Friday, August 22, 2014

Surabaya Health Season : antara wisata kesehatan dan Pasar Bebas ASEAN


SHS : Antara Wisata Kesehatan dan Pasar Bebas ASEAN

Surabaya Health Season (SHS) 2014 - sebagai acara tahunan dalam memperingati hari jadi kota Surabaya – berakhir. Acara yang berlangsung sekitar 1,5 bulan ini sejak 13 April lalu menyebutkan bahwa sejumlah fasilitas kesehatan seperti 58 rumah sakit (RS), klinik kesehatan, 62 puskesmas dan laboratorium ikut mensukseskan acara yang juga bertujuan menjadikan Surabaya sebagai Kota Wisata Kesehatan.
Selama ini kota wisata kesehatan biasanya identik dengan Singapura maupun Penang di Malaysia. Berbagai RS dan Klinik kesehatan dari LN itu bahkan seringkali mengiklankan diri di media massa besar di Indonesia dengan orang-orang kaya kita yang menjadi pasar potensial mereka. Jutaan orang kaya Indonesia yang berobat ke LN setiap tahunnya memang potensi luar biasa yang belum tergarap oleh kita sendiri.
Ternyata pernyataan Wagub Jatim dalam sebuah acara di Malang pada 27 September 2010, yang mengungkapkan bahwa larinya dana dari orang kaya di Jawa Timur ke luar negeri (LN) sebesar Rp 2 trilyun per tahunnya masih cukup relevan. Dengan beragamnya alasan mengakses pelayanan kesehatan atau berobat ke LN bagi setiap orang maka dapat diprediksi secara kasar bahwa ada kemungkinan puluhan triliun rupiah dari seluruh negara ini yang lari ke berbagai negara lain.
Langkah Berani
Di tengah masih banyaknya komplain terhadap mutu pelayanan kesehatan yang dianggap masih belum baik serta adanya ketidakpercayaan (distrust) terhadap kemampuan RS dan dokter bangsa sendiri maka keberanian Surabaya yang mendeklarasikankan sebagai kota wisata kesehatan menjadi sebuah langkah yang pantas diacungi jempol.
Menurut hemat penulis, SHS menjadi salah satu cara menterjemahkan mimpi besar untuk menjadikan layanan kesehatan khususnya di Surabaya menjadi layanan kelas dunia (the world class health care) yang sampai sekarang belum banyak digagas oleh pemerintah daerah lainnya. Apalagi pada momen SHS tahun 2012 lalu juga sudah dicanangkan kota yang banyak meraih pengharagaan ini sebagai barometer kesehatan nasional. Sebuah langkah yang sangat strategis.
Apalagi konsep yang ditawarkan adalah pemberian pelayanan prima untuk pasien dan keluarga mulai dari bandara sampai dengan menyediakan fasilitas hotel yang terintegrasi dengan bangunan RS bahkan layanan sarana transportasi bagi keluarga yang hendak berbelanja. Sehingga bukan hanya infrastruktur kesehatan saja yang dipersiapkan tetapi infrastruktur pendukung juga harus memenuhi syarat. Selain transportasi publik, destinasi di dalam kota juga harus menarik, bersih dan nyaman.
Konsep ini juga menjadi out of the box karena selama ini Si sakit dan keluarganya yang sedang mencari pengobatan - biasanya cenderung bersedih dan tidak bersemangat – justru diperlakukan sebagaimana mereka sedang berwisata, supaya tetap bergembira. Tentu saja pada akhirnya konsep yang sebenarnya menyasar orang berduit yang biasa berobat di luar negeri ini diharapkan akan cukup efektif mencegah larinya dana kesehatan masyarakat bahkan bisa juga akan meningkatkan penghasilan asli daerah (PAD) maupun menarik devisa untuk level negara.
Satu hal yang juga harus mulai dipikirkan adalah bagaimana menterjemahkan arti kota wisata kesehatan bagi masyarakat miskin dan pas-pasan yang berobat menggunakan fasilitas asuransi sosial misalnya. Dalam era Jaminan Kesehatan seperti sekarang ini maka mempunyai konsekuensi bahwa orang miskin juga "boleh" sakit. Maka kehadiran ide yang sangat baik tadi tetap harus dapat menjamin perlakukan medis yang sama pada orang sakit dengan status sosial yang berbeda. Jika dulu ada guyonan khas Suroboyoan "murah kok njaluk slamet!" yang seringkali diidentikkan dengan komentar dari para pelaku jasa -tukang becak- saat ditegur oleh pengguna jasanya ketika sembarangan dalam mengemudikan becaknya, maka momentum ini adalah bisa sebagai pembuktian program ini tidak akan makin membedakan pelayanan yang kaya dan yang miskin.
Dalam hal ini maka harus kembali ditegaskan bahwa yang boleh berbeda hanyalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan keputusan medis yang berhubungan langsung dengan keselamatan pasien. Dalam arti yang lebih luas maka kualitas yang baik untuk semua kalangan (good quality for all people).
Harapan
Surabaya dengan banyak keunggulan di bidang kesehatan seperti hadirnya fasilitas kesehatan yang representatif baik milik pemerintah maupun swasta serta dokter-dokter sebagai pelaku pelayanann kesehatan yang tidak kalah dengan LN menjadi kekuatan daya saing tersendiri. Isu MEA dimana ada pasar tunggal regional ASEAN yang memungkinkan ada transportasi modal, jasa serta tenaga kerja yang akan bebas keluar masuk wilayah negara ASEAN justru menjadi pemacu semangat bagi seluruh stakeholder kesehatan yang ada untuk menatap AFTA (ASEAN Free Trade Area) sebagai sebuah peluang.
SHS dengan program yang mengutamakan kepuasan pelanggan, mutu pelayanan kesehatan dan budaya patient safety di berbagai fasilitas kesehatan kota Surabaya dapat menjadi "katalisator" untuk menciptakan keunggulan daya saing dalam menghadapi era perdagangan bebas di level ASEAN pada awal 2015 sebentar lagi. Karena disadari bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN nantinya apakah memang dapat digolongkan sebagai peluang ataupun justru ancaman bagi semua fasilitas kesehatan dan SDM tergantung dari kesiapan untuk menghadapinya.
Menjelang berakhirnya SHS maka dengan harapan jangan hanya menjadikan SHS hanya agenda rutin dan bussiness as usual untuk memperingati hari jadi kota Surabaya dan setelahnya kembali menjadi "biasa-biasa saja". Menjelang 1 Januari 2015 dimulainya pasar bebas ASEAN, maka tetap ditunggu kehadiran Surabaya Health Season berikutnya...................
Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi (Dinas Kesehatan Kota Tarakan)

Add comment

 
 
 
1000 symbols left

 
Security code
Refresh

Website lain dari PKMK FK UGM

deskesMsehatmpt
    aids2

Website terkait

   
  ahrq

Saturday, July 19, 2014

Sebuah Diskusi Kecil dengan Pangeran Kecilku


Berdiskusi dengan pangeran kecilku yang baru lulus SD - usia menjelang remaja tentang situasi sekarang ini banyak menyinggung-nyinggung tentang politik, kebebasan pers, nilai universal dan banyak hal lain yang sedang hit dan trend membuat aku sadar bahwa aku sedang berhadapan dengan pribadi yang sedang mencari "sesuatu". Istilah yang dilontarkan membuat aku kaget karena anak-anak sekarang kelihatan menjadi lebih cepat dewasa. Berbicara politik /pilpres di usianya yang masih sangat muda dengan berbagai sudut pandang. Aku sadar, anak sekarang tumbuh dan berkembang ditemani dengan berjuta informasi yang benar bahkan yang sampah dari berbagai media. Kadang bahkan sumpah serapah dan caci maki yang mengemuka. Ternyata menjadi tantangan kita sebagai orang tua untuk menjadi wasit yang netral dan adil bagi semua. Social media, media cetak serta TV diyakini memang memang menjadi alat untuk berkomunikasi yang cukup efektif untuk segala hal...Dibutuhkan kecerdasan dalam menganalisis semua berita yang ada. Tidak hanya apa yang tergambar di layar tetapi kadang kita juga perlu melihat apa yang ada dibaliknya. Karena sejatinya sesuatu yang benar seringkali bukan menjadi sebuah arus utama yang ada dan tersaji indah di depan mata. Jadi menurut hemat saya, dalam situasi seperti ini carilah informasi yang benar dengan melihat dari berbagai angle. Karena kalau hanya dari salah satu sumber saja maka akan kurang berimbang informasinya. Tentu saja tetap butuh nurani dan akal sehat untuk mengambil kesimpulannya....
Wasit yang adil tentu saja bukan berarti tanpa keberpihakan. Tapi keberpihakan pada sebuah value dan prinsip kebenaran dan kebajikan. Dalam hal konteks diskusi dengan pangeran kecilku ini maka pesanku dalam melihat seorang sosok pemimpin harus imbang dan mengakui ada kelebihan dan kelemahan masing-masing. . .Tidak boleh ada kultus individu pada siapapun..Karena harus disadari bahwa tidak ada makhluk yang sempurna....etc.
Semoga diskusi itu menjadi sebuah mata rantai positif dalam proses pendewasaanmu Nak! Apapun urusannya semoga diberikan kemudahan Allah swt dalam membedakan dan mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah bila berhadapan dengan sebuah urusan benar -salah/moral.....dan harapanku khusus urusan diskusi yang nyerempet pilpres tadi semoga negara kita diberikan pemimpin yang terbaik dan amanah...Amin Ya Robb.

Thursday, July 3, 2014

SEKS BEBAS DAN FENOMENA PING PONG





Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi
Berita tertangkapnya 3 pasangan yang bukan suami istri sah di hotel melati kota Tarakan pada beberapa hari lalu (Mei 2014) di media ini cukup memprihatinkan. Walaupun sebenarnya ini bukan yang pertama, karena menjelang peringatan hari Valentine  14 Februari lalu,  enam pasangan di luar nikah juga terjaring operasi  pihak Satpol PP dengan Polres Tarakan saat merazia hotel dan losmen. Bahkan pada saat itu juga  diketahui bahwa ada pasangan yang  diduga mengkonsumsi Sabu-sabu. Penyakit masyarakat hubungan seks bebas dan narkoba saling berkelit kelindan memperburuk keadaan satu sama lain. 
Maraknya kejadian  serupa menunjukkan bahwa bahaya seks bebas sudah merambah ke masyarakat kita. Bahkan yang memprihatinkan bahwa hal ini juga dilakukan oleh anak usia 20 tahunan atau bahkan kurang yang sebenarnya masih usia anak sekolah.
Kondisi ini makin memprihatinkan saat kita melihat bahwa data juga menunjukkan bahwa penyakit menular seksual  ini juga mulai  diidap oleh anak-anak remaja kita dari mulai dari usia SMP dan SMA. Walaupun tidak banyak tetapi  ada kasus-kasus yang ekstrim juga pada usia Sekolah Dasar sekitar 11-12 tahun yang sudah terkena penyakit ini.
Apapun motivasi pelaku – seperti ikut-ikutan, sikap hanya untuk bersenang-senang semata, sikap serba membolehkan dalam arti negatif -   tetap saja akan mengundang risiko yang sama yakni infeksi menular seksual (IMS) atau penyakit menular seksual (PMS).  Jenis-jenis IMS adalah  banyak sekali  sekitar 20 jenis an. Yang familiar di telinga banyak orang adalah seperti keluarnya nanah pada kelamin pria (GO), keputihan, sampai syphilis.  
IMS ini juga dianggap sebagai pintu masuk untuk terkena gangguan kesehatan lebih lanjut yang sampai sekarang termasuk yang paling ditakuti kehadirannya yaitu  HIV dan AIDS.  HIV (Human Immunodeficiency Virus)  yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, yang  pada akhirnya akan menimbulkan  AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome)  - yakni kondisi dimana kumpulan gejala akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh seseorang. Khusus untuk HIV AIDS maka data yang ada menunjukkan bahwa  prevalensi (penemuan kumulatif dari tahun ke tahun) HIV / AIDS di  kota kita menjadi nomor 3 di provinsi Kaltim  setelah Samarinda dan Balikpapan. Itu bisa juga diartikan menjadi jawara nomor satu di provinsi  Kaltara. 
Lelaki Berisiko Tinggi dan Fenomena Bola Ping pong
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kota kita menjadi pintu masuk ke provinsi Kalimantan  Utara dengan  bandara dan pelabuhannya. Kedudukan Tarakan sebagai kota pulau yang merupakan kota transit juga  menjadikan munculnya banyak industri jasa penginapan (hotel serta losmen) dan hiburan malam.  Walaupun tidak bisa digeneralisir tetapi banyak tempat-tempat tersebut   yang terindikasi sebagai hot spot  sebagaimana  ditunjukkan dari hasil  beberapa razia tadi. Hal ini juga  menjadikan kota kita makin rawan dengan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual ini.
Apalagi daerah sekitar Tarakan yang banyak terdapat camp perkebunan, kehutanan maupun tambang yang biasanya banyak pekerja laki-laki. Dengan sistem kerja yang on duty-off duty (ada waktu kerja dan waktu libur khusus misalnya masing –masing 2 Minggu) maka akan sangat memungkinkan bila mereka akan datang ke kota Tarakan untuk menikmati hiburan yang tidak sehat ini atau hanya sekedar transit untuk kembali pulang ke daerah asalnya melalui pelabuhan laut/udara. Banyaknya pria berduit yang cukup mobile  dan cenderung punya perilaku yang ingin  disebut sebagai macho (4M = man with money, mobile and macho behaviour) maka IMS ini akan menyebar dari luar rumah masuk ke dalam rumah dan menyerang istri mereka.
Sayangnya perempuan seringkali menjadi pihak yang paling dirugikan dalam hal ini. Karena banyak IMS yang seringkali tidak bergejala pada perempuan akibat pengaruh letak anatomis organ perempuan yang ada di dalam. Posisi sosialnya juga seringkali menyebabkan perempuan tidak diajak berobat oleh pasangannya sehingga fenomena “bola pingpong” kerap  terjadi. Saat si laki-laki kembali pulang ke rumah maka akan kembali tertular oleh istri/pasangannya yang tidak ikut diobati pada saat laki-laki terkena dan diobati pertama kalinya. Begitulah seterusnya seperti bola ping pong pada permainan tenis meja yang dengan mudah dilempar dari pemain yang satu ke lawannya serta sebaliknya.
Bahkan pada gilirannya juga mereka ibu-ibu rumah tangga yang tidak berdosa ini  akan tertular HIV/AIDS dari Lelaki Berisiko Tinggi (LBT) atau high risk man  sebagai suami/ pasangannya. Bila demikian maka anak yang dikandungnya pun akan punya potensi ketularan yang cukup besar terutama bila tidak mendapatkan penanganan yang semestinya saat hamil dan proses melahirkannya.
Pertumbuhan ekonomi kota Tarakan yang cukup tinggi dan  yang banyak menjanjikan sumber ekonomi baru  seperti industri rumput laut  akan  menyebabkan arus perpindahan penduduk yang masuk ke kota Tarakan cukup besar dalam hal ini. Akibat yang langsung  terlihat ini adalah semakin banyaknya  rumah sewa/kontrakan maupun kost-kostan dimana pengawasan sosial kadangkala sangatlah lemah.  Tentu saja hal ini  akan  membuka kemungkinan suburnya  terjadinya transaksi seksual di rumah-rumah yang peruntukan awalnya untuk rumah sewa atau kontrak  bagi  para pekerja.
Kemunculan sekolah/pendidikan tinggi di Tarakan yang ditengarai juga menjadi penyumbang kasus melalui anak didik/mahasiswanya- seperti tengara media ini dalam kasus terakhir dan sebelumnya sebetulnya adalah hal yang paradoks.  Tentu saja hal ini didapat karena pergaulannya di luar kampus (di kost-kostan/ rumah sewa maupun di berbagai lokasi hotspot) yang sudah terlalu permisif dengan hal-hal yang dianggapnya sebagai bagian dari gaya hidup modern. Seharusnya dengan bekal pengetahuan (knowledge) yang lebih baik  maka sikap dan perilaku (attitude) akan otomatis terperbaiki.  
What Next?
Walaupun program HIV AIDS kita sudah meraih penghargaan tertinggi dan terbaik MDG’S Award tahun 2013 kategori pengendalian penyakit menular 2 bulan lalu namun disadari bahwa program kesehatan yang mengarah  pada penanggulangan IMS termasuk HIV AIDS sebenarnya adalah seperti “pemadam kebakaran” saja.  Ranah kesehatan  dalam hal ini adalah di hilir maka bila hulunya tidak dilakukan program promosi dan pencegahan yang masif maka kasus ini akan cenderung bertambah terus. Sejatinya program di hulu banyak sekali yang sifatnya mencegah dapat dilakukan oleh banyak sektor terkait.  Pendidikan agama dan etika di dalam rumah sejatinya adalah pemberian “kekebalan” yang akan sangat ampuh yang akan menjadi penangkal semua “infeksi” yang akan masuk tubuh layaknya pemberian imunisasi pada anak balita kita.  Tentu saja butuh  penguatan  dari semua lembaga pendidikan baik formal/informal maupun lembaga keagamaan.  Satu hal yang tidak kalah penting adalah pengawasan sosial  dan kepedulian dari semua masyarakat terhadap semua hal yang mempunyai potensi yang tidak baik juga bisa jadi menjadi penting, di samping memang tugas dari para penegak aturan  dan hukum baik Satpol PP  maupun polisi.
Menurut hemat penulis penyakit masyarakat sejatinya tidak hanya selesai dengan pendekatan formal semata. Nilai - nilai yang dianut masyarakat seperti adanya kecenderungan  serba boleh (permisif) maupun  pandangan yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama  hidup (hedonisme)  dalam hal ini sebaiknya perlu pendekatan khusus yang lebih komprehensif. Tentu saja banyak program dan  sektor bisa bergerak di sini. Ayo....!!