Tuesday, March 13, 2018

wisuda mas aski (nitip save)






Yang Tersisa dari KLB Asmat : Revisi UU Wabah Semestinya Masuk Prioritas Prolegnas 2018

                                                      
            Aksi pemberian “kartu kuning” oleh Zaadit Taqwa, sang Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), kepada presiden Jokowi pada acara dies natalis ke -68 Universitas Indonesia (UI) masih ramai dibicarakan. Salah satu isu yang menjadi tuntutan utama yaitu penyelesaian Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Papua yang sudah memakan banyak sekali korban sakit dan meninggal. Tanggapan yang muncul terhadap latar belakang atau alasan aksi dibalik tuntutannya menuai pro kontra yang luar biasa dimasyarakat.
            Di tengah pro kontra cara penyampaian tuntutan yang dianggap tidak lazim itu, Bupati Asmat Elisa Kambu dalam rapat kordinasi di Posko Satgas KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat per tanggal 5 Februari 2018 menyatakan bahwa status KLB dinyatakan dicabut dengan berbagai pertimbangan.
            Pada banyak kasus, saat sudah berlalu dari maraknya pemberitaan media maka kebiasaan kita sebagai bangsa cenderung akan melupakan dan tidak mengambil sebuah pelajaran pada suatu hal. Untuk itu penulis mencoba menganalisis yang menjadi dasar bagi tindakan kita selanjutnya.
Hubungan Campak dan Gizi Buruk
            Banyak analisis yang berkembang terkait dengan KLB campak yang kedua ini setelah sebelumnya 11 tahun bebas campak. Biangnya dianggap angka cakupan imunisasi yang masih rendah. Memang campak termasuk dalam kelompok penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. KLB kali ini dianggap terjadi usai pesta budaya pada Oktober tahun lalu. Berkumpulnya masyarakat dalam jumlah besar termasuk yang dari pedalaman yang masyarakatnya tidak terimunisasi menyebabkan rentannya terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara itu (air borne disease).         Apalagi bila sejak awal asupan gizi dari bayi atau anak sudah bermasalah maka akan mempermudah jenis penyakit apapun untuk menyerang, termasuk campak.
           Dari sisi medis, kasus gizi buruk bisa jadi merupakan komplikasi dari penyakit campak itu sendiri. Gejala utama campak yaitu panas tinggi dengan bercak kemerahan di kulit yang disertai satu dari batuk, pilek atau mata merah ini menyebabkan bayi/balita malas untuk menyusu atau makan. Jelas terlihat bahwa kasus gizi buruk bisa muncul di awal saat asupan makanan tidak terpenuhi yang mempermudah masuknya virus campak ke dalam tubuh ataupun gejala ikutan di akhir sebagai komplikasi akibat campak. Pada kasus lain gizi buruk bisa berdiri sendiri karena kurangnya asuspan makanan dalam waktu panjang ataupun berkaitan dengan penyakit infeksi lain selain campak.
          Di sisi lain campak masuk dalam kategori penyakit menular ynag dapat menimbulkan KLB bahkan wabah. Sementara gizi buruk bukan termasuk dalam kategori penyakit yang dapat menular namun kemunculan dan kejadiannya juga bisa menyebabkan suatu daerah masuk dalam status KLB.    Walaupun berbeda secara klasifikasi tetapi yang jelas bahwa keduanya menjadi sangat erat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus gizi buruk akan 13 X lebih mudah jatuh pada kematian dibandingkan pada anak dengan gizi normal. Maka sangat masuk akal bila sekitar pada kasus di Asmat 60-an bayi meninggal

Analisis KLB
         Dari kasus KLB campak di Papua dan banyak KLB difteri di 20 Provinsi lain yang masih berlangsung sampai sekarang - yang juga sudah memakan banyak korban jiwa ini -maka seharusnya membuat kita makin sadar bahwa ancaman penyakit menular ini masih tinggi ditengah naiknya kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, ginjal.
          Disadari bahwa satu hal yang juga cukup krusial dalam pengendalian KLB adalah pola pembiayaan wabah. Jika disatu sisi penyakit yang masuk dalam kategori kronis dan tidak menular karena sifatnya yang katastrofik (penyakit berbiaya tinggi) maka akan dijamin oleh asuransi bagi pesertanya maka penyakit yang masuk dalam kategori wabah justru tidak. Karena di dalam regulasi yang mengatur wabah yang ada dinyatakan bahwa urusan pembiayaan dibebankan pada pemerintah dan pemerintah daerah namun dalam pelaksanaan di lapangan banyak sekali kendala yang terjadi.
Sementara sudah diketahui secara luas bahwa penanggulangan KLB/wabah adalah juga sangat memakan biaya terutama untuk pelaksanaan ORI (Outbreak Response Immunization) maupun penanganan penyakitnya bagi korban terdampak.
        Terkait dengan pembiayaan KLB maka ada sebuah temuan menarik yang terungkap pada pertemuan progam surveilans epidemiologi Kemenkes yang penulis ikuti pada awal tahun 2017 adalah adanya keengganan daerah untuk merilis pernyataan KLB secara resmi.
Dengan pernyataan resmi maka citra daerah akan ternoda disamping alasan utama bahwa daerah harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk membiayai kasus yang rawat inap di RS termasuk para pemilik dan pemegang kartu asuransi kesehatan sekalipun. Hal ini akan berimbas tergerusnya keuangan daerah yang mengalaminya. Apalagi dalam kondisi keuangan di beberapa daerah yang mengalami defisit anggaran.
       Akibatnya dapat ditebak, menyimpan atau lebih tepatnya menyembunyikan informasi KLB menjadi pilihan yang paling realistis walaupun sebenarnya merugikan karena menjadikan tidak adanya kesadaran bersama khususnya masyarakat terhadap bahaya KLB/wabah.
Pada saat pertemuan yang dihadiri juga oleh lintas sektor juga mengungkapkan beberapa hal terkait solusi penanggulangan KLB. Pada saat itu perwakilan dari BPJS menyatakan secara lisan bahwa bagi para pemilik kartu KIS/BPJS yang terkena penyakit yang dinyatakan KLB maka itu bisa ditagihkan kepada BPJS sebagai pembayar. Pengobatan dan tindakan di RS merupakan upaya kuratif yang merupakan domain BPJS pada saat ini. Yang menjadi tanggungan Pemerintah Daerah (Pemda) hanyalah biaya bagi masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan.
         Namun dalam kenyataannya di lapangan /daerah bisa berbeda. Ada pandangan bahwa KLB merupakan force majeur yang tidak dapat ditanggung oleh asuransi. Akibatnya, kebijakan pembiayaan bagi peserta BPJS yang terkena penyakit yang dinyatakan KLB ditanggapi secara berbeda – beda di level cabang. Yang tersering adalah pada akhirnya dikembalikan ke Pemda masing-masing.
          Kendala lain dalam pencegahan dan penanggulangan KLB adalah seperti koordinasi antar jejaring dan kemitraan dalam pengendalian KLB juga masih belum terpetakan dengan baik. Sementara Langkah –langkah penanggulangan KLB yang sudah jelas tahapannya tentu membutuhkan koordinasi yang baik antar sektor dan profesi. Dalam UU no 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menyatakan bahwa epidemic sebuah penyakit menjadi salah satu bencana non alam juga masih belum terlalu jelas dalam level teknis.
Harapan
         Banyaknya permasalahan yang belum terselesaikan di berbagai level baik dari sisi regulasi, kebijakan serta teknis dalam kaitannya dengan KLB karena merujuk bahwa hulu dari permasalahan ini belum clear. Terakhir kita masih menggunakan UU no 4 tahun 1984 tentang wabah, dimana dalam banyak hal sudah sangat tidak relevan dengan kondisi terkini terutama koordinasi dalam hal pembiayaan.    Disamping juga munculnya isu-isu terkait penyakit menular baru (new emerging) dan penyakit yang muncul kembali (re-emerging) yang belum sepenuhnya terwadahi.
          Akhirnya tidak tuntasnya KLB di suatu daerah akan menimbulkan ancaman yang sama di lain waktu di tempat yang sama maupun berbeda. Untuk bukti tidak perlu
menunggu lama, dalam hitungan hari maka KLB campak sudah menyebar dari Kabupaten Asmat ke beberapa kabupaten lain seperti ke Pegunungan Bintang yang juga di Provinsi Papua. Kasus difteri yang awalnya muncul dari Jatim dengan beberapa Kabupaten pada tahun 2009, akhirnya menyebar secara luas.
         Bila Zaadit Taqwa sudah mewakili masyarakat dalam mengkritisi pemerintah sebagai eksekutif terkait tugas-tugasnya dalam hal kesehatan, maka dalam kesempatan ini menurut hemat penulis perlu juga diimbangi dari kerja-kerja legislative dalam memilih dan memilah prioritas RUU yang harus dibahas dalam Prolegnas tahun ini.
           Akhirnya hanya berharap bahwa KLB campak di Asmat dan KLB difteri di 95 kota/kab di 20 Provinsi ini – yang notabene sudah sangat mengkhawatirkan- bisa menjadi momentum untuk mendorong pembahasan RUU (Rancangan Undang-Undang) tentang perubahan UU Wabah no 4 tahun 1984 menjadi prioritas dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun ini. Yang terjadi bahwa dari 50 RUU prioritas yang sudah ditetapkan sejak Desember tahun lalu, tidak ditemukan RUU yang terkait KLB/wabah di dalamnya. Maka harapan berikutnya bahwa dalam evaluasi prioritas Prolegnas berikutnya ini menjadi prioritas. Bandingkan dengan RUU pertembakauan yang kontraproduktif dengan kesehatan (baca: pro rokok) sebagai inisiatif DPR menjadi urutan ke-12 atau masuk kategori sangat prioritas. Maka saat urusan rokok lebih penting dari KLB dan wabah maka patut dipertanyakan masihkan para wakil rakyat memikirkan dan memperjuangkan kesehatan sebagai salah satu kebutuhan dasar para konstituennya ?
Wahai para wakil rakyat, ditunggu komitmen dan action –nya untuk mengubah atau bahkan membalik situasi ini ! (Tri Astuti Sugiyatmi).

Friday, February 16, 2018

Saat Sakit




Dalam waktu dekat-dekat ini  beberapa  teman  dan keluarga menghubungiku terkait dengan  kondisi sakit pada keluarga, putra putrinya. Ada sms yang sangat menyentuh bahwa ada seorang ibu yang galo dan mellownya seorang ibu--- begitu dia menyebutnya ---saat putrinya bolak balik masuk RS dan mendapat tindakn karena keadaan penyakitnya yang mengharuskannya mendapat pembedahan. sampai berkali-kali. Kekagumanku pada seorang ibu yang tulus ikhlas merawat dan membesarkan hati anaknya untuk tidak jatuh pada perasaan bahwa Tuhan tidak sayang padanya. Membaca lanjutan WA nya   bahwa dia sebagai ibunya akan berusaha mengantarkan anak untuk mengejar ketertinggalan  dan menjemput masa depannya  maka  sudah cukup membuatku haru yang luar biasa ….masya allah. Saat itu, aku tentu saja hanya memberi penyemangat saja  dan hanya bisa berdoa semoga Allah swt segera mengangkat sakitnya  dan menggantinya dengan kebaikan2 yang lain. aamiin Yra.
Satu lagi seorang teman juga menceritakan penyakit kanker yang diderita keluarganya dan upaya yang dilakukannya sekarang. Lagi-lagi hanya bisa mendoakan dan memberi saran tentang upaya mendukungnya dengan perawatan paliatif dari sisi keluarga.  Paliatif? Ya  ini adalah sebuah upaya kepada penyakit pasien yang  rata-rat sudah tidak berreaksi dengan obat kuratif dan sudah dalam stadium akhir…. aku ceritakan saat dulu pertama-tama lulus dari FK Unair aku ikut tes menjadi relawan Paliatif Sutjiati….di ruangan kuliah PA seingatku. Ya belajar dari ilmu yang tidak seberapa aku berusaha menerapkannya pada ibuku sendiri. Banyak cerita dibalik paliatif bagi pasien kanker… Ya pngalamnaku itulah yang aku bagi , walaupun bisa jadi tidak cocok tapi minimal dukungan bagi klg juga sangat penting . bukan hanya bagi si sakit.  Sikap keluarganya juga masya allah….hebat sekali dalam memperlakukan si Sakit. Bagaiamana merawat dan menjaganya.  
Di lain waktu, Saat ada keluarga mengabari  juga mengalami cobaan dimana putranya harus ditransfusi puluhan kantong  komponen  darah juga membuatku  hanya  bisa ikut mendoakan saja.  Keadaan keluarga yang sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan juga  membuatku ikut senang dan optimis bahwa hal ini akan terlampaui  dengan baik, walaupun memang masih ada beberapa PR nya yang belum selesai….Doaku pun masih sama, semoga segera diangkat penyakit  dan kembali  sehat seperti semula.
Dalam waktu yang sama bahkan keluarga ada juga yang harus operasi, pasang ring di jantung setelah beberapa kali terkena serangan mendadak….lagi-lagi hanya dukungan dan doa saja yang aku berikan… Sikap keluarga yang tenang saat operasi  dan kondisi gawat  juga membuatku kagum sekali.
Kejadian-kejadian  beruntun di dekatku  itu ditambah membaca tulisan Pak Dahlan Iskan tentang  kejadian  yang menimpa beliau sekarang ini :aorta dissection yang hari ini masuk edisi ke-8 maka  menjadikan aku merenung tentang penyakit, sakit dan memaknainya.
Khusus untuk  Pak DIS aku sejak dulu memang  menjadi penggemar tulisan pak Dahlan.  Seingatku  jauh sebelum  muncul  bukunya ganti hati. Bagiku pak  DIS adalah  seorang yang sudah ‘selesai’ dengan dirinya  termasuk terhadap penyakit-penyakit dan kondisi mengancam jiwa  sekalipun. Sangat menginspirasi. Di tengah situasi gawat darurat maka beliau masih bisa membahasakannya dengan  tulisan yang membuat pembacanya seakan ikut merasakannya.  Luar biasa. aku menganggap bahwa karena ketawakalan Beliau lah yang menyebabkan semua bisa terdokumentasi dalam tulisan yang hari2 ini ditunggu oleh para pengagumnya setiap jam 8 pagi di FB.   Tulisan yang bisa merekam kejadian medis  yang menggetarkan itu menjadi sesuatu yang bisa dinikmati oleh pembacanya dari sudut pandang penullis sekaligus penderita   dalam waktu yang tidak terlalu lama dari kejadian sebenarnya.
Disini poin yang hendak aku sampaikan adalah bahwa memaknai sebuah peristiwa sakit ternyata memang tergantung bagaimana background dari si Sakit dan keluarganya. Bagiku, Pak Dahlan insyaallah lulus dengan nilai ujian yang sangat baik katakan A pada saat menghadapi sakit ini. Dengan menuliskan maka tergambar bahwa kepasrahannya  kepada allah swt, sangat luar biasa. Sehingga hal-hal  yang katakan sangat sulit dilalui bagi orang kebanyakan menjadi sesuatu hadiah dan kejutan indah dari akhir ceritanya (ini tebakanku saja…karena ceritanya belum selesai)….insyaallah. aamiin yra
 4 kisah sebelumnya  tentang sakit dan penyakit  itu menjadikanku  mengambil kesimpulan bahwa betapa setiap individu mengalami ujiannya masing-masing, termasuk sakit.  Dan  bagaimana  cara pandang dan memaknainya  kondisi  sakit dan penyakit itulah saja yang bisa menolongnya. Bahwa semua orang akan sakit dalam hidupnya adalah keniscayaan.  Namun  bagaimana menanggapinya mungkin itu akan berbeda pada setiap individu. semua kisah diatas menimbulkan  kekaguman yang membekas dalam hatiku. Bagaimana di tengah ujian yang menimpanya orang-orang itu demikian optimis dan tidak kehilangan ‘pegangan’. Pegangan itu adalah rasa tawakal  yang bisa diartikan sabar dan tetap berusaha.  tentu saja itu bersumber dari adanya sebuah  rasa percaya pada adanya Dzat yang Maha segalanya. Doa terbaik untuk semua…
Btw, aku jadi ingat omongan FH (you know who)   di acara ILC minggu ini.  walaupun  konteknya berbeda, namun  intinya  bahwa agama adalah sesuatu yang sangat positif bagi para pemeluknya pada saat menghadapi krisis. tentu saja bukan berarti saat tidak krisis, agama tidak dibutuhkan lho ya.  Bila 5 kisah-kisah ini adalah krisis ujian pada diri sendiri atau keluarga maka  apa yang diomongkan  politisi muda itu agak berbeda sedikit.  
Bahwa ditengah –tengah isu mendiskreditkan agama  tertentu sebagai biang intoleransi, radikalisme dan antikebhinekaan maka seharusnya kita justru berterimakasih pada agama. Bila bagi penganut atheism agama adalah angan-angan belaka maka bagiku Agama menjadi gantungan saat orang-orang  mengalami frustasi dalam menghadapi kenyataan  yang menghimpit hidupnya… Memang akan debatable dalam hal sebuah pandangan politik. Apalagi saat ini. Karena bisa jadi ada yang setuju atau tidak setuju.   Forget it !
Tapi bagiku konten dari pernyataan itu memang  benar adanya. Bahwa agama menjadikan munculnya  adanya harapan.    Jika ada krisis daya beli yang sangat merosot dengan memperbanyak puasa mungkin … (he..he…ini sih interpretasiku sendiri) , walaupun tentu saja   tidak bisa begitu bagi orang-orang yang mengandalkan tenaga fisik untuk bekerja. Asupan  karbohidrat dalam makanan menjadi wajib adanya, misalnya bagi penarik becak atau gerobak misalnya.   Tentu saja agama juga memberikan pesan  kebaikan bahwa jangan kita kenyang sendiri sementara ada tetangga yang kelaparan.  Sampai pada cerita indah khalifah Umar bin Khatab yang memanggul  sendiri  bahan pangan yang  akan diberikan pada rakyatnya yang ditemuinya  kelaparan saat melakukan agenda blusukan rutinnya. Ada cerita pemberdayan si miskin dengan dana-dana sedekah misalnya.  dll. Kesimpulannya: bahwa ada  berbagai skema  yang ditawarkan oleh agama (baca : Islam) pada saat ada krisis kelaparan membelit.Dan tentu saja bukan hanya terbatas pada  umat seagama saja.
Bahkan saat ada umat lain- tetangga  berbeda agamapun -  bahkan dari belahan kabupaten /kota atau provinsi bahkan negara lain pun maka  ada himbauan dari agama untuk ikut berkontribusi di dalamnya.  Sudah banyak sekali bukti nyatanya.

Maka bila ada wacana penghapusan/ pelarangan  adzan, bila ada narasi bahwa atheism /komunisme tidak bertentangan dengan dasar negara kita seperti yang beredar saat ini, maka  apakah yang akan menjadi pegangan kita saat krisis itu mendera ?.  Na’udzubilah. Semoga tidak terjadi….
Maka kalau itu yang terjadi, aku tak kan kuat , Kau sajalah !!!
(Tri Astuti Sugiyatmi,  Surabaya 16 Feb 2018)

Thursday, February 1, 2018


Saat Allah Dianggap Tak Ada


Setelah berputar-putar memastikan tidak ada sepeda yang tadi diparkirnya di situ, maka Subuh itu dia pun pulang dengan berjalan kaki. Laporlah pada sang ibu. “Bu… sepedaku hilang”. Hilang tidak berbekas. Sepeda yang selalu menemani hari-harinya pergi ke beberapa tempat sekarang tidak ada. Dicari ke sekitarnya tidak ada. Ya namanya hilang….inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.
Ibunya sebenarnya galau juga karena bagaimanapun sepeda itu juga yang banyak berjasa baginya…”Ya sudah Le…musibah ini. Walaupun kita harus introspeksi. Lha wong nggak kamu kunci ya memberi kesempatan maling untuk membawanya pergi” Sambil menahan rasa kecewa ibunya ngomong dengan pelan.
Dari penelusuran kecil yang dilakukan sebenarnya ada titik terang dari keterangan seseorang bahwa sepeda itu ada yang makai saat waktu Subuh tadi.
Dari cerita penjaga maka sudah 3 kali sepeda itu hilang disini dalam waktu yang tidak terlalu jauh. setengah tahun yang lalu, 3 bulan yang lalu dan sekarang. Sayangnya tidak ada tanda2 dan titik terang dalam hal ini." Ya sudahlah...
Beberapa hari setelahnya lewat tempat itu lagi maka dia kepikir “eh enak ya kalo ada CCTV…mungkin maling sepeda itu akan ketangkap”. Diskusi pun berlanjut: wah itulah kita ya, kalo nggak barang yang kelihatan kita nggak takut. Kalo ada benda CCTV yang menggantung maka kita baru takut. Padahal kita juga selalu diawasi CCTV 24 jam full. Ada malaikat Roqib dan ‘Atid di sisi kanan kiri pundak kita. Cuma memang itu adalah efek CCTV dalam rasa. Rasa iman. Merasa terawasi kapanpun dan dimanapun. Bukan hanya saat di lampu merah yang ada tanda kuning bertulis : AREA INI DIAWASI OLEH KAMERA CCTV, tetapi juga di jalan-jalan kampung yang tanpa alat canggih itu. Bukan hanya saat di atas panggung yang disorot oleh lampu penerang tapi juga di kamar gelap yang tak nampak dari luar.
Maka bila pencurian itu dilakukan di sebuah masjid pun maka yakinlah bahwa pencuri itu datang ke rumah ibadah memang hanya untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. Disamping memang ada peran –peran dari sebuah keteledoran sang pemilik barang. Si pencuri itu datang ke masjid, bukan untuk menyembah Allah, Tuhan yang Maha Kuasa. Bukan pula karena takut akan adzab Allah di hari kemudian saat amal buruk lebih banyak dari amal baik. Bahkan bisa jadi memang dia tidak percaya pada adanya Allah…
Jika akhir-akhir ini hidup makin sulit, memang iya. Semua serba naik harganya seperti TDL, barang-barang kebutuhan sehari-hari, pajak, BBM, sementara lapangan pekerjaan semakin sempit dan sulit. . Namun bukan berarti bahwa mencari rejeki mengabaikan antara yang halal dan haram. Untuk siapa yang percaya akan kehadiran Allah yang Maha Segalanya maka harapan itu akan tetap ada, apapun kondisinya. Tidak gelap mata main sambar kanan kiri karena keterbatasan. Karena ternyata bukan hanya orang yang kepepet karena ketiadaan yang cenderung tidak percaya sama CCTV Allah. Maka di sisi lain banyak orang yang sebaliknya-artinya sangat berada bahkan kaya raya pun, tidak percaya sama hal itu. Mungkin bentuknya tidak ambil barang yang kasat mata. Namun bisa jadi melakukan perbuatan yang kelihatan sepele tetapi berdampak sangat besar. erek…erek…sret ! Bisa jadi yang kehilangan tidak hanya satu, dua atau tiga orang tapi ratusan, ribuan bahkan sampai jutaan orang. Ya kehilangan kesempatan untuk lebih baik status kehidupannya. na’udzubillah.
Btw, akhir-akhir ini di beranda banyak sekali muncul akun-akun yang cenderung menghina ajaran agama. Ya agama, apapun agamanya. Memang paling sering menghina agama Islam, sesuatu yang mungkin paling familiar di telinganya. Baginya, apapun tentang agama itu hanya khayalan. Dia berpendapat bahwa alam semesta sudah ada jauh sebelum agama turun…. bahwa agama hanya menjadi dongeng yang tidak ada artinya, bahkan agama adalah candu. Memakai bahasa yang sangat kasar dan cenderung melakukan provokasi dalam kata-katanya.
Jadi pada akun orang itu biasanya hanya percaya dengan alam dan teknologi. Semuanya bisa hebat karena kekuatan alam semesta raya dan kecanggihan teknologi produk dariotak manusia. Tapi menurutku bukankah artinya dia juga menuhankan alam dan teknologi. Bila mau ditarik ke hulunya lagi siapa yang menciptakan itu semua ?
Aku hanya berkesimpulan bahwa akun itu dimiliki oleh orang yang tidak punya agama. Ya atheis….Bisa jadi karena atheism maka orang tu tidak percaya sama apapun pasca kematian. sehingga dengan entengnya menghina, mencaci, memaki dan memakai bahasa yang sangat kasar untuk menafikkan suatu agama. Dia mungkin menganggap bahwa hari-hari pasca kematian adalah sebuah ramalan kosong yang karena kita tidak pernah ke sana. Sebenarnya banyak sekali data dan fakta yang bisa digunakan untuk membantah dari logika sempitnya. Tapi berdebat dengan orang seperti itu tampaknya memang tidak akan banyak bermanfaat. Karena kebencian yang ada di hatinya menjadikan apapun argumennya sudah mental duluan.
Dalam agamaku sudah jelas sekali bahwa bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Bahkan menghina atau mengolok-olok sesembahan agama lain pun tidak boleh. Dalam kondisi terjelek (perang misalnya) maka tempat ibadah agama lain –pun menjadi sesuatu yang dilarang untuk dihancurkan….wow luar biasa ya…
Dalam sebuah kesempatan beberapa waktu yang lalu saat aku pelatihan dengan seorang dokter cowok dari negara sosialis- komunis, maka dia bilang bahwa hanya aku satu-satunya teman dia yang muslim dan berjilbab. Karena saking merasa anehnya maka aku diajaknya berfoto dan dipostiing di FB nya saat itu. Dan komentar teman-temannya sangat luar biasa. Saat kami-dengan temanku yang lain berdiskusi- maka masuklah ke pertanyaan yang cukup sensitive. Bagaimana kalau kamu merasa khawatir terhadap sesuatu ? Kamu akan menyebut apa kah ? Kamu akan minta tolong sama siapa ? Rasa penasaran itu begitu kuat ingin tahu. Ternyata jawabannya ya menurutku agak mengambang. Sekitar 1 tahun setelahnya dimana aku berkunjung ke negerinya maka aku berkesempatan ke rumah teman yang dulu pernah di sebuah pelatihan yang sama . Seorang yang bekerja di kementrian kesehatan Vietnam. Masuk ke perkampungannya aku merasa memang merasa sedikit beda. Rumah di daerah perkotaan yang luasnya semua seragam. Bangunan mungkin degan lebar 4-5 meter yang hanya cukup untuk parkir 1 mobil. ke belakang sekitar 5 meter lagi dari belakang mobil ada sebuah dapur. Sebenarnya ditempat kita di daerah perkotaan juga mirip seperti itu. Bedanya di sana rumah seperti itu kelihatannya bukan hanya diperkotaan tapi juga di pedesaan seperti yang menuju ke destinasi terkenal…Ha long Bay. Rumahnya naik sekitar 5 lantai. Lantai ke dua kamar orang tua dan sebuah ruang tamu kecil. lantai 3 kamar anak dan sebuah santai. Ada yang menarik selain lantai tersebut. di lantai paling atas ada kandang ayam. Berkaitan dengan kepercayaan maka di lantai bawahnya kandang ayam alias lantai 4 ada semacam mushola-kalo di tempat kita, yang saat aku tanya itulah adalah ruangan untuk pemujaan. Walaupun bilangnya tidak jelas agamanya apa tapi ungkapan-ungkapan oh my God juga masih aku dengar juga... Bisa jadi itu adalah kasusistik untuk sebuah negeri yang komunis itu.
Tapi aku sih memaknai bahwa sebenarnya manusia itu dengan segala kehebatan otaknya, tetap sangatlah lemah dan banyak bergantung pada sesuatu yang bisa jadi di luar control diri kita sendiri. Bahkan di dalam tubuh sendiri tidak semua bisa dalam kendali pikiran sadar kita. apakah besok pagi yakin masih bisa bangun dan beraktivitas seperti biasa? Apalagi alam semesta raya yang sangat-sangat luas ini. Bila tidak ada pencipta maka bagaimana sebuah mekanisme system tata surya akan berjalan dengan rapi. Bagaimana bisa semua beredar di garis orbitnya. …masya allah.
Jika sebuah status di medsos intinya memperolok-olok ucapan takbir yang diasosiasikan dengan ungkapan yang secara suara sekilas terdengar mirip tapi bila dituliskan maka akan menimbulkan makna yang sebaliknya atau mengolok-olok sebuah ajaran dari ayat-ayat suci atau hadist nabi atau ajaran gama apapun maka itu adalah sebuah ungkapan yang keluar dari orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan.
Maka orang ini hidupnya hanya saat sekarang ini saja-begitu mungkin dalam keyakinannya. Tidak ada pembalasan apapun di kelak kemudian hari-seperti diyakini oleh sebuah agama khususnya Islam. Jika sudah begini maka dia anggap bahwa mati adalah sebuah titik. Maka dia akan cenderung berperilaku seenaknya kepada ajaran agama bahkan kepada Tuhan sekalipun. Karena dia tidak percaya akan balasan kelak di kemudian hari. Asalkan lolos dari mata pengamat siber maka dia akan melenggang di dunia. Urusan akhirat toh dia tidak percaya….
Bila banyak yang menganutnya maka nanti akan semakin banyak orang yang melanggar tatanan social. Yang penting kan tidak ketahuan atau ketahuan tapi dibiarkan oleh hukum masyarakat atau negara. Nanti akan semakin banyak orang menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsunya asalkan tidak ketahuan oleh hukum yang berlaku sekarang...
Aku melihat bagi orang-orang seperti ini yang ditakuti hanya hukum dunia yang seringkali tidak adil…..yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan. Bila ini terjadi maka menurutku sungguh tidak adil dunia ini. Maka itulah aku sangat percaya bahwa Allah itu ada, meskipun tak tampak mata. Yang menguasai hari pembalasan suatu kelak nanti.
Anak-anakku, saat sekarang status mengajak kepada kebatilan sedemikian merajalela, maka semuanya akan terpulang kepada kita. Berpegang teguhlah pada apa yang sudah kita yakini paling benar. Bila berhubungan dengan yang lain katakan: bagiku agamaku dan bagimu agamu… Cukup sudah. Tidak perlu ikut larut dalam caci maki sebuah ajaran lain sekalipun. Tidak perlu. Karena yakinlah, bahwa Allah swt itu pasti ada……….Suatu saat kelak semua akan menerima buah sebagai imbalan dan ganjaran sesuai dengan apa yang ditanamnya hari ini. Wallahu alam

Thursday, December 7, 2017

Resiliensi Kota Tarakan Menghadapi Ancaman Wabah DBD Meningkat ?




 Resiliensi Kota Tarakan Menghadapi Ancaman Wabah DBD  Meningkat ?

 Tri Astuti  Sugiyatmi
                                                                        

                Beberapa hari lalu Koran ini menurunkan laporan tentang menurunnya kasus Demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tarakan. Sejak tahun 2010 s.d 2016 angka itu memang cenderung terus meningkat.  Berturut-turut 275, 260, 364, 368, 443, 474, 545  kasus dalam setiap tahunnya. Hanya di 2011 saja yang menurun tipis dibanding tahun sebelumnya. Khusus di 2017 sampai akhir November ini angkanya ada pada 122, yang berarti ada penurunanan jumlah kasus jika dibandingkan waktu yang sama pada tahun 2016. Jumlah kasus tercatat tahun ini sampai Nov hanya kurang dari 30%  dari kasus tahun sebelumnya atau artinya ada 70% penurunan kasus.
                Jika membaca data tersebut maka penyakit  yang disebabkan virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes sp sampai sekarang masih  menjadi momok di Kota kita. Seperti pada banyak kota di seluruh Indonesia dan dunia. Khusus di Kota Tarakan baru pada tahun ini terjadi penurunan yang cukup signifikan walaupun masih ada 1 bulan lagi ke depan, namun diperkirakan bahwa angkanya tetap akan jauh di bawah angka kasus pada tahun 2016 lalu.
Prediksi KRAPI
Kota Tarakan sejak beberapa tahun yang lalu sudah mempunyai dokumen  KRAPI (Kajian Risiko dan Adaptasi Perubahan Iklim) yang menyatakan bahwa ada beberapa hal yang terkait dengan perubahan iklim dimana salah satunya adalah akan meningkatnya secara drastis kasus DBD pada tahun 2030 yang akan mencapai angka ribuan. Hal ini tentu saja berdasarkan pada prediksi dari penelitian yang dilaksanakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, Bappeda beserta dinas terkait.
Prediksi yang memberikan warning bagi kita mengingat bahwa Tarakan sebagai kota pulau yang  mempunyai karakteristik dimana dalam setahun panas dan hujan hampir selalu bergantian bisa  dalam setiap minggunya. Tidak seperti kota lain di daratan pulau Jawa misalnya yang mempunyai batas jelas antara musim penghujan dan musim kemarau dalam setiap tahunnya. Pada kondisi demikian maka kemunculan ancaman wabah DBD hanya muncul pada waktu tertentu atau bulan tertentu saja karena penyakit ini sering dikaitkan dengan musim penghujan. Mengingat nyamuk itu bertelur di air genangan yang cukup bersih maka kondisi hujan sepanjang tahun ini menjadikan peluang nyamuk untuk berkembang biak menjadi lebih besar daripada daerah yang waktu hujannya hanya sekitar 6 bulanan saja.
Untuk daerah seperti kota Tarakan maka tidak mengherankan jika kasus muncul sepanjang tahun, dari Januari s.d Desember.  Apalagi berdasarkan KRAPI tadi juga  bahwa suhu dan kelembaban di kota tercinta ini sangat cocok dan sesuai dengan vector penyebar DBD yaitu nyamuk aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.
Hal ini juga diperkuat dengan data masyarakat yang  sering menampung air hujan  sangat tinggi karena air perpipaan yang masih belum memadai. Bila kita melihat rumah-rumah di Kota Tarakan, maka hampir pasti ada cadangan air  yang ditaruh dalam drum, profil tank, ember dan penampungan dari semen yang permanen. Rata-rata cadangan air ini diletakkan di bawah talang-talang air yang akan mengalirkan air hujan ke dalamnya. Namun sayangnya  perilaku dan kebiasaan  masyarakat dalam menampung air adalah  enggan untuk menutup dan mengurasnya, dengan berbagai alasan. Salah satu yang paling sering adalah bahwa kalau ditutup maka saat hujan, maka tidak akan mendapatkan  air gratis yang secara langsung turun dari langit tersebut. Air hujan juga akan terbuang sia-sia tidak  termanfaatkan. Sedangkan keengganan masyarakat  untuk menguras penampungan air biasanya terjadi  karena mereka takut kehabisan air saat dibutuhkan. Akibatnya adalah sebuah konsekuensi logis jika  Tarakan menjadi sangat rawan DBD, angkanya cenderung naik terus dari tahun ke tahun dan menjadi endemis di semua kelurahannya.
Strategi Adaptasi

                    Sebenarnya saat –saat sebelum tahun  2017 ini berbagai upaya juga sudah dilakukan. Menu-menu wajib dari Kemenkes seperti penanganan kasus, pemeriksaan angka bebas jentik, pemberian larvasida secara selektif masal serta pelaksanaan fogging fokus (bila perlu) menjadi sesuatu yang rutin dilaksanakan dan pemberian komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).  Dari sisi pengamatan kasus dan tindak lanjutnya secara medis dan public health sudah dilakukan. Pengendalian vektor  juga sudah dilakukan. Satu hal mendasar seperti peran serta masyarakat dan lintas sektor memang awalnya sangat kurang optimal. Namun memang diakui bahwa bila sesuatu dikerjakan seperti biasanya   business as usual atau tanpa inovasi dan menyandarkan semua kegiatan hanya di ’pundak’ orang kesehatan dan dinas kesehatan menjadikan angkanya masih bertahan tinggi dan  naik secara tajam mendekati prediksi KRAPI.             
                    Maka dengan kondisi Tarakan yang secara ‘natural’  menjadi langganan penyakit ini setiap tahunnya memang dibutuhkan sebuah upaya yang lebih kuat dalam menghadapinya. Dengan diperkenalkannya dokumen KRAPI dan prediksinya maka menjadikan adanya dasar ilmiah bertindak dengan lebih baik.   
                    Banyak kegiatan tambahan yang diperkenalkan dengan dorongan dari hasil KRAPI tadi.  Istilah
strategi adaptasi sebagai upaya penyesuaian kegiatan dan teknologi dengan kondisi iklim yang disebabkan oleh fenomena perubahan iklim juga diperkenalkan.
Dengan dorongan dari lembaga donor yang concern dalam hal perubahan iklim maka strategi adaptasi untuk menghadapi ancaman DBD  juga mengalami perkembangan yang luar biasa. Upaya dan kegiatan inovasi  terobosan untuk mencoba menaikkan angka bebas jentik  (ABJ) sebagai indikator antara dikerjakan dengan tujuan  pada akhirnya diharapkan dapat  menurunkan kasus dan angka kematian yang ada.
                    Kelahiran TAD (Topi Anti DBD) pada tahun 2013- sebagai istilah penutup air berpori yang digunakan ibarat topi pada  bagian atas profil tank, drum, ember-  menjadi strategi adaptasi yang  disambut baik. Selain diharapkan akan  menjadi  teknologi tepat guna yang akan meningatkan ABJ maka TAD pada  akhirnya diakui dapat menjadi sumber pemasukan bagi para pembuatnya.
                    Ada program 1 rumah 1 Jumantik (1R1J)  dari Kementrian Kesehatan pada tahun 2016/ 2017 yang di Tarakan diadopsi menjadi program JK 1-1 (1 Jumantik untuk 1 Keluarga). Dengan banyaknya rumah sewa maka JK1-1 menjadi lebih dapat diterapkan, karena walaupun dalam 1 rumah dengan banyak keluarga maka penampungan airnya juga  biasanya akan terpisah.  Dalam perkembangannya maka K disini dapat diartikan sebagai kantor, kelas bahkan kandang.
                    Upaya ini dikawinkan dengan keterlibatan CSR (corporate social responsibility) dari beberapa perusahaan dan badan milik pemerintah  secara   nyata juga sudah berperan aktif dalam  pemberian bantuan TAD.
                    Upaya masif untuk menjadi wadah bagi kolaborasi semua stakeholder  yang digagas Dinkes dalam Gema Anti DBD (gerakan masyarakat Antisipasi DBD) juga menjadi pengikat semua kegiatan.   Termasuk dalam  kegiatan Gema Anti DBD  adalah pemeriksaan penampungan air oleh mahasiswa kesehatan dari Universitas negeri  dan  sebuah akademi keperawatan swasta serta pembagian larvasida untuk penampungan air yang membutuhkan. Tentu saja peranan para kader kesehatan dan masyarakat pada umumnya juga sangat besar  dalam keberhasilan ini.

Kolaborasi Antar Sektor adalah Kunci
                     Penyakit  yang disebarkan oleh  vector sifatnya sangat dinamis. Angka Bebas Jentik bisa berubah dengan sangat cepat. Dari tinggi  menjadi rendah maupun sebaliknya. Upaya 3M di dalam dan di luar rumah dalam sekejap akan menaikkan ABJ. Sebaliknya jika dalam  1 minggu tidak ada gerakan apapun untuk mempertahankan  rumah atau kantor tanpa jentik maka dengan cepat  juga akan menurun angkanya. ABJ sendiri  sebagai indikator antara dihitung dengan membandingkan rumah yang diperiksa  yang tidak didapatkan jentik  dengan semua rumah yang diperiksa.  ABJ dinyatakan dalam prosentase. Semakin tinggi angkanya maka akan semakin bagus situasinya dan sebaliknya.       
                    Maka belajar dari SIDIK (Sistem Informasi Data Indeks kerentanan  Peubahan Iklim ) yang disusun oleh KLHK maka akan dapat dipelajari bahwa untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih sustain untuk situasi di atas maka perlunya membangan City resilient strategy (strategi ketahanan kota) yang tentu saja harus diturunkan dalam sebuah rencana aksi nyata.
                     Sedangkan resiliensi sendiri menurut ensiklopedia merupakan  kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Resiliensi dibangun dari berbagai macam hal positif. Maka ketahanan adalah lawan dari kerentanan.  Kerentanan (vulnerability) merupakan  fungsi dari keterpaparan (exposure), sensitivitas (S) dan kapasitas adaptif. Kota Tarakan  dengan tingkat keterpaparan dan sensitivitas tinggi terhadap DBD maka pilihannya adalah pada tingkat kapasitas adaptasi mana yang akan diambil oleh  pemerintah beserta seluruh masyarakatnya.  Maka  sudah sangat jelas bilaTarakan hanya ada 3 pilihan  yaitu pada   kapasitas adaptifnya saja yaitu rendah, sedang-sedang saja atau tinggi.
                    Bila tingkat kapasitas adaptasi rendah, Tarakan menjadi sangat rentan terhadap DBD. Bila sedang-sedang saja maka Tarakan menjadi agak rentan dan bila kapasitas adaptasinya tinggi maka akan menjadi kurang rentan. Semua pilihan akan terpulang kepada kita.  Bila ada penurunan kasus kemungkinann besar karena ketahanan kota mengalami peningkatan.   
Untuk kedepannya menurut hemat penulis maka penyusunan Perwali ataupun bahkan Perda terkait pencegahan dan  pengendalian DBD  bisa menjadi salah satu alternatif dalam upaya membangun ketahanan kota.     
 Bila tema Intersectoral collaborations for the prevention and control vector-borne diseases sekarang  baru  dalam tahap  pengembangan dan pengkajian oleh University of the Philippine Manila untuk menjadi rekomendasi   bagi pencegahan dan pengendalian penyakit  berbasis vector untuk seluruh dunia nantinya, maka pada saat ini Tarakan sementara sudah berhasil  berkontribusi  dan membuktikan bahwa penanganan penyakit  ini  memang membutuhkan  kolaborasi antar profesi,  antar bidang dan antar sektor.
Untuk itu, jangan lengah !