Wednesday, May 29, 2019

Jelang Hari Anti Tembakau Sedunia, 31 Mei 2019 Menitipkan Agenda Pengendalian Tembakau Menjadi Komitmen Presiden /Wapres Terpilih


Oleh : Tri Astuti Sugiyatmi*
Dalam beberapa waktu ini kejadian terkait dengan perilaku merokok menjadi viral. Yang pertama adalah sikap melawan seorang siswa SMP swasta di Gresik pada gurunya akibat ditegur saat merokok. Tak berselang lama ada berita yang tidak kalah menyedihkan dari kota Blitar kala seorang suami tega membunuh istrinya dan anaknya di depan keluarga lainnya karena dilarang beli rokok sebelumnya. Kebetulan keduanya terjadi di Jawa Timur. Sesungguhnya masih banyak sekali perilaku merokok yang terkait dengan sopan santun, etika, disiplin bahkan hukum tetapi kedua kasus di atas cukup menjadikan kita semakin paham bahwa permasalahan terkait rokok tidaklah sederhana.
Kebijakan Setengah Hati
Kebijakan pengendalian tembakau yang sering disingkat sebagai TC (tobacco control) selama ini menjadi kebijakan setengah hati. Bukan hanya pada pemerintahan saat ini tetapi juga jauh sebelumnya. Selama ini pertimbangan rokok menjadi sumber pendapatan negara lewat cukai dan menyediakan lapangan kerja seolah menjadi pembenar kenaikan produksi rokok yang awalnya 260 Miliar batang pada tahun 2015 menjadi 400 miliar-500 batang sampai 2019. Dengan asumsi bila semua produksi itu hanya dipasarkan di dalam negeri maka pada saat itu – menurut hitungan pakar- bayi baru lahir pun seakan sudah dipaksa untuk menghisap rokok sebanyak 2000 batang !. Bila negara lain memproteksi rakyatnya dari bahaya asap rokok maka Indonesia justru membiarkan rakyatnya untuk menjadi pasar paling menggiurkan bagi industri rokok dari dalam maupun luar negeri.
Mungkin kita-kita hanya bisa mengelus dada disuguhi cerita-cerita memilukan dari berbagai kenakalan remaja yang sudah kadung kecanduan zat yang mengandung 4000 jenis racun ini. Video viral ini rasanya untuk yang kesekian kalinya dengan pelaku anak-anak di bawah umur atau usia sekolah. Bahkan baby smoker alias perokok yang usianya 2 tahun juga rekornya ada di Negara kita. Perokok muda (5-14 tahun) mengalami kenaikan yang sangat signifikan dari 9,6 % pada 1995 menjadi 19,2 % pada 2010.
Keinginan mulai mencoba rokok bagi anak-anak bisa jadi karena menariknya berbagai iklan yang terpasang di jalan utama kota-kota besar maupun di pojok-pojok warung dekat sekolah. Penempatan rokok diberbagai supermarket/ minimarket pada lokasi yang sangat premium, yaitu di bagian depan dan mudah terlihat menjadikan “virus” rokok makin mengganas. Didukung pula penjualan rokok yang sangat bebas tanpa mengenal batas umur. Seorang anak bisa membeli satu batang – dua batang dengan harga yang terjangkau karena masih diperkenankannya penjualan secara eceran.
Dengan melihat kenyataan ini maka ke depan tantangan untuk mendidik anak –anak generasi milenial akan semakin besar. Perilaku merokok yang seringkali menjadi “uji coba” pertama sebelum beranjak pada zat-zat lain yang lebih berbahaya, maka dapat dipastikan jika tanpa pengaturan yang lebih baik bisa jadi akan menjadi pintu masuk kepada kecanduan miras bahkan narkoba. Peredaran vape/vapour atau rokok elektrik yang digembar-gemborkan lebih aman daripada rokok konvensional, ternyata juga bisa dicampur dengan bahan-bahan yang mengandung zat berbahaya yang tergolong narkoba. Maka anak-anak sekarang yang akan menjadi pemuda pada 2030- an saat bonus demografi seharusnya dituai namun justru bisa menjadi beban dan bencana bila sudah terpapar rokok atau zat berbahaya sejak dini.
Lain lagi pada perokok dewasa, walaupun perilaku merokok dianggap menjadi sebuah pilihan namun kenyataannya bahwa bila sudah kecanduan maka akan sangat sulit untuk menghentikannya, seperti kasus Bapak di Blitar tadi. Biasanya para perokok ini berhenti saat terserang penyakit degenaratif kronis seperti kanker, jantung, stroke, gagal ginjal, kencing manis, tekanan darah tinggi dll. Yang jelas para pecandu akan menghabiskan sedemikian banyak uangnya untuk dibakar, termasuk yang miskin sekalipun. Urusan rokok menjadi no 2 terpenting setelah bahan pangan pokok (jenis padi-padian). Urusan seperti pendidikan dan kesehatan sama sekali tidak menjadi prioritas. Apalagi mereka berpikir toh sebagai orang miskin untuk urusan sakit sudah ditanggung oleh BPJSK melalui program penerima bantuan iuran (PBI). Padahal kenyataannya bila sudah terlanjur sakit maka akan masih sangat membutuhkan biaya lain yang cukup besar.
Di sisi lain, BPJS Kesehatan kabarnya mengeluarkan dana yang cukup besar yaitu mencapai 33 % untuk membiayai penyakit akibat rokok yang trendnya terus naik itu. Akibat ikutannya akan menjadi sangat panjang karena menyangkut tersendatnya biaya operasional RS maupun ditariknya beberapa obat tertentu dan makin ketatnya tindakan yang dianggap berbiaya tinggi.
Namun informasi tersebut menjadi tertutupi atau memang sengaja dikaburkan saat pajak rokok dipakai untuk menambal defisit BPJSK pasca ditandatanganinya Permenkes no 53 tahun 2017. Banyak pegiat tobacco industry (TI) yang salah paham, gagal paham atau pura-pura tidak paham saat memanfaatkan momentum yang ada untuk “menghantam” program TC. Pengenaan pajak rokok sebagai penerapan sin tax law (yang dikenal dengan “pajak dosa”) sebagai salah satu upaya untuk pengendalian peredaran barang legal berbahaya ini justru dibalik menjadi bahan olok-olok.
Akibatnya sampai sekarang terkait usulan kenaikan cukai rokok sebagai instrument pengendalian yang digagas oleh pegiat TC, - yang akan dibebankan pada konsumen melalui kenaikan harga rokok - malah ditentang oleh para kalangan TI.
Menurut hemat penulis, carut marut dalam pengendalian produk tembakau tetap tidak akan pernah selesai bila penangannnya menjadi sektoral. Penerapan Kawasan Tanpa Rokok di sebagian kecil Pemerintah Kota/ Daerah menjadi bukti bahwa komitmen-lah yang paling penting dari pucuk pimpinan tertinggi.
Usulan
Seperti kita ketahui sampai sekarang Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) yang disuarakan banyak kalangan yang akan menjadi dasar untuk pengendalian tembakau beserta turunannya (termasuk rokok) sampai sekarang masih mengambang. Indonesia menjadi satu-satunya Negara di kawasan Asia Pacifik yang belum meratifikasi dan menandatanganinya.
Terminologi FCTC menjadi amanat yang secara eksplisit tercantum dalam Rencana Strategis Kementrian Kesehatan (Kemenkes) 2015-2019. Tentu saja dokumen itu juga turunan dari visi misi seorang presiden - yang kebetulan ini menjadi tahun terakhir -yang menjadi acuan dalam perencanaan dan pelaksanaan visi misi pembangunan dalam bidang kesehatan.
Memang akan menjadi berat saat FCTC seolah hanya urusan kementrian kesehatan semata. Karena sesungguhnya urusan pengendalian tembakau adalah urusan lintas departemen. Namun sesungguhnya bila hal itu dibiarkan mengambang seperti saat ini maka “harga yang harus dibayar” jauh melebihi rupiah yang diberikan .
Menurut hemat penulis hal - hal ini akan menjadi sebuah isu pengendalian tembakau yang cukup menarik yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Selain itu, isu pengendalian tembakau memang sudah saatnya dibahas oleh calon pucuk pimpinan tertinggi Negara yaitu capres /cawapres saat debat maupun presiden terpilih pasca sidang sengketa pemilu nantinya. Akankah urusan pengendalian tembakau juga menjadi salah satu komitmen para calon pemimpin Negara kita untuk periode berikutnya ?
*Tri Astuti Sugiyatmi

Reading The Past & Writing The Future


Membaca sejarah untuk menuliskan masa depan bagiku menjadi sangat relevan akhir-akhir ini. Itulah kenapa dalam kesempatan kunjungan ke beberapa kota aku mencoba untuk melihat museum - sebagai tempat sesuatu yang sudah dilewati, sesuatu yang sudah dicapai, peristiwa yang sudah pernah terjadi - disimpan. Museum Perang Dunia II di Tarakan dan Philippina , Museum kerajaan di Kalsel (Banjarmasin, Kalbar (Pontianak), Kaltara (Tanjung Selor), Museum di Jogja, Lubang Buaya, Museum tematik : Geologi, perminyakan, kedokteran (di FK unair) dll. Walaupun sejarah bukan hanya benda-benda yang terlihat, terfoto/difoto, terabadikan. Banyak hal yang tidak tertulis, tergambar ternyata juga terjadi.
Bila sejarah diceritakan oleh orang perorang akan muncul berbagai cerita dari sudut pandang, angle dan persepsi yang bisa jadi berbeda bahkan berlawanan. Banyak buku yang disusun oleh orang yang berbeda untuk melihat peristiwa yang sama bisa jadi akan muncul beberapa versi. Dibutuhkan "orang" atau pihak mempunyai sudut pandang yang luas untuk melihat puzzle-puzzle yang sedemikian rumit itu. Helicopter view atau bird view menjadi bisa melihat dari atas apakah yang sebenarnya terjadi. Ibaratnya perangkat drone yang bisa merekam sesuatu dari ketinggian sehingga sudut kiri yang tadinya tidak terlihat dari sebelah kanan dan sebaliknya akan menjadi semakin jelas. Memang tetap dibutuhkan analisa karena bisa jadi hanya terlihat bentuk seutuhnya dari atas, tapi ada sisi dimana "tinggi" nya juga membutuhkan pengukuran dan hasilnya.
Memang sangat tidak mudah menemukan orang dan pihak yang mumpuni seperti itu. Bukan hanya keilmuannya tetapi juga kebersihan hatinya. Rasanya kita akan sangat kecewa saat mengharapkan si A atau si B jadi seperti itu ternyata kemudian di belakang hari kita melihat " cacatnya". Memang sesuatu yang sangat baik, pasti pun "dibuat" atau melalui dengan proses yang luar biasa. Jadi ingat bahwa sebuah batu mulia dibuat dengan proses penekanan, pembakaran dengan suhu yang sangat tinggi dan pembentukan. Untuk sesuatu yang luar biasa menjadi wajar jika saat ini menjadi barang langka. Bila ada pun maka sebaik-baik orang ada saja para hater-nya.
Tapi setidaknya dengan karunia akal sehat dan nurani yang ada maka aku pun merasa "berhak" menterjemahkan masa lalu itu dan mengambil ibrahnya untuk merajut dan menuliskannnya untuk diriku sendiri.
Bagiku, kebenaran akan memiliki jalannya. seiring dengan waktu. Bisa di dunia atau bahkan bisa jadi di akhirat kelak. Ya aku harus percaya itu bahwa ada hari pembalasan dimana sebagai sebuah konsekuensi logis bahwa kadang di dunia kita tidak mendapatinya. sebuah keadilan. Dan akhirat adalah tempat dimana semua akan mendapatkan balasan dengan seadil-adilnya.
Sama seperti kita "membaca" 20 Mei 1908 saat para dokter mendirikan Boedi Oetomo sebagai organisasi kebangsaan sebagai cikal bakal dan berkontribusi bagi kebangkitan dan kemerdekaan negara ini. Maka hari ini mulai pukul 00.01 tanggal 21 Mei itupun - bahkan satu detik sesudahnya sebentar akan menjadi the past. Suatu ketika kelak, maka akan menjadi sejarah bagi kita semua dengan tafsir masing-masing. Dibutuhkan para begawan dengan keilmuan, kearifan pikirnya, kebaikan budinya, kejernihan nuraninya untuk menafsirkan puzzle kemarin. kemarin lusa, 1 minggu lalu, 3 bulan lalu, 1 tahun lalu, 5 tahun lalu, 10 tahun lalu, 50 tahun lalu sampai 111 tahun yang lalu menjadi sebuah gambaran besar yang akan memperkaya apa yang akan kita tulis untuk masa depan bersama. Mungkin 1 minggu ke depan, 1 bulan ke depan, 1 tahun ke depan, 10 tahun ke depan atau 50 tahun ke depan.
Bila itu pun tidak kita jumpai maka yakinlah akan ada sang pencatat semua kejadian hari per hari dan tidak akan terlewat sedetik pun. Saat itulah sejarah kita terpampang jelas tanpa bisa ditutup-tutupi dan kemudian masa depan kita saat itu pula akan dapat tergambarkan dengan baik. Mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang kita tanam hari ini, sebelum hari ini, dulu & dulu sekali semenjak kita baligh sampai besok, besok lusa sampai detik kita dipanggil menghadap -Nya.
Hanya kepada Allah swt Sang Maha Segala-galanya kita berserah.
" Maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah"... Wallahu alam bishawab....(Sby, TAS-21 Mei 2019)

Membaca (Menulis) Sebuah Buku


Aku pandangi fotokopian atau tepatnya kliping yang sudah dijilid oleh almarhum Bapakku dengan nama beliau ada di depan laiknya pengarang buku. Ada 2 buah. Saat aku buka satunya lagi aku kaget karena ternyata Bapakku mengumpulkan tulisanku yang selama ini ada di internet (website – lama sebuah pusat kajian di sebuah Universitas paling terkenal). Aku sebenarnya sangat penasaran. Bagaimana almarhum Bapak tahu tentang internet karena beliau aslinya orang lapangan –mantan Brimob yang dulu pernah bertugas saat menumpas beberapa pemberontakan pasca kemerdekaan.
Saat itu Bapak tidak kenal computer. Di kantor jaman dulu memang ada mesin ketik manual. Ada beberapa foto Bapak yang didepannya ada mesin tik itu. Seingatku belum ada computer. Mungkin ada tapi bukan bagian bapakku.
Namun saat diakhir hidupnya memang sudah musim warnet. Tebakanku Bapak ke warnet. Cuma juga masih penasaran, kok bisa browsing dll itu juga aku masih bingung. Bagaimana bisa menemukan tulisanku dan akhirnya mengeprintnya dan menjilidnya layaknya sebuah buku. Aku menterjemahan mungkin salah satu yang diinginkan oleh Bapak suatu ketika aku bisa membuat atau menyusun buku itu… Aamiin. Aku teringat hal ini karena hari ini buku sedunia…….Ingat buku dan ingatanku melayang pada “pesan tersirat” dari Bapakku itu yang samapai kini masih aku simpan klipingnya.
Yang dulu paling sering dibaca oleh Bapakku adalah majalah bahasa Jawa “Panjebar Semangat = PS” yang terbit dari Surabaya. Setahuku beliau mewarisi majalah PS itu dari kakekku yang dulu juga hobinya membaca mjalah itu. Ada banyak rubric yang aku juga ikut senang… opo tumon (kejadian unik-unik ); alaming lelembut (cerita horror : jumat Kliwon dll); kawruh boso Jawi dll.
Bapakku selain mewarisi langganan majalah PS juga akhirnya menjilidnya dlam 10-20 majalah menjadi 1 bendel. Banyak sekali bendelan PS yang masih ada di rumah. Untuk buku mungkin Bapak baru suka membaca buku agama yang ringan. Cara shalat, cara puasa dll.
Saat kecil aku suka baca buku cerita. Malah aku selalu menulis buku apa yang aku baca dalam sebuah buku tebal. Saat SMP aku suka berlomba sama teman sebangkuku: Titin Sumarni tentang buku2 apa yang sudah dibaca dan bagaimana isinya. Juga Lasmiyati, teanku SMP juga sangat senang dengan kegiatan ini. Jadi saat itu aku dan teman2 ku selalu menulis judul buku dan tahun terbitnya yang sudah pernah dibaca. Buku karya2 pujangga kita dan buku yang ada di Perpustakaan SD atau SMP itulah yang menjadi bagian yang menjadi bagian tebak-tebakanku. Pengalaman Masa kecil, robohnya surau kami, dan beberapa karya Hamka yang lain, juga saat itu trilogy atau tertralogi ronggeg dukuh paruk, Jantera Bianglala (karena kedekatan dengan tempat yang diceritakan) -karya Ahmad Tohari. Juga 5 sekawan karya Enid Blyton dll
Waktu berjalan dan hari berganti makin kesini ternyata daya baca semakin menurun. Saat kuliah praktis yang banyak dibaca mahasiswa FK adalah diktat, modul ataupun atlas maupun Buku2 textbook .
Makin kesini yang diminati buku sastra pembangun jiwa: laskar pelangi, Sang pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov dll. Belum lagi ketika cinta bertasbih dll. Ayat-ayat cinta aku baca sejak belum jadi buku masih berupa cerita bersambung di harian Republika. Sesekali buku managemen (disruption, Change, Self Driving, dll)… Tips and Triks , Biografi hanya sesekali dll.
Tentu saja buku resep masakan juga mengkoleksi beberapa walaupun dipraktikkan sesekali thok…he..he
Yang jelas daya baca (endurance) bisa jadi mengecil. Ada beberapa buku2 yang dibeli masih rapi nangkring di rak buku belum tersentuh.
Saat era digital datang… Ya adanya artikel pendek2di WAG, FB kadang2 seringkali lebih menarik daripada buku. e-book juga yang didownload… Tapi kadangkala hanya lihat2 yang dimaui untuk dibaca, jadi tidak membaca secara sempurna.
Saat hari buku ini, mengingatkan bahwa buku sebagai sumber ilmu -walaupun bisa jadi tergeser oleh Youtube atau yang lain – tetaplah istimewa. Karena sebetulnya membaca buku menjadi sebuah kebutuhan dan input bagi jiwa –jiwa yang ada.
Membaca sebagai pemenuhan kebutuhan akan informasi mempunyai kontribusi yang terbesar dalam pembentukan sebuah karakter…Membaca menjadi cara untuk berkontemplasi dan menjatuhkan keberpihakan… Membaca dengan mata dan hatimu akan kondisi sekitar…itulah yang akan tetap menjadi penerang jiwa… Maka membacalah …. Iqra…
Memang menulis menjadi sebuah output setelahnya. Lebih sulit dan berat. Apalagi untuk menulis sebuah buku….Lagi2 teringat “pesan tersirat” Bapak… Semoga suatu ketika nanti bisa mewujudkannya. Aamiin YRA
Selamat Hari Buku Sedunia…(TAS-Surabaya, 23 April 2019)

Tuesday, April 30, 2019

Beradaptasi dengan Perubahan Iklim Tarakan dalam Ancaman DBD dan Nyamuk








PROKALTARA, 14 MEI 2016


Sabtu, 14 Mei 2016 11:40
Beradaptasi dengan Perubahan Iklim
Tarakan dalam Ancaman DBD dan Nyamuk


PROKAL.CO, TARAKAN - Di saat mengembalikan alam seperti dahulu menjadi sedikit mustahil dan lingkungan telah berubah jauh, masyarakat tidak punya pilihan lain selain beradaptasi. Di saat langkah 3M tidak lagi menjadi solusi yang efektif, perlu ada inovasi baru yang ditawarkan.
Bagi sebagian warga pesisir di Selumit Pantai, Tarakan Tengah, langkah 3M saja tidak cukup. Ketakutan akan serangan DBD sejak lebih dari 10 tahun yang lalu mendesak mereka mencari langkah baru.
Rika, seorang ibu 2 anak ini akhirnya ikut memasang penutup di drum penampungan airnya setelah melihat tetangganya berbondong-bondong membuat penutup anti nyamuk itu tahun lalu. Terbuat dari kain kasa sejenis dengan kelambu anti nyamuk. Lebih dari 20 rumah memasang kain penutup yang diberi nama Topi Anti DBD (TAD) ini. Tidak butuh waktu lama, wanita kelahiran Tarakan itu ikut membuat TAD.
“Si kakak (anak sulungnya,red) sudah dua kali kena DBD. Yang kedua kali tahun 2013 itu parah. Saya sempat berpikir dia sudah tidak selamat dengan kondisinya waktu itu. Lemas sekali,”tuturnya.
Padahal dirinya mengaku sudah teratur mengamalkan abatenisasi di 5 penampungan airnya. “Disini PDAM tidak masuk, jadi harus tadah hujan kalau memang butuh air,” ujarnya.
Ada sekitar 2.087 kepala keluarga yang menadah air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dengan rata-rata 4 tandon air per KK atau sekitar 8 ribu lebih genangan air bersih di kelurahan Selumit Pantai ini. Sungguh surga bagi perkembangbiakan si pembawa penyakit DBD yang bernama Aedes Aegypti.
Konsepnya, dengan pori-pori kasa yang lebih kecil daripada nyamuk, walaupun tidak mengurangi jumlah populasi nyamuk namun secara logika hal ini akan mencegah nyamuk bertelur dan berkembang biak.
Sejauh ini konsep yang diinisiasi oleh Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Tarakan, dr. Tri Astuti Sugiatmi ini mampu meningkatkan Angka bebas jentik secara signifikan dari yang mulanya 56,3 persen menjadi 95 persen dalam jangka waktu pemasangan 3 bulan dan tetap stabil hingga kini.
Melihat adanya bukti, Kelompok Kerja Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Kota Tarakan bekerjasama dengan Apeksi dan Mercy Corps Indonesia dalam program Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCRN) mengajarkan masyarakat kelurahan Selumit Pantai membuat TAD secara mandiri. Bahkan, kini masyarakat Selumit Pantai juga membuat untuk kemudian dijual.
”Kain apa saja bisa dirangkai menjadi alat ini, dan harga bahannya juga tidak terlalu mahal. Untuk besar Topi Anti DBD-nya, dapat menyesuaikan dengan besar penampang atas drum atau profil, tak ada masalah,” tukas dr Tri.
Walaupun tidak sepenuhnya yakin DBD tidak akan menghampiri anak-anaknya, Rika dapat sedikit merasa lega dengan terus mencari cara menjauhkan buah hatinya dari serangan Aedes.
Sabtu, 14 Mei 2016 11:40
Beradaptasi dengan Perubahan Iklim
Tarakan dalam Ancaman DBD dan Nyamuk


JANGAN SAMPAI SEPERTI MENYAMBUT ZIKA
Ditetapkan sebagai endemis DBD sejak lebih dari 10 tahun silam, kini penyakit tersebut seperti berevolusi dan menakutkan. Menyerang manusia bahkan sebelum dilahirkan.
Dengan kondisi curah hujan yang cukup tinggi dan sepanjang tahun, serta suhu dan kelembapan yang sangat sesuai dengan siklus hidup dan perkembangbiakan nyamuk, Tarakan menjadi salah satu daerah yang berpotensi untuk virus baru bernama Zika itu.
“Memang dengue berbeda dengan ZIKA akan tetapi ada persamaan antara keduanya. Kedua virus ini masuk dalam kelompok arbovirus . Keduanya juga dapat ditularkan oleh nyamuk yang sama yang terdiri dari Aedes aegypti maupun Aedes albopictus. Melihat kesamaan kelompok virus dan metode penyebarannya maka potensi penyebaran dan risiko ZIKA di Indonesia bisa jadi cukup tinggi, walaupun sampai sekarang dilaporkan masih negative,” ungkap Tri.
Penelitian beberapa ahli menyatakan penyakit yang cukup mematikan ini dianggap terkait dengan perubahan iklim. Dalam beberapa studi disebutkan bahwa wilayah yang temperaturnya semakin menghangat dan lembab sangat cocok untuk berkembangnya nyamuk penyebar penyakit. Hal inilah yang mengakibatkan siklus perkawinan dan metamorfosa nyamuk menjadi lebih singkat yang akan menyebabkan jumlah populasi nyamuk akan lebih berkembang.
Di samping ada faktor curah hujan yang lebih tinggi. Bergabung dengan factor kenaikan jumlah penduduk yang diasumsikan sebagai kenaikan jumlah kebutuhan air bersih dan jumlah penampungan air yang ada maka dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan antara DBD dengan perubahan iklim.
Menurut Tri walaupun ZIKA sebenarnya sudah lama muncul, tapi hubunganya dengan perubahan iklim belum tereksplorasi dengan baik. “Melihat bahwa Sang Penyebar ZIKA juga sama dengan vector DBD maka secara empirik dapat dinyatakan ada kemungkinan ZIKA juga akan menjadi penyakit sebagai dampak perubahan iklim yang berikutnya,” ujarnya.
“Dititik ini yang bisa kita lakukan adalah tidak memperburuk pemanasan global dan melakukan adaptasi. Jangan sampai seperti menyambut Zika dengan melakukan dukungan pemanasan global,” sebutnya tegas.


Halaman:
·       1
·       2




Wednesday, January 30, 2019

Rokok, Cicilan Hutang dan Keselamatan Berkendara


Siang ini saat menunggu di lampu merah di sampingku ada seorang pengemudi ojek on lain yang menyalakan sebatang rokok dengan koreknya saat menunggu lampu untuk menjadi hijau. Posisi persis di sebelah kananku menjadikan aku memperhatikan dari balik jendela. DIa begitu menikmatinya… sedot… terus tiup….sedot lagi…tiup lagii… dst… Begitu lampu menjadi hijau dia bergegas melajukan mototrnya di depanku. Sepanjang jalan dia menyedot rokoknya dengan “sangat menjiwai”. Aku melihat dari asapnya yang menyeruak dan membumbung tinggi di atas helm hijaunya. Entah apakah si pengemudi sedang senang mendapat banyak penumpang bahkan bonusnya atau sebaliknya sedang gundah, karena sepi penumpang. Yang jelas apapun suasana hatinya maka rokok itu sudah “mencuri” isi kantongnya. 
Tentang hilangnya isi kantong karena rokok ada cerita tersendiri. Berkali-kali saat naik taksi on line ini biasanya cerita ke sana kemari. Rata-rata tentang jumlah penumpang hariannya, jumlah bonus, pekerjaan asli/sampingan saja dan cicilan mobilnya. 
Beberapa kali aku naik taksi on line dengan aroma menyengat rokok. Aroma yang sangat mengganggu penumpang pernah aku tanyakan sama pengemudi. Ada satu dua pengemudi yang mengaku memang dia yang merokok, jadi baunya terbawa di dalam mobilnya. BIsa dari asap yang menyeruak masuk lewat jendela saat si sopir istirahat sambil meroko atau memang menempel di bajunya. 
Beberapa kali memang si sopir mengaku bhwa itu ulah penumpangnya yang tidak mau tahu bahwa di dalam mobil ber AC pun dia maksa untuk merokok. Akibatnya penumpang yang belakangan kena imbasnya. Rata-rata pengemudi enggan menegur karena menganggap penumpangnya sebagai raja yang harus dipenuhi semua kemauannya. Aku sarankan: tempel saja stiker pak/mas di mobil…. Tapi rata-rata yang kusarankan begitu hanya senyum atau diam saja… 
Pada suatu waktu saat aku ‘wawancarai” dari mereka mengaku bahwa ada yang akhirnya mobilnya ditarik leasing lagi. Saat tidak sanggup membayar cicilan. Nah memang beragam alasan yang tidak bisa membayar cicilan. Ada yang bilang pendapatan menurun karena mobilnya makin lama makin banyak sementara jumah penumpang makin sepi karena satu dan lain hal. Satu yang mengenaskan adalah ada yang ditarik karena gaya hidup pengendaranya menjadi “jor-joran”. Menurut salah satu sopir rata-rata kalo mereka menunggu penumpang sambil kongkow dengan teman lainnya di warung kopi. Rata-rata sambil rokokan. Walaupun bagi sebagian pengendara taksi on line pengeluaran rokok dianggap masih cukup kecil tapi sejatinya itu yang bisa jadi berkontribusi pada ketidakmampuan membayar cicilan mobil yang berakibat ditariknya mobil. Ya mungkin memang akumulasi pengeluaran yang besar pasak daripada tiang. Memang banyak komponen pengeluaran , tapi intinya biaya untuk beli rokoknya harian sebenarnya sangatlah besar jika dikalkulasi dengan baik. Aku ajak pak Sopir untuk berhitung besaran uang yang dibuang untuk membeli rokok. Bila rokok 10.000 /per pak maka jika habisnya 1 bungkus per hari maka uang yang dibakar sebesar Rp. 10.000,- dalam sehari. Tentu saja jumlahnya akan semakiin bertambah sesuai berapa konsumsi batang rokoknya dalam sehari. Berapa yang dikeluarkan jika diakumulasikan sebulan…. 2 bulan dan seterusnya. Jumah yang sebenarnya bisa untuk membayar cicilan apa saja. Bukan hanya taksinya –lepas dari masalah RIBA lho ya- tapi juga yang lain rumah, perabot rumah tangga dll
Ya ….kampanye rokok kelihatannya tidak bisa didekati hanya dari perpektif kesehatan saja tetapi bisa jadi langsung mengena saat ditinjau dari ekonomi. Saat kondisi ekonomi semakin sulit maka salah satu cara berhemat secara paten adalah dengan mengurangi pengeluaran pada suatu hal yang tidak perlu, termasuk rokok. 
Setelah lepas dari lampu merah maka saat sudah di belokan maka aku kembali melihat sopir truk yang berjalan pelan namun agak di tengah. Tangan kanannya terjulur keluar dengan tetap menjepit rokok di antara jari ke -2 dan ke -3. Huh…aku melihat sopirnya nggk konsentrasi mneyetir. Buktinya jalannya sangat pelan tapi memilih lajur yang tengah. Biasanya lajur pelan ada di sebelah kiri. 
Beberapa kali aku juga melihat sopir-sopir begini di jalan tol. Saat dibutuhkan konsentrasi tinggi karena kecepatan yang diambil biasanya cukup tinggi maka merokok saat berkendara sangatlah riskan. Kecelakaan megintai sewaktu-waktu,
Perilaku merokok sata berkendara memang cukup buruk. Bila selama ini lengah dan tidak tertib berkendara merupakan pemicu terbesar kecelakaan di Indonesia sementara tercatat 280-an kecelakaan per hari yang merenggut 70-an nyawa per hari (Kompas 22/12/2017), maka merokok bisa jadi lengahnya pengemudi karena tidak berkonsentrsi . 
Sebuah penelitian di Jogja pada November 2010 yang dilakukan oleh Sahabudin dkk, ditemukan bahwa variabel merokok sambil berkendara tidak mempunyai hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian kecelakaan lalu lintas namun merupakan faktor risiko terhadap kejadian Kecelakaan lalu lintas itu sendiri. Aku mengamati bahwa pada orang yang merokok akan cenderung melamun… walaupun saat tidak mengemudi sekalipun. Sehingga memang perhatian ke sekitar sangat menurun
Bila KLL sering terjadi karena 3 faktor yaitu faktor pengemudi, jalan dan kendaraan maka artinya perilaku merokok sambil berkendara sudah menjadi Faktor risiko terjadi KLL karena faktor pengemudi. 
Bila selama ini saat ada KLL selalu dicurigai apakah si sopir mabuk / dalam pengaruh alcohol atau tidak . Bila dalam pengaruh zat adiktif itu maka menjadi kesalahan besar yang akan memperberat hukuman. Tapi dalam kasus perilaku merokok saat berkendara memang masih dalam sebatas ‘keprihatinan’ saja. Belum menjadi isu kesehatan masyarakat yang cukup penting sebagai di Turki seperti dikemukakan oleh Connie Hoe, MSW, PhD seorang Assistant Scientist, dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health ( pembelajaran dari Tobacco Control and Road Safety di Turki di FKM UNiversitas Airlangga 25 Januari lalu). Ya usul saja sama petugas yang berwenang saat ada KLL, ada satu pertanyaan yang diajukan apakah sambil merokok ? Namanya usul kan boleh saja toh....?
(TAS-Surabaya, 28 Januari 2019)

Tuesday, January 15, 2019

DAYA RUSAK & AKAR MASALAH PROSTITUSI (ON LINE)



·       Tri Astuti Sugiyatmi
Diungkapnya kasus prostitusi on line artis berinisial  VA  dan AS di Surabaya- Jawa Timur mengundang keprihatinann sendiri. Sebenarnya  modus jualan tubuh yang diiklankan melalui media dalam jaringan    ini   bukan yang  pertama terungkap ke publik. Pada tahun 2015, prostitusi  on line artis juga sudah terungkap dan sudah ada yang ditangkap.   Ternyata bukan hanya artis pelakunya, yang menyedihkan prostitusi  jenis ini  juga ‘menjual’  pelajar dan mahasiswa seperti kejadian  di Jogja pada tahun 2017.
Sebenarnya kata on line yang mengikuti kata prostitusi  itu   berasal dari kata on dan line, on artinya hidup, line artinya saluran.Pengertian online adalah keadaan komputer yang terkoneksi/ terhubung ke jaringan Internet untuk  dapat mengakses internet/ melalui kegiatan browsing yang  bearti mencari informasi  di internet.  Saat ini promosi artis / pelajar/mahasiswa yang  “nyambi”  menawarkan kemolekan    tubuhnya   juga  bisa diakses di situs tertentu di internet atau  di  sosial media  yang tentu juga berbasis internet baik facebook, Twitter, telegram, WA.
Jika awalnya  kegiatan prostitusi  dibagi  berdasarkan status terdaftar  yaitu yang di lokalisasi  atau tidak  terdaftar  yaitu pada bangunan yang sebenarnya  bukan peruntukan pada kegiatan transaksi  seksual namun menyediakan wanita penghibur (yang sering disebut sebagai ladies)  yang dapat ‘ditawar’ juga laiknya pelacur di lokalisasi. Yang sering menyediakan kegiatan prostitusi terselubung  yang tidak terlokalisir seperti itu  biasanya  di  tempat hiburan malam  seperti  di hotel,  penginapan,   panti pijat,  karaoke, billyard  dan berbagai tempat lainnya.  Terdaftar dan tidak terdatar juga bisa dianggap legal dan illegal menurut kacamata Negara. Legal dalam arti bahwa keberadaannya diketahui oleh pemerintah setempat dan sebaliknya. Walaupun secara hukum agama manapun maka kedua jenis ini  tidak berbeda alias sama buruknya.
Dengan kemunculan prostitusi  jenis ini , maka  menurut penulis dapat ditambahkan  klasifikasi  baru yang berdasarkan  cara promosi atau pemasarannya yaitu on line dan off line.  Istilah off line sebagai kebalikan dari on line  adapat diartikan  bahwa pemasarannya    terputus atau tidak terhubung dengan jaringan internet.  Prostitusi ini jenis ini biasanya bersifat menetap tempatnya  pada Lokalisasi atau rumah bordil.  Namun bisa jadi dengan perkembangan gadget canggih yang sudah menjadi keseharian para PSK (pekerja seks komersial) maka kombinasi dari 2 hal tersebut  juga sangat mungkin terjadi.
Jika di akhir tahun 2018 beberapa Pemda- sesuai target Kemensos RI- sedang berjuang keras untuk mengembalikan para pelacur ke tengah keluarganya  dengan membubarkan lokalisasi maka terungkapnya prostitusi  jenis ini menjadikan program mulia ini  menjadi  seolah –olah menjadi  tidak ada artinya. Hal ini terjadi karena  daya rusak isu ini saat ini yang bila ditakar sangatlah   hebat.
Daya Rusak                                
Selama ini  menurut sepengetahuan penulis  memang belum ada penelitian  mendalam yang arahnya ke prostitusi on line.  Namun  melihat betapa  luasnya  jangkauan  internet di negara kita  dan besarnya pemakai media sosialnya maka  hampir dapat dipastikan bahwa  pemasaran prostitusi  melalui media  ini juga bisa jadi  akan mengikuti  polanya.  Jika penetrasi internet bisa dikatakan   menembus batas ruang, jarak dan waktu  (terus menerus) maka pemasaran prostitusi on line  juga demikian adanya. Bahwa ‘jualan’ ini bisa dilihat dari pojok bumi manapun sepanjang ada jaringan. 
Tentu saja “keunggulan’ dari yang on line dibanding off line adalah promosi bisa  berjalan secara total dan habis-habisan. Bagian-bagian yang diidentifikasi paling diminati oleh  konsumen dapat dengan detail tergambar  atau tershoot (gambar bergerak) secara jelas, bukan hanya sekedar wajah saja.
Berbeda dengan lokalisasi yang untuk  sekedar melihat wajah dan sosoknya  harus mendekat secara fisik ke lokasi dan ini  dianggap “berbahaya”  untuk kalangan tertentu seperti public figure misalnya, karena akan mudah teridentifikasi sosoknya  oleh orang lain. Itupun kalau mau melihat hanya lewat jendela kaca seperti layaknya melihat barang pajangan di sebuah toko. Hal itu yang dulu  tergambar di beberapa di  rumah bordil di kawasan gang  Dolly- lokalisasi yang cukup legendaris di Surabaya-yang sekarang sudah ditutup.  Tambahan informasi  hanya bisa  didapat melalui  mucikari atau penghubungnya. Itupun
Pada yang pemasaran on line  maka  produk yang ditawarkan  atau si artis  bisa  terpampang dengan detail dalam waktu 24 jam non stop. Sementara pada yang konvensional maka jika matahari sudah terbit alias sudah beranjak pagi maka  keriuhan “pasar” malam hari  itu juga seketika akan menurun.
Jika  pada yang off line para konsumen  atau katakan lelaki hidung belangnya  biasanya adalah para pekerja biasa-biasa  yang domisilinya   relative tidak  jauh dari lokasi. Walaupun dalam kasus tertentu adalah para lelaki kesepian yang sedang ‘transit’ di sebuah kota yang  jauh  dari  keluarganya.  Pada yang on line  kebanyakan  penikmatnya adalah kalangan berduit –mengingat mahalnya tariff -  antara  lokasi wanita  PSK   sebagai ‘pemberi jasa’ dan lelaki hidung belang sebagai konsumen  bisa jadi  sangat dekat atau bahkan sangat jauh maupun diantara keduanya.  Namun  khusus  pada  penikmat promosi PSK on line  bisa jadi sangat lebar rentang umur dan latar belakangnya.
Maka akan sangat beralasan bila  dibandingkan  dengan  prostitusi  off line yang   mempengaruhi  banyak hal  “hanya”  dalam skala lokal, maka prostitusi on line  - menurut hemat penulis- bisa jadi  lebih luas  dalam skala  nasional, regional bahkan global (bila  berupa sindikat perdagangan antar manusia antar Negara).
Hal-hal seperti di atas  kemungkinan   juga sudah terjadi juga sejak tahun –tahun pertama diungkapnya prostitusi dalam jaringan. Namun pada tahun ini menjadi cukup heboh karena ada beberapa isu yag mengiringinya. Isu artis VA  oleh   beberapa orang pada akhirnya dipakai sebagai  bahan olok-olok pada lembaga pernikahan  dan keluarga.  Sesuatu yang  oleh masyarakat timur sangat diagungkan.  Awalnya seorang netizen remaja yang mem-posting bahwa  value atau nilai diri seorang VA  yang dikaitkan dengan  nama merek produk  yang  terkenal mahal   dianggap  lebih  berkelas   daripada kedudukan istri – dari  sebuah rumah tangga/ keluarga normal.   Bayaran  seorang  VA yang fantastis yaitu 80 juta “sekali main” vs “bayaran” seorang istri yang hanya 10 juta per bulan  untuk memainkan berbagai peran seperti  koki, babby sitter ataupun pembantu untuk merujuk tugas istri sekaligus ibu rumahtangga tentu saja   memantik reaksi keras  sebagian besar netizen yang menganggap perandingan yang  tidak apple to apple. Apalagi  dalam  beberapa  tanggapan/komen yang muncul berikutnya  disebutkan bahwa seperangkat alat shalat  -  sebagai mahar dalam pernikahan dalam Islam- serta sejumlah rupiah  saja sudah mengikat seseorang istri/ibu  melakukan tugas  sekitar dapur, sumur serta kasur dalam seumur hidupnya.    Sesuatu yang  penulis anggap sebagai daya rusak yang tertinggi karena sudah menyentuh wilayah paling sensitive bagi wanita yang menjadikan  ketulusan pengabdian dalam menjalankan peran sebagai istri bagi suami serta  ibu bagi anak-anaknya    diusik secara serampangan.  
Walaupun pada akhirnya diklarifikasi bahwa postingan tersebut  adalah upaya  supaya tidak hanya menyorot perempuan  saja saat ada kasus prostitusi,  namun  pemilihan diksi yang kurang tepat mengakibatkan  diolok-oloknya ajaran agama yang semestinya menjadi dihormati adalah sebuah blunder bagi si pengunggah.
Akar Masalah
Menurut hemat penulis,  ini  menjadi blessing in disguise. Ada semacam berkah di dalam musibah. Bahwa  ternyata  kasus ini  dapat mengungkap dan  memetakan   pola pikir kebanyakan dari   remaja  kita.  Adalah apa yang bisa jadi menjadi akar masalah dari semuanya adalah  adanya pola pikir  hedonism yang hanya  berkutat pada kesenangan  dan kenikmatan materi  sebagai tujuan utama dalam hidupnya.    Bersenang-senang,   berpesta pora dan hura-hura dengan menghamburkan materi menjadi  gaya nya sehari-hari.   
Bahkan pada saat dalam kondisi kekurangan  materi  pada keluarganya -pun  seringkali para penganutnya  akan mencari  biaya sendiri sebagai penopang gaya hidupnya  dengan cara  main seks bebas  dengan  imbalan sedikit uang   dari para  om-om  (pada  beberapa kasus pelajar dan  ‘ayam  kampus’). Hal ini  juga sebagai cerminan  dari pola pikir pragmatism dimana  sisi praktis  atas hasil akhir dengan mengabaikan nilai moral yang ada sudah sangat menggejala di kalangan masyarakat.
Memang  hedonism serta pragmatism bukan hanya monopoli  si cewek  namun juga pada lelaki hidung belang sekaligus mucikarinya.  Namun mendiskusikan semacam sudut pandang   yang  hanya mengagungkan  kekayaan serta kebendaan  dan cenderung mengabaikan nilai rohani  (materialism ) sebagai akar dari  prostitusi menjadikan  beberapa pihak  menuding   bahwa   hal  itu  adalah nyinyiran dari  orang yang disebutnya   merasa lebih suci daripada para pelacur tadi.   Suatu pendapat yang seolah membela secara membabi buta pada VA.
Menurut hemat penulis memang banyak sekali cerita dibalik  sebuah prostitusi.  Namun intinya adalah ada yang terpaksa (dalam tekanan) dan secara suka rela. Namun bukan berarti bahwa empati kita menjadikan  kita menafikan suara hati nurani kita.  Diskursus  tentang hal –hal yang menjadi akar masalah prostitusi on line juga cukup penting.  Tentu saja tidak bisa wacana-wacana didiskusikan dengan  saling  mengolok, mencibir atau menegasikan satu sama lain seperti  “kebiasaan baru” para netizen.  Namun diharapkan  bahwa ini akan memperkaya  pemikiran, ide-ide serta gambaran yang kemudian bisa jadi akan  membangun sebuah  konsep  budaya baru bagaimana sikap terbaik  dalam  menghadapi  goncangan akibat  apapun.   Kesimpulannya bahwa  hal  ini  dibutuhkan untuk menjadi bekal   membesarkan para generasi milenial  untuk menyongsong masa depannya dengan cemerlang.  Bukan sebaliknya menyongsong masa depan dengan meriang akibat perilakunya sendiri di masa kini.


Monday, January 14, 2019

Pemasaran Sebuah Rokok



Siang itu aku dan anak karena mengisi waktu---jalan-jalan di sebuah lingkungan  kampus. Sebuah tempat belajar  mahasiswa yang sangat berwawasan lingkungan. Kampusnya sangat hijau, bersih dan sangat teratur.  Sekilas mengamati dari luar , banyak bangunannya yang memang desainnya juga sangat bagus. Ada genteng2 kaca di bangunanan KM nya membuat pemanfaatan listrik juga minimal. Desain ruangannya terbuka dan kaya ventilasi. Melihat VISI nya yang mencanangkan sebagai Eco campus maka sudah terasa mendinginkan hati ini. Bagiku itu bisa jadi efek warna hijau kali ya…
Sayang saat masuk sebuah minimarket yang di depannya  terpampang  tulisan koperasi pegawai perguruan tinggi tersebut maka di belakang kasisr aku melihat display rokoknya sangat lengkap.  Sampai spontan bertanya …  kok jualan rokok ya mba…. Mba nya sebagai  kasisr mungkin merasa kaget atau aneh saja. Kok ada pembeli yang iseng banget nanyain segala hal itu…he..he… Anakku senyum-senyum aja sambil melirik aku.  Mba- nya nggak menjawab…
Pas saat di kendaraan anakku menanyakan  sekaligus protes  “kenapa  ibu suka gitu deh”. Dia mungkin malu ibunya ajaib begini… “Yah spontan aja sih mas…”. Lantas aku melanjutkan  bicara… “lho kalau eco campus kan semestinya tidak boleh ada sesuatu yang disengaja  yang akan merusak lingkungan. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah kecil banget efeknya. Cuma aku merasa sayang banget kalau itu memantik habit pengunjungnya untuk ramai –ramai merokok……di sebuah lingkungan yang sudah sangat luar biasa ini.”
Komentar anakku pendek tapi membuat aku tersenyum kecut…. “namanya bisnis bu”…. He..he ya bener banget. Sebenarnya aku juga sangat sadar bahwa  itu hak mereka juga sih. Namanya  usaha bisnis… apapun dan dimanapun  ya begitu karakternya. Pengin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Apalagi rokok dianggap bukan benda terlarang.  Tapi aku lanjut  ngobrol dengan anakku. “Tapi  ada beberapa toko yang ngak mau menyediakan rokok  lho mas…keren kan? “ . “ Dimana ?”  “ada tuh di  Sak**na* Mart  sebuah  minimarket langganan kami.” Oh ya …juga ya… Ya mereka memang menahan diri   tidak menjual barang yang termasuk paling sering dicari pelanggan” sebuah sikap  yang memang berat karena hilangnya kemungkinan pendapatan.  Tapi itu keren sekali…. “.   Anakku diam. Mudahan mengiyakan- harapku….
Aku jadi teringat saat berkunjung dan berkeliling  ke sekolah dalam program  Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sekolah   dengan unggulannya Luru Utis ( program untuk  mengevaluasi dengan cara memungut puntung rokok dan menghitungnya) oleh para siswa yang disebut sebagai relawan kawasan tanpa rokok : RELAKATARO.  Saat  itu kalau arah kelilingnya ke  lingkungan  dalam sekolah maka semua  hampir pasti  sudah sangat bagus.  Artinya program luru utisnya sudah berjalan. Relawannya juga bekerja dengan sangat luar biasa.  Namun yang  selalu menjadi masalah adalah saat berjalan di sekeliling  gedung  Sekolah itu entah SD, SMP atau SMA. Aku mengamati bahwa ada fenomena dimana  semua  warung yang mengitari sekolah itu rata-rata  ditutup dengan spanduk yang isinya hampir 100% iklan rokok. Iklan rokok dengan gambar menarik, tagline yang menggugah seringkali secara tidak sadar sudah masuk dalam alam bawah sadar kita.  Anak-anak sekolah yang saat istirahat akan jajan langsung melihat iklan itu dan pada akhirnya akan mengganggap bahwa hal itu menjadi sangat biasa dan wajar. Bukan sebuah keanehan apalagi pelanggaran.   Demikian juga anak saat  datang dan pulang sudah otomatis disambut oleh iklan-iklan itu.
Yang menyedihkan banyak dari warung-warung itu menyediakan rokok eceran…. Aduuh  uang jajan anak SMP dan SMA sudah bisa untuk membelinya. Ini yang hampir tidak ada pengawasan sama sekali.
Kelihatannya marketing dari pabrik rokok memang sudah siap dengan semua amunissi untuk mencari perokok pengganti (alias menyasar anak sekolah yang notabene yang lebih muda) karena sebetulnya perokok yang lebih tua sdh banyak yang sakit dan meninggal.
Di hampir semua jalan protokol di banyak kota,  terlihat iklan  yang mendominasi adalah iklan rokok. Juga banyak yang berbentuk neon box atau TV raksasa (videotron). Di berbagai bandara dan terminal   di berbgai kota juga demikian. TV raksasa tepat di pintu keluar sebuah bandara  kota besar menayangkan iklan rokok yang bergerak tanpa jeda.
Iklan rokok bahkan sudah sangat jamak jika menjadi sumber penghasilan, media masa, juga televise   bagi pemerintah daerah.   Hanya beberapa Pemerintah Daerah yang melarang total iklan2 rokok di wilayahnya. Kulonprogo adalah salah satunya. Sungguh luar biasa bagi Pemda yang berani  menolak reklame rokok karena secara lgika akan kehilangan sebagian pendapatan nya. Tapi bagi daerah dengan pimpinan yang komitmennya  sangat baik maka hal ini tetap bisa terjadi. Toh masyarakatnya malah justru semakin  meningkat kesejahteraannya. Ini diakui sendiri oleh Bapak Bupati yang pernah mengisi  sebuah acara yang aku hadiri.

Ada beberapa daerah lain  yang menerapkan hal itu dan  rata-rata memang  karena faktor pemimpinnya. Harapannya  pemimpin ke depan negara ini juga berani  untuk mengatakan” tidak “ pada marketing rokok yang sangat ugal-ugalan.  Rokok harus menjadi lebih mahal  melalui cukainya. Sebagai sebuah bentuk pengendalian supaya  tidak mudah anak-anak untuk membelinya.  Bonus demografi yang akan datang akan menjadi tidak banyak manfaatnya saat rokok, vape  serta banyak obat terlarang yang masuk melalui  pintu rokok akan menggerus  anak muda kita. Demikian juga ancaman penyakit-penyakit kronis serta ‘menyedot’  banyak  pembiayaan  juga sudah mengintai anak muda kita… Wah akan sangat panjang  bila diteruskan… Tapi  harapannya  sama dengan  ucapan seorang direktur perusahaan rokok besar seperti  video yang beredar  beberapa waktu lalu…. “Saya tahu bahwa rokok itu berbahaya dan Merokok itu pilihan orang dewasa, dan saya memilih untuk tidak merokok," …. Seperti juga yang terkonfirmasi dengan sikapnya saat menghadiri sebuah acara di Universitas Airlangga pada tahun lalu.
Satu saja  bagiku,  bahwa ini sangat Woww….