Thursday, September 1, 2016

Beda Indonesia dan Malaysia dalam Pengendalian Rokok


“Beberapa orang membuntuti di belakang petugas yang berseragam dan memakai pengenal itu. Sesekali mengendap-endap di antara bangunan itu untuk menunggu. Tidak lama kemudian, tangkap tangan terjadi! Bukan operasi tangkap tangan (OTT) yang lain, tapi OTT kepada para perokok yang masih bandel: merokok di kawasan terlarang seperti di rumah sakit, gedung pemerintah dan terminal. Itu sekilas adalah gambaran di sebuah kota di negera jiran kita, Malaysia yang sudah menerapkan kebijakan penegakan kawasan tanpa rokok (KTR) secara ketat”
Jangan kaget bila kejadiannya bukan baru-baru ini tetapi pada tahun 2008 alias 8 tahun yang lalu saat penulis mendapat kesempatan kursus tentang kesehatan dimana ada materi tentang Pengendalian tembakau (tobacco control =TC). Jangan heran bila saat itu pemerintah Negara itu sudah merasa harus bertanggung jawab dengan pengendalian tembakau karena tercatat Negara itu sudah menandatangani dan meratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau internasional alias FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) pada tahun 2003 dan 2005. Tentu saja pertimbangannya dilakukan demi untuk melindungi kesehatan masyarakat luas.
Bandingkan dengan kondisi negeri ini saat ini yang ketinggalan sangat jauh. Sampai sekarang di negara kita justru dengan sangat telanjang terlihat ada tarik menarik kepentingan TC dan para pegiat tembakau (tobacco industry=TI). Negara kita masih belum berorientasi pada masalah kesehatan masyarakat tapi masih rancu dengan berbagai masalah lain.
Kebijakan setengah hati ?
Dalam sebuah kesempatan pembagian “kartu sakti” beberapa waktu lalu di Kota Tarakan, Pak Presiden menyatakan bahwa dana bantuan yang diterima oleh warga yang membutuhkan hendaknya tidak dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti rokok. Pernyataan bernas, cerdas dan bijak ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Beliau sangat memahami tentang efek buruk dari rokok khususnya sisi ekonomi dan kesehatan. Tentu saja dalam kaitannya dengan kemiskinan maupun rumah tangga miskin sebagai penerima berbagai kartu tersebut.
Jika pernyataan pak Jokowi dalam kesempatan tersebut sangat mendukung pengendalian tembakau tetapi sampai sekarang maka dapat dikatakan bahwa banyak kebijakan nasional di level makro di bawah kendali Presiden justru terlihat sebaliknya. Pemerintah masih membiarkan masyarakat kita dalam ancaman produk rokok yang semakin menggurita.
Bahkan di Indonesia Kerangka Kerja yang disuarakan banyak kalangan untuk menjadi dasar untuk pengendalian tembakau beserta racun dan asapnya, sampai sekarang masih mengambang. Indonesia juga menjadi satu-satunya Negara di Asia yang tidak mau menandatangani apalagi meratifikasinya. Presiden belum menganggap hal itu menjadi penting. Akibatnya dapat ditebak kondisi perokok pemula yang paling tinggi di dunia, bahkan ada juga beberapa balita perokok, bebasnya merokok di berbagai tempat umum, harga rokok yang nomor 3 termurah serta berbagai kemudahan lain terkait merokok.
FCTC yang jelas-jelas menjadi amanat eksplisit dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan (Kemenkes) 2015-2019 masih ditentang di sana sini lewat pernyataan para tokoh tertentu maupun dengan munculnya berbagai wacana sampai aturan di kementerian lain.
Kementrian perindustrian justru dengan sangat telanjang mengubah peta jalan industri tembakau dengan menargetkan produksi rokok sebesar 5-7,4% per tahun sampai tahun 2020. Padahal pertumbuhan penduduk hanya 1,2 % per tahun. Artinya sasaran berikutnya untuk menjadi perokok adalah anak-anak pada saat pasar di orang dewasa sudah mulai jenuh. Produksi rokok yang awalnya 260 Miliar batang pada tahun 2015 akan dinaikkan per tahun sampai 2019 menjadi sampai 400 miliar-500 batang. Dengan asumsi bila semua produksi itu hanya dipasarkan di dalam negeri maka pada saat itu - menurut Prof Hasbullah Thabrany dari UI- bayi baru lahir pun sekan sudah dipaksa untuk menghisap rokok sebanyak 2000 batang !. Bila negara lain memproteksi rakyatnya dari bahaya asap rokok maka Indonesia justru membiarkan rakyatnya untuk menjadi pasar paling menggiurkan bagi industri rokok dari dalam maupun luar negeri.
RUU pertembakauan yang dipaksakan masuk dalam Program Legislasi Nasional (prolegnas) menunjukkan hal sebaliknya dengan kebijakan TC. RUU Pertembakauan sudah diketahui umum bahwa kemunculannya merupakan usulan sebuah perusahaan rokok yang juga sangat berpotensi melemahkan aspek perlindungan masyarakat akibat konsumsi rokok.
Pada saat yang sama para aktivis TI membawa dan memainkan isu tembakau beserta petani tembakau sebagai alasan utama menolak FCTC. Mungkin kita perlu bercermin pada Cina-kiblat baru pemerintahan sekarang,. Di Negara penghasil tembakau terbesar sekaligus jumlah perokok terbesar ini justru sudah menandatangani dan meratifikasi FCTC ini pada belasan tahun yang lalu.
Dalam kasus lain, walaupun sempat dibatalkan tetapi usulan kretek sebagai warisan budaya dalam RUU Kebudayaan juga cukup memprihatinkan dan menguras energi bangsa ini. Yang terbaru Kehadiran pameran world tobacco process and machine (WTPM) baru-baru ini di Jakarta semakin mengukuhkan bahwa Indonesia menjadi target penjualan produk tembakau ini secara global. “Asbak raksasa” bernama Indonesia sedang berproses bahkan dengan dukungan dari aparat-aparat pemerintah sekalipun
Bila kita masih bertahan pada status quo sekarang maka kita hanya menunggu tanggal mainnya saja saat serangan epidemi tembakau itu akan “berbuah“ pada saatnya kelak. Saat itulah maka apa yang menjadi cita-cita dalam nawacita ke -5 pak Jokowi menjadi sulit tercapai. Dalam kompetisi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) kemungkinan terbesar yang akan terjadi adalah kita hanya akan jadi penonton saja. Saat sumber daya manusia tidak mempunyai kualitas yang diharapkan karena sakit-sakitan atau bahkan mati muda. Apalagi di level regional maupun internasional.
Harapan
Maka semestinya saat pak Jokowi menyerukan bahwa jangan merokok ! sudah seharusnya kementrian terkait akan segera menerjemahkan untuk aplikasinya di lapangan. Saat presiden menyerukan hal demikian tapi beberapa kementrian masih ‘ngotot’ bergerilya dengan segala upaya pro industri tembakau menunjukkan belum baiknya koordinasi di level pemerintah sendiri. Seruan pak Jokowi ibarat hanya angin lalu yang tidak berbekas apapun. Dan kita semua menginginkan bahwa hal ini tidak terjadi.(latepost) ditulis jelang 31 mei 2016
LikeShow more reactions
Comment

Wednesday, August 17, 2016

Hindari Rokok sebagai Gateway Drugs (baca:Narkoba) !


                                                      Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Eksekusi mati  terpidana penyalahgunaan narkoba   tahap III baru saja selesai. Ada 4 orang yang  ditembak mati kali ini dan menggenapinya menjadi berjumlah 18 orang sejak ekseskusi tahap I dilakukan  Januari 2015 lalu dan tahap II pada April 2015. Cerita tentang gembong narkoba dengan berbagai  perilakunya saat sebelum tertangkap maupun setelah dipenjara  masih menghiasi berbagai media.
Ada pernyataan  yang sangat menarik  dari Freddy Budiman sebagai  salah satu yang ditembak mati  yang berasal dari Surabaya itu. Saat diwawancarai secara ekslusif oleh salah satu seorang wartawan Televisi di Nusa Kambangan  -dalam sebuah kesempatan “menunggu hukuman mati”-  menyatakan bahwa dia tidak ingin anaknya tahu dan terkena narkoba seperti dirinya. Penulis mengambil kesimpulan  bahwa dia juga menyadari efek jelek dari narkoba yang pada akhirnya membuat Sang Gembong dianggap sampah masyarakat sebagaimana diakuinya pada wartawan yang mewawancarainya saat itu. Satu hal yang dapat ditarik pelajaran maka bahwa seburuk apapun kelakuan seorang Ayah maka dia menginginkan anak- anaknya tetap jauh dari  zat berbahaya ini.
Cerita tentang efek jelek narkoba memang sudah sering kita dengar.  Para penikmat  narkoba –karena efek adiktif/kecanduannya- maka akan berusaha dengan segala cara untuk  selalu mendapatkan suplai barang tersebut untuk masuk ke dalam tubuhnya. Tidak peduli  berapapun harganya di pasaran, maka hal itu jugalah   yang akan menyebabkan  pemakai  untuk  berusaha mendapatkan barang haram ini. Seringkali pecandu menjadi  dekat dengan perilaku kriminalitas seperti memeras,  mencuri bahkan merampok manakala tubuhnya  ‘menagih’  barang ini sementara tidak ada  uang yang tersedia untuk membelinya.
Pengedar dan Bandar narkoba mengambil  keuntungan  dari kondisi ini. Merujuk pada cerita Freddy Budiman yang konon disampaikan ke Haris Azhar  yang diberi judul “ Cerita Busuk Seorang Bandit” menjelaskan bahwa bisnis ini memang keuntungannya sangat luar biasa dan melibatkan banyak pihak yang justru seharusnya menjadi penegak hukum. Untuk kebenaran cerita tersebut masih didalami oleh pihak berwenang. Tetapi  di dalam cerita itu secara implisit bahwa  tentu saja pengedar dan Bandar akan
berusaha menggaet target-target baru para pecandu dari kalangan anak-anak dan pemuda kita.  Jika aslinya barangnya seharga 5 ribu rupiah saja tetapi bisa dijual dan laku sampai 200.000 rupiah. Mereka menjual barang itu dengan harga yang sangat fantastic mencapai 4000% dari harga sebelumnya.
Bisa jadi awalnya barangnya diberi harga yang murah dan lama kelamaan akan dinaikkan seiring dengan ketidakmampuan tubuhnya untuk melawan hasrat mengonsumsinya kembali.  Jadi jangan heran kalau para pelaku narkoba ini juga dekat-dekat dengan hal criminal. Dalam kasus Freddy Budiman maka dikabarkan bahwa    dia sempat mencopet bahkan menjadi “raja copet “ di Surabaya. Asumsi penulis adalah bahwa  mengambil barang milik orang lain adalah untuk memenuhi kebutuhan  uangnya untuk membeli  zat adiktif pada waktu  awal “kiprahnya” dalam dunia  hitam tersebut. Kebutuhan /dosis yang makin meningkat  pada akhirnya akan menyebabkan pelaku makin kreatif. Satu-satunya cara adalah menjadi pengedar ataupun operator. Dengan hal itu maka akan mendapat sekaligus dua keuntungan. Satu terpenuhinya kebutuhan akan zat adiktif yang makin bertambah serta yang kedua akan memberi keuntungan finansial yang sangat luar biasa itu. 
Setiap yang sudah merasakan narkoba maka akan sulit untuk lepas dari jeratnya. Jadi siap-siap saja akan menjadi  pesakitan di penjara, menjadi sakit baik  jasmani maupun rohani,  hancurnya sendi-sendi keluarga  serta akan menjadi  “kaya yang  miskin” saat  coba-coba mendekati  zat dan barang adiktif ini !.  Penulis menyebut kaya yang miskin karena secara kasat mata,  keuntungan hasil menjual narkoba memang sangatlah besar mulai jutaan bahkan Milyaran  dan ratusan M untuk sekelas Freddy. Tapi kenyataannya pada akhirnya akan  tetap miskin karena uangnya biasanya habis untuk setoran ke sana sini saat terkena kasus hukum maupun “menguap “ begitu saja saat dipakai untuk mabuk-mabukan, berjudi atau main  dengan wanita bayaran.
Fakta Hubungan Antara  Rokok Dan Narkoba
Ada fakta menarik hubungan antara rokok dan narkoba.  Seorang peneliti Dr. Neneng Sugih Arti dari BERSAMA Indonesia yang mempresentasikan makalah dalam acara  “18th IFNGO ASEAN Workshop on Prevention of Drugs and Substance Abuse” pada  tahun 2008 di Malaysia menyatakan bahwa tak akan ada pecandu marijuana yang tidak merokok. Hampir dapat dipastikan  bahwa pengguna marijuana biasanya adalah perokok. 
Sebuah jurnal yang diterbitkan dari Los angeles : Drug Abuse Resistance Education –  yang didedikasikan untuk  pendidikan ketahanan  dari penyalahgunaan obat-obatan menyatakan  bahwa pemakaian tembakau (baca : rokok) dihubungkan dengan pemakaian  alcohol dan obat terlarang.  Dan rata-rata  pemakaian tembakau menjadi pemakaian obat-obatan lebih lanjut, yang meliputi  alcohol, marijuana dan obat-obat  terlarang lain yang lebih keras.
Berbagai bukti yang ada menjadikan para ahli menjadikan rokok sebagai sebuah gateway drugs yang berarti bahwa zat aditif nikotin yang ada dalam tembakau yang bila dikonsumsi oleh seseorang maka akan membawa orang tersebut untuk mengkonsumsi zat adiktif lain yang lebih keras. Sebuah kamus Merriam Webster merumuskan gateway drug sebagai : is drug that open the door to use other harder drugs. Diawali dengan kebiasaan merokok, akhirnya para remaja/orang yang belum /tidak  matang pola pikirnya itu juga seringkali jatuh dalam  kebiasaan minum alkohol serta penyalahgunaan narkoba.
Untuk itulah penulis sebagai orang tua  juga merasa bahwa salah satu cara untuk mencegah anak tidak terkena narkoba salah satunya adalah dengan menjauhkannya dari perilaku merokok. Memang dalam kasus Freddy Budiman tidak  terlalu jelas hubungan antara keduanya. Namun banyak kisah yang menceritakan bahwa Freddy  juga seorang pemabuk, maka  tesis adanya hubungan  antara satu ;
maka karena  rokok menjadi salah satu yang mengandung zat adiktif yang dianggap paling ringan efeknya, yang seringkali menjadi  tantangan pertama sebelum kecanduan bahan adiktitif lain termasuk alkohol dan narkoba.

Cegah di Hulunya
Saat seorang Freddy Budiman sebagai gembong narkoba besar  merasa harus melindungi anaknya dari berbagai bahaya narkoba -seperti banyak disiarkan sebagai wasiat terakhir saat hidayah sudah menghampiri-   maka ini akan makin menyadarkan  kita sebagai orangtua  biasa-biasa yang semestinya untuk lebih care dengan hal tersebut. Tentu saja dengan cara menjauhkan  hal- hal yang mendekati ke  arah narkoba, mulai dari pintu masuknya yaitu perilaku merokok.  Ya mencegah anak merokok artinya mencoba  meminimalisir dan mengusir factor risiko kecanduan mulai dari hulunya. Karena menurut hemat penulis  dalam kasus ini hulunya adalah merokok dan hilirnya adalah zat adiktif lain seperti narkoba.  Walaupun pada beberapa kasus  hanya berhenti pada merokok saja. Tapi dengan lingkungan yang sangat tidak kondusif., pengedar dan Bandar berkeliaran di sekitar anak kita maka siapa yang akan bisa menjamin bahwa selesai hanya sampai urusan  menghisap produk tembakau saja.
Orangtua juga seringkali merasa bahwa upaya menjauhkan anak dari rokok adalah hal yang  sederhana, bahkan kadang cenderung disepelekan.  Pada kasus  bayi dan balita seringkali sesudah dimandikan pagi atau sore oleh ibunya, maka akan diajak berjalan-jalan oleh ayahnya dengan tetap tidak melepas rokok dari genggamannya. Akibatnya anak akan selalu dikasih asap sebagai perokok pasif dari bapaknya. Belum lagi efek  pada terbentuknya mindset anak bahwa itulah kondisi normal yang harus diterima.
Orang tua  juga kurang serius dalam memberi pengertian bahaya merokok dan runutannya kepada narkoba kepada anak yang lebih besar.   Hal yang sering terjadi bahwa orangtua melarang anak untuk merokok sambil  dengan tetap asyik memegang rokok di balik punggungnya. Belum lagi orangtua acapkali menyuruh anak - anak  untuk beli rokok di warung/ supermarket terdekat.  Ayah sebagai panutan di dalam rumah bila masih merokok maka bagaimanapun  bagusnya nasihat Sang Ayah maka  Si anak akan cenderung meniru perilaku yang terlihat saja daripada yang terdengar. Pendeknya keteladanan menjadi  hal terpenting dari seorang role model ayah atau ibunya untu anak-anaknya.
Tentu saja masih banyak cara lain untuk mencegah anak-anak kita  bahaya zat-zat yang terlarang ini. Sebagai orang tua memfasilitasi untuk mendapat pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang  bahaya hal-hal terkait rokok, minuman keras dan narkotika serta zat berbahaya lainnya.  Ini tentu saja untuk mengimbangi  iklan dan media promosi produk tembakau yang sangat menarik di luar sana.
Untuk anak-anak yang sudah kadung ‘berkenalan’ dengan rokok maka ajak dengan baik untuk mau mengakses  klinik konseling  upaya berhenti merokok  dan mendorongnya untuk berhenti merokok.   Intinya makin cepat berhenti akan semakin baik.  Karena dengan berhenti maka factor risiko untuk munculnya berbagai penyakit mengerikan yang cenderung katastrofik -berbiaya mahal dan memiskinkan - akan makin  menurun. Penulis merasakan  cukup sulit untuk  menanamkan dan mempraktikkan untuk menghindari  hal-hal yang berbau ‘kenikmatan candu” namun  fakta yang tergambar menyebabkan penulis dan kita semua  harus mengambil keputusan bahwa rokok bisa menjadi salahsatu pintu masuk kearah narkoba.  Tulisan ini menjadi pengingat untuk diri sendiri  bahwa ancaman ini akan terus menerus hadir. Lebih baik mencegah di hulunya daripada  membiarkan  terlanjur ke hilirnya yang akan makin sulit penanganannya.

Akhirnya,  berhentilah merokok sebelum rokok dan zat adiktif lainnya akan menghentikanmu dengan berbagai penyakit, kemiskinan serta berbagai keadaan buruk lainnya. 

Inspirasi dari Surabaya


Walaupun lama meninggalkan Surabaya sejak lulus kuliah di Unair tapi aku merasa sampai sekarang masih mengikuti perkembangannya. Saat awal aku hidup di Surabaya tahun 92 an maka saat itu Surabaya walaupun kotanya cukup panas, tapi kondisinya bersih dan hijau. Ya aku sangat menikmati sudut-sudut kota Surabaya yang cukup bersih. Tapi beberapa waktu kemudian (lupa kapan tepatnya) maka Surabaya agak kotor dalam pandanganku. Ya saat itu menurut analisis beberapa orang - yang kuingat- pemimpinnya berganti.
Setelah itu lama aku kurang mengikuti secara intens berita tentang Surabaya. Tahun 2010 kalo nggak salah sempat nginap di Majapahit hotel sebagai salah satu heritage penting di sana bersama organisasi yang bergerak knowledge sector TAF. Tahun 2011 kalo nggak salah bersama dengan teman Unair, UI, Unhas dan UGM kumpul di bawah koordinasi tokoh Unair. Selebihnya Ya sesekali kalo pas pulang ke Jawa Timur ke rumah mertua kadang mampir juga sih. Setelah Tahun 2013 ada acara di kampus C Unair, baru lihat lagi dari dekat Surabaya. Saat itu saya melihat memang perkembangan Surabaya sudah sangat luar biasa. Hijau dan bersih sebagaimana saya pertama kali ke Surabaya . Bedanya sekarang jauh lebih ramai dan lebih meluas keramaiannya. Banyak daerah baru / hunian baru yang dulu belum berkembang saat aku tinggalkan terakhir kalinya di awal tahun 99.
Satu hal yang menarik adalah munculnya nama Bu Risma sebagai walikotanya. Jauh sebelum itu aku sudah mendengar nama beliau sejak beliau masih jadi kepala dinas yang berhubungan dengan kebersihan atau pertamanan dimana prestasi beliau sudah sangat menonjol dalam tata kota. Maka tidak heran bila dalam PrepCom 3 Surabaya UN Habitat III yang baru berlalu maka Surabaya mendapat apresiasi yang sangat bagus dari Joan Clos sekjen PBB untuk Habitat III dan menganggap Surabaya dapat menginspirasi perkembangan perkotaan lain di dunia.
Tampaknya kinerja walikotanya beserta seluruh jajarannya mencapai nilai yang sangat memuaskan. Aku juga melihat bahwa situasi kota yang kondusif akan juga ‘menular’ pada institusi yang ada di dalamnya. Aku lihat Surabaya dengan kondisi kampus-kampusnya yang juga sangat bersih. Tempat- tempat umumnya bahkan masjid-masjidnya. Baru sekali aku melihat masjid masjid yang menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO. Masjid al Akbar sekaligus Islamic center di Surabaya yang pertama aku lihat memasang spanduk penerapan ISO. Luar Biasa. Masjid sebagai tempat ibadah menerapkan sistem manajemen mutu. Dulu aku foto spanduknya tapi lupa naruhnya dimana. Jadi untuk sekedar kebersihan maka itu sudah menjadi kebutuhan. Untuk ‘tesisku bahwa kebersihan secara fisik di sebuah kota juga akan menular pada instansi lain (bahkan yang vertical sekalipun) selain di Surabaya maka aku lihat juga di Bandung tahun 2014 atau 2015 semasa pak Ridwan Kamil ini. Taman, Rumah sakit, pedestrian sangat lah bagus sekali penataannya dan sangat bersih pula.
Yang paling aku kagumi dari sosok bu Risma tekadnya untuk ‘membersihkan’ tempat prostitusi yang kabarnya terbesar di asia tenggara itu. Tentu saja dibekali dengan berbagai ketrampilan sebelumnya. Harapannya maka ibu-ibu, mba –mba penghuni Dolly dan Jarak akan kembali ke perilaku baik-baik sebagaimana asalnya
Bila sekarang kita melihat pemimpin Surabaya menjadi rebutan banyak pihak, - lepas dari isu politik yang sedang berkembang- ya bisa jadi sangat wajar. Warga Jakarta sebagian menginginkan dipimpin beliaunya, sementara di Surabaya banyak yang mempertahankannya. Kita semua belum tahu ending dari semuanya ini apakah Bu Risma tetap di Surabaya ataupun pindah ke Jakarta, tetapi yang jelas bahwa keberhasilan beliau di Surabaya membuat masyarakat Jakarta merindukan untuk dipimpin seseorang yang kapabel namun sangat humble itu.
Sebagai orang diluar kedua kota itu, aku hanya berharap moga-moga happy ending semua. Bisakah ? . Harapanku kalopun pada akhirnya bu Risma tetap di Surabaya maka pemimpin Jakrta berikutnya akan mampu mengambil dan menerapkan nilai-nilai baik bu Risma dengan Surabayanya. Kalopun nanti Bu Risma ke Jakarta maka selain Jakarta akan menjadi ‘ketularan’ Surabaya, maka mestinya di Surabaya juga harus memunculkan pemimpin sekelas bu Risma yang akan melanjutkan apa-apa yang sudah pernah diraih oleh beliaunya.
Namun kalo melihat situasi dan kondisi kota selalu identik dengan pimpinannya seperti perjalanann Surabaya dalam kacamataku di atas, maka satu hal yang selalu membuat galau aku “apakah tidak mungkin atau katakan terlalu sulit untuk mewujudkan cita-cita besar tidak hanya bergantung pada orang per orang (person) tetapi adalah sebuah system yang bekerja”, walaupun tidak dapat dibantah juga bahwa tetap dibutuhkan leadership dari seorang pemimpin.
Memang masih belum tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk sebuuah pembelajaran bahwa sistem yang baik akan menjadi budaya atau sebaliknya juga budaya baik menjadi sistem yang lebih terstruktur. Memang dalam banyak bacaan katanya untuk membangun sebuah karakter dan pembiasaan baik dibutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak bisa sebentar. Karena secara natural pengaruh hal-hal yang buruk, ketidakteraturan lebih mudah untuk ‘menular’ dibanding dengan hal-hal baik. Hal-hal baik untuk menjadi sebuah pembiasaan dan kebiasaan memang butuh waktu lama , katanya kadang –kadang butuh peralihan generasi.
Kembali bahwa pembiasaan baik itu memang butuh percepatan dari penerapan sebuah sistem. Dengan sistem yang baik minimal hal-hal yang baik-baik itu bukan hanya bergantung pada 1 atau 2 orang tetapi pada lebih banyak orang dengan rambu-rambu yang lebih jelas. Lebih banyak yang akan saling mengingatkan bila ada melenceng-melencengnya.
Akhirnya kesimpulan sederhanaku sampai pada pemimpin yang hebat akan mampu membuat sistem yang hebat. Sistem yang bila ditinggal sekalipun ataupun disambil masih bisa berjalan dengan berperannya back up-back up di belakangnya yang kemampuannya tidak terlalu jauh beda bila mendapat kesempatan yang sama. Bukan one man show tapi lebih pada kerja tim. Bila satu orang saja yang menjadi tumpuannya maka yakinlah selain akan memunculkan rasa ‘paling’ pintar sendiri, paling hebat sendiri, paling baik sendiri pada diri pemimpin tetapi juga akan memunculkan gap kemampuan yang cukup besar pada orang-orang di belakangnya. Akibatnya bila sipemimpin berpindah maka akan memakan waktu yang cukup lama untuk recovery nya. Kadang justru memunculkan keadaan vakum yang paling berbahaya. Turun jauuuh ke bawah dan sulit untuk bangkit lagi. Entah kapan lagi sampai pemimpin lain akan muncul untuk membangunkannya . Tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar.
Menurutku, Sistem memang abstrak. Berpikir tentang sistem lebih abstrak lagi. Tapi kata orang –orang pintar system thinking dibutuhkan untuk menganalisa segala sesuatu menjadi lebih komprehensif. Mulai dari ujung pintu masuk sampai pintu keluar. Mulai dari A sampai Z. Mulai dari urusan sumber daya, pemanfaatannya serta hasil kerjanya. Semua dianalisis. Semua dilihat gap-gapnya. Semua problem dianalissi dan dicari solusinya. Hmm…memang sangat tidak mudah. Tapi seorang leader akan mampu secara pelan tapi pasti untuk menyelesaikannya. Tantangan lain sudah menunggu, tentu saja dengan catatan – catatan tertentu. Kita semua sebagai orang luar hanya mampu mendoakan yang terbaik untuk semuanya. Jakarta dan Surabaya. Wallahualam.

Saturday, July 30, 2016

Pasca Ramadhan, Pertahankan untuk Tidak merokok !


Ramadhan sudah usai dan hari Raya Idul Fitri menjadi puncak pencapaian seorang muslim setelah menjalankan puasa. Pada hari kemenangan itu seorang muslim akan membatalkan puasa yang sudah dijalankannya selama 1 bulan penuh. Sejak itu sampai Ramadhan tahun depan maka kehidupan akan berjalan "normal" kembali.
Bagi sebagian orang yang selama ini menganggap bahwa puasa Ramadhan "mengekang" dari makan minum pada siang hari maka setelah lebaran, larangan tersebut otomatis sudah tidak ada lagi. Begitu juga untuk para perokok maka momentum Idul Ftri justru menjadi tantangan terberatnya dalam penentuan 11 bulan se benda sudahnya. Apakah akan tetap memepertahankan konsumsi rokoknya yang sudah berkurang pada saat Ramadhan dan lambat laun akan menghentikannya atau justru sebaliknya akan kembali ke pola semula seperti sebelum Ramadhan tahun ini.
Beberapa dari mereka berpandangan bahwa untuk berhenti merokok bisa saja sewaktu-waktu dan membutuhkan momentum seperti Ramadhan. Bila pada suatu saat nanti muncul keinginann berhenti merokok maka akan dengan mudah mengehentikan untuk menghisap barang yang rata-rata ukurannya 9 cm itu. Yang berpandangan seperti ini merasa sah-sah saja bila pasca Ramadhan akan kembali pada pola merokok seperti saat sebelum Ramadhan. Bahkan bisa jadi berpikiran bahwa inilah saatnya balas dendam akibat berkurangnya merokok pada siang hari bulan Ramadhan.
Ramadhan sebagai Latihan Berhenti Merokok
Dalam sebuah survey kecil yang penulis lakukan pada 8 responden perokok aktif di lingkungan terbatas sebuah instansi -yang dilakukan saat Ramadhan lalu-ditemukan fakta bahwa ada antara menjalankan bulan Ramadhan dengan turunnya konsumsi rokok.
Hal ini sangat masuk akal karenakesempatan merokok yang ada menjadi sangat terbatas yaitu hanya pada saat malam hari saja. Praktis hanya tersisa waktu yang sangat sempit untuk bisa menikmati asap rokoknya yaitu pada saat buka puasa sampai waktu sahur saja. Tentu saja minus waktu waktu beribadah shalat tarawih serta tidur. Pada beberapa orang membatasi hanya setelah buka dan saat sahur saja. Sehingga tidak heran bila konsumsi rokok menjadi menurun drastis. Bisa menjadi setengah, 1/3 atau bahkan 1/4 saja dari hari biasanya. Tentu saja ini juga bermakna penghematan yang sungguh luar biasa.
Ramadhan sudah berhasil menanamkan minimal 1 cara untuk berhenti merokok, yaitu mengurangi jumlah rokok yang dihisapnya setiap harinya seperti pada seluruh responden survey tersebut. Bagi orang yang mempunyai niat leih kuat untuk berhenti merokok maka Ramadhan memperkayanya dengan cara kedua untuk berhenti merokok yaitu menunda waktu merokok perama kali dalam setiap harinya. Minimal mengundur jam atau bahkan menit merokok pertama kalinya.
Bagi yang belum terlalu jauh kecanduan utamanya pada anak muda dan remaja, Ramadhan sebenarnya menjadi saranan latihan nyata sebagai usaha untuk berhenti merokok. Ramadhan mengajarkan bertahap dengan pembiasaan yang baik. Bulan Ramadhan telah berhasil membentuk kebiasaan baik yang musti dipertahankan. kalau saja keinginann menurunkan konsiumsi rokoknya dikerjakan secara konsisten maka dapat diyakini dalam waktu yang tidak terlalu lama akan bisa menghentikan kebiasaan buruknyaitu. Tentu saja dengan catatan bahwa niat baiknya juga selalu terjaga seperti saat Ramadhan. Memang tantangan terberatnya dalam mempertahankan kebiasaan baiknya adalah godaan dari lingkungan sekitarnya
Lingkungan Harus Kondusif
Dari para perokok yang disurvey menyatakan bahwa hampir semua menyatakan tantangan terberat adalah lingkungan yang tidak steril dari perokok yang akan menariknya kembali menjadi perokok kambuhan ataupun perokok berat kembali. 87,5% menyatakan bahwa bergaul dengan perokok lain menjadi godaan berat yang seringkali sulit untuk ditolak. Saat sedang rehat dari pekerjaan juga menjadi salah satu godaan lain karena rehat lebih identik kongkow dengan perokok lain.
Iklan rokok yang dengan mudah ditemui di hampir semua tempat juga menjadi salah satu kondisi lingkungan yang tidak kondusif untuk berhenti merokok. Pemberian rokok murah atau rokok gratis pada saat event promosi seperti live music atau acara olahraga/ seni yang digagas oleh industri rokok ataupun disponsori oleh industri rokok - sebagai cara industri rokok untuk mempertahankan konsumennya- juga menjadi faktor pengganggu lain.
Banyaknya iklan outdoor di hampir sepanjang jalan di sebuah wilayah menunjukkan betapa sangat besarnya dan masifnya upaya untuk menjangkau para perokok dan calon perokok ini. Belum lagi memang tampilan iklan yang menarik yang mengesankan para perokok sebagai laki-laki tangguh,pemberani suka pada tantangan, baik hati dan disukai para wanita di sekitarnya menjadi magnet terbesar bagi para anak muda dan remaja untuk mencobanya maupun untuk tetap setia dengan rokok di tangan dan bibirnya.
Satu Metode lain
Bila 2 metode di atas yang dilatih dengan momentum Ramadhan tidak menunjukkan hasilnya, maka para perokok berat bisa mencoba metode yang ke-3. Metode berhenti merokok yang serta merta, tanpa persiapan ataupun tanpa ancang-ancang. Metode cold turkey memang sangatlah bagus tetapi juga cukup berat. Menurut hemat penulis sangatlah jarang orang yang tiba -tiba punya niat untuk berhenti merokok tanpa sebuah alasan yang jelas. Karena zat nikotin dalam sebatang rokok menjadikan perokok selalu ketagihan untuk terus menerus mengkonsumsinya. Pada saat rokok mulai dibakar dan diisap maka nikotin akan dilepaskan dan akan mencapai otak dalam hitungan detik. Dalam ilmu kedokteran dikenal Sebuah nicotinic cholinergic receptors (nAChRs) akan aktif dan melepaskan dopamin yang dikenal sebagai penstimulasi rasa rasa senang dan nikmat. Maka menjadi sangatlah wajar bila berhenti dengan tiba-tiba dengan niat yang biasa- biasa seringkali akan menjadikannya kembali menjadi perokok saat bergaul dengan perokok lain, saat merasa sendiri, saat merasa ada waktu senggang tanpa pekerjaan dan berbagai alasan lain.
Pada orang muda dan sehat metode ini kemungkinann akan menjadi pilihan terakhir setelah memlalui " pertarungan" pemikiran dan nurani dengan dirinya sendiri. Kegiatan menimbang-nimbang secara logika dan ilmiah untung ruginya merokok ini yang menjadi asupan bagi kecenderungan hati yang akan dipilihnya. Sampai pada sebuah kesimpulan bila sudah ada yang memenangkan pertarungan dengan dirinya sendiri itu. Langkah selanjutnya memilih tanggal atau momentum untuk berhentinya. Apakah memilih tanggal 17 Agustus 2016 supaya mudah diingat sebagai peringatan kemerdekaan negara kita juga sebagai penanda sebagai peringatan kemerdekaan dirinya terhadap asap rokok. Atau misalnya berhenti pada saat hari ulang tahun dengan pertimbangan supaya tetap akan teringat sepanjang waktu juga cukup baik. Walaupun pada prinsipnya makin cepat memutuskan berhenti adalah lebih baik.
Bagi orang yang sudah mengidap penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok seperti penyakit pernapasan, penyakit jantung, kencing manis, kanker, gagal, darah tinggi biasanya mau tidak mau dan suka maupun tidak suka maka akan menjadikan metode ini menjadikan satu-satunya pilihan untuk melanjutkan hidup dengan berkualitas. Bila penyakit sudah menghampiri maka sebenarnya berhenti merokok menjadi sangat terlambat. Sudah banyak biaya dan waktu yang terlanjur keluar dan terbuang. Tapi untuk sisa hidupnya maka pilihan berhenti merokok itu menjadi sebuah keharusan yang harus diambil. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, walaupun di sisi lain ini juga menjadi pilihan sulit bagi seorang perokok berat.
Berhenti merokok secepatnya juga menjadi pilihan rasional untuk orang terdekat yaitu pasangan dan anak-anaknya dari bahaya menjadi passive smoker. Pertimbangan ekonomi juga bisa memperkuat alasan untuk berhenti merokok yang secara jelas akan menghabiskan pendapatan yang kita terima. Uang untuk beli rokok lebih baik dialihkan untuk beli obat-obatan (bila tidak ikut skema jaminann kesehatan/asuransi kesehatan) atau makanan yang bergizi ataupun hal -hal lain yang bermanfaat.
Bagi remaja yang mau coba-coba maka setidaknya harus ingat bahwa rokok menjadi salah pintu masuk untk berlanjut pada ketergantungan zat adiktif lain yang lebih berat sampai pada kenakalan remaja lainnya sebagai konsekuensi sebuah kecanduan. Rokok dikenal sebagai zat adiktif yang teringan sebelum masuk ke alkohol dna narkoba. Tapi perkara menghentikannya bukanlah mudah. Yang terjadi adalah diawali dengan kebiasaan merokok maka alih-alih berhenti malah justru meningkat kepada kebiasaan yang lebih parah. Pada remaja / orang dewasa yang belum atau tidak matang pola pikirnya maka inilah para calon-calon pecandu dalam arti sebenarnya.
Jadi walaupun Ramadhan sudah usai namun bila merasa masih belum cukup untuk membiasakan untuk tidak merokok maka masih ada beberapa momentum puasa lain seperiti puasa Syawal, puasa sunnah lainnya untuk melatih muslim mengurangi konsumsi rokoknya. Pertahankan semangat Ramadhan dalam mengurangi rokok sampai benar-benar berhenti dan tidak menginginkannya lagi.
(Tri Astuti Sugiyatmi)
LikeShow more reactions
Comment
Comments
Tri Astuti Sugiyatmi

Friday, July 29, 2016

Ayo Anak Muda, Tolak Jadi Target Industri Rokok!

Catatan di hari anak …

Saat itu saya sedang antri di sebuah toko swalayan untuk membayar beberapa belanjaan saya. Antrian di belakang saya ada beberapa orang. Belakang saya persis kelihatan agak marah mempertanyakan kenapa antriannya panjang. Pasti kurang kasir dll. Sekilas saya dengar begitu gerutuannya. Saya tidak terlalu memperhatikan lagi karena ternyata dari arah depan yang berlawanan arah ke kasir -jelas datang lebih lambat - ternyata dilayani duluan. Bila arah kami -4-5 orang- mengarah ke pintu keluar –pintu normal ; maka ibu dan seorang anak kecil menghadap ke dalam, artinya memang bukan di jalur antrian yang benar. Seorang ibu dengan permintaan dua bungkus rokoknya. Langsung dilayani oleh pelayan dengan tangan yang langsung mengambil 2 bungkus rokok di atas kepalanya. Selesai si ibu ternyata si anak kecil juga beli rokok dengan mengulurkan uang 50 ribuan. Kurang satu lagi, katanya. Lalu si kasir juga mendahulukan pelayanan itu sementara yang 5 orang lain menunggu transaksi itu. Sekilas itulah gambaran pemasaran rokok yang menempati prime place. Di depan atau di atas kasir persis, sehingga dengan gerakan sedikit maka si Kasir langsung bisa melayani.
Begitu juga suatu ketika penulis terheran-heran karena di seberang jalan depan sebuah toko kelontong ada sebuah kesibukan yang penulis tidak pernah melihat sebelumnya. Beberapa orang dengan sigap membuka mobil box di sisi samping mobil yang diparkir sejajar jalan itu. JIka selama ini saya tahunya mobil box itu bukaan belakang, itulah kenapa saya jadi tertarik memperhatikan apakah kiranya yang terjadi. Ternyata beberapa orang yang lain kemudian memasang umbul-umbul dan spanduk di sisi samping mobil. Tidak butuh waktu lama maka spanduk tentang iklan rokok sudah terpasang!. Ternyata setelah diperhatikan baik-baik maka sisi mobil samping yang terbuka rupanya menjadi semacam panggung. Rupanya mobil tadi adalah panggung berjalan yang sudah didesain sedemikian rupa menjadi sebuah panggung hiburan yang selalu siap dalam waktu cepat.
Dengan space yang tersedia pas dengan lebar panggung alias lebar mobil maka bagian depan panggung hanya sedikit sekali sisanya karena satu meter di depannya adalah jalan raya yang cukup padat dengan kendaraan. Saat lewat jalan ini kembali pada malam harinya rasa penasaran ini sedikit terjawab. Sempitnya tempat dan lalu lalang motor dan mobil tidak menghalangi acara sore dan malam yang tetap meriah dengan diiringi dengan musik live yang cukup menarik. Penonton memadati seberang jalan karena jalan itu adalah jalan yang tetap dibuka pada saat acara hiburan dimulai. Penonton juga tetap enjoy saja apalagi saat itu para SPG (Sales Promotion Girl) berkeliling membawa contoh produk rokok yang ditawarkan secara murah atau bahkan gratis (?).
Begitulah upaya-upaya pabrik rokok menggaet targetnya. Banyaknya iklan outdoor di hampir sepanjang jalan di sebuah tempat/wilayah menunjukkan betapa sangat besar dan masif upaya menjangkau para perokok dan calon perokok ini. Belum lagi memang tampilan iklan yang sangat menarik, yang mengesankan para perokok adalah laki-laki tangguh, pemberani, suka tantangan serta disukai para wanita di sekitarnya menjadikan “tantangan” bagi siapapun yang melihatnya.
Apa yang salah ?
Untuk sebuah peluang usaha dan bisnis memang tidak ada yang salah dengan hal ini. Bagaimana produsen memasarkan produknya untuk menggaet konsumen loyalnya. Hal yang sangat biasa tetapi khusus untuk pemasaran rokok ini menjadi bermasalah, karena memang rokok dengan menjadi satu-satunya barang tidak normal yang legal. Rokok menjadi barang tidak normal karena mengandung zat adiktif (nikotin) disamping ribuan zat lain yang bersifat racun di dalamnya. Namun pada kenyataannya rokok memang barang yang tidak dilarang sehingga peredarannya bisa bebas.
Permasalahannya memang cukup rumit karena seringkali hal ini dikaitkan dengan kepentingan negara dalam hubungannya dengan pemasukkan negara dari sector ini. Sebenarnya dalam hal ini memang ada inkonsistensi pemerintah sendiri dalam pengendalian tembakau. Mulai dari lahirnya peta jalan produksi rokok oleh kementrian perindustrian sampai dengan tahun 2019 yang akan memproduksi rokok berkali-kali lipat dari jumlah pertambahan penduduk negara kita sampai dengan belum ditandatanganinya serta diratiifkasi FCTC ( framework convention of tobacco control).
Siapa Sasaran Industri Rokok ?
Bila melihat bahwa efek dari rokok baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif sudah jelas-jelas menyebabkan kesakitan dan kematian, maka sebenarnya industri rokok akan menargetkan munculnya konsumen baru akibat ‘habisnya’ konsumen lama. Konsumen baru jelas adalah para perokok pemula yang biasanya adalah anak-anak, remaja maupun pemuda untuk mengganti para perokok yang sudah menjadi sakit-sakitan yang akhirnya berhenti merokok karenanya maupun yang sudah meninggal karena penyakit akibat rokok.
Jika jumlah remaja Indonesia mencapai sekitar 65 juta atau 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia, bahkan data sensus penduduk tahun 2010 jumlah bayi s.d 19 tahun berjumlah 89 juta maka menjadi pasar paling potensial bagi para industri rokok untuk menjeratnya.
Apalagi remaja memang masih berproses mencari jati diri dan selalu penasaran untuk hal-hal baru. Maka munculnya iklan dan promosi rokok yang sangat menggoda menyebabkan remaja berkeinginan untuk mencoba. Tidak heran bila negara kita juga kondang di dunia internasional dengan perokok balitanya serta jumlah perokok pemulanya yang paling tinggi di dunia. Rokok menjadi “pintu masuk” untuk berlanjut kepada kenakalan remaja lain yang lebih berat. Karena memang rokok menjadi salah satu yang mengandung zat adiktif yang dianggap paling ringan efeknya, yang seringkali menjadi tantangan pertama sebelum kecanduan bahan adiktitif lain yang efeknya langsung kelihatan dalam waktu yang lebih cepat seperti alcohol dan narkoba. Diawali dengan kebiasaan merokok, akhirnya para remaja yang belum matang pola pikirnya itu juga seringkali jatuh dalam kebiasaan minum alkohol serta penyalahgunaan narkoba.
Bisa jadi mereka bukan perokok aktif tetapi perokok pasif ( the secondhand smoker maupun The 3rd smoker ) yang hanya mendapat asapnya saja maupun residu di baju dari para perokok aktif di sekitar mereka. Korban –korban asap rokok terus berjatuhan, makin muda dan makin banyak.
Penasaran dengan si anak yang mungkin masih umur 7 tahunan beli rokok 2 bungkus diatas maka saya sempat Tanya “….buat siapa dik? “ tapi dijawab adik kecil polos itu dengan senyum saja. Aku yakinsi anak tadi mesti suruhan orang dewasa di sekitarnya. Mungkin orang dewasa di sekitarnya tidak pernah berpikir bahwa itu adalah pembiasaan anak dengan rokok. Duuh si kecil sudah diajari secara langsung dan tidak langsung; diberikan pemikiran bahwa merokok adalah sesuatu yang fine-fine saja, Normal. Belum lagi nanti di rumah akan diasapin sama bapaknya/om nya/kakaknya/ kakeknya. Kasihan…kasihan..
Bila Bung Karno sebagai salah satu pendiri bangsa ini mengatakan “ berikan padaku 10 pemuda maka akan aku ubah dunia” maka itu berarti anak muda yang kreatif, penuh semangat untuk melakukan berbagai perubahan. Betapa perjalanan bangsa ini dipenuhi dengan heroism anak muda yang berani mengadakan perubahan di lingkungannya itu sudah menjadi catatan sejarah yang tidak terbantahkan. Di masa sekarang tentu saja peluang untuk menjadi “hero”sangat terbuka. Tentu saja syaratnya bahwa pemuda itu haruslah sehat dan tidak sakit-sakitan untuk tetap bisa bersaing secara kualitas dengan SDM muda bangsa lain. Bila negara kita sangat lemah dalam pengendalian tembakau seperti sekarang ini , maka ancaman terbesarnya adalah anak muda kita akan loyo, tidak bersemangat, cenderung sakit-sakitan bahkan mati muda. Maka satu-satunya jalan supaya kita tetap bisa bersaing di berbagai level maka ayo bagi anak muda semua, untuk berani berkata “tidak” untuk menjadi target industri rokok dan pada gilirannya alkohol dan narkoba.
(Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi 

Saturday, May 21, 2016

Kasus Yuyun, Sinergi Miras & Rokok


Kematian  bocah Yuyun (14 tahun) yang mengenaskan  setelah mendapat perlakuan tidak senonoh dari  14  pria  yang dalam pengaruh alcohol / minuman keras,   menyebabkan keprihatinan yang cukup mendalam dari banyak pihak. Pelaku –pelaku  pemerkosaan yang sebagian masih remaja (17 tahun 5 orang dan sisanya dibawah 20 tahun) menyebabkan keprihatinan tersendiri. Dalam kasus ini yang mengemuka adalah dari sisi minuman kerasnya (miras)- yaitu zat yang mengandung alcohol  dengan berbagai variasi prosentase yang mempunyai sifat memabukkan dan menghilangkan akal sehat para pelakunya.  Dalam kasus  ini,  tuak sejenis minuman tradisional beralkohol di daerah Rejang Lebong Bengkulu yang dituduh menjadi penyebab gelap matanya segerombolan pemuda  untuk bersama – sama menodai Yuyun sampai menemui ajalnya.
Kebijakan Tentang Miras
Berbicara tentang peredaran miras  memang sebelum peristiwa ini mengemuka, sudah pernah mengalami pro kontra.  Awalnya Kebijakan Mentri Perdagangan yang pertama di Kabinet Jokowi ini  yaitu  Rahmat Gobel sebenarnya  sempat melarang peredaran miras diperjualbelikan di minimarket. Hal ini  mendapat dukungan dari banyak kalangan dengan banyak argumentasi antara lain masalah kesehatan, nilai –nilai  moral, budaya serta agama mayoritas masyarakat. Toh bila masih ada yang membutuhkan dengan beberapa alasan, masih bisa diakses di layanan supermarket, dimana jumlahnya lebih sedikit serta  posisi dan lokas tertentu yang lebih sulit dijangkau oleh masyarakat dibandingkan dengan bila dijual di minimarket. Jadi  regulasi  yang ada sudah cukup mewadahi berbagai kepentingan itu.
Namun kemudian pada September 2015 dimana setelah pergantian Menteri Perdagangan maka ada pergantian kebijakan. Pada saat itu diluncurkan paket ekonomi yang diantaranya adalah terkait dengan diperbolehkannya miras diperdagangkan di minimarket.   Saat itulah pro kontra  mengemuka. Dan bila flash back ke diskusi –diskusi sebelumnya  maka beredarnya  miras secara lebih bebas ditengarai akan menyebabkan  kerusakan  mental dan moral para pemuda kita pada saatnya nanti.
Sementara alcohol yang menjadi  racun bagi tubuh maka seringkali  bisa menyebabkan gangguan  yang terkait dengan hati. Salah satu tugas hati adalah membuang produk limbah yang tidak bisa dibuang oleh ginjal  maka  gangguan fungsi hati  sering terjadi pada pengkonsumsi alcohol dalam jangka lama. Pada beberapa kasus   hal ini berujung pada kasus  kanker hati  dimana hatinya akan mengeras dan tidak bisa berfungsi dengan baik dan harus diganti hatinya (transplantasi liver).
Persamaan dan Perbedaan  Alkohol (Miras) dengan Rokok
Dalam kasus Yuyun maka berkembang bahwa  kita dalam kondisi darurat miras. Menurut hemat penulis maka kondisi kita tidak hanya dalam kondisi darurat miras tetapi juga darurat rokok.  Hal ini karena ada banyak  persamaan antara miras dengan rokok  dan adanya hubungan yang cukup erat keduanya. Alkohol serta nikotin di dalam rokok masuk dalam klasifikasi zat adiktif adalah zat-zat yang bisa membuat ketagihan jika dikonsumsi secara rutin.  
Persamaan lain antara miras dan tembakau (baca”: rokok)  yaitu bahwa keduanya dituduh menjadi factor risiko (FR) kemunculan penyakit  tidak menular (PTM). Dalam jangka panjang  miras akan bergabung dengan FR yang lain seperti pola makan yang tidak seimbang, kurangnya pola gerak/ aktifitas fisik atau olehraga,  merokok serta  jeleknya pengelolaan stress maka akan menimbulkan penyakit seperti penyakit  jantung, kencing manis, kanker, darah tinggi, stroke, gagal ginjal, dll. Istilah PTM sendiri merujuk pada klaster penyakit yang penyebabnya adalah banyak factor yang akan “bersinergi” menghasilkan manifestasi diagnose penyakit yang ‘mengerikan’ dan cenderung memakan biaya besar dan membuat miskin bagi pengidapnya (katastrofik).
Satu hal yang menarik ternyata ada  hubungan antara rokok  dan alkoho sebagaimana disebutkan dalam sebuah penelitian Noah R. Gubner dari Center forTobacco  Control Research and Education, University of California menyatakan  ada hubungan antara  alkohol dan rokok ( Detik com, 5/5/2016).  Dalam penelitian itu dinyatakan bahwa konsumsi alkohol akan mempengaruhi  proses penyerapan nikotin di dalam tubuh.  Semakin sering alcohol sering diminum maka proses penyerapan nikotin akan makin meningkat dan hal inilah yang menyebabkan dosis nikotin harus ditambah yang artinya jumlah nikotin (baca: batang rokok) yang dihisap juga semakin banyak.  Akibatnya  maka perokok lebih kecanduan dan lebih sulit berhenti. Dapat disimpulkan bahwa rokok dan alkohol terbukti bersinergi.  
Memang dalam kasus Yuyun belum  ada informasi tentang kebiasaan merokok pada pelakunya tetapi  biasanya sebelum sampai ke kecanduan alcohol maka para remaja kita mulai dulu dengan mencoba-coba rokok dulu.  Karena rokok  dari dulu sampai sekarang tidak ada larangan yang secara tegas mengatur peredarannya.  Rokok adalah barang tidak normal yang  legal. Jadi ini menjadi sebuah lingkaran setan yang sulit untuk diputus mata rantainya. Khusus dalam hal ini  penulis  merasa yakin bila digali lebih lanjut, maka besar kemungkinan para pemabuk itu juga menjadi pecandu rokok. 
Karena sama –sama sebagai zat adiktif, maka regulasi dalam undang-undang khususnya UU kesehatan no 36 tahun 2009 sudah cukup jelas. Namun dalam secara teknis  akan diatur kembali dalam peraturan pemerintah dan peraturan perundangan di bawahnya. PP tentang pengendalian/ pengamanan  tembakau juga sudah jelas  tercantum pada PP no 109/2012.  Sementara untuk miras sudah ada Keppres Nomor 3 Tahun 1997 yang juga berbicara tentang peredaran  dan definisi miras.
Namun dalam perjalanannya banyak dinamika yang muncul seperti pada masalah Permendag pada kasus  penjualan miras seperti diatas.  Dalam hal tembakau / rokok maka sekarang sudah muncul RUU pertembakauan yang diinisiasi oleh industri tembakau  yang sudah masuk prolegnas (Program legislasi nasional) pada tahun ini. Dua dinamika terakhir ini justru ditengarai akan memperlemah pengendalian zat adiktif. Belum lagi adanya peta  jalan tembakau yang dikeluarkan oleh Kementrian perdagangan yang menargetkan produksi rokok besar-besaran pada tahun ini sampai tahun 2019 maka tentu saja akan menarget para perokok pemula  dari kaum muda untuk mengkonsumsinya.
Dalam tinjauan sisi agama (baca : Islam) yang penulis pahami,  miras (minuman yang memabukkan)  diberi label hukum haram. Artinya penganutnya tidak boleh mengkonsumsinya. Sementara hukum rokok masih berbeda para ulama menyikapinya. Sebagian mengharamkan. sebagian memberi hukum makruh  bahkan ada yang hanya dalam kategori mubah. Yang jelas setahu penulis  tidak ada ulama yang menghukumi rokok dalam kategori sunnah ( melakukan berpahala, tidak melakukan tidak apa-apa) maupun wajib ( mengharuskan, bila tidak melakukan akan berdosa). Sehingga dari hal tersebut di atas dapat disimpulkan  bahwa  manfaat bahwa rokok memang dianggap sangatlah kecil sementara mudharatnya sudah jelas akan  merugikan kesehatan bagi para pemakainya dan orang di sekitarnya.
Munculnya dinamika pro kontra  terhadap manfaat  miras khususnya  memang pernah mengemuka karena beragamnya latar belakang masyarakat dalam hal budaya, agama dan adat istiadat dimana perlu juga dipikirkan akan kebutuhan “ruang” tersendiri untuk menampung kebutuhan –kebutuhan mereka seperti turis asing, kepentingan adat  di daerah tertentu. Walaupun disadari oleh banyak pihak  bahwa sebenarnya semua efek buruk pada kesehatan akibat miras dan rokok tidak ada  hubungan khusus dengan latar belakang apapun pada pemakainya.
Tetapi dengan munculnya kasus Yuyun ini maka menurut penulis pemerintah sudah selayaknya mempertimbangkan kembali matang-matang akibat lemahnya kebijakan miras dan rokok dimana data dan fakta terkait kesehatan  sudah  tidak terbantahkan lagi. Dalam hubungannya dengan keragaman masyarakat dalam hal agama dan adat istiadat,  pemerintahlah yang harus meramunya secara adil  supaya tidak  mengabaikan kesehatan masyarakat secara umum. 
Kasus Yuyun membuat pemerintah dan para pengambil kebikan harus kembali segera bercermin, untuk melihat apa kekurangannya  dan apa yang salah dari kebijakan publik  (public policy) yang sudah diambil. Menurut hemat penulis maka solusinya adalah sebuah regulasi yang pro terhadap kesehatan masyarakat baik terhadap miras dan rokok secara  adil. Bila tidak maka kasus ini  hanya akan berulang di lain waktu sebagai bom waktu dan kita hanya bisa meratapinya  tanpa tahu kapan semua akan berakhir (radar tarakan, april 2016))


Friday, April 15, 2016

artikel /opini



Rokok : Tinjauan Beberapa Aspek

     Rokok : Tinjauan Beberapa Aspek
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi   
Dalam kunjungannya ke kota  kita beberapa waktu yang lalu 23/3/2016),  – saat  peresmian bandara Tarakan pada momen membagi  “kartu sakti”- Bapak Presiden kita memberi pesan  bahwa dana – dana bantuan yang diterima oleh warga yang membutuhkan hendaknya tidak  dipakai dan dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Presiden menyatakan   bahwa bantuan tersebut jangan untuk dibelikan rokok atau pulsa dan Beliau menyarankan untuk membelikan hal   yang berguna bagi  gizi anak bayi dan biaya sekolah.
Bagi penulis untuk pulsa memang cukup debatable.  Pulsa  untuk komunikasi seluler bisa jadi  memang hanya untuk fun atau  hura-hura tetapi bisa jadi sebaliknya,  justru  bisa menjadi kebutuhan untuk meningkatkan produktifitas akibat berjalannya komunikasi yang baik dengan keluarga maupun dengan jejaring kerjanya. Sehingga disini penulis hanya menyoroti  khusus pada permasalahan zat yang  sering menyebabkan ketergantungan (adiksi) bagi para pemakaianya yaitu rokok. 
Risiko Penyakit Kronis dan Penyakit Tidak Menular
Sudah menjadi rahasia umum bahwa  merokok menjadi salah satu faktor risiko  dari berbagai penyakit non infeksi kronis atau sering dikenal sebagai penyakit tidak menular (PTM).  Berbagai penyakit kanker, kencing manis, darah tinggi, penyakit jantung, penyakit gagal ginjal serta stroke menjadi  kondisi yang sering dialami oleh para perokok.
Tetapi dalam kenyataannya  banyak yang berpikir orang miskin kan pasti penerima bantuan iuran  (PBI) dalam skema jaminan kesehatan nasional sehingga  dianggap tidak menjadi soal saat miskin  untuk tetap merokok toh bila sakit sudah tertolong dengan skema jaminan kesehatan yang dimilikinya.
Itu adalah sebuah pemikiran sempit dan menyesatkan.  Bila sampai sekarang bila ada perokok yang menderita penyakit yang digolongkan sebagai  penyakit kronis tetapi masih ditanggung oleh BPJS kesehatan atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) nya maka jangan merasa tenang-tenang saja.  Hal yang menyangkut kebijakan (policy)  yang bisa jadi bisa berubah di masa mendatang.  
Dengan ada kesulitan masalah keuangan di tubuh BPJS kesehatan,  maka menurut hemat penulis  regulasi  bagi perokok yang sakit kronis bisa jadi menjadi sebuah pilihan yang paling rasional untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu itu.   Mantan Menkes Nafsiah Mboi  pernah memberikan alternatif  bahwa orang yang pola hidupnya lebih berisiko sebaiknya membayar iuran jaminan kesehatan lebih tinggi daripada yang pola hidupnya sehat.   
Walaupun kebijakan seperti ini belum diterapkan tetapi sebaiknya Para perokok juga sudah harus berpikir bahwa dengan sakit maka kerugiannya bukan hanya sekedar pengeluaran biaya saat di RS saja, -yang selama ini bisa ditanggung BPJS.  Kerugian saat sakit juga menyangkuti  hilangnya pendapatan yang seharusnya didapat  pada saat dia sehat dan bekerja, juga biaya yang hilang pada saat keluarga juga kehilangan waktu untuk  bekerja  karena harus menungguinya di RS atau bahkan biaya yang dikeluarkan  untuk  transportasi dan berbagai keperluan lain oleh  pendampingnya. Berbagai biaya yang dikeluarkan  serta  kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan  (opportunity cost)  sudah semestinya menjadi pemikiran para perokok juga  supaya tidak menjadi penyesalan di kemudian hari saat penyakit kronis menghampirinya.
Penyakit kronis tersebut seringkali  mengharuskan pasien  untuk  mendapatkan tindakan cuci darah, kemoterapi, radioterapi,  operasi, pemasangan ring jantung dan berbagai tindakan medis berbiaya mahal yang bila  tidak ada penjamin biaya maka menjadikan pengidapnya dan keluarganya bisa  menjadi miskin mendadak. Istilah katastrofik sering digunakan untuk menyebut penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan gaya hidup yang baik (pola makan  gizi seimbang,  dapat mengelola emosi untuk tidak stress berlebihan, beraktifitas fisik atau olahraga yang rutin dan cukup serta tidak mengkonsumsi rokok dan atau alkohol).
Tinjauan sisi sosbud dan ekonomi
Dalam kehidupan  sehari-hari,  merokok menjadi kegiatan   yang  bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Merokok menjadi kegiatan yang sudah dimulai saat pagi buta –saat perokok bangun tidur, saat siang hari maupun malam hari saat lembur. Merokok sering juga dikerjakan bukan hanya saat di luar rumah seperti di kantor, transportasi umum seperti bis dan angkot, tetapi juga di ruang terhormat para anggota dewan,  ruang kantor  ber AC sekalipun ataupun sambil membaca Koran dan menikmati kopi di samping anak dan istri di rumah.  Merokok juga  dilakukan  sambil kongkow membicarakan  hasil skor sepakbola semalam, sambil main kartu, sambil nyetir mobil dan sambil ke toilet  untuk membuang bau.
Banyak sekali alasan dan motivasi orang untuk merokok. Apalagi bagi perokok yang sudah  dalam kategori kecanduan. Maka jika isu kesehatan menjadi tidak penting dan menarik bagi mereka maka hitung-hitungan ekonomi menjadi suatu alternative untuk menghentikan kebiasaannya.  Berapa rokok yang dihabiskan dalam sehari dan berapa uang yang dihabiskan untuk itu bisa dikalkulasi. Jika katakana 10.000 saja pengeluaran merokok per hari. Maka dalam seminggu, sebulan bahkan satu tahun dan lima tahun bisa dikalkulasi berapa uang yang ‘hilang” yang andaikan ada maka mungkin sudah bisa dipakai untuk banyak hal: cicilan rumah, kendaraan bermotor atau bahkan uang muka naik haji.  Dan bila saat ini kita masih berkutat pada benda 9 cm yang cenderung dituhankan (menurut Taufik Ismail) maka kerugian akan menjadi berlipat-lipat. Membayar pajak (baca : cukai rokok)  untuk sebuah investasi sakit pada saatnya kelak!

Karena berbagai alasan di atas maka  penulis sangat setuju dengan pernyataan bapak kepala Negara kita itu. Dan di level kita  jangan kita memakai  istilah “uang rokok”  sebagai uang tips atau upah bagi pekerja atau orang yang  membantu pekerjaan kita.  Karena dengan istilah itu maka uang tips yang sebenarnya bisa menjadi tambahan penghasilan bagi para pekerja non formal akan dengan mudah dibelanjakan menjadi rokok yang akan meracuni dirinya, serta perokok pasif di sekitarnya termasuk anak dan istrinya.  Jadi, ayo  jangan beli  rokok ! seperti ajakan Bapak Presiden kepada kita semua.(dimuat di Radar Tarakan, 14 April 2016)