Tuesday, December 16, 2014

Sebuah Ironi : Bencana yang Dikehendaki




Matahari belum tinggi, tapi situasi di  beberapa sudut ibukota sudah ramai lalu lalang orang yang  mencari transportasi bis, metromini, taxi, ojek dll. Suara mesin  kendaraan dan klakson  yang bersahut-sahutan sudah memecah pagi  yang hening. Begitu juga asap dan gas buang kendaraan mengikutinya dari belakang. Masing-masing tenggelam dalam  rutinitas kegiatannya. Pak ojek menunggu penumpang dengan helm yang siap di motornya. Pekerja berjalan bergegas berlari mengejar kendaraan ini untuk bisa sampai di tempat kerjanya tepat waktu.  Pedagang bubur ayam, roti, makanan ringan, tissue, sibuk melayani pembelinya dalam diam. Pasukan kuning (pak sampah) sibuk memunguti sampah yang tidak pernah habis di sekitar jalan protocol yang paling bregengsi di ibukota.  Ada sebuah kesamaan yang menarik dari  rata-rata para pria berbeda profesi  (dilihat dari seragam dan baju yang dikenakannya) di sekitar tempat itu. 
 Saya melihat candu rokok ini sudah menguasai semua lapisan. Ada seorang menteri yang mempertontonkan kebiasaan merokoknya di layar kaca tanpa rasa bersalah- walaupun belakangan sudah menyatakan akan stop.  Tapi opini sudah  kadung terbangun.  Ada bapak bapak pejabat dengan mobilnya yang berplat merah mengisap rokok sambil menyetir, waduuh….! bahkan   yang menyedihkan bahwa semua pekerja  seperti pak satpam, bapak pemulung, pedagang kecil, sopir yang –maaf- ada kemungkinan  uang untuk beli rokoknya masih lebih besar daripada untuk membelikan makanan bergizi untuk anaknya.  Menyedihkan sekali saat mereka lebih mengedepankan “kesenangannya” dibanding untuk yang lain bahkan kesehatannya. !  Ironisnya , bahkan  banyak  juga para aparatur di lingkungan kesehatan yang sedemikian menikmati nya sampai melupakan bahwa kawasannya adalah salah satu yang seharusnya KTR. Yah,  candu rokok memang sudah  tdk mengenal usia, profesi, kedudukan, jabatan, status social dll.
Hmm…ingatan saya melayang saat  bertahun-tahun lalu pernah ke negeri sebelah yang pegawainya-   seperti PPNS di tempat kita- memburu perokok  yang tidak patuh dengan denda… bahkan  diajaknya kita mencari puntung-puntung yang sudah tergeletak di tanah, yang  ternyata  sangat sulit untuk menemukannya!.  Membandingkan dengan saat  saya jalan di sebuah sekolah tinggi kesehatan yang berdampingan dengan  sebuah kantor kementrian kesehatan di ibukota sepulang jalan-jalan pagi bahkan baru beberapa meter saya menemukan ada sekitar  7 bungkus rokok, apalagi puntungnya !!
Membicarakan “tuhan 9 senti” ini memang akan membuat miris …..saat pengusaha menjadi paling kaya di dunia karena menjadi produsen dalam  industry ini,  akan sangat  kontras  di sisi lain saat semua pegawai  kecil justru akan menjadi semakin miskin saat sudah larut dalam belitan untuk menjadi konsumennya.
Banyak sekali data  dan informasi yang menyatakan bahwa  produk tembakau ini lebih banyak mudharatnya  daripada manfaatnya.  Tapi semua   itu lebih banyak diabaikan. Hanya beberapa saja yang patuh pada peringatannya.   Pertambahan prokok pemula di usia yang sangat dini  belum membuat kita menjadi “ngeh”.  Sebuah ancaman nyata yang dapat menjadi pintu masuk untuk ‘yang lain-lain’ mengikutinya.  Tidak terlalu berlebihan bila kiranya narkoba akan menjadi ancaman berikutnya bagi jiwa-jiwa yang masih labil.
Saat kabut asap  beberapa waktu menyeruak menyelimuti beberapa wilayah di  Kalimantan, maka semua teriak butuh masker untuk menangkal  efek asap  dari bahaya asap  kebakaran hutan itu. Ada sebuah anomali di saat yang sama  saat  bencana asap yang dikehendaki  dari  sebuah rokok menyerang maka alih-alih menghindar, bahkan  rata-rata   mendekat dengan berbagai alasan.Yang jelas aroma tembakau sudah menyeruak ke mana-mana di berbagai ruang dan kalangan. Ironi sebuah bencana asap  yang dikehendaki ….!

Wednesday, November 26, 2014

Di Antara Kota –Kota Kita


Dengan penasaran saya naik lagi ke jembatan layang itu. Di depan sebuah kompleks pertokoan terkenal di sebuah Kota . Memastikan apakah setumpuk sampah masih bertengger di sana. Ternyata masih dan justru makin jelas (dibandingkan saat malam aku lihat pertama kali) bahwa sampah itu kemungkinan sudah berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu/ berbulan-bulan. Di bawah ada 2 orang petugas kebersihan dan aku sampaikan bahwa sampah menggunung di ujung jembatan penyebrangan. Sangat tidak nyaman. Saya hanya bertugas penyapu jalan bu, saya tidak bertugas di sana. Ya tolong sampaikan saja ke pimpinannya saja ya....dia memandang saya dengan pandangan heran. Dia buru-buru bertanya. Jalan-jalan bu? Ya mba.... lantas aku kembali berjalan pagi. Saat ada petugas satu lagi aku sampaikan hal yang sama. Lagi-lagi Bapak itu bilang itu bukan tugasnya. Ya, saya maklum aja sih. Memang kan sudah dibagi-bagi tugasnya. Lagian memang Bapak yang kedua lokasinya sudah agak jauh dari jembatan itu.
Di beberapa jalan yang saya lewati juga got-got mampet, dangkal karena penuh sampah. Bahkan ada sebuah warung makanan kecil yang berdiri tepat di atas got terbuka yang terlihat dari luar sungguh sangat menjijikkan. Hitam-kuning bercampur sampah......
Ingatanku jadi melayang saat awal tahun 1992 di Surabaya, Saat jalan pagi subuh, saya ingat saat itu Surabaya kalo nggak salah sudah ada jargon green and clean. Maka petugas kebersihan sudah berjalan dan menyisir saat matahari masih belum muncul. Memang beberapa waktu kemudian Surabaya mengalami penurunan dalam hal kebersihan seiring pergantian komando , tapi kembali saya ke Surabaya dalam waktu terakhir ini jaman bu Risma, subhanallah, sangat bersih sekali. Surabaya yang kota besar ke -2 sangatlah bersih bukan hanya di level nasional saja, tapi juga sdh bisa bersaing di level internasional. Kok bisa ya?
Tapi memang melihat wawancara bu walikotanya di beberapa TV yang selalu membawa peralatan kebersihan bahkan di mobilnya sekalipun memang menjadi tidak heran...Komitmen akan membawa sebuah perubahan luar biasa. ... dan Saya bangga pernah menjadi bagian Surabaya bertahun-tahun lalu.
Saya memang bukan siapa-siapa. Tapi entahlah kok sukanya mengamati kebersihan kota-kota yang saya kunjungi. Bukan apa-apa sih. Saya mikir sebenarnya kebersihan sebuah tempat adalah servis yang paling “mudah ” disajikan pada semua pengunjung kota. Sampah disingkirkan! Selesai. Walaupun tentu saja bukan perkara gampang mengatur semuanya untuk mengerahkan sumberdaya ke arah sana dan pascanya. Buktinya banyak kota besar yang belum bisa ke arah sana. Yogyakarta pada beberapa tahun terakhir. Entahlah sekarang....Mudahan sudah berubah. Bayangkan kalo kota tujuan wisata kotor beserta seluruh daerah pendukungnya (Sleman dst ) maka kenyamanan pengunjung pasti akan terganggu...eh kok jadi serius euy!...Kota lain, Bandung pas 2010 kami ke sana masih seperti lautan sampah...tapi terakhir 2014 sudah banyak berbenah. Sangat bersih....Kota Pangkal Pinang dan Balikpapan juga sangat bersih.
Saat berbincang dengan tukang becak, pengemudi angkot, taxi dan beberapa warga yang sempat saya temui rata-rata mereka sangat bangga dengan kotanya yang sangat bersih. Tidak jarang mereka juga langsung menawarkan tempat lain di kota itu untuk dikunjungi. Wah promosi gratis sebenarnya dan yang jelas sifatnya tulus dari masyarakat terbawah...
Aku bermimpi suatu ketika kota di Provinsi yang yang termasuk terkaya di negeri ini akan berbenah juga. Bukan hanya di titik –titik pantau suatu penilaian lomba kebersihan tetapi di semua wilayah Kota. Semoga
LikeLike ·  · 

Saturday, October 11, 2014

Penopengan

Dalam sebuah kesempatan, mataku tertumbuk pada pemandangan orang yang sedang menyapu halaman -pekerjaan yang sering aku kerjakan juga.- aku tertarik karena gaya menyapunya berbeda dari biasanya. Ujung pegangan sapu lidinya terlihat diputar-putar dan ditekan-tekan ke bawah dan menurutku terlihat seperti orang sedang memasang baut. setelah aku perhatikan ternyata yang di dorong dan ditekan ke bawah adalah sampah yang dihasikannya dari menyapu ke dalam sebuah lubang sempit, yakni celah di antara kayu-kayu yang membentuk jembatan di atas sebuah got besar.
Aku tertegun.
Ada banyak hal yang memang layak untuk ditutup, tidak perlu diperlihatkan kepada orang lain. Sampah atau Keburukan atau aib. Di luar isu politik lho ya… maka ini aku sebut “penopengan” (he..he nanti dimarahi ahli bahasa) atau apa pun namanya memang sebuah upaya memoles sesuatu menjadi tampak indah, baik, hebat dan semua yang top markotop di depan lawan tapi kenyataan aslinya bisa jadi kebalikannya. Kelihatannya sangat mendukung dan menghormati padahal di belakangnya justru mencaci maki dan membully. Tampak dermawan dengan memberi padahal tangan yang satu mengambil dengan jahil atau bahkan mencuri yang bukan haknya…..Yang jelas masih sering berbeda tampak muka dan belakang sesuai kepentingannya. “Penopengan “ ini seakan menjadi trend dan jurus ampuh untuk meraih hati orang dan pihak yang hanya sempat melihat sekilas saja.
Dalam hal ini bila kita hanya memindahkan sampah ke dalam sungai di bawah jembatan atau ke bawah kolong rumah maka sebenarnya upaya menyapu kotoran yang kita lakukan hanya sebuah pengalihan sampah dari dalam /depan rumah kita ke tempat yang orang nggak bisa melihat saja. Tetapi sejatinya kita pun tahu bahwa sampah itu belum selesai kita kelola. Suatu ketika maka bisa jadi akan membuat buntu got depan rumah kita dan akan membuat banjir di sekitar rumah kita.
Kita juga seringkali masih berkutat dalam me make up wajah kita habis-habisan sementara perilaku tangan kita masih sulit kita kendalikan untuk membuat wajah kita bebas dari infeksi. Infeksi yang ditimbulkan dari tangan kotor kita yang suka memencet-mencet jerawat di wajah akan sulit tertutupi oleh make up yang super mahal dan tebal sekalipun. Suatu ketika maka make up yang kita kenakan justru akan memperparah infeksi wajah kita…
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya menutup keburukan/aib. Karena insyaallah Dzat yang Maha Mengetahui juga akan menutup aib kita di masa lalu. Cuma memang semestinya bukan berhenti dalam make up saja. Tapi dengan juga “ mendidik “ tangan kita laiknya dalam kasus jerawat tadi dan perilaku yang lain kita untuk memperbaiki kesalahan yang sudah pernah terjadi di masa lalu. Keburukan yang sudah lalu pun kita tutup dengan membuka halaman baru....
(Sebuah upaya mengikat makna untuk mengingatkan diri sendiri)

Sunday, September 14, 2014

Ranting Kering Itu…

Ranting Kering Itu….
Duri kecil dari pohon mawar yang sudah mati itu menancap di tanganku….dengan perasaan kesal aku coba ambil. Sulit juga walaupun akhirnya bisa…
Aku ambil pisau lantas aku potong-potong dahan mawar yang sdh mati itu. Rencananya mau aku buang….Justru karena durinya aku berhenti lagi. Kali ini aku sudah pasrah. Oke lah, biar saja kan hanya mengganggu pemandangan saja. Ranting kering tanpa daun. Coklat dan tidak terlalu menarik. Bukan daun hijau dan bunga merah muda yang sangat cantik seperti sebelumnya.
Begitulah sebuah siklus kehidupan. Kecil terus tumbuh menjadi pokok muda yang produktif. Saat usia produktif usai, giliran usia menaik maka semua yang indah-indah akan berganti rupa menjadi sesuatu yang tidak lagi diminati.
Tapi alam mengajarkan sesuatu yang sungguh luar biasa….Beberapa waktu kemudian… ternyata di bawah pohon mawar itu tumbuhlah pohon pare (paria) yang membutuhkan sandaran untuk tumbuhnya. Maka jadilah batang mawar tua kering dan berduri itulah yang menjadi tempat sandaran alami bagi merambatnya puscuk-pucuk paria untuk mencari Sang Surya…sampai akhirnya si pare itu berbuah dengan lebatnya. Subhanallah…
Kembali bahwa ternyata sesuatu yang menurut kita sdh tidak berguna, bahkan dianggap hanya merusak (pemandangan ) dan merugikan justru bisa member manfaat yang sangat besar bagi munculnya tanaman baru, hijau yang menghasilkan buah yang sangat lebat…
Kadangkala kita terlalu cepat mengambil kesimpulan dari sebuah peristiwa dari sebuah sisi negative saja. Padahal bila kita mau bersabar dan mau menggeser angle atau sudut pandang dari sebuah perkara, bisa jadi hasilnya akan jadi sangat berbeda. Semua tergantung pemaknaannya saja… Dalam salah satu pandangan ia bisa jadi tidak akan pernah menjadi apa-apa, bahkan cenderung mengesalkan saja. Ranting kering itu bisa menjadi “ sesuatu” saat kita memaknainya menjadi sesuatu pula. Allah adalah apa yang engkau pikirkan dan persepsikan tentangNya…wallahu alam bishawab…

Friday, August 22, 2014

Surabaya Health Season : antara wisata kesehatan dan Pasar Bebas ASEAN


SHS : Antara Wisata Kesehatan dan Pasar Bebas ASEAN

Surabaya Health Season (SHS) 2014 - sebagai acara tahunan dalam memperingati hari jadi kota Surabaya – berakhir. Acara yang berlangsung sekitar 1,5 bulan ini sejak 13 April lalu menyebutkan bahwa sejumlah fasilitas kesehatan seperti 58 rumah sakit (RS), klinik kesehatan, 62 puskesmas dan laboratorium ikut mensukseskan acara yang juga bertujuan menjadikan Surabaya sebagai Kota Wisata Kesehatan.
Selama ini kota wisata kesehatan biasanya identik dengan Singapura maupun Penang di Malaysia. Berbagai RS dan Klinik kesehatan dari LN itu bahkan seringkali mengiklankan diri di media massa besar di Indonesia dengan orang-orang kaya kita yang menjadi pasar potensial mereka. Jutaan orang kaya Indonesia yang berobat ke LN setiap tahunnya memang potensi luar biasa yang belum tergarap oleh kita sendiri.
Ternyata pernyataan Wagub Jatim dalam sebuah acara di Malang pada 27 September 2010, yang mengungkapkan bahwa larinya dana dari orang kaya di Jawa Timur ke luar negeri (LN) sebesar Rp 2 trilyun per tahunnya masih cukup relevan. Dengan beragamnya alasan mengakses pelayanan kesehatan atau berobat ke LN bagi setiap orang maka dapat diprediksi secara kasar bahwa ada kemungkinan puluhan triliun rupiah dari seluruh negara ini yang lari ke berbagai negara lain.
Langkah Berani
Di tengah masih banyaknya komplain terhadap mutu pelayanan kesehatan yang dianggap masih belum baik serta adanya ketidakpercayaan (distrust) terhadap kemampuan RS dan dokter bangsa sendiri maka keberanian Surabaya yang mendeklarasikankan sebagai kota wisata kesehatan menjadi sebuah langkah yang pantas diacungi jempol.
Menurut hemat penulis, SHS menjadi salah satu cara menterjemahkan mimpi besar untuk menjadikan layanan kesehatan khususnya di Surabaya menjadi layanan kelas dunia (the world class health care) yang sampai sekarang belum banyak digagas oleh pemerintah daerah lainnya. Apalagi pada momen SHS tahun 2012 lalu juga sudah dicanangkan kota yang banyak meraih pengharagaan ini sebagai barometer kesehatan nasional. Sebuah langkah yang sangat strategis.
Apalagi konsep yang ditawarkan adalah pemberian pelayanan prima untuk pasien dan keluarga mulai dari bandara sampai dengan menyediakan fasilitas hotel yang terintegrasi dengan bangunan RS bahkan layanan sarana transportasi bagi keluarga yang hendak berbelanja. Sehingga bukan hanya infrastruktur kesehatan saja yang dipersiapkan tetapi infrastruktur pendukung juga harus memenuhi syarat. Selain transportasi publik, destinasi di dalam kota juga harus menarik, bersih dan nyaman.
Konsep ini juga menjadi out of the box karena selama ini Si sakit dan keluarganya yang sedang mencari pengobatan - biasanya cenderung bersedih dan tidak bersemangat – justru diperlakukan sebagaimana mereka sedang berwisata, supaya tetap bergembira. Tentu saja pada akhirnya konsep yang sebenarnya menyasar orang berduit yang biasa berobat di luar negeri ini diharapkan akan cukup efektif mencegah larinya dana kesehatan masyarakat bahkan bisa juga akan meningkatkan penghasilan asli daerah (PAD) maupun menarik devisa untuk level negara.
Satu hal yang juga harus mulai dipikirkan adalah bagaimana menterjemahkan arti kota wisata kesehatan bagi masyarakat miskin dan pas-pasan yang berobat menggunakan fasilitas asuransi sosial misalnya. Dalam era Jaminan Kesehatan seperti sekarang ini maka mempunyai konsekuensi bahwa orang miskin juga "boleh" sakit. Maka kehadiran ide yang sangat baik tadi tetap harus dapat menjamin perlakukan medis yang sama pada orang sakit dengan status sosial yang berbeda. Jika dulu ada guyonan khas Suroboyoan "murah kok njaluk slamet!" yang seringkali diidentikkan dengan komentar dari para pelaku jasa -tukang becak- saat ditegur oleh pengguna jasanya ketika sembarangan dalam mengemudikan becaknya, maka momentum ini adalah bisa sebagai pembuktian program ini tidak akan makin membedakan pelayanan yang kaya dan yang miskin.
Dalam hal ini maka harus kembali ditegaskan bahwa yang boleh berbeda hanyalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan keputusan medis yang berhubungan langsung dengan keselamatan pasien. Dalam arti yang lebih luas maka kualitas yang baik untuk semua kalangan (good quality for all people).
Harapan
Surabaya dengan banyak keunggulan di bidang kesehatan seperti hadirnya fasilitas kesehatan yang representatif baik milik pemerintah maupun swasta serta dokter-dokter sebagai pelaku pelayanann kesehatan yang tidak kalah dengan LN menjadi kekuatan daya saing tersendiri. Isu MEA dimana ada pasar tunggal regional ASEAN yang memungkinkan ada transportasi modal, jasa serta tenaga kerja yang akan bebas keluar masuk wilayah negara ASEAN justru menjadi pemacu semangat bagi seluruh stakeholder kesehatan yang ada untuk menatap AFTA (ASEAN Free Trade Area) sebagai sebuah peluang.
SHS dengan program yang mengutamakan kepuasan pelanggan, mutu pelayanan kesehatan dan budaya patient safety di berbagai fasilitas kesehatan kota Surabaya dapat menjadi "katalisator" untuk menciptakan keunggulan daya saing dalam menghadapi era perdagangan bebas di level ASEAN pada awal 2015 sebentar lagi. Karena disadari bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN nantinya apakah memang dapat digolongkan sebagai peluang ataupun justru ancaman bagi semua fasilitas kesehatan dan SDM tergantung dari kesiapan untuk menghadapinya.
Menjelang berakhirnya SHS maka dengan harapan jangan hanya menjadikan SHS hanya agenda rutin dan bussiness as usual untuk memperingati hari jadi kota Surabaya dan setelahnya kembali menjadi "biasa-biasa saja". Menjelang 1 Januari 2015 dimulainya pasar bebas ASEAN, maka tetap ditunggu kehadiran Surabaya Health Season berikutnya...................
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi (Dinas Kesehatan Kota Tarakan)

Add comment

 
 
 
1000 symbols left

 
Security code
Refresh

Website lain dari PKMK FK UGM

deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq