Saturday, July 19, 2014

Sebuah Diskusi Kecil dengan Pangeran Kecilku


Berdiskusi dengan pangeran kecilku yang baru lulus SD - usia menjelang remaja tentang situasi sekarang ini banyak menyinggung-nyinggung tentang politik, kebebasan pers, nilai universal dan banyak hal lain yang sedang hit dan trend membuat aku sadar bahwa aku sedang berhadapan dengan pribadi yang sedang mencari "sesuatu". Istilah yang dilontarkan membuat aku kaget karena anak-anak sekarang kelihatan menjadi lebih cepat dewasa. Berbicara politik /pilpres di usianya yang masih sangat muda dengan berbagai sudut pandang. Aku sadar, anak sekarang tumbuh dan berkembang ditemani dengan berjuta informasi yang benar bahkan yang sampah dari berbagai media. Kadang bahkan sumpah serapah dan caci maki yang mengemuka. Ternyata menjadi tantangan kita sebagai orang tua untuk menjadi wasit yang netral dan adil bagi semua. Social media, media cetak serta TV diyakini memang memang menjadi alat untuk berkomunikasi yang cukup efektif untuk segala hal...Dibutuhkan kecerdasan dalam menganalisis semua berita yang ada. Tidak hanya apa yang tergambar di layar tetapi kadang kita juga perlu melihat apa yang ada dibaliknya. Karena sejatinya sesuatu yang benar seringkali bukan menjadi sebuah arus utama yang ada dan tersaji indah di depan mata. Jadi menurut hemat saya, dalam situasi seperti ini carilah informasi yang benar dengan melihat dari berbagai angle. Karena kalau hanya dari salah satu sumber saja maka akan kurang berimbang informasinya. Tentu saja tetap butuh nurani dan akal sehat untuk mengambil kesimpulannya....
Wasit yang adil tentu saja bukan berarti tanpa keberpihakan. Tapi keberpihakan pada sebuah value dan prinsip kebenaran dan kebajikan. Dalam hal konteks diskusi dengan pangeran kecilku ini maka pesanku dalam melihat seorang sosok pemimpin harus imbang dan mengakui ada kelebihan dan kelemahan masing-masing. . .Tidak boleh ada kultus individu pada siapapun..Karena harus disadari bahwa tidak ada makhluk yang sempurna....etc.
Semoga diskusi itu menjadi sebuah mata rantai positif dalam proses pendewasaanmu Nak! Apapun urusannya semoga diberikan kemudahan Allah swt dalam membedakan dan mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah bila berhadapan dengan sebuah urusan benar -salah/moral.....dan harapanku khusus urusan diskusi yang nyerempet pilpres tadi semoga negara kita diberikan pemimpin yang terbaik dan amanah...Amin Ya Robb.

Thursday, July 3, 2014

SEKS BEBAS DAN FENOMENA PING PONG





Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Berita tertangkapnya 3 pasangan yang bukan suami istri sah di hotel melati kota Tarakan pada beberapa hari lalu (Mei 2014) di media ini cukup memprihatinkan. Walaupun sebenarnya ini bukan yang pertama, karena menjelang peringatan hari Valentine  14 Februari lalu,  enam pasangan di luar nikah juga terjaring operasi  pihak Satpol PP dengan Polres Tarakan saat merazia hotel dan losmen. Bahkan pada saat itu juga  diketahui bahwa ada pasangan yang  diduga mengkonsumsi Sabu-sabu. Penyakit masyarakat hubungan seks bebas dan narkoba saling berkelit kelindan memperburuk keadaan satu sama lain. 
Maraknya kejadian  serupa menunjukkan bahwa bahaya seks bebas sudah merambah ke masyarakat kita. Bahkan yang memprihatinkan bahwa hal ini juga dilakukan oleh anak usia 20 tahunan atau bahkan kurang yang sebenarnya masih usia anak sekolah.
Kondisi ini makin memprihatinkan saat kita melihat bahwa data juga menunjukkan bahwa penyakit menular seksual  ini juga mulai  diidap oleh anak-anak remaja kita dari mulai dari usia SMP dan SMA. Walaupun tidak banyak tetapi  ada kasus-kasus yang ekstrim juga pada usia Sekolah Dasar sekitar 11-12 tahun yang sudah terkena penyakit ini.
Apapun motivasi pelaku – seperti ikut-ikutan, sikap hanya untuk bersenang-senang semata, sikap serba membolehkan dalam arti negatif -   tetap saja akan mengundang risiko yang sama yakni infeksi menular seksual (IMS) atau penyakit menular seksual (PMS).  Jenis-jenis IMS adalah  banyak sekali  sekitar 20 jenis an. Yang familiar di telinga banyak orang adalah seperti keluarnya nanah pada kelamin pria (GO), keputihan, sampai syphilis.  
IMS ini juga dianggap sebagai pintu masuk untuk terkena gangguan kesehatan lebih lanjut yang sampai sekarang termasuk yang paling ditakuti kehadirannya yaitu  HIV dan AIDS.  HIV (Human Immunodeficiency Virus)  yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, yang  pada akhirnya akan menimbulkan  AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome)  - yakni kondisi dimana kumpulan gejala akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh seseorang. Khusus untuk HIV AIDS maka data yang ada menunjukkan bahwa  prevalensi (penemuan kumulatif dari tahun ke tahun) HIV / AIDS di  kota kita menjadi nomor 3 di provinsi Kaltim  setelah Samarinda dan Balikpapan. Itu bisa juga diartikan menjadi jawara nomor satu di provinsi  Kaltara. 
Lelaki Berisiko Tinggi dan Fenomena Bola Ping pong
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kota kita menjadi pintu masuk ke provinsi Kalimantan  Utara dengan  bandara dan pelabuhannya. Kedudukan Tarakan sebagai kota pulau yang merupakan kota transit juga  menjadikan munculnya banyak industri jasa penginapan (hotel serta losmen) dan hiburan malam.  Walaupun tidak bisa digeneralisir tetapi banyak tempat-tempat tersebut   yang terindikasi sebagai hot spot  sebagaimana  ditunjukkan dari hasil  beberapa razia tadi. Hal ini juga  menjadikan kota kita makin rawan dengan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual ini.
Apalagi daerah sekitar Tarakan yang banyak terdapat camp perkebunan, kehutanan maupun tambang yang biasanya banyak pekerja laki-laki. Dengan sistem kerja yang on duty-off duty (ada waktu kerja dan waktu libur khusus misalnya masing –masing 2 Minggu) maka akan sangat memungkinkan bila mereka akan datang ke kota Tarakan untuk menikmati hiburan yang tidak sehat ini atau hanya sekedar transit untuk kembali pulang ke daerah asalnya melalui pelabuhan laut/udara. Banyaknya pria berduit yang cukup mobile  dan cenderung punya perilaku yang ingin  disebut sebagai macho (4M = man with money, mobile and macho behaviour) maka IMS ini akan menyebar dari luar rumah masuk ke dalam rumah dan menyerang istri mereka.
Sayangnya perempuan seringkali menjadi pihak yang paling dirugikan dalam hal ini. Karena banyak IMS yang seringkali tidak bergejala pada perempuan akibat pengaruh letak anatomis organ perempuan yang ada di dalam. Posisi sosialnya juga seringkali menyebabkan perempuan tidak diajak berobat oleh pasangannya sehingga fenomena “bola pingpong” kerap  terjadi. Saat si laki-laki kembali pulang ke rumah maka akan kembali tertular oleh istri/pasangannya yang tidak ikut diobati pada saat laki-laki terkena dan diobati pertama kalinya. Begitulah seterusnya seperti bola ping pong pada permainan tenis meja yang dengan mudah dilempar dari pemain yang satu ke lawannya serta sebaliknya.
Bahkan pada gilirannya juga mereka ibu-ibu rumah tangga yang tidak berdosa ini  akan tertular HIV/AIDS dari Lelaki Berisiko Tinggi (LBT) atau high risk man  sebagai suami/ pasangannya. Bila demikian maka anak yang dikandungnya pun akan punya potensi ketularan yang cukup besar terutama bila tidak mendapatkan penanganan yang semestinya saat hamil dan proses melahirkannya.
Pertumbuhan ekonomi kota Tarakan yang cukup tinggi dan  yang banyak menjanjikan sumber ekonomi baru  seperti industri rumput laut  akan  menyebabkan arus perpindahan penduduk yang masuk ke kota Tarakan cukup besar dalam hal ini. Akibat yang langsung  terlihat ini adalah semakin banyaknya  rumah sewa/kontrakan maupun kost-kostan dimana pengawasan sosial kadangkala sangatlah lemah.  Tentu saja hal ini  akan  membuka kemungkinan suburnya  terjadinya transaksi seksual di rumah-rumah yang peruntukan awalnya untuk rumah sewa atau kontrak  bagi  para pekerja.
Kemunculan sekolah/pendidikan tinggi di Tarakan yang ditengarai juga menjadi penyumbang kasus melalui anak didik/mahasiswanya- seperti tengara media ini dalam kasus terakhir dan sebelumnya sebetulnya adalah hal yang paradoks.  Tentu saja hal ini didapat karena pergaulannya di luar kampus (di kost-kostan/ rumah sewa maupun di berbagai lokasi hotspot) yang sudah terlalu permisif dengan hal-hal yang dianggapnya sebagai bagian dari gaya hidup modern. Seharusnya dengan bekal pengetahuan (knowledge) yang lebih baik  maka sikap dan perilaku (attitude) akan otomatis terperbaiki.  
What Next?
Walaupun program HIV AIDS kita sudah meraih penghargaan tertinggi dan terbaik MDG’S Award tahun 2013 kategori pengendalian penyakit menular 2 bulan lalu namun disadari bahwa program kesehatan yang mengarah  pada penanggulangan IMS termasuk HIV AIDS sebenarnya adalah seperti “pemadam kebakaran” saja.  Ranah kesehatan  dalam hal ini adalah di hilir maka bila hulunya tidak dilakukan program promosi dan pencegahan yang masif maka kasus ini akan cenderung bertambah terus. Sejatinya program di hulu banyak sekali yang sifatnya mencegah dapat dilakukan oleh banyak sektor terkait.  Pendidikan agama dan etika di dalam rumah sejatinya adalah pemberian “kekebalan” yang akan sangat ampuh yang akan menjadi penangkal semua “infeksi” yang akan masuk tubuh layaknya pemberian imunisasi pada anak balita kita.  Tentu saja butuh  penguatan  dari semua lembaga pendidikan baik formal/informal maupun lembaga keagamaan.  Satu hal yang tidak kalah penting adalah pengawasan sosial  dan kepedulian dari semua masyarakat terhadap semua hal yang mempunyai potensi yang tidak baik juga bisa jadi menjadi penting, di samping memang tugas dari para penegak aturan  dan hukum baik Satpol PP  maupun polisi.
Menurut hemat penulis penyakit masyarakat sejatinya tidak hanya selesai dengan pendekatan formal semata. Nilai - nilai yang dianut masyarakat seperti adanya kecenderungan  serba boleh (permisif) maupun  pandangan yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama  hidup (hedonisme)  dalam hal ini sebaiknya perlu pendekatan khusus yang lebih komprehensif. Tentu saja banyak program dan  sektor bisa bergerak di sini. Ayo....!!

Monday, June 30, 2014

Organisasi Wanita & Wanita di Lapas



.....Kunjungan kerja kali ini selain sebagai wujud IIDI sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang mempunyai  potensi yang cukup besar bagi perbaikan lingkunagan sekitarnya . Di samping itu IIDI  berusaha untuk menggalang kepedulian bagi semua penghuni LP khusus wanita karena  menurut pemikiran IIDI  wanita sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya  seharusnya akan dapat menjadi panutan bagi  lingkungan terdekatnya. Wanita mempunyai kedudukan yang sangat mulia di dalam keluarga dan masyarakat. Dari wanitalah akan lahir generasi penerus bangsa. Sehingga dalam menuju ke arah pembentukan generasi yang kuat maka wanita—para calon ibu, istri dan ibu dari anak-anak bangsa- haruslah dipandang sebagai aset yang sangat berharga – apapun dan bagaimanapun kondisinya sekarang ini.
Para wanita di LP –dengan semua masa lalunya- tetap menjadi  bagian dari wanita yang harus dikuatkan peran dan tanggungjawabnya  minimal dalam masyarakat terkecilnya yaitu  keluarga. Dalam  kondisi keterbatasan untuk mengakses semua yang ada di dunia luar lembaga maka perlu ada sebuah media  sebagai sarana pembelajaran alternatif selain yang sudah didapatkan secara rutin dari program Lapas.
Buku –buku yang membangun  dapat menjadi  sarana yang cukup baik dalam menyediakan ruang untuk kontemplasi bagi si pembacanya maupun membunuh waktu  secara positif.  Buku sebagai potensi dan kekuatan  untuk mempengaruhi pola pikir  harus didorong supaya  kehadirannya dirasakan menjadi penting. Ya dari pikiran itulah akan menjadi perkataan, dan dari perkataan akan menjadi perbuatan, dari perbuatan akan menjadi kebiasaan selanjutanya menjadi karakter dan karakter itulah yang diyakini akan dapat menjadi nasib kita kelak dikemudian hari. Itulah mengapa kita sudah harus mnejaga pola pikir , perkataan, perbuatan yang selanjutnya akan menentukan gambaran masa depan kita.
Dasar itulah yang menjadi penting menurut IIDI sehingga penting untuk mengiinisisasi perpustakaan wanita lapas . Peran wanita maupun organisasi wanita  bisa jadi menjadi penting khususnya dalam hal membangkitkan semangat / gairah dalam meraih kehidupan selanjutnya bagi saudara-saudara kita  yang menjadi warga binaan di dalam lembaga pemasyarakatan....

Thursday, May 29, 2014

Belajar Pada Yang Muda




Dalam beberapa kali kesempatan, aku mengikuti kegiatan yang isinya anak muda semua. Yah meski sudah tidak muda lagi dari usia, tapi rasanya aku masih merasa bisa connect dengan apa-apa yang mereka perbicangkan, pikirkan  dan perdebatkan.
Semangat untuk selalu  menimba ilmu, memperkaya khasanah yang lazim pada anak muda menurutku seharusnya tetap terjaga sampai kapan pun. Tapi seringkali rutinitas dan kesibukan  membuat kegiatan seperti itu menjadi  sesuatu yang istimewa.
Bergaul dengan mereka dalam sebuah forum- Youth forum- dengan berbagai tema  membuat pikiran  terbuka. Betapa banyak anak muda yang sangat sukses di bidangnya.....cukup menginspirasi. Aku merasa “iri” dengan keberhasilan mereka secara akademis, karier dan perilakunya. Pengin memutar jarum jam... he..he. Dalam forum yang terhormat  pastilah menampilkan pembicara yang bisanya memang teruji kualitasnya.. .Perpaduan yang sangat sempurna.  Muda, pintar dan shalih...
Pada kesempatan yang lain aku juga  seorang bertemu anak muda yang sangat hebat... diterima oleh BUMN yang cukup besar  dengan menyingkirkan ratusan bahkan  mendekati angka ribuan pelamar. Berbincang dengannya sangat asyik. Banyak ilmu yang kudapat.  Biasanya saat berbincang seperti itu aku membayangkan dan kadang menggali bagaimana cara mendidik orang tuanya dulu... siapa tahu bisa dicontek...he..he....Tantangan anak muda sekarang bisa jadi lebih banyak karena derasnya arus informasi yang baik maupun  yang sampah.  Dibutuhkan pengetahuan yang cukup, pemahaman yang baik serta ketrampilan untuk memilah mana yang baik, buruk atau diantaranya. Kesuksesan para pemuda-pemudi  yang hebat dan baik itu  hampir pasti sebagai sebuah perjalanan panjang. Bisa jadi orang tuanya sudah sangat berperan saat dalam golden age  dan bahkan jauh sebelumnya...
Saat dengan berbincang dengan mereka, ikut menyelami pikiran-pikirannya serta cita-citanya  cukup memberi inspirasi.  Bahwa kemudaan bukan berarti  pendek daya jangkau pikiran dan nalarnya. Bahkan kadang jauh melebihi kita dalam beberapa hal.  Semoga tertular semangatnya dan pada akhirnya juga kita berharap suatu hari kelak anak-anak kita juga akan seperti mereka.
Melihat banyaknya  sesuatu yang di luar yang berpotensi mengganggu dan  terbukti  banyak  yang pada awalnya baik tapi berakhir dengan tidak baik maka sampailah pada sebuah kesimpulan ternyata perjuangan untuk menjadi baik tidak pernah berhenti pada satu titik.  Sampai  suatu saat datangnya masa yang sudah tidak bisa ditawar –tawar lagi.
Maka hanya kepada Sang penggenggam jiwa kita hanya bisa berharap. Jagalah anak-anak kami semua, jadikan anak yang shalih , berguna untuk banyak orang. Dan semoga terjaga selamanya.   Amin

Monday, May 5, 2014

“TOPI ANTI DBD” : SOLUSI ALTERNATIF MENGATASI KASUS DBD DI WILAYAH RAWAN AIR BERSIH

“TOPI ANTI DBD” :
SOLUSI ALTERNATIF MENGATASI KASUS DBD DI WILAYAH RAWAN AIR BERSIH
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi*

Demam Berdarah Dengue (DBD)  merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh vektor  nyamuk Aedes sp. selama ini masih menjadi momok tersendiri bagi masyarakat. Serangannya yang cenderung meningkat di musim hujan  ini   di daerah urban memang menjadi masalah di banyak negara tropis dan subtropik. Belum lagi adanya  angka kematian yang masih tinggi  terkait salah satu penyakit yang   juga  dihubungkan dengan isu perubahan iklim ini.
Upaya  pengembangan  vaksin/ imunisasi  masih menghadapi kendala yang cukup besar,  ditambah tidak adanya terapi yang spesifik untuk penyakit akibat  virus   menyebabkan  berbagai upaya dilakukan untuk menekannya.  Dari 4 pilar pencegahan dan pengendalian (P2) DBD maka pengendalian vektor lah yang paling memungkinkan untuk dilakukan.
Pengendalian Vektor
Yang harus dipahami bahwa ternyata nyamuk mengalami perubahan bentuk  (metamorfosis  sempurna) dimana dalam siklus hidupnya telur --jentik (larva)-- pupa -- nyamuk lagi.  Ketiga  bentuk terjadi di dalam air yang tidak terhubung dengan tanah,  sementara yang terakhir  akan terbang kembali di udara.  Vektor ini kebanyakan juga berkembang di daerah urban dan suburban dengan asumsi  di daerah tersebut  terdapat   banyak kontainer buatan manusia untuk penampungan air bersih. Dalam waktu kira-kira 1-2 minggu maka siklus itu akan kembali berulang.
Mengingat hal itu maka  pengendalian vektor  pada setiap tahapan  selalu mempunyai  tingkat kesulitan tertentu. Pada tahap nyamuk  maka kemampuan terbang  dan  menghindarnya  dalam jarak sekitar 40 meter menyebabkan  pengendaliannya secara otomatis  tidak pernah tuntas sekalipun dengan  penyemprotan insektisida (fogging).  Tindakan itu hanya bisa membunuh nyamuk dewasa saja sementara bentuk telur, larva dan pupa tidak akan mati. Kekurangan lainnya adalah berbiaya tinggi dan ancaman pencemaran lingkungan  sehingga hanya efektif saat ada penularan kasus/wabah.  
Pengendalian pada tahap jentik,  mempunyai banyak alternatif. Upaya biologis dengan ikan pemakan jentik  dapat menjadi sebuah alternatif. Namun banyak masyarakat yang mengeluhkan bila ikan ditempatkan pada bak mandi maupun air yang dikonsumsi sehari-hari akan menimbulkan bau amis dan penampungan  menjadi lebih cepat kotor.
Alternatif lain adalah  dengan bahan kimia (larvasida) dirasakan cukup baik khususnya di daerah  yang relatif kesulitan air bersih. Bubuk larvasida yang bertahan sampai 2-3 bulan memungkinkan air yang ada tidak perlu dikuras.   Namun kelemahan dari program ini adalah adanya bau bahan kimia dan adanya ketakutan masyarakat terhadap bahaya ‘keracunan” walaupun Kementrian Kesehatani sudah menyatakan aman   sepanjang dosisnya sesuai dengan ketentuan.
Upaya yang terakhir secara fisik adalah dengan 3M (menguras dan menutup  penampungan air dan   mengelola barang bekas- dulu dipakai istilah mengubur). Dalam bahasa yang berbeda maka  3M juga berarti penutupan (covering), pengosongan (emptying) dan  pembersihan sebagai upaya untuk mencegah nyamuk  menjangkau habitatnya. 3M bisa menjangkau fase telur, jentik dan pupa. Sebenarnya 3M adalah upaya yang cukup mudah dan murah. Sayangnya justru perilaku masyarakat masih belum mendukung karena  kebanyakan tidak  memahami proses metamorfosis si nyamuk tadi. Dalam hal ini  memang dibutuhkan komitmen, konsistensi dan kontinuitas yang cukup tinggi. Pasalnya lengah sedikit maka itu akan menjadi “surga” bagi nyamuk itu.
 “Topi Anti DBD“  :  sebuah alternatif
Pada daerah yang  sulit air bersih maka warga akan cenderung menampung air,  bahkan air hujan.   Warga enggan menutup penampungan airnya dengan alasan  bila ditutup maka tidak mendapat air dari air hujan yang turun sewaktu-waktu. Dengan rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat itu maka dapat ditebak perindukan nyamuk akan makin banyak dan  jentik  akan merajalela.
Dalam hal ini dikesankan ibarat buah simalakama. Untuk mendapatkan air bersih maka otomatis DBD akan terjadi, sebaliknya bila menginginkan DBD turun maka kebutuhan air bersih akan terancam. Sebuah pilihan yang  sulit. Sehingga, munculah trik menyiasati keadaan bahwa  ada hal yang dapat mengakomodir dua-duanya yang disebut sebagai “Topi Anti DBD” (TAD).
Penyebutan TAD  mungkin  terkesan berlebihan, bahkan asal.  Memang ini bukan topi sehari-hari yang dipakai di kepala manusia yang punya “khasiat” mencegah DBD tetapi  penutup (cover)  bagi drum, tangki  air atau berbagai penampungan air lain berfungsi  dan sebagaimana laiknya topi  pelindung bagi  kepala. TAD ini dimaksudkan   untuk melindungi air dari nyamuk yang akan bertelur di dalamnya. Tetap mendapatkan air dan  secara fisik dapat menjadi penghalang bagi nyamuk untuk bertelur di dalam air tersebut.
Bahan TAD  yang  bisa  berasal  dari  kasa nyamuk atau dari berbagai macam kain termasuk kain perca  dengan karet elastis  yang dijahit sebagai pengikat  di  mulut penampung air  bisa jadi menjadi salah satu alternatif di daerah yang endemis DBD dan sekaligus mempunyai masalah dengan ketersediaan air bersih. Sebagai  pemikiran alternatif, TAD tanpa insektisida tambahan  bisa menjadi salah satu pengembangan alat baru  yang aplikatif dan   membutuhkan kajian ilmiah yang  lebih mendalam sebagai  sebuah strategi baru dalam pencegahan DBD. Walaupun tidak menutup kemungkinan  dalam pengembangannya dapat dikombinasi dengan insektisida yang aman bagi air minum manusia, layaknya fungsi larvasida saat ini.
Dari percobaan kecil-kecilan maka didapatkan hasil bahwa TAD  cukup efektif untuk menghalangi kotoran besar masuk ke dalam air. Bila bahan yang dipakai dengan kerapatan yang lebih tinggi maka kemungkinan nyamuk untuk bertelur di dalamnya  menjadi makin kecil. Dalam hal  kemampuan menampung air  dari talang maka bila  semakin rapat  jenis kain yang dipakai maka air akan makin sulit untuk masuk ke dalam  drum tersebut. Sehingga di dapatkan hasil ideal  bahan yang dipakai adalah kasa anti nyamuk dengan diameter terkecil. Keunggulan lain  kasa ini juga bisa dibersihkan secara periodik dan jatuhnya akan lebih murah dalam jangka panjang.
Perlu Sinergi
P2 penyakit DBD diyakini  memang tidak bisa  hanya mengandalkan metode tunggal saja, tetapi harus kombinasi. Bila  selama ini  muncul kesan hanya nyamuk “elit” Aedes aegypti  sebagai vektor utama maka keberadaan  vektor Aedes albopictus yang menjadi vektor sekunder yang  juga cocok hidup di lingkungan luar rumah  tidak dapat dikesampingkan. Banyaknya sampah plastik, botol, kaleng  dan gelas yang dapat menampung air hujan juga menjadi penyebab tingginya  perindukan nyamuk tersebut di luar rumah disamping adanya potongan bambu -misalnya-  yang dapat menampung air hujan.
Sehingga pada akhirnya gerakan pembrantasan sarang nyamuk (PSN) DBD memang juga cukup relevan bila dilaksanakan di dalam  sekaligus juga di luar rumah. Pada gilirannya  maka  bukan hanya DBD saja yang teratasi tetapi juga penyakit  dengan vektor nyamuk lain seperti malaria, filariasis dan chikungunya juga ikut tertekan. Semoga.


Thursday, April 24, 2014

Bill Gates dan Penanggulangan DBD

Kehadiran Gates baru-baru ini ke Indonesia  entah kebetulan atau tidak maka kehadirannya  juga  mendekati event hari kesehatan sedunia 7 April yang  mengangkat tema mewaspadai penyakit yang ditularkan oleh vektor – si makhluk kecil dengan ancaman besar (small creature, big threat).  Perhatian Gates yang sangat besar pada penyakit demam berdarah (DBD) yang masih menjadi masalah kesehatan di negara kita dan 100 negara lain di dunia  menjadi magnitude tersendiri  bagi pengendalian penyakit ini di Indonesia. Apalagi penyakit yang ditularkan oleh vektor khususnya nyamuk menjadi salah satu prioritas  lembaga  bentukannya itu.
Pada saat teknologi  informasi  - dunia yang digelutinya selama ini- bergerak sangat cepat dan menuntut perhatian penuhnya, justru  pada saat yang sama dia  menaruh perhatian yang spesial terhadap masalah-masalah kesehatan yang sering diabaikan oleh banyak pihak. Bahkan pada saat kunjungannya ke Yogyakarta menyempatkan untuk mengunjungi dan melihat langsung penelitian EDP (Elimination Dengue Project) dimana  dikembangkan pendekatan baru untuk melawan virus dengue melalui bakteri Wolbachia yang dikembangkan pada nyamuk Aedes.
Mengambil Pelajaran Baik
Bila Gates – dengan nature yang jauh dari urusan penyakit/kesehatan memiliki   perhatian yang demikian besar untuk penyakit yang banyak terdapat di daerah tropis dan subtropik itu maka semestinya semangat itu juga “menular” pada kita-kita yang merupakan bagian dari  tenaga kesehatan.
Biarlah  Gates  ikut berkontribusi dengan “caranya” sendiri untuk  memberi perhatian dan tentu saja sumber pendanaan untuk mencari  cara dalam memberantas DBD  melalui riset yang butuh resources yang tidak sedikit (SDM dan dana). Kita dengan semangat yang ditularkan Gates juga harus bisa melakukan sesuatu untuk memberikan kontribusi  sesuai dengan  kemampuan kita. Bisa dalam bentuk aksi nyata kita dalam hal PSN rutin,  pemanfaatan dan pengembangan teknologi tepat guna  dalam hal pencegahan DBD ini maupun “urun”  pemikiran  dalam berbagai kesempatan dan media.
Apa Yang Bisa Kita Lakukan ?
Bisa jadi perhatian Gates yang sangat besar itu  dilatarbelakangi  bahwa upaya yang ada dari pencegahan dan pengendalian   DBD  dianggap masih belum memuaskan dunia. Sedangkan vaksin dan obatnya sampai sekarang juga belum ada. Upaya  dengan pengendalian vektor atau nyamuk dengan cara-cara kimia (insektisida semprot)  dan larvasida selain mahal juga bisa jadi menimbulkan dampak lain, khususnya bagi lingkungan. Sementara upaya lain seperti 3 M (menutup, menguras penampungan air dan mengelola barang bekas) membutuhkan komitmen, konsistensi dan kontinyuitas itu  menjadi  sulit karena menyangkut perilaku masyarakat yang untuk mengubahnya tidak semudah membalik telapak tangan.
Berawal dari situ maka kita harus mengupayakan secara terus menerus  memahamkan kepada masyarakat tentang bagaimana peran serta mereka dalam hal  pengendalian penyakit yang masih mempunyai angka kematian yang cukup tinggi ini. Pertanyaan masyarakat tentang hubungan antara kegiatan 3M dan hubungannya dalam penggulangan DBD juga harus dapat diterangkan dengan baik ke masyarakat dengan berbagai media dan dalam berbagai kesempatan. 
Upaya lain mewacanakan bahwa pemanfaatan  teknologi tepat guna  yang disebut sebagai “ Topi Anti DBD “ (TAD) –sebuah penutup bagi penampung air seperti profil tank, drum atau yang lain yang terbuat dari bahan yang tembus air dengan bantuan pengikat karet yang dimodifikasi sedemikian rupa- menjadi sebuah alternatif bagi daerah yang sulit air bersih. Memasyarakatkan TAD  dan berusaha mengembangkan penelitian lanjutan tentang bagaimana efektivitasnya dan kemampuannya dalam menghalangi nyamuk untuk bisa bertelur di atas air  menjadi sebuah kontribusi dalam hal P2 DBD.
Pada saat KIE DBD, petugas kesehatan seringkali hanya memberi penekanan untuk PSN di dalam rumah, karena berpatokan dengan tempat hidup yang disenangi oleh nyamuk Aedes aegypti. Padahal bila melihat nyamuk penular yang sekunder  (Aedes albopictus) ternyata perindukannya juga berada di luar rumah. Sehingga bahwa ada pemikiran bahwa  dalam penanggulangan penyakit yang ditularkan oleh vektor nyamuk, sebaiknya tidak menitikberatkan hanya salah satu  area yang harus dibersihkan/area yang harus dilakukan PSN. Semua tempat yang potensial menjadi perindukan nyamuk baik di dalam dan di luar rumah menjadi “satu paket target” untuk dilakukan PSN. Jadi dengan penyamaan target untuk area PSN menjadikan keuntungan ganda. Tidak hanya sekedar DBD yang teratasi tetapi juga penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk lain seperti malaria, kaki gajah (filaria) maupun chikungunya.
Berbagai pendekatan pencegahan dan penanggulangan DBD yang sederhana ini dan  tentu juga hasil riset dan hasil pemikiran dari para ilmuwan dan peneliti kelas dunia – seperti yang Gates dukung- diharapkan akan dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematiannya pada suatu ketika nanti.  Semoga.


Wednesday, April 16, 2014

Bill Gatesdan Isu Kesehatan di Indonesia

Yang tertinggal dari Kunjungan Gates ke Indonesia

Bill Gatesdan Isu Kesehatan di Indonesia
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi*
Di tengah suasana hingar bingar jelang pesta demokrasi di Indonesia, maka  kedatangan Bill Gates , -- salah satu orang terkaya di dunia- luput dari perhatian  masyarakat kebanyakan. Walaupun disambut dan didampingi oleh 2  pejabat menteri tetapi  beritanya hanya kecil saja.
Dalam kesempatan ini Bill Gates bersama para pengusaha nasional  membentuk Indonesia Health Fund (IHF) sebagai   wadah  bagi penggalangan dana bagi pemberantasan penyakit di Indonesia. Memang sudah  diketahui sejak tahun 2009, pemilik Microsoft ini banyak bergerak dalam nilai-nilai  yang berkaitan dengan pelibatan masyarakat dalam banyak bidang termasuk kesehatan melalui yayasan dibentuknya, Bill &Melinda Gates Foundation.
Misi Gates untuk menggerakan  para pengusaha menjadi filantropis –sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sebuah paradoks dalam bisnis- sudah menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Gates mengajarkan  banyak hal kepada kita, termasuk yang berkaitan dengan isu kesehatan di negara kita.
Dari PPM sampai pengendalian penyakit
Terkumpulnya dana puluhan juta dollar (US$ 80juta) atau  ratusan milyar dalam rupiah  menjadi bukti bahwa Public Private Partnership (PPP) atau Public Private Mix (PPM) bila digarap dengan baik akan menjadi sumber pembiayaan alternatif bagi  dunia kesehatan kita.
Entah kebetulan atau tidak maka kehadirannya  juga  mendekati event hari kesehatan sedunia 7 April yang  mengangkat tema mewaspadai penyakit yang ditularkan oleh vektor – si makhluk kecil dengan ancaman besar(small creature, big threat). Perhatian Gates yang sangat besar pada penyakit demam berdarah yang masih menjadi masalah kesehatan di negara kita dan 100 negara lain di dunia  menjadi magnitude tersendiri  bagi pengendalian penyakit ini di Indonesia. Apalagi penyakit yang ditularkan oleh vektor khususnya nyamuk menjadi salah satu prioritas lembaga  bantukannya itu.
Pada saat teknologi  informasi  - dunia yang digelutinya selama ini- bergerak sangat cepat dan menuntut perhatian penuhnya, justru  pada saat yang sama dia  menaruh perhatian yang spesial terhadap masalah-masalah kesehatan yang sering diabaikan oleh banyak pihak. Bahkan pada saat kunjungannya ke Yogyakarta menyempatkan untuk mengunjungi dan melihat langsung penelitian EDP (Elimination Dengue Project) dimana  dikembangkan pendekatan baru untuk melawan virus dengue melalui bakteri Wolbachia yang dikembangkan pada nyamuk Aedes.
Tentu saja hal itu dilatarbelakangi  bahwa upaya yang ada dari pencegahan dan pengendaliannya DBD sampai sekarang dianggap masih belum memuaskan dunia. Sedangkan vaksin dan obatnya sampai sekarang juga belum ada. Upaya  dengan pengendalian vektor atau nyamuk dengan cara-cara kimia (insektisida semprot)  dan larvasida selain mahal juga bisa jadi menimbulkan dampak lain, khususnya bagi lingkungan. Sementara upaya lain seperti 3 M (menutup, menguras penampungan air dan mengelola barang bekas) membutuhkan komitmen, konsistensi dan kontinyuitas itu  menjadi  sulit karena menyangkut perilaku masyarakat yang untuk mengubahnya tidak semudah membalik telapak tangan.
Tentu saja kehadirannya  menjadi sebuah suntikan semangat bagi para peneliti dunia dalam mencari terobosan  baru dari upaya pengendalian penyakit yang mempunyai angka kematian yang cukup tinggi itu.
Pelajaran Baik Bagi Semua
Di sisi lain, bagi sebagian kalangan  hal  ini  cukup membuat kita malu sebagai sebuah bangsa. Bagaimana tidak? Selama ini, biasanya urusan kesehatan selalu dianggap tidak penting. Kesehatan adalah permasalahan di hilir yang kehadirannya “tidak  dapat dirasakan”  saat situasi berlangsung normal. Kesehatan menjadi penting saat ada kasus -kasus yang menjadi opini publik, adanya wabah  atau kejadian luar biasa (KLB)  maupun bila menyangkut janji-janji  politis  para politisi. Pada saat berbicara anggaran kesehatan maka dianggap bahwa kesehatan  dianggap hanya “menghabiskan” anggaran. Outcome rakyat sehat, menurunnya angka kesakitan dan angka kematian, serta naiknya angka harapan hidup memang  indikator yang kurang populer bagi sebagian pihak terutama kalangan bisnis/ekonomi.  Justru  Bill Gates yang datang dari “jauh” secara nature justru   mempunyai pola pikir yang sangat istimewa.  Anggarankesehatan baginya adalah sebuah investasi.
Pola pikir Gates ini juga menjadi semacam sindiran halus bahwa dalam  hal  anggaran kesehatan di negara kita masih sangat rendah.  Belanja kesehatan di Indonesia dalam 40 tahun terakhir hanya 2,5-3% dari PDB. Bahkan dalam 2 periode pak SBY ini anggaran hanya sekitar 1% dari PDB. Kisaran angka itu memang masih sangat jauh dari nilai ideal yaitu 5% dari besaran APBN kitasesuai amanat Undang-Undang. Bahkan bila dibandingkan dengan negara yang katakan ekonominya lebih jelek dibanding Indonesia  seperti Vietnam dan Filipina tetapi belanja kesehatan sudah sampai 4-5% dari PDB. Apalagi masalah kesehatan kesehatan yang menjadi prioritas dari Gates adalah sebagian besar termasuk dalam  wilayah  kesehatan masyarakat (public goods)seperti upaya pemberantasan penyakit  yangsebenarnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara. Berbeda dengan  upaya kesehatan perorangan (private goods) yang mana tanggung jawab pribadi masuk di dalamnya, termasuk dalam hal pembiayaannya seperti  terlihat pada konsep asuransi sosial  dimana masyarakat harus berbayar dalam kepesertaannya kecuali bagi masyarakat miskin yang dibayar oleh negara.
Untuk itulah maka Bill Gates dengan segala pesonanya (kekayaan 772 T yang dimilikinya, sikap humble, kedermawanannya, pola pikirnya yang istimewa)   yang   justru tertarik dengan hal yang sering dianggap “remeh temeh” bisa menjadi cermin sekaligus insight baru. Momentum dan tujuan kedatangan beliau ini semestinya juga dibaca sebagai pendidikan  bagi para wakil rakyat, partai  pemenang Pemilu dan presiden baru  nantinya untuk kembali memikirkan  besaran anggaran kesehatan menjadi lebih layak.



·         triastutisgtm004@gmail.com