Tuesday, June 23, 2015

Ramadhan Tanpa Rokok , Mungkinkah ?


Ramadhan Tanpa Rokok , Mungkinkah ?

Bulan Ramadhan sudah di depan mata.  Bulan dimana bagi umat muslim sudah banyak ditunggu –tunggu kedatangannya karena berbagai keistimewaan yang ada di dalamnya. Dari banyak studi,  Ramadhan  yang berarti  puasa selama sebulan penuh terbukti mempunyai banyak sekali  manfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani manusia.

Kemampuan untuk  menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan sejak terbit fajar sampai matahari terbenam  menjadi sesuatu  yang mutlak harus ada disebut sebagai sebuah rukun puasa. Hal ini  yang menyebabkan aktivitas seperti   makan minum  yang sengaja   sebagai  sesuatu yang tidak diperkenankan pada siang hari. Tentu saja saat maghrib tiba maka kegiatan tersebut menjadi diperkenankan kembali.

Memasukkan rokok ke dalam mulut dan menghisapnya seperti laiknya aktifitas makan minum secara umum juga diketahui  termasuk hal   yang dapat membatalkan puasa.  Sebenarnya berbicara  masalah rokok dan perilaku merokok itu  memang sangatlah kompleks termasuk dalam hukum-hukum agama. Berbagai pendapat  bahkan yang berbeda tentang rokok juga mengemuka.  Namun lepas dari hal tersebut  maka satu hal yang pasti adalah bahwa kesempatan dan waktu    merokok  pada bulan ramadhan  diyakini akan  lebih pendek daripada hari-hari biasa yaitu hanya malam hari saja.  Praktis hanya tersisa waktu yang sangat sempit untuk bisa menikmati  asap rokoknya yaitu pada saat setelah buka  sampai saat sahur hari (dikurangi waktu beribadah shalat tarawih serta tidur). Tentu saja jumlah  konsumsi rokok pada perokok bisa jadi akan sangat berkurang.

Berkaitan dengan hal itu maka  ramadhan  bisa menjadi salah satu alternatif bagi perokok untuk mencoba mengurangi  konsumsi rokok.  Dalam hal ini  penulis  berpendapat bahwa  Ramadhan  juga bisa menjadi  momentum terbaik yang menjadi sebuah  usaha awal   untuk  berhenti merokok sama sekali, khususnya  bagi yang sudah punya niatan untuk itu. Niat berhenti merokok ini  juga seringkali diinginkan para perokok yang sudah ‘kadung’ menjadi pecandu walaupun masih banyak juga  yang belum punya niatan ke arah sana.  Tapi tentu saja disadari  bahwa kenyataannya masih cukup  sulit karena ternyata tidak hanya cukup niat saja tapi juga dibutuhkan  aksi nyata. Program Ramadhan  Terbatas/Tanpa Rokok (RTR) menjadi  sebuah aksi nyata yang bisa diinisiasi oleh diri sendiri  dengan sebuah tekad yang kuat dan bulat. Tentu saja  dalam hal ini butuh input informasi- bahaya asap rokok dan kerugiannya dalam  berbagai bidang-  untuk lebih menguatkan diri sendiri dalam menghadapi  halangan dan rintangan yang sangat kuat dari eksternal.

 

Isu Seputar Rokok

Studi tentang  dampak zat yang mengandung 4000 zat berbahaya pada masalah kesehatan beserta   bukti-buktinya juga sudah banyak dilakukan.  Angka kesakitan dan kematian akibat merokok  di Indonesia sangat luar biasa.  Menyuplik  hasil riset dari Dr. Soewarta Kosen bahwa pada tahun 2012,  diperkirakan 384.058 orang  terkena penyakit akibat mengkonsumsi tembakau.  Penyakit  kronis pada usia lanjut  seperti jantung koroner (PJK), stroke, tumor , kanker, kencing manis menjadi makin akrab di telinga dan setengah pengidapnya   mengalami kematian dini.  Pada penyakit  batuk disertai sesak (pneumonia) bayi dan balita pada banyak kasus juga ternyata karena seringkali berhubungan dengan kebiasaan merokok orang dewasa di sekitarnya. Ya, perokok pasif (secondhand smoker) juga ternyata memiliki risiko yang sama terhadap paparan asap rokok, bahkan di beberapa studi menunjukkan angka yang lebih besar.

Gempuran iklan rokok yang  dikesankan sebagai  gaul, macho dan sportif itu yang sangat massif di berbagai sudut kota dan bahkan sampai ke dalam rumah –lewat berbagai media- mengalahkan papan dan peringatan tentang  Kawasan Tanpa Rokok (KTR).   Gambar seram pada kemasan rokok  maupun  joke dari mantan Menkes  bahwa para perokok adalah orang paling bodoh -yang mau membayar harga dan  pajak untuk sebuah penyakit – bahkan hanya dianggap sepi oleh para pecandu berat.

Itulah sebabnya tidak mengherankan bahwa  usia mulai merokok juga terjadi pada usia yang makin muda.  Sejak 1995 dan 2010 umur 5-9 tahun - umur sekolah dasar- dan perokok remaja meningkat menjadi tiga kali lipat.  Kita  juga pernah dikejutkan  dengan balita perokok yang  diunggah di situs media social youtube yang mengundang perhatian dari berbagai belahan dunia.

Sangat ironis bahwa biaya untuk rokok juga berlipat- lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk investasi  pendidikan dan kesehatan  yang sebenarnya  sebagai  syarat utama untuk rumah tangga miskin bisa bangkit dari keadaan yang membelitnya. Bahkan pengeluaran rokok (beserta sirih) pada keluarga miskin menjadi pengeluaran terbesar nomor dua setelah padi-padian. Juga biaya investasi pendidikan dan kesehatan. Dalam sebuah penelitian  juga banyaknya para Penerima Bantuan Iuran (PBI) pada program Jaminan Kesehatan Nasional  oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial juga masih banyak yang perokok.  Ironisnya mereka kebanyakan juga menderita penyakit akibat rokok dan mengobatinya dengan fasilitas dari BPJS. Memang belum ada mekanisme lanjutan yang mengatur hal tersebut, tapi setidaknya  hal ini menjadi pertimbangan sendiri.

Dalam hal kerugian di bidang ekonomi di level  mikro yaitu  rumah tangga  maka akan  banyaknya kesempatan yang hilang akibat  merokok. Dengan estimasi sebatang rokok seharga Rp.600  maka berdasarkan data Riset kesehatan dasar tahun 2013 total biaya yang dihabiskan untuk membeli rokok mencapai Rp 221.400,- per bulan. Pengeluaran  dalam setahun  mencapai Rp.2.656.800,-, dan untuk 10 tahun 10 tahun berikutnya  Rp. 26.568.000,-Maka sebenarnya biaya ini melebihi biaya untuk beli motor, DP mobil, pembelian gadget, ikut serta  ibadah qurban saat Idul Adha maupun umroh. Secara makro  data Badan Kebijakan Fiskal pada tahun 2012 menggambarkan bahwa dengan penerimaan cukai rokok yang hanya sekitar 50T tidak dapat menutupi total kerugian ekonomi secara makro akibat konsumsi merokok yang mencapai angka 245,41T.

Di sisi lain,  ada sebuah tafsir yang cukup kompleks yang diperlihatkan pada sebuah kebijakan terutama rokok yang diambil oleh Negara. Kebijakan pengendalian tembakau yang disampaikan oleh Kementrian Kesehatan  belum didukung oleh semua pengambil kebijakan di berbagai sector lain. Sampai sekarang pemerintah RI masih enggan untuk mengaksesi dan meratifikasi piagam FCTC (Framework Convention on Tobacco Control)- kerangka kerja internasional dari badan kesehatan dunia (WHO) -untuk mencegah meluasnya epidemi merokok itu.  Bahkan dalam dalam beberapa bagian  kebijakan pro rokok yang cukup terlihat secara telanjang seperti pada kasus beberapa menteri beberapa waktu yang lalu. Sehingga janganlah heran bila negara kita  menjadi satu-satunya negara di Asia Pasifik  yang belum menandatangani dan mengaksesi.

Dan isu-isu buruk tentang tembakau yang ada di atas seringkali tertutupi oleh banyaknya kampanye  dan promosi  yang mencitrakan  bahwa rokok dan industrinya sangat positif peranannya. Tentu saja hal ini  dilakukan oleh  semua pihak yang berkepentingan khususnya industri rokok.  Namun bagi para perokok yang sudah punya niatan untuk berhenti, maka  hendaknya isu negatif tentang rokok menjadi sebuah “bahan bakar” yang mengobarkan niat dan semangat untuk menjalankan Program Ramadhan Terbatas/Tanpa Rokok (RTR) sebagai awal dari usaha berhenti merokok yang permanen. 

Cara  Berhenti Merokok :

Upaya berhenti merokok dapat  dimulai dengan Identifikasi diri sendiri sebagai perokok apakah sudah mempunyai keinginan untuk  berhenti apa belum. Keinginan untuk berhenti ini  bisa makin mantap pada saat para perokok membaca kerugian akibat merokok  di berbagai bidang seperti diatas tadi.

Tahap berikutnya adalah para perokok  yang mempunyai  keinginan berhenti maka sebaiknya mempelajari profil merokok pada diri sendiri. Berapa banyak jumlah rokok yang dikonsumsi harian, mingguan dst serta jadwal ( waktu tersering ) untuk merokok seperti  sebelum/sesudah  makan,  mengisi waktu senggang sore  hari, atau saat mengobrol dengan teman-teman.  Juga jenis rokok yang dikonsumsi.

Setelah  tahap tersebut maka perokok menilai motivasi yang ada pada dirinya sendiri dengan memberi nilai 0 untuk yang belum termotifasi berhenti atau yang punya motivasi sangat kuat dengan memberi angka 10.

Bila sudah mempunyai  motivasi maka segera  lakukan dengan berbagai cara. Dalam hal program RTR maka untuk berhenti merokok memang bisa dilakukan dengan terapi nonfarmakologi yang artinya tanpa bantuan obat dan hanya  membutuhkan upaya sendiri (self help). Kadang-kadang memang membutuhkan  nasihat, bila perlu  berkonsultais pada petugas di layanan UBM di fasilitas pelayanan kesehatan yang menyediakan.  

Dalam hal berhenti merokok memang  ada beberapa cara yang bisa dipilih. Yang pertama adalah cold turkey yaitu perokok berhenti secara tiba-tiba  pada hari yang ditentukan (misalnya mulai hari I bulan Ramadhan) tapi memang biasanya agak sulit karena butuh  niat dan motivasi yang sangat kuat.  Ada cara kedua yang bisa jadi lebih ‘ringan” adalah dengan cara menunda saat merokok pertama kali dalam setiap harinya. Misalnya biasanya  hari pertama (dalam hal ini hari I bulan Ramadhan)  merokok pertama pada jam 18.00 saat jam awal buka puasa. Dan diharapkan pada hari ke - 2  jamnya bergeser mundur misalnya jam 20.00 dan seterusnya sampai bisa berhenti pada saat akhir Ramadhan.  Cara ketiga adalah dengan pengurangan jumlah rokok yang dihisap setiap harinya misalnya yang biasanya dalam 1 hari 1 bungkus atau 12 batang maka secara perlahan bisa diturunkan menjadi 10 dan seterusnya sampai bisa bebas sama sekali di akhir Ramadhan. 

Akhirnya diharapkan pada akhir bulan Ramadhan maka rokok yang dikonsumsi sudah berkurang atau  bahkan sampai 0. Program Ramadhan Terbatas Rokok atau Ramadhan Tanpa Rokok yang diinisiasi oleh perokok sendiri semoga bisa berjalan dengan baik.  Akhirnya selamat berpuasa Ramadhan….

Saturday, June 13, 2015

13 dari 15


 Saat itu Sabtu, 30 mei , beberapa minggu yang lalu tiba-tiba ada telepon masuk. Baru saya ambil dari kantong telepon itu sudah mati…. Jadi akhirnya hanya saya lihat sekilas. Tapi ada nomor yang agak berbeda dibanding biasanya kita menerima miscall. Lebih pendek dari nomor yang biasanya ada… ooh..ternyata juga nomor depan nya bukan +62 kode dari dalam negeri. Tapi +65……….oke. aku tunggu lagi, mungkin salah sambung tadi.
Berbeda dengan biasanya , dengan pertimbangan efisiensi maka aku tdk balik telpon begitu tahu nomor ini kemungkinan dari luar. Juga saat itu kami sedang di jalan tol sehingga pertimbangan itu makin kuat. Ternyata beberapa waktu kemudian telpon ini masuk lagi. Tapi putus lagi. Akhirnya aku sms saja nomor yang masuk : ada yang bisa dibantu?
Tidak berapa lama masuk lagi nomor yang tadi. Saya angkat… assalamualaikum …. Ada jawaban dari seberang. Saya jawab. Saya D ibu yang ketemu ibu pas di Jogja. Ya ..ya saya mencoba memutar otak mengingat siapa D yang dimaksud….
Akhirnya dia bercerita: saya yang pasien ca nasofaring bu ….yang dulu pernah ketemu ibu di RS di Jogja. Saya dari M…menyebut sebuah kota di Jawa Tengah bagian barat …. Aku langsung ingat beberapa tahun yang lalu saat masih di Jogja mungkin sekitar 3-5 tahun yang lalu pernah bertemu dengannya bersama putra kecilnya dan suaminya. Saat itu beliau dirujuk dari RS di Jawa tengah ke Jogja untuk berobat kanker nasofaring yang dideritanya. Karena tempatnya jauh dari asal tempat tinggalnya maka beliau kost di Jogja. Dan beberapa kali pernah bertemu dengan saya dalam keadaan mau di kemoterapi dan radioterapi. Saat itu kondisinya sungguh memprihatinkan. Kurus, dengan suara yang sudah lemah. Tetapi memang saya ingat betul tekad kuatnya beliau bersama keluarganya itulah yang membawanya sampai ke Jogja.
Tetapi setelah sekian tahun terpisah tidak pernah berhubungan saya pun sudah lupa kalau tidak diingatkan kembali dengan telponnya malam ini sepulang perjalanan dari rumah saudara di Jakarta. Saya Tanya darimana posisi telponnya kok nomornya kayaknya bukan dari Indonesia…. Lantas dia menceritakan mulai terapinya dulu di Jogja sampai sembuh di Subhanallah… dia juga menceritakan “ saya adalah 1 diantara 2 yang masih sisa dari 15 orang yang “seangkatan” saat di kemoterapi di RS Sarjito yang masih hidup. Semuanya sudah berpulang…suara di seberang telpon seperti tercekat.
“Hanya saya dan teman di Solo saja yang tersisa. Sebuah ucapan yang membuat saya juga menjadi tidak bisa berbicara apa-apa. Haru. Saat saya Tanya kabar anaknya dan suaminya maka pernyataannya membuat kami yang mendengar menjadi sangat terharu. “ Sekarang saya di Singapura untuk bekerja menjadi asisten rumah tangga untuk membayar hutang-hutangnya saat dulu terapi”.
Dia melanjutkan: “itulah saya berusaha menghubungi ibu dan beberapa yang lain karena diingatkan suami untuk menelpon Ibu saat sudah di Singapura”. Dari kemarin saya sudah mau telpon tapi takut ibu sibuk makanya baru malam ini saya coba-coba lagi. Saya masih menyimpan nomor ibu dan untung tidak ganti ya bu….”. Ya survivor kanker itu begitu memperhatikan tali silaturahim yang sudah dijalin walaupun setelah sekian lama terpisah waktu dan tempat.
Sebenarnya sangat banyak yang ingin saya gali lewat telpon ini tapi kelihatannya tidak bijak karena pasti telpon langsung sangat mahal. Khususnya tentang hubungannya dengan paparan tembakau atau rokok pada kasusnya. Apalagi saat itu baru saja ikut 2nd ICTOH (Indonesia conference on Tobacco or Helath) dan besoknya 31 Mei adalah hari tanpa tembakau sedunia. Ya dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya urung menanyakan pada kesempatan telpon itu.
Saya hanya ingat iklan di TV yang kehilangan suara, akibat kanker juga ( sebagai perokok pasif) yang saya rasa sangat mirip dengan kasus yang saya temui 5 tahun yang lalu di Jogja yang sekarang sedang menelpon saya.
Akhirnya setelah cerita banyak hal khususnya kegiatan di Singapura maka dia pun berpamitan. Sesaat kemudian : Ting…! Hp ku bunyi tanda sms masuk lagi: “Ibu, terimakasih atas waktunya buat saya. Saya sangat bersyukur masih bisa bersilaturahim dengan ibu. Wlo hanya lewat tlp saja.Semoga keluarga ibu selalu sehat. Dan selalu dalam lindungan Allahswt. Amin.”
Sebuah doa tulus dari seorang survivor kanker. Semoga hal yang sama juga untuk mba di Singapur dan keluarga mba di Indonesia… amin ya Robb.
Oya ini saya tulis karena mumpung jelang Ramadhan, maka bagi para perokok marilah momentum Ramadhan ini untuk mulai juga memikirkan juga untuk mulai berhenti merokok. Awali dengan Ramadhan ini…. Karena rokok akan membunuh mimpi-mimpi orang di sekitarmu……
Yap, ayo bagi para perokok kuatkan niat kali ini diawali dengan Ramadhan tanpa Rokok (RTR) dan seterusnya keren tanpa rokok……………….

Sunday, May 24, 2015

menabung listrik



Sore tadi saat   bermain bersama  anak tiba-tiba lampu meredup. Dan berikutnya sudah bisa ditebak. Mati total. Dari PLN tentu saja. Mungkin ada gangguan di kabel, gardu atau yang lain. Atau bahkan bisa jadi kehabisan BBM. Sekilas, kayaknya produksi listrik tenaga diesel membutuhkan solar yang cukup. Sehingga bila solar ‘kehabisan’maka listrik juga bisa mati. Begitu juga bila listriknya dari gas,  maka bila tekanan berkurang maka listrik juga akan byar pet.  Saya tidak tahu pati masalah yang ada, kami mengganggap kena giliran pemadaman saja. Bila giliran pemadaman biasanya sudah ada pengumuman  sebelumnya jadi tidak kaget, bahkan sudah ‘ditungguin’ kapan matinya dengan cara mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau Ini kasusnya beda tiba-tiba mak pet!. Jadi gelaplah seluruh rumah.

Dengan sisa-sisa baterai charger yang ada kami berusaha menerangi sebagian area yang dipakai untuk kegiatan saja. Sebagian yang lain gelap gulita. Sambil harap-harap cemas semoga listrik cepat menyala kembali.  Anakku mengumpulkan beberapa senter kecil serta lampu charge yang untungnya masih nyala. Dalam kondisi listrik mati memang semua jadi serba terbatas.  Dengan lampu yang tidak seterang biasanya mau ngerjakan apa-apa pun jadi malas…..Laptop sudah menunjukkan warna merah artinya sudah juga saatnya harus dicharge.  Pasti tidak bisa buka laptop. Yang lain pun juga sudah tidak punya daya sendiri, sangat tergantung dengan kabel yang harus selalu terhubung di steker.  Untunglah masih ada sisa baterai di hp sedikit. Sehingga masih bisa mengisi waktu dengan membaca status / postingan/ bacaan di internet sedikit. Saat itupun aku sudah gelisah. Sebentar lagi mati juga nih batere. Saat itu ada power bank yang tinggal satu-satu dayanya. Ya memperpanjang sedikit waktu hidup betere. Waduuh sudah gelisah nanti kalau listriknya mati berjam-jam terus mau ngapain ya… sambil menyesali kenapa tadi nggak sempat ngecharge batere hp, laptop dll….listrik mati tanpa kerjaan yang berarti maka ibaratnya mati gaya. Apalagi kalau waktunya masih sore, belum saatnya tidur…..huft…

Aku  jadi berpikir jauh…. Ternyata listrik mati yang tiba-tiba itu adalah adalah ibarat kehidupan manusia juga. Apa jadinya bila kita lupa  batere sebelum listrik mati, maka akan gelaplah semua. Jadi  simpanan daya pada batere hasil charge pada saat listrik hidup akan berguna  pada saat tanpa listrik. Simpanann daya ini  ibarat amal yang kita kerjakan saat hidup dan akan dibawa saat menuju kematian yang akan berfungsi sebagai lampu emergensi yang akan  menerangi di alam kubur yang sejatinya sangat gelap.

 Ya memang biasanya sikap kita yang berkutat pada sesuatu yang rutin akhirnya membawa pada kesibukan yang tiada habisnya sampai akhirnya lupa ngecharge lampu mergensi dalam kasus tadi dan yang jelas sampai lupa ngecharge jiwa /rohani kita

Kasus listrik mati tiba2  memunculkan teknologi  menyimpan daya listrik untuk dipakai pada saat tidak ada cahaya. /listrik mati sekalipun. Teknologi charger adalah sebuah upaya kita untuk selalu menjaga kita punya energy disaat terjadi kemarau /paceklik panjang. Pada saat listrik masih menyala kita bisa menyimpannya di dalam sebuah power bank, lampu emergensi dll. Giliran listrik mati maka kita  tinnggal menggunakannya apa cadangan energy yang kita simpan tadi .

Jadi pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa sebuah ketahanan ternyata hanya bisa dibangun pada saat kita kuat. Sebuah ketahanan  tidak bisa dibangun saat kita sudah dalam kondisi lemah dan sekarat. Maka bila seperti itu hanya tinggal menunggu waktu saja untuk rela dan ikhlas untuk ‘mati gaya’,; untuk bĂȘte; untuk  melakukan alternative lain dengan effort lebih maupun dengan risiko yang lebih besar seperti menyalakan lilin, petromax, api unggun dll.

Ya dari sini kita dididik untuk saving  (menabung). Bahwa ada hari dimana kita akan kegelapan bila tidak menabung listrik dari sekarang. Dengan analogi yang sama kita akan kegelapan di alam sana bila kita tidak menabung amal dari sekarang –yang akan menjadi penerang-di alam kubur. Ya semangat menabung untuk sebuah prediksi yang hampir pasti (listrik mati) maupun yang pasti akan terjadi (sebuah kematian). Tapi yang pertama   menabung seperlunya  dan yang kedua menabung sebanyak-banyaknya…….karena sifat keduanya berbeda dalam hal durasinya. Sementara dan selamanya….

Dan  byar ! alhamdulillah lampu cepat menyala sebelum semua habis. Kesempatan untuk berbenah ….

 

 

 

 

 

Tuesday, May 12, 2015

SEMEDULUR DARI SEBUAH BATU AKIK


 

Keluarga ini sangat ‘welcome’ dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan dengan cepatnya menawarkan bantuan dan berbagai kemudahan kepadaku. Sebenarnya saya kepengin dan sudah berusaha  menolak dengan berbagai alasan tetapi melihat kesungguhan dan ketulusannya akhirnya saya mengalah. Menerima dengan rasa terima kasih dan hormat yang sangat besar. Semoga diberikan balasan yang terbaik dari Allah swt.

Bila  tamunya orang yang  dikenal sebagai tokoh yang dihormati, dituakan memang hal ini  akan dianggap sebagai hal biasa. Kebiasaan bawahan menghormati atasan. Yang bisa jadi akan cenderung dibuat-buat untuk membuat si tokoh/atasan akan merasa senang saja. Dulu terkenal dengan sebutan ABS /IBS (asal Bapak/Ibu Senang). Tapi bila hal ini dilakukan pada orang yang sebenarnya  sangat biasa bahkan lebih rendah status sosialnya, jabatannya, atau yang lainnya maka inilah yang aku sebut sebagai semedulur.

Istilah ini dulu sering kudengar  saat kecil. Adalah istilah jawa (mungkin Banyumasan, tempat kami  berasal dan tinggal ) yang berrti merasa bersaudara dengan tulus dan ikhlas. Tanpa pamrih. Pada saat itu ibuku sering memakai istilah itu untuk menyebut orang lain yang dengan kebaikannya, keramahannya, sikap mau berkorbannya  seperti kepada saudara sendiri (sedulur). Padahal jelas itu adalah orang lain yang jauh hubungan darahnya.

Semedulur inilah yang sekarang makin sulit dicari. Di jaman yang segala sesuatunya dihargai dengan material maka sikap dan sifat seperti ini dianggap tidak akan  menguntungkan. Karena tentu saja dalam hal ini maka si tuan rumah (jika kasus menginap) maka akan banyak berkorban dengan segala sesuatunya untuk si tamunya.

Ya banyak sekali keluarga-keluarga yang saya kenal sangat baik penerimaannya terhadap para tamunya. Bahkan yang baru dikenalnya  sesaat. Entah dalam perjalanan, bersua dalam sebuah pertemuan/rapat maupun memang teman lama. Mereka menerima dengan tulus  para kenalannya baik dengan kata-kata yang santun dan baik, memperlakukan para kenalannya dengan sangat baik, lebih dari cukup. Bahkan seringkali memberikan bantuan dan kemudahan, seperti yang kuterima ini.

Rasanya tidak terhitung  aku menerima nikmat dan rejeki  yang  serupa dalam berbagai kesemptan dan di berbagai kota yang kusinggahi. Di Bandung dengan pak taxi yang memberiku kesempatan menitip koperku sebelum  ada pertemuan di sebuah hotel. Di kota ini juga aku bersama rombongan beberapa orang (ibu DAP dan  MTQ)  dari Jogja berkesempatan tinggal dan menginap di rumah teman FH saat pelatihan costing study. Di Tanah laut Kalimantan selatan tahun 2010/2011  aku berkesempatan  jalan-jalan dengan kenalan baruku di sebuah pertemuan bahkan sampai untuk singgah di rumah beliau. Belum lagi  saat itu,  aku dipertemukan dengan saudara jauh suamiku di areal bandara Banjarmasin yang kelaurga suami sendiri  puluhan tahun belum pernah bertemu kembali sampai sekarang ini.

Ini baru sebagian kecil  rasa semedulur  yang aku terima melalui orang lain…. Pernah juga aku ditolong di Hanoi, Vietnam saat bersama  beberapa teman ada masalah dengan hotel yang sudah dipesan sebelumnya saat di tanah air. Karena kita datang tanpa melalui agent travel maka segala sesuatunya harus diurus sendiri. Dan temankulah yang ketemu di sebuah kursus itulah yang menjadi dewa penolong kami. Dengan hadirnya dia kendala bahasa kami dengan recepsionis yang ada di hotel butik itu menjadi terpecahkan. Bahkan aku diajaknya mampir ke flatnya dan menjamu aku dengan  tata cara dan hidangan khas mereka.

Saat ramai-ramainya isu batu akik sekarang ini maka aku juga baru ingat kalau aku pernah diberi seseorang teman perempuan sebuah mutiara dan batu yang cukup bagus. Setelah sekian lama batu itu mengendap di dompetku tanpa tahu mau aku apakan,  ternyata  saat teman yang lain browsing tentang batu2 maka aku lihat ada sebuah kemiripan warna dengan  batu yang aku sendiri  ingat-ingat lupa. Ternyata rasa penasaranku terjawab saat aku coba keluarkan kenanag-kenangan yang aku pernah dapatkan itu yang bahkan siapa pemberinya pun aku lupa. Bukan berarti tidak bersyukur tapi memang pemberian batu itu saat dulu tidak terlalu paham bagaimana cara menikmatinya. Sebenarnya memang sangat salah menghargai sebuah pemberian  dari sebuah nilai barang. Karena yang jelas bahwa semua pemberian  sudah diniatkan untuk sebuah penghormatan.  MUngkin kita bisa beli sesuatu itu, tapi sesungguhnya yang tidak bisa kita beli adalah niat baiknya itu.

Jadi nilai pemberian batu akik  warna biru dengan gurat emas yang kata teman itu adalah batu pirus  yang  aku sendiri sampai lupa. . Maka dengan ini aku ucapkan terimakasih banyak. Walaupun seingatku dulu aku juga sdh bilang terimakasih. Tapi dulu saya tidak tahu betapa berharganya batuan ini sampai saya dipertemukan dengan teman penggemar akik –pagi ini-  yang mendiagnosa batu yang  aku keluarkan  saat aku penasaran dengan kemiripan batu seperti yang di browsingnya.  Ya terimakasih teman… semoga pemberianmu ini mendapatkan balasan yang terbaik juga dari Allah swt.

Ya sekali lagi bukan apa dan berapa nilai barang yang kita terima  karena  niat baiknya itulah yang sudah menempatkan dia pada sebuah tempat terhormat  bahkan juga untuk kita yang diberinya, minimal terhormat  menurut sudut pandang si pemberinya.  Memang pemberian  sekarang juga sudah dianggap bermasalah bila “ada udang di balik batu” alias gratifikasi.  Kayaknya pemberian materi harus dari atas ke bawah karena memang di situ dianggap tidak ada kepentingan apapun dari atasan ke bawahan. Khususnya mengharapkan ‘sesuatu’ di baliknya. Sementara  dari bawah ke atas bisa memberikan senyuman, keramahan, sikap terbuka untuk membantu dll,  Itulah semedulur yang sebenarnya…menurutku..

Sunday, May 10, 2015

Prasangka

Prasangka
Aku terjaga pagi ini. Masih 02.30. Karena masih ngantuk, antara sadar dan tidak aku merasa ada yang aneh pagi ini. Bukan mimpi. Ternyata pelan-pelan pintu kamar didorong oleh tangan dari luar. Pintu kamar terbuka. Sesosok wajah laki –laki asing muncul dari balik pintu. Dengan kaget aku teriak …”hey siapa kamu? Kenapa masuk ke rumahku?” Dia yang juga kaget langsung membalik badannya dan dengan cepat dia bilang “pintu rumah ibu terbuka jadi saya mau nutup”…. Hah?. Kok bisa dia tahu pintu rumah terbuka. Sedangkan pintu itu adalah pintu samping yang untuk mengaksesnya juga harus masuk pintu luar dulu (pintu garasi). Saya agak kurang puas bertanya lagi dengan suara keras “mana rumahmu ?”. Sudah pakai kamu-kamu. Saya ngerasa nggak sopan juga. Tapi biarlah. “ saya dari kampong X” dia menyebut nama kampong dimana rumahku ini berdiri….wah orang dekat rupanya. Tapi selama ini saya tidak pernah melihatnya. Mungkin aku yang kurang perhatian sama tetangga. Eh tapi dia juga bukan tetangga dekat kok. Dia tidak kenal kami. Saya pun tidak kenal dia. Dia lantas berkata dengan takut2…”jangan salah sangka bu. Saya membantu menutupkan rumah ibu yang pintunya terbuka”. Di tengah kekagetanku, aku sempat berhitung dengan kekuatanku andaikan ada beberapa orang mereka datang. Aku hanya sama anakku yang kecil; Ada saudara dan mba di kamar lain. Untung dia cepat berlalu. Lantas aku dengan cepat tutup pintunya. Biasanya aku selalu kepengin tahu bagaimana proses dan motivasinya sesuatu untuk terjadi. Khususnya laki-laki bertopi itu untuk masuk ke rumah orang di pagi buta; mendorong pintu kamar orang untuk memberitahu si tuan rumah kalau pintu rumahnya terbuka.. …aku berdialog dengan diri sendiri. Niat baik? Kayaknya mustahil.
aku tulis ini dengan sambil masih wait and see kalau mereka masih ada di luar. Cuma anehnya pintu garasi yang di luar juga tidak berbunyi saat dia keluar. Aku belum berani kontrol keluar. Tapi logikanya mungkin pintu garasi benar terbuka. Mungkin memang dia benar mau menutupkan pintu itu. Mungkin memang benar dia mau membantu kami yang terbuka pintunya yang bisa jadi aku lupa menutupnya kemarin malam. Ya mudahan memang itu niat orangnya…. Bukan untuk yang lain. Na’udzubillah////
Ya disatu sisi aku harus percaya apa yang dia ucapkan (sebuah niat baik untuk menutup pintu yang terbuka) walaupun terus terang dalam hati kecil masih juga prasangka kalau dia pasti akan berbuat jahat. ….Ya bisa jadi orang ini mempelajari situasi di rumah yang sepi saat Ayah berangkat…. Muncul beragam gambaran dalam otakku. Bisa jadi akan berbeda saat aku tidak terbangun pagi ini ….ya bisa jadi orang ini uung berbuat jahat setelah kepergok… dst, dst. Entahlah…Harapanku bila dia punya niat jahat maka akan diterangi hatinya oleh Allah untuk segera bertobat. ……satu hal bila dia memang punya niat baik, maafkan hamba yang sudah marah dan membentak dia.
Ya prasangka memang kadang muncul begitu saja. Seringkali prasangka muncul dari persepsi yang kita bangun sendiri. Sementara persepsi bisa jadi didapat dari banyak hal. Yang pasti adalah adanya background dan latar yang mendasari munculnya sebuah persepsi. Ya dalam hal ini berdasarkan hasil baca-baca Koran, lihat-lihat acara criminal di TV dan berbagai cerita buruk orang tentang maraknya pencurian di kota kecil ini maka persepsi saya tentang orang ini sdh terbayang yang sangat jelek. Pencuri, perampok atau bahkan yang lain yang lebih buruk lagi….dan akhirnya memang yang keluar adalah prasangka buruk dengan sebuah bentakan dan kemarahanku pada orang ini ………di pagi buta ini.
Yang jelas dari persepsi dan jenis prasangka itulah akan memunculkan tindakan seseorang yang dianggapnya sdh paling benar. Kadangkala kita sdh ‘keukeuh ‘ dengan pendapat dan persepsi kita, walaupun orang lain juga punya “angle” yang berbeda. Nah saat seperti inilah seharusnya kita dengan sukarela dan ikhlas kembali menilai apakah sesuatu yang kita yakini apakah memang sdh pas atau belum. Menimbang-nimbang lagi dari sisi-sisi yang kita tidak lihat sebelumnya. Saat gajah dipersepsikan dan digambarkan berbeda-beda bentuknya oleh 6 orang buta menjadi pelajaran bagi kita bahwa sebaiknya kita melihat sesuatu bisa dari semua sisi. Bukan hanya dari kacamata kita saja. Mungkin ‘kacamata’ yang kita pakai hanya menunjukkan bahwa gajah hanyalah seperti kipas besar saat yang kita raba hanyalah kuping gajah saja. Gajah bisa jadi hanya digambarkan belalainya saja yang panjang dst, dst. Tetapi dengan dibantu orang buta lain maka kita akan lebih kaya dalam mendeskripsikan sesuatu- walaupun bisa jadi kita masih sulit mengambil kesepakatan dan kesimpulan. Tidak jarang dalam proses mengambil kesimpulan ini akan saling otot-ototan merasa yang paling benar. Yang mau saya katakan bahwa setidaknya dari orang yang berbeda akan muncul 2 pandangn yang berbeda. Nah memang yang terbaik adalah bila dibantu dengan orang lain yang mempunyai mata lengkap alias tidak buta (baca : ahli) maka deskripsi akan menjadi lebih utuh dan komprehensif. Permaslahannya seringkali sesama orang buta ini tidak ada yang berbesar hati untuk mencari tahu sumber lain yang sama2 disepakati. Akhirnya mereka punya kesimpulan sendiri yang jauh dari kenyataan.
Saat kita menjadi orang buta yang kurang terbuka hatinya maka saat itulah kita akan selalu merasa paling benar, tidak terbantahkan, sulit menerima masukan dari yang lain, sulit diajak kerja sama untuk berdiskusi dst, dst…
Ya mudahan kita bukan termasuk golongan itu. Harapannya kita adalah menjadi orang yang melek dalam segala urusan. Tapi semua tentu ada keterbatasannya. Kita tidak akan ahli dan cakap di semua bidang. Maka andaikan kita pun kurang pengetahuan untuk suatu hal semoga dimudahkan ketemu orang “melek” yang lebih ahli untuk bertukar pikiran, dimudahkan untuk ketemu bacaan yang lebih mencerahkan, ketemu pengalaman yang lebih mendewasakan, diberikan insight dan ilham oleh Allah swt…. Semoga dengan itu maka persepsi dan prasangka yang kita bangun, deskripsi yang kita berikan, serta tingkah laku yang keluar menjadi makin baik….

Tuesday, April 28, 2015

Bertemu Sosok Kartini Masa Kini



Bertemu sosok kartini masa kini

Bulan April di penghujungnya. Masih lekat ingatan kita dengan sosok yang lahir 21 April ini. Ya, ibu kita Kartini. Sosok yang dikenal sebagai pejuang perempuan dari Jepara ini. Surat-suratnya yang indah terangkum memberikan banyak  sekali inspirasi.  Salah satunya adalah bahwa perempuan berhak mendapat pendidikan yang setara dengan pria. Ya saat di jamannya masih ada belenggu-belenggu yang memenjarakan wanita dalam kebodohan maka pemikiran Kartini jauh melampaui jamannya. Sesungguhnya pengembaraan pemikiran dan jiwanya masih banyak yang belum terungkap oleh sejarah. Dan yang sampai sekarang menjadi  salah satu rujukan adalah bukunya yang diterjemahkan dengan secara leksikal Habis gelap terbitlah terang. Walaupun di sisi lain juga ditafsirkan bahwa ada sebuah cahaya baru yang menaunginya setelah sebelumnya berada dalam sebuah kejumudan.  Makna yang dinukil dari sebuah surah di dalam kitab umat muslim.  Lepas dari pro kontra makna judul bukunya, tetapi yang jelas inspirasi Kartini tidak akan pernah  lekang oleh waktu.

Saat menunggu antrian di bandara pagi itu aku bertemu sosok yang menurutku cukup pas  sesuai momen April. Saat itu 18 April. Seorang muda  yang berpenampilan cukup bersahaja untuk perjalanan jauhnya yang mau ke LN. Dengan menenteng sebuah tentengan dari kardus beserta tas ransel aku mendengar dari belakangnya saat check in dia menyebut hongkong  sebagai tujuannya. Akhirnya aku pun menanti saat itu. Duduk bersama daan berkenalan dengannya.

Dia menceritakan kisahnya yang sekarang merantau untuk memenuhi kontraknya menjadi asisten rumah tangga nya di Hongkong. Yang sungguh luar biasa adalah bahwa sejak dia berangkat ke sana dengan tujuan membantu keluarga maka dia meniatkan akan pulang dengan status yang berbeda.  Niatnya yang mengeras itulah membawa dia pada sebuah tekad kuat yang tidak pernah padam. Belajar dan elajar di sela-sela waktunya. Untungnya majikan mendukungnya. Sebuah perjuangan yang tidak mudah.  Bayangkan anak baru lulus SMP, pada akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan SMA dengan semacam kejar paket. Juga saat ini sedang mengambil jurusan bahasa inggris dan akuntansi. Sebuah pencapaian yang sngat luar biasa untuk anak muda  yang berasal dari kalangan kebanyakan ini.

Dibutuhkan sebuah kekuatan yang berlipat-lipat  untuk  bisa meraih semuanya. Dan  satu hal bahwa ternyata bukan sesuatu yang berjalan mulus saja tanpa kendala. Satu cobaan yang sangat berat adalah jauhnya dari keluarga yang mendukungnya. Hongkong yang menawarkan segalanya juga menjadi godaan yang tidak kalah berat. Tapi dia sudah mengalahkan semua “lawan-lawannya” itu. Bahkan  sdh bertransformasi jauh lebih dari kita-kita yang situasinya lebih normal saat mudanya….sekarang dia sudah menjadi seorang penulis yang bukunya diterbitkan…wow…luar biasa….!!

Ya bagiku dia adalah Kartini masa kini. Yang mampu bangkit dari sebuah kegelapan dan keterpurukan menjadi sebuah jalan yang terang dan penuh kemuliaan. Status  buruh migran tidak menghalangi untuk meraih sebuah kemajuan.  Ya inilah insprasi kartini masa kini. Bukan hanya sekedar membawa pundi-pundi rupiah dalam genggamannya tapi jauh lebih dari itu. Membawa value baru yang menurutku sangat konstruktif.
Sungguh pertemuan singkatku  dengan teman-teman perjalanan yang sangat bermakna.  Dari banyaknya kawan baru di jalan, ini salah satu yang membuatku semakin iri. Iri pada sebuah transformasi diri yang sangat fantastis. Bukan hanya yang secara kasat mata tetapi juga perjalanan ruhiyahnya. Subhanallah.    Semoga semangat nya juga  ada pada diri kita dan akan tetap menyala sepanjang hayat

Wednesday, April 15, 2015

Momentum KAA dan Bandung Berbenah


Momentum KAA  Bandung  Berbenah

Dalam buku sejarah kita ingat konfrensi asia afrika yang pertama dulu diadakan di kota Bandung.  Tokoh-tokohnya  sekilas masih ingat  adalah  ali sastro amijoyo, U Nu, Sir john Kotelawala,  Jawaharlal Nehru.  Ya saat itu 1955, Bung Karno yang masih menjabat Presiden RI. Konfrensi yang mengumpulkan Negara selatan-selatan itu menelurkan kesepakatan  yang antara lain  menyatakan adanya persamaan hak dasar manusia  serta adanya persamaan semua suku dan bangsa baik yang besar dan yang kecil….sesuatu yang sangat luar biasa  karena saya rasa menjadi keinginan bagi semua orrang dan bangsa manapun di dunia dengan sebuah kemerdekaan sejati.

Dalam era modern ini, 60 tahun setelah KAA berlalu akan diadakan pertemuan selatan-selatan lagi yang mencoba menelusuri semangat dari yang pertama. Banyak sekali agenda acara yang disiapkan.  Oya jangan lupa tagih janji politik untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Hari gini masih ada penjajahan oleh bangsa lain…sesuatu yang menyedhkan. Jadi memang  kemerdekaan  bagi bangsa adalah sesuatu keniscayaan ….

Dalam rangka itu pula maka Banduug di setiap sudut kotanya sedang berbenah diri. Khusus di jalan Asia Afrika yang banyak terdapat heritage sedang  dipercantik.  Tembok yang kusam Dicat, pedestrian  dibersihkan. Diperbaiki dan diberikan pot bunga warna warni serta beberapa kursi di pinggir jalan.  Sangat menyenangkan. 

Tapi aku melihat bahwa Bandung tidak sekedar sedang di make up yang seringkali hanya menutupi bopeng di wajah. Tapi  aku melihat Bandung sedang berbenah yang sebenarnya. Menggalang  jiwa gotong royong dan solidaritas untuk sebuah kebaikan. Secara fisik , sepanjang jalan  AA aku melihat kegiatan yang dilakukans secara serentak oleh semua pemilik/penghuninya. Menyusuri  jalur pedestrian yang cukup lebar dan bersih sepanjang jalan Asia Afrika, Braga  serta beberapa jalan lain, menjadikan  Bandung sekarang berbeda dengan beberapa waktu yang lalu yang  sempat  jadi lautan sampah. Bandung rapi, hijau dan bersih.   

Di sisi lain entah ada hubungannya atau tidak  situasi dan  penampakan luar di pelayanan publiknya juga demikian. RS yang kami kunjungi sangat bersih. Hijau dan asri…(aku beranggapan ada hubungannya walaupun tahu juga dalam manajemen yang berbeda . Tidak terlihat sampah buatan manusia  sama sekali. Bahkan   bunga anggrek menghiasi beberapa sudutnya. Terdengar juga suara  hewan yang aku sebut sebagai tonggeret ( suara hewan yang hidup di pohon2/ hutan ) ….wow !!  Sangat luar biasa…

Walaupun ‘hanya sekedar’ kebersihan dan kenyamanan  yang sering  disebut sebagai pekerjaan “ketok moto” , tetapi ternyata tidak semua kota / fasilitas pelayanan public bisa mengelolanya. Menurut kebersihan dan kerapian kota adalah sebuah “fasilitas” fisik yang harus tersedia dan layak dinikmati semua penghuni kota. Bila sebuah kota tidak bersih maka kota itu dianggap tidak menyediakan fasilitas yang seharusnya.

Ingatanku melayang ke Surabaya, yang juga sangat bersih dan hijau.  Aku berkesimpulan bahwa  untuk mewujudkan kebersihan dan kenyamanan di setiap kota (yang terlihat sepele dan gampang )  ternyata  memang ternyata tidak mudah  untuk mewujudkannnya  Membutuhkan strong leadership dan management yang sangat luar biasa dari para pemimpinnya.  Ya Bandung memakai momentum KAA  ini untuk menunjukkan jatidirinya yang JUARA. Walaupun sebenarnya saya tahu bahwa jauh sebelum KAA ini Bandung sdh berbenah cukup lama.  Di tengah-tengah Bandung sendiri yang sedang dan tidak henti-hentinya berbenah sejak dipimpin oleh walikota kelas dunia  maka momentum KAA ini juga makin memperlihatkan kecantikan kota Bandung dengan  perjalanan sejarahnya. 

Banyak kota lain yang lebih kecil dari Bndung dan Surabaya tapi toh belum berhasil dalam pengelolaan kebersihan dan kenyamanannya. Dua orang pemimpin muda kita ibu Risma dan Bapak Ridwan Kamil yang sudah berhasil memimpin dengan hasil baik tanpa kehebohan yang tidak perlu.  Kayaknya kita harus makin banyak belajar deh…