mendatangkan  rupiah yang  ternyata disadari makin lama makin melemah......

Aku melihat sendiri betapa  teman-teman dekatku, tetanggaku dan keluargaku sendiri bahwa mereka sudah sangat  irit, mengetatkan ikat pinggang. Tapi ternyata bahwa memang tetap ada kebutuhan minimal bagi orang yang masih diberi hidup. Bukan hanya primer saja sebatas papan, pangan dan sandang  tapi juga kebutuhan pendidikan,  kesehatan  bahkan listrik  yang juga bisa menjadi kebutuhan penting lainnya setelah kebutuhan primer terpenuhi.  Jika di sekitarku -alhamdulillah kebutuhan-kebutuhan tadi  masih relatif tercukupi maka ternyata   melebar ke tempat lain dan di banyak berita masih banyak orang fakir  miskin  dan anak-anak  terlantar yang masih butuh peran negara  dan pemerintah untuk memperbaikinya.  Tantangan terbesar bagi  siapapun yang  memimpin  kota, wilayah dan negara sekalipun.

Bisa jadi memang  pembangunan infrastruktur  ( pembangunan jalan, gedungdll) memang menjadi salah satu  hal untuk menjawab tantangan itu. Tetapi keseimbangan dalam membangun sesuatu antara yang terlihat (tangible) seperti infrastruktur dan yang tidak terlihat  intagible (integritas, moral, agama, derajat  kesehatan  dan pendidikan dll)  menurutku sih menjadi  sesuatu yang niscaya.

Lagu  mars MTQ tadi  sudah  menyuratkan dan sekaligus menyiratkannya.  Tilawatil Quran  atau membaca Quran  menjadi kegiatan baik  yang harus dilestarikan  (seperti pean Menag)  bahkan lebih jauh dari pada itu. Maka  negara gemah ripah loh jinawi atau masyarakat madani menjadi sesuatu yang  akan dapat – minimal- semakin mendekat lah. Harapannya sih begitu...

Namun di luar sana banyak sekali perkembangan yang  kelihatannya justru sebaliknya. Minimal bagi sebagian  pihak. Bahwa umat  Islam dibenturkan dengan sesamanya, ada  cap  dan stigma yang dibangun bahwa Islam adalah teroris, radikal dan anti kebinekaan, ada  hukum yang pilih kasih pada pihak tertentu.  Ada pernyataan yang kontraproduktif  bagi umat Islam aeperti  terhadap rohis (kerohanian Islam) sebagai  persemaian bibit-bibit radikalisme dan ada pernyataan bahwa para ulama adalah para peramal masa depan (akhirat) yang tidak pernah  di lihatnya dan dikunjunginya. Ada banyak sekali opini yang dibangun-entah oleh siapa- yang menyudutkan dan membuat luka bagi umat.  


Astaghfirullah....   




Mencermati  keadaan  dan perkembangan sosial keagamaan yang ada di level lebih luas, maka  STQ   dan atau MTQ ( aku pun tidak paham beda seleksi dan musabaqah)  semoga bukan yang terakhir  buat STQ-seperti isu yang berhembus. 
STQ  mempunyai nilai-nilai positif yang sangat banyak, khususnya dalam bidang   implementasi  dan membumikan alquran. Tentu saja  juga dalam peningkatan partisispasi umat dan memperkokoh persatuan  dan persaudaraan umat.  Apalagi peserta  datang dari 33 provinsi lainnya.  Bahkan  event  pelaksanaan STQ  aku yakini  mampu menggerakkan  perekonomian rakyat  yang punya efek domino di tengah lesunya ekonomi makro secara nasional. 

Menurutku, STQ atau MTQ sekarang   ibarat  sebuah  oase di tengah  padang pasir yang maha luas.   Semoga dengan pelaksanaannya keberkahan menaungi kita semua sebagai sebuah bangsa. 

Aku jadi ingat Sabtu kemarin  (15/7/2017)  hujan  gerimis turun terus mulai Subuh. Lanjut pagi –siang dan sore nya.  Beberapa saat menjelang Isya-saat STQ mau dibuka- maka hujan pun berhenti total.  Semoga ini pertanda baik. Bahwa setelah  kesulitan ada kemudahan. Bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.  Optimis saja. Bahwa setelah pintu  yangtertutup maka ada jalan. Bahwa  selalu ada jawaban pada setiap masalah. Bahwa ada hal-hal pembelajaran pada setiap hal.

Ya Rabb...penguasa segalanya di jagat raya ini.
Entah bagaimana nasib dan jalan yang akan ditempuh bangsa ini.
Kami hanya bisa mengharapkan  bangsa ini akan  menjadi semakin baik dan  semakin kokoh.

Wallahu a’lam

    

Sunday, October 9, 2016

KEPALA BERITA, PEMAKNAAN dan PENYIKAPAN TERBAIK


Tanya jawab antara saksi ahli dengan jaksa penuntut umum, penasihat hukum dan hakim dalam sebuah persidangan yang disiarkan secara langsung oleh sebuah stasiun televisi membuat keingintahuanku tentang berbagai istilah teknis maupn hukum menjadi makin besar. Apalagi dalam peristiwa sebuah persidangan yang sejak awal kasusnya memang menarik banyak orang termasuk saya. Ya tidak terasa dalam 1 hari  persidangan  kita bisa mengikuti baik yang serius maupun sambil mengerjakan sesuatu selama minimal 1-2 jam. Sementara apa yang ada di balik persidangan yang tidak kelihatan di layar kaca dalam kasus tersebut masih juga dicari-cari dari berbagai berita on line, Koran serta  media sosial lain. Belum lagi saat  tidak di depan  layar kaca/ ponsel pintar atau laptop/computer  pun seringkali  masih membicarakan masalah yang cukup menarik. Bahkan  walaupun sama2 melihat peristiwa yang sama, seringkali kita masih menceritakan hal tersebut dengan teman dengan persepsi yang bisa jadi berbeda tergantung sudut pandang kita terhadap peristiwa itu.  Jadi bisa dibayangkan berapa banyak waktu kita yang  dihabiskan untuk  mencermati peristiwa / berita itu.  Kekuatan peristiwa  ini adalah  rumitnya kasus yang menyebabkan banyaknya informasi baru dunia kedokteran,hukum, IT, psikologi, perilaku dsb. Apalagi beberapa ahli punya angle yang berbeda untuk 1 jenis  PERISTIWA  yang sama. Itulah juga yang menyebabkan hampir semua media menjadikannya kepala berita selama berhari-hari, berminggu minggu bahkan berbulan-bulan. Tentu saja semua dengan sudut pandang masing-masing . Khusus bagi citizen journalism maka setiap berita sudah ada opini atau tanggapan dari si  ‘wartawan’.
Itu baru 1 berita. Sementara dalam hari yang sama ternyata muncul berita yang lain yang tidak kalah menariknya. Pertarungan antara ayah dan Bapak  tentang  status yang  sebenarnya diantara keduanya, peristiwa operasi tangkap tangan korupsi,  berita cuaca buruk di banyak tempat, kecelakaaan transportasi, berita perpecahan partai-partai, berita pelambatan ekonomi Negara kita, persaingan para calon kepala daerah, berita tentang skandal para pejabat, kasus-kasus yang melibatkan penggandaan uang oleh DKTP, ‘blunder cagub  DKI dll. Rumah tangga para artis  secara silih berganti menghiasi media kita. Itu baru di level nasional. Belum lagi banyak berita di regional dan internasional yang juga menarik perhatian .  Isu-isu  local  juga kerapkali banyak yang menarik karena factor kedekatan dengan  kita sebagai penikmat berita. Bahkan bisa jadi kita sendiri menjadi sumber berita di kalangan sendii.
Akhirnya  waktu kita pun habis untuk “menanggapi” berita di luaran. Belum lagi dengan sosial media (FB, twitter, line, WA dll)  serta munculnya  berbagai group mulai teman sekolah /kuliah dulu, teman kerja, berbagai kelompok group di tempat kerja, komunitas  serta yang lain. Saya mau mengatakan bahwa betapa manusia modern itu seringkali  “ repot” dengan  berbagai berita dan mengharuskan dirinya sendiri  untuk selalu update apapun berita yang ada.
Kita menjadi terbiasa dengan munculnya jutaan informasi yang berseliweran di depan mata. Belum lagi berita dari manca Negara pun dapat terupdate dalam real time dalam berbagai siaran live.
Saat berita  sudah tersedia di depan mata dan hanya tergantung pada besar kecilnya kuota, maka kepala berita yang berganti-ganti setiap,  setiap jam  atau bahkan setiap menit dan detik  menjadikan kita makhluk “haus berita”.  Berita atau gossip yang tersedia bisa mengalahkan  apa saja.  Prioritas, quality time dengan orang-orang tercinta, me time bahkan urusan2 domestik lain.  Ya saat mencermati berita baik penting maupun nggak penting kadang menjadi lebih utama dari segalanya.  Astaghfirullah…….

Pemaknaan  
Menghindar dari sesuatu yang sedang update kayaknya memang tidak mungkin dalam era digital seperti ini.  Namun memilih-milih konten  berita / informasi menurutku harus lah…. Karena tidak semua berita penting dan dibutuhkan  oleh kita.   Kalo ada gradasi bahwa sesuatu itu harus tahu (must know); should know  (semestinya tahu) and nice to know (baik untuk tahu) maka untuk yang sebaliknya  bisa jadi  berguna saat era seperti sekarang ini.  Ini menjadi saringan awal saja apakah memang berita dan informasi itu harus kita ketahui, semestinya kita tahu atauakah hanya di level  baik saja kita tahu. 
Menurutku sih ada banyak informasi dan berita  yang  bisa jadi  lebih baik untuk tidak  usah kita ketahui. Ya  sesuatu yang sudah  negative sejak awal.  Tapi sebenarnya  terkadang kita  baru tahu bahwa sesuatu tidak berguna untuk kita justru setelah kita  mempelajarinya. Artinya butuh waktu juga untuk membaca dan mempelajarinya.
Sehingga  skrining  berita dan informasi dengan cara tadi bisa jadi masih lolos.  Masih banyak konten  yang tidak terlalu penting tapi masih kita buka lamannya  atau link nya  hanya sekedar pengin tahu.
Satu hal bila sudah begini maka pemaknaan sebuah informasi/ peristiwa/ berita menjadi  satu hal yang wajib  hukumnya.  Apapun yang  terlihat, terdengar serta terbaca harus punya makna dalam  pribadi kita.  Minimal  kita harus mendapatkan apakah ada sesuatu yang baru yang akan menginspirasi kita (something new); sebuah pembelajaran yang baik  dari sebuah kegiatan (lesson learn);  sebuah prinsip hidup yang layak diteladani;  sebuah ilmu  dan pengetahuna baru, sebuah ‘cermin’ bagi kita atau  apapun bentuknya tetapi yang jelas  membuat kita makin wise , makin dewasa dalam proses berpikir  dan bertindak.
Penyikapan Terbaik
Saat sebuah berita/ informasi  masih menjadi kontroversi  yang menjadikan pro di satu sisi dan kontra di sisi yang lain,  maka  mempelajarinya  saampai detail adalah satu-satunnya pilihan. Supaya  kita dapat mendapat informasi  yang utuh  yang akan membantu kita dalam  menentuka serta memberikan penyikapan yang terbaik. Memang seringkali angle dari si pembuat berita /informasi juga  akan berpengaruh. Itulah bahwa kita harus melihatnya dari  semua sisi baik atas, bawah, kanan, kiri , depan dan belakang. 
Atau bisa juga kita berusaha untuk netral pada prosesnya tetapi tentu saja  pada akhirnya sesuatu yang pro kontra juga  harus kita sikapi  dengan penyikapan terbaik  yang  kita pilih atau  semacam keberpihakan.  Walaupun  kadang-kadang  bahwa keberpihakan kepada sebuah kebenaran  yang hanya di dalam hati tanpa menyuarakannya  memang menjadi  selemah-lemahnya iman. 
Ya hidup harus berpihak ! Karena kita punya nilai  serta  karakter  serta apa-apa yang selama ini sudah terinternalisasi  di dalam pribadi kita yang akan muncul pada saat ada hal-hal yang membuat kita harus menentukan keputusan yang akan diambil.
Menurutku di sinilah semua akan bermuara.  Knowledge dan attitude akan berpadu  dan akan menghasilkan  pola tindak  di ruang nyata.  Dalam hal ini maka perilaku  sabar dan ikhlas atas perilaku pihak lain  yang jelas-jelas merugikannya pun  akan mendapat pemaknaan dan penyikapan terbaiknya yang pada gilirannya akan membuahkan  hasil pada saatnya nanti.  Menyikapi kejadian terupdate  yaitu pada kasus  salah satu calon  pemimpin  tertinggi  di sebuah provinsi  sebagai sebuah  pernyataan yang melukai hati  para komunitas  maka respon dari banyak orang akan  menjadi sangat beragam. Tentu saja  dibutuhkan   kedewasaan dan kebijaksanaan secara komunal untuk  sebuah penyikapan terbaik. Sikap  tegas berani menyuarakan ketidaksetujuan  terhadap  pola pandang ‘lawan’ yang dilakukan dengan santun akan  menjadi  poin tersendiri. Tentu saja penyikapan terbaik  akan memenangkan “pertarungan”  ini pada saatnya nanti. Acungan jempol  buat para tokoh yang secara tegas menyatakan ketidaksetujuan  namun dengan balutan bahasa dan diksi  yang  terukur dan terkendali. Apalagi  bila ditambah untaian doa untuk kebaikan bersama.
Pada kasus yang  menimpa  secara pribadi  memang menjadi lebih  ‘berat’ karena artinya keberpihakan dan penyikapan terbaik  ada pada kita secara pribadi.  ada  seorang  rekan  yang menceritakan  bahwa  suatu ketika pernah ditunjuk-tunjuk  dengan seorang jari telunjuk seorang pejabat public yang merasa dilayani  disebuah tempat pelayanann public dengan kurang baik serta dikata-katai dengan “ kamu tidak tahu siapa saya ? “ .  Menurutnya dengan penyikapan yang dia pilih yaitu dengan tidak melayani marah-marahnya Sang Bos  tetapi tetap memilih melayani  bertahun-tahun baik di dalam  instansinya itu maupun di luar membuahkan hasil yang sangat  baik.  Suatu ketika  saat  Sang BOs datang  ke  tempat teman tsb yang membuka pelayanan konsultasinya maka  Sang Bos yang terlihat sangat jumawa  beberapa waktu sebelumnya menjadi  terlihat tidak berdaya  saat itu. Justru  disitulah  keikhlasan itu pun diuji. Dan dia berhasil memenangkan ‘pertarungan’ dengan dirinya sendiri. Dia  mencoba memberi yang terbaik, di saat yang sama dia ingat bahwa betapa malunya saat ditunjuk-tunjuk oleh Si Bos kala itu di depan orang banyak.  Yang jelas  si  Bos itu bila bertemu  kemudian  kelihatannya masih suka malu. Entah benar atau tidak karena tidak pernah ada konfirmasi. Dan  ajaibnya  maka si BOs yang dulu sangat garang, maka setelah sekian tahun bertransformasi menjadi  seorang  yang sangat  khusyu dalam ibadahnya bahkan memilih mengabdikan diri menjadi seorang  pelayan di rumah Allah.  Memang hanya Allah sajalah pembolak balik hati dan semoga menjadi ketetapannya kita untuk selalu dalam kedaan hati yang baik.
Banyak cerita yang kudengar dari banyak orang tentang  banyak hal.  Yang jelas  bahwa   membaca  (iqro) peristiwa baik yang tersurat dalam sebuah berita /informasi di berbagai media maupun yang tersirat   adalah penting.

Input-input  itu bila dimaknai dengan baik dan benar akan membuat kita akan semakin ‘kaya’. Penyikapan terbaik (baca: keberpihakan pada sebuah kebenaran)  aku yakini akan menjadi pohon yang terus tumbuh dan akan  menghasilkan buahnya  kelak pada saatnya. Wallahualam.  (by. Tri Astuti Sugiyatmi) 

Saturday, October 8, 2016

Keajaiban padepokan seorang DKTP


Heboh tentang DKTP yang katanya bisa menggandakan atau mengadakan uang yang juga terseret kepada beberapa perkara criminal membuat penasaran. Apalagi disisi lain ada beberapa cendekiawan dan orang cerdik pandai lulusan luar negeri yang masuk dalam lingkaran terdekatnya membuat munculnya berbagai analisa bahkan asumsi terkait keajaiban dan sebangsanya.
Sah-sah saja jika ada yang percaya pada sebuah keajaiban. Memang orang –orang hebat diyakini datang dengan keajaiban. Bukan bermaksud membandingkan (karena memang sama sekali tidak sebanding) dengan geger DKTP ini, sepengetahuan saya nabi dan rasul didatangkan memang dengan sebuah mukjizat yang menjadi penanda bagi kenabian dan kerasulannya.
Tentu juga para sahabat Rasulullah yang masing mempunyai karakteristik tersendiri dimana di dalamnya ada kebijkasanaan, kejernihan hati, kelemahlembutan hati, kepandaian berpikir dll.
Sesudah Rasul terakhir dan sahabat memang ada banyak pula orang baik yang diturunkan. Tentu saja dengan membawa kehebatan dan keajaibannya sendiri. Diyakini ada para walisongo yang dengan segala kebijaksanaannya berdakwah Islam pada jamannya dengan segala sumberdaya yang dimiliki (tentu saja ilmu, kepandaian komunikasi dan tentu saja tidak lupa adanya ridho dari Sang MahaPemberi yakni Allah swt).
Sesudah gelombang itupun maka lahirlah tokoh perubahan dunia dengan keajaiban masing –masing di jamannya.Mulai dari berbagai kisah tokoh penemu pengetahuan yang ilmunya sampai sekarang dikembangkan sampai sekarang memang banyak sekali lahir tokoh perubahan di berbagai bidang.
Bila sekarang Seorang Dimas Kanjeng Taat Pribadi mengumbar kesaktian dan berbagai keajaiban antara lain menggandakan uang dalam berbagai mata uang berbagai Negara baik rupiah maupun uang dollar dll. dan ada beberapa doctor yang percayamentah=mentah terhadap kesaktian dan keajaiban tersebut. Bahkan dalam tayangan live di sebuah stasiun TV sekarang doctor tersebut minta waktu untuk menayangkan videonya dan menjelaskan kepada penonton untuk mempercayai.
Sebuah keyakinan yang cukup mengherankan bagi saya pribadi. Dia sendiri meyakini transdimensi dan membandingkan dengan fenomena galileo saat menyatakan bumi itu itu bulat dan Copernicus yang dipenjara oleh gereja saat itu yang kelihatannya berbau-bau ilmiah, tapi bagi saya itu menjadi sebuah pembodohan masal dan menjungkirbalikkan beberapa tatanan dan norma. Bahwa tidak perlu bekerja tapi cukup percaya bahwa orang bisa tiba-tiba kaya dengan menyetor mahar saja. Bahwa dunia jin akan memindahkan semua yang DKTP mau ke kantongnya menjadikan kita hanya berandai-andai untuk sesuatu yang tidak sesuai sunatullah menurutku… Mereka ,para pengikutnya percaya bahwa itu sama dengan Nabi Sulaeman yang bisa mengndalikan jin ifrit dulu. Yah kalo yang itu ada di dalam Kitab suci Alquran saya sangat setuju. Tapi menyamakan DKTP dengan Nabi Sulaeman -seperti klaim bu Marwaha Daud Ibrahim itu yang menurut saya masih debatable.
Bahwa uang, jam tangan mewah, emas dan lain-lain menjadi segalanya sehingga kita hanya kagum dengan orang yang berduitsaja/ orang kaya saja. Dan menurut saya ini menjadikan kita menjadi berpola pikir ‘material’ saja. Mendekati kapitalislah, karena di sini semua perhatian dan ketakjuban hanya pada jumlah modal dan capital saja.
Ya menurut saya bila kita hanya kagum dengan hal-hal yang hanya berbau material (uang, emas jam tangan rolex dan beberapa lainnya) maka mungkin bisa jadi itu wajar, karena fitrahnya manusia memang senang barang-barangmewah. Bagaimana tidak ?bahwa semua akan terbeli dengan uang dan emas yang ada. Itu sangat manusiawi.Tetapi kagum hanya padahal-hal itu saja dengan mengabaikan hal-hal yang lebih prinsip( value, kepribadian yang sangatbaik/ strong personality, kebaikan, kejujurandll) menurut saya menjadi sangat naïf.
Karena akhirnya kita hanya kagum pada keajaiban yang sifatnya hanya yang tangible. Walaupun menurut sang doctor itu sangat masuk akal (karena menurut beliau ilmuwan barat belajar ke Indonesia…waduh’’’waduh makin nggak make sense menurut saya.
Walaupun sekarang kasusnya yang criminal sedang heboh=hebohnya (pembunuhan beberapa santrinya) tetapi pandangan para pendukungnya juga tidak goyah, bahkan terlihat sangat percaya dengan berbagai argument termasuk ngelmu ( yang dianggap lain dengan ilmu).
Di sisi lain ada beberapa mantan santrinya / mantan muridnya sudah keluar dan berkomentar sebaliknya dari para pendukungnya .Mereka menyatakan bahwa padepokan DKTP itu melakukan penipuan, kecurangan, pembunuhan dsb. Memang yang terakhir masih dalam pembuktian dan penyelidikan polisi.
Ya sudah…semua kembali pada pandangan masing-masing. Maka sekarang keputusan ada di tangan anda… mana yang mau Anda pilih.
Saya pilih No....(by, Tri Astuti Sugiyatmi)