Sunday, May 24, 2015

menabung listrik



Sore tadi saat   bermain bersama  anak tiba-tiba lampu meredup. Dan berikutnya sudah bisa ditebak. Mati total. Dari PLN tentu saja. Mungkin ada gangguan di kabel, gardu atau yang lain. Atau bahkan bisa jadi kehabisan BBM. Sekilas, kayaknya produksi listrik tenaga diesel membutuhkan solar yang cukup. Sehingga bila solar ‘kehabisan’maka listrik juga bisa mati. Begitu juga bila listriknya dari gas,  maka bila tekanan berkurang maka listrik juga akan byar pet.  Saya tidak tahu pati masalah yang ada, kami mengganggap kena giliran pemadaman saja. Bila giliran pemadaman biasanya sudah ada pengumuman  sebelumnya jadi tidak kaget, bahkan sudah ‘ditungguin’ kapan matinya dengan cara mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau Ini kasusnya beda tiba-tiba mak pet!. Jadi gelaplah seluruh rumah.

Dengan sisa-sisa baterai charger yang ada kami berusaha menerangi sebagian area yang dipakai untuk kegiatan saja. Sebagian yang lain gelap gulita. Sambil harap-harap cemas semoga listrik cepat menyala kembali.  Anakku mengumpulkan beberapa senter kecil serta lampu charge yang untungnya masih nyala. Dalam kondisi listrik mati memang semua jadi serba terbatas.  Dengan lampu yang tidak seterang biasanya mau ngerjakan apa-apa pun jadi malas…..Laptop sudah menunjukkan warna merah artinya sudah juga saatnya harus dicharge.  Pasti tidak bisa buka laptop. Yang lain pun juga sudah tidak punya daya sendiri, sangat tergantung dengan kabel yang harus selalu terhubung di steker.  Untunglah masih ada sisa baterai di hp sedikit. Sehingga masih bisa mengisi waktu dengan membaca status / postingan/ bacaan di internet sedikit. Saat itupun aku sudah gelisah. Sebentar lagi mati juga nih batere. Saat itu ada power bank yang tinggal satu-satu dayanya. Ya memperpanjang sedikit waktu hidup betere. Waduuh sudah gelisah nanti kalau listriknya mati berjam-jam terus mau ngapain ya… sambil menyesali kenapa tadi nggak sempat ngecharge batere hp, laptop dll….listrik mati tanpa kerjaan yang berarti maka ibaratnya mati gaya. Apalagi kalau waktunya masih sore, belum saatnya tidur…..huft…

Aku  jadi berpikir jauh…. Ternyata listrik mati yang tiba-tiba itu adalah adalah ibarat kehidupan manusia juga. Apa jadinya bila kita lupa  batere sebelum listrik mati, maka akan gelaplah semua. Jadi  simpanan daya pada batere hasil charge pada saat listrik hidup akan berguna  pada saat tanpa listrik. Simpanann daya ini  ibarat amal yang kita kerjakan saat hidup dan akan dibawa saat menuju kematian yang akan berfungsi sebagai lampu emergensi yang akan  menerangi di alam kubur yang sejatinya sangat gelap.

 Ya memang biasanya sikap kita yang berkutat pada sesuatu yang rutin akhirnya membawa pada kesibukan yang tiada habisnya sampai akhirnya lupa ngecharge lampu mergensi dalam kasus tadi dan yang jelas sampai lupa ngecharge jiwa /rohani kita

Kasus listrik mati tiba2  memunculkan teknologi  menyimpan daya listrik untuk dipakai pada saat tidak ada cahaya. /listrik mati sekalipun. Teknologi charger adalah sebuah upaya kita untuk selalu menjaga kita punya energy disaat terjadi kemarau /paceklik panjang. Pada saat listrik masih menyala kita bisa menyimpannya di dalam sebuah power bank, lampu emergensi dll. Giliran listrik mati maka kita  tinnggal menggunakannya apa cadangan energy yang kita simpan tadi .

Jadi pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa sebuah ketahanan ternyata hanya bisa dibangun pada saat kita kuat. Sebuah ketahanan  tidak bisa dibangun saat kita sudah dalam kondisi lemah dan sekarat. Maka bila seperti itu hanya tinggal menunggu waktu saja untuk rela dan ikhlas untuk ‘mati gaya’,; untuk bĂȘte; untuk  melakukan alternative lain dengan effort lebih maupun dengan risiko yang lebih besar seperti menyalakan lilin, petromax, api unggun dll.

Ya dari sini kita dididik untuk saving  (menabung). Bahwa ada hari dimana kita akan kegelapan bila tidak menabung listrik dari sekarang. Dengan analogi yang sama kita akan kegelapan di alam sana bila kita tidak menabung amal dari sekarang –yang akan menjadi penerang-di alam kubur. Ya semangat menabung untuk sebuah prediksi yang hampir pasti (listrik mati) maupun yang pasti akan terjadi (sebuah kematian). Tapi yang pertama   menabung seperlunya  dan yang kedua menabung sebanyak-banyaknya…….karena sifat keduanya berbeda dalam hal durasinya. Sementara dan selamanya….

Dan  byar ! alhamdulillah lampu cepat menyala sebelum semua habis. Kesempatan untuk berbenah ….

 

 

 

 

 

Tuesday, May 12, 2015

SEMEDULUR DARI SEBUAH BATU AKIK


 

Keluarga ini sangat ‘welcome’ dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan dengan cepatnya menawarkan bantuan dan berbagai kemudahan kepadaku. Sebenarnya saya kepengin dan sudah berusaha  menolak dengan berbagai alasan tetapi melihat kesungguhan dan ketulusannya akhirnya saya mengalah. Menerima dengan rasa terima kasih dan hormat yang sangat besar. Semoga diberikan balasan yang terbaik dari Allah swt.

Bila  tamunya orang yang  dikenal sebagai tokoh yang dihormati, dituakan memang hal ini  akan dianggap sebagai hal biasa. Kebiasaan bawahan menghormati atasan. Yang bisa jadi akan cenderung dibuat-buat untuk membuat si tokoh/atasan akan merasa senang saja. Dulu terkenal dengan sebutan ABS /IBS (asal Bapak/Ibu Senang). Tapi bila hal ini dilakukan pada orang yang sebenarnya  sangat biasa bahkan lebih rendah status sosialnya, jabatannya, atau yang lainnya maka inilah yang aku sebut sebagai semedulur.

Istilah ini dulu sering kudengar  saat kecil. Adalah istilah jawa (mungkin Banyumasan, tempat kami  berasal dan tinggal ) yang berrti merasa bersaudara dengan tulus dan ikhlas. Tanpa pamrih. Pada saat itu ibuku sering memakai istilah itu untuk menyebut orang lain yang dengan kebaikannya, keramahannya, sikap mau berkorbannya  seperti kepada saudara sendiri (sedulur). Padahal jelas itu adalah orang lain yang jauh hubungan darahnya.

Semedulur inilah yang sekarang makin sulit dicari. Di jaman yang segala sesuatunya dihargai dengan material maka sikap dan sifat seperti ini dianggap tidak akan  menguntungkan. Karena tentu saja dalam hal ini maka si tuan rumah (jika kasus menginap) maka akan banyak berkorban dengan segala sesuatunya untuk si tamunya.

Ya banyak sekali keluarga-keluarga yang saya kenal sangat baik penerimaannya terhadap para tamunya. Bahkan yang baru dikenalnya  sesaat. Entah dalam perjalanan, bersua dalam sebuah pertemuan/rapat maupun memang teman lama. Mereka menerima dengan tulus  para kenalannya baik dengan kata-kata yang santun dan baik, memperlakukan para kenalannya dengan sangat baik, lebih dari cukup. Bahkan seringkali memberikan bantuan dan kemudahan, seperti yang kuterima ini.

Rasanya tidak terhitung  aku menerima nikmat dan rejeki  yang  serupa dalam berbagai kesemptan dan di berbagai kota yang kusinggahi. Di Bandung dengan pak taxi yang memberiku kesempatan menitip koperku sebelum  ada pertemuan di sebuah hotel. Di kota ini juga aku bersama rombongan beberapa orang (ibu DAP dan  MTQ)  dari Jogja berkesempatan tinggal dan menginap di rumah teman FH saat pelatihan costing study. Di Tanah laut Kalimantan selatan tahun 2010/2011  aku berkesempatan  jalan-jalan dengan kenalan baruku di sebuah pertemuan bahkan sampai untuk singgah di rumah beliau. Belum lagi  saat itu,  aku dipertemukan dengan saudara jauh suamiku di areal bandara Banjarmasin yang kelaurga suami sendiri  puluhan tahun belum pernah bertemu kembali sampai sekarang ini.

Ini baru sebagian kecil  rasa semedulur  yang aku terima melalui orang lain…. Pernah juga aku ditolong di Hanoi, Vietnam saat bersama  beberapa teman ada masalah dengan hotel yang sudah dipesan sebelumnya saat di tanah air. Karena kita datang tanpa melalui agent travel maka segala sesuatunya harus diurus sendiri. Dan temankulah yang ketemu di sebuah kursus itulah yang menjadi dewa penolong kami. Dengan hadirnya dia kendala bahasa kami dengan recepsionis yang ada di hotel butik itu menjadi terpecahkan. Bahkan aku diajaknya mampir ke flatnya dan menjamu aku dengan  tata cara dan hidangan khas mereka.

Saat ramai-ramainya isu batu akik sekarang ini maka aku juga baru ingat kalau aku pernah diberi seseorang teman perempuan sebuah mutiara dan batu yang cukup bagus. Setelah sekian lama batu itu mengendap di dompetku tanpa tahu mau aku apakan,  ternyata  saat teman yang lain browsing tentang batu2 maka aku lihat ada sebuah kemiripan warna dengan  batu yang aku sendiri  ingat-ingat lupa. Ternyata rasa penasaranku terjawab saat aku coba keluarkan kenanag-kenangan yang aku pernah dapatkan itu yang bahkan siapa pemberinya pun aku lupa. Bukan berarti tidak bersyukur tapi memang pemberian batu itu saat dulu tidak terlalu paham bagaimana cara menikmatinya. Sebenarnya memang sangat salah menghargai sebuah pemberian  dari sebuah nilai barang. Karena yang jelas bahwa semua pemberian  sudah diniatkan untuk sebuah penghormatan.  MUngkin kita bisa beli sesuatu itu, tapi sesungguhnya yang tidak bisa kita beli adalah niat baiknya itu.

Jadi nilai pemberian batu akik  warna biru dengan gurat emas yang kata teman itu adalah batu pirus  yang  aku sendiri sampai lupa. . Maka dengan ini aku ucapkan terimakasih banyak. Walaupun seingatku dulu aku juga sdh bilang terimakasih. Tapi dulu saya tidak tahu betapa berharganya batuan ini sampai saya dipertemukan dengan teman penggemar akik –pagi ini-  yang mendiagnosa batu yang  aku keluarkan  saat aku penasaran dengan kemiripan batu seperti yang di browsingnya.  Ya terimakasih teman… semoga pemberianmu ini mendapatkan balasan yang terbaik juga dari Allah swt.

Ya sekali lagi bukan apa dan berapa nilai barang yang kita terima  karena  niat baiknya itulah yang sudah menempatkan dia pada sebuah tempat terhormat  bahkan juga untuk kita yang diberinya, minimal terhormat  menurut sudut pandang si pemberinya.  Memang pemberian  sekarang juga sudah dianggap bermasalah bila “ada udang di balik batu” alias gratifikasi.  Kayaknya pemberian materi harus dari atas ke bawah karena memang di situ dianggap tidak ada kepentingan apapun dari atasan ke bawahan. Khususnya mengharapkan ‘sesuatu’ di baliknya. Sementara  dari bawah ke atas bisa memberikan senyuman, keramahan, sikap terbuka untuk membantu dll,  Itulah semedulur yang sebenarnya…menurutku..

Sunday, May 10, 2015

Prasangka

Prasangka
Aku terjaga pagi ini. Masih 02.30. Karena masih ngantuk, antara sadar dan tidak aku merasa ada yang aneh pagi ini. Bukan mimpi. Ternyata pelan-pelan pintu kamar didorong oleh tangan dari luar. Pintu kamar terbuka. Sesosok wajah laki –laki asing muncul dari balik pintu. Dengan kaget aku teriak …”hey siapa kamu? Kenapa masuk ke rumahku?” Dia yang juga kaget langsung membalik badannya dan dengan cepat dia bilang “pintu rumah ibu terbuka jadi saya mau nutup”…. Hah?. Kok bisa dia tahu pintu rumah terbuka. Sedangkan pintu itu adalah pintu samping yang untuk mengaksesnya juga harus masuk pintu luar dulu (pintu garasi). Saya agak kurang puas bertanya lagi dengan suara keras “mana rumahmu ?”. Sudah pakai kamu-kamu. Saya ngerasa nggak sopan juga. Tapi biarlah. “ saya dari kampong X” dia menyebut nama kampong dimana rumahku ini berdiri….wah orang dekat rupanya. Tapi selama ini saya tidak pernah melihatnya. Mungkin aku yang kurang perhatian sama tetangga. Eh tapi dia juga bukan tetangga dekat kok. Dia tidak kenal kami. Saya pun tidak kenal dia. Dia lantas berkata dengan takut2…”jangan salah sangka bu. Saya membantu menutupkan rumah ibu yang pintunya terbuka”. Di tengah kekagetanku, aku sempat berhitung dengan kekuatanku andaikan ada beberapa orang mereka datang. Aku hanya sama anakku yang kecil; Ada saudara dan mba di kamar lain. Untung dia cepat berlalu. Lantas aku dengan cepat tutup pintunya. Biasanya aku selalu kepengin tahu bagaimana proses dan motivasinya sesuatu untuk terjadi. Khususnya laki-laki bertopi itu untuk masuk ke rumah orang di pagi buta; mendorong pintu kamar orang untuk memberitahu si tuan rumah kalau pintu rumahnya terbuka.. …aku berdialog dengan diri sendiri. Niat baik? Kayaknya mustahil.
aku tulis ini dengan sambil masih wait and see kalau mereka masih ada di luar. Cuma anehnya pintu garasi yang di luar juga tidak berbunyi saat dia keluar. Aku belum berani kontrol keluar. Tapi logikanya mungkin pintu garasi benar terbuka. Mungkin memang dia benar mau menutupkan pintu itu. Mungkin memang benar dia mau membantu kami yang terbuka pintunya yang bisa jadi aku lupa menutupnya kemarin malam. Ya mudahan memang itu niat orangnya…. Bukan untuk yang lain. Na’udzubillah////
Ya disatu sisi aku harus percaya apa yang dia ucapkan (sebuah niat baik untuk menutup pintu yang terbuka) walaupun terus terang dalam hati kecil masih juga prasangka kalau dia pasti akan berbuat jahat. ….Ya bisa jadi orang ini mempelajari situasi di rumah yang sepi saat Ayah berangkat…. Muncul beragam gambaran dalam otakku. Bisa jadi akan berbeda saat aku tidak terbangun pagi ini ….ya bisa jadi orang ini uung berbuat jahat setelah kepergok… dst, dst. Entahlah…Harapanku bila dia punya niat jahat maka akan diterangi hatinya oleh Allah untuk segera bertobat. ……satu hal bila dia memang punya niat baik, maafkan hamba yang sudah marah dan membentak dia.
Ya prasangka memang kadang muncul begitu saja. Seringkali prasangka muncul dari persepsi yang kita bangun sendiri. Sementara persepsi bisa jadi didapat dari banyak hal. Yang pasti adalah adanya background dan latar yang mendasari munculnya sebuah persepsi. Ya dalam hal ini berdasarkan hasil baca-baca Koran, lihat-lihat acara criminal di TV dan berbagai cerita buruk orang tentang maraknya pencurian di kota kecil ini maka persepsi saya tentang orang ini sdh terbayang yang sangat jelek. Pencuri, perampok atau bahkan yang lain yang lebih buruk lagi….dan akhirnya memang yang keluar adalah prasangka buruk dengan sebuah bentakan dan kemarahanku pada orang ini ………di pagi buta ini.
Yang jelas dari persepsi dan jenis prasangka itulah akan memunculkan tindakan seseorang yang dianggapnya sdh paling benar. Kadangkala kita sdh ‘keukeuh ‘ dengan pendapat dan persepsi kita, walaupun orang lain juga punya “angle” yang berbeda. Nah saat seperti inilah seharusnya kita dengan sukarela dan ikhlas kembali menilai apakah sesuatu yang kita yakini apakah memang sdh pas atau belum. Menimbang-nimbang lagi dari sisi-sisi yang kita tidak lihat sebelumnya. Saat gajah dipersepsikan dan digambarkan berbeda-beda bentuknya oleh 6 orang buta menjadi pelajaran bagi kita bahwa sebaiknya kita melihat sesuatu bisa dari semua sisi. Bukan hanya dari kacamata kita saja. Mungkin ‘kacamata’ yang kita pakai hanya menunjukkan bahwa gajah hanyalah seperti kipas besar saat yang kita raba hanyalah kuping gajah saja. Gajah bisa jadi hanya digambarkan belalainya saja yang panjang dst, dst. Tetapi dengan dibantu orang buta lain maka kita akan lebih kaya dalam mendeskripsikan sesuatu- walaupun bisa jadi kita masih sulit mengambil kesepakatan dan kesimpulan. Tidak jarang dalam proses mengambil kesimpulan ini akan saling otot-ototan merasa yang paling benar. Yang mau saya katakan bahwa setidaknya dari orang yang berbeda akan muncul 2 pandangn yang berbeda. Nah memang yang terbaik adalah bila dibantu dengan orang lain yang mempunyai mata lengkap alias tidak buta (baca : ahli) maka deskripsi akan menjadi lebih utuh dan komprehensif. Permaslahannya seringkali sesama orang buta ini tidak ada yang berbesar hati untuk mencari tahu sumber lain yang sama2 disepakati. Akhirnya mereka punya kesimpulan sendiri yang jauh dari kenyataan.
Saat kita menjadi orang buta yang kurang terbuka hatinya maka saat itulah kita akan selalu merasa paling benar, tidak terbantahkan, sulit menerima masukan dari yang lain, sulit diajak kerja sama untuk berdiskusi dst, dst…
Ya mudahan kita bukan termasuk golongan itu. Harapannya kita adalah menjadi orang yang melek dalam segala urusan. Tapi semua tentu ada keterbatasannya. Kita tidak akan ahli dan cakap di semua bidang. Maka andaikan kita pun kurang pengetahuan untuk suatu hal semoga dimudahkan ketemu orang “melek” yang lebih ahli untuk bertukar pikiran, dimudahkan untuk ketemu bacaan yang lebih mencerahkan, ketemu pengalaman yang lebih mendewasakan, diberikan insight dan ilham oleh Allah swt…. Semoga dengan itu maka persepsi dan prasangka yang kita bangun, deskripsi yang kita berikan, serta tingkah laku yang keluar menjadi makin baik….

Tuesday, April 28, 2015

Bertemu Sosok Kartini Masa Kini



Bertemu sosok kartini masa kini

Bulan April di penghujungnya. Masih lekat ingatan kita dengan sosok yang lahir 21 April ini. Ya, ibu kita Kartini. Sosok yang dikenal sebagai pejuang perempuan dari Jepara ini. Surat-suratnya yang indah terangkum memberikan banyak  sekali inspirasi.  Salah satunya adalah bahwa perempuan berhak mendapat pendidikan yang setara dengan pria. Ya saat di jamannya masih ada belenggu-belenggu yang memenjarakan wanita dalam kebodohan maka pemikiran Kartini jauh melampaui jamannya. Sesungguhnya pengembaraan pemikiran dan jiwanya masih banyak yang belum terungkap oleh sejarah. Dan yang sampai sekarang menjadi  salah satu rujukan adalah bukunya yang diterjemahkan dengan secara leksikal Habis gelap terbitlah terang. Walaupun di sisi lain juga ditafsirkan bahwa ada sebuah cahaya baru yang menaunginya setelah sebelumnya berada dalam sebuah kejumudan.  Makna yang dinukil dari sebuah surah di dalam kitab umat muslim.  Lepas dari pro kontra makna judul bukunya, tetapi yang jelas inspirasi Kartini tidak akan pernah  lekang oleh waktu.

Saat menunggu antrian di bandara pagi itu aku bertemu sosok yang menurutku cukup pas  sesuai momen April. Saat itu 18 April. Seorang muda  yang berpenampilan cukup bersahaja untuk perjalanan jauhnya yang mau ke LN. Dengan menenteng sebuah tentengan dari kardus beserta tas ransel aku mendengar dari belakangnya saat check in dia menyebut hongkong  sebagai tujuannya. Akhirnya aku pun menanti saat itu. Duduk bersama daan berkenalan dengannya.

Dia menceritakan kisahnya yang sekarang merantau untuk memenuhi kontraknya menjadi asisten rumah tangga nya di Hongkong. Yang sungguh luar biasa adalah bahwa sejak dia berangkat ke sana dengan tujuan membantu keluarga maka dia meniatkan akan pulang dengan status yang berbeda.  Niatnya yang mengeras itulah membawa dia pada sebuah tekad kuat yang tidak pernah padam. Belajar dan elajar di sela-sela waktunya. Untungnya majikan mendukungnya. Sebuah perjuangan yang tidak mudah.  Bayangkan anak baru lulus SMP, pada akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan SMA dengan semacam kejar paket. Juga saat ini sedang mengambil jurusan bahasa inggris dan akuntansi. Sebuah pencapaian yang sngat luar biasa untuk anak muda  yang berasal dari kalangan kebanyakan ini.

Dibutuhkan sebuah kekuatan yang berlipat-lipat  untuk  bisa meraih semuanya. Dan  satu hal bahwa ternyata bukan sesuatu yang berjalan mulus saja tanpa kendala. Satu cobaan yang sangat berat adalah jauhnya dari keluarga yang mendukungnya. Hongkong yang menawarkan segalanya juga menjadi godaan yang tidak kalah berat. Tapi dia sudah mengalahkan semua “lawan-lawannya” itu. Bahkan  sdh bertransformasi jauh lebih dari kita-kita yang situasinya lebih normal saat mudanya….sekarang dia sudah menjadi seorang penulis yang bukunya diterbitkan…wow…luar biasa….!!

Ya bagiku dia adalah Kartini masa kini. Yang mampu bangkit dari sebuah kegelapan dan keterpurukan menjadi sebuah jalan yang terang dan penuh kemuliaan. Status  buruh migran tidak menghalangi untuk meraih sebuah kemajuan.  Ya inilah insprasi kartini masa kini. Bukan hanya sekedar membawa pundi-pundi rupiah dalam genggamannya tapi jauh lebih dari itu. Membawa value baru yang menurutku sangat konstruktif.
Sungguh pertemuan singkatku  dengan teman-teman perjalanan yang sangat bermakna.  Dari banyaknya kawan baru di jalan, ini salah satu yang membuatku semakin iri. Iri pada sebuah transformasi diri yang sangat fantastis. Bukan hanya yang secara kasat mata tetapi juga perjalanan ruhiyahnya. Subhanallah.    Semoga semangat nya juga  ada pada diri kita dan akan tetap menyala sepanjang hayat

Wednesday, April 15, 2015

Momentum KAA dan Bandung Berbenah


Momentum KAA  Bandung  Berbenah

Dalam buku sejarah kita ingat konfrensi asia afrika yang pertama dulu diadakan di kota Bandung.  Tokoh-tokohnya  sekilas masih ingat  adalah  ali sastro amijoyo, U Nu, Sir john Kotelawala,  Jawaharlal Nehru.  Ya saat itu 1955, Bung Karno yang masih menjabat Presiden RI. Konfrensi yang mengumpulkan Negara selatan-selatan itu menelurkan kesepakatan  yang antara lain  menyatakan adanya persamaan hak dasar manusia  serta adanya persamaan semua suku dan bangsa baik yang besar dan yang kecil….sesuatu yang sangat luar biasa  karena saya rasa menjadi keinginan bagi semua orrang dan bangsa manapun di dunia dengan sebuah kemerdekaan sejati.

Dalam era modern ini, 60 tahun setelah KAA berlalu akan diadakan pertemuan selatan-selatan lagi yang mencoba menelusuri semangat dari yang pertama. Banyak sekali agenda acara yang disiapkan.  Oya jangan lupa tagih janji politik untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Hari gini masih ada penjajahan oleh bangsa lain…sesuatu yang menyedhkan. Jadi memang  kemerdekaan  bagi bangsa adalah sesuatu keniscayaan ….

Dalam rangka itu pula maka Banduug di setiap sudut kotanya sedang berbenah diri. Khusus di jalan Asia Afrika yang banyak terdapat heritage sedang  dipercantik.  Tembok yang kusam Dicat, pedestrian  dibersihkan. Diperbaiki dan diberikan pot bunga warna warni serta beberapa kursi di pinggir jalan.  Sangat menyenangkan. 

Tapi aku melihat bahwa Bandung tidak sekedar sedang di make up yang seringkali hanya menutupi bopeng di wajah. Tapi  aku melihat Bandung sedang berbenah yang sebenarnya. Menggalang  jiwa gotong royong dan solidaritas untuk sebuah kebaikan. Secara fisik , sepanjang jalan  AA aku melihat kegiatan yang dilakukans secara serentak oleh semua pemilik/penghuninya. Menyusuri  jalur pedestrian yang cukup lebar dan bersih sepanjang jalan Asia Afrika, Braga  serta beberapa jalan lain, menjadikan  Bandung sekarang berbeda dengan beberapa waktu yang lalu yang  sempat  jadi lautan sampah. Bandung rapi, hijau dan bersih.   

Di sisi lain entah ada hubungannya atau tidak  situasi dan  penampakan luar di pelayanan publiknya juga demikian. RS yang kami kunjungi sangat bersih. Hijau dan asri…(aku beranggapan ada hubungannya walaupun tahu juga dalam manajemen yang berbeda . Tidak terlihat sampah buatan manusia  sama sekali. Bahkan   bunga anggrek menghiasi beberapa sudutnya. Terdengar juga suara  hewan yang aku sebut sebagai tonggeret ( suara hewan yang hidup di pohon2/ hutan ) ….wow !!  Sangat luar biasa…

Walaupun ‘hanya sekedar’ kebersihan dan kenyamanan  yang sering  disebut sebagai pekerjaan “ketok moto” , tetapi ternyata tidak semua kota / fasilitas pelayanan public bisa mengelolanya. Menurut kebersihan dan kerapian kota adalah sebuah “fasilitas” fisik yang harus tersedia dan layak dinikmati semua penghuni kota. Bila sebuah kota tidak bersih maka kota itu dianggap tidak menyediakan fasilitas yang seharusnya.

Ingatanku melayang ke Surabaya, yang juga sangat bersih dan hijau.  Aku berkesimpulan bahwa  untuk mewujudkan kebersihan dan kenyamanan di setiap kota (yang terlihat sepele dan gampang )  ternyata  memang ternyata tidak mudah  untuk mewujudkannnya  Membutuhkan strong leadership dan management yang sangat luar biasa dari para pemimpinnya.  Ya Bandung memakai momentum KAA  ini untuk menunjukkan jatidirinya yang JUARA. Walaupun sebenarnya saya tahu bahwa jauh sebelum KAA ini Bandung sdh berbenah cukup lama.  Di tengah-tengah Bandung sendiri yang sedang dan tidak henti-hentinya berbenah sejak dipimpin oleh walikota kelas dunia  maka momentum KAA ini juga makin memperlihatkan kecantikan kota Bandung dengan  perjalanan sejarahnya. 

Banyak kota lain yang lebih kecil dari Bndung dan Surabaya tapi toh belum berhasil dalam pengelolaan kebersihan dan kenyamanannya. Dua orang pemimpin muda kita ibu Risma dan Bapak Ridwan Kamil yang sudah berhasil memimpin dengan hasil baik tanpa kehebohan yang tidak perlu.  Kayaknya kita harus makin banyak belajar deh…

Wednesday, March 25, 2015

Sebuah Diksi


Sebuah Diksi

Saat kami kecil, ibu saya setiap saat mengajari kami untuk  menggunakan boso Jowo  kromo (Kromo inggil).  Setahuku kromo inggil  adalah Sebuah pakem bahasa Jawa yang sangat menghormati orang yang lebih tuaa, orang dengan kedudukan yang terhormat dll.  Saya seringkali terbalik-balik memakai nya. Seringkali untuk diri sendiri memakai bahasa yang sangat halus, sebaliknya untuk orang lain justru yang sangat kasar. Dalem badhe siram, njenengan sampun adus? (he..he. secara leksikal siram dan adus sama mengacu pada istilah mandi yaitu membersihkanbadan dengan air). Tetapi memang secara “rasa” bahasa sangat berbeda. Siram adalah lebih halus daripada adus . kata s’siram’  sebaiknya dipakai untuk yang lebih tua, orang yang kita hormati dll. Menurut pengetahuanku bahwa bila kita membahasakan dengan lebih halus untuk diri sendiri dan otomatis yang lebih kasar untuk orang lain maka berarti itu dianggap kita menyalahi pakem boso kromo tadi.

Walaupun kadang terkesan sekedar lip service bin basa basi tapi kromo inggil yang diucapkan dengan ikhlas menurutku mengandung penghormatan yang luar biasa.  Mungkin itu di Jawa. Kata yang lain seperti  : kula badhe matur (saya mau bicara…)  menjadi berbeda nuansanya bila Ibu badhe ngendhika …. (ibu mau bicara…). Sama2 berarti bicara tapi ada nunsa yang berbeda di dalamnya. Itu  memang rasa bahasa orang Jawa.

Tentu saja bila berasal dari suku lain mungkin akan sulit memahami. Karena kita memang  beragam . Secara ekstrim kadang apa yang menurut kita tidak pantas tapi justru bagi suku yang lain justru itu yang baik. Atau bahkan sebaliknya.

Bahasa Indonesia menjadi sebuah solusi.  Supaya tidak ada salah paham  tentang diksi antar suku.  Jadi dengan bahasa yang sama yang digunakan maka setidaknya perbedaan persepsi tentang arti sebuah kata akan makin kecil.

Saat kata/ istilah  b****gan atau istilah  ‘seram’  lain  akhir-akhir menempati bahasan yang cukup panas bahkan sampai memasuki pro kontra tokoh yang mengeluarkannya.  Sampai akhirnya  juga  adanya permohonan maaf dari Sang tokoh  karena adanya bahasa toilet yang sempat beliau lontarkan menjadikan  konten bahasa Jawa yang dulu sering saya kritik tidak egaliter menemukan “rohnya”.

Maka saat dulu di dalam bahasa Jawa ada bahasa kromo inggil yang membeda-bedakan pemanfaatan kata sesuai dengan kedudukan maka sebenarnya dalam bahasa persatuan kita sudah tidak ada lagi. Maka keegaliteran bahasa Indonesia kita semestinya tetap harus mengandung kehatian-hatian sebagaimana substansi kromo inggil dimana menempatkan diksi menjadi utama. Bagaimana bahasa menunjukkan bangsa katanya. Walaupun dalam konteks kromo inggil terkesan tidak adil, tapi sebenarnya justru terkandung ajaran yang sangat luar biasa. Menempatkan lawan bicara sebagai orang yang harus dihormati. Ternyata pilihan kata pada era sekarang saat media begitu mudahnya untuk menyiarkan ucapan aslinya ke seluruh penjuru dunia, maupun saat gadget ada di tangan dan dengan mudahnya menshare status tulisan apapun yang ada, maka diksi menjadi sebuah perkara besar.


Bukan bermaksud menghakimi maka diksi menjadi sebuah kemampuan dasar dalam berkomunikasi.Bagaimana diksi yang salah tempat, salah orang dan waktu justru akan menjadi pedang bermata dua.  Alih-alih jadi lucu tetapi seringkali status pendek itu pun bisa menimbulkan banyak tafsir yang ujung-ujungnya rusaknya silaturahim dua orang/pihak. Bahkan ada yang sampai tuntutan hukum.

Ya diksi sebagai produk dari pikiran yang bisa ditorehkan oleh jari lewat ketikan di keypad gadget maupun  lewat lidah melalui  suara memang sudah saatnya untuk kembali dipelajari.  Walaupun sebagian menganggap sepi pro kontra diksi. Katanya ; ‘ yang penting substansi atau konten”. Tapi bagaimanapun menurut saya sih konten/substansi belum tentu “masuk” saat kemasan yang dipilih sudah menghabiskan  banyak energi duluan untuk berbantah-bantahan.

Dengan  ‘kegaduhan’ itu maka konten yang sangat positif pun menjadi akan kurang berarti.  Padahal dengan diksi yang berbeda sedikit maka bisa jadi akan membuat isu itu menjadi besar dan penting.

Nah mungkin  inilah PR  bagi para pakar bahasa Indonesia –kalau boleh saya usul- untuk mengumpulkan diksi yang sudah secara umum  dalam bahasa Indonesia mempunyai arti umpatan,  kata kasar  dan lain-lain beserta artinya. Bukan untuk dipakai tapi justru supaya makin dipahami dengan itu akan berpotensi membuat semua orang, semua  jenis golongan manusia  Indonesia akan merasa tidak nyaman untuk mendengarnya.  Sehingga kita akan semakin hati-hati dalam memakaianya apalagi di ruang public seperti  berbagai ruang media sosial dan media lainnya. So,…..

Kata-kata  punya makna………….

Diksi (pemilihan kata) menjadi sebuah keniscayaan………….

Sunday, March 15, 2015

Menadah air hujan: memanen tanpa menanam



Seonggok sampah  gleas plastic yang berisi air mineral bertumpuk di sudut  penampungan sampah sementara itu.  Gelas dan botol mineral  sisa sampah orang yang  hajatan/pertemuan biasanya akan berhambur di dekat TPS yang dekat rumah.  Juga pagi ini saat aku buang sampah di tengah pagi buta ini.

Menariknya rata-rata  masih ada separuh atau bahkan masih ¾ gelas air mineral itu masih terisi Seringkali saat kita minum air kemasan maka sisanya kita buang begitu saja. Padahal masih ada  setengah bahkan tiga perempat botol. Jadi untuk mengambil ukuran   air minum sebenarnya kita harus “menakar” dulu kemampuan kita untuk menghabiskan. Bila kira-kira dengan satu gelas sudah cukup maka tidak perlu mengambil air mineral ukuran 500 ml, 600 ml atau bahkan 1 liter.

Bila yang tersedia memang cukup besar dan kita tidak mampu menghabiskan maka bila masih ada sisa/ lebih maka sebaiknya sebisa mungkin  tetap termanfaatkan. Karenanya saya seringkali membawa botol –botol air mineral  sisa  dari hajatan, pertemuan. Kadang saya cuek saja dengan gaya pegang botol sekeluar dari pertemuan. Bukan masalah apa-apa tapi karena  merasa sayang sisa airnya terbuang  percuma. Padahal sebetulnya masih bisa diminum lagi atau kalo sdh tdk layak ya untuk cuci tangan atau siram-siram  tanaman.. Pertemuan di hotel seringali setiap sesi  akan berganti air mineral yang di atas meja kita. Bila setiap  sesi kita buka air mineral baru maka bisa dibayangkan betapa banyak air yang terbuang setelahnya.

Saya salut sama teman-teman yang membawa air minum dalam botol tersendiri. Biasanya orang2 itu  lebih menghargai baik isinya yaitu air minumnya maupun penggunaan kemasan habis pakai itu. Cara berhemat  sumber daya yang terbatas dengan sangat cerdas.

Ya berbicara pemanfaatan sumber daya khususnya air maka banyak hal yang selama ini  kita kerjakan sebaiknya  kita telaah lagi.   Sepulang dari TPS  jalan yang kulalui pagi itu  sebagian ada yang basah dan sebagian kering total. Sepeda yang kukayuh pagi itu keluar dari rumah saat  gerimis kecil  kemudian sampai tempat pembuangan sampah   gerimis sementara agak membesar. Saat berbalik arah pulang ternyata jalan yang saat pergi masih kering ternyata sdh basah, tapi gerimis di wilayah itu sudah berhenti.  Saya sudah berharap  mudah-mudahan di komplek perumahan sudah hujan juga.

Giliran masuk ke komplek perumahanku  ternyata kering sama sekali. Padahal sudah berhari-hari berbagai ukuran container air mulai dari ember dan  bak sudah berjejer rapi di bawah talang. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih kami yang paling murah meriah  sebenarnya adalah  air hujan itu. Tapi ternyata pagi itu harapan untuk mendapat air hujan kembali pupus.

Ya saat sebagian wilayah di ibukota terendam banjir di hari-hari ini maka  kami justru  sedang menunggu –nunggu hujan  turun. Kita – warga kota pulau- memang sedikit banyak tergantung dengan air hujan untuk sumber air bersih. Jadi menanti  air hujan turun  adalah menjadi bagian penting dari salah satu  rutinitas dalam  hidup kami..   Walaupun ada aliran air dari PDAM tapi di tempat yang sumber airnya hanya mengandalkan air permukaan, maka tidak ada hujan juga berarti kering juga air dari  PDAM nya.  walaupun di sebagian tempat ada sumber air, tapi  tentu saja untuk membawanya sampai ke saluran air di rumah kita juga butuh upaya. Yang paling gampang adalah dengan membeli air profil/tangki. Tapi membeli air bersih pun harus antri. Kadang-kadang antara hari pemesanan dan pemenuhan pesanan seringkali ada jeda yang cukup lama. Karena di “musim kering’ seperti ini semuanya antri mau beli air bersih.

Jadi wajar bila hari-hari ini kita selalu berhitung  dengan mendung dan angin—sesuatu  yang ditunggu-tunggu kehadirannya.  Ada nya drum, profil, ember-ember yang terbuka  di bawah talang air sebagai wadah yang sengaja kita siapkan untuk menampung air hujan yang turun manjadikan istilah memanen air hujan menjadi jamak di telinga.

Inilah kayaknya salah satu kasus memanen yang tidak perlu  menanam dulu.  …..Padahal  jamaknya untuk menuai sesuatu maka harus ada yang ditanam sebelumnya.   Panen padi setelah menyemai  padi. Di kasus yang lain walaupun kiasan tapi mirip juga :siapa menabur angin maka akan menuai badai.. Jadi menyemai dan menanam dulu, baru akan memanen hasilnya.

Sehingga menurut hemat saya istilah memanen air hujan agaknya  berlebihan.  Kita tidak punya peran dalam menurunkan hujan-walaupun di beberapa kasus ada hujan buatan. Tapi sesungguhnya  sangt kecil  atau  bahkan  hampir tidak pernah ikut andil  di dalamnya dalam penentuan siklus-siklusnya tadi. Dalam  perkembangan ilmu   ada banyak   upaya  menjaga ketersediaan  siklus air  seperti pembuatan biopori, upaya menjaga lingkungan /tanaman/hutan, tapi ternyata dalam “pemilihan”  lokasi hujan kita sama sekali berperan.

Jadi  menurutku yang agak  tepat kayaknya adalah ‘menadah” air hujan. Cuma istilah menadah/menampung terkesan hanya menunggu saja dan  cenderung  tidak “seksi”. Dalam memanen air hujan  di sini ada peran aktif untuk menahan air hujan yang datang supaya tidak lari begitu saja ke pembuangan  akhirnya yaitu laut.

Jadi walaupun berlebihan istilah  memanen air hujan  dianggap bisa mewakili sebuah upaya  untuk memanfaatkan sumber daya yang ada (air hujan) untuk sebesar-besar manfaat.

Ya istilah memanen air hujan dimana kita memanen tanpa menanam  menjadikan kita perlu “malu” untuk membuang- buang  sumber daya air yang ada. Karena ternyata kita semata-mata hanya menadahkan ‘tangan” saja. Menadah berarti kita hanya menunggu dan bergantung dengan kemurahan yang akan memberi. Kepada Sang Pembuat dan Pembagi  air  hujan saja  kita bergantung . Jadi marilah kita berhemat  air.!!